Chapter 6

.

.

.

Dulu, ia pernah berada di posisi sama.

Dia menyukai Sakura, tetapi Sakura terobsesi pada Sasuke. Di waktu itu, Sasuke masih menjadi saingan sekaligus musuhnya yang paling terkutuk. Rasa suka Sakura yang tidak ditujukan padanya tak menambah efek apa-apa pada permusuhannya dengan Sasuke. Permusuhan mereka murni berdasar kebencian, bukan atas rasa suka seorang remaja putri. Pada akhirnya, ia dan Sasuke justru berteman baik. Dia menganggap Sasuke saudaranya sendiri, membantu Sakura memulangkan Sasuke, meskipun ternyata Sasuke kini lebih memilih menjadi pengembara dan tak berniat berdiam di Konoha.

Dia menyukai Hinata. Tentu saja dia suka pada Hinata. Hinata sahabatnya yang paling berharga. Siapa yang tidak suka pada sahabat sendiri? Hinata jelas suka padanya, karena Hinata juga menganggapnya sahabat. Hinata menyukai Gaara. Gaara juga sahabatnya dan bukan seperti kasus Sasuke yang merupakan musuh. Bila memang alurnya tepat, ia dan Gaara bisa berteman baik. Malah pertemanan mereka mungkin bisa lebih erat daripada pertemanannya dengan Sasuke. Sasuke memulai dari seorang musuh, Gaara memulai dari seorang sahabat. Hubungan mereka seharusnya semakin membaik.

Tapi alurnya tidak tepat.

Dia semakin terpuruk begitu orang-orang tak lagi membicarakannya dengan Hinata. Di pertokoan, di akademi, bahkan di kantor Hokage, warga Konoha sibuk memasang-masangkan nama Hinata dan Gaara. 'Gaata' begini, 'Gaata' begitu. Dia ingin tertawa. Masih lebih bagus 'Naruta'.

Dia menjadi sering membanding-bandingkan kehidupan dan dirinya dengan Gaara. Betapa semuanya tidak adil. Dia bercita-cita menjadi Kage bahkan sejak Gaara masih membunuh warga desanya, tapi apa? Ujung-ujungnya di angkatan mereka justru Gaara yang menjadi Kage. Dia menyukai Hinata. Dia yang pertama menyukai Hinata, bahkan sejak Gaara belum mengenal gadisnya. Coret. Dia mengenal Hinata bahkan sejak Gaara masih rakun bodoh yang berkeliling menghancurkan orang dengan pasirnya, tapi apa? Gaara juga yang akan menikah dengan Hinata. Brengsek.

Dia mungkin bisa memaafkan Gaara jika si laknat itu cepat-cepat mengembalikan Hinata padanya. Hinata adalah segala baginya. Ia tidak lagi butuh titel Hokage. Mereka bisa mengusirnya dari Konoha atau bahkan dari seluruh Kuni no Sato. Biarkan ia hidup di tengah hutan di dalam sebuah gubuk kecil, tidak masalah. Asalkan Hinata berada di sisinya, dia mau melalui apa saja.

Dia tidak lagi bisa menahan diri saat rookie 12 berkumpul menyantap yakiniku, berbicara keras-keras tentang hubungan romantis pewaris klan besar dengan seorang Kazekage, tentang beruntungnya Hinata yang akan segera menikah dengan laki-laki paling sukses seumur mereka.

"Gaara tidak pantas mendapatkan seorang istri."

Gaara tidak pantas mendapatkan Hinata.

Seketika restoran itu sunyi. Naruto mengunyah yakiniku, menelan banyak-banyak, acuh tak acuh pada tatapan sahabat-sahabatnya yang tak percaya. Naruto, si ninja menyebalkan yang menempel persaudaraan dan persahabatan besar-besar di jidatnya kini sedang memaki sahabatnya sendiri. Naruto, manusia yang dapat bahagia hanya dari kebahagiaan orang lain sekarang malah mengutuki moment bahagia dua sahabatnya sekaligus.

Ia tak mau mengembalikan tatapan Hinata. Dia tahu Hinata bersedih, tetapi di pikirannya, ia yakin Hinata telah melakukan kesalahan terbesar di kehidupannya. Hinata hanya gadis polos nan lugu yang selalu mencari sisi baik dari setiap orang. Dia pasti menganggap Gaara juga memiliki sisi manusia. Padahal, dibandingkan Gaara, masih lebih baik Naruto. Dia bisa membahagiakan Hinata. Gaara tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia.

Beberapa menit berlalu dalam canggung sampai Sai mengeluarkan komentar vulgar yang ramai-ramai ditangkap anggota rookie 12, lega menemukan jalan keluar dari diam yang menyesakkan. Mereka melanjutkan semua sewajar mungkin, seolah Naruto tidak pernah mengeluarkan komentar negatif tentang sahabatnya. Restaurant kayu bertatami itu sibuk dengan hilir mudik pelayan yang mengantarkan makanan dan rookie 12 yang mencoba sebisa mungkin menekan aura gelap Naruto dan redup mata Hinata.

Mudah saja bagi lidahnya untuk berbohong, mengatakan pada Hinata bahwa tangisannya di malam itu karena bahagia. Hinata tidak percaya, namun tak pernah membicarakan perihal tangisannya semenjak itu. Mudah saja lidahnya berbohong, tapi tidak dengan hatinya. Dia tidak bahagia.

Hinata duduk di pojok, di kelilingi para wanita yang bersemangat. Mereka tadinya berbicara tentang persiapa pernikahan Hinata. Bahwa rambut Hinata harus dipakaikan hiasan yang begini, kimononya harus sewarna itu, make up-nya mesti yang bagaimana. Naruto mendengar semua, karena seberapapun ia ingin menghapusnya, ia tidak bisa. Dia selalu menyadari kehadiran Hinata. Setiap nama Hinata disebut, sekecil apapun, telinganya selalu bisa mendengar hembusan nama Hinata. Kini, para wanita membicarakan hal lain yang tak penting, menjaga topik tetap netral. Mereka menempatkan Hinata paling belakang, menutupinya dari pandangan Naruto di balik tubuh mereka. Dia kesal karena ia merasa mereka sengaja menyembunyikan Hinata.

Dia tak bisa lagi makan. Sumpitnya menekan dasar piring, menerima banyak tenaga dan getaran tangannya yang mencoba menahan emosi. Dia tidak suka memikirkan bahwa Hinata menyongsong pernikahannya dengan bahagia. Tidak, tidak begitu. Hyuuga adalah klan yang terkenal kolot. Bisa jadi Hinata dijodohkan dengan Gaara. Hinata adalah gadis baik hati yang akan berusaha menyenangkan semua orang. Mungkin dia hanya berpura-pura bahagia agar semua anggota klan dan manusia-manusia bodoh dari Suna tak 'bersedih'. Bibir Naruto menipis. Sayang Hinata lupa mempertimbangkan perasaan Naruto. Atau mungkin Gaara mencoba memanfaatkan Hinata untuk kepentingan politik. Ia mengancam Hinata sehingga gadis Hyuuga itu tak membuka mulut. Ada banyak alasan, tapi tak mungkin Hinata mencintai Gaara. Tak mungkin. Naruto tak mau menerima alasan semacam itu.

Piringnya pecah. Ia menekan sumpitnya terlalu kuat. Restaurant kembali jatuh dalam diam, semua mata kembali pada tubuhnya yang berubah kaku. Ia menunduk, tak bereaksi apa-apa. Tak berapa lama, tubuhnya bergetar. Mungkin dia sudah gila. Otaknya akhirnya rusak setelah rasa sakit berkepanjangan. Dia tertawa. Tawa keras yang terdengar maniak. Pandangannya yang lama tak tertuju pada Hinata, kini menyerang gadis itu, menatap Hyuuga-nya yang pilu dan diliputi ketakutan.

Dia terus tertawa, membiarkan saja kawan-kawannya yang tak bisa berkata-kata. Ia masih menatap Hinata, berdiri, menipis entah-tangan-siapa yang berusaha menahannya. 'Aku menunggumu', dia bilang tanpa suara, kaki membawa ke luar restaurant.

Gaduh kembali pecah saat ia resmi keluar. Suara-suara sopran dan bass menyatu dalam nada-nada tak terarah. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku, menunggu di depan restaurant dengan sabar. Bila ada yang bertanya padanya apa yang sudah ia lakukan, ia tidak akan bisa menjawab. Dia seperti seseorang yang menonton tayangan TV, hanya bisa menyaksikan seorang ninja berambut kuning mendengki pada sahabat lelakinya tanpa bisa berbuat sesuatu pun. Ia terus menonton saat ninja itu akhirnya tertawa, melangkah keluar tanpa alasan jelas. Ia benar-benar tidak tahu. Ia tidak mengerti apa yang ia rasakan dan apa yang lakukan. Tubuh ini bukan lagi miliknya. Tubuh ini bergerak atas kendali Hinata. Semua atas dasar pikiran tentang Hinata.

Dia menunggu, tapi Hinata tak pernah datang. Dia merengut. Yang datang justru teman-teman lelakinya dari rookie 12, memasang wajah prihatin versi masing-masing. Tak ada kunoichi. Mereka pasti sepakat menyuruh Hinata pulang bersama para wanita dan yang pria meladeni dirinya. Kadang-kadang ia sangat tidak menyukai rookie 12.

"Aa." Shikamaru memulai, tampangnya tetap bosan, tetapi ada sentuhan ketidaknyamanan di sana "Kau baik-baik saja?"

Basa-basi.

Naruto tertawa mengejek, tak menjawab pertanyaan Shikamaru dan memilih bergerak menjauh. Para shinobi mengikuti di sampingnya dengan langkah-langkah teratur "Mana Hinata?" dia bertanya, mencoba mendekatkan dirinya dan Hinata meski hanya dalam perbincangan tanpa makna.

"Hinata-san sakit." Lee bersuara "Wajahnya pucat sekali. Sakura-chan, Ino-san, dan Tenten mengantar pulang."

Mungkin Hinata sakit karena dia. Naruto merasa bersalah, namun ada juga sisi dari dirinya yang senang ia memiliki efek pada Hinata. Ia senang dengan pikiran bahwa Hinata mengkhawatirkannya, menginginkan 'restu'nya sampai-sampai fisiknya melemah. Bahwa hidup Hinata bukan hanya tentang Gaara. Masih ada Naruto di suatu sudut.

"Hinata-chan mau menemuimu, kami yang menyuruhnya pulang." Kata Kiba, jelas mencoba membela teman satu tim "Hinata-chan akhir-akhir ini memang kurang sehat."

Naruto mendengus keras "Hinata-chan? Sejak kapan kau panggil 'Hinata-chan'?"

"Naruto." Nadanya lelah "Aku memanggilnya begitu sejak kau bahkan belum mengenalnya. Kalau ada yang bisa melontarkan pertanyaan itu, orangnya adalah aku."

Naruto tidak lagi mendengar. Dia tidak mau mendengar kawan-kawannya yang berbisik tentang keadaannya yang 'semakin parah' atau suara-suara pejalan kaki yang menunjuk padanya, berkomentar tentang malangnya nasib pemuda yang dicampakkan. Dia tidak butuh belas kasihan apa lagi perlakuan seolah-olah dia bisa kehilangan kewarasannya sewaktu-waktu. Kalau pun mereka memang perhatian padanya, mengapa mereka tidak membunuh Gaara saja lalu mengembalikan Hinata padanya? Mengapa mereka masih mengelu-elukan hubungan bodoh jinchuriki gagal dengan gadis yang jadi miliknya?

Semuanya omong kosong.

Pada akhirnya, dengan berat tumpukan perasaan suci dan kotor di hati, ia berteriak-teriak di depan gerbang Hyuuga seperti orang kesetanan. Ia mempertanyakan arti persahabatan mereka pada Hinata, mempertanyakan apa bagusnya Gaara dibandingkan dirinya, lalu mengumbar janji-janji yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Penjaga-penjaga dari bunke ramai-ramai menjegalnya, mengusir dengan nada-nada kasar. Ia membalas jauh lebih kasar. Toh tak ada artinya lagi dia tertawa-tawa. Hidupnya sudah tak berwarna.

Hiashi datang dengan ekspresi minim, menyuruh anggota klannya melepas cengkeraman di jaketnya. Naruto mendengus, melanjutkan lagi teriakannya yang ditatap datar Kepala Hyuuga.

Tenggorokannya sakit, kepalanya seperti dipukul palu godam. Matahari yang meninggi tak memberi ampun untuk panas di tubuhnya. Tapi saat Hinata keluar, menggunakan kimononya yang biru pucat dengan raut sedih tak berujung, Naruto tahu ia tidak bisa berhenti berteriak sekarang. Biarlah anggota-anggota klan Hyuuga menganggap ia gila. Hinata-nya ada di sini sekarang. Hinata yang paham padanya. Hinata yang mengerti dirinya. Hinata yang sayang pada Naruto. Bila ia bertanya, lalu menjelaskan, Hinata pasti kembali lagi padanya. Tak ada yang lebih Hinata cintai dibandingkan ia, Naruto yakin itu. Dan harus begitu! Hinata harus mencintainya!

Naruto mendekat, menatap penuh damba pada Hinata yang berdiri tak bergerak di lantai kayu milik klan besarnya. Ia membuka mulut, sedikit mengecap pasir "Pilih aku saja. Aku sahabatmu. Aku bisa membahagiakanmu. Apa lebihnya Gaara dibandingkan aku?"

Yang membalasnya bukan belaian lembut kalimat Hinata, melainkan tawa melingking tinggi yang terdengar kejam. Tawa Hanabi memantul pada dinding-dinding, ditutup dengan kekehan kepuasan, seperti seseorang yang berhasil mendapatkan pembalasan dendam terbaik. Ia berbalik, menyenandungkan lagu-lagu pernikahan di antara jejaknya memasuki gedung besar Hyuuga. Puas dan angkuh.

Sudah final. Bukan hanya Gaara, tak bisa Naruto katakan betapa ia membenci setiap orang yang menghalanginya dari Hinata. Hanya dapat waktu yang sempit, ia telah memfamiliarkan dirinya dengan rasa yang dalam mimpinya sekalipun tak pernah ia bayangkan akan ia miliki. Mungkin kebencian sekarang juga menjadi bagian dari dirinya. Mungkin ini harga yang harus ia bayar. Ia bahagia dengan menyayangi dan mencintai Hinata, maka di sisi lain secara otomatis ia membenci orang yang ingin memisahkan mereka. Apa Hinata juga membenci perempuan di sekitar Naruto? Ia akan sangat bersyukur jika memang demikian. Paling tidak ia bisa mengkhayalkannya.

Ia mendekat lagi, mendesak jawaban pada Hinata. Menuntut agar Hinata tak hanya diam menyaksikan hatinya yang berdarah-darah. Gumpulan daging ini bukan hanya miliknya, ini juga milik Hinata. Seharusnya gadis itu menjaga hatinya berdua bersama Naruto, menjaganya tetap hidup, dan bukan meninggalkannya berkarat, lama kemudian berdebu dalam sunyi.

Alis Hinata turun. Ia masih tersenyum dalam sedihnya, membawa harapan bagi Naruto bahwa mungkin Hinata lebih memilihnya, menempatkan ia sebagai nomor satu dibandingkan seluruh manusia di jagad raya.

Semilir angin kering menghantar kalimat Hinata yang ia tunggu lama. Kalimat yang seharusnya mengendurkan saraf-sarafnya yang tegang, kalimat yang dulu banyak mencipta bahagia, namun kini hanya sedikit mengukir lengkung di bibirnya "Kau masih sahabatku, Naruto-kun."

Bukan kepastian ini yang ia cari. Ia menghargai persahabatan mereka, tetapi ada hal lain yang coba ia temukan di sini "Tapi kau akan menikah dengan Gaara." Ia bilang, kepercayaan dirinya bertambah seiring dengan naik jumlah katanya "Aku lebih lama mengenalmu, kita lebih lama bersahabat. Aku yang lebih sering menghabiskan waktu denganmu."

Ia yakin Hinata akan membuka mata dengan fakta-fakta yang ia tuturkan. Mungkin setelahnya Hinata hanya akan menggeleng, merasa lucu dengan keputusannya untuk menikahi Gaara, karena hei, pernikahan dengan Gaara memang terdengar seperti lelucon! Lalu mereka akan membeli ice cream bersama, traktirannya, menghabiskan ice cream rasa vanilla di dahan pohon yang lain. Tidak mungkin kan Hinata lebih memilih Gaara dari pada dirinya?

"Naruto-kun…" senyuman Hinata yang tulus tertarik hingga ke matanya "Meskipun aku menikah, kau akan tetap jadi sahabatku." Ia bilang, menciptakan kebingungan dan rasa hilang arah dalam benak Naruto "Itu tak berubah, aku janji."

Naruto menggeleng kuat-kuat "Kau tak paham, Hinata-chan. Kau tak boleh menikah dengan Gaara. Aku sahabatmu."

Sejenak raut Hinata berubah, seakan ia akhirnya mengerti suatu hal tentang Naruto yang bahkan ninja kuning itu sendiri tak mengerti, lalu merasa kasihan. Ia sering tersenyum karena senang, baru saja Naruto melihatnya tersenyum di kala sedih, kini ia mendapati gadis Hyuuga itu tersenyum dengan kesan campur aduk; kesan seseorang yang tahu persis permalasahan koleganya, tapi tak bisa berbuat apa-apa meski ia ingin membantu sekali pun.

Dengan detik-detik yang berlalu, Naruto tetap setia menunggu. Menanti kepastian Hinata akan kembali padanya, meninggalkan Gaara untuk selama-lamanya dan tak akan pernah lagi pergi ke pelukan pria lain.

Dan jawaban Hinata memang memberi kepastian. Sepasti birunya langit dan keteraturan bulan mengelilingi planet berselimut atmosfer.

Sebagaimana ia menulikan telinga pada bisik-bisik kawannya, ia tak mau mendengar kalimat Hinata. Tapi sudah terlanjur. Gendang telinganya bergetar menangkap gelombang suara sopran, bersama menyentak bagian otaknya untuk membuka tabir dari perasaannya yang terdalam.

"Kau tetap sahabatku, Naruto-kun. Gaara menjadi suamiku. Posisimu tidak direbut siapa pun."

Kau tahu, kesadaran bisa memukul kapan saja, di mana saja, tanpa perduli bagaimana kesiapan hatimu di kala itu. Naruto merasakan sakit kesadarannya di tengah halaman luas Hyuuga, di antara tatapan menuduh anggota klan berpakaian hitam dengan sinar matahari yang menusuk dan senyum Hinata yang mengiris-iris hatinya.

Dia tak bisa lagi menyangkal. Setelah kalimat Hinata, ia tidak bisa lagi membohongi dirinya.

Dia mencintai Hinata dan bukan mencinta sebagai seorang sahabat.

Suka atau tidak, begitu kisahnya.

Menelan ludah pun terasa sakit, angin yang melewatinya juga seakan menggores kulit, tanah di bawahnya pasti sedang menertawakannya. Ia manusia nelangsa di bagian paling bawah kasta dunia.

Ia tak bisa berkata-kata lagi. Kalimat Hinata telah membungkamnya. Dia diam, tapi tak bergerak dari tempatnya, mengharap Hinata mengulurkan tangan untuknya. Sedikit saja mencintanya, meski hanya karena rasa kasihan.

Ia pulang ke apartemennya yang gelap, bergelung dengan selimut pengap, meratapi kehidupannya yang tak lagi cerah, menangisi hatinya yang tak lagi hangat.

Sungguh, ia manusia nelangsa di bagian paling bawah kasta dunia.

.

.

.

To be continued…

.

.

Review-nya belum saya balas… Maap. Tapi saya seneng kemaren dapat banyak. Ngakngakngak. Makasih sebanyak-banyaknya *peluk satu-satu* Oya. Daku nonton Shingeki no Kyojin dan lagi suka sama salah satu pairing di anime ntu. Ngau. Fandom Naruto jadi 'agak-agak' setelah daku menemukan pairing cute itu. Gahaha. Hidupku kembali berwarna.

Salam,

Ava : )