Hahaha... aq gak sangka kalo fic ini bikin semua penasaran, terutama pada Sasu-chan..^o^+...Makanya ikutin aja ceritanya terus...

Aq usahain update cepet...deh^^*

.

HERE WE ARE

Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu, Nejigaa, Shikakiba

Genre : Romance, hurt/comfort, action, crime, & angst

Maaf kalo ada kesamaan tema dan kesalahanXD

Gaje, Typo(s), Slash, BL, OOC,,

Don't Like don't read

Enjoy!^^

.

'mind'

"talk"

.

Chapter 4 : Serangan Batin

.

Mansion mewah berlokasi di pusat kota Tokyo itu sunyi, setelah insiden yang terjadi beberapa saat yang lalu. Biasanya mansion ini ramai akan para penjaga yang disewa untuk menjaga sang tuan rumah. Tapi sekarang hanya tinggal dua orang manusia yang masih hidup di dalamnya. Saat ini, mereka tengah bersama dua orang Assassin yang disewa khusus sang tuan rumah yang telah selesai melaksanakan permintaannya.

"Katakan! Apa kau mengenal Sasuke?" Naruto, pemuda bermata Shappire itu menatap tajam sang Haruno yang tersisa setelah melepas kacamata hitamnya. Suaranya tampak mengintimidasi.

Sakura mendapati Naruto menatapnya penuh perhatian. Dia sempat bergidik melihat tatapan Naruto yang tajam dan mengerikan itu. Tapi mengandung keseriusan di dalamnya. Neji memandang Sakura serius penuh rasa penasaran. Hanya menyebut nama Sasuke saja, sudah menyebabkan perubahan drastis disekelilingnya. Dia juga bisa merasakan atmosfer berat dari dua pemuda itu, terutama Naruto.

"Kalau yang kau maksud Uchiha Sasuke..pemuda berambut raven dan bermata Onxy, aku mengenalnya. Tapi nggak bisa disebut akrab juga." kata Sakura sambil sesekali mengusap lengannya menenangkan diri.

Naruto menyerngitkan alis tidak mengerti. "Kau siapanya Sasuke?"

"Mungkin temannya. Karena kami hanya beberapa kali bertemu dulu. Bisa dibilang kami hanya kenal sesaat." Jawab Sakura.

"Kapan?"

"Sekitar 3 tahun lalu mungkin..."

GRAABB!

Dengan cepat Naruto memegang kedua bahu Sakura, meremasnya kuat. Matanya berkilat tajam mengintimaidasi, wajahnya mengeras. Sakura meringis merasakan sakit di bahunya. Mungkin akan ada bekas kemerahan nanti.

"Naruto!" Neji kaget melihat tindakan Naruto. Dia mendekati Naruto mencoba menahan niat pemuda blonde itu.

"Hentikan Naruto-san, Oujo-sama kesakitan!" Kakashi meminta dengan tenang.

"Dimana kau bertemu dengannya?! Apa hubunganmu dengan..."

Ucapan Naruto terpotong ketika dia merasakan hp bergetar dari sakunya. Dengan terpaksa dia mlepaskan Sakura. Sakura merasa lega, segara saja dia mengusap bahunya yang sedikit sakit.

Naruto melirik layar hp orangenya, siapa yang mengganggu di saat penting begini. Terteralah nama Gaara di sana.

Akhirnya, dengan berat hati Naruto menekan tombol hijau di hp itu. "Apa Gaara?"

"Naruto! Cepat kembali sekarang! Sasuke...!" teriak Gaara panik.

Belum sempat Gaara selesai bicara, Naruto menutup hp-nya berlari cepat keluar mansion.

"Hoii..! Naruto..!" Neji heran melihat Naruto lari tergesa keluar, tapi dia merasakan hp miliknya bergetar. Dirogoh sakunya mengambil hp-nya, Gaara memanggil.

"Gaara? Kau tadi yang menelpon Naruto.."

"Neji! Cepat kembali! Keadaan Sasuke aneh! Cepat suruh Naruto Kembali!" potong Gaara teriak panik.

"Apaa?! Baiklah, tunggu sebentar!" Neji kaget, segera saja dia berniat menyusul Naruto setelah menutup hp-nya. "Kami harus pergi sekarang, lain kali kami datang meminta penjelasan darimu." ucapnya pada Sakura.

Sakura mengangguk. Dengan itu, Neji meninggalkan Sakura dan Kakashi.

"Oujo-sama, benar anda mengenal salah satu dari mereka?" tanya Kakashi, agaknya dia penasaran dengan hal itu.

"Uumm...ya, aku rasa." jawab Sakura tidak yakin.

.

Neji sampai di luar mansion tempat mobil Assassin terparkir. Disana hanya terlihat mobil Ferrari merah milik ShikaKiba saja. Sedang mobil Lamborghini Reventon hitam milik Naruto sudah tidak ada.

"Oooiii! Neji!" Kiba melambaikan tangan saat melihat Neji keluar dari mansion.

Neji berjalan menghampirinya dan segera masuk ke mobil Kiba bagian belakang.

"Hei, tadi aku lihat Naruto terburu-buru. Dia pergi membawa mobilnya dan meninggalkan kita begitu saja." kata Kiba, dia kesal dengan sikap Naruto barusan.

"Shikamaru, kita pulang secepatnya sekarang!" perintah Neji pada Shikamaru yang ada di depan kemudi. Shikamaru menyerngit heran, tapi dia segera menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.

"Ada apa memangnya?" Kiba melihat Neji yang tampak gelisah.

"Terjadi sesuatu pada Sasuke. Gaara tadi menelpon." jawab Neji.

"Sasuke?! Kenapa dia?!" Kiba kaget.

"Katanya keadaannya aneh, kita harus kembali secepatnya."

"Baiklah, aku akan kebut. Pegangan!" Shikamaru menambah kecepatan.

Mobil mewah itu melaju kencang membelah keramaian kota Tokyo. Tidak peduli dengan para pengendara mobil lain yang mengumpat karena nyaris ditabraknya.

.

==========Here We Are==========

.

BRRAAAAKKKK!

Gebrakan pintu mewarnai kesunyian di mansion gaya eropa yang terletak di tengah hutan pinggiran kota Tokyo. Pemuda bertato 'Ai' di dahi yang duduk di ruang tamu, langsung menengok siapa pelakunya. Dilihatnya Naruto berlari masuk dengan tergesa menghampirinya.

"Dimana Sasuke? Bagaimana keadaannya?!" tanya Naruto tidak sabar. Nafasnya tersegal karena habis berlari.

"Aku sudah memanggil Tsunade, sekarang dia sedang memeriksa Sasuke di dalam. Dia minta jangan ada yang masuk sebelum dia selesai." Jawab Gaara mencoba menenangkan Naruto.

"Katakan Gaara! Apa yang terjadi?!"

"Aku tak tau. Waktu itu dia hanya melihat keluar jendela saat aku mengajaknya belanja ke minimarket dekat kota. Namun, tiba-tiba dia teriak ketakutan." Jawab Gaara gelisah dan tidak yakin.

"Sasuke..., ada apa sebenarnya?!" wajah Naruto mengeras. Ia mengeratkan kepalan kedua tangannya.

"Duduklah, tenangkan dirimu." ujar Gaara menunutun Naruto duduk di sofa biru tua ruang tamu. Naruto menurut.

Naruto duduk sambil memejamkan matanya. Menundukkan kepala dengan mengaitkan jemarinya. Panik, gelisah, dan khawatir. Sasuke benar-benar membuatnya hilang kendali. Sungguh ia tidak ingin terjadi sesuatu pada pujaan hatinya itu. Sudah cukup penderitaan yang Sasuke alami selama ini.

Gaara yang duduk di hadapannya memandang Naruto menyesal. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Sasuke.

PRAANNGG!

Suara benda pecah dari lantai dua mengagetkan Naruto dan Gaara. Naruto segera beranjak berlari menuju kamar Sasuke, didikuti Gaara di belakang.

"Hentikan Sasuke!" teriak suara asing dari dalam kamar Sasuke ketika Naruto dan Gaara sampai didepan pintu.

Naruto langsung membuka pintu tidak sabar. Matanya melebar saat mendapati Sasuke yang sedang dipegang wanita berpenampilan dokter memberontak. Di samping ranjang terlihat pecahan gelas yang isinya berhamburan. Sasuke terlihat ketakutan. Wajahnya tertekan. Dia berteriak sambil menangis, mencoba melepaskan diri.

Naruto mendekati Sasuke, mengambil alih peran wanita berambut pirang berkuncir dua itu. Didekapnya tubuh Sasuke erat, tidak peduli meski pemuda raven terus memberontak.

"Tenang Sasuke. Aku ada di sini. Semua baik-baik saja." Katanya mencoba menenangkan.

"Aaahh! Aargh!" Sasuke tetap memberontak, mencoba melepaskan diri.

"Cukup Sasuke...tidak apa-apa...kau baik-baik saja sekarang..."

Naruto mengeratkan pelukannya. Hatinya sakit bagai teriris melihat orang yang dicintainya menderita. Ia tidak sanggup memandang Sasuke yang ketakutan seperti ini. Mengingatkannya pada masa lalu.

"Aku ada di sini...aku tidak akan pergi kemanapun...aku akan tetap disini bersamamu, disisimu..."

"Aaahh! Na..ru..." Sasuke bersuara parau.

Sedikit demi sedikit Sasuke membalas pelukannya. Menggenggam erat mantel yang dipakai Naruto. Dibenamkannya wajahnya di ceruk leher pemuda bertubuh kekar itu. Sasuke masih terisak. Tubuhnya gemetaran. Naruto mengusap lembut kepala Sasuke, menenangkannya.

"Haa...Na..ru..Nar..."

"Yaa..Sasuke...aku disini..." Naruto terus mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang.

Naruto sangat merindukan suara Sasuke yang memanggil namanya. Sudah 3 tahun pemuda yang tubuhnya lebih kecil darinya ini tidak pernah menyebut namanya lagi. Tapi tentu saja Naruto tidak sanggup mendengar Sasuke memanggilnya dalam keadaan seperti sekarang.

Naruto merasakan tubuh Sasuke berlahan merileks. Genggaman pada mantelnya terlepas. Ia merenggangkan pelukannya. Dilihatnya Sasuke tertidur. Nafasnya teratur meski wajahnya masih basah oleh air mata. Kelihatannya Sasuke sudah cukup tenang. Naruto menghapus bekas air mata Sasuke. Kemudian mengecup keningnya lama.

Gaara yang berdiri di depan pintu kamar menatap Naruto dan Sasuke sedih. Merasa tidak sanggup melihat Sasuke yang terluka seperti itu. Senju Tsunade, wanita berpenampilan dokter itu menghela nafas lega. Sepertinya dia memang harus melibatkan Naruto jika keadaan Sasuke memburuk lain kali.

.

"Syukurlah..." Kiba merasa tenang setelah mendengar cerita Gaara dan Tsunade barusan. Neji dan Shikamaru menghela nafas lega.

Begitu Neji, Kiba, dan Shikamaru sampai di mansion, mereka langsung masuk untuk melihat keadaan Sasuke. Tapi urung karena melihat Gaara dan sang dokter menyambutnya di depan tangga menuju lantai 2.

"Jadi apa pendapatmu yang menyebabkan Sasuke menjadi seperti itu, Tsunade-san?" tanya Shikamaru.

"Sepertinya Sasuke melihat sesuatu yang mungkin membuat traumanya kembali...karena tidak mungkin dia menjadi seperti itu jika obyek yang dilihatnya tidak berhubungan dengan masa lalu." jelas Tsunade berpikir.

"Kau tau apa yang dilihat Sasuke, Gaara?" Neji menoleh pada Gaara disampingnya. Gaara hanya menggeleng.

"Untuk sekarang jangan biarkan Sasuke sendiri. Dia membutuhkan orang disampingnya bila mendapat serangan itu lagi. Sesekali ajaklah dia keluar rumah tapi jangan di pusat kota. Itu memungkinkan Sasuke untuk melihat sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya kembali." Nasehat Tsunade panjang lebar. "Dan jika terjadi sesuatu padanya, pastikan kalian menghubungiku dan Naruto." Lanjutnya.

Neji, Gaara, Kiba, dan Shikamaru mengangguk paham.

.

==========Here We Are==========

.

"Hey, Teme. Kenapa kau suka sekali memandang langit?"

"...karena menenangkan."

"Ooh ya? Mengapa?"

"Warnanya mirip dengan warna matamu, seperti musim panas yang cerah."

"..."

"Langit itu membuatku mengingatmu jika kau nggak ada bersamaku, Naru."

"Hmm...tidak perlu, Suke. Karena aku akan selalu disisimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Karena aku ada untuk Sasuke."

"...Gombal"

"Oh, ya. Tadi sapa yang mulai?"

"..."

"Aku bersumpah, Suke. Sampai mati."

"...Dobe!"

.

Pagi ini terlihat mendung. Matahari tidak begitu menampakkan sinarnya. Sepanjang mata memandang yang terlihat di langit sana hanya warna putih awan yang agak kehitaman. Seperti suasana hati pemuda berkulit tan ini. Dia masih terjaga sepanjang malam untuk menemani pemuda yang tertidur dalam dekapannya.

Naruto menatap Sasuke intens. Saat ini Sasuke tidur berbantalkan lengan Naruto. Setiap inci wajah berkulit pucat Sasuke tidak luput dari penglihatannya. Disentuhnya wajah halus tanpa cela pemuda yang menduduki peringkat nomor satu di hatinya. Hangat. Kehangatan yang menyenangkan dirasakan Naruto ketika menyentuhnya. Tangannya beralih menarik kepala Sasuke, mencium dahinya lembut.

Sekilas, Naruto teringat masa lalunya. Janji sumpah yang diucapkan olehnya untuk Sasuke. Janji yang tidak bisa ditepatinya kala itu, hingga Sasuke menjadi seperti sekarang. Walau menyesal, Naruto tidak akan menyerah. Ia akan tetap memburu sang 'Raja' dan membuka hati Sasuke kembali.

.

==========Here We Are==========

,

"Sasuke masih tidur, ya?"

Kiba bertanya pada Naruto ketika pemuda blonde itu memasuki ruang makan untuk sarapan. Naruto terpaksa turun untuk mengisi perutnya yang menjerit kelaparan. Sebenarnya bisa saja dia meminta Gaara mengantar makanan, tapi urung karena tidak mau Sasuke terbangun.

"Hn, biarkan saja Sasuke istirahat. Jangan menjenguknya dulu." jawab Naruto sambil mendudukan diri di kursi.

"Akan aku buatkan bubur untuk Sasuke ketika bangun nanti. Dia sama sekali belum makan sejak kemarin malam." kata Gaara sambil meletakkan jatah Omelet Naruto di depan pemuda itu. "Maaf, aku tidak bisa menjaganya." Lanjutnya menundukkan wajahnya.

"Tidak apa Gaara, bukan salahmu. Kalau kau nggak ada di sampingnya saat itu, aku nggak tahu apa yang terjadi pada Sasuke nantinya." Naruto tersenyum, sama sekali tidak menyalahkan Gaara. Gaara tersenyum berterima kasih.

"Semalam, Tsunade-san bilang jika Sasuke trauma karena teringat masa lalu. Jadi untuk sementara jangan biarkan Sasuke sendiri. Dia butuh orang disampingnya bila hal itu terjadi lagi." kata Shikamaru menjelaskan hasil pemeriksaan Tsunade semalam.

"Hn, aku mengerti." Naruto mengangguk singkat.

"Kira-kira apa yang dilihat Sasuke waktu itu, ya?" tanya Kiba sambil mengunyah Omelet dan melirik Gaara.

"Aku nggak tau. Waktu itu aku memilih bahan makanan ketika hal itu terjadi." Jawab Gaara menggelengkan kepala.

"Sudahlah, jangan merasa terus bersalah. Sasuke pasti baik-baik saja." ujar Neji menghibur Gaara sambil menepuk punggungnya pelan. "Lalu, bagaimana dengan urusan Haruno Sakura, Naruto?" Neji menoleh pada Naruto.

"Haruno Sakura? Memang ada apa dengannya?" Kiba penasaran. Shikamaru mengangkat sebelah alisnya.

"Haruno Sakura, dia pernah mengenal Sasuke 3 tahun lalu." jawab Naruto.

"Haah?!" Kiba, Shikamaru dan Gaara agaknya terkejut mendengar pernyataan barusan.

"Mungkin hanya kenal sesaat karena mereka pernah bertemu beberapa kali." Neji menimpali.

"Jadi, maksudmu gadis itu ada hubungannya dengan kejadian 3 tahun lalu?" tanya Shikamaru pada Neji.

"Kita belum tahu, makanya aku berniat ke sana meminta penjelasan langsung darinya. Karena Naruto tidak mungkin membiarkan Sasuke sendiri saat ini." jawab Neji memandang Naruto. Yang dipandang mengangguk.

"Aku ikut. Aku ingin melihat seperti apa wajahnya." kata Gaara. Neji menyetujui.

"Baiklah. Neji, Gaara pergilah ke tempat Haruno. Shika dan Kiba, aku ingin kalian pergi ke minimarket semalam dan mencari penyebab trauma Sasuke kembali. Kemungkinan ada kaitannya dengan 'Raja'." perintah Naruto.

Mereka mengangguk bersamaan.

.

==========Here We Are==========

.

Di suatu tempat, berdirilah mansion berumur gaya Victorian yang megah dengan halaman depan dan belakang yang luas. Tampak hijau dan asri. Membuat siapapun betah tinggal disana. Di halaman depan terdapat taman yang ditata berpetak-petak dihiasi berbagai bunga. Mansion itu dikelilingi pagar tembok besar yang tinggi dengan para pengawal terlatih. Di setiap sudut terdapat kamera pengawas. Seperti penjara hingga tidak sembarang orang yang bisa masuk ke dalam begitu saja.

Ketika sampai halaman belakang, tampaklah paviliun besar beserta kolam yang dibuat khusus untuk menikmati acara minum teh. Dalam paviliun besar itu terlihat sekelompok orang yang memakai pakaian resmi.

"Ada laporan dari Tokyo. Katanya Hidan terbunuh sebelum melakukan transaksi." Kata pria muda berambut hijau.

"Ooh, malang sekali dia." ejek pemuda berambut pirang panjang dengan poni yang menutupi mata kirinya. Dia duduk di salah satu kursi paviliun itu.

"Memang nasibnya kurang waspada." Pria bermuka hiu menyeringai, bersandat di pagar paviliun.

"Kalau begitu, transaksi itu gagal ya?" tanya wanita berambut biru. Duduk di kusi panjang.

"ya, sudah jelas." jawab pemuda berambut merah sambil minum teh. Duduk dihadapan wanita yang hanya terpisah oleh meja.

"Siapa yang membunuhnya?" ujar pria berwajah penuh pierching. Duduk bersama sang wanita.

"Tidak ada orang yang tahu. Tapi anak buah kita yang ada disana menduga jika dia dibunuh oleh sniper yang menembaknya dari atap gedung seberang selepas Hidan menelpon klien." jawab pria muda berambut hijau itu lagi.

"Bagaimana dengan partnernya?" tanya pria berambut hitam berantakan. Berjalan menuju salah satu kursi.

"Sepertinya dia langsung meluncur menyelidiki kematian Hidan."

"Haah, benar-benar. Pasti dia mencari siapa yang membunuh Uke-nya." Pemuda berambut pirang itu menyeringai sambil menggelangkan kepala. "Menurutmu siapa pelakunya?" tanyanya melirik pria berumur yang berambut hitam panjang. Dia duduk di kursi single yang terletak di ujung meja.

"..." yang dilirik tak menjawab.

"...Apakah para Assassin? Pembunuh bayaran yang baru-baru ini populer di dunia belakang?" duga wanita itu.

"Hee, menarik. Ada mangsa kuat ternyata." kata pria bermuka hiu.

"Bagaimana 'Raja'?" kata pria muda berambut hitam klimis agak panjang.

"...Cari dan selidiki mereka." perintah suara rendah dari pria berumur itu.

Semua yang ada di sana berdiri dan membungkuk rendah bersamaan. Tanda bahwa mereka akan menjalankan perintah.

.

==========TBC==========

Naah chapter 4 selesai...kalian mungkin udah bisa tebak siapa 'Raja' itu...

Gomene chapter ini sedikit dari pada yang kemarin...karena aku mau bikin cerita ini berchapter panjang...^^

Jangan kecewa ya...

Review please...

.

.

Special Thanks : Akasaka Kirachiha, Akira Naru-desu, Yuki si lily putih, Haruna Saomi, Achiez, Rannanda Youichi, Aicinta, Akemy Yamato, Putri, 'n para reader semua.^^*

.