Chapter 7

.

.

.

Sejak ia melihat Hinata di gerbang Konoha, ia sadar ia mencintai gadis yang tak mungkin ia miliki.

Dia tidak bodoh. Dia paham betul apa yang ia rasakan. Ia hanya tidak mau mengakuinya, lalu pelan-pelan membangun dinding penyangkalan di sekelilingnya. Dia tidak ingin kehilangan persahabatan yang tak sering ia jumpai. Semua sudah ter-set pada awalnya dan ia tidak bersedia merubah naskah: Sasuke sahabat lelakinya yang terbaik, Hinata sahabat wanitanya yang terbaik, Sakura akan menjadi istrinya. Meski naskah itu kemudian tak lagi terlihat menarik, ia bukan tipe orang yang akan merubah rencana dari A ke B dengan begitu mudah. Ia selalu fokus pada tujuan awal apapun yang terjadi, tak perduli hatinya tak lagi menginginkan itu.

Di otaknya, jika ia kehilangan persahabatan Hinata, ia tak akan bisa lagi menemukan jenis persahabatan yang sama. Sasuke memang sahabatnya, tapi ia tak mungkin menulis surat panjang kepada Sasuke, atau curhat tentang katak di sungai, atau menanti saran bagus untuk hubungan inter dan intra personalnya. Sasuke dan Hinata menawarkan persahabatan yang sama, tapi juga berbeda. Ia tidak mau kehilangan persahabatan Hinata.

Baiklah. Dia mengaku. Dia memang bodoh.

Seharusnya sejak awal ia tidak menyangkal dan langsung menyatakan saja perasaannya. Siapa yang ia bohongi? Demi martabat kedua orang tuanya, ia tidak hanya ingin menjadi sahabat Hinata. Persetan. Dia menginginkan lebih. Dia mau ia yang menjabat sahabat sekaligus pendamping hidup Hinata. Panggil dia egois, manusia rakus dari jurang terdalam neraka, ini memang dirinya yang sesungguhnya.

Dia mulai paham beberapa hal sekarang. Tak semuanya menyenangkan, namun beginilah kenyataan. Ia tak mungkin berharap semua hal akan mengikuti keinginannya.

Dia paham mengapa Hanabi mengeluarkan tawa kejamnya saat itu. Bagi Hanabi, dendamnya telah terbalaskan. Orang yang tak membalas cinta kakaknya yang tulus kini mengemis-ngemis meminta dicintai. Kakaknya justru bahagia, melangkah ke pernikahan gemerlap yang dibicarakan dengan nada gembira di semua sudut Konoha. Sungguh, pembalasan dendam apa lagi yang lebih baik? Bila ia ada di posisi Hanabi, mungkin dia juga akan membenci dirinya sendiri.

Dia paham mengapa Kiba dan Shino mengkhawatirkan jika ia terlalu dekat dengan Hinata. Shino cenderung diam, Kiba lebih banyak menyuarakan tak setujunya meski dibungkus humor. Mereka khawatir jika Hinata terluka. Naruto tertawa miris. Kenyataannya justru ia yang terluka.

Dia paham mengapa anggota rookie 12 tiba-tiba berubah aneh mendapati keadaannya. Mereka pikir ia akan bunuh diri. Mereka menjauhkannya dari Hinata. Mereka berhenti membicarakan apapun yang berhubungan dengan pernikahan. Mereka tahu Naruto mencintai Hinata bahkan sebelum ia menyadari perasaannya sendiri.

Dan ketika ia berdiri berseberangan dengan Sakura di training ground tim tujuh, ia paham hal lain.

Wanita itu baru saja mengungkapkan rasa cintanya pada Naruto. Sebuah pernyataan yang dulu pasti akan disambutnya dengan tawa bodoh, lalu mungkin dia akan mengeluarkan komentar bodoh lagi, Sakura akan memukulnya di kepala, mereka tertawa dengan bodoh, dan melanjutkan hubungan abusif yang bodoh. Sekarang ia hanya menatap datar, tak bisa merasakan apa-apa, ekspresinya minim dan hanya berpikir mengapa ia bisa ada di situasi bodoh.

Perasaannya datar-datar saja. Kini bila melihat balik, mungkin ia sebenarnya tak pernah 'mencintai' Sakura. Cinta terlalu dalam dan kompleks. Perasaannya pada seluruh manusia yang pernah ia temui seumur hidupnya bila digabungkan sekali pun mungkin tak akan menyamai dalam perasaannya pada Hinata. Cinta itu gila. Dia yang dulu dianggap tak berbakat dan anak yang tak diinginkan seluruh Konoha mungkin melihat sosok Sakura sebagai suatu 'pengangkat ego'. Sakura gadis yang paling pintar, tak heran perhatiannya cepat teralih padanya.

Naruto sedikit mununduk. Senyumnya setengah hati. "Aku pikir dulu kau ingin berkencan denganku karena kasihan."

Senyumnya yang setengah hati berubah patah. Dan mungkin itu juga alasannya dia tak pernah melirik Hinata sekali pun. Hinata gelap, pasif, tenang, dan bergerak dengan keanggunan sepi. Meski ia juga punya masalahnya sendiri, seorang pewaris yang tak diakui, dia tak mencoba mencari 'pengangkat ego' dengan mengejar siapa pun yang 'wah'. Dia bisa saja menyukai Sasuke atau Shikamaru, tapi Hinata malah memilih Naruto, si bukan siapa-siapa yang merangkak dengan lutut kotor. Dia menghargai keteguhan dan semangat. Pikiran Naruto kian melayang, membayangkan sapuan tipis lengkung bibir Hinata, untuk beberapa detik benar-benar melupakan Sakura yang mulai memerah.

"Aku hanya malu, tapi aku benar-benar…" Katanya, menyentak kembali kesadaran Naruto untuk mendengar tiap kalimat "Naruto, kita bisa memulai lagi."

Memulai lagi. Seandainya kehidupan memang bisa di-rewind semudah itu.

"Sakura, aku tak bisa."

"Kau mungkin sedang bingung."

Naruto tersenyum, sedikit sedih. Ia tak percaya ia baru saja melakukannya, 'tersenyum sedih'. Berapa banyak perilaku Hinata yang ia tiru? Ia memohon ampun pada Tuhan karena menjadi hamba-Nya yang tak bersyukur. Ia menghabiskan waktu berdo'a semoga ia dan Sakura bersama. Tuhan mengabulkannya dan yang ia lakukan justru menolaknya. Tuhan Yang Maha Pengasih, ia tahu ia bukan hamba terbaik, tapi ia mohon, dari lubuk hatinya yang terdalam, satukan-lah ia dan Hinata. Ini bukan do'a cinta darinya yang remaja dan main-main. Ini do'a dari Uzumaki dewasa yang siap membangun kehidupan.

Naruto menghela nafas, mencoba memberikan senyuman yang lebih tulus. Sakura dan Sasuke adalah dua anggota team-nya yang berharga. Mereka sahabat masa kecilnya, dua orang yang tumbuh dengannya. Tak mungkin ia menyakiti mereka. Sudah cukup ia menyakiti orang-orang di sekitarnya.

"Sakura." Ia bilang "Kau wanita yang baik. Kau kunoichi hebat, cantik, dan berbakat. Pasti banyak laki-laki yang mengantri hanya untuk dapat bersamamu. Aku minta maaf, tapi aku bukan laki-laki itu. Aku mengharap yang terbaik untukmu. Sampai kapan pun, kau dan Sasuke adalah saudaraku."

Wanita itu terdiam, seolah tak percaya. Tak lama, ia ikut tersenyum. Akhirnya mengaku bahwa ia memang kalah "Yah, mau bagaimana lagi. Aku ditolak ya sepertinya." Dia mencoba tertawa, menepuk-nepuk Naruto di bahu seperti dua orang sahabat lama "Aku juga mengharap yang terbaik untukmu."

Begitu saja. Ia menyakiti hati Sakura, tapi paling tidak ia menyatakan penolakannya dengan tegas. Sakura akan lebih tersakiti bila diberi harapan palsu. Ia bersyukur anggota team-nya itu tidak menangis atau marah. Kadang ia bertanya. Jika seandainya Sasuke membalas perasaan Sakura, apakah ia akan langsung menyadari perasaan Hinata? Dengan demikian tak akan ada orang yang perlu merasakan sakit hati. Tapi Sasuke lebih mencintai dirinya sendiri. Dan mungkin memang banyak orang yang mengutuki Naruto sehingga ia harus mencicipi karma sebelum menyadari perasaannya.

"Kau tak boleh terlalu berlarut-larut dalam kesedihanmu." Sakura menepuk bahunya lagi sebelum berpisah "Lanjutkan saja. Relakan. Hinata mampu menjadi kuat. Ia bergerak. Kau juga harus mampu."

Merelakan?

Naruto ingin membalas, tapi akhirnya ia hanya mengangguk kaku. Kemampuannya untuk tersenyum hilang tanpa sisa.

Kata itu tak terdengar menyenangkan sama sekali.

.

.

.

Tapi dia tetap berusaha, sungguh.

Tanpa memperdulikan hatinya yang berdarah-darah, atau rasa bencinya pada Gaara yang belum juga memudar, ia datang pada pesta mengumuman yang diadakan Klan Hyuuga. Dia memasang cengirannya yang terbaik, membawa parsel mahal untuk Hinata dan kartu '(semoga tidak) selamat menempuh hidup baru' untuk Gaara. Meski pesta ini hanya ditujukan untuk mengumumkan hubungan Pewaris Hyuuga dan Kazekage, tapi pestanya cukup meriah. Yah, semeriah yang bisa dilakukan orang-orang berhaori dan berwajah datar. Seperti apa pernikahannya, para wanita di sebelahnya berspekulasi, pasti akan menjadi pernikahan termahal dekade ini.

Pestanya tradisonal. Mereka semua duduk melipat kaki di atas tatami. Para tamu menghadap para penyelenggara pesta yang berbaju mahal. Hinata duduk di sebelah kiri. Di tengahnya ada Hyuuga Hiashi, beberapa tetua Hyuuga, dan segelintir tetua desa Suna. Gaara duduk di sebelah kanan.

Saat Hiashi mengumumkan tanggal pernikahan, Naruto-lah yang bertepuk tangan paling keras. Ia bersiul menyemangati Hinata, meneriakkan ucapan selamat berkali-kali untuk menutupi rasa tidak nyamannya yang kian menjadi. Ia tiba-tiba merasa demam. Mungkin tipus. Dia ingin muntah. Perasaannya tidak enak. Tapi ia terus berteriak, terus menepuk tangan, hingga makan paginya benar-benar ingin keluar dan ia lari terburu-buru ke toilet terdekat.

Ia keluar dari toilet dengan tampang aneh. Tertawa-tawa, namun pucat. Saat akan kembali ke ruang pesta, ia mengambil sebotol sake yang bertumpuk di meja di luar ruangan. Ia butuh banyak alkohol untuk bertahan menghadapi neraka ini.

Ya Tuhan, Hinata cantik sekali. Mengapa setiap ia melihatnya Hinata terus bertambah cantik? Apa Hyuuga mengembangkan jurus terlarang untuk para wanita mereka ataukah ia yang memang sudah gila?

Begitu pengumuman formal selesai, mereka keluar ruangan menuju halaman Hyuuga yang luas. Ada meja dengan berbagai makanan di sana dan yang terpenting, pikir Naruto, ada sake. Ia mengambil sebotol lagi, meneguk sambil menunggu gilirannya mengucapkan selamat pada Hinata dan Gaara. Pesta ini pasti diatur seseorang yang sangat membencinya. Bahkan sebelum menikah pun ia harus melihat si brengsek berdiri berdampingan dengan Hinata-nya.

Satu per satu orang telah memulai ucapan selamat. Team delapan dan para wanita mendahului mereka semua. Begitu tiba gilirannya, ia mengambil botol sake lain. Ia datang dengan senyuman kaku. Tadinya ia berencana memeluk Gaara agar tampak meyakinkan, tapi yang ia bisa lakukan hanya mengangguk sekilas. Ia tak mau menyentuh Hinata karena sakitnya pasti kembali lagi, tapi ia justru merengkuh sang calon pengantin erat-erat. Rencananya terbolak-balik.

"Jadi Gaara, si brengsek yang beruntung," ia meneguk sakenya "Kau merasa menang sekarang?"

Mata Gaara menyipit. Ia mendekat pada Hinata, sedikit menarik gadis itu ke belakang agar tak terlalu dekat dengan lelaki di depannya "Naruto, kau mabuk."

Naruto tertawa keras, memegangi perutnya "Hinata-chan, kau mau menikahi dia? Kemampuan sosialnya belum bertambah. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana orang sadar dan mana yang mabuk!"

Hinata dan Gaara bertukar tatap. Cepat, tapi langsung saling mengerti tanpa butuh kata-kata. Seolah mereka berdua pasangan tua yang telah melewati banyak masa bersama. Seketika Naruto merasakan panas sampai ke ubun-ubun. Bukan karena sake, tapi rasa cemburu yang membakar. Ia lebih lama mengenal Hinata. Ia lebih mengerti Hinata dibandingkan Gaara!

"N-naruto-kun… aku rasa kau memang mabuk." Hinata bilang, mencoba mengambil botol sake dari genggaman Naruto "Aku akan panggilkan salah seorang Hyuuga."

Naruto menjauhkan botol sakenya, merentangkan tangan kanan jauh-jauh ke belakang, menikmati Hinata yang kini jauh lebih memperhatikannya dibandingkan Gaara. Tubuhnya ia condongkan, wajah mendekat pada Hinata yang bingung "Mengapa tidak kau saja? Toh kau juga Hyuuga kan?"

Dia lupa dia minum berapa botol sake saat itu. Tapi pasti cukup banyak, karena dirinya yang gegabah sekali pun tak mungkin melakukan ketololan seperti yang ia peragakan, apa lagi mengingat Hyuuga memang sejak awal telah was-was dengan keberadaannya. Bagi mereka, ia pembawa masalah. Pasca adegan dramatisnya di gerbang Hyuuga, semua anggota klan tua itu menganggapnya tak waras. Suatu keajaiban ia masih diizinkan masuk ke pesta ini.

Dan mungkin dia memang tidak waras. Alkohol sialan.

Tapi apakah ia menyesalinya? Oh. Tidak juga.

Ia melempar botol sakenya, memanfaatkan kelengahan Hinata dan menarik pinggulnya mendekat, menekan bibirnya pada bibir Hinata yang setengah terbuka. Untuk sejenak hanya ada keheningan. Dia meremas pinggul Hinata, mengeksplor kehangatan mulut wanita itu dengan lidahnya.

Ia tak bisa mengatakan betapa sempurna kehidupannya ketika ia berhasil mencuri ciuman Hinata. Meski hanya bertahan sekian detik, itu detik-detik terbaik kehidupannya.

Karena setelahnya, ia mendapati dirinya membentur dinding keras Hyuuga. Dilempar oleh jutaan butir pasir yang mengamuk.

Para tamu diam.

Sekilas ia menangkap gambar Gaara yang berbalut amarah. Sepertinya, rasa benci tak lagi bertepuk sebelah tangan. Tapi ia tak perduli, karena akhirnya ia bisa melihat kembali Hinata yang memerah. Naruto memberikan seringai pendek. Hinata sepertinya sedikit merasa dipermalukan dan tak setuju namun biarlah. Mungkin bukan 'dipermalukan'. Hanya sekedar malu. Hinata kan memang pemalu. Di otaknya yang berkabut alkohol, dia memikirkan kemungkinan bahwa Hinata menginginkan ia menciumnya di tempat yang lebih sepi, jauh dari gangguan orang lain. Mungkin mereka berdua akan lari keluar Konoha setelahnya.

Seringainya jatuh saat Gaara meraih pinggul Hinata, menciumnya lebih dalam. Ciuman yang membawa keriuhan para tamu yang semangat bertepuk tangan dengan siulan ramai.

Wajah Naruto memucat. Begitu saja. Semua orang melupakan apa yang terjadi antara ia dan Hinata. Semua fokus pada Gaara dan Hinata.

Gaara dan Hinata.

Brengsek.

.

.

.

Ia secara resmi masuk daftar hitam Hyuuga. Mungkin Sunagakure sekarang malah sedang menyusun kebijakan untuk melarang siapapun bermarga Uzumaki untuk masuk ke wilayahnya. Penyesalan datang berkali lipat setelah mengetahui tanggal pernikahan Hinata justru dimajukan. Realitas kembali menghujam. Apa yang ia pikirkan? Jadi karena ia mencium Hinata maka secara ajaib Hinata akan menyadari rasa cintanya yang menggebu lalu membatalkan pernikahannya? Yang benar saja. Dasar bodoh. Yang ada ia memberikan kesempatan pada si Brengsek untuk memamerkan seberapa intim hubungannya dengan Hinata pada seluruh dunia.

Dia mencoba lagi memainkan sosok tegar yang merelakan. Dia mengganti semua rutenya sehingga pulang-pergi apartemen ia harus melewati kediaman Hyuuga. Semua anggota klan yang berpapasan dengannya menaruh curiga. Jika Hyuuga memelihara anjing, mungkin binatang peliharaan mereka akan menggonggong padanya bahkan dari jarak satu kilometer. Ia berbasa-basi menanyakan kabar Hinata, namun tak pernah digubris. Dia berharap dapat bertemu Hinata. Melihat sehelai rambutnya pun tak masalah. Tapi Hinata tak pernah muncul.

Anggota rookie 12 tak bisa melihatnya dengan cara biasa. Heck, seluruh Konoha tak bisa melihatnya dengan cara biasa. Beberapa dengan baik hati menawarkan buku psikologi. Kadang-kadang ada warga yang memberikan ia makanan. Misinya bahkan dihentikan. Ia diberikan cuti panjang. Namun, ada kalanya ia mendengar bisik-bisik tentang betapa Naruto orang ketiga yang keji. Kalau sudah begini, ia akan berlari mengejar yang bersangkutan, memberikan tinju terbaiknya untuk ditonton khalayak ramai. Kalau ada orang ketiga, orang itu adalah Gaara. Bukan dia.

Pikiran-pikiran negatif, perlahan namun pasti, menunjukkan kepala-kepalanya yang bernanah. Ia mulai mempertanyakan berbagai hal yang seharusnya tak ia pertanyakan. Ia bertanya apakah cinta Hinata tak sebesar rasa cintanya pada gadis itu. Atau mungkin Hinata memang tak pernah mencintainya. Ia menghabiskan malamnya dengan memeluk toilet, muntah setelah pikiran tak mengenakkan itu menusuknya dengan belati berkedok kemungkinan. Di waktu lain ia berbaring di ranjangnya, mata terbuka, tak bergerak dan tak terisak tapi dengan air mata tak berhenti mengalir. Ia tahu ia bodoh. Mempertanyakan itu seperti mempertanyakan apakah matahari memang nyata. Tapi ia tak bisa menghentikan otaknya. Kepergian Hinata sendiri sudah berarti akhir dunia baginya. Mungkin memang cinta Hinata tak sebesar itu.

"Atau mungkin kau yang tak sekuat dan tak se-ikhlas itu."

Naruto menoleh. Untuk sejenak, ia tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya dapat menganga, memproses kalimat yang isinya tak pernah terlintas di pikirannya sebelum ini.

"Kau tak punya hak mempertanyakan besar cinta Hinata. Hanya karena dia akan menikah, berarti cintanya tidak besar? Kau bodoh, ya? Egois." Kiba melanjutkan. Nadanya tinggi dengan kekesalan yang perlahan tumpah "Dia tahu kau bahagia dengan Sakura, jadi dia membiarkanmu bersamanya tanpa memperdulikan dirinya sendiri yang mungkin seumur hidup tak akan bahagia. Sekarang, kau yang berada di posisinya dan kau tak mampu melepaskannya meski kau tahu ia bahagia bersama Gaara, lalu kau berani-beraninya mempertanyakan besar cinta Hinata? Naruto, kau perlu instropeksi. Atau terjunlah dari puncak patung Hokage. Aku rasa kepalamu yang keras itu tak akan pecah."

Sekujur tubuh Naruto membatu. Bila ceritanya lain, mungkin ia akan me-rasengan Kiba ribuan kali hingga laki-laki bertato itu tak mampu bicara seumur hidupnya. Tak pernah ada naskah di otaknya yang menyatakan bahwa ia berada di posisi 'salah'. Tak pernah. Seorang Uzumaki Naruto tak mengenal benar atau salah. Yang penting hanya bagaimana terus maju ke depan, menggerus dan menghancurkan semua palang yang merintanginya dari tujuan yang ada. Jika rencana tak berjalan sesuai rencana, mungkin karena si A bodoh, atau bisa jadi si B tak menjunjung persahabatan, atau mungkin si C terlalu berhati dingin. Orang lain bisa salah, tapi ia tak pernah salah. Bahkan jika pun ada yang berteriak betapa fatalnya keputusan Naruto, ia hanya akan tertawa mendengarnya, tak pernah benar-benar memikirkan. Instropeksi? Apa itu instropeksi? Tak ada instropeksi di kamus-nya!

Sasuke meninggalkan Desa. Tentu saja Sasuke salah. Tidakkah Sasuke tahu bahwa seorang shinobi harus siap hidup dan mati untuk desa-nya? Sasuke bicara tentang rasa kehilangan keluarga, tapi hei, Naruto juga tahu rasanya tak punya keluarga. Sasuke salah. Naruto benar. Ia bahkan tak susah-susah menempatkan dirinya di posisi Sasuke atau memikirkan betapa bedanya 'kehilangan' dan 'tak pernah' memiliki keluarga. Perbedaan ideology mereka sudah mencolok. Sesimpel itu.

Neji pun sama. Apa-apaan Neji bicara tentang takdir? Memang dia terlahir di klan tua dan Naruto bahkan tak mengerti adat dan kebiasaan klan besar, tapi hei, dia punya hak untuk bicara mengenai betapa jahat dan bodohnya Neji. Ideologi mereka berbeda. Sesimpel itu. Naruto selalu benar.

Dan Hinata? Ya ampun. Hinata pasti salah. Dia dicuci otak. Hinata seharusnya bersama Naruto, di sisinya, menghabiskan seluruh hidup bersamanya, membahagiakannya! Tak perlu pertimbangkan kebahagiaan Hinata. Selama Naruto bahagia, mereka berdua bahagia. Semua orang bahagia jika dia bahagia. Iya kan? Dia selalu benar.

Apalah arti kebahagiaan Sasuke, Neji, dan… Hinata?

Mereka hanya pemeran figuran.

HANYA FIGURAN!

Jika NARUTO bahagia, semua BAHAGIA!

Naruta menutup wajah dengan tangannya yang bergetar. Ia tertawa hambar. Tuhan. Jadi ini mengapa ia harus terkena hukuman seberat ini? Dia manusia egois.

"Hei, Kiba." Naruto bilang. Suaranya serak dan terhalang telapak tangannya "Menurutmu… aku tak pantas bersama Hinata?"

Kening Kiba berkerut "Sejak kapan kau pantas bersama Hinata?"

Naruto mengangguk pelan. Ia berdiri, menarik nafas dalam-dalam. Ia mengambil tiga langkah ke depan, berhenti di tempat yang dinaungi cahaya matahari. Tempat yang hangat. Hinata. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar, meresapi semua kehangatan yang bisa ia rasakan. Matahari tak akan pernah lelah memberikan hangatnya. Selama ia bisa menemukan tempat dengan sinar mentari, ia dapat merasakan Hinata.

Naruto menggigit bibirnya. Untuk pertama kali ia menangis bukan karena penyesalan, penyangkalan, atau keputusasaan. Dengan tangan terentang mencoba memeluk hangatnya mentari, ia menangis dengan kesadaran bahwa ia tak melakukan apa-apa selama ini. Ia tak merelakan, ia juga tak mengejar. Meski dia bilang dia telah berusaha merelakan, ia tak sungguh-sungguh melakukannya. Itu hanya satu kedok. Sebuah pembenaran diri. Ia hanya mengutuki siapa pun yang bisa ia kutuk. Ia menyalahkan semua orang dan malabeli dirinya sendiri sebagai 'korban' dengan ketentuan bahwa ia memang tak pernah salah. Ia tak mencoba memantaskan diri untuk Hinata. Dia benar-benar tak melakukan apa-apa.

Entah merelakan atau akan mengejar. Ia harus memutuskan sekarang.

Naruto menengadah, mendapat kilasan kepakan sayap kecoklatan yang membelah langit.

"Kalau pun tak pantas bersama Hinata, apa aku paling tidak bisa berharap?"

Kiba menoleh. Rautnya yang keras tak berubah. Ia sejenak menunduk, seperti berpikir keras. Tak lama ia mendongak lagi dengan desahan acuh tak acuh.

"Semua orang punya hak untuk berharap."

.

.

.

To be continued…

.

.

Chapter depan = chapter penutup. Lega? Ato malah makin was-was? XD

Salam,

Ava : )