Chapter 2
.
.
.
Ada lingkaran setan yang terbentuk saat seseorang terlalu bahagia.
Bagi orang yang jarang disentuh kebahagiaan murni, kedatangannya yang tiba-tiba, dengan dosis tinggi, dapat memicu munculnya rentetan perasaan lain yang tidak diundang. Perasaan yang menggerogoti ulu hati, yang diusir dengan cara apapun akan tetap datang dan tak mau menghilang. Lalu, tanpa diduga, ia pergi begitu saja, meninggalkan jejak bahagia yang memabukkan. Rasa bahagia itu menenggelamkan semua bukti-bukti keputusasaan sebelumnya. Karena ia berbentuk lingkaran, ia tidak putus. Kebahagiaan itu juga pergi, perasaan tak menyenangkan itu kembali.
Naruto korbannya. Ia terjebak di lingkaran yang sama sejak suratnya ia kirim. Ia tak bisa membandingkan bahagianya dengan apapun. Ia bahkan tidak tahu manusia mampu merasakan kebahagian yang begitu intens. Terlalu bersemangat, ia menghabiskan waktu dengan membersihkan apartemennya. Lantainya mengkilap. Tidak hanya disapu, dia mengepel, juga menyikat apa yang bisa ia sikat. Dia meminta hibah gorden pada kawan-kawannya, mengganti gorden berdebu dengan gorden baru berwarna cerah. Tak kehabisan energi, ia meminta misi pendek di akademi. Uangnya ia belikan cat. Seluruh dinding apartemennya ia cat ulang dengan warna-warna segar.
Tidak berkorelasi jika dilihat sekilas, tapi di hatinya yang dirayapi bahagia, ia yakin Hinata akan senang dengan apartemen bersih –acuhkan fakta bahwa Hinata mungkin tak berpikiran untuk menginjakkan kaki di apartemennya.
Bahagia memang menyenangkan. Ia harus lebih sering bahagia. Kesannya, tak ada apapun yang dapat bergerak salah. Semua nampak positif. Seolah dunia bergerak untuknya.
Lalu, di malam ketiga, Naruto berbaring di kamarnya yang masih berbau cat. Ia menatap langit-langit, tak bisa tidur meski malam semakin larut. Pelan-pelan, tangan kecemasan meraih jantungnya. Awalnya hanya sebuah gelitikan. Lama-lama berubah menjadi cakaran tanpa ampun.
Matanya terbuka lebar di kegelapan. Dadanya sesak. Berbagai pertanyaan menyergap. Di surat-surat mereka, Hinata tak pernah memberitahu bahwa ia akan pulang. Jangankan memberitahu, sekedar bercanda tentang kepulangan pun tidak pernah. Bagaimana jika seandainya Hinata sengaja tidak memberitahu karena ingin memberikan kejutan? Ia telah menghancurkan dengan surat pendeknya.
Naruto merubah posisi, berbaring menyamping. Atau mungkin Kiba hanya bercanda. Si brengsek itu memang sering melempar canda-candaan yang menurut Naruto tak lucu. Surat pendeknya telah menghancurkan segalanya. Hinata sekarang pasti berpikir bahwa Naruto tidak menghargai misi yang ia emban.
Nafasnya memburu. Sial. Dia tidak boleh terkena serangan panik sekarang. Dia terlalu banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan. Hinata akan pulang. Dia akan menunggunya di gerbang. Mereka akan berjalan bersama, menceritakan hari-hari panjang yang telah mereka lalui. Titik.
Tapi bagaimana jika Hinata tidak menginginkannya menunggu di gerbang? Mereka memang bersahabat, tapi jalinannya belum terlalu lama. Mereka bersahabat melalui surat-menyurat. Sebelumnya, mereka hanya rekan biasa. Sebelum surat-surat itu, Naruto juga tidak terlalu mengenal Hinata. Bagaimana jika Hinata melihatnya lalu kecewa?
Sial.
Malam itu Naruto bermimpi buruk. Ia bermimpi Hinata tak mengingatnya. Hinata bilang dia tak pernah mengirim surat untuk seseorang bernama Naruto. Habis dengan pernyataanya, Hinata pergi. Meninggalkan Naruto membeku di tempatnya. Ia bangun, terengah-engah. Mencuci muka, dan mendapati sticky notes di cermin wastafel, 'Aku malu punya teman sepertimu'.
Ternyata, dia masih bermimpi. Dua kali mimpi, back to back, dan dua-duanya mimpi buruk.
Paginya, dia langsung menuju ke kantor Hokage. Ia diminta datang. Kantung matanya sempat membuat orang-orang bertanya. Ia menjawab ia tak tidur karena membaca buku terbaru seri Icha-Icha Paradise. Ia tak ingin membicarakan malam yang ia habiskan di dekat toilet, memuntahkan semua isi perutnya. Ia tak mau bilang ia tak bisa tidur setelah marathon mimpi buruk.
Dan lingkaran itu terus berlanjut.
Rasa bahagia berbisik lagi saat ia menerima uang hasil kerja. Ia melakukan misi mengantarkan pesan penting ke Kumogakure. Karena ia melakukan dengan cepat, tak sampai dua hari, bayarannya pun bertambah.
Kiba membelikan kimono, Naruto tak mau kalah. Sebagian besar bayarannya ia pakai untuk membeli kalung cantik berbandul biru. Ia menyentuh kalungnya berkali-kali, membayangkan ekspresi bahagia Hinata dan ucapan terima kasih dari bibirnya.
Memang seharusnya persahabatan seperti ini kan? Memang seharusnya perasaan untuk sahabat sedalam ini kan? Memang hadiah untuk sahabat harus yang ini kan? Memang harus begini.
Untuk beberapa hari ke depan, Naruto berputar pada perasaan bahagia dan cemas. Satu detik ia tersenyum menatap kalung berbandul biru, detik lain ia tidur dengan posisi fetal, mengingat-ingat kesalahan apa saja yang sudah ia buat.
Menguras tenaga.
Saat ia berdiri di gerbang bersama warga Konoha lain, berat badannya susut dua kilogram. Badannya lebih kurus. Tapi tidak mengapa. Kebahagiannya sedang berada di posisi puncak. Ia telah menyempatkan diri meminta Iruka-sensei menggunting rambutnya agar lebih rapih. Jaketnya ia cuci bersih. Ia sempat menyemprotkan sedikit parfum sensei-nya agar lebih wangi. Wanita suka segala sesuatu yang berbau harum.
Matahari meninggi. Beberapa warga berdesakan bersama Izumo dan Kotetsu di pos penjagaan. Meski pun sempit, pos jaga memberikan perlindungan dari terpaan sinar matahari. Pagi tadi ada kakek-kakek yang mengatakan sinar matahari menyuplai vitamin D. Siang begini matahari tak berbaik hati mensedekahkan vitamin, ia lebih suka mengirim penyakit-penyakit aneh.
Naruto duduk bersila di atas dinding yang menjadi pemisah antara Konoha dan dunia luar. Dinding ini tinggi, bahkan jauh melebihi pohon-pohon besar di sekitarnya. Memang panas, keringatnya mengucur tak henti, tapi ia ingin jarak pandangnya lebih luas, supaya ia bisa menjadi yang pertama melihat kedatangan rombongan Hinata nanti.
Kalung berbandul biru aman di saku. Begitu Hinata datang, dia akan memberikan salam ceria, memeluk, lalu memberikan hadiahnya. Mungkin dia juga harus memeluk seluruh rombongan. Jika tidak, orang akan memulai gossip tentang hubungannya dan Hinata. Hinata kawan baiknya, tidak boleh ada yang menceritakan hal aneh tentang mereka di belakang.
Ia mendesah, meluruskan punggung. Jantungnya berdegup kencang.
"Hei!"
Kiba melambai, semangat. Terlihat kecil dilihat dari posisi Naruto yang jauh lebih tinggi. Ia berjalan bertiga, bersama Shino dan gurunya. Mata Naruto menyipit. Tidak. Berempat. Kurenai sedang menggendong bayi.
Naruto ikut melambai, berteriak mengalahkan angin "Hei! Mengapa kau lama sekali?"
"Apaa?"
"Mengapa kau lama sekali?"
"Rombongan Hinata rencananya datang jam tiga. Memangnya kau datang jam berapa?"
Dia datang terlalu pagi "Aku pikir datang pagi."
Kiba mengangkat bahu, nyengir. Dia Ikut duduk bersama sensei-nya di bawah sebuah pohon rindang. Shino memilih berdiri tak bergerak. Tak jauh dari mereka, banyak bayangan pohon yang juga telah terisi warga yang mencari tempat sejuk. Gerbang Konoha semakin ramai.
Sudah jam dua. Sebentar lagi Hinata tiba.
Naruto menarik nafas, kemudian menghembuskan perlahan-lahan. Tenanglah, tenanglah.
"Aku tahu kau di situ, Konohamaru." Tatapan Naruto lurus ke depan, tak bersusah payah menoleh untuk menyadari kehadiran Sarutobi muda.
Bunyi 'poof' terdengar "Padahal penyamaranku sudah bagus. Apa yang salah?"
"Pertama, kontrol cakramu jelek. Kedua, kau tidak sempurna menutupi cakra. Ketiga, mana ada ranting bergerak?" Pipi Naruto berkedut "Umurmu tujuh belas tapi tetap saja payah."
"Habisnya panas. Naruto-niichan kan sudah tua, lebih baik turun saja. Nanti dehidrasi."
Kedutannya bertambah "Umurku baru dua puluh dua. Kau saja yang turun, tempatku dari tadi memang di sini."
Ia tak mengindahkan perintah Naruto. Mereka duduk dalam diam beberapa lama. Sesekali Konohamaru mengeluarkan komentar yang Naruto balas dengan anggukan, atau geraman. Waktu kedatangan Hinata semakin dekat. Ia tidak bisa memikirkan hal lain kecuali sahabatnya untuk sekarang. Ia sengaja memilih tempat ini agar dapat menjadi yang pertama melihat, sekaligus untuk mendapat ketenangan. Hancur sudah. Konohamaru memang tidak mengerti.
Konohamaru mengeluarkan komentar riang, Naruto mengangguk, mereka jatuh lagi dalam diam.
Ia tidak tahu harus merasa senang atau bergidik saat merasakan aura lain yang pekat. Konohamaru menoleh, juga merasakan.
"Hanabi-chan!"
Ia dijawab dengan senyum mengejek.
Naruto mendapat kesan ejekan itu bukan ditujukan untuk Konohamaru, tetapi untuknya.
"Maaf. Aku turun sekarang." Ia berbalik pada Naruto "Ingat cewek yang pernah aku ceritakan? Nah, dia pacarku."
Naruto meringis. Selera Konohamaru buruk sekali.
"Kono." Suaranya datar dan dingin. Tatapan terus menghujam Naruto, penuh kebencian.
Konohamaru meminta maaf lagi. Dengan suara lebih pelan ia menambahkan "Dia agak membenci nii-chan, karena yah… itu. Taulah."
"Kono."
Ia cepat-cepat berdiri, Hanabi telah melompat turun mendahuluinya. Lompatan Konohamaru tertahan cengkeraman Naruto di syalnya "Nii-chan! Mau membunuhku?"
Naruto tak merespon "Karena apa?" Dulu ia dibenci karena dia seorang jinchuriki, jika sekarang masih ada yang membencinya, ia ingin tahu alasan mereka. Dia bukan lagi anak jahil yang berlari mengelilingi desa untuk melempar keisengan. Ia juga tidak mencoret-coret para Hokage batu. Jika ia tidak berbuat salah dan orang tetap membencinya, itu urusan mereka, bukan lagi urusannya.
Ekspresi Konohamaru yang bingung membuat Naruto ikut bingung "Nii-chan lupa?"
"Lupa apa?"
"Nii-chan tidak pernah membalas pernyataan cinta Hinata-neechan. Hanabi-chan membenci karena itu." Teriakan Hanabi terdengar, bahu Konohamaru berubah kaku "Aku harus pergi. Ja ne, Naruto-niichan!" Konohamaru melompat, syalnya berkibar.
Naruto menyeringai, tatapannya ia kembalikan ke barat "Heh."
Orang-orang tidak tahu. Biar saja. Dia juga tidak mau memberitahu. Dia tidak akan berteriak-teriak keliling desa mengumumkan identitas sahabat barunya. Paling tidak, bukan sekarang. Nanti. Mereka akan melakukannya berdua. Mungkin datang bersama-sama di acara kumpul-kumpul rookie 12, bergandengan tangan. Orang-orang akan sadar tentang status persahabatan mereka.
Biar saja Hanabi benci padanya. Jika orang se-desa juga melakukannya, silahkan. Hinata telah membuktikan melalui surat-surat, ia menganggap dirinya sebagai sahabat dekat. Hinata tidak membencinya. Itu cukup.
Ia memasukkan tangan ke saku, menyentuh beludru yang menutupi kalung berbandul biru. Semangat yang berada di puncak tak bisa dihancurkan oleh apapun. Kebahagiannya mencapai titik tertinggi. Kalau pun Madara tiba-tiba datang dan ingin menghancurkan desa, Naruto tak akan berpikir dua kali untuk menghabisinya. Kepulangan Hinata harus sempurna.
Dan memang sempurna.
Nafasnya tercekat saat ia melihat titik-titik hitam di horizon. Cengirannya mengembang. Sontak ia berdiri, menarik perhatian orang-orang yang berada di bawahnya "Mereka datang!" ia berteriak "Sepertinya lebih dari tiga puluh orang!"
Kerumunan mengeluarkan dengung. Warga yang bersantai di pos jaga keluar, merapihkan pakaian mereka. Satu per satu menempatkan diri sedekat mungkin dengan gerbang, menunggu, mengharap kepulangan orang-orang yang mereka cintai.
"Masih jauh?" Kiba balas berteriak.
Naruto menggeleng "Mungkin sekitar sepuluh menit mereka sampai."
Telapaknya berkeringat, adrenalin memacu kecepatan jantung. Sebentar lagi ia akan bertemu Hinata. Benar-benar bertemu. Bukan melalui surat dan kiriman barang-barang. Ia bisa melihat senyumnya. Wangi Hinata mungkin sama dengan wangi di semua suratnya. Ia bahkan bisa menyentuh Hinata jika ia mau.
Ini hari terbaik di kehidupannya.
Titik-titik berubah membesar. Ia mencari-cari Hinata di antara kumpulan shinobi yang berlari. Jumlah mereka cukup banyak, lebih dari tiga puluh. Berarti mereka tidak hanya terdiri dari shinobi Konoha. Apakah Hinata membawa pulang teman?
Mengapa dadanya sakit memikirkan itu?
Ah. Tidak. Hinata pulang untuknya. Dia sahabatnya. Betul, begitu.
Ia bisa menangkap gambar Hinata. Rambutnya berkibar, menggunakan vest hijau untuk jounin.
Cengirannya semakin lebar. Naruto melompat ke dahan kuat, lalu mendarat di tanah. Ia berdiri berdampingan dengan 'kakek vitamin D'. Si kakek cerewet, menceritakan cucu baik hati tanpa henti ke telinga Naruto. Katanya si cucu menjadi relawan karena hati bersih, telah menjadi jounin diusia 14 dan akan segera menjadi anggota ANBU. Pasti bohong. Lelah, Naruto mundur teratur. Ia memilih posisi bersama tim delapan, sekilas melirik si kakek yang kini membenarkan obi istrinya.
"Oh. Shota!"
Wanita itu berlari. Teriakannya menjadi penanda kedatangan para shinobi. Ia memeluk lelaki berbandana, tangisannya pecah.
"Malah mirip penyambutan prajurit dari medan perang." Kiba terkekeh.
Naruto tak menjawab. Bahkan bila ia mau menjawab sekali pun, ia tak bisa. Mulutnya kering, tangannya bergetar. Ia berdiri kaku, tim delapan jelas gembira. Mereka sepakat akan membiarkan Hyuuga menyapa Hinata terlebih dahulu. Setelahnya, baru mereka mengucapkan selamat datang.
Hinata memeluk Hanabi. Matanya berkilau ketika ia sedikit mundur, kemudian menjatuhkan ciuman di puncak kepala Hyuuga bungsu. Dia… cantik.
Naruto mencengkeram dadanya.
Jangan panik sekarang, jangan panik sekarang.
"Bocah itu lama sekali!"
Kurenai mendesah "Dia keluarga Hinata, Kiba."
Hanya Hinata yang nyata. Semua selain Hinata seperti mimpi. Ia tidak tahu kapan, tapi Kiba tidak lagi berdiri di sampingnya. Ia menepuk-nepuk punggung Hinata, tertawa. Shino memberikan anggukan. Singkat, tapi penuh makna. Ia melangkah ke samping, membiarkan Kurenai memeluk Hinata dengan satu lengan, lengannya yang lain masih menggendong bayi Sarutobi.
Kaki Naruto berat. Ia tak bisa bergerak.
Ayolah. Dia sudah berjanji. Dia sudah mengecat apartemennya. Hinata pasti suka. Dia bisa mengajak Hinata untuk makan ramen. Kalau Hinata tidak mau ramen, dia bisa mentraktir makanan lain. Bayarannya di misi kemarin masih tersisa. Kalung biru ini juga harus ia berikan. Seandainya Hinata tak mau makan, paling tidak kalung biru pasti membuatnya senang.
Ia meremas-remas kotak kalung, menatap Hinata yang menunduk mengambil bayi Sarutobi untuk ia timang. Dia mengangguk, berbicara dengan Kurenai lambat-lambat. Saat ia merubah pandangannya pada Shino, tatapan mereka bertemu.
Hinata tersenyum, sedikit memiringkan kepala. Mulutnya membentuk 'Naruto-kun.'.
Bila mungkin, jantung Naruto bisa saja melompat keluar dari dadanya. Degupannya terlalu kencang. Saat dia bilang kedatangan Hinata harus sempurna, itu benar. Kedatangannya sempurna. Ia sudah membayangkan semua skenario di dalam kepalanya, mulai dari yang paling buruk sampai yang penuh bunga-bunga. Meskipun menyakitkan, ia sudah dihantui kemungkinan Hinata lupa padanya. Ia juga sudah membayangkan memeluk sebagai seorang sahabat, menyusuri jalanan Konoha dengan riang, lalu mencari makanan murah sambil tertawa-tawa.
Tapi tidak ini. Tidak sesempurna ini. Tidak dengan Hinata yang begitu manis, dengan senyum di bibirnya yang merah. Bukan begini. Pertemuan dua sahabat tidak seharusnya begini.
Pada akhirnya, dia lari.
.
.
.
To be continued…
.
.
Naruto mungkin harus ke psikiater.
Salam,
Ava : )
