Nah aku kembali update chapter 5 nih...^^v

Makasih yang dah mampir baca 'n review

Gomen jika lamaaa updatenya, coz banyak yang harus diuruzz =.=''a

.

.

.

Langsung saja,

Happy Reading Minna-san!

.

.

HERE WE ARE

Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu, Nejigaa, Shikakiba

Genre : Romance, hurt/comfort, action, crime, & angst

Maaf kalo ada kesamaan tema dan kesalahanXD

Yaoi, BL, Slash, Gaje, chara death, OOC, dll,

.

.

.

Don't Like don't read!

.

.

.

.

Chapter 5 : Kebetulan yang Menguntungkan

.

.

.

.

.

Daerah pinggiran kota Tokyo lumayan ramai siang ini. Terbukti dengan adanya banyak kendaraan dan banyak orang berlalu lalang. Begitu pula di deretan pertokoan yang akan didatangi Shikamaru dan Kiba. Saat tiba di tempat yang dimaksud oleh Gaara, tempat dimana dirinya dan Sasuke belanja kemarin malam, Shikamaru segera menghentikan mobil Ferrari merah yang dikendarainya dengan kekasihnya, Kiba, di depan minimarket itu. Dia dan Kiba keluar dari mobil dan segera masuk ke minimarket.

Minimarket lenggang itu berbentuk persegi panjang, luas dengan deretan rak berisi barang yang disusun rapi berjajar. Di samping pintu masuk ada meja kasir. Ketika Shikamaru san Kiba masuk ke dalam, dua orang wanita petugas kasir itu berbisik sambil menunjuk ke arah mereka dengan wajah memerah. Membuat Kiba risih melihatnya.

"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Shikamaru menghampiri mereka. Membuat dua wanita itu gugup.

"Bo-boleh, mau bertanya apa, Tuan?" jawab salah satu dari mereka terbata.

"Apa kalian yang berjaga di minimarket ini kemarin malam?"

"I-iya, benar.." jawab yang satunya.

"Langsung saja, apa kalian tau dimana tempat berdirinya pemuda yang berteriak di sini kemarin malam?" Kiba jengkel mendengar mereka menjawab dengan nada malu-malu. Membuang waktu saja.

Kedua wanita itu kaget mendengar Kiba berbicara agak membentak.

"Baiklah, kalian tau apa yang dimaksudnya, 'kan? Pemuda berambut raven mencuat ke belakang." Shikamaru tidak ambil pusing. Memang lebih cepat lebih baik.

Mereka mengangguk paham. "Kalau tidak salah tempatnya berdiri ada di sana." Salah seorang dari mereka menunjuk jendela besar yang berfungsi sebagai etalase minimarket.

"Apa ada banyak orang selain dia waktu itu?"

"Hanya beberapa, mungkin 5-7 orang. Waktu itu dia bersama pemuda berambut merah bata. Mungkin saudaranya."

'Itu Gaara' batin Kiba. "Lalu, kalian tahu apa yang dilakukannya sebelum teriak?"

"Uum, sa-saya kurang tahu, waktu itu dia hanya memandang keluar lalu berteiak..." jawab salah satu kasir berpikir.

"Baiklah, makasih." cuek Kiba langsung menggapit lengan Shikamaru dan menyeretnya keluar minimarket.

Dua orang wanita kasir itu kecewa. Agaknya mereka tidak rela harus kehilangan pemandangan lelaki berwajah tampan seperti ShikaKiba. Sekalian cuci mata mungkin.

"Kau ini, kenapa buru-buru?" tanya Shikamaru setelah mereka keluar.

"Aku jengkel bertanya pada wanita seperti mereka. Kesannya merayu!" Kiba mendengus kesal.

Pemuda berambut hitam berkuncir tinggi itu mendesah kecil sebelum tersenyum. Rupanya puppy kesayangannya cemburu.

Mereka berjalan cepat ke arah etalase minimarket. Sesampainya ShikaKiba di depan etalase tempat Sasuke berdiri dari dalam, mereka mengedarkan pandangan ke sekeliling arah. Meneliti mencari petunjuk.

"Disini tempat Sasuke berdiri, ya. Kira-kira apa yang dilihatnya?" Kiba memperhatikan jalan dan sekitar.

"Kalau dari sini, jangkauan yang dia lihat lumayan banyak. Tapi untuk melihat objek dengan jelas, pasti tidak jauh dari sini." Shikamaru berpikir.

"Aaah, bingung...bagaimana kita menyelidikinya?"

"Tsunade-san bilang, jika Sasuke trauma karena melihat objek yang berhubungan dengan masa lalu. Berarti dia melihat salah satu dari orang yang memiliki kaitan dengan masa lalu Sasuke." Jelas Shikamaru.

"Maksudmu yang dilihat Sasuke itu 'Raja'?" tanya Kiba tersentak.

Shikamaru mengangguk, "Ada kemungkinan, atau mungkin selain dia. Kau tau 'kan, jika bukan hanya 'Raja' saja yang membuat Sasuke seperti sekarang?"

"...aa, ada 3 orang." Kiba mengangguk, matanya menyalang tajam.

"...3 orang pelaku utama di masa lalu kita." lanjut Shikamaru bersuara berat.

Mendadak, Shikamaru dan Kiba melebarkan mata. Mereka memandang satu sama lain.

"Jangan-jangan..." Kiba menduga.

Shikamaru mengangguk mengiyakan, "Kita tanya pada penjual di seberang sana." katanya sambil menunjuk penjual Takoyaki di seberang jalan.

Shikamaru dan Kiba menyebrang jalan, menghampiri penjual Takoyaki yang lumayan sepi pembelinya. Shikamaru langsung mendekatinya.

"Permisi. Anda selalu jualan di sini?" tanyanya.

Pria penjual Takoyaki itu mengangguk ragu. "Benar. Ada perlu apa ya?"

"Apa anda kemarin jualan di sini sampai malam?"

"Ya."

"Apa anda melihat seorang pria berambut hitam panjang berumur 50 tahunan di sekitar sini?" tanya Shikamaru.

Pria itu menaikkan alis, tidak mengerti. Berpikir sejenak, "Mungkin tidak. Malam itu daerah sini lumayan ramai."

Shikamaru dan Kiba menghela nafas, sepertinya bukan seperti yang mereka duga.

"Tapi mungkin yang kalian maksud, pria berambut hitam jabrik dengan bekas luka di wajah kanannya?"

Shikamaru dan Kiba tersentak kaget. 'Apakah mungkin...?' batin mereka bersamaan.

"Dimana kau melihatnya?!" tanya Kiba tidak sabar membuat pria itu kaget.

"Nng, waktu itu dia membeli Takoyaki di sini. Dia bersama dua orang." jawab pria itu.

"Mereka berdua seperti apa?" giliran Shikamaru bertanya.

"Keduanya pria. Mereka berpakaian serba hitam."

"Dari mana mereka datang dan kemana mereka pergi?" Kiba memaksa.

"Mereka datang dari Cafe di sebelah sana." Pria itu menunjuk Cafe yang tidak jauh dari tempat mereka. Cafe sederhana tapi berkelas yang bergaya minimalis. "Lalu setelah mampir ke sini mereka pergi dengan mobil hitam, mungkin ke arah luar kota." lanjutnya sambil mengingat.

"Terima kasih, Jii-san!" teriak Kiba sambil berlari menyusul Shikamaru yang sudah berjalan duluan menuju Cafe itu.

"Bagus, kita dapat petunjuk." ujar Kiba berdiri di sebelah Kekasihnya.

"Hmm, mungkin itu memang'dia'."

.

.

.

.

.

==========Here We Are==========

.

.

.

.

.

Di lain tempat, tepatnya sore hari di mansion keluarga Haruno yang sekarang sepi karena hanya dihuni dua orang saja, Neji dan Gaara telah berada di halaman depan mansion. Mereka turun dari mobil Lexus putih dan berjalan beriringan menuju pintu masuk mansion.

"Kenapa Gaara?" tanya Neji, menengok Gaara yang berjarak agak jauh di belakangnya karena tiba-tiba berhenti berjalan.

Gaara menundukkan kepala terdiam sesaat. Dia mengangkat wajahnya menatap Neji, "Apa benar wanita bernama Haruno Sakura itu memang berkaitan dengan Sasuke?"

"...Dia berkata pernah bertemu dengan Sasuke beberapa kali," Neji berbalik sambil mengangkat bahu.

"Berarti aku mengenalnya?"

"Entah, makanya kau harus bertemu dengannya. Karena kau ada bersama Sasuke 'waktu itu'."

"...Aku hanya bersama Sasuke sebentar sebelum dipisahkan darinya." Gaara mengerutkan dahi berpikir.

"...mungkin juga Haruno punya kaitan dengan 'orang itu'." duga Neji. "Ayo kita masuk saja. Kita tidak akan tahu apapun sampai kita dapat penjelasan darinya..." lanjutnya sambil berjalan mendahului.

Gaara berjalan menyusul Neji dalam diam, 'Jika wanita itu memang berhubungan, mungkin kami akan selangkah mendekati 'Raja' dan ada cara membawa hati Sasuke kembali.' Batinnya berharap.

Sesampainya mereka di depan pintu masuk mansion, Neji menekan bel yang ada di sisinya. Beberapa menit menunggu, pintu pun terbuka, menampilkan Kakashi yang memakai pakaian kasual. Wajah tampannya dihiasi mata yang beriris berbeda, tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka berdua.

"Kami sudah menunggu." ujar Kakashi. "Dan dia?" liriknya pada pemuda bertato 'Ai' yang asing di matanya.

"Dia Gaara, rekan setim kami," jawab Neji memperkenalkan. Gaara mengangguk singkat.

Kakashi membalas mengangguk mengerti, "Masuklah, Sakura di dalam."

Neji dan Gaara masuk ke dalam dengan Kakashi yang menutup pintu masuk mansion di belakangnya. Lobbi mansion itu telah bersih, tidak ada mayat-mayat berserakan, barang pecah, atau darah berceceran. Seolah kekacauan semalam tidak pernah terjadi. Tapi dengan tidak adanya para pengawal yang selalu berjaga di sekeliling mansion juga suasananya menjadi sunyi, adalah bukti kalau kejadian semalam memang nyata.

"Bersih sekali, apa kau yang membersihkan kekacauan semalam?" tanya Neji saat memandang sekeliling.

"Yaah, tidak juga. Aku dibantu 2 orang pengurus kebun di mansion ini." Kakashi tersenyum simpul. "Berat, lho. Gara-gara kekacauan kalian semalam, kami harus kerja ekstra membersihkannya. Apalagi noda darah yang tidak bisa hilang di karpet ini. Terpaksa kami ganti." keluhnya menunjuk karpet merah marun yang mereka bertiga injak.

"Aah, maafkan kami kalau begitu. Tuan yang tidak suka kotor." kata Neji sarkatis. "Kapan kalian menguburkan mereka?"

"Pagi tadi. Sakura mengadakan pemakaman pribadi. Polisi tetap akan mengusut kasus ini, jadi berhati-hatilah. Karena kami tidak bisa berbuat banyak." Kakashi berjalan mendahului, menuntun Neji dan Gaara ke ruang santai tempat Sakura berada.

"Baik sekali kau mengingatkan kami." ucap Gaara sinis.

"Ini permintaan Sakura." Kakashi tersenyum palsu menoleh Gaara.

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong sunyi dalam mansion yang dipandu Kakashi di depannya. Sampai di ujung, Kakashi berhenti dan membuka pintu besar bercat coklat. Neji menduga jika si pemilik mansion ada di sini. Dan benar, Sakura memang sedang duduk bersantai sambil minum teh di meja tengah ruangan yang luas itu. Kakashi mempersilahkan mereka masuk.

Begitu memasuki ruangan, kedua pemuda itu menatap sekeliling. Ruangan luas dengan perabotan antik khas victorian, menghadap langsung ke halaman belakang yang hijau berhias ladang bunga warna-warni. Alih-alih kagum dengan desain ruangan yang bergaya eropa, Neji dan Gaara malah meneliti bila ada sesuatu yang mencurigakan di dalam ruangan itu. Kakashi dan Sakura –walau menutup mata— tampaknya menyadarinya.

"Tidak ada apapun di sini, kalian tidak usah khawatir," kata Sakura yang baru saja menjadi kepala keluarga Haruno.

"Kami hanya ingin memastikan," dalih Neji mendengus.

Kakashi yang sudah berdiri di sebelah Sakura terkekeh, "Tidak percaya sekali kalian pada kami,"

"Yah, memang tidak ada salahnya," Sakura meletakkan cangkir tehnya ke atas meja bundar bertaplak putih dengan berbagai makanan kecil. "Silahkan duduk," lanjutnya tersenyum membuka mata memandang pada Neji dan Gaara.

Namun, ketika mata emerald Sakura bertumbuk dengan iris Jade Gaara, dia terpaku. Matanya melebar tidak percaya, "...Gaara-kun...?"

Gaara juga membelalakkan matanya terkejut saat menyadari siapa gadis di hadapannya. Rambut merah muda sebahu, mata hijau emerald, paras itu... Gaara merasa sangat familiar. "...Sakura-chan...?"

Kedua orang lain –Neji dan Kakashi— tercengang menyadari jika Gaara dan Sakura saling kenal. Bagaimana bisa?

"Kau—benar Gaara-kun...?" ucap Sakura memastikan sambil berdiri dari duduknya.

Gaara melangkahkan satu kakinya ke depan, "Sakura-chan..."

Bibir Sakura tersenyum sumringah. Pelupuk matanya mengalir air mata yang tidak bisa dia tahan karena bahagia. Segera dia berlari ke arah Gaara, menerjang pemuda itu dalam pelukan erat.

"Kau masih hidup! Yokatta!" teriak Sakura yang melingkarkan kedua tangannya di leher Gaara.

Gaara membalas pelukannya. Tersenyum senang. "Kau juga! Syukurlah!"

Neji mengerutkan alis, menduga jika Sakura memang ada hubungannya dengan Gaara dan Sasuke dulu. Sedang Kakashi menatap mereka kaget. Masih diliputi tanda tanya.

"Waktu kebakaran waktu itu, aku sangat khawatir. Kupikir kau dan Sasuke tidak bisa meloloskan diri," Sakura melepas pelukannya, mengusap air matanya pelan. "Syukurlah...aku sangat senang kalian masih hidup," lanjutnya tersenyum manis.

Gaara mengangguk, "Kami berhasil selamat berkat bantuan teman-teman. Aku juga senang kau beik-baik saja,"

"Kau tidak berubah ya, masih punya tato di dahi," kekeh Sakura.

"Kau juga, tetap cengeng seperti dulu," balas Gaara.

Neji mendekati kedua orang yang baru saja melepas rindu. Dia berdiri di samping Gaara, diikuti Kakashi yang berdiri di sisi mantan nona mudanya.

"Sakura, kau tahu dia?" tanya Kakashi heran.

Sakura mengangguk, "Um, dia Gaara, teman lamaku. Kami bertemu beberapa kali di Avfall (*sampah) sekitar 3 tahun lalu,"

Neji tergelak, "Jadi kau benar ada kaitannya dengan masa lalu kami?!"

Sakura menghadap Neji, "Aku salah satu korban di sana," jelasnya. "Aku dan Gaara ada dalam tempat yang sama, sedang Sasuke ada di tempat khusus. Aku di sana tidak lama, hanya seminggu sebelum dijemput ayahku,"

"Korban apa?" tanya Kakashi tidak paham.

Sakura menghembuskan nafas. Bersiap membuka kembali masa lalu yang tidak ingin diingatnya.

"Menjadi kelinci percobaan untuk obat baru 'mereka',"

Mendengar kalimat itu, Gaara menundukkan kepalanya rendah. Neji menatap Sakura tajam, karena ternyata dugaannya benar. Kakashi tercengang kaget, pasalnya dia tidak pernah mendengar masa lalu Sakura 3 tahun lalu. Karena dia baru melayani majikannya 2 tahun lalu.

Sakura berbalik, berjalan ke meja bundar di sana. Dia menggeser kursi yang tadi didudukinya, "Duduklah, kita perlu rileks serambi mendengarkan ceritaku," katanya menatap 3 orang bergender sama yang masih berdiri terpaku.

.

.

.

.

.

==========Here We Are==========

.

.

.

.

.

Senja meraja kembali. Menyinari mansion gaya Eropa yang berdiri kokoh di tengah hutan pinggiran kota. Naruto, pemuda jangkung yang terbalut kemeja hitam dan celana jeans, berdiri sambil mencondongkan badannya, bertumpu tangan di pagar balkon. Surai pirang jabriknya bergerak tertiup angin. Shappirenya terpaku menatap pemandangan alam yang mulai menggelap di hadapannya.

Terdiam.

Menikmati angin yang membelai tubuhnya, serambi menunggu bangunnya pemuda raven yang terlelap di ranjang kamar ruangan di belakangnya.

Ya, Sasuke masih tertidur. Sejak kejadian semalam, dia belum membuka matanya. Lelap mengarungi mimpi dalam tidurnya. Agaknya serangan batin yang diterimanya mampu membuat pemuda bersurai raven itu terguncang.

Puas memandang alam senja, Naruto berbalik melewati pintu kaca yang berfungsi sebagai jendela kamar Sasuke. Melangkahkan kakinya mendekati ranjang tempat Sasuke tertidur. Naruto mendudukan diri di tepi ranjang. Mengambil sebelah tangan pemuda itu dan menggenggamnya erat. Mencoba mengalirkan kehangatan yang terbesit rindu ke tangan Sasuke.

"Nee—Suke, Sampai kapan kau meu tidur?" tanya Naruto lirih. Mata Shappirenya menatap teduh pemuda berparas cantik di sisinya.

"Ini sudah hampir malam, dan kau belum makan..."

Naruto membawa tangannya yang bebas untuk membelai rambut Sasuke. Berharap pemuda itu segera terbangun.

"...bangunlah,"

Suara Naruto berubah parau. Mencondongkan badannya hingga wajah berkumisnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah putih Sasuke. Tangannya masih berada dalam posisinya.

"...Aku merindukanmu," ucapnya tersenyum tipis. "Walau kau hanya diam dan mengabaikanku,"

Tepat setelah kalimat itu terucap, Naruto merasakan jemari Sasuke yang ada digenggamannya bergerak kecil. Seolah merespon jawabannya. Naruto melebarkan matanya saat kelopak mata pucat pemuda di bawahnya terbuka lamat-lamat. Menampilkan sepasang iris Onyx yang selalu dirindukannya. Namun, agak kecewa karena menyadari sorotnya tetap hampa.

"...Sasuke," ucap Naruto, memanggil pemuda yang menatapnya kosong sebelum menolehkan kepala ke arah lain.

Naruto menghela nafas lega. Bersyukur bila Sasuke sudah sadar. Sepertinya, sudah baikkan dari serangan kemarin. Dia menegakkan badannya kembali ke posisi semula, "Syukurlah kau sudah bangun..."

Sasuke masih terbaring menatap jendela kamar yang terbuka lebar. Terpaku sesaat sebelum mengerjapkan kelopak matanya. Onyxnya melihat refleksi serangga kecil yang berlatar jingga, melayang di balkon sebelum hinggap di pagarnya. Tangannya melepas genggaman Naruto berlahan sebelum terjulur menunjuk arah balkon kamar.

"...Aa,"

Shappire Naruto membulat seketika. Nada parau yang melantun pelan dari bibir Sasuke, sukses membuatnya terkejut. Jantungnya seakan berhenti di tempat karena saking kagetnya. Dia memperhatikan Sasuke dengan seksama, memastikan jika pendengarannya tidak salah.

"Suke—"

"...Aa,"

Jari telunjuk Sasuke menunjuk si serangga di balkon yang memiliki sayap hitam kebiruan. Naruto yang penasaran mengikuti arah tunjukkan Sasuke, dan menangkap seekor kupu-kupu kecil di sana.

"Kupu-kupu?" Naruto menoleh kembali pada Sasuke, "Kau mau melihatnya dari dekat?" tanyanya menebak gestur Sasuke yang masih melihat hewan itu.

Sasuke diam. Tidak menjawab pertanyaannya. Dia menoleh menghadap Naruto sebentar sebelum bergerak membangunkan diri. Naruto berdiri membantu Sasuke bangun. Duduk menyamping di ranjang dengan kedua kakinya yang menyentuh lantai.

"Kau sudah baikkan? tidak ada yang sakit?" tanya Naruto meski tahu Sasuke hanya diam.

Benar saja, pemuda raven itu kembali menatap Naruto kosong. Naruto yang menyadari itu, hanya mengulurkan tangan kanannya pada Sasuke.

"...Baiklah, ayo kita lihat kupu-kupunya," ujar Naruto tersenyum.

Sasuke yang awalnya memandang kosong tangan Naruto, mulai menjulurkan tangannya. Menerima uluran tangan Naruto untuk membimbingnya berjalan. Naruto melebarkan senyumnya senang. Dia menuntun Sasuke berjalan sambil merangkul bahu kurusnya. Membawanya pada binatang kecil yang masih setia hinggap di pagar balkon.

Sesampainya di ambang pintu jendela balkon, Naruto dan Sasuke menghentikan langkahnya. Mengamati pemandangan hutan berlangit jingga dan kupu-kupu yang hinggap seraya mengepakkan sayap hitam kebiruannya.

Bibir ranum Sasuke bergerak menarik sudut-sudutnya menyamping. Tanpa sadar dia tersenyum memandang alam asri di hadapannya. Senyum tulus dan senang yang membuat Naruto tercengang melihatnya. Reaksi yang tidak pernah ditunjukkan Sasuke sejak 3 tahun lalu. Senyum yang pertama kali nampak di wajah datar pemuda raven.

"...Kau suka?" tanya Naruto tersenyum. Membelai surai raven Sasuke sayang.

Sasuke tidak menoleh atau membalas, masih tersenyum melihat pemandangan yang tersaji di depannya.

"...Apakah dengan ini kau akan kembali Sasuke?" gumam Naruto menatap Sasuke dalam.

Naruto berjalan ke belakang Sasuke. Melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping pemuda raven, memeluknya dari belakang serambi menenggelamkan wajah tannya di leher jenjang Sasuke. Menghirup wangi mint yang menguar dari tubuhnya. Sasuke yang tidak merasa terganggu, tetap mengamati alam hijau di depannya.

"...Aku ingin mendengar suaramu," lirih Naruto berbisik di telinga Sasuke. "Aku ingin kau menyebut namaku kembali, memanggilku seperti dulu,"

Pemuda pirang itu mengeratkan pelukannya pada tubuh Sasuke. Menyembunyikan wajah getir di sana. Matanya terpejam menahan sesuatu yang selalu ingin keluar. Bahunya bergetar kecil hingga membuat Sasuke menyadarinya.

Sasuke menoleh sedikit ke belakang, melihat Naruto yang menunduk dalam di bahunya dari sudut mata. Hanya diam, membisu dengan tatapan mata hampa. Tapi entah kenapa, sebelah tangannya bergerak menyentuh tangan Naruto yang berada di perutnya. Memegangnya lembut. Seolah bersimpati. Naruto yang menyadarinya, tidak merubah posisi. Makin memejamkan mata erat menikmati perlakuan Sasuke.

Naruto tidak akan pernah melepaskan Sasuke untuk kedua kalinya. Karena dia tidak ingin kehilangan pujaan hatinya kembali.

Karena dia mencintai Sasuke.

Selamanya.

.

.

.

.

.

==========To Be Continued==========

.

.

.

Para reader, gomennasai membuat kalian menunggu kelanjutan fic ini,

Tolong dimaafkan karena aku sibuk jadi berhenti di tengah jalan T.T

Tapi akan kuusahakan tetep lanjut!

Review Minna!

.