Chapter 5
.
.
.
Suatu hari, di antara kabut pekat di otaknya, ia pernah bertanya pada Hinata mengapa ia tidak marah pernyataan cintanya tak dibalas. Setelah bertanya, dia langsung merasa jahat. Ia tidak pernah membalas pernyataan Hinata, menggantung gadis yang selama ini begitu baik padanya dengan harapan sia-sia. Lalu, Ia sadar ia manusia paling bodoh se-jagad raya. Ia tak membalas dan kini dengan lancangnya ia bertanya tanpa beban, seolah-olah perasaan Hinata tak berarti apa-apa. Ia minta maaf dengan kikuk. Ketakutan merayapinya kalau-kalau Hinata memutuskan dia bajingan yang tak pantas mendapatkan waktunya yang berharga.
Tapi Hinata adalah Hinata. Hyuuga-nya yang tak pernah membenci. Gadis itu menutup buku yang ia baca, bibirnya melengkung dengan pengertian. Ia tidak tahu mengapa, tapi di memorinya, Hinata terlihat bercahaya saat itu. Mungkin karena Hinata mengenalkannya pada konsep baru yang tak pernah ia dengar sebelumya. Konsep yang tidak pernah ia pikirkan, karena baginya, apa yang ia tuju maka harus ia capai. Ia tak mengenal kata merelakan. Hinata menambah satu lagi alasan bagi Naruto untuk menyayanginya hari itu.
Dia bilang, dalam suara lembutnya yang bervolume rendah, Naruto sudah membalas penyataannya sejak lama. Balasan tidak perlu melalui kata. Cukup dengan Naruto yang terus mengejar Sakura, ia paham tidak ada kesempatan baginya. Naruto terus bergerak, maka ia pun harus melangkah ke depan. Ia bahagia bila Naruto bahagia. Naruto dan Sakura selalu terselip di tiap do'anya. Ia harap datang hari di mana ia berpapasan dengan Naruto dan Sakura yang sedang menggendong Uzumaki kecil. Mungkin ia juga sedang berbelanja bersama lelaki yang telah menjadi suaminya, lalu berempat mereka akan menghabiskan siang menyantap makanan di Ichiraku sambil bercerita tentang masa lalu.
Semakin Hinata bertutur, semakin Naruto merasa jauh. Masa depan dalam kepala Hinata berbeda dengan yang tergambar di kepalanya. Ia bukan tipe yang mau repot-repot dengan hal-hal seperti masa depan, namun deskprisi Hinata berbelanja dengan lelaki yang bukan dirinya tidak termasuk dalam apa yang ia anggap masa depan. Dirinya menghabiskan waktu dengan wanita yang bukan Hinata juga tidak terdengar pas. Satu hal yang pasti, kebaikan hati Hinata tak pernah gagal menyentuhnya. Cinta tak harus memiliki, klise, namun tidak semua orang bisa melakukannya. Hinata melihatnya sebagai sahabat yang selalu ia dukung.
Ia pulang dari misinya membawa banyak uang, menghabiskan sebagian besar untuk membeli kimono mahal dari Kumogakure yang terkenal dengan kualitas kimono buatannya. Ada bagian dari hatinya yang tak ingin kalah dari teman se-tim Hinata. Mereka pernah membelikannya kimono, Naruto akan membelikan yang lebih baik, yang lebih mahal agar Hinata hanya melirik pemberiannya.
Ia bersiul-siul membuka pintu apartemen. Dia harus membersihkan diri sebelum bertemu Hinata. Lagi pula, ia ingin membungkus hadiahnya dengan kertas kado supaya lebih menarik.
Dia mengerjap, melangkah dengan hati-hati. Akhir-akhir ini apartemennya memang sering ia bersihkan, karena ia ingin Hinata melihat sisinya yang rapih. Tetapi, kerapihan yang membentang di hadapannya tidak sama. Bukan seperti hasil kerja mekanis yang lahir dari tangannya. Kerapihan ini menguarkan sesuatu yang membuat orang langsung tahu siapapun yang membersihkan pastilah tipe yang penuh cinta. Atau mungkin dia berlebihan menjelaskan karena ia tahu dengan pasti siapa yang membersihkan apartemennya secara rutin selama ia pergi.
Sepreinya sudah diganti. Vas kosong di dekat tempat tidur kini menampung tangkai-tangkai lily putih. Naruto merebahkan tubuh. Bau detergent. Astaga, jangan-jangan Hinata mencuci semua sepreinya. Dia kembali bangun, mengecek lemarinya yang mengkilat, bebas dari debu. Bau detergent langsung menguar. Ia menggeleng, tertawa mendapati barisan baju dan seprei tak bernoda. Ada-ada saja, Hinata.
Lalu ia mencium bau lain. Makanan. Satu panci soba yang masih mengepul. Berarti Hinata baru meninggalkan apartemennya. Ia menepati janji. Naruto senang. Hinata tidak melupakannya. Meski demikian, pikirnya sambil mengunyah banyak-banyak, dia jauh lebih senang jika mereka memasak dan makan bersama. Dia tidak bisa memasak, tapi Hinata bisa menyuruh-nyuruhnya memotong bawang atau mengaduk apapun yang bisa diaduk. Ia berhenti mengunyah. Bodohnya. Kan dia bisa memanggil Hinata untuk makan bersama.
Selesai mandi, ia menuju training ground tim delapan. Cengirannya mengembang. Ia melambai semangat, meneriakkan nama Hinata sekeras-kerasnya. Hyuuga itu memberikan lambaian tenang, tersenyum anggun. Dia membenarkan kerutan-kerutan di jaketnya, berdiri menunggu Naruto dengan sabar.
"Hinata-chan! Aku rindu sekali." Katanya, duduk bersimpuh di hadapan Hinata "Kau rindu padaku?"
Ia mengangguk, ikut duduk bersama Naruto "Bagaimana misinya?"
Ah, dia belum membungkus kadonya "Kumogakure berubah drastis sekarang. Banyak gedung-gedung baru. Biarpun dibilang S-rank, misinya tidak terlalu susah." Ia mengangkat bahu "Tapi aku dibayar banyak. Keren kan? Kau mau apa, Hinata-chan? Uangku sedang banyak-banyaknya."
"Naruto-kun," Hinata bilang, nadanya seperti seorang ibu yang menceramahi putranya yang nakal "Lebih baik ditabung saja. Mungkin bisa dipakai nanti."
"Aww. Kau pengertian sekali, Hinata-chan." Naruto meletakkan tangannya di depan dada "Tapi aku tidak butuh banyak uang jadi, yah… eh. Di mana Shino dan Kiba?"
Seharusnya dia curiga ada sesuatu waktu itu. Shino dan Kiba menjalankan misi tanpa Hinata. Tim delapan selalu solid, jika salah satu hilang, ada penjelasan panjang di baliknya. Tapi ia malah menarik Hinata ke apartemennya, menikmati satu panci soba bersama tanpa mempertanyakan mengapa Hinata tidak bergabung menjalankan misi. Dia dibutakan rasa bahagia bahwa ia pulang pada Hinata. Mungkin ia sedang membohongi dirinya sendiri, tapi ia senang memikirkan bahwa Hinata sengaja menolak misi, sengaja menolak Shino dan Kiba, agar ia bisa menepati janji untuk menunggu Naruto kembali.
Dia memberikan kimono keesokan harinya. Kimono itu dipakai Hinata saat festival. Naruto melihat dari jauh. Rambut Hinata tergerai dengan hiasan sewarna emas. Cantik. Ia berperan sebagai seorang putri sedangkan Hanabi memakai seragam tradisional prajurit kerajaan. Untuk kali ini, ia sedikit menurunkan kadar kebenciannya pada Hanabi. Ia yakin bocah itu yang memilih peran untuk mereka berdua. Hinata memang terlahir untuk memerankan putri bersuara lembut.
Dia datang sendiri, menggunakan kostum Youchi, duduk di atas atap memandangi Hinata. Hinata memakai waktu sebulan untuk menjahit kostum Youchi dan Hina-hime. Ia tidak menyangka Hinata benar-benar melakukannya. Ia pikir itu hanya diucapkan sambil lalu. Hinata memintanya untuk menikmati festival, datang bersama Sakura untuk menghabiskan malam.
Saat mereka bertemu lagi sesudah festival, seperti dugaannya, Hinata menanyakan keberadaan Sakura. Mereka berdiri di bawah barisan lentera. Tak jauh dari mereka, api unggun besar mencoba bertahan dengan cahayanya yang meredup. Malam mulai sepi. Pengunjung festival meninggalkan lapangan luas sambil tertawa-tawa. Hanya kumpulan muda-mudi yang masih setia mengobrol di sudut-sudut.
Naruto membenarkan ikat yang melilit yukata hitam. Topengnya ia letakkan di atas kepala agar dapat memandang Hinata lebih jelas "Aku datang sendiri. Kau bilang kita boleh bertemu sesudah festival kan? Nah…" ia menjulurkan tangannya, telapak terbuka "Aku sudah berkostum Youichi, kostummu tidak jauh dari Hina-hime. Aku memandangi orang-orang menari berpasang-pasangan mengelilingi api unggun dari tadi. Aku belum pernah melakukannya. Mau menari denganku?"
"Aku tidak pandai menari," Hinata bilang. Wajahnya merona di keremangan, meski ia tidak menolak ajakan Naruto. Tangannya yang mungil disambut uluran lelaki itu "Mohon bantuannya."
"Jangan formal begitu. Kan sudah kubilang ini pertama kali bagiku."
Angin dingin yang berhembus sedikit terampuni dengan hangat tubuh Hinata. Naruto meletakkan tangan kanannya di pinggul gadis Hyuuga, tangan yang lain beristirahat di punggungnya. Hinata sempat bingung harus meletakkan tangannya di mana. Naruto menuntun untuk meletakkan jari-jari Hinata di dada dan bahunya. Ia sempat merasa bangga karena sedikit banyak memimpin tarian kikuk mereka.
Mereka bergerak dalam gerakan-gerakan lambat. Kadang ia menginjak kaki Hinata, terkadang Hinata yang menginjak kakinya. Seringnya mereka tertawa, larut dalam pembicaraan tak terarah. Beragam topik mereka bahas, mulai dari varian ramen paling enak hingga ambisi menjadi hokage.
Di situ Naruto sempat menyadari satu hal, tapi pikirannya teralihkan alunan seruling dan tabuhan gendang dari para pemusik yang tadinya beristirahat. Ia dan Hinata sama-sama menoleh. Hinata memberikan senyum malu-malu, Naruto memamerkan barisan giginya. Tarian mereka tak berhenti. Para pemusik membalas dengan tabuhan yang lebih keras, kepala bergoyang mengikuti bunyi pukulan.
Mungkin mereka kasihan melihat dua anak manusia yang menari berdua dalam sepi seperti orang linglung. Atau, seperti yang Naruto bisikkan pada Hinata, tarian mereka cukup keren. Muda-mudi yang menikmati sudut perlahan bergabung dengan tarian mereka sendiri, kembali memeriahkan lapangan yang seharusnya tidur.
Hinata memang banyak tersenyum, tapi ia tidak pernah melihat Hinata begitu banyak tertawa seperti malam itu. Ia mengangkat lengannya, membiarkan Hinata berputar seperti ballerina, lalu kembali memeluk tubuhnya yang rapuh. Ia juga pasti banyak tertawa, karena ia ingat air matanya sempat mengalir dan bukan karena sedih.
"Katanya tidak pandai menari." Naruto iseng, menyentak agar Hinata semakin menempel di dadanya "Ternyata bisa berputar se-indah tadi."
Hinata menggeleng, mengikuti irama Naruto yang memimpin tarian mereka "Oya? Aku pikir aku berputar seperti gasing."
"Seperti peri."
"Peri berputar?"
"Hinata-chan, kau kan peri. Kalau kau berputar berarti peri memang berputar!"
Ia pernah bilang bahwa tidak mengapa ia mati tenggelam karena luapan bahagia. Kenyataannya, ia tidak punya pilihan. Ia pasti sudah tenggelam, sudah mati sejak lama, dan dikirim ke suatu tempat di mana ia mengenal Hinata. Ia yakin manusia hidup tidak bisa menikmati kebahagiaan sebanyak yang ia rasakan. Kebahagiaan selalu berbatas dan Hinata, sumber kebahagiaannya, tak mengenal batas untuk menghujaninya dengan perasaan yang memabukkan.
Hinata. Hinata-nya. Ia suka bunyi bila nama Hinata ditambahkan penekanan bahwa gadis itu miliknya. Hinata-nya.
Dari pada 'Hinata sahabatnya' ia lebih suka bunyi 'Hinata-nya'.
Mereka menari hingga larut, hingga api unggun kehilangan kayu bakar untuk menghidupinya. Kepulangan mereka tertahan rombongan muda-mudi yang mengajak mengobrol. Mereka datang dengan pacarnya masing-masing, mengira ia dan Hinata juga memiliki hubungan khusus. Dia memberikan jawaban ambigu. Tidak mengiyakan, tidak juga membantah. Ia agak kecewa ketika Hinata mengatakan dengan mantap status mereka hanya teman.
Mereka banyak mendapat kenalan baru. Sebagian besar adalah orang yang tak pernah ia lihat sebelumnya, padahal Konoha tidak sebesar itu. Rupanya ia dan Hinata cukup populer, karena banyak dari kenalan barunya yang mengaku sering mendengar orang-orang membicarakan 'Naruta'. Saking seringnya mereka disebut berdua dalam satu kalimat, nama mereka dibuat menjadi satu kesatuan. Ia akui kekecawaannya terhapus dan diganti kepuasaan yang tak bisa ia jelaskan mendengar ini.
Saat ia mengantarkan Hinata pulang satu jam kemudian, toko-toko yang mereka lewati telah menutup. Ia membawa keluar anak gadis orang sampai larut malam. Terserah orang mau bilang apa. Pengakuan keduanya, kepuasaan yang ia rasakan bertumpuk dengan kebanggaan bahwa ialah yang membawa lari Hinata malam-malam. Secara teknis, Hanabi yang membawa Hinata keluar dari kastilnya, tetapi keputusan apakah Hinata akan pulang jam berapa, atau bahkan jika Hinata tidak kembali ke kediaman Hyuuga sekali pun berada di tangannya.
Dia benar-benar mulai terdengar seperti maniak.
"Kau rindu padaku?" Naruto bertanya. Tangannya menggandeng Hinata. Sepanjang malam mereka sering bersentuhan. Menyenangkan, menyenangkan.
Pandangan Hinata yang mengarah untuk bintang-bintang berputar pada Naruto. Ia tersenyum, sedikit menggeleng mendengar pertanyaan sama untuk ke sekian kalinya hari itu "Kau sudah menanyakannya, Naruto-kun."
"Aku tahu, aku bertanya lagi."
"Aa…"
"Kau rindu padaku?" Tanyanya penuh harap, seolah ia baru pertama kali menata kata-katanya.
Hinata mengangkat bahu, senyumnya belum pudar "Entahlah."
"Hinata-chaaaaaann. Kau tidak merindukanku? Padahal aku rindu padamu."
Hinata tertawa, matanya bersinar dengan sikapnya yang main-main "Tadinya rindu. Sekarang tidak lagi."
Naruto cemberut "Hinata-chaaaaan. Ayolah. Bilang, bilang, bilang. Bilang 'Aku juga rindu padamu, Naruto-kun."
Hinata menggeleng, melanjutkan permainan mereka di antara sepi jalanan Konoha "Tidak mau. Kan sudah kubilang tadi."
"Aku mau dengar lagi."
Wanita itu menghela nafas, mengaku kalah di permainannya sendiri. Hinata tersenyum. Seharusnya ia tidak usah mendeskripsikan Hinata tersenyum. Hinata memang selalu tersenyum. Dulu ia sempat berpikir apa pipi orang yang terlalu banyak tersenyum tidak sakit? Ia banyak nyengir, tapi seimbang dengan tampang datar. Sekarang, setelah dirinya sendiri banyak berputar pada tertawa, tersenyum, dan cengiran, ia tahu jawabannya tidak. Malah menyenangkan bisa melakukannya bersama orang yang kita sayangi.
"Naruto-kun, aku…." Hinata menggantung kalimatnya, membawa tubuh Naruto lebih condong agar bisa mendengar kalimat-kalimatnya "Aku rindu padamu."
"Apa? Aku tidak dengar."
Wajah Hinata memerah. Dari eskpresinya ia terlihat tidak percaya "A-aku rindu padamu."
"Apaaaa?"
Pipi Hinata menggembung "Aku rindu padamu, Naruto-kun. Kau kan sahabatku."
Seketika Naruto diliputi rasa syukur. Kali ini, ia yang tertawa. Hinata diam, wajahnya memerah dengan rasa malu. Ya, begini. Rasa ini yang ia suka tiap Hinata mengatakan ia merindukannya. Seolah semua beban di pundaknya lepas. Seolah semua tujuan di hidupnya telah tercapai.
Ia masih terus menggoda Hinata ketika mereka sampai di gerbang Hyuuga. Meski malam telah larut, suara-suara menggema di balik dinding tinggi. Hyuuga belum tertidur.
"Apa Hyuuga memang sering tidur larut malam? Waktu aku datang sebulan lalu juga baru selesai pertemuan dengan tetua kan?"
Mereka berdiri, menunggu gerbang di buka para penjaga. Hinata memasukkan tangan ke dalam lengan kimononya "Tidak juga. Memang sedang sibuk akhir-akhir ini."
"Untunglah kau bisa ikut festival. Kalau tidak aku pasti bosan sekali."
Sebuah anggukan "Hanabi-chan yang melobi Ayah. Jika tidak, mungkin kami juga tidak bisa mengikuti festival."
"Ohh." Bocah tengik itu ternyata berguna juga "Mengapa sampai malam begini kediaman Klan Hyuuga masih ramai? Apa ada pesta di waktu dekat?"
Dia menggosok-gosokan tangannya, nyengir, memberikan sinyal bahwa dia akan pergi ke pesta apapun yang Hyuuga adakan berdua dengan Hinata. Dia berharap Hinata kembali tertawa, menggeleng, lalu berkomentar dengan suaranya yang lembut. Setelahnya mereka akan membangun janji lain untuk pergi ke pesta bersama. Dia mungkin akan mengambil misi lagi untuk memberikan Hinata kimono baru. Dia ingin para Hyuuga melihat bahwa ia juga bisa menghidupi Hinata. Dia bisa membahagiakan Hinata jika dia mau.
Tapi Hinata tidak tertawa. Dia memberikan sesuatu yang khas Hinata, sebuah senyum malu-malu yang membuat sekujur tubuh Naruto tergelitik. Naruto membalas dengan senyum bercahaya, memancarkan semua bahagia dalam dirinya. Mulai sekarang, dia secara resmi menyebut ini 'efek Hinata'. Apapun yang gadis itu lakukan memercik kehangatan dalam dirinya. Mungkin karena Hinata berarti tempat yang hangat.
Wajah Hinata memerah, sekilas pandangannya turun ke tanah, menyembunyikan lengkungan bibirnya yang indah. Dia memainkan ujung telunjuk. Naruto mencondongkan tubuh, ingin mendengar lebih jelas kalimat Hinata. Senyumnya sendiri belum pudar.
"Hyuuga akhir-akhir ini sibuk karena akan diadakan pernikahan. Sibuk sekali."
"Oya?" Alis Naruto naik, semangat. Hinata membalasnya dengan raut yang tak kalah semangat "Pantas kau tidak ikut misi tim delapan. Sepertinya yang menikah orang hebat." Dia berpikir beberapa detik "Jangan bilang yang menikah Hanabi dan Konohamaru."
Mereka berdua tertawa.
Mereka berbicara dengan komikal. Tangan bergerak-gerak mempergakan kehebohan di balik dinding Hyuuga. Semangat Naruto kian menjadi. Dia ingin sekali melihat bagaimana ritual pernikahan Hyuuga. Apakah lelaki yang ingin melamar wanita Hyuuga harus kaya? Apakah dia harus shinobi yang sangat kuat? Apakah dia juga harus berasal dari garis klan terpandang? Pertanyaan terbesar, mengapa dia langsung mengasumsikan yang menikah adalah wanita Hyuuga dan lelaki non-Hyuuga? Kan bisa saja sesama Hyuuga yang menikah.
Cengiran Naruto melebar, ia mengusap tengkuknya. Dia agak malu menanyakan ini, tapi dia ingin sekali datang sebagai pasangan Hinata "Apa aku juga diundang?"
Hinata menepuk tangan sekali, mengangguk kuat-kuat "Tentu saja, Naruto-kun."
"Apa… kita bisa datang bersama? Ehm… Maksudku…"
Hinata diam beberapa saat, perlahan wajahnya memerah. Dia menunduk lagi. Meski wajahnya tak terlihat, kebahagiaan seolah memancar dari pori-porinya, membawa rasa yang sama pada Naruto. Ia berbisik lambat-lambat. Malu, seperti gadis remaja yang akan menyatakan cinta.
Naruto seolah melayang. Oh. Efek Hinata.
"Naruto-kun…" ia berbisik, senyumnya tak pudar "Hyuuga yang akan menikah itu… aku."
Dan langsung jatuh lagi ke bumi.
Naruto sontak menjauhkan tubuh, ekspresi bahagianya berubah bingung "Apa?"
Senyum Hinata, perlahan namun pasti, kian mengembang "Aku akan menikah."
"Siapa?"
"Aku."
"Kau?"
Anggukan bahagia.
Naruto menggeleng "Kau tidak menikah." Dia bilang, masih terlihat bingung dan hilang "Kau tidak menikah."
Ia berharap tidak mendengar kalimat Hinata selanjutnya. Mungkin seharusnya ia menulikan telinganya di misi kemarin. Atau dia bisa pulang dengan luka parah, menggelepar di ranjang rumah sakit. Hinata tidak akan membicarakan hal bodoh ini. Hinata hanya akan datang menjenguknya, berbicara dengannya, peduli padanya. Hanya padanya. Tapi ia bisa mendengar kalimat itu. Jelas, sejelas aliran air di sungai Konoha. Dingin dan menusuk. Kalimat yang tidak lagi membuatnya bisa hidup dalam penyangkalan. Menyangkal bahwa Hinata akan pergi, membangun keluarga, tersenyum dengan laki-laki yang bukan dirinya.
"A-aku tahu ini mengejutkan." Suara Hinata menusuk sampai ke inti sum-sum tulang belakangnya "Aku dan Gaara-kun memang belum lama dekat. Tapi semua berjalan begitu saja."
Tubuhnya seperti disiram air es. Dia kedinginan, tangannya bergetar hebat, bahkan hatinya tak lagi merasa hangat. Ia mundur saat Hinata mencoba mendekatinya, wajah terpatri dengan kekhawatiran. Ia tidak mau Hinata membuatnya menjadi lebih nyata. Sudah cukup. Mungkin bila semua hanya sampai di tahap ini, ia bisa menutup mata, memulai mantranya, dan saat matanya membuka, ia dan Hinata sedang melakukan tarian lain di halaman Klan Hyuuga.
Tapi matanya terus membuka, dinginnya terus menusuk. Nama itu telah disebut.
Gaara.
"Naruto-kun…" Hinata memanggil, sedih dan khawatir "Naruto-kun."
Naruto meremas dadanya, mencoba menenangkan nafasnya yang memburu. Ia menatap Hinata lurus-lurus, memamerkan garis-garis yang pucat dan putus asa "Mengapa kau harus menikah? Kalau kau tidak menikah, aku juga tidak akan menikah!"
Bendungannya pecah. Ia jatuh ke tanah, menangis. Ya Tuhan. Dia menangis mendengar kabar sahabatnya akan menikah. Seberapa pun ia mencoba bilang bahwa tangisannya bahagia, ia tidak bisa. Ia tidak menangis karena bahagia, ia menangis dengan emosi yang sudah terlalu lama ia simpan. Dia kecewa, meski ia tidak tahu apakah ia punya hak untuk kecewa. Dia marah, meskipun ia juga tak tahu pada siapa dia marah. Dan kesedihannya yang tak tertahan. Untuk yang itu, ia tahu seharusnya ia bahagia. Seorang sahabat harus bahagia bila sahabatnya menemukan seseorang untuk dicintai. Tapi ia tidak bisa.
Hinata ikut berjongkok, tangan mungil mengelus bahu Naruto. Suaranya yang lembut dan tenang kini dikuasai nada-nada sedih. Elusan yang seharusnya menenangkan, bagi Naruto menyakitkan. Di pikirannya hanya tergambar bahwa Hinata tidak akan melakukannya lagi. Hinata telah menemukan laki-laki lain untuk ia pedulikan.
Gaara juga sahabatnya. Dua sahabatnya menikah. Ia seharusnya bahagia. Ia seharusnya bahagia!
Tapi ia tidak bisa.
Untuk pertama kali seumur hidupnya, Naruto merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dia membenci Gaara.
.
.
.
To be continued…
.
.
.
NaruHinaGaa. Ahahaha. Atokah GaaHinaNaru? xD
Salam,
Ava : )
