WARNING (meskipun warningnya telat banget): Secara keseluruhan, ini fanfik memang pendek, tapi alurnya lamaaaaa sangat, karena fokus pada perasaan. Banyak berputar pada persahabatan. Kalo sabar, silahkan baca sampai selesai lalu ripyulah dengan kesungguhan hati. Kalau tak sabar, tetap lanjutkan membaca lalu flame-lah untuk menunjukkan betapa panasnya cintamu padaku *readers: hoeekkhh* Kalo kata daku sih, mending di-flame dari pada gak sama sekali. Itung-itung nambah 'ripyu'. Wkwkwkwk. *author psiko detected*

.

.

Chapter 4

.

.

.

"Aku lebih suka melihat kau yang depresi dari pada tertawa-tawa maniak." Kiba bergidik, mundur teratur untuk berdiri di belakang Shino.

Naruto mengibaskan tangan, memperagakan adegan seorang raja yang anggun dan bijak "Kali ini aku memaafkanmu, rakyat jelata. Lain kali aku tidak akan sebaik ini." Ia meraih lengan Hinata, menariknya mendekat, menikmati pancaran hangat dari tubuh si gadis Hyuuga "Tentu dengan persetujuan permaisuriku." Katanya, mencoba tersenyum 'se-raja' mungkin.

Rahang Kiba jatuh "K-kalian pacaran?" dia diam beberapa detik "Hei, Shino. Kau bilang kabar itu salah, tapi ini?"

Senyum raja-nya berubah menjadi seringai jahat, antagonis to the max. Ia cepat-cepat meletakkan lagi tangan Hinata di lengannya saat gadis itu mencoba menarik balik. Senyumnya penuh kepuasaan.

Setelah kabar bahwa dia akan bunuh diri, warga Konoha dengan gegap gempita mengganti headline baru, 'Uzumaki dan Hyuuga? Fakta ataukah gossip belaka?'. Naruto senang-senang saja. Hubungan mereka telah melalui tahap verifikasi dengan begitu cermat dan detil. Posisi mereka sudah jelas, jadi dia tidak tergerak untuk melakukan 'konferensi pers'. Biar saja mereka pikir ia dan Hinata pacaran. Tidak masalah.

"Apa itu benar, Hinata-chan? Sejak kapan?" Kiba bertanya. Diskusi dengan Shino tidak membuahkan hasil "Kalo iya aku ucapkan selamat, hanya saja…"

"T-tidak." Hinata menggeleng kuat-kuat "Kami hanya berteman."

Kening Naruto berkerut. Mengapa Hinata harus bilang begitu? Memang hanya berteman, tapi kan…

"Oh." Kiba terdengar puas. Seringai Naruto kini berpindah padanya "Jadi begitu. Aku tahu, Naruto. Kau sebenarnya senang kan digosipkan pacaran dengan Hinata?"

Naruto menghembuskan angin panas, mencoba menutupi rasa malu. Dia hanya malas menanggapi isu. Itu saja. Dia bukan senang digosipkan pacaran dengan Hinata. Dia hanya… itu tadi. Malas. Ya, benar begitu.

Naruto menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hinata, tak merespon ejekan-ejekan Kiba. Untunglah Shino tipe pendiam. Kalau dua sekaligus, gendang telinganya bisa pecah. Suaranya ia pelankan "Mau ice cream?"

Hinata mengangguk, pipi bersemu. Naruto tersenyum.

"Kiba-kun, S-shino-kun, mau ice cream?"

Uhh… "Hinata," Naruto mendesah, berbicara sepelan mungkin "Maksudku, kita berdua saja." Dia harus segera menekankan pada Hinata bahwa tawaran-tawarannya hanya berlaku untuk mereka berdua. Bukan untuk menggandeng yang lain. Mengapa juga dia harus berbagi Hinata dengan orang lain?

Uhhh.

"Aku dengar itu! Ha!" Jari Kiba menuding "Kau pikir aku tuli, ya?" Jarinya ia simpan begitu mendapati tatapan Hinata yang bertanya "B-bukan kau, Hinata-chan. Maksudku si bodoh ini. Yah. Terserah. Kalian berdua pergi sana. Pacaran yang lama." Ia menutup dengan 'huff' kesal.

Naruto berpura-pura terharu, mengelap air matanya yang tak ada. Ia merangkul pundak Hinata, bergerak menjauh. Jempolnya ia acungkan, mencoba bilang 'terima kasih' pada dua lelaki tim delapan tanpa suara.

Mereka menyusuri jalanan Konoha yang kini agak lengang. Puncak kepadatan telah berakhir, meskipun Naruto yakin, bulan depan turis akan kembali membanjir. Ada berbagai festival dan ritual-ritual klan yang menarik. Ia harus datang ke festival bersama Hinata. Ia mengangguk, mengamati langkah-langkah tenang Hinata. Langkahnya sendiri lebih riang. Sedikit melompat-lompat, sekilas terlihat seperti melayang.

"Mau yang mana?" Naruto bertanya, melongok pada stand ice cream aneka rasa.

Melihat Hinata yang perlu berjinjit, ia meraih daftar menu, menyerahkan pada kunoichi favoritnya agar tidak berkesusahan. Dari dulu ia sadar Hinata mungil. Pada pertemuan-pertemuan dengan kunoichi rookie 12, ukuran tubuh Hinata makin mencolok dibandingkan Sakura, Ino, dan Tenten yang terbilang semampai. Berada di dekatnya membuat ukuran tubuh Hinata nampak semakin kecil.

"Yang vanilla." Hinata mencicit, menunjuk kertas hijau tua "Naruto-kun mau yang mana?"

Ia mengambil lagi daftar menunya, memberikan pada pemuda tanggung di seberang stand "Aku juga. Tolong vanilla-nya dua."

Mereka bersamaan mengeluarkan dompet, Naruto menepuk kepala Hinata. Sedikit bangga karena tinggi tubuhnya "Aku yang bayar."

"Sekali-sekali tidak apa-apa kan aku yang bayar?"

"Jangan. Uangku banyak." Giginya berkilau diterpa sinar matahari. Tidak terlalu banyak sih, tapi kalau untuk menyenangkan Hinata, ia rasa cukup. Kalau pun tidak cukup, ia tinggal meminta misi lebih "Jangan dipikirkan, aku salah satu orang terkaya di dunia. Hehe."

Hinata tampak takjub. Untuk sesaat, Naruto khawatir Hinata benar-benar percaya bahwa dia manusia kelebihan uang. Tapi dia ingat Hinata memang tipe yang gampang senang. Urusan makan kuah ramen saja dipuji, jadi sombong-sombong begini, meski tahu salah, Hinata pasti tetap takjub. Jika Hinata memang benar takjub pada orang dengan banyak uang, dia akan berjuang keras di misi-misinya. Di antara semua perasaan yang Hinata timbulkan, rasa bangga saat Hinata menatapnya dengan kekaguman masuk salah satu favoritnya.

Ia menggeleng. Hinata tidak tertarik pada uang.

Mereka menghabiskan ice cream di ranting sebuah pohon besar. Naruto sengaja memilihnya. Pemandangan di sini bagus. Hamparan rumput, danau kecil di seberang, dan bias matahari tenggelam. Letaknya juga tidak jauh, masih tergolong pemukiman, sehingga terkadang ada pejalan kaki yang lewat, memasang ekspresi aneh. Naruto melambai, meraih tangan Hinata yang tidak memegang cone agar bisa melambai berdua.

Kau sengaja memilih tempat ini bukan karena pemandangannya. Bocah Inuzuka benar. Kau senang digosipkan pacaran dengan Hinata.

Tidak. Aku tidak mungkin berpikir begitu.

Kau memilih dekat pemukiman karena kau memang ingin warga melihatmu bersamanya. Kau sengaja. Sinting.

Pemandangan di sini bagus.

Hinata. Cantik, ya? Kau bermimpi tentang dia semalam kan?

Tutup mulut, Kyuubi!

"N-naruto-kun?"

Naruto tersentak, ice cream yang baru setengah dimakannya jatuh ke tanah. "Maaf Hinata-chan. Aku sedikit melamun."

Dasar rubah tua.

Bocah tengik.

"Naruto-kun, tidak apa-apa kalau aku…?" Kalimatnya menggantung. Naruto segera tahu maksudnya dari byakugan Hinata yang aktif. Ia mengangguk "Tidak sakit, tenang saja."

Tiga totokan. Satu di samping lehernya, dua di sekitar segel di perut. Naruto mengerjap. Begitu saja, suara-suara Kyuubi yang mengganggu langsung lenyap. "Hebat. Klan Besar memang keren." Ia bersiul "Bisa dilakukan kapan-kapan lagi, Hinata-chan?"

Sejujurnya, sentuhan Hinata di lehernya cukup menggairahkan.

Maksudnya, menenangkan.

Bola mata Hinata bercahaya. Naruto menahan nafas "Aku harap Naruto-kun selalu sehat."

"Memangnya hanya boleh dilakukan kalau sakit atau… kejadian yang seperti tadi?"

"T-tidak, hanya saja…"

"Kalau begitu, lakukan!" Naruto semangat "Badanku sering pegal-pegal soalnya."

Hinata diam, pelan-pelan bibirnya membentuk senyum, lalu tawanya yang mengalun mengisi keheningan.

"Ehh…" setitik keringat mengucur di pelipis Naruto "Aku tidak bermaksud menganggapmu tukang pijit. Aku tidak bermaksud bilang Hyuuga punya jurus ala tukang pijit! Aku t-tidak…"

Hinata masih setia dengan tawanya. Perlahan, rasa kikuk Naruto tergerus dengannya. Tawanya yang berat berpadu dengan tawa Hinata.

"Dengar," Naruto mendekat, tiba-tiba teringat rencananya saat menyadari tinggi badan Hinata "Bulan depan ada festival kostum kan? Bagaimana kalau aku jadi Youchi dan Hinata-chan sebagai Hina-hime?"

Youchi dan Hina-hime adalah cerita legenda Konoha. Bertutur tentang monster raksasa haus darah, Youchi, yang setiap malam memburu warga tanpa pandang bulu untuk dimakan. Masih menurut cerita, Youchi dulunya adalah manusia yang dikutuk karena banyak berbuat kejahatan. Nah, ia bisa mematahkan kutukannya jika menemukan wanita yang ia cintai. Karena memikirkan keselamatan desa, salah seorang petinggi klan menyerahkan anak gadisnya, Hina, untuk diperistri. Dan, benar sekali, Youchi dan Hina-hime akhirnya jatuh cinta.

Meskipun Naruto tidak habis pikir ada ayah yang merelakan anaknya dipersunting monster buduk.

Tubuhnya tinggi, Hinata mungil. Cocok jika mereka berdua datang sebagai Youchi dan Hina-hime. Lagi pula, namanya hampir sama. Hina-hime.

"Oh." Senyum Hinata patah "M-maaf, Naruto-kun. Aku sudah berjanji pada Hanabi-chan akan datang bersama."

"Begitu, ya." Ceria di wajahnya pudar. Dia mencoba menyusun seribu satu alasan di otaknya untuk memberi pengertian bahwa tidak seharusnya ia kecewa. Dia kan tidak mengajak kencan, hanya ajakan biasa, mengapa pula ia harus bersedih? Meski akhirnya yang bisa dia bilang hanya "Mana ada orang pergi ke festival dengan adiknya…"

Oke. Memang banyak orang yang pergi ke festival dengan adiknya, tapi yang benar saja!

Sejujurnya, Naruto kecewa. Dia sudah membayangkan Hinata dengan kimono dan hiasan rambut cantik, berjalan membelah kerumunan di sisinya, terlihat anggun dan mempesona. Coba pkir, apa bagusnya Hinata ikut festival dengan Hanabi? Pasti peran Hinata dikasih yang aneh, sepanjang festival mungkin Hinata disuruh-suruh. Mending pergi dengan dia. Dia akan memanjakan Hinata sepanjang malam, janji. Kalau perlu dia akan belajar menjahit dan menjahitkan semua kostum mereka supaya Hinata tidak lelah.

Bocah sialan, Naruto memaki dalam hati. Dia kan sudah punya pacar, mengapa tidak datang dengan Konohamaru saja? Ck. Seharusnya ada peraturan tentangnya: saudara yang sudah memiliki pacar diharuskan mengikuti festival dengan pacar yang bersangkutan. Bagi saudara yang belum memiliki pacar dibebaskan untuk bergabung di festival bersama orang lain yang bukan saudaranya.

"Naruto-kun bisa pergi dengan Sakura-chan. Biar aku yang menjahit kostumnya. Youchi dan Hina-hime kan?" Hinata mencoba menyemangati "Pasti cocok sekali."

Bukan itu masalahnya. Naruto cemberut "Aku tidak mau."

"Kostumnya aku coba buat seindah mungkin, oke? Naruto-kun bisa kencan dengan Sakura-chan. Pasti jadi pasangan paling populer nanti. Nah, untuk urusan teknisnya serahkan saja padaku."

Naruto menggigit bibir. Dengan ekspresi Hinata yang penuh harap dan nada yang ia buat paling bersemangat, Naruto tak tega mengatakan bahwa ia 'sedikit' membenci si adik karena telah merampas sahabat baiknya. Semenjak kepulangan Hinata, mereka menghabiskan banyak waktu bersama, melakukan berbagai hal berdua. Dia sudah terbiasa bersama Hinata. Bagian dari dirinya yang egois ingin Hinata memilihnya dan meninggalkan Hanabi selama-lamanya.

Itu terlalu egois.

Ia juga tak benar-benar bisa menjelaskan posisinya. Ia tidak ingin pergi dengan Sakura, dia ingin dengan Hinata. Sesimpel itu. Ia tidak mengerti, tapi mungkin orang memang lebih memprioritaskan sahabat dibanding masalah naksir-naksiran.

"Kalau begitu," Naruto berbisik, kepalanya tertunduk "Selesai festival boleh kita bertemu?"

Hinata membalasnya dengan senyum menutup mata.

.

.

.

Gosipnya mulai beredar semenjak ia dan Hinata menonton drama White Garden berdua. Karena ia pernah dikabarkan berniat bunuh diri, orang-orang menjadi lebih peka dengan keberadaannya. Secara otomatis, mereka juga cepat menghubung-hubungankan dirinya dengan wanita yang, menurut mereka, 'secara naas berakhir bersama pemuda putus asa'. Ditambah fakta Hinata adalah seorang Hyuuga, gosipnya membludak. Seiring perjalanan, hubungan mereka naik ke status Pemalu dan Maniak.

Dia akui, semenjak bertemu Hinata dia memang banyak tertawa. Kalau tidak tertawa, ia memberikan cengiran lebar. Minimal ia tersenyum. Sulit untuk mempertahankan ekspresi datar jika dadanya meluap dengan kebahagiaan. Mungkin dia memang maniak, tapi serius, siapa perduli? Hinata tidak perduli, jadi untuk apa dia perduli?

Selesai menonton, dia mengajak Hinata ke apartemennya. Yah, bukan mengajak, sih. Dia bilang dia akan mengantar Hinata, tapi harus singgah ke apartemen karena dia melupakan sesuatu. Tidak mungkin tiba-tiba dia bilang "Kau tahu, Hinata? Kau harus ke apartemenku sekarang. Aku sudah mengecatnya untukmu."

Maniak.

Hinata suka warnanya yang cerah. Katanya terkesan segar. Dia bilang apa? Hinata pasti suka!

Bila kebahagiaan berbentuk gas, tubuhnya pasti sudah membengkak seperti balon.

Dia punya tujuannya sendiri sekarang. Hidupnya dulu seperti kaset hitam putih, sekarang ia melakukan segala sesuatu murni dengan rasa bahagia. Bukan karena ia ingin mendapat pengakuan, atau ingin memenuhi harapan dan permintaan orang-orang tertentu. Dengan Hinata, semua mengalir begitu saja. Bila sebelumnya ia merasa baru bahagia setelah mencapai hasilnya (itupun kebahagiaan yang tak bertahan lama), kini bahkan di prosesnya ia merasa hangat.

Selain bersama timnya, ia menyempatkan diri membajak waktu latihan tim delapan agar bisa selalu dekat pada Hinata. Kiba tak setuju. Naruto dianggap mengganggu keharmonisan tim delapan dengan keberadaannya yang tak diundang. Tapi prinsip yang ia anut, selama Hinata tak memusingkan maka tak apa-apa. Dia suka rasa hangat yang menjalar ketika ia bersama Hinata. Wajar kan jika ia berusaha untuk terus berada di dekatnya?

Setelah itu, ia memberanikan diri bertandang ke Kediaman Hyuuga. Yang pertama tidak mulus. Ia dilempari bakiak oleh seorang tante-tante berambut coklat. Yang kedua, dia nyaris terlibat insiden 'baku cakar' dengan Hanabi. Dua kegagalan tidak membuatnya jera. Dia tahu Hyuuga dilarang menggunakan byakugan di kediaman mereka, maka kemungkinan untuk dideteksi dengan doujutsu Hyuuga terhapus. Ia mengendap-endap di kegelapan malam, melompati dinding tinggi yang menjadi pembatas Hyuuga dan dunia luar, lalu mendarat di atap lebar.

Oke. Pelan-pelan saja. Kamar Hinata berada di bagian utara. Masalahnya, dia lupa mana utara, yang mana selatan. Lagi pula, apa petunjuk Konohamaru bisa dipercaya? Bagaimana jika kamar yang ia masuki ternyata milik Hyuuga Hiashi?

Naruto bergidik. Jangan sampai. Tapi ia tidak punya pilihan selain mempercayai Konohamaru. Bertaruh sajalah.

Ia memutuskan untuk tidak menggunakan Kage Bunshin untuk mencari. Dia mungkin kuat dan yakin ia menang bila bertarung. Cukup bertarung tanpa embel-embelnya. Tapi yang jenis ini, yang mengandalkan kesabaran dan ketelitian, dia tidak mahir. Makanya ia tidak pernah menjalankan misi undercover. Menggunakan Kage Bunshin, bisa-bisa bunshinnya bertindak ceroboh dan membangunkan seluruh Hyuuga. Bagaimanapun, dia tidak datang untuk berperang.

Ia berputar di tempatnya beberapa kali, mengingat-ingat. Oya. Gerbang Hyuuga menghadap timur, berarti utara ada di sebelah kirinya. Ia berlari tanpa suara, melompat di dekat kamar yang tak jauh dari taman. Kata Konohamaru, kamar jendela kamar Hinata menghadap taman dengan kolam ikan koi. Berarti yang ini.

Ia mengetuk. Nafasnya beruap karena dingin yang menusuk. Suhu menurun. Ah. Mengapa ia harus pergi sekarang? Padahal di suhu begini ia bisa mentraktir Hinata makan soba.

Jendela membuka. Naruto mengucap syukur ia mengetuk jendela yang benar "Aku masuk, ya?"

"Naruto-kun?" Hinata nampak bingung, mungkin bertanya-tanya mengapa ia datang tengah malam di kediaman Hyuuga, meski ia tidak menyuarakan tanya di benaknya, hanya menggeser tubuh agar Naruto bisa melewati jendela rendah.

Naruto menutup jendela di belakangnya. Ia langsung mendudukkan diri di tatami, mendongak menatap Hinata yang menggunakan kimono "Mengapa kau belum tidur, Hinata-chan? Duduklah. Di sini, di sampingku." Ia menepuk-nepuk posisi kanan, punggunggnya bersandar pada dinding "Aku bertingkah seperti yang punya rumah, ya?"

Hinata patuh. Duduk dengan punggung yang juga bersandar "Ada yang ingin dibicarakan para tetua. Seluruh anggota souke dan beberapa bunke berkumpul. Pertemuannya baru saja selesai."

Phew. Nyaris. Dia nyaris saja masuk perangkap Hyuuga. Untung dia menunda kedatangannya satu jam.

Naruto menggeser duduknya, mencari posisi terdekat agar bahan celana orange yang ia pakai menempel pada sisi kimono Hinata. Ia menarik nafas dalam-dalam, menikmati wangi Hinata yang terbang di seluruh sudut kamar.

Untuk ukuran putri klan terpandang, kamar Hinata tergolong sederhana. Hanya satu tempat tidur kecil, meja dan kursi di sudut, lalu satu zabuton di dekatnya. Dekorasinya tidak meriah. Simpel. Satu-satunya yang membuat orang tahu kamar ini milik seorang perempuan adalah boneka beruang kecil yang duduk manis di sudut ranjang.

"Hinata-chan tidak memakai make-up?" Naruto bertanya, tidak menemukan tanda-tanda keberadaan alat pamungkas milik kaum hawa. Hanya cermin kecil, alat tulis, dan foto tim delapan yang bertengger di mejanya.

Hinata menekuk, lalu memeluk lututnya "Harus?"

"Tidak. Aku hanya bertanya. Hinata-chan tidak pakai make-up?"

Ia menggeleng "Kalau pakai justru terlihat lucu."

Naruto mendekatkan wajahnya, memandang Hinata lekat-lekat di kegelapan. Hinata memang tidak butuh make-up. Pipinya sudah merona, tidak perlu perona pipi. Bibirnya merah, pemulas bibir juga tidak berguna. Natural. "Terlihat imut. Manis." Naruto mengoreksi, terkekeh seiring sebaran rona di pipi Hinata. Benar kan? Memang tidak perlu perona "Ah. Aku datang bukan untuk ini." Ia merogoh kantongnya. Menemukan apa yang ia cari, kotak berbalut beludru ia sodorkan pada Hinata "Untukmu."

Hadiahnya terlambat tiga minggu. Tidak mengapa. Ia lebih siap sekarang. Dari pada dia memberinya kemarin-kemarin tapi ujung-ujungnya pingsan lagi. Biar lambat asal selamat.

"Ini… indah sekali." Kata Hinata, jemari menyusuri bandul biru yang memantulkan cahaya. Dia tersenyum, balik menatap Naruto dengan ketulusan "Terima kasih."

Dadanya sesak dengan rasa bangga; bahwa Hinata menyukai hadiahnya, bahwa Hinata berterima kasih padanya. Padanya. Ia meraih kalung itu, mengikstrusikan untuk Hinata agar berbalik. Rambut Hinata disampirkan di bahu, kalung ia pakaikan melingkari leher Hinata yang jenjang.

Ah. Memang cantik.

"Terima kasih." Hinata bilang sekali lagi "Aku suka sekali. Terima kasih, Naruto-kun."

Naruto mengangguk, masih menatap Hinata lurus-lurus "Aku punya yang lain. Tidak bisa dibilang hadiah memang, Aku ingin kau memiliki ini." Ia merogoh kantongnya yang lain, mengeluarkan kunci dengan gantungan mawar putih "Kunci cadangan apartemenku. Kalau ingin datang, jangan ragu-ragu. Biarpun aku sedang jauh, masuk saja. Anggap rumahmu sendiri."

Ia akan selalu ingat saat Hinata menutup mulutnya dalam haru, terima kasih terbata-bata yang diucapkan setelahnya, dan perasaan menggelitik yang menjalari seluruh tubuhnya karena ia tahu, ia telah membuka sudut paling dalam kehidupannya untuk Hinata. Sudut paling dalam untuk dapat merasa bahagia.

Ia akan menulis di buku ungu, di antara surat-surat Hinata, bahwa hari ini, untuk pertama kali ia memeluk sahabatnya. Menenggelamkan kepalanya di bahu Hinata, merasakan semua lekuk-lekuknya, menghirup dalam-dalam wangi yang menguar dari tubuhnya. Dan ia akan memberikan catatan: lakukan sesering mungkin. Karena jika berada di dekatnya saja membawa bahagia, maka berhasil menyentuh Hinata akan memberikanmu sesuatu yang tak kau bayangkan sebelumnya.

"Baachan memberiku misi. S-rank." Ia berbisik, memeluk Hinata lebih erat "Mungkin bisa lebih dari sebulan."

Elusan lembut Hinata di punggungnya membuat ia bergidik "Pulang nanti kubuatkan ramen."

"Soba."

"Oke…"

Hidungnya ia tempelkan di sisi leher Hinata, mata terpejam erat, menikmati semua dari Hyuuga-nya yang bisa ia peroleh sekarang. Sampai satu bulan ke depan mereka tidak akan bertemu "Kau akan menunggu?"

"Tentu saja."

"O-oh."

"Naruto-kun?"

"Hinata, kau memang..." Suaranya serak "...sahabat terbaikku."

.

.

.

To be continued…

.

.

Salam,

Ava : )