Tittle : Uri Dongsaeng
Main Cast : Cho Kyuhyun Park Jungsoo Lee Sungmin Choi Siwon
Genre : Brothership, family
Seorang namja paruh baya terlihat mendorong kereta makanan. Menu 4 sehat 5 sempurna tersaji dengan apiknya. Sang pelayan menaruh kereta dorongnya dipinggir tempat tidur mewah Kyuhyun. "Apa ada yang Anda butuhkan lagi, Tuan?"
"Anni. Ahjussi boleh pergi sekarang. Terimakasih."
"Saya permisi, Tuan." pelayyan itu pun pergi meninggalkan kamar mewah seorang Choi Kuhyun.
Namja berambut coklat ikal tersebut mulai menikmati makan malamnya. Sedkit demi sedikit makanan itu akan segera habis. Namun saat suapan terakhir, ia menjatuhkan sendoknya.
"Kyu, hyung pul-" seruan Siwon terhenti saat melihat kondisi dongsaengnya. "KYU!"
Selanjutnya
Siwon segera menghampiri dongsaengnya yang kini terlihat begitu kesakitan. Dadanya naik turun secara cepat. Keringat dingin bercucuran. Wajahnya mulai memucat seiring dengan susahnya ia mengambil oksigen yang berada disekitarnya.
Namja tegap itu begitu panik dengan keadaan Kyuhyun. Ia tidak bisa berpikir jernih. "Kyu, ada apa denganmu." Siwon menepuk-nepuk pipi chubby dongsaengnya.
Kyuhyun mencoba membuka matanya. Wajahnya masih menyiratkan kesakitan. "H-hyung.. Khh~ s-sakit hyung."
"Ada apa denganmu, Kyu." tangan besar Siwon mengusap pelas pipi Kyuhyun yang sudah memucat. "Tahan sebentar, ne. Hyung akan memanggil ambulans."
Kyuhyun menggeleng pelan. "Anni. A-khu gak m-mauh.. hhh.. khe rumah sakit."
"Tapi Kyu, hyung sangat khawatir." Kyuhyun tetap menggeleng. "Baiklah. Tahan sebentar ne, uisa akan segera kesini."
Siwon segera mengambil ponselnya dan mulai menghubungi dokter keluarga Choi. "Hyung, bisa ke rumah sekarang. Kyunnie gawat." tanpa mendengar jawaban uisa, ia langsung menutup telpon begitu saja.
"Tahan sebentar lagi, Kyu. Ikuti napas hyung." Siwon mencoba memberi pertolongan pertama dengan mengatur pernapasan Kyuhyun. Walaupun begitu sulit, Kyuhyun mencoba mengikuti instruksi hyung-nya. Dadanya terasa begitu sesak seperti ada bongkahan batu yang menghujam paru-parunya.
"D-dimana T-teuki hyung, Dongh-hae hyung dan S-sungmin hyung?" tanya Kyuhyun disela-sela rasa sakitnya.
"Mereka masih di kantor, sebentar lagi mungkin akan pulang. Jangan banyak bicara dulu, Kyu." Siwon mencoba mengusap punggung tangan Kyuhyun yang terasa dingin dan basah.
30 menit berlalu. Kepanikan Siwon semakin terasa saat Kyuhyun tak sadarkan diri. Ia masih bisa merasakan hembusan napas dongsaengnya walaupun terasa begitu lemah. Dalam suasana panik dan kalut, tiba-tiba pintu berbingkai cantik itu terbuka.
Cklek!
"Siwonie?" tiba-tiba dua orang namja berpakaian serba putih masuk ke kamar Kyuhyun.
Siwon yang melihat kedatangannya menjadi sedikit lega. "Heechul hyung, Yesung hyung. Tolong Kyuhyunnie, hyung. Selamatkan dia."
"Baiklah, kamu menyingkirlah terlebih dahulu." Heechul, namja berparas cantik mulai mengeluarkan peralatan kedokterannya. "Yesungie, siapkan masker oksigen sepertinya Kyuhyunnie sesak napas."
"Baik hyung." Yesung mulai memakaikan masker oksigen pada Kyuhyun. Walaupun oksigen sudah tersalurkan, namun raut wajah Kyuhyun masih terlihat kesakitan. Jarum infusan mulai menusuk dan mengalirkan cairan ke tubuh lemah namja yang memiliki IQ tinggi itu.
Heechul memeriksa denyut nadi dan jantung Kyuhyun. Ia pun memeriksa kedua bola mata Kyuhyun.
"Bagaimana, hyung?" tanya Siwon.
"Hhh. Alerginya kambuh." namja cantik itu mulai memasukkan kembali peralatannya. "Kenapa bisa seperti ini, Siwonnie?"
"Aku tidak tau, hyung. Tapi kenapa dampaknya bisa seperti ini? Biasanya dia hanya gatal-gatal kan?"
"Itu untuk alergi yang masih tahap rendah. Sedangkan alergi yang dialami Kyuhyun sudah berkembang dan dalam tahap berbahaya." Yesung menjawab pertanyaan namja yang sudah ia anggap dongsaengnya sendiri. "Stres bisa merupakan salah satu faktor penyebab berkembangnya alergi Kyuhyun."
"Kyunnie." lirih Siwon.
"Teuki hyung, Sungminie dan Hae kemana?" tanya Heechul.
"Mungkin sebentar lagi mereka-"
Belum sempat Siwon menjawab pertanyaan Heechul, tiba-tiba pintu kamar Kyuhyun terbuka lebar.
"KYU!" Seru tiga namja yang masuk bersamaan.
"Apa yang terjadi dengan Kyuhyun, Siwonnie?" Tanya Leeteuk.
"Dia tidak apa-apa kan?" Sungmin semakin khawatir saat melihat masker oksigen dan jarum infusan melekat ditubuh dongsaengnya.
"Hiks.. Kyu.. Ireona.. hiks.." Donghae sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi.
"Dia tidak apa-apa. Aku sudah memberinya obat. Hanya alerginya saja yang kambuh, Hyung."
"Heenim? Sunggie? Benarkah Kyuhyun baik-baik saja?" Leeteuk mencari kepastian soal kondisi dongsaengnya.
"Ne, dia baik-baik saja. Siwon mencari bantuan tepat waktu. Jika ia terlambat sedikit aja, mungkin nyawanya tidak akan tertolong." para Choi muda itu terlihat kaget saat mendengar penuturan sang uisa yang sudah mereka anggap keluarga. "Alergi dengan reaksi sesak napas sudah termasuk kategori berbahaya, hyung. Dari sekarang pola dan bahan makanan Kyuhyun perlu diawasi."
"Baiklah, kami harus kembali ke Rumah Sakit. Kalian tidak perlu khawatir, aku sudah memberinya obat. Beberapa jam lagi pasti akan segera membaik keadaanya." Heechul mengalihkan tatapan matanya pada Yesung, "Sunggie, kita akan kembali sekarang."
Yesung mengangguk, "Ne, hyung. Kami pergi dulu."
"Ne, kalian berdua hati-hati dijalan." Setelah mengantarkan kepergian dua uisa muda itu, Leeteuk datang menghampiri dongsaengnya yang masih memejamkan matanya. Tangannya mengelus lembut puncak kepala. "Kamu membuat kami khawatir, Kyu. Cepatlah sadar."
Kedua manik Leeteuk menatap ketiga dongsaengnya satu persatu yang kini mengelilingi kasur sang magnae. "Lebih baik kalian bersihkan diri kalian dulu. Setelah itu makan malam dan beristirahatlah."
"Ani, hyung. Kami masih ingin disini."
Namja yang paling tua disana menghela napas pasrah. "Baiklah, tapi setidaknya bersihkan diri kalian dulu. Kita akan makan disini. Arra?"
"Arraso, hyungie." Mereka bertiga pun mulai meninggalkan kamar sang magnae dan pergi ke kamar masing-masing. Sedangakan Leeteuk masih setia duduk dipinggir sang magnae.
"Cepet sembuh, ne, uri dongsaeng." Sebelum meninggalkan ruangan itu, Leeteuk menyempatkan diri untuk mencium kening Kyuhyun."
Seperti yang Choi Jungsoo katakan, mereka berempat makan malam di kamar Kyuhyun. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
"H.. hyungie.." tiba-tiba terdengar suara lirihan seseorang yang mereka yakini berasal dari dongsaeng terkecil mereka. Mereka pun terburu-buru berdiri untuk melihat keadaan Kyuhyun. "Hh.. hyungie."
"Kami disini, Kyu. Bukalah matamu, saeng." Leeteuk menggenggam tangan Kyuhyun yang terbebas dari jarum infus.
Perlahan kelopak mata Kyuhyun mulai bergerak dan terbuka. Hyungdeulnya bernapas lega melihat bahwa dongsaeng mereka sudah benar-benar sadar. Manik coklat Kyuhyun bergerak menatap satu persatu hyungnya.
"Apa ada yang sakit, Kyu?" Tanya Sungmin. Kyuhyun menggeleng pelan. "Kalau begitu tidurlah lagi. Kamu masih membutuhkannya."
Sungmin mengelus lembut puncak kepala Kyuhyun. Elusan itu terbukti ampuh. Perlahan mata Kyuhyun kembali berat dan akhirnya ia pun kembali tertidur.
Malam itu, keempat hyungnya tidur disana untuk menjaganya. Mereka takut terjadi apa-apa lagi dengan sang dongsaeng mereka. Harta terakhir kedua orangtua mereka, harus mereka jaga walau apapun yang terjadi.
.
.
.
.
Sinar mentari masuk tanpa permisi ke sebuah kamar mewah. Tampak keemapt namja tampan disana sedang terlelap. Cahaya matahari tak mengusik tidur merek. Namun terkecuali bagi seorang namja yang tidur di kasur berukuran medium itu. Matanya mengerjap berusaha untuk menyesuaikan keadaan disana.
'Kamarku? ' namun ia masih bingung dengan apa yang terjadi semalam. Kenapa pagi hari ini ia mendapati keadaanya seperti ini. Jarum infus menancap di kulit pucatnya serta sebuah masker oksigen menutup hidung dan juga mulutnya.
"H-hyung..." lirih Kyuhyun. Sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar. "H-hyung..."
Suaranya takkan mampu membangunkan hyungdeulnya. Ia ingin bangkit namun rasa lemas masih jelas ia rasakan. Kembali ia mencoba memanggil salah satu hyungnya. "Hyungie.."
Berhasil. Salah seorang hyung tampannya berhasil membuka mata. Leeteuk yang pertama membuka matanya. "Kamu sudah bangun, Kyunnie?"
Kyuhyun mengangguk. Napasnya masih sedikit berat. "Apa ada yang sakit?"
Namja berambut brunute itu menggelangkan kepalanya lagi. "Mianhae, hyung... Karena aku, hyung harus menjagaku semalaman."
Leeteuk mengusap kepala Kyuhyun dengan penuh rasa sayang. Senyuman sang hyung tertua mampu menenangkan hati Kyuhyun. Ia pun ikut tersenyum.
"Pernapasanmu masih susah, Kyu?" Tanya Leeteuk.
Kyuhyun mengangguk. Paru-parunya masih terasa berat untuk meraup oksigen jika tak ada alat bantu itu. Ia merasa bersalah saat melihat wajah lelah Leeteuk. Perasaan bersalah semakin ia rasakan saat melihat keadaan hyungdeulnya yang tidur beralaskan kasur lipat. Membuat ia semakin susah untuk bernapas.
"Hhahh... hhahh.. hhahh.." lirih namun masih tertangkap oleh pendengarannya Leeteuk. Ia khawatir melihat Kyuhyun kembali terengah-engah seakan oksigen yang disalurkan melalui selang itu tidak cukup untuk memenuhi rongga paru-parunya.
"Kyu, gwenchana?" Leeteuk memekik saat mata Kyuhyun terpejam menahan sakit. Pekikan itu membuat Donghae, Siwon dan Sungmin terbangun.
"Kyunnie, gwenchana? Jangan membuat hyung takut. Jebal." Donghae sudah menangis melihat kondisi sang magnae.
Sungmin dan Siwon terlihat menahan tangis mereka. Namja brunute itu mencoba untuk menormalkan pernapasannya. Sedikit demi sedikit ia sudah bisa bernapas dengan normal.
"M-mianhae.. Aku sudah membuat hyungdeul.. hhahhh.. hhahh.. khawatir.. lagi.." Kyuhyun membuka sebelah matanya untuk memperlihatkan bahwa dia masih bisa menahannya.
"Hyung akan panggilkan Heenim atau Yesung agar memeriksa Kyuhyun kembali." sebelum Leeteuk sempat menghubungi salah satu dokter muda itu, Kyuhyun sudah mencegahnya terlebih dahulu.
"An... Aniyo... Nan gwenchana, hyungie..."
"Tapi Kyu-..." Siwon tidak meneruskan kalimatnya saat ia melihat tatapan memohon dari sang dongsaeng. "Baiklah.. Segera sembuh, ne, nae dongsaeng." kemudian Siwon membungkuk dan mengecup lembut kening Kyuhyun.
"H-hyung.. Kh.. Bau.. Mandilah.."
"Mwo?! Bau? Kyunnie, jangan membodohi hyung ne. Sekarang kamu itu sedang memakai masker oksigen. Mana mungkin bisa mencium bau hyung. Ckckckck." Siwon menggelengkan kepalanya melihat kejailan sang dongsaeng walopun sedang terbaring sakit.
"B-bingo.. Won.. Wonnie-hyung... sudah mengakuinya.." namja tegap itu tersadar akan kesalahan kalimat yang barusan ia ucapkan. Membuat yang lainnya tertawa.
"Mungkin karena bau-mu sungguh menyengat, Siwonnie." Sungmin nyeletuk dengan polosnya.
"Aaah berarti kamu mengalahkan rekor bau badannya Eunhyuk." Donghae menepukkan tangannya saat mengingat seorang namja yang merupakan teman lamanya. "Appo..."
Siwon memukul kepala hyung-nya. "Jangan menyamakanku dengan temanmu itu, hyung."
"Siwonnie..." leeteuk menegur perbuatan tidak sopan dongsaengnya.
"Mianhae.." mata Siwon melirik tajam saat mendengar suara kekehan hyung yang dipukulnya itu.
"Kyu, kamu istirahat ne. Hyung akan menyiapkan sarapan dulu." Leeteuk kembali mengusap surai ikal milik Kyuhyun. Mata bermanik coklat itu tertutup untuk meresapi sentuhan lembut sang angel.
Walaupun napas Kyuhyun masih terdengar berat, setidaknya raut diwajah putih itu tidak tampak kesakitan seperti tadi. Keempat namja tampan yang masih berdiri mengelilingi sang magnae itu menghela napas lega. Kepanikan yang terjadi kemarin benar-benar membuat mereka ketakutan. Masih trauma akan kejadian waktu dulu.
Disebuah gedung mewah, terlihat seorang namja tengah memandang selembar foto. Matanya terlihat tajam dan seringaian tampak diwajah tampannya. Tampak foto itu ia letakan diatas meja kerjanya. Disamping foto, terdapat sebuah buku tebal berwarna hitam. "Time to show, chagiya." Lirihnya dengan suara berat dan sedikit menyeramkan.
"Wonnie, hari ini lembur atau tidak?" Tanya seorang namja bermata bulat hampir seperti kelinci. Park Sungmin.
"Aniyo, Sungmin-hyung. Wae?"
"Syukurlah, aku, Teuki-hyung dan hae-ah ada meeting mendadak dengan salah satu investor yang merupakan rekan lama orangtua kita. Tak apa kamu menjaga Kyuhyunnie sendirian?"
"Ne, hyung. Aku masih bisa menjaganya sendirian. Hyung tenang saja." Siwon memberikan senyuman menawannya hingga menampilkan dimple dipipi mulusnya.
"Jika ada apa-apa segera hubungi salah satu dari kami, arrachi?"
"Arra, hyung." Namja berbadan tegap itu mengambil jas-nya yang ia sampirkan digantungan yang berdiri tegak disudut ruangan. "Baiklah, aku pulang sekarang hyung. Aku takut Kyuhyun merasa kesepian."
"Ne, hati-hati dijalan." kemudian Siwon dan Sungmin meninggalkan ruangan kerja tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan, saya bawakan makan malam Anda." Seorang namja paruh baya tampak membawa nampan berisi makanan Kyuhyun. Setelah mengatakan kedatangannya, ia masuk ke ruangan tersebut. Tampak dimatanya, sang tuan muda masih terlelap. Masker dan infusan sudah dilepas. Sepertinya keadaan sang magnae keluarga Park sudah lebih baik.
"Tuan, bangunlah. Anda harus makan malam terlebih dahulu."
Kelopak mata itu nampak bergerak perlahan. Sedikit demi sedikit manik caramel itu terlihat dan mengerjap polos untuk menyesuaikan pencahayaan di ruangan itu yang menerobos retina matanya. Melihat kepolosan sang tuan muda, Kim-Ahjussi tampak tersenyum.
"Anda sudah bangun, Tuan?" tanyanya lagi untuk memastikan kesadaran sang tuan muda telah berada di dunia nyata sepenuhnya.
"Ne." Kyuhyun mulai bangun. Dan kini ia terduduk dengan rambut coklat ikalnya nampak berantakan. "Hyungdeul sudah pulang, Ahjussi?"
"Belum, Tuan. Sebaiknya sekarang Anda makan malam terlebih dahulu." Kepala pelayan yang sudah menemani Kyuhyun dari bayi itu, nampak menyodorkan makanan yang ia bawa. "Kalau begitu saya permisi dulu."
"Ne. Gamsahamnida."
Kim-ahjussi tersenyum dan mulai melangkah meninggalkan sang tuan muda untuk menikmati makan malamnya. Walaupun sudah malam, tugasnya belum benar-benar selesai. Masih banyak yang harus ia lakukan.
Saat menyusuri lorong rumah besar itu, di tengah jalan ia bertemu dengan majikannya yang lain. "Ahjussi, apa Kyunnie sudah bangun dan makan malam?"
"Ne, Tuan. Sekarang Tuan Kyuhyun sedang makan di kamarnya."
Siwon, berjalan meninggalkan sang kepala pelayan dengan senyuman terkembang di wajah tampannya. Tangannya menenteng sebuah plastik putih. Wangi manis menguar dari dalam plastik itu.
Saat sudah berada didepan kamar dongsaeng-nya, ia berhenti sebentar untuk menghela napasnya dan kembali meneruskan langkahnya. Matanya melihat bahwa sang dongsaeng sedang bermain dengan PSP-nya, "Kyunnie, hyung bawakan sesuatu untukmu."
Ia mem-pause game-nya terlebih dahulu untuk melihat apa yang dibawa hyungnya. Matanya berbinar saat menghirup aroma manis masuk ke hidungnya. "Hyung membawa cake?"
"Ne, hyung bawakan cake kesukaanmu. Kajja kita makan bersama." Siwon mendudukan dirinya disamping tempat tidur dan mulai membuka bungkusan cake tersebut.
Keduanya menikmati makanan manis itu dengan wajah senang. Mata Kyuhyun nampak bahagia. Ia sungguh merindukan kebersamaan dengan semua hyung-nya. Namun mereka masih memilih pekerjaannya daripada dongsaengnya sendiri.
.
.
.
Keesokan paginya, Kyuhyun bangun dengan tubuh segar. Sepertinya sakit yang ia rasakan kemarin sudah hilang seperti dibawa angin begitu saja. Kebersamaannya dengan Siwon semalam membuatnya cepat sehat. Dengan riang ia masuk ke kamar mandi dan mulai bersiap pergi ke sekolah.
Tak lama kemudian ia sudah siap dengan tas tertenteng dibahunya. 'Park Kyuhyun hwaiting!'
Di ruang makan, tampak keempat hyung-nya sedang bercengkrama. Tak ada yang mereka bicarakan selain bisnis tentunya. Yang membuat kedua bola matanya memutar malas.
"Kamu sudah mau sekolah, Kyunnie?" tanya Leeteuk saat matanya menangkap sang dongsaeng sudah siap dengan seragam sekolahnya.
"Ne, hyung."
"Yakin kamu sudah merasa sehat?" Donghae, Sungmin dan Siwon menatap khawatir sang magnae.
Kyuhyun tersenyum menenangkan saat melihat tatapan khawatir hyungdelnya. "Hyungdeul tidak usah khawatir. Aku sudah sehat. Aku ingin segera masuk sekolah."
"Baiklah kalau begitu. Tapi ijinkan salah satu diantara kami mengantarkanmu, ne?" Leeteuk sangat berharap Kyuhyun mengabulkan keinginanya.
Namun Kyuhyun menolaknya. Lagi. "Ani, aku akan berangkat sendiri saja. Hyungdeul semuanya berangkat ke kantor." Namja berambut ikal itu tetap meneruskan sarapannya dan berusaha mengabaikan tatapan kecewa sang hyung.
"Baiklah kalo begitu. Kalau kamu merasa tidak sehat, segera pulang. Arrachi?"
Kali ini Kyuhyun mengangguk. "Ne, hyung." Kali ini senyuman terpatri diwajah pucatnya. "Kalau begitu aku berangkat, hyungdeul."
"Ne, hati-hati di jalan." Ucap keempatnya serempak
Kyuhyun sampai di sekolahannya, tempat dimana ia mencari ilmu. Perkiraannya meleset, ia kira tubuhnya sudah lebih baik. Sekarang ia merasa lemas. 'Syukurlah napasku tidak terganggu.'
"KYUNNIE!"
Terlihat seorang namja tinggi menjulang berlari kecil mendekatinya . Senyuman lebar terlihat diwajahnya. Saking lebarnya membuat wajah tampan itu terlihat bodoh.
Saat sudah sampai dihadapannya. Tanpa pikir panjang ia memukul kepala sang namja. "Kau ingin membuat jantungku copot dan mati terkena serangan jantung, huh, Shim Changmin."
"Appo~~" Changmin mengelus kepalanya yang sakit. "Mianhae, Kyunnie." Ucapnya dengan nada merajuk. Membuat Kyuhyun menatapnya datar.
"Aish, kau ini." Namja jenius itu berjalan meninggalkan sahabatnya yang kini masih memasang wajah merajuknya. Ia pun berjalan menyamakan langkah sahabatnya yang berjalan terlebih dahulu.
"Kamu sudah baikan, Kyu?"
"Ne, apa kemarin ada tugas atau semacamnya?" Kyuhyun mulai melihat-lihat area sekitarnya. Ternyata masih belum banyak siswa yang datang. 'Kepagian ternyata.'
"Ani. Kemarin hanya belajar seperti biasa saja." Changmin megeluarkan sebuah roti dan mulai memakannya. "Ah!"
"Ada apa?" Mata caramel Kyuhyun menatap Changmin yang masih bergelut dengan roti selainya.
"Hari ini ada test untuk pelajaran yang kemarin. Bagaimana denganmu, Kyu? Aku lupa untuk datang ke rumahmu dan memberikan catatannya. Aish Shim Changmin pabbo." Namja menjulang tinggi itu memukul kepalanya sendiri. "Appo..." dan mengeluh sendiri tentunya.
"Dan apa kau tau rumahku dimana?" Anak keluarga Shim itu menggeleng dengan polosnya. "Pabbo."
Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju kelasnya. Kyuhyun hanya diam mengamati keadaan sekitar, sedangkan Changmin masih melanjutkan pergelutannya dengan makanan yang ia bawa didalam tasnya. 'Food monster.' ucap Kyuhyun saat melihat kelakuan teman barunya itu.
Waktu berjalan begitu saja. Kini waktu beranjak siang. Test yang dikatakan Changmin pun akan segera dimulai. Changmin khawatir jika sahabat barunya itu tidak bisa mengerjakan testnya, apalagi guru ini terkenal dengan kedisiplinan, ketegasannya dan juga soal-soal yang sering mengecoh anak didiknya. 'Aish, Changmin pabboya.'
Kyuhyun yang melihat gelagat aneh sahabatnya tersenyum. Ia tau alasan kekhawatiran sahabatnya itu. "Tenang saja, tadi aku sudah belajar dari catatan yang kau buat kan."
Changmin menoleh dan memperhatikan raut sahabatnya. Terlihat dimatanya keyakinan dan ketenangan disana. "Tapi..."
"Lihat saja dalam waktu singkat aku sudah menyelesaikan soal yang menurutmu sulit."
"Tapi, Kyu, ini tidak seperti yang..."
Kyuhyun tersenyum lembut. Dan hal itu mampu membuat Shim Changmin bungkam. Tak bisa berbicara apapun lagi.
Test pun berlangsung tertib. Mengingat seosangnim yang tegas, tidak ada yang berani untuk melakukan kecurangan. Kyuhyun mengerjakannya begitu lancar. Begitu pun dengan Changmin, mengingat kedua namja itu merupakan murid berprestasi.
Waktu untuk pulang pun tiba. Kini terlihat dua namja berjalan beriringan menuju loker tempat barang-barang milik mereka disimpan. Kemudian Changmin menatap sahabatnya yang kini berjalan lurus.
"Kau memang pintar, Kyu."
Kyuhyun menampilkan evil smirknya saat mendengar pujian dari sahabatnya. "Tentu saja, apa kamu baru mengetahui hal itu, Changmin-ah?"
"Aniyo, aku sudah mendengarnya dari seosangnim yang lain. Tapi aku tidak mempercayainya, Kyu."
Smirk diwajah pucat Kyuhyun hilang seketika. Ingin rasanya memukul wajah bodoh itu. Tapi melihat ekspresi sahabatnya itu membuat ia mengurungkan niatnya itu. "Pabbo." Gumam Kyuhyun.
Saat membuka lokernya, Kyuhyun menemukan sebuah kotak berwarna merah. Dengan acuh ia memasukkannya kedalam tas dan melenggang pergi. Menyusul sang sahabat yang kini menunggunya di pintu gerbang.
Kini ia berada didalam bis. Changmin sudah sampai terlebih dahulu. Saat hendak mengambil ipod-nya ditas, ia baru ingat bahwa tadi ia memasukan kotak kedalam tasnya. Namun tak ada niatan untuk membukanya. 'Buka di rumah saja.'
Suara seorang penyanyi favoritnya terdengar oleh mengalun lembut ditelinganya. Penat yang ia rasakan sedikit berkurang setelah mencoba bersantai di bis. Kegiatan di sekolah tadi benar-benar menguras tenaganya, apalagi dia baru saja sembuh setelah kemarin ia sempat ambruk.
Sakitnya kemarin membawa sedikit perubahan akan sikap hyungdeulnya. Mereka menjadi lebih perhatian dari biasanya, walaupun tetap posisi Kyuhyun dibawah setelah pekerjaan mereka. Namun namja berkelahiran 3 februari itu mensyukurinya. 'Aku rela sakit jika bisa mendapat perhatian hyungdeul lebih dari biasanya.'
Tak terasa bis pun berhenti di halte yang ia tuju. Dengan sedikit memperbaiki letak tasnya, ia berjalan menuju rumah untuk beristirahat tentunya. Earphone masih melekat ditelinga Kyuhyun. Dengan langkah santai ia berjalan untuk lebih menikmati suasana sore yang sedang cerah. Langit nampak biru dan teduh, tidak terik seperti siang hari tadi.
Mata karamel Kyuhyun mendongak dan menatap langit biru dengan hiasan awan-awan kecil yang putih bersih. Terlihat sebuah garis lurus putih, bekas jejak pesawat yang melintasinya. Angin sepoi menggerakan rambut ikalnya. Beruntung rumahnya masih terdapat banyak pohon-pohon, hingga suasana sepanjang jalan menuju rumahnya terasa sejuk. Yah walaupun harus menempuh jarak jauh untuk sampai di pusat kota, perusahaan keluarganya bahkan sekolahnya.
"Segarnya." Gumam Kyuhyun.
Kemudian ia pun melanjutkan kembali perjalanannya. Bangunan megah tampak sudah terlihat. Ia pun hanya berdiam diri saja saat sudah sampai didepan gerbang yang menjulang tinggi. Melihat bahwa salah satu majikannya sudah datang, satpam yang bertugas di pintu depan langsung membukakan pintunya.
"Selamat datang, Tuan." sapa sang petugas keamanan rumah Kyuhyun.
"Gomawo, ahjussi." setelah mengucapkan terimakasih, Kyuhyun berjalan masuk menuju rumah dan kamarnya.
Suasana rumah itu masih terlihat sepi. Sepertinya keempat hyungdeulnya belum pulang. 'Yaaaah makan malam sendiri lagi.'
Dengan muka suntuk dan cemberut, ia masuk ke kamar dan melempar tasnya sembarangan. Tanpa berniat ganti baju, ia pun langsung merebahkan tubuhnya begitu saja. Kamarnya luas, berbagai peralatan canggih ada disana mengingat ia itu seorang gamers. Tentu saja hyung-hyungnya yang menyediakan itu semua. Terlihat peralatan medis yang kemarin ia pakai masih berada ditempatnya semula. 'Apa alat-alat itu harus menjadi penghuni baru kamarku?'
"Ngantuk." lirih Kyuhyun. Tak berapa lama kemudian ia pun masuk ke alam bawah sadarnya.
Kotak yang ia temukan tadi adalah sebuah kotak berwarna biru dengan pita berwarna merah darah terlihat teronggok dilantai. Sepertinya keluar akibat lemparan Kyuhyun yang pada saat itu tasnya tidak tertutup sempurna.
.
.
TBC
big thanks for my readers and review juga silent reader..
diharapkan chap 2 ini memberi tanggapan yah..
terimakasih buat : guest 6/22/13, baboddang 6/21/13, anastasya regiana 6/2/13, SSS 6/1/13, Winda 5/27/13, chairun 5/22/13, kiki 5/21/13, heeeHyun 5/21/13, lee minji elf 5/21/13, riekyumidwife 5/21/13, SunakumaKYUMIN 5/21/13, Blackyuline 5/21/13, 5/21/13 , IrumaAckleschia 5/21/13, ChoithyaraELF 5/21/13, ShinJoo24 5/21/13, kyu kyu 5/21/13, yunia christya 5/21/13, lyELF 5/21/13, Okta1004 5/21/13, BlueberryCake-LSoRa 5/21/13, hikmajantapan 5/20/13, kiky 5/20/13, ayu wandira 5/20/13
jeongmal kamsahamnida.. :)
maaf gabisa balas satu review-nya, sibuk mengurus bayi.. jadi babysitter.. xD
review lagi yaaaahhhh.. Doumo Arigatou gozaimasu
by zizi Kirahira Hibiki69
fb : Zizi Kirahira Hibiki
twitter, line, wechat and kakao : ichalmaida
