Chapter 3

.

.

.

"Naruto."

"Aku tidak mau."

"Hokage memanggilmu."

"Aku sedang sakit."

"Kau tidak sakit."

"Pergi saja!"

Naruto berteriak, kembali menenggelamkan diri di balik selimut.

Semoga Kakashi pergi. Dia sudah berdiri di depan apartemennya sejak tadi. Maaf-maaf saja, dia tidak menginginkan tamu sekarang. Dia hanya ingin tidur, bergelung dengan selimutnya, dan berdo'a semoga saat ia bangun semua hal bodoh yang ia lakukan hanya mimpi. Semoga perasaan bodoh yang membuatnya melakukan hal bodoh juga hanya mimpi.

"Ya sudah."

"Bilang Tsunade-baachan jangan mengirim orang lagi."

"Memangnya siapa saja yang sudah datang?"

Naruto mengeratkan selimut, kesal. Banyak yang datang. Ia menolak membuka pintu dan Yamato-sensei menghancurkan pintunya di pagi buta. Setelah itu Iruka-sensei marah-marah di depan apartemennya sampai satu jam. Sakura juga datang, kembali menghancurkan pintunya yang malang, tetapi Naruto mengusirnya dan memperbaiki pintu dengan jurus berelemen kayu. Yang paling sukses Sai. Dia berhasil memancing Naruto keluar untuk meninju setelah rentetan kalimat-kalimat vulgar.

"Pokoknya bilang saja jangan mengirim orang. Kalau sembuh aku akan segera keluar."

Cakra Kakashi menghilang. Dia sudah pergi. Bagus. Sekarang Naruto bisa kembali meratapi dan mengasihani dirinya sendiri. Ia menutup mata erat-erat. Oke. Tentang dia menganggap Hinata cantik, itu dihapus. Hapus. Hapus. Hapus. Tidak terhapus. Oke. Ganti saja. Gali memori lain. Ingat Hinata kecil? Nah. Ingat itu. Rambutnya aneh, selalu diam, kerjaannya pingsan, kemungkinan stalker.

Sebenarnya, Hinata kecil cukup imut.

Siapa yang merubah memorinya?! Dulu dia tidak menganggap Hinata imut! Berhenti main-main!

Oke. Dia bisa melakukan ini. Ayo coba lagi. Pertama, Hinata sahabatnya. Sahabat baiknya. Dia tidak boleh merusak pertemanan mereka dengan perasaan tak berdasar. Hinata baik, anggun, memahami Naruto, dan cantik. Tidak bisakah lebih dari teman?

Berhenti.

Masih ada alasan kedua. Dia suka Sakura. Ya. Dia yakin dia menyukai Sakura. Nanti malam pesta kembang api. Hinata menyuruhnya mengajak Sakura kencan, dia akan memenuhi saran itu, menghabiskan malam bersama Sakura, bertemu teman-temannya termasuk Hinata, dan semua orang pun bahagia selama-lamanya. Begitu. Ya, ya begitu.

Mata Naruto sontak membuka. Dua cakra familiar mendekat. Dia sudah menemukan solusi, tinggal menjalankan. Ia duduk, menunggu pintu kembali dihancurkan.

"Tsunade-sama menyuruhku ke sini. Katanya kau sakit." Sakura menghindari serpihan-serpihan pintu. Di belakangnya, Kakashi menutup wajah dengan buku orange menyala, tekun membaca.

"Aku sembuh sekarang." Naruto memaksakan sebuah cengiran. Ia duduk lebih tegak, menepis tangan Sakura yang menyentuh keningnya "Tidak usah."

Dia tidak sakit. Paling tidak bukan jenis penyakit yang bisa disembuhkan oleh shinobi medis terbaik sekali pun. Ia hanya butuh memasukkan pemikiran-pemikiran logis ke otaknya lagi. Ia harus mengerti di mana posisinya dan Hinata. Ketika semua jelas, ia akan sembuh.

"Biar aku periksa saja. Hanya sebentar." Sakura memaksa, emerald menyipit menatap rekan setim "Tsunade-sama menyuruhku ke sini."

Naruto menggeleng. Ia turun dari tempat tidur, duduk di sofa tua bersama Kakashi. Selimutnya masih ia bawa, dililit seperti kepompong. Sungguh, tidak ada gunanya Sakura melakukan check-up berapa kali pun. Bahkan Tsunade-baachan tak akan bisa mendeteksi penyakitnya. Mungkin ia akan didiagnosis dengan penyakit-apalah-namanya yang menyangkut pernafasan atau jantung, tapi itu bukan masalahnya. Itu justru efeknya.

Sakura duduk di tempat tidur, menghadap Naruto "Kau ini kenapa?"

Naruto mengangkat bahu.

"Sejak kapan kau suka pakai selimut?"

Naruto mengangkat bahu lagi. Toh setiap orang punya hak untuk menggunakan selimut.

"Terserah. Aku akan bilang pada Tsunade-sama kau bersikap menyebalkan."

Naruto mengangguk. Terserah. Ia menggeser duduk begitu menangkap gambar mengganggu di buku Kakashi. Ia tidak butuh melihat hal-hal aneh sekarang. Hidupnya sudah cukup aneh.

Bibir gadis merah jambu mengerucut. Naruto mendesah. Dia hampir lupa 'solusi' masalahnya. Mengapa juga ia bersikap, merujuk kata Sakura, 'menyebalkan' pada gadis yang ia sukai? Sakura-lah yang ia kejar selama ini. Dia rela melakukan apa saja demi Sakura. Ditolak berkali-kali, dipukul hingga ke Sunagakure pun ia tak masalah. Buka mata, memang sejak awal semua yang ia lakukan untuk Sakura.

Naruto memijit tengkuknya "Sakura-chan, ayo liat kembang api sama-sama. Kencan."

Sakura mengangkat sebelah alis, tetap diam. Ia menatap Naruto dari ujung selimut yang terjulur di lantai, hingga rambut kuning menyala. Tak lama, mulutnya membuka "Oke."

"Huh?" Naruto memajukan kepala, bingung.

"Aku bilang oke."

Sejujurnya, dia sedikit berharap ditolak.

Tidak natural. Rasanya… datar-datar saja. Apa perasaan seseorang yang tawaran kencannya diterima memang begini?

"Aku akan menjemputmu jam tujuh."

.

.

.

Naruto-kun,

Iya. Aku mencoba satu minggu non-stop. Padahal aku pikir bisa lebih dari satu bulan. Ternyata hanya tujuh hari. Sepertinya rekor Naruto-kun akan sangat sulit untuk dipecahkan. Kalau seandainya ada kompetisinya, Naruto-kun harus ikut. Pasti menang.

Oya? Igararashi-sensei membuat drama baru? Aku suka semua drama yang beliau buat, terutama Shin Ai. Naruto-kun pernah menonton yang itu? Rasanya campur aduk. Bahagia, sedih, kecewa, semua jadi satu. Drama spektakuler. Semoga aku bisa menonton drama terbarunya tepat waktu. Aku tidak mau ketinggalan. Drama Igarashi-sensei selalu menyentuh, rugi kalau sampai dilewatkan.

Terima kasih untuk tehnya. Aku sudah mencoba. Harum sekali. Aku membaginya dengan beberapa teman di sini. Mereka semua suka, bahkan jadi rebutan. Katanya itu teh paling enak yang pernah mereka minum. Aku takjub. Pasti bukan teh biasa.

Benarkah? Naruto-kun akan menjemputku? Hanabi-chan, Kiba-kun, Shino-kun, dan Kurenai-sensei juga bilang akan menjemput. Berarti akan ramai. Aku senang sekali.

Temanmu,

Hinata

.

.

.

Langit Konoha tak berawan. Kelap-kelip bintang-bintang menambah semarak warga Konoha yang ceria. Toko-toko memasang lampu warna-warni, beberapa menjanjikan diskon besar-besaran, arena game-game tradisional dipadati pengunjung. Ramai, tak heran banyak penduduk yang tiba-tiba menjadi pedagang, menggelar dagangannya di atas terpal. Peluang bisnis di event dengan banyak pengunjung cukup besar.

Mungkin seharusnya dia juga berdagang, pikir Naruto. Dia akan mendapatkan banyak uang hanya dengan duduk-duduk menunggui barang. Mungkin dia juga bisa mendapat untung cukup besar untuk membuka toko sendiri.

Sedetik kemudian, dia tidak bisa percaya dia sedang memikirkan kemungkinan bisnis. Pertama, dia tidak pernah memiliki jiwa dagang. Hanya menunggui dengan pasif bukan sifatnya. Kedua, dia selalu beranggapan pekerjaan utamanya adalah seorang shinobi. Ia tak butuh kerja sampingan. Kalau pun iya, lebih baik bekerja di restaurant. Ketiga, dari semua waktu untuk memikirkan bisnis, dia memikirkannya ketika sedang kencan. Bukan sembarang kencan. Dia kencan bersama wanita yang ia kejar belasan tahun. Wanita yang selama ini menolaknya. Ia diterima sekarang dan yang ia pikirkan justru bisnis. Yang benar saja.

Yang penting ia tidak memikirkan itu.

Ah. Sial. Sekarang ia jadi memikirkannya. Pikirkan bisnis saja.

"Mungkin suatu hari aku akan menggelar daganganku sendiri." Naruto bilang. Langkahnya pendek-pendek, menghindari pengunjung lain yang berdesakan. Bicara apa saja tidak masalah, asalkan otaknya dipakai untuk memikirkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan… itu "Sebenarnya aku bisa jadi pebisnis handal. Aku punya banyak ide."

Sakura ragu. Ia mengenakan yukata pink, tangan kanan memegang kipas kertas "Ya. Pengaturan keuanganmu kan bagus."

Mereka berjalan beriringan. Cukup dekat sehingga tak bisa disebut tak mengenal, cukup jauh untuk benar-benar disebut sepasang. Kadang mereka terpisah jika ada orang yang memotong arus dan mengambil jalur tepat di tengah.

Seorang anak berlari. Naruto minggir ke kanan, Sakura memilih ke kiri. Setelahnya, mereka kembali mendekat.

"Aku mungkin akan belajar membuat ramen. Menjual ramen tidak membosankan."

"Hidupmu tentang ramen."

Naruto tertawa "Memang. Kalau harus menjadi pebisnis, kau memilih usaha apa, Sakura-chan?"

Jari-jari panjang diletakkan di bibir, berpikir "Entahlah. Mungkin bergelut di bidang yang berhubungan dengan pakaian." Ia mengangkat bahu "Mengapa juga kau menanyakan ini? Aneh."

Jadi keanehannya terlalu kentara. Naruto tersenyum, sedih. Seharusnya, dia sadar. Jika Sai saja berkomentar bahwa dia aneh, dan dikatakan tanpa senyum sedikit pun, berarti garis eksperinya sangat berbeda. Ia bertemu dengan anggota ANBU root itu sebelum menjemput Sakura. Mungkin Sai membaca buku psikologi bagus, karena ia tidak mendiagnosis Naruto dengan penyakit-apalah-namanya yang berhubungan dengan pernafasan atau jantung. Dia mengutarakan kemungkinan penyakit-penyakit mental, mulai dari Anxiety Disorder sampai Obsessive Compulsive Disorder. Naruto nyaris saja memutuskan untuk tidak meninju Sai, sampai ia mengeluarkan kemungkin lain bahwa bisa saja Naruto mengalami frustasi secara seksual.

"Ayo ke sana." Sakura menunjuk satu titik, langkahnya dipercepat "Sepertinya menyenangkan."

Naruto mengikuti, berdesakan dengan pengunjung-pengunjung lain "Di mana?"

Jari Sakura kembali diangkat "Dekat sungai."

"Mengapa harus dekat sungai?"

Pergelangannya ditarik Sakura yang tak sabar, dilepas ketika Sakura melambai, meneriakkan nama kawan wanita terdekat. Sakura berlari, tertawa-tawa dengan kunoichi berambut coklat, meninggalkannya agak di belakang.

Kini, ia tahu jawaban pertanyaannya. Mengapa harus dekat sungai? Sebagian besar rookie 12 di sini. Apa Hinata juga ada? Tadi ia melihat Shino. Kemungkinan besar Hinata juga datang. Bisakah ia lari tanpa diketahui? Tidak bisa, Lee baru saja menepuk bahunya.

"Naruto-san!" Naruto berjengit. Astaga, suara Lee besar sekali. "Luar biasa. Sakit sekali pun kau masih berjuang menonton kembang api bersama sahabat. Semangat masa mudamu membuatku terharu!"

"Bisa suaramu dipelankan?" Naruto mendesis. Ia tidak ingin menarik perhatian. Lagi pula, apa-apaan tangisan Lee. Dia tidak sakit secara fisik. Siapa yang sudah menyebar fitnah ke seluruh desa?

"Oh, maaf. Aku tidak bisa menahan diri." Dia memberikan pelukan yang mirip siksaan, suaranya dipelankan "Banyak kabar beredar. Kami semua khawatir."

"Oya?"

"Ada yang bilang kau demam biasa, terkena flu, sedikit sakit kepala. Ada juga yang bilang asmamu kambuh. Sebagian besar percaya kau akan melakukan hara-kiri."

"Hah?"

"Tapi tentu saja aku tidak percaya!" Seru Lee "Naruto-san bukan tipe yang mudah menyerah!"

"Terima kasih Lee, tapi tolong suaramu dipelankan." Naruto mendesis. Jadi hanya dalam dua hari ia telah dikabarkan menderita berbagai penyakit dan saking frustasinya ingin bunuh diri. Wow, hebat, pikir Naruto sarkas. Tidak ada gunanya dievaluasi. Sudah terjadi. Yang penting ia segera pergi di sini "Sejak kapan teman-teman berkumpul?"

Lee bercahaya "Sejak sore. Kami memang berjanji ketemu di sini."

"Pasti menyenangkan. Kau bergabunglah dengan mereka, aku mau membeli jajanan." Naruto mengerluarkan dompet kecil, sekedar untuk menekankan "Lapar."

Mata Lee membesar. Ia merampas dompet katak. Naruto kaget "Naruto-san! Aku akan membelikannya. Kau beristirahatlah." Ia berbalik pada kumpulan anak muda yang bercengkerama "Kawan-kawan! Naruto-san ada di sini. Tolong jaga dia!"

Seumur hidup belum pernah Naruto mengutuk perhatian. Ia selalu ingin diperhatikan. Apa saja ia lakukan demi menuai sedikit pengakuan. Tapi, mendapati berpasang-pasang mata yang kini tertuju padanya, ia berharap dulu ia tidak terlalu sering menyelipkan kata 'perhatian' dalam do'anya. Rasanya ia ingin berbalik lagi ke apartemen sempit, menyelimuti sekujur tubuh, dan melanjutkan ritual mengasihani diri.

"Tidak jadi hara-kiri?"

Kekehan Naruto patah, tak menjawab langsung pertanyaan Shikamaru. Ia menyusuri rumput-rumput pendek, duduk di antara Shikamaru dan Ino yang sementara menggurui pola makan Chouji. Ia menjulurkan kaki, mencoba mengetes temperatur air sungai dengan jempolnya. Dingin.

"Aku tidak akan melompat dari jembatan." Ia menarik kembali kakinya, duduk bersila. Pandangan Shikamaru melewati ambang menuduh "Mengapa semua orang berpikir aku ingin bunuh diri?"

"Karena… Naruto! Kau memang seperti orang yang ingin bunuh diri!" Ino heboh, melupakan Chouji dan memilih korban lain untuk ia cereweti. Ia menarik lengan Sakura agar duduk bersamanya "Iya kan, Sakura? Ya ampun, bahkan si jidat mau pergi kencan denganmu."

Sakura mencubit perut Ino.

"…Oh." Masuk akal "Jadi itu mengapa kau mau pergi kencan denganku?"

Sakura mendengus "Tak usah dibicarakan. Semua orang berpikir kau aneh. Warna apartemenmu berubah. Kau cat kan? Aku juga dengar kau membeli banyak perhiasan. Gosipnya beredar di daerah pertokoan."

Dia hanya membeli satu, bukan banyak perhiasan.

Ino mengaminkan penuturan gadis pink "Kau seperti tidak hidup. Maksudku, kau kan Naruto. Bukan Naruto namanya kalau tidak banyak bicara, kepo, dan sok penting. Lalu, waktu penyambutan shinobi di gerbang, kau lari. Kalau orang lain yang melakukannya mungkin biasa-biasa saja. Kalau yang melakukannya kau, jadi beda."

"Betul. tidak sopan sekali." Suara Kiba terdengar "Padahal aku sudah bilang pada Hinata kau datang. Kasihan kan. Kau ini."

Naruto melipat tangan "Perutku sakit. Aku harus ke toilet. Kau mau menyalahkanku?"

Semua orang tahu. Brengsek. Semua orang tahu dia bersikap aneh. Mereka bahkan menganalisis semua tindakannya, mencari tahu apa yang dia lakukan beberapa minggu terakhir. Cukup tinggalkan dia sendiri! Masalahnya akan selesai jika dia diberi waktu berpikir.

"Aku tidak menyalahkanmu, bodoh. Semua khawatir padamu. Aku hanya bilang kau harus kembali ke dirimu yang sebenarnya. Kau berputus asa tanpa alasan jelas."

"Kalau kau diam, mungkin aku bisa lebih tenang."

"Astaga. Keadaanmu lebih parah dari yang kuduga."

"Aku sudah bilang. Tiba-tiba perutku sakit. Aku tidak lari."

'Masalahnya bukan itu! Kau tidak mengerti."

Naruto membanting badannya di hamparan rumput, berbaring menyamping, memunggungi kawan-kawannya yang berbicara dengan bisik-bisik. Ini masalahnya. Cukup dia saja yang hadapi. Dia tidak butuh siapapun tiba-tiba mengambil peran konsultan handal untuknya. Kalau mereka bisa pura-pura tidak mengetahui, dia sungguh mengapresianya. Sejak kapan rookie 12 menjadi persatuan penggosip?

Saking kesalnya, dia merasa bisa menguyah habis rumput-rumput di sepanjang sungai. Pelampiasan marah yang bagus. Kemarahannya hilang, perutnya terisi. Bukan solusi permanen memang, tapi ia bisa tenang selama sejam, lalu ia akan mencari lapangan lain untuk ia makan rumput-rumputnya.

Dan suara itu terdengar.

Tipis, seperti bisikan angin. Nyaris tenggelam di antara bisikan-bisikan lain.

"Biarkan Naruto-kun sendiri dulu."

Apa ada kembang api berwarna hitam?

Karena dunianya hitam pekat.

.

.

.

Tanpa membuka mata pun Naruto tahu ia berada di rumah sakit. Bau disinfektan menusuk hidung, kerasnya ranjang tidak membawa nyaman untuk punggungnya yang lelah. Ia tidak benci rumah sakit, meski tidak berarti ia suka. Ninja dari waktu ke waktu mengunjungi gedungnya yang angkuh. Nyawanya berkali-kali selamat berkat tangan orang-orang yang bekerja di sini, tapi jika bisa memilih, ia lebih senang tidak berurusan dengan rumah sakit.

Jadi, dia berhasil melakukan sesuatu yang ia pikir tidak mungkin sebelumnya: pingsan ketika berbaring.

Luar biasa.

Naruto mendesah. Dari kejauhan, bunyi letupan bersahut-sahutan. Perlahan, ia membuka mata. Warna-warna pelangi memantul di jendela kaca. Dia menghabiskan puncak acara di rumah sakit. Hebat.

Ia turun dari tempat tidurnya, menempelkan hidung ke jendela dan merasakan dingin. Kembang api tahun ini seindah tahun-tahun sebelumnya. Warna-warna megah pecah di angkasa, menciptakan gambar seribu bintang. Seharusnya, bisa lebih indah. Secara teknis, tahun ini ia berkencan. Mestinya, dia lebih bahagia. Yang terjadi ia justru menatap hampa.

Apa Hinata juga melihat kembang api?

Aa. Kembang api yang itu moyoritas berwarna ungu. Hinata pasti suka.

Bunyi pintu yang dibuka menimbulkan derak pilu. Naruto menoleh. Secepat itu juga pintu menutup. Dorongan tiba-tiba menciptakan gema.

Jantung Naruto berpacu "Hei!"

Ia memutar gagang pintu dengan cepat, berlari sesunyi mungkin di sepanjang koridor. Menemukan rambut violet di antara putih dinding di sekitarnya, ia berteriak sekali lagi "Hinata!"

Gadis itu berhenti. Ia berbalik, gerakannya ragu-ragu.

Berhari-hari Naruto menghindar. Berhari-hari ia menata kembali perasaannya, hanya memikirkan kembali semua yang ada di pihaknya. Tapi setelah gema pintu, ia sadar ia tidak pernah memikirkan perasaan Hinata. Saat Hinata lari, ia tahu ditinggalkan tanpa penjelasan bukan hal menyenangkan. Dia pernah lari, bagaimana perasaan Hinata? Apa sesakit ini?

Ia mendekatkan jarak mereka dengan langkah-langkah teratur, tangannya menggapai "Aku…"

"Apa yang kalian lakukan? Berisik sekali. Ini rumah sakit!"

Tangan Naruto jatuh di sisinya. Seorang perawat senior bertubuh gemuk berdiri di tengah, kepalanya menggeleng-geleng marah. Ia menghadap Hinata, jarinya mengacung.

Hyuuga itu menunduk, wajahnya memerah karena malu "A-aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Katanya, membungkuk berkali-kali.

"Bukan salahnya. Tadi aku yang lari." Naruto memotong, ia melewati si perawat untuk meraih pergelangan tangan Hinata. Kurus. Naruto mengerjap "Kau tidak dikasih makan di sana?"

Hinata ikut mengerjap "Di mana?"

"Mizu."

"Oh! Warga di sana baik sekali. Aku sering diberi makanan."

Suara geraman di belakangnya tak Naruto perdulikan. Ibu jarinya mengelus lembut nadi Hinata. Denyutannya menenangkan. Kepala Hinata hanya setinggi dadanya, hembusan nafasnya memukul piyama rumah sakit yang Naruto pakai. Ia sadar mereka berdua seperti orang bodoh. Berdiri tanpa suara di koridor, yang satu memerah karena malu, yang satu bertampang orang susah, sementara seorang perawat tua berteriak-teriak sebagai efek suara. Tapi untuk hari ini ia tidak mempermasalahkan tindakan dan perasaan bodohnya. Sebenarnya, ini menyenangkan.

Jadi ia lari dari ini? Dari perasaan hangat ini? Astaga! Apa yang ia pikirkan? Ini kan sahabatnya! Perasaan ini menyenangkan. Biar saja dirinya menyelami sampai yang paling dalam. Ia mungkin mati tenggelam, tapi, hei! Dia sudah bilang kan ini menyenangkan?

Naruto tersenyum, ia mengangkat dagu Hinata, menatap rembulan paling indah.

Ohh. Puitis. Puitis sekali.

Sungguh, biarkan dia mati tenggelam.

"Mengapa kau lari?"

"Aku pikir Naruto-kun ingin sendiri."

Naruto mengangguk, senyumnya belum pudar. Jadi… ia benar. Wangi Hinata seperti surat-suratnya. Kulitnya lembut. Matanya bercahaya dengan titik-titik keunguan. Pipinya merona. Cantik sekali.

"Kalau mau pacaran jangan di rumah sakit!"

Naruto tersentak. Ia melepas pergelangan Hinata bagai tersengat listrik. Dia bersiap meminta maaf tapi Hinata hanya tertawa, menggeleng maklum.

Oohhh. Shodaime Hokage izinkanlah dia membangun desa baru di hatinya.

Apa-apaan itu?

"Dia temanku." Naruto defensif, telinganya memerah. Ia mencoba mengelak tuduhan sekaligus menguatkan keyakinannya yang rapuh "Bukannya Ibu sendiri yang bilang tidak boleh teriak-teriak di rumah sakit? Huh."

Ia mengembalikan telapak mungil Hinata dalam genggamannya, membawa gadis itu menuju kamar rawatnya. Sayup-sayup keluhan si perawat masih terdengar. Naruto mendecak "Cerewet."

Membuka pintu, Ia mendudukkan Hinata di ranjangnya. Gadis itu patuh. Kakinya menggantung, tak menjejak lantai karena ranjang yang terlalu tinggi. Naruto menarik kursi lain, duduk berhadap-hadapan dengan Hinata yang tersenyum.

Ternyata Hinata cocok berada di atas ranjang.

Itu bukan komentar mesum, bukan komentar mesum, bukan komentar mesum.

"Aku sahabatmu kan?" Naruto bertanya, sikunya ia tumpukan pada lutut.

Jawaban tanpa ragu membalas "Tentu saja."

Naruto mengangguk, pundaknya kendur melepas beban. Nah. Jelas kan? Mereka sahabat. Hahaha. Semudah itu. Ah, dia saja yang memperumit persoalan. Posisi mereka jelas. Ia sahabat Hinata, Hinata sahabatnya. Selesai.

"Suratmu yang terakhir sampai setelah kau tiba di Konoha, jadi tidak kubalas." Cengiran yang lama hilang dari daftar ekspresinya perlahan mengembang "Sudah lihat drama terbaru Igarashi-sensei?"

Jari-jari Hinata saling bertaut. Mungkin gerakan tak sadar, tapi Naruto lebih suka memikirkan bahwa Hinata sengaja mencondongkan tubuhnya "Belum. Apa dramanya bagus?" Ia bertanya, wajahnya penuh harap.

"Aku juga belum. Aku sempat melihat review drama. Katanya drama kali ini lebih menyentuh dibanding drama-drama sebelumnya."

"Benarkah? Judulnya apa?"

"White Sardine."

"White Sardine?"

"Maksudku White Garden." Naruto menggaruk kepalanya, agak malu "Tidak terbayang kalau seandainya Igarashi-sensei membuat drama tentang ikan sarden putih."

Mulut Hinata membentuk huruf 'o', berpikir. Nada suaranya penuh konspirasi "Tapi kalau Igarashi-sensei, meskipun tentang ikan sarden putih, pasti dramanya bagus."

Mereka berdua meng-hmm bersamaan, membayangkan drama ikan sarden putih dari penulis ternama, lalu tertawa.

"Tidak, ah! Menyeramkan sekali dibayangkan." Kata Naruto di antara tawanya "Aku tidak mau menonton kalau yang begitu."

Naruto menelan tawanya ketika sekilas Hinata terlihat kecewa. Secepat itu wajahnya kembali bercahaya, menertawakan preferensinya sendiri "Iya, ya. Seleraku buruk sekali."

Naruto mengamati kuku-kukunya penuh minat. Panas ia rasakan kembali menjalari sepanjang garis pipinya "Tapi… kalau kau mau menonton, aku juga mau."

Berdua memerah, bersama tersenyum seperti remaja tanggung, bersatu dalam kikuk.

Inilah persahabatan!

"Kau sahabatku kan?" Naruto bertanya lagi, degup jantungnya lebih kencang

Hinata memiringkan kepalanya "Tentu saja."

"Kalau begitu…" ia berdehem "Ayo nonton sama-sama. White Garden."

Naruto meremas-remas tangannya, gugup. Gadis itu menerawang, seperti menimbang-nimbang suatu hal yang teramat krusial. Dia tidak salah bicara kan? Tidak. Sahabat pergi menonton bersama dari waktu ke waktu. Ini biasa. Dia tidak melakukan kesalahan. Tidak ada yang salah.

Semenit yang bagai sejam berlalu. Hinata mengembalikan tatapannya pada Naruto, pipi bersemu dengan semangat "Boleh. Hari apa?"

Wah. Waaahhhhh. Jadi begini rasanya jika ajakan menonton diterima sahabat. Naruto sontak berdiri dari kursinya. Tak lama, ia berlutut, menangkup jamari-jemari Hinata dalam tangannya yang besar. Waaahhhhh. Menyenangkan, menyenangkan. Naruto ikut bercahaya, mengangguk-anggukan kepalanya dengan riang "Besok, bagaimana? Sore."

Hinata meng-copy gerakan Naruto, poninya tertiup anggukan kuat-kuat "Hu'uh. Aku ajak kawan-kawan yang lain, ya?"

"Jangan!"

"O-oh. Maaf."

"B-bukan, Maksudku, kan kita sahabat. Butuh waktu untuk saling melepas rindu. Sebagai sahabat tentunya. Kan kau sudah lama di Mizu. Sahabat. Kita sahabat. Iya kan, Hinata-chan?"

Aah. Naruto tak kuat melihat senyum itu. Ia membenamkan wajahnya di pangkuan Hinata, tersenyum senang.

Sahabat memang yang terbaik.

.

.

.

To be continued…

.

.

Reviewnya belum saya balas, maaf. Saya sedang mengalami masa-masa malas dengan FFn, jadi saya tak begitu sering membuka web terkutuk ini. Saya mengapresiasi semua yang men-support. Terima kasih, kawan.

Oya. Akun FB saya non-aktifkan. Sorry na.

Salam,

Ava : )