Hehehe... Aq update chapter 3 nih...gomene agak lama...thanks reviewnya...(nyengir lebar)
Arigatou Minna...(bungkuk-bungkuk)
Langsung aja deh...
.
HERE WE ARE
Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu, Nejigaa, Shikakiba
Genre : Romance, hurt/comfort, action, crime, & angst
Maaf kalo ada kesamaan tema dan kesalahanXD
Gaje, Typo(s), Slash, BL, OOC,,
Don't Like don't read
Enjoy!^^
.
Naruto, Neji, Gaara, Shikamaru : 18 tahun
Sasuke, Kiba : 17 tahun
.
'mind'
"talk"
Chapter 3 : Start Mission
.
"Oujo-sama!"
Suara baritone seseorang memanggil gadis berumur 20 tahun yang memiliki rambut sewarna sakura, sama seperti namanya Haruno Sakura. Gadis itu sedang memandang langit malam dari jendela kamarnya yang terbuka lebar. Di belakangnya berdiri seorang pria muda berambut perak yang melawan gravitasi. Pengawal pribadinya.
"Ada apa, Kakashi?" Sakura bertanya tanpa menoleh pada pengawalnya, Hatake Kakashi.
"Waktunya makan malam." jawab Kakashi sambil membungkuk singkat.
"Aku tidak lapar."
"Mau saya bawakan kemari?"
"Tidak usah, temani saja aku disini."
Hening memenuhi kamar itu. Kakashi menatap Sakura dari belakang. Tidak biasanya Sakura pendiam seperti ini.
"Apa kau ada masalah, Sakura?" tanya Kakashi, melupakan etika sebagai pengawal pribadinya. Saat ini dia ingin bertanya sebagai seorang sahabat.
"Hm." Sakura menggumam tidak jelas.
Kakashi menghela nafas, sepertinya Sakura tidak ingin membicarakannya.
"Temani saja aku."
"...Ha'i"
.
==========Here We Are==========
.
Malam ini sang dewi malam tidak jelas menampakkan sinarnya. Bersembunyi di balik awal gelap yang menemaninya. Seolah takut dengan apa yang akan dilakukan oleh empat sosok berjulukan Assassin ini. Para pemuda berpakaian hitam itu berdiri agak jauh dari mansion besar mewah yang menjadi targetnya. Pemuda berkulit tan dan pemuda lain berambut nanas berdiri bersandar di mobil Lamborghini Reventon hitam. Sedang Dua pemuda lainnya memantau para penjaga mansion itu dari kacamata hitam khusus mereka.
"Penjagaan di pintu belakang memang lenggang. Tapi ada kamera pengawas dan dua anjing penjaga." kata pemuda yang paling muda di antara mereka ketika melihat objek pembesaran dari kacamata khususnya, Kiba.
"Ya. Kita bisa menghabisi para pengawal itu, tapi tidak dengan anjingnya." Neji membenarkan.
"Bukannya ada si penjinak anjing di sini?" tanya Naruto tersenyum menyeringai, ikut memperhatikan objek.
"Fine. I will take it." Kiba tersindir dengan perkataan Naruto barusan.
"Nah, Kita mulai sekarang." Kata Shikamaru mengomandoi.
Mereka berempat memulai aksinya. Naruto dan kiba memasang kamera kecil khusus di kerah baju mereka. Neji dan Shikamaru berjalan ke tempat kamera pengawas terpasang. Neji mengacaukan kamera pengawas itu agar tidak termuat gambar mereka tanpa merusaknya. Shikamaru menyiapkan laptopnya. Mengambil kabel penghubung untuk menyambungkannya pada sistem keamanan yang terpasang di tembok pagar belakang mansion. Beberapa menit kemudian, Shikamaru berhasil membobol sistem keamanan tanpa kesulitan.
"Mudah sekali sistemnya di hacking." remehnya.
Shikamaru memberi tanda isyarat pada Naruto dan Kiba untuk bergerak. Mereka mengangguk. Mereka memasuki pekarangan setelah gerbang terbuka otomatis.
GUK,GUK!
"Ooohh, Shit! Aku lupa." Keluh Kiba kecil mendengar suara anjing penjaga itu.
"Cepat urus mereka sebelum penjaga datang." Naruto menyiapkan handgun Kyuubi miliknya.
"Ok, ok."
Kiba menghampiri anjing-anjing itu. Dilihatnya dua anjing penjaga ras doberman terikat di samping jalan setapak menuju belakang mansion.
"Hey, bisa bantu aku untuk diam sebentar?" Kiba berjongkok mengajak mereka bicara.
GUK, GUK!
"Jangan main-main Kiba. Jinakkan mereka sekarang." perintah Naruto yang berjalan di belakangnya.
"Sabar dikit kenapa?"
"Jangan berkilah Puppy! Aku sudah bilang kalo aku nggak mau pulang telat. Gaara dan Sasuke menunggu kita untuk makan malam bersama tau!" teriak Neji jengkel melalui headset wireless. Telinga Kiba sampai berdengung.
"Yeah, yeah."
Dengan cepat Kiba melumpuhkan anjing-anjing itu dengan satu serangan. Membuat mereka pingsan. Kemudian berjalan menyusul Naruto yang bersembunyi di balik semak belukar, mengamati Keempat penjaga yang berjaga di depan pintu belakang mension itu.
"Tadi aku dengar suara anjing menggonggong." Kata salah satu penjaga pada penjaga lainnya.
"Benarkah? Coba kau periksa mereka." saran penjaga yang diajak bicara.
"Ini gara-gara kau main-main Kiba. Mereka jadi curiga." Naruto melirik Kiba kesal di sebelahnya. Kiba hanya nyengir tidak bersalah.
Dan benar saja, penjaga tadi berjalan menuju tempat dimana kedua anjing terikat. Saat dia melewati persembunyian mereka, Kiba segera membekap mulut penjaga itu lalu menembaknya dengan handgun Glock 17 hitam yang sudah diberi peredam.
Naruto mengendap ke salah satu penjaga di pintu belakang. Menutup mulutnya.
"Good night, and bye bye." Naruto tersenyum manis. Penjaga yang dibekap mulutnya tidak sempat bertindak karena kaget, terbunuh di pedang berlaras hitam yang dibawa Naruto.
Kedua penjaga lain terkejut waktu menoleh melihatnya, tapi tidak berlangsung lama karena ditembak Kiba.
"Kami akan masuk Shika." Kata Kiba pada Shikamaru melalui headsetnya saat melihat layar kode pengaman di dinding pintu belakang.
"Buka saja pintunya. Aku sudah mematikan pengamannya dari sini." jawab Shikamaru.
Mendengar itu Naruto dan Kiba langsung memasuki Mansion. Di dalam gelap, Sepertinya lampunya tidak dinyalakan. Naruto dan Kiba menekan tombol kecil di pojok kiri kacamata hitam mereka, lalu tampaklah objek yang bisa mereka lihat dalam kegelapan.
Tempat mereka berada sekarang adalah lorong panjang dengan beberapa pintu di sisi kanan kirinya. Saat mereka melihat kamera pengintai di ujung lorong, mereka waspada.
"Shika, ada kamera di depan kami." ujar Naruto.
"Ya, aku bisa melihatnya." Shikamaru melihat dari layar laptopnya. Memuat tampilan dari kamera kecil yang terpasang di kerah Kiba dan Naruto."Akan kucoba menghilangkan gambar kalian dari kamera."
Shikamaru mulai mengotak-atik laptopnya, mancoba mengacaukan semua tampilan dari kamera pengintai. Berharap saja tidak ada penjaga yang tahu perbuatannya, atau...
KKRRIIIIIIIIIIIINNGGG!
"Apa?!" kejut Shikamaru dan Neji yang ada di luar mansion.
"Oooiiii, ada apa? Kenapa alarm keamanannya berbunyi?" teriak Neji.
"Brengsek kau Kiba! Kenapa kau bisa ceroboh, hah?!"
"Sorry Nar, aku nggak tau kalo ada sinar infrared."
"Ooii! Jawab aku!" Neji menggeram kesal.
"Oh Neji, Kiba menabrak infrared waktu melewati lorong, jadi alarmnya bunyi. Kami sedang sembunyi sekarang, kelihatannya para pengawal mulai ribut." jawab Naruto.
"Dasar, kelihatannya puppy kesayanganmu bikin masalah." Neji menghela nafas lelah sambil melirik Shikamaru.
"Haah, aku akan menghukumnya nanti." desah Shikamaru tanpa menoleh pada Neji.
Kiba merona, dia tahu apa maksud hukuman yang dikatakan Shikamaru tadi.
"Yaah, buat dia mengerti kesalahannya, Shika." Dukung Naruto, berjalan meninggalkan Kiba di belakangnya.
"Kau kejam Naru..." Kiba lemas, kelihatannya besok pagi dia tidak akan bisa berjalan dengan baik.
.
Alarm keamanan mansion itu berbunyi, mengejutkan seluruh orang yang menghuni di dalamnya. Para penjaga waspada, mereka segera ke tempat dimana sumber alarm itu berbunyi.
Dua orang di ruangan kamar yang sama juga kaget. Pria yang memiliki mata berlainan itu mulai bersikap waspada untuk melindungi nonanya.
"Oujo-sama, tetap di kamar, jangan keluar." Kakashi berjalan menuju pintu kamar, hendak melihat situasi.
"Tenang saja, tetaplah bersamaku Kakashi." Sakura menjawab santai.
Kakashi menyerngit heran mendengar jawaban Sakura yang enteng. Seolah tahu pada apa yang terjadi.
"Kenapa? Kau sepertinya tahu apa yang terjadi." Kakashi berbalik menghadap Sakura.
"Hmm, begitulah."
"Sakuraa..."
"Jangan membantah! Tetap disini!" perintah Sakura, memandang Kakashi tajam.
Kakashi tidak bisa melawan. Dia hanya diam, akhirnya menuruti perintah Sakura. Walau Kakashi bertanya-tanya apa yang dipikirkan Sakura sekarang.
.
Para penjaga mansion mengejar Naruto dan Kiba. Mereka ketahuan. Tembakan demi tembakan di arahkan pada mereka. Mereka bergerak, lari menghindari kejaran para penjaga.
"You're really in trouble." Naruto melirik Kiba kesal. Saat ini mereka bersembunyi di balik sofa ruang keluarga. Yang dilirik hanya nyengir tidak polos. "Akan kukatakan pada Gaara, nggak ada makan malam untukmu."
"Nnoooo!"
"Hukuman untukmu dariku. So, don't be denied." Naruto mengabaikan protes Kiba. Sedang Kiba menangis pasrah.
Kizashi, sang kepala keluarga Haruno yang mendengar laporan dari salah satu penjaga mansion menggeram marah. Mansionnya dimasuki penyusup. Bukan penyusup biasa. Dia berjalan keluar dari ruang kerjanya. Menyeringai ingin tahu siapa yang berani masuk ke dalam sarangnya. 'Menarik.' batinnya.
Naruto dan Kiba sampai di ruangan luas dengan tangga yang menuju lantai dua di tengahnya. Sepertinya mereka berada di lobbi pintu masuk mansion. Saat berjalan menuju tangga, mereka langsung dikepung para penjaga yang menodongkan senjata.
"Well, what should we do now?" Kiba memandang sekelilingnya santai, tidak merasa gentar sama sekali.
"Let's finish this."
Kiba menyeringai. Menarik handgun Glock 17 dari sarungnya, beserta handgun GBB SG 1911 Novak Silver. Kemudian mulai menembak acak mereka. Sesekali dia berkelit menghindar dari peluru yang ditembakkan lawan. Naruto berlari menerjang dengan menggenggam handgun Kyuubi-nya di tangan kanan dan pedang hitam di tangan kiri. Ia menyeringai menebas dan menembak lawannya secara brutal. Sehingga penjaga yang tewas dan darah berhamburan disekelilingnya.
Para penjaga tampak mulai kewalahan. Tidak menyangka bahwa penyusup yang terdiri dari dua orang saja ternyata sekuat ini. Sampai harus memanggil seluruh penjaga mansion untuk mengalahkan mereka. Tapi tetap saja tidak mampu menghabisi mereka. Melihat aksi Naruto dan Kiba yang berhasil membunuh sebagian besar penjaga, para penjaga yang tersisa perlahan meringsut mundur.
"Mau kabur, eeh?"
DEG!
Mereka terkejut, sejak kapan pemuda pirang jabrik bermantel hitam panjang itu ada di belakang mereka?!
"Kalian pikir aku akan membiarkan kalian lolos setelah melihat wajah kami, begitu?" Naruto menyeringai setan.
"Naruto, berikan saja mereka padaku!" Kiba ngambek, masih ingin bermain. Dia berdiri di depan para penjaga.
"Well, they're yours."
Kiba nyengir lebar. Para penjaga bergidik, melihat pemuda berambut jabrik coklat itu mendekati mereka sambil menyeringai setan. Sebelum Kiba mulai menembak, ada suara asing yang menghentikan niatnya.
"Wah wah, ada urusan apa tamu tidak diundang datang kemari?" sambut suara rendah khas orang tua yang ternyata Haruno Kizashi. Dia berdiri di tengah tangga bersama para pengawal pribadinya.
"Hehehe, mangsa sudah muncul sendiri rupanya." Kiba menyeringai berbalik, menatap Kizashi dari balik kacamata hitamnya.
"Yeah." Naruto memandang Kizashi.
"Siapa kalian?!, Aku benci jika ada tikus masuk yang mengotori rumahku." Kizashi mendelik tajam, memandang remeh Naruto dan Kiba.
"Ooww, kau bilang kami tikus? Lalu kau itu apa? Bukannya kau tikus pengerat, ya? Walikota sang bandar narkoba?" kata Kiba pura-pura tersinggung.
"Brengsek! Apa mau kalian sebenarnya?!" geram Kizashi tidak terima.
"Mengambil nyawamu." jawab Naruto enteng menyeringai tipis.
"Assassin?! Kalian pembunuh bayaran yang menghantui masyarakat belakang itu?!"
"Waah, kita menjadi terkenal Naruto." Kiba nyengir menoleh pada Naruto.
"Siapa yang memerintah kalian membunuhku?!"
"Aku."
Suara messo sopran mengambil alih perhatian ketiga manusia yang berdebat barusan. Mereka menoleh ke arah asal suara tersebut. Di ujung tangga lantai 2 berdiri seorang gadis berambut merah muda dan pria muda yang dikenal sebagai pengawal pribadinya berdiri di belakangnya.
"Sa,Sakura-chan...?" Kizashi terkejut.
"Aku memerintahkan mereka untuk membunuhmu, pak tua." Jawab Sakura melihat ayahnya dengan pandangan mata dingin.
Kakashi terkejut mendengar pernyataan Sakura barusan. Nona muda yang baik hati itu, yang memanggil pembunuh bayaran Assassin untuk melenyapkan ayahnya sendiri? Sungguh tidak bisa dipercaya.
"Ap, apa yang barusan kau katakan?! Sakura-chan..." Kizashi bertanya tergagap. Tidak percaya dengan apa yang diungkapkan Sakura.
"Jangan sebut namaku dengan mulut busukmu pak tua. Aku tak sudi dipanggil oleh orang yang sudah membunuh Kaa-sanku dan Nii-san." jawab Sakura jijik.
Kizashi membelalakkan matanya. Terkejut bukan main. Sakura, anak kesayangannya telah mengetahui rahasia terbesarnya.
"Kau membunuh Kaa-san karena Kaa-san membongkar kedokmu, kau bahkan tidak mencintainya. Nii-san juga yang menghilang tanpa jejak pun pasti kau bunuh karena tau rahasiamu. Aku benci padamu, jijik. Walikota macam apa kau? Bermuka baik di depan masyarakat dalamnya busuk seperti sampah? Aku tak sudi punya Tou-san yang kotor sepertimu!" teriak Sakura, matanya berair, memandang Kizashi berkilat marah dan benci.
Naruto yang melihat sorot mata Sakura teringat dengan Neji di masa lalu, sangat mirip dengan sorot mata Neji yang memandang orang yang disayanginya kecewa dan benci, hingga meminta Naruto untuk membunuhnya.
"Jadi kau yakin meminta kami melenyapkannya?" tanya Naruto memandang Sakura.
"T-tunggu, Sakura kau salah...aku tidak pernah melakukannya?!" elak Kizashi panik, mencoba agar Sakura menggagalkan niatnya.
"Bunuh dia!"
"Sakura..." Kakashi memandang nonanya prihatin, tidak menyangka akan begini jadinya. Tapi dia tidak berusaha mencegah Sakura.
"Sakura-chan...Aku tidak membunuh Nii-sanmu.."
"BUNUH DIA SEKARANG!"
Mendengar perintah mutlak barusan, Naruto dan Kiba mulai menyerang Kizashi dan para pengawal yang melindunginya. Kiba menembak beberapa orang sekaligus. Sempat dia harus melawan dengan gerakan beladirinya. Memukul dan menendang pengawal yang menyerangnya. Ketika mulai kewalahan, Neji datang menembak beberapa pengawal yang akan menyerangnya.
"Nice timing, Neji." Kiba mengacungkan jempolnya pada Neji. Neji mengangguk.
Naruto menebas pengawal yang menghalangi. Mulai dari kaki, dada, dan leher musuhnya. Darah berceceran, pedangnya telah terlumuri darah. Ia tetap maju menerjang untuk membunuh target. Beberapa langkah lagi, Naruto sampai di hadapan Kizashi. Berjalan santai, seringaiannya tampak saat melihat mangsanya ketakutan.
"BUNUH DIA! JANGAN SAMPAI MENDEKATIKU!" Kizashi panik, para pengawal pribadinya maju menyerang Naruto.
Percuma. Naruto bukan tandingan mereka. Dengan mudah Naruto menembak pengawalnya mati di tempat. Kizashi tidak bisa mengelak lagi.
"Any last words?" Naruto menyinggungkan senyum setelah berdiri tepat di depan Kizashi sambil menodong handgun Kyuubi ke dahinya.
Kizashi berkeringat dingin, bergemetar sampai tidak bisa bicara. Sakura memandang dengan bercucuran air mata. Melihat saat-saat terakhir ayahnya. Kakashi diam, memegang kedua bahu Sakura. Mencoba menguatkan.
"Well then, good bye." tepat setelah Naruto mengucapkan selamat tinggal, itu menjadi tanda bahwa Kizashi akan menjemput ajalnya.
Tanpa ragu, Naruto menembakkan peluru hingga tertanam di otak sang mantan Walikota Tokyo. Mati dengan mata terbelalak.
Sakura langsung jatuh terduduk lemas, menangis sejadinya. Kakashi memeluk Sakura, membiarkan gadis itu meluapkan perasaannya.
"Kau menyebalkan Naruto. Katanya kau pasif kali ini?" Kiba cemberut sambil menggembungkan pipinya. Dia tidak bisa menunjukkan aksinya kali ini.
"Lihat situasinya tadi, Kiba. Itu salahmu sendiri. Lain kali aku akan biarkan kau berburu jika kau bisa mengatasinya." Naruto menghela nafas lelah. Neji mendesah.
"Arigatou..." Sakura menghampiri Naruto, Kiba, dan Neji. Dia didampingi oleh Kakashi sambil bergandengan tangan.
"Kami hanya melaksanakan permintaan klien, jadi nggak perlu berterima kasih." Neji membalas tersenyum tipis.
"Tidak, aku akan tetap berterima kasih, karena kalian telah melenyapkan orang yang paling ingin kubunuh dengan tanganku sendiri. Tapi aku tidak memiliki keberanian." Sakura tersenyum. Wajahnya masih basah oleh air mata. "Aku akan memberikan sertifikat mansion di Kyoto sebagai imbalan jasa." Lanjutnya.
"Yyyeeeiii! Liburaaaann!" teriak Kiba girang, menari dan melompat-lompat.
PLAAK!
"IITAAII!"
"Berisik Kiba, jangan kekanakan!" Neji menjitak Kiba, merasa risih melihat Kiba menari-nari gaje.
Sakura dan Kakashi sweatdrop. Melihat tingkah yang tidak terduga dari kelompok Assassin itu.
Ketika Naruto melihat Kakashi, Kakashi tahu apa arti sorot mata itu.
"Aku tidak akan bilang apapun tentang kalian. Tapi jika kalian ingin membunuhku karena melihat wajah kalian, silahkan saja." kata Kakashi meyakinkan.
"Tidak, Kakashi tidak ada hubungannya. Dia tanggung jawabku." elak Sakura.
Naruto menghela nafas kecil. 'Tidak apalah, biarkan saja' batinnya."Aku pegang kata-katamu." ujarnya sambil memandang Kakashi. Kakashi mengangguk tersenyum.
KRUUYYUUKKK!
"Ehehehe..perutku bunyi." Kiba cengengesan salah tingkah.
Naruto sweatdrop. Neji mendelik tajam. Sakura terkekeh geli. Kakashi tersenyum maklum.
"Narutoo..." Kiba menatap Naruto memelas. Seperti anak anjing yang terlantar.
"Fine, aku cabut hukumanmu.." Naruto mendesah, lelah menghadapi kelakuan adiknya.
Kiba nyengir lebar. "Yyeeiii Kyoto! Aku datang!" teriaknya berlari menuju pintu masuk.
"Baiklah, kami pergi." Pamit Neji.
"Ya, jika butuh bantuan, datanglah kapan saja." tawar Sakura.
Naruto mengangguk sekilas. Neji membalas tersenyum.
"Ayo pulang, Shikamaru menunggu di luar. Kita sudah janji makan malam dengan Gaara dan Sasuke." ucap Neji pada Naruto. Mereka berjalan menyusul Kiba yang sudah menghilang dari pandangan.
"Sasuke?"
Mendengar Sakura menyebut Sasuke, Naruto dan Neji menoleh kaget pada Sakura yang ada di belakang. Naruto terkejut, menatap Sakura tajam. Sakura sempat bergidik.
"Sasuke itu...Uchiha Sasuke...?" Sakura tergagap, berusaha mengutarakan maksudnya.
Neji mengangkat sebelah alisnya heran, 'Bagaimana Sakura bisa tau Sasuke?' pikirnya.
"Kau mengenal Sasuke?" Naruto bersuara rendah, bertanya sambil berjalan mendekati Sakura.
Sakura bisa merasakan atmosfer berat di sekeliling Naruto. Dengan menelan ludah, dia mengangguk.
.
==========Here We Are==========
.
Sementara itu, di lain tempat, tepatnya di dalam minimarket pinggiran kota Tokyo. Gaara mengajak Sasuke untuk berbelanja dan membeli keperluan yang dibutuhkan lainnya.
"Malam ini kau mau makan apa, Sasuke?" tanya Gaara pada Sasuke saat mereka mengelilingi rak bahan makanan dengan keranjang dorong.
Sasuke diam. Dia hanya memandang kosong ke sekelilingnya. Terus berjalan sambil digandeng oleh Gaara.
Gaara tersenyum melihat respon Sasuke. "Aku buatkan Sashimi saja, ya." ujarnya.
Gaara memilih bahan makanan di rak bahan yang tersedia. Sedang Sasuke hanya menatapnya kosong. Sasuke berbalik, melangkah menuju kaca jendela minimarket di belakangnya. Dia memandang keluar melihat banyak mobil dan pejalan kaki berlalu lalang. Ketika matanya tidak sengaja menangkap obyek tidak jauh diluar sana, matanya melebar. Tubuhnya gemetaran. Keringat dingin mulai bermunculan.
"Ah, aah..." suara Sasuke bergetar. Dia bersuara untuk pertama kalinya.
"UUAAARRRRGGG!"
Teriak Sasuke histeria. Gaara yang berada tak jauh darinya, menoleh terkejut mendengar teriakan Sasuke. Dia segera berlari menghampiri Sasuke yang berjongkok sambil menutup kedua telinganya ketakutan.
"SASUKEE!"
.
==========TBC==========
.
Oujo-sama : Nona
Ha'i : ya
Itai : sakit
Sashimi : berupa makanan laut segar yang langsung dimakan dalam keadaan mentah bersama penyedap seperti kecap asin, parutan jahe, dan wasabi. Makanan laut segar seperti ikan, kerang, dan udang karang dihidangkan dalam bentuk irisan kecil yang mudah dimakan, sedang udang berukuran kecil hanya dikupas kulitnya dan dibuang kepalanya saja.
Yaap...Chapter 3 kelar...
Agak lama update soale sibuk...maaf juga kalo actionnya gak menarik.
Review please^^
REVIEW
.
