Tittle : "Uri Dongsaeng Part 3″
Main Cast : Cho Kyuhyun as Choi Kyuhyun,
Park JungSoo as Choi JungSoo
Lee Sungmin as Choi Sungmin
Choi Siwon as Choi Siwon
Lee Donghae as Choi Donghae
Genre : Brothership, Family
Pagi hari ini matahari nampak enggan menyebarkan cahaya dan kehangatannya. Sampai sore tadi bahkan sekarang waktu menunjukan pukul 9 malam cuaca pun tetap sedikit mendung dan hawa dingin siap menerpa siapa saja yang keluar rumah tanpa pakaian tebal. Seperti seorang namja kecil berambut coklat ini. Ia sedang berjalan di gang-gang sempit, kotor nan gelap.
Seragam yang ia pakai tadi pagi kini tidak dalam keadaan rapi. Terlihat lusuh dan basah akibat air yang keluar dari pori-pori kulit ditubuhnya. Tangan kanannya memegang dada, rasa sakit akibat benturan dengan benda tumpul nan keras masih jelas ia rasakan. Sudut bibirnya sedikit robek dengan darah yang sudah mulai mengering. Rambutnya lengket akibat keringat dingin yang keluar.
"Ukh.. sakittt.. hyung.. hyungdeul.. appo.."
Rentetan kata yang mewakili rasa sakitnya terucap dari bibir pucat itu. Kedua matanya nampak terlihat redup. Sepertinya kesadaran akan meninggalkannya untuk saat ini. Namun ia harus menahannya sampai ia berhasil menemukan sebuah taksi lagi untuk bisa sampai ke rumahnya.
Setelah sekian lama ia berjalan, akhirnya ia sampai diujung gang. Dapat ia lihat beberapa mobil berlalu lalang. Namun para pengendara itu tidak terlalu memperhatikan apalagi memberinya tumpangan. Saat matanya melihat sebuah taksi melintas, lantas ia menghentikan kendaraan itu. Sang sopir mengernyit saat melihat keadaan calon penumpangnya tersebut.
"Apakah tujuanmu ke Rumah Sakit, Nak?"
Belum sempat Kyuhyun menjawab, rasa pening dan sakit menyerang kepalanya tiba-tiba. Tanpa bisa ditahan lagi, kesadarannya semakin lama semakin menjauhinya.
Sang sopir langsung keluar dan mencoba menyadarkan namja tersebut. "Yak! Bangun, Nak.. sadarlah…" namja paruh baya itu berusaha menyadarkan calon penumpang itu. Tiba-tiba ia melihat sebuah kartu terselip disakunya.
'Choi Kyuhyun'
Tanpa basa-basi sang sopir memasukkan Kyuhyun kedalam taksinya. Dan menjalankan kendaraannya itu menuju ke Rumah Sakit. Iya, tempat itu yang menjadi tujuan selanjutnya. Mengantarkan Kyuhyun kesana untuk mendapatkan perawatan.
#* Uri Dongsaeng *#
"Kyunnie.. sadarlah saeng.." Donghae terlihat tengah memegang jari jemari sang dongsaeng yang sejak beberapa jam yang lalu belum sadar. Hyungdeulnya berkumpul ditempat serba putih dan bau obat itu.
"Kenapa bisa seperti ini, hyung?" Tanya Siwon.
"Molla.. Hyung sendiri kaget saat mendapatkan kabar seperti ini dari pihak Rumah Sakit." Leeteuk mengetahui kabar seperti ini saat ia berada di kantor. Ia langsung bergegas pergi ke Rumah Sakit dengan perasaan Khawatir yang luar biasa.
Cklek!
Terlihat seorang namja cantik memasuki ruangan itu. "Jungsoo, aku sudah memeriksa kesehatan bocah itu secara menyeluruh. Ia tidak mendapat luka serius walaupun lecet dan lebam tidak dapat dihindarkan. Namun sepertinya pneumothorax yang ia idap waktu kecil ada kemungkinan kambuh lagi…"
"Mwo?!" Keempat namja tampan itu berteriak kaget.
"Aish.. pelankan suara kalian.. ini di Rumah Sakit, bukan di kebun binatang.." Heechul sedikit membentak hyung dan dongsaengnya itu. "Ne, penyakitnya bisa saja kambuh. Namun selama ia mengkonsumsi obat-obatan yang kuberi, mungkin ia akan tetap dalam kondisi normal. Kemungkinan ini akibat dari benturan keras diparu-parunya.."
"Ne, apapun lakukanlah agar ia sehat selalu, Chullie." Leeteuk kembali menatap magnae-nya. Namun mata itu masih tetap saja terpejam.
"Ck, sebenarnya apa yang terjadi.. Baru sebulan yang lalu ia kutangani dalam keadaan sekarat.. sekarang harus kutangani kembali dalam keadaan penuh luka lecet.. sebenarnya diantara kalian ada yang mempunyai musuh? Ini benar-benar seperti sesuatu kejadian yang disengaja oleh orang-orang jahat.." Heechul kembali mengeluarkan suaranya. Tapi bukan dalam nada membentak, melainkan nada penasaran. "Seperti cerita di film-film saja.." imbuh namja cantik itu dengan suara amat pelan.
"Aniyo. Kami tidak mempunyai musuh…" Sungmin menjawab pertanyaan dari uisa cantik itu. "Untuk lebih jelasnya kita tunggu Kyuhyunnie sadar dulu…"
Tak berapa lama kemudian. Terdengar suara lenguhan dari bibir seseorang. "Uuuhhh…."
"Kyunnie…." Donghae langsung mengeratkan pegangannya pada jemari Kyuhyun.
Kedua kelopak mata Kyuhyun tampak bergerak pelan. Perlahan kelopak itu terbuka, menampilkan manik coklat yang indah dan bening. Mengerjapkan perlahan agar retina matanya bisa menyesuaikan cahaya di ruangan tersebut.
"Kyunnie.. gwenchana saeng?" Tanya Sungmin.
Kyuhyun menatap satu persatu hyungdeul-nya. Sepertinya kesadaran belum sepenuhnya ia dapatkan. Membuat keempat hyung tampannya khawatir. "Kyunnie?"
"Ne, nan gwenchana hyungie." Matanya menutup sejenak, menenangkan debaran jantungnya saat ia menyadari dimana ia berada. "H-hyung.. Aku ingin… pulang…"
"Kyunnie? Waeyo, saeng.." Siwon menyadari rasa resah diperkataan dongsaengnya. Tangannya yang lebar mengelus puncak kepala Kyuhyun agar ia merasa tenang.
"Aku ingin pulang, hyung.. Hikss.."
Leeteuk membulatkan matanya. Ia baru menyadari apa penyebab kondisi aneh Kyuhyun. Ia merutuki dirinya sendiri, yang melupakan ketidaksukaannya terhadap Rumah Sakit. "Ne, sebentar lagi kita akan pulang."
"Kenapa Kyunnie harus pulang, Hyung? Ia baru saja sadar." Tolak Donghae.
Namja bernama Choi Jungsoo itu tidak menjawab pertanyaan Donghae. Ia malah menatap sahabat karib sekaligus dokter di keluarganya. "Chullie, periksalah dulu Kyuhyun setelah itu aku akan membawanya pulang. Mengerti kan maksudku?"
Heechul mengangguk. Ia mengerti maksud dari perkataan Leeteuk. Kemudian ia mendekati ranjang Kyuhyun dan memeriksa namja berumur 17 tahun itu. "Nah Kyu, aku akan memeriksamu terlebih dahulu, setelah itu kamu boleh pulang."
"Jeongmal, hyung?" tanya Kyuhyun.
"Ne." Jemari lentik Heechul membuka piyama yang dikenakan Kyuhyun dibagian dadanya. Ia memeriksa detak jantungnya. Segelintir pemeriksaan sudah dilakukan dokter bernama lengkap Kim Heechul. "Semuanya baik, tapi kuharap kamu lebih banyak beristirahat, Kyu. Jangan terlalu lelah.." mata Heechul menatap tajam namja yang ada didepannya. "Dan ikuti semua perkataan Hyungdeul-mu, jika tidak, kamu akan kumasukkan ke ICU, arra?"
Mendengar ancaman hyung evil-nya, Kyuhyun mengangguk cepat-cepat. Ia tak mau masuk kesana lagi. Cukup waktu itu yang terakhir kali ia kesana. 'Ani.. aniyo.. aku tidak mau kesana.. ish.. dasar hyung setan..'
"Kamu mengata-ngataiku, Kyunnie?" seolah tau isi pikiran Kyuhyun, Heechul menatap intens namja didepannya.
Kyuhyun dengan cepat menggelengkan kepalanya. Sungguh ia tidak ingin berhadapan dengan namja yang memiliki julukan evil itu. Bisa dikatakan raja dari rajanya evil. Ck, sepertinya Leeteuk dan dongsaeng-nya sudah tau siapa yang meracuni otak polos magnae-nya.
"Baiklah, kamu bisa membawanya pulang, Jungsoo."
"Ish, harusnya kamu memanggilnya 'Teuki-hyung', Chullie-ah.. padahal sudah beberapa kali diberitahu untuk memanggilnya 'hyung..' ck…" gumam Kyuhyun mengoreksi kalimat Heechul. Tentu saja terdengar oleh sang pemilik gelar raja evil tersebut.
Cklek!
"Sunggie, siapkan blankar. Kita akan membawa bocah ini ke ICU." Ternyata yang masuk ke ruangan itu seorang uisa berkepala besar, Kim Yesung.
"Eoh?" Yesung bingung dengan perkataan Heechul yang tiba-tiba itu.
"ANIYO!" Kyuhyun berteriak dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Semuanya tertawa melihat tingkah magnae keluarga Choi itu. Kecuali Yesung yang masih memproses perkataan dari Heechul. Namja bak cinderella itu sadar akan kediaman dongsaeng yang membantunya di Rumah Sakit. "Jangan memikirkan ucapanku yang tadi, Sunggie. Lupakan saja."
Walaupun masih tidak mengerti, Yesung hanya menganggukkan kepalanya. Seolah terhipnotis akan kata-kata yang Heechul lontarkan. Kepala besar ternyata tidak menjamin kecepatan seseorang dalam berpikir. Mungkin itu kalimat yang ada dibenak Heechul.
#* Uri Dongsaeng *#
Setelah beberapa jam ditempat yang penuh dengan bau obat-obatan dan alkohol, akhirnya Kyuhyun bisa menempati kamarnya lagi. Ia sungguh tidak betah dengan tempat itu. Tapi ia merasa bahwa ia tidak akan bisa jauh-jauh dari tempat itu.
'Huft, akhirnya kembali ke rumah juga.'
"Kyunnie.." terdengar suara Leeteuk memanggil namanya. Kyuhyun pun menoleh dan menatap sang hyung.
"Waeyo, hyung?" Ia menatap hyung-nya sambil menyamankan diri ditempat tidur berukuran medium itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu tadi? Apa kamu baru saja mengalami penculikkan atau penganiayaan seperti yang dikatakan oleh Heenim?" Leeteuk menatap dongsaeng-nya itu dengan raut wajah khawatir.
"Ani, hyung, waktu itu….."
#* Uri Dongsaeng *#
Kyuhyun terlihat keluar dari pintu gerbang sekolahannya. Nampak ransel hitam dipunggungnya dan sebuah headset putih menyumpal telinganya. Changmin yang merupakan sahabatnya tidak terlihat bersamanya.
"Aish, terpaksa pulang dengan bis. Changmin pabbo.." terdengar gerutuan dari mulutnya.
Saat hendak menuju halte, ia melihat seorang namja sedang terduduk dipinggir jalan. Nampaknya ia sedang kebingungan, terlihat dari raut wajahnya yang resah seperti itu. Entah kenapa, rasa penasaran menghinggapi hati Kyuhyun. Ia pun mendekati namja yang ternyata sudah berusia lanjut.
"Waeyo, ahjussi?" Namja tua itu tersentak saat mendengar suara seseorang dibelakangnya.
"Eoh? Aku kehilangan dompetku karena dicuri."
Kyuhyun menatap iba namja paruh baya didepannya. Tak sengaja ekor matanya melihat pergelangan kaki namja itu yang terluka. "Ommo, kaki ahjussi terluka."
"Ne, tadi sempat terjatuh saat hendak mengejar pencuri tersebut." Tangannya mengurut pelan kaki yang terasa pegal itu.
"Sini kuobati terlebih dahulu." Kyuhyun membuka tasnya dan mengambil peralatan obat mini yang selalu disediakan Sungmin. 'Ada manfaatnya juga Minnie-hyung memasukkan kotak ini.'
Walaupun tidak semahir Leeteuk dan Sungmin, ia merawat luka ahjussi didepannya. Setelah memberi perban dipergelangan kakinya, Kyuhyun kembali memasukkan kotak obat tersebut dan membantu namja itu untuk berdiri. "Aku akan mengantarmu pulang, ahjussi. Dimana rumahnya?"
"Eoh? Tidak perlu, gomawo sudah merawat lukanya. Aku akan pulang sendiri saja."
"Aniyo, biar aku yang mengantarmu, ahjussi. Aku khawatir jika terjadi apa-apa denganmu dijalan." Kyuhyun tetap bersikeras untuk mengantar namja tersebut. "Choi Kyuhyun, ahjussi."
"Ne? Ah.. Kim Yongsoo." Namja paruh baya tersebut menyambut uluran tangan Kyuhyun.
"Kajja kita pulang, ahjussi." Kyuhyun memapah namja yang bernama Yongsoo itu.
Tak berapa lama kemudian, ia melihat sebuah taksi dan menghentikan laju kendaraan tersebut. Setelah menyebutkan alamat yang dituju, sang sopir menjalankan kendaraannya. Tempat tersebut melewati sebuah hutan mahoni yang batangnya sudah tumbuh besar dan tebal. Bukan hutan dalam skala besar, namun hutan kecil di pusat kota.
"Jauh juga yah ahjussi." Kyuhyun melihat keadaan sekitar dengan seksama. Udara segar menyambut rongga paru-parunya. "Tapi udara disini sangat segar. Aku tidak tahu ada tempat seperti ini di Seoul."
"Tentu saja, tempat ini sedikit orang yang mengetahuinya."
Kyuhyun menggumam tidak jelas saat menjawab pernyataan namja paruh baya disampingnya. Ia tidak ingin melepaskan pandangan matanya terhadap panorama alam yang dominan warna hijau itu. 'Sangat segar..'
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Kim Yongsoo. Rumah yang jauh lebih kecil daripada kediaman Kyuhyun yang bagaikan sebuah istana kecil.
"Gomawo sudah mengantarkan ahjussi sampai ke rumah. Masuk dulu ke rumah, Nak. Maaf rumahnya kecil." Tawar namja bermarga Kim tersebut setelah turun dari taksi dengan Kyuhyun disampingnya.
"Ani, gomawo ahjussi. Kajja, aku bantu dulu ahjussi masuk ke dalam setelah itu aku pamit pulang. Aku takut hyungdeul mencemaskanku."
"Kalau tidak mau masuk dulu, kamu segera pulang. Jika hyungdeul-mu khawatir, ahjussi takut jika mereka akan mengerahkan seluruh polisi di Seoul bahkan luar Seoul untuk mencarimu.." ucap Yongsoo sambil tersenyum.
"Ahaha, ahjussi bisa saja. Tapi.. apa yang ahjussi katakan bisa saja terjadi." Kyuhyun tertawa lebar. "Kalau begitu aku pamit pulang."
"Ne, hati-hati dijalan.."
Kyuhyun sempat melambaikan tangannya dan melemparkan senyuman pada namja paruh baya tersebut. Setelah cukup jauh, ia kembali mendudukan dirinya dengan tenang. Namun matanya tidak lepas dengan pepohonan yang mereka lewati.
Perjalanan kembali dilalui dengan jalur yang tadi. Semuanya tampak normal, tidak ada yang ganjil. Namun saat akan melewati belokan terakhir dikawasan yang ada hutannya, taksi tersebut mengalami pecah ban. Laju mobil menjadi tidak terkendali. Sang sopir panik luar biasa. Hingga akhirnya taksi tersebut menabrak sebuah pohon mahoni yang cukup tua dan besar.
Brakk!
Suara hantaman terdengar begitu nyaring. Kap mobil terbuka dengan asap yang mengepul keluar. Sang sopir sudah tidak sadarkan diri akibat kepalanya terantuk stir. Keadaan Kyuhyun tidak jauh berbeda. Kepalanya tidak terluka, namun tubuhnya menghantam kursi yg didepannya dengan sangat keras. Kesadarannya masih bertahan ditubuhnya yang terasa sakit.
'Jika tetap disini, mereka akan membawaku ke Rumah Sakit juga..'
Dengan sekuat tenaga, Kyuhyun menggerakkan badannya agar ia bisa keluar dari sana. Matanya sempat melihat keadaan sopir yang sudah tidak sadarkan diri. Namja bersurai brunutte itu berhasil keluar. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu dan sang sopir, ia menghubungi 911 terlebih dahulu. Tepat disaat ia sudah melaporkan ada kecelakaan dan membutuhkan ambulans, handphone-nya mati.
'Aish, mati.. jika begini bagaimana aku bisa menghubungi hyungdeul.. ukh.. appo..' rintihnya saat dadanya terasa begitu sulit meraup oksigen.
Dengan tenaga yang tersisa ia berjalan meninggalkan tempat itu. Ia berharap, ia bisa sampai ditempat yang dilalui banyak kendaraan.
#* Uri Dongsaeng *#
"Seperti itu kejadiannya, hyung. Mianhae sudah membuatmu khawatir.." namja berumur 17 tahun itu menunduk, tanda penyesalan yang amat dalam.
Keempat hyung-nya menatap khawatir sang dongsaeng. Donghae sudah menangis daritadi, saat dongsaeng-nya menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpanya. Leeteuk menghampiri Kyuhyun yang terbaring di tempat tidurnya, tangan putih itu mengusap lembut kepala Kyuhyun.
"Gwenchana, saeng.. yang terpenting kamu selamat sekarang, Kyu.." Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap hyung yang memiliki tittle angel without wings itu. Leeteuk menatapnya penuh kelembutan dan kehangatan. Membuat Kyuhyun merasa tenang dan damai.
"Lalu sopir itu bagaimana keadaannya, hyung? Apa ada berita soal kecelakaan itu di media?" Ya, Kyuhyun memang mengkhawatirkan sopir yang ia tinggalkan tadi.
"Hyung baru saja mendapat informasi, kalau sopir itu selamat. Tidak perlu khawatir, ne." Sungmin menjawab pertanyaan Kyuhyun.
"Jinja?" Sungmin mengangguk penuh keyakinan. "Aaah, syukurlah.."
"Terus kenapa kamu meninggalkannya, Kyu? Apa sebegitu takutnya kamu dibawa ke Rumah Sakit?" Donghae memang penasaran dengan alasan Kyuhyun.
"Kan sudah kubilang, hyung. Aku terpaksa meninggalkan sopir itu karena tidak mau dibawa ke Rumah Sakit…" kemudian mimik Kyuhyun berubah cemberut.. "sepertinya usahaku gagal, sopir yang terpaksa aku tinggalkan demi menghindari tempat laknat itu tapi akhirnya tetap di tempat mengerikan itu.. menyebalkan."
"Pabboya…" Siwon mengomentari perkataan dongsaeng-nya yang manis itu.
Pipi chubby Kyuhyun menggembung saat mendengar ejekan hyung yang paling tinggi tersebut. Membuat Siwon semakin melebarkan tawanya. 'Sungguh manis jika sedang kesal seperti itu..'
"Sudah, lebih baik kamu beristirahat sekarang, Kyu. Ingat dengan pesan Heenim kan?"
"Bukan pesan, Hyung, melainkan ancaman. Kok ada yah uisa bersifat evil seperti itu.. ckckck.." magnae keluarga Choi tersebut menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Ne, walaupun sifatnya evil, tapi kemampuannya tidak diragukan lagi, Kyunnie.." Leeteuk berusaha sabar menghadapi kelakuan dongsaeng-nya tersebut. "Ia sudah beberapa kali menyembuhkanmu.. kamu itu sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Heenim.."
"MWO?! Hyung, jangan samakan aku dengan uisa berwajah cantik tapi menyeramkan itu.."
"Sudah, sekarang tidurlah. Agar besok pagi keadaanmu semakin membaik." Leeteuk membetulkan letak selimut Kyuhyun. Dan sebelum pergi ia mengecup keningnya sebentar. "Jjaljayo, Kyunnie.."
Memang kelelahan masih bersemayam ditubuhnya, ia menjawab pernyataan Leeteuk setengah sadar. "Ne, jjaljayo hyungiee.."
Setelah memastikan Kyuhyun sudah terlelap, mereka berempat keluar ruangan dan masuk ke kamar masing-masing setelah saling mengucapkan ucapan selamat malam. Suasana di rumah itu pun berganti semakin sunyi. Hanya suara tetesan hujan yang masih terdengar.
#* Uri Dongsaeng *#
Suasana yang semalam sempat terasa dingin, kini mulai hangat karena pancaran matahari di pagi ini. Embun masih tetap menempel dideaunan membuatnya terlihat segar dan berkilau. Udara pagi ini terasa begitu segar, sangat segar sampai begitu banyak orang yang memaksakan diri bangun pagi untuk meraup banyak-banyak oksigen agar paru-paru kembali bersih.
Namun tidak berlaku di kediaman keluarga Choi. Semua penghuni tepatnya 4 orang namja tampan kini tengah disibukkan dengan permintaan sang dongsaeng yang macam-macam. Masih ingat dibenak mereka sebelum terkena jebakan dongsaeng evil-nya itu, mereka panik saat mengetahui Kyuhyun mengalami demam tinggi. Sungmin yang biasanya tenang, tadi terlihat resah saat mengetahui kondisi dongsaeng-nya yang tiba-tiba down kembali.
"Hae-hyung~~~ bawakan PSP-ku di kamar mandi… Wonnie-hyung, eng tolong tempatkan televisi itu tepat didepanku, ne. Minnie-hyung~~~ buatkan aku nasi goreng dan Teuki-hyung, temani aku disini yaaa~~"
"Aish, Kyunnie.. Hyung bisa terlambat ke kantor…" Leeteuk mencoba sabar saat kembali menghadapi tingkah kelewat manja Kyuhyun. "setelah pulang, hyung janji akan menemanimu sampai kamu tidur.."
"A-N-I-Y-O.. aku mau ditemani sekarang,hyungieee~~ aku kan sedang sakit.." Kyuhyun mulai melancar teknik memelasnya.
Leeteuk dan ketiga dongsaeng-nya mati-matian bertahan dan tidak terpengaruh dengan teknik itu. "Ani, kamu sarapan sekarang dan beristirahatlah."
"Benar apa yang dikatakan, Teuki-hyung. Istirarahtlah jika tidak ingin wajahmu menjadi kusut dan jelek dengan lingakaran hitam dibawah matamu, PandaKyu.." ucap Siwon dengan wajah super polos.
"Aku tampan, hyung.." Kyuhyun menggembungkan pipinya.
"Tapi kalah tampan denganku kan?" Sontak Siwon tertawa penuh kemenangan saat melihat wajah kekalahan dongsaeng-nya yang dikenal dengan evil boy.
Terlihat Sungmin masuk dengan membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas air putih. Kemudian ia menaruhnya di nakas tepat disamping tempat tidur Kyuhyun.
"Hyung berangkat dulu, kamu baik-baik di rumah ne. Secepat mungkin kami akan menyelesaikan pekerjaannya. Istirahatlah, cepat sembuh uri dongsaeng." Leeteuk kembali mengecup kening Kyuhyun yang masih hangat. Diikuti oleh Sungmin, Donghae dan Siwon. Membuat Kyuhyun semakin menekuk wajahnya dengan kedua pipi menggembung.
"Ingat, jangan terlalu lelah jika kamu tidak ingin masuk ICU. Arra?" Leeteuk kembali mengingatkan perkataan Heechul.
"Arraso, hyungiee~~ sana kalian pergi saja. Terutama kamu, Wonnie-hyung.. menyebalkan.."
Siwon tertawa renyah mendengar 'pengusiran secara halus' oleh dongsaeng-nya. Ia tidak merasa sakit hati sama sekali. Memang sifat Kyuhyun seperti itu dari dulu. Ketus dan bermulut tajam.
"Bawakan aku cheese cake lagi, hyung."
Siwon mengangguk dan mengangkat jempolnya tanda ia mengerti. Kenapa Siwon tahu bahwa yang dimaksud oleh Kyuhyun yaitu dirinya? Tentu saja, karena waktu itu Siwon yang membawakan kue beraroma manis pada adiknya yang manis itu.
Kini tinggallah Kyuhyun seorang diri. Di ruangan besar yang penuh dengan barang elektronik nan canggih. Perlengkapan game dan cyber Kyuhyun. Magnae keluarga Choi memang maniak game kan.
"Aish, membosankan.. gagal membuat mereka tetap diam di rumah. Menyebalkan.."
Lama ia melamun menatap langit-langit kamarnya yang didominasi dengan warna baby blue. Hinggal akhirnya ia mendapatkan ide untuk membunuh rasa bosannya. Ia ambil handphone yang terletak disamping tempat tidur, dan dengan cepat menghubungi seseorang disana.
"Yeoboseyo.. Min, ke rumah sekarang ne?"
/"Ini bukan hari libur, aku mau berangkat sekolah, Kyuhyun-ah.. aku bukan anak pembolos sepertimu.."/ terdengar suara Changmin disebrang telpon. "/Jangan mengajakku untuk membolos, aku bukan anak jenius.."/
"Aku sediakan banyak.. ani sangat banyak makanan disini.."
/"Oke, aku akan segera kesana.."/
FLIP!
Setelah sambungan telpon tersebut berakhir, Kyuhyun memasang muka sweatdrop. 'Tekad untuk tidak membolos, kalah hanya karena makanan.. pabbo..'
Kemudian Kyuhyun melanjutkan sarapannya sambil menunggu kedatangan Changmin. Setidaknya ia mendapatkan teman untuk membunuh rasa bosan yang setia pada dirinya.
.
.
30 menit kemudian, terdengar ketukan di pintu kamar Choi Kyuhyun. Saat itu Kyuhyun bersender setengah tidur di tempat tidurnya langsung menegakkan duduknya tiba-tiba. "Appo… Ne, masuklah."
"Jeongmal mianhae, Tuan. Saya mengantarkan teman Anda seperti yang anda pesan tadi." Terlihat Changmin dibelakang namja yang berstatus sebagai kepala pelayan. Namja paruh baya tersebut, mempersilahkan Changmin untuk masuk. "Jika ada yang Anda butuhkan, silahkan panggil saya atau pelayan yang lain."
"Ne, gomawo ahjussi." Dapat Kyuhyun lihat, seorang namja tinggi masuk dan mendekati tempatnya. Senyuman lebar menghiasi wajahnya yang terkesan polos tapi bodoh. "Masuklah, Min.."
"Beberapa kali kesini, tetap saja rumahmu membuatku kagum, Kyu." ujar Changmin dengan tidak menghilangkan senyuman lebarnya.
"Aish, sudahlah.. mianhae sudah membuatmu membolos hari ini, Min."
"Memang kenapa kamu tidak masuk sekolah? Sakit lagi, Kyu?" Kedua mata Changmin meneliti keadaan sahabatnya. "OMOOO, kenapa tubuhmu ada luka lecet, Kyu?"
"Kemarin saat pulang, taksi yang kutumpangi menabrak pohon. Jadinya yah seperti ini…" Kyuhyun menunjukkan salah satu luka lecet di tangannya. "Sekarang temani aku main.." melihat Changmin tidak memberikan reaksi, Kyuhyun menambahkan beberapa kata lagi. "Tenang saja, makanan dan minuman sudah aku siapkan."
"Aniyo, bukan itu. Aku merasa bersalah padamu, Kyu. Jika saja kemarin aku-"
"Stop it! Itu bukan salahmu, Min. Kajja kita main saja sekarang. Aku yakin kamu takkan bisa menang dariku." Evil smirk Kyuhyun bermain di wajahnya.
"MWO?! Pasti.. aku pasti mengalahkanmu, lihat saja nanti."
Kyuhyun turun dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju kesalah satu sudut ruangan yang terdapat seperangkat alat game diikuti Changmin dibelakangnya. Mereka berdua duduk diatas karpet tebal dan lembut. Dan memulai permainan mereka.
Bermain game surganya bagi seorang Choi Kyuhyun, sedangkan makanan surganya bagi seorang Shim Changmin. Permainan mereka kadang disambil dengan memakan camilan yang sudah disediakan oleh pelayan di rumah namja berambut ikal coklat tersebut. Hingga wilayah disekitar mereka penuh dengan sampah plastik yang berserakan.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kedua namja tampan itu tertidur diatas karpet. Salah satu dari mereka membuka kelopak matanya. 'Jam 4 sore, waktunya pulang..'
Changmin, namja yang terbangun itu bangun secara perlahan. Ia renggangkan badannya yang terasa pegal tersebut. Sepertinya mereka berdua kelelahan akibat bermain sepanjang hari ini. Makan siang pun terpaksa diantar pelayan ke kamar Kyuhyun.
"Aigo~~, Kyunnie sedang sakit. Jika tetap tidur disana ia akan kedinginan.. ck, pabboya.." Changmin pun berdiri dan mulai mengangkat tubuh Kyuhyun untuk dipindahkan ke tempat tidur. "Ringan sekali tubuhmu, Kyu.."gumam namja bermarga lengkap Shim Changmin.
Tanpa berkata apa-apa lagi, namja berpostur tinggi itu melangkah keluar ruangan. Membuka dan menutup pintu secara perlahan agar tidak mengusik tidur si empunya kamar. Changmin pamit pulang ketika ia melihat kepala pelayan sedang menelpon di ruang depan, setelah itu ia pulang meninggalkan rumah Kyuhyun.
#* Uri Dongsaeng *#
Cklek!
Terdengar suara pintu terbuka. Disana seorang namja berdiri, hendak masuk kedalam kamar. Tangan kirinya membawa sesuatu yang merupakan pesanan sang dongsaeng.
Ketika ia masuk kedalam, seketika saja matanya melebar melihat keadaan di ruangan tersebut. Kacau balau. Berantakan, penuh dengan sampah plastik dan minuman dimana-mana. "Aish, seperti ada angin puting beliung saja."
Kemudian matanya menangkap sosok sang dongsaeng sedang tertidur pulas. Wajahnya polos, nampak begitu damai tidak terusik dengan pergerakan yang Siwon buat.
"Neomu kyeopta…" tangan lebar Siwon mengelus pipi chubby Kyuhyun. Membuat sang empunya menggeliat lucu seperti kucing.
"Eoh, hyung sudah pulang?" Suara serak Kyuhyun menyambut telinga Siwon.
"Ne, hyung bawakan pesananmu." Dapat dilihat oleh kedua mata Kyuhyun, sebuah plastik dengan merk yang sangat familiar diingatan Kyuhyun.
"Ne, gomawo hyung. Taruh saja dulu, aku mengantuk."
"Tidurlah kembali, sekarang sudah malam. Badanmu juga masih hangat, istirahatlah saeng. Jjaljayo.." siwon mengecup kening Kyuhyun yang terasa hangat saat mata itu kembali tertutup.
#* Uri Dongsaeng *#
"Kyuhyun sudah tertidur, wonnie?" Tanya seorang namja berwajah tampan.
"Ne, Teuki-hyung. Sepertinya ia sangat kelelahan hari ini." Siwon mendudukkan dirinya disalah satu sofa yang kosong.
"Apa yang tadi dilakukan Kyunnie sepanjang hari ini ahjussi?" Sungmin bertanya pada kepala pelayan saat namja paruh baya tersebut masuk ke ruang keluarga untuk mengantarkan teh.
"Tadi siang, Tuan Kyuhyun mengundang temannya untuk bermain disini. Jika tidak salah namanya Tuan Changmin."
"Eoh, Shim Changmin. Sepertinya Kyunnie sangat kesepian.." Donghae berujar sambil memperhatikan teh hangatnya di cangkir berwarna putih nan indah tersebut.
"Ne, tapi kita bekerja untuk masa depannya dan kebutuhannya kan.. belum lagi penyakitnya yang sedari kecil dia idap. Ia perlu perawatan terbaik, Hae-ah." Leeteuk menanggapi dongsaeng-nya yang terkesan childish dan polos.
"Perkataan hyung memang benar, tapi…."
"Sudahlah Hae-ah, yang penting kita berusaha untuk dirinya." Sungmin menenangkan Donghae yang memang terlihat gelisah.
"Ne, aku mengerti, hyung." walaupun belum sepenuhnya mengerti dengan perkataan sang hyung, ia tetap berpura-pura saja. Tidak ingin memulai pertengkaran di malam hari.
"Besok hyung akan pergi keluar kota untuk beberapa hari ini. Kalian jagalah Kyuhyun, jangan sampai ia sakit lagi." Leeteuk mengambil secangkir teh dan meminumnya sedikit.
"Tapi, aku juga pergi keluar kota bersama Donghae." Sungmin cukup kaget dengan perkataan Leeteuk. Pasalnya ia pun punya jadwal pergi keluar kota. "Bagaimana denganmu, Wonnie?"
"Aku tidak ada jadwal keluar kota, hanya saja besok akan ada pertemuan dengan klien penting dari Aussie."
"Syukurlah, setidaknya kamu berada di rumah. Acaranya sampai jam berapa? Larut malam?" Seluruh perhatian kini mengarah kepada Siwon.
Namja bertubuh tinggi itu menganggukkan kepalanya. Ia memang memperkirakan acara akan berakhir lewat tengah malam, karena sang klien menginginkan waktu santai bersamanya setelah rapat nanti. Membuat ketiga hyung-nya menghela napas pasrah.
"Sungmin-hyung, apakah tidak apa jika hyung yang berangkat sendiri?" Pertanyaan Donghae membuat semuanya menoleh serempak.
"Wae geudae, Hae-ah?"
"Aku ingin bersama Kyunnie besok. Bisakah?" Namja penyuka itu memasang tatapan memelas. Yah jujur ia ingin sekali menghabiskan waktu bersama dongsaeng-nya.
"Baiklah, aku akan pergi sendiri." Jawaban Sungmin membuat kedua mata Donghae berbinar senang.
"Jinja?" namja berwajah aegyo itu mengangguk pasti. "Gomawo, hyung."
Sungmin memberi senyuman manis saat Donghae mengucapkan terimakasih kpadanya. Berbagai rencana telah tersusun dikepala Donghae. Ia sungguh-sungguh ingin menghabiskan waktu bersama magnae-nya itu.
"Baiklah sekarang sudah tidak ada masalah lagi. Sebaiknya kita tidur dan beristirahat." Ucapan Leeteuk menutup pertemuan kecil antar saudara malam itu.
#* Uri Dongsaeng *#
"Kyunnie, bangunlah~~" suara Donghae menggema diruangan berukuran cukup besar itu. Membuat sang empunya kamar mengerang kesal.
"Berisik, fishy-ah.." Kyuhyun menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tidur nyenyaknya terganggu dengar suara sang hyung.
"Aish, sopanlah sedikit dengan hyung-mu. Ayo bangun. Ppaliwa…" kedua tangan Donghae menarik kuat-kuat selimut berwarna baby blue tersebut. Hingga akhirnya terlihat sesosok namja berumur 17 tahun yang masih menutup kelopak matanya.
"Aniyoooo~, hyung sarapan saja terlebih dulu." Kyuhyun kembali membungkus tubuhnya dengan selimut tebal yang ditarik oleh hyung-nya.
"Baiklah, nanti segera sarapan. Ah yah, hyung minta cheese cake-nya yah. Setengahnya saja." tanpa menunggu jawaban dari adiknya, Donghae langsung pergi meninggalkan ruangan yang sudah seperti langit luas itu.
Mungkin karena terlalu mengantuk, Kyuhyun langsung melanjutkan mimpi yang sempat tertunda akibat dari gangguan hyung-nya. Dengkuran halus pun terdengar menandakan bahwa dia sudah tertidur pulas.
Sedangkan di teras rumah yang terlihat bersih, indah dan teduh itu, terdapat empat orang namja. Tiga diantaranya memakai pakaian formal yaitu memakai sebuah jas. Sedangkan yang seorang lagi memakai pakaian rumahan.
"Kami berangkat dulu. Kamu jaga Kyuhyun, Hae-ah. Awasi dia, jangan sampai ia kelelahan dan atur makannya tepat waktu." Leeteuk memberi nasihat sebelum ia masuk kedalam kendaraan mewahnya. Donghae mengangguk patuh.
"Dan dia harus meminum obatnya. Jika ia tidak mau, paksa saja kalau perlu hubungi Heechul-hyung untuk memaksanya." Sungmin ikut member nasihat pada Donghae. Dan ia pun kembali menganggukan kepalanya saat mendengar perkataan Sungmin.
"Ah hyung…" Donghae menatap Siwon yang sepertinya akan memberi nasihat juga. Ia menatap dongsaeng-nya dengan serius. Walaupun Siwon lebih muda darinya, Donghae percaya akan kata-kata dari semua hyung maupun dongsaeng-nya. "Jika hyung sudah masuk ke rumah, pakailah celana yang benar hyung. Celana yang hyung pakai terbalik."
Sontak ketiga pasang mata termasuk Donghae melihat celana yang dipakai olehnya. Memang celana yang ia kenakan terbalik, buktinya saku yang seharusnya ada dibelakang kini berada didepan. Membuat dia tersipu malu. Dan ketiga hyung-nya tersenyum maklum akan kecerobohan yang dilakukan Donghae.
"Sudah-sudah, lebih baik kalian berangkat saja. Hati-hati dijalan, Teuki-hyung, Sungmin-hyung dan Siwonnie." Donghae tersenyum manis seraya melambaikan tangannya saat kedua hyung dan satu dongsaeng-nya sudah memasuki mobilnya masing-masing.
Ketika mobil itu sudah tidak terlihat oleh kedua mata Donghae, ia pun masuk kedalam rumah. Sambil menunggu sang magnae bangun, ia bersantai di halaman belakang.
.
.
.
Waktu bergulir begitu saja. Tanpa terasa waktu kini menunjukkan pukul 11 siang. Disebuah ruangan berdominasi warna biru, seorang namja terbangun dari tidur panjangnya. Mengerjapkan mata secara perlahan. Menguap kecil saat kantuk masih tetap bersemayam ditubuhnya.
"Sudah siang ternyata." Gumam namja tersebut yang tidak lain adalah Kyuhyun.
Letih masih mendera tubuhnya. Rasa sakit pun kadang masih terasa. Walaupun tidak sesakit saat sehabis kecelakaan. Dengan wajah masih setengah mengantuk, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu ia melangkah menuju ruang makan. Tentunya untuk sarapan. Yah walaupun bukan disebut sarapan lagi, tapi makan siang.
Saat melewati halaman belakang, dapat ia lihat seorang namja yang ia kenal sedang duduk disebuah kursi santai. Dengan sebuah payung besar menutupi orang tersebut dari sengatan dan pancaran matahari.
Kyuhyun melangkah, mendekati namja yang kini asyik dengan laptopnya. "Eoh? Hae-hyung tidak berangkat ke kantor?"
Donghae menoleh kebelakang. Disana sudah berdiri seorang Choi Kyuhyun dengan ekspresi kaget tapi lucu. "Ne, hari ini hyung meliburkan diri."
"Pembolos." Komentar Kyuhyun saat mendengar alasan Donghae ada di rumah karena tidak bekerja.
"Aish, hyung sengaja melakukan ini untukmu." Namja penyuka ikan tersebut cemberut saat dirinya disebut pembolos. "Dan lagi ini pertama kalinya hyung meliburkan diri, Kyu. Makanya tidak bisa disebut pembolos. Kamu ini…"
"Sama saja.." cibir Kyuhyun.
"Kamu sudah baikkan? Apa masih ada yang sakit?" Donghae meneliti bagian tubuh Kyuhyun yang masih terdapat perban.
"Ne, semuanya baik-baik saja." Kyuhyun melanjutkan langkahnya menuju dapur. Tentu saja diikuti oleh Donghae dari belakang.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kamu sarapan dan bersiaplah. Kita akan pergi dan menghabiskan waktu bersama." Perkataan Donghae sukses membuat gerakan Kyuhyun terhenti.
"Mwo?" Kyuhyun berharap ini bukan mimpi.
"Kita akan pergi jalan-jalan. Sekarang bersiaplah." Senyuman lembut terpampang dibibir Donghae, membuat namja bergelar GameGyu itu percaya akan kata-katanya.
Dengan wajah bahagia dan penuh antusias, Kyuhyun menyelesaikan acara makannya. Setelah itu ia pergi ke kamar untuk bersiap. Donghae menatap kepergian dongsaeng-nya sambil tersenyum lama ia tidak melihat binar kebahagiaan diraut wajah pucat tersebut.
.
.
.
Disebuah taman ria, terlihat 2 namja tampan sedang menunggu antrian. Mereka hendak masuk kesebuah wahana ekstrim yaitu roller coster. Namja yang kecil terlihat biasa saja, sedangkan yang besar sudah memperlihatkan mimik ketakutannya.
"Kyu, hyung tunggu dibawah saja ne. Kamu saja yang naik itu sendirian."
Namja yang besar alias Donghae melihat kearah adiknya kemudian melihat keatas. Terlihat sebuah kereta sedang melaju dengan kecepatan tinggi mengikuti rel-rel yang telah dipasang rapi dengan tingkat keamanan yang terjamin juga. Dapat didengar oleh kedua telinganya, suara jeritan para penumpang begitu kereta tersebut meluncur dari atas kebawah yang tentunya dengan kecepatan cepat.
"Kyunieee~~" dengan suara yang begitu memohon dan memelas. "Hyung masih ingin hidup, Kyunnie."
"Hae-hyung, ini tidak akan membuat mati seseorang." Kyuhyun menatap hyung-nya dengan serius. "Kecuali jika ia mengidap penyakit jantung, kemungkinan ia akan langsung tewas ditempat begitu roller coster itu berjalan."
Tampak Donghae akan menanggapi perkataan Kyuhyun, namun namja berambut ikal tersebut tidak memberi kesempatan untuk hyung-nya berbicara. "Dan hyung tidak memiliki penyakit itu, arra?"
"Ayolah, Kyu.. biarkan hyung tunggu dibawah saja.. ne.. ne.. ne.." sekarang semuanya menjadi bingung. Siapa diantara mereka yang menjadi hyung dan dongsaeng, pasalnya kini Donghae sedang merajuk sambil menarik-narik lengan baju Kyuhyun.
"Aish.. Berhentilah bersikap seperti itu, hyung.." tatapan memelas semakin dilancarkan oleh Donghae. Karena tidak tega -tepatnya malu- melihat kelakuan sang hyung, akhirnya Kyuhyun mengijinkan Donghae untuk menunggunya dibawah. "Tapi sediakan aku eskrim porsi besar."
"Okay~, hyung tunggu di kedai eskrim ne." Dengan langkah setengah melompat, Donghae meninggalkan adiknya di antrian. Kyuhyun hanya sweatdrop melihat kelakuan hyung-nya yang satu itu.
.
.
Dilain tempat, Donghae sedang duduk sambil menikmati eskrim strawberry-nya. Sesekali matanya melihat salah satu keramaian yang menurutnya menarik. Saat itu matanya menangkap sesosok namja yang familiar diingatannya. Namun ia tidak begitu ingat siapa namja tersebut.
Kemudian kedua mata coklat itu melihat sebuah stand yang menyediakan permainan lempar ring. Ia merasa tertarik dengan stand tersebut, karena itu ia menghampirinya. Disana terdapat berbagai macam hadiah dari sebuah boneka besar hingga sebuah permen gula-gula.
"Ahjussi, aku ingin main." Donghae diberi beberapa buah ring yang akan ia lempar.
Sudah beberapa kali ia coba, namun belum ada satu pun yang berhasil. Ia tidak menyadari sudah lama ia bermain disana.
'Aish, pabboya..'
"Pabboya.." sebuah suara terdengar dibelakang Donghae.
"Aish, kamu mengaggetkanku, Kyu. Sudah mainnya?" Kyuhyun mengangguk.
"Ck, daritadi belum ada satupun yang masuk kesana?" Namja berambut ikal tersebut menggelengkan kepalanya.
"Susah, Kyu. Coba saja sendiri?" Donghae menyerahkan sisa ring yang kebetulan sisa 2 buah lagi.
Kyuhyun pun menerimanya dan ancang-ancang akan melemparkannya tepat kearah tiang pendek tersebut. Dengan berbagai hadiah yang telah disediakan.
Plush!
Yup, satu ring masuk kearah yang Kyuhyun tuju. Sekarang sasaran yang dituju oleh Kyuhyuh yaitu, tiang yang berada paling ujung. Yang mungkin hadiahnya lebih bagus dari yang pertama.
Ring yang tersisa sudah ia pegang oleh tangan kanannya. Dengan memusatkan konsentrasi terhadap tiang itu, ia pun melemparkannya.
Plush!
Yup! Ring itu pun kembali masuk. Donghae bersorak kegirangan. Kyuhyun hanya tersenyum melihatnya. Penjaga stand itu menyerahkan sebuah boneka Teddy Bear besar dan sebuah kotak kayu dengan ukiran indah.
"Yaaaa~h sayang sekali.." Donghae cemberut saat menerima hadiah yang didapat.
"Waeyo, hyung?" Kyuhyun mengernyit mendengar nada kecewa hyung-nya.
"Hyung kira akan mendapatkan boneka nemo itu. Ternyata hanya sebuah Teddy Bear. Ini sih cocoknya untuk anak perempuan." Mereka berdua kini duduk kembali di kedai eskrim.
Tidak tega melihat wajah kecewa hyung-nya, Kyuhyun pun kembali ke stand tadi. Ia tidak mau mendengarkan ocehan Donghae lebih lama lagi.
"Ahjussi, bisa aku tukarkan boneka dan juga kotak ini dengan boneka nemo itu?" Sang penjaga standa terheran-heran mendengar permintaan salah satu pelanggannya.
"Ne, tapi tidak usah ditukar dengan keduanya. Cukup dengan boneka itu saja." Kyuhyun mengangguk dan menyerahkan kembali boneka beruang berukuran besar tersebut. "Gomawo, Ahjussi."
Si penjaga stand tersebut tersenyum ramah. "Ne, cheonma."
Dengan langkah ringan, ia kembali menuju tempat kakaknya yang mungkin kini masih cemberut. Perkiraannya tidak meleset, dapat ia lihat, sang hyung tertawa ceria sambil mengangkat tinggi-tinggi boneka ikan tersebut.
"Eoh? Hae-hyung?" Terlihat seorang namja bertubuh mungil datang bersama namja lainnya yang berwajah errr… datar..
"Eoh? Wookie-ah!" Donghae berseru saat ia berhasil mengingat siapa namja didepannya itu. "Sedang bermain disini juga?"
"Tentu saja." Mata namja yang dipanggil 'Wookie' itu melihat Kyuhyun dengan raut bingung. "Namdongsaeng-mu, hyung?"
"Ah! Ne.. Ne.. dia magnae-ku, namanya Choi Kyuhyun." kali ini Donghae yang menatap Kyuhyun, "nah Kyu, ini Ryeowook, Kim Ryeowook. Teman hyung."
"Choi Kyuhyun imnida." Kyuhyun membungkukkan badannya. Sebagai tanda perkenalan yang sopan.
"Kesini bersama siapa, Wookie?" Dengan cengiran lebar di wajahnya, Donghae bertanya pada teman, tepatnya Hobae saat di universitasnya dulu.
"Ne, aku kesini bersama Kibum. Saudara sepupuku."
"Kim Kibum imnida." Namja yang terlihat dingin itu memperkenalkan dirinya kepada Donghae dan Kyuhyun.
"Bagaimana jika kalian bergabung saja, ne?" Donghae menawarkan Ryeowook dan Kibum untuk bergabung bersamanya. "Bolehkan, Kyu?"
Tentu saja Kyuhyun mengangguk. Toh ga mungkin kan dia menolak begitu saja. Lagian sepertinya akan menyenangkan jika bermain bersama. Kini mereka berempat hanya menghabiskan waktu di kedai eskrim tersebut. Waktu berlalu begitu saja, tanpa terasa sudah hampir 30 menit mereka hanya duduk sambil sesekali bercerita.
"Kita main kemana lagi, hyung?" Tanya Ryeowook.
"Rumah hantu!" Jawab Kyuhyun dan Kibum. Mereka berdua saling pandang. Kyuhyun tersenyum lebar sedangkan Kibum hanya tersenyum kecil.
"A-N-I-Y-O!" Seru Donghae dan Ryeowook.
"Kita berdua saja yang masuk, hyung. Kita tinggalkan dua orang pengecut ini disini." Kyuhyun menampilkan evil smirknya dan Kibum mengeluarkan Killer smile-nya. Melihat itu, Donghae dan Ryeowook menjadi kesal.
"KAMI BUKAN PENGECUT!" Koor keduanya. Membuat seringaian dan senyum mereka kian melebar.
Kyuhyun dan Kibum melenggang meninggalkan kedua namja yang penakut itu. Sepertinya akan ada evil satu lagi yang lahir dicerita ini.
Seharian ini, waktu mereka habiskan berempat. Walau baru kenal hanya beberapa jam yang lalu, tapi Kyuhyun merasa sudah lama mengenal mereka terutama Kibum.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Sungguh mereka tidak menyadarinya jika kini matahari sudah mulai tenggelam dan langit berubah menjadi gelap yang bertabur gemerlap bintang.
"Kita pulang, Kyu. Kelihatannya kamu sudah lelah. Mianhae, tadi hyung membawamu pergi ke seaworld." Donghae merasa bersalah saat melihat wajah dongsaeng-nya yang sudah pucat itu.
"Kkkk.. gwenchana, hyung. Malah aku senang sekali hari ini." Namja berambut ikal itu tersenyum lebar.
"Kalau begitu kita pulang juga, Bummie." Kibum mengangguk. Ia setuju dengan usul hyung-nya, karena ia juga merasa lelah setelah banyak berkeliling.
"Kita berpisah disini. Kapan-kapan mainlah ke rumah, Wookie-ah, Bummie-ah."
"Ne, hyung. Terimakasih untuk hari ini. Kajja kita pulang, Bummie." Ryeowook mengajak Kibum berjalan menuju mobil yang mereka pakai. Begitu juga dengan Donghae dan Kyuhyun.
.
.
.
"Kyunnie, hyung panggilkan Heechul-hyunhgjuga Yesung-hyung ne. Hyung khawatir keadaanmu akan semakin buruk." Donghae terlihat panik saat melihat suhu tubuh dongsaeng-nya begitu tinggi.
"Gwenchana, hyung. Sekarang hyung tenanglah. Pergi ke dapur dan ambillah air dingin juga handuk kecil." Donghae mengangguk. "Dan bukalah kotak obat.. hhh.. disana ada obat penurun demam, ambillah sebutir."
Dengan gerak cepat, namja penyuka ikan itu pergi kebawah. Kenapa tidak meminta bantuan maid? Saat itu para maid beserta kepala pelayan sedang sibuk, sehingga enggan bagi Donghae untuk meminta bantuan.
Tak lama kemudian, namja yang lebih tinggi dari Kyuhyun, masuk ke kamar sang dongsaeng. Ia terlihat membawa sebuah troli dengan berbagai macam benda diatasnya.
"Bagaimana sekarang, Kyu?" Tangan Donghae memeras handuk yang sebelumnya ia celupkan kedalam air dingin dan meletakkannya dikening Kyuhyun yang terasa panas.
"Pusing, hyung…" kedua mata Kyuhyun tertutup saat pusing kembali menderanya.
"Makanlah dulu obatnya, setelah itu tidur, ne?"
Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia sedikit mengangkat tubuhnya agar obat kecil itu lancar masuk melewati kerongkongnya. Dengan dibantu Donghae, Kyuhyun kembali membaringkan tubuhnya saat obat itu selesai diminum.
'Apakah selalu begini jika Kyunnie sedang sakit?' Batin Donghae. Ia sungguh menyesal tidak memberi perhatian lebih lagi terhadap magnae-nya tersebut. 'Kesepian disaat rasa sakit menyerang tubuhnya. Mianhae, saeng. Jeongmal Mianhae.'
Setetes air mata mengalir dipipi mulus namja bernama Choi Donghae. Penyesalan datang kepadanya saat melihat wajah Kyuhyun yang memerah karena demam tinggi yang dideritanya.
Malam itu dilewati Donghae yang harus merawat Kyuhyun sendirian. Siwon ternyata tidak pulang malam itu, karena Klien-nya meminta ia untuk menemaninya di hotel. Jadinya malam-malam yang sepi dirasakan oleh Donghae dengan kepanikan luar biasa. Demam Kyuhyun tak kunjung turun, ingin ia menghubungi hyung-nya dan menangis keras. Namun jika ia lakukan itu hanya akan membuat hyungdeulnya khawatir.
.
.
Keesokkan paginya, demam Kyuhyun sudah turun. Kini ia masih tidur nyenyak bersama mimpinya. Begitu juga dengan Donghae, setelah semalaman ia menjaga Kyuhyun, kantuk sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia pun masih menikmati alam bawah sadarnya.
Baskom, gelas dan troli masih tetap ditempatnya. Donghae terlalu mengantuk untuk membereskan semua itu.
Cklek!
Empat orang namja masuk kedalam saat pintu itu berhasil dibuka. Satu diantaranya berpakaian putih-putih. Mereka berjalan mendekati dua orang namja yang masih terlelap.
"Demamnya sudah turun, kalian tidak usah khawatir." Ternyata seorang uisa yang baru saja masuk dan memerika keadaan Kyuhyun.
"Gomawo, Sunggie." Leeteuk mendekat dan membangunkan Donghae. "Hae-ah, bangun."
Merasa ada seseorang yang menyentuh tubuhnya, Donghae pun kembali ke alam nyata. Dapat ia lihat ketiga hyung dan seorang dongsaeng-nya kini berdiri dihadapannya.
"Teuki-hyung… hikss.." tiba-tiba saja Donghae menghambur kepelukan Leeteuk saat melihat sosoknya itu nyata. Leeteuk tersenyum melihat kelakuan Donghae.
"Waeyo, saeng?" Tangannya mengelus punggung namja penyuka ikan tersebut.
"Hikss.. semalam.. hikss.. Kyunnie membuatku takut.. hikss.. demamnya.. demamnya sangat tinggi.. hikss.."
"Ssst… uljima, saeng.. uljima… semuanya baik-baik saja.." Leeteuk mengusap lembut kepala Donghae. "Lihatlah, berkat kamu, demamnya Kyuhyun turun pagi ini. Kamu hebat, Hae-ah."
"Ne, benar kata Teuki-hyung, berkat Hae-hyung merawat Kyunnie semalam, sekarang Kyunnie sudah tidak demam lagi. Hae-hyung hebat." Puji Siwon.
"Ne, jadi sekarang tenanglah." Sungmin tersenyum lembut saat Donghae menatapnya dengan mata yang masih basah oleh airmata.
Akhirnya Donghae melepaskan pelukannya dan mengusap kedua matanya yang berair itu. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Kekhawatirannya yang semalam sudah hilang berkat kalimat-kalimat menenangkan dari ketiga saudaranya.
"Nnngghh~~" sepertinya Kyuhyun sudah terbangun dari tidurnya. Yesung langsung mendekat kearahnya.
"Gwenchana, Kyunnie?" Yesung bertanya saat ia melihat kedua mata Kyuhyun terbuka.
"Waaaaa!" Kyuhyun berteriak ketika matanya yang terbuka melihat sesosok manusia dengan wajah datar tapi dengan aura yang suram, membuat yang ada disana kaget seketika. "Yesung… hyung?"
"Aish, jangan teriak pagi-pagi, Kyu." Donghae menggerutu sambil mengelus dadanya. Menenangkan sang jantung yang dipaksa untuk berdetak lebih keras dan cepat.
"Jangan menyalahkanku, hyung. Kenapa Yesung-hyung ada disini?" Kemudian matanya menangkap sosok lain disana. "MWO?! Teuki-hyung?! Sungmin-hyung?! Wonnie-hyung?! Kalian disini?!"
"Aishhhh, sudah kubilang jangan berteriak, Kyunnie!" Donghae kesal karena pagi ini jantungnya kembali dipaksa bekerja lebih aktif lagi.
"Ya! Hyung! Kenapa kesal padaku sih?" Kyuhyun tak terima saat mendengar gerutuan Donghae yang terkesan menyalahkannya.
"Kyunnie~~" namja penyuka ikan itu menyerukan nama adiknya dengan penuh penekanan. Saat Leeteuk akan melerai keduanya, terdengar bunyi ketukan dari pintu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuklah." Leeteuk sedikit berteriak agar terdengar sampai keluar kamar.
Saat pintu dibuka, terlihat seorang namja paruh baya masuk ke ruangan tersebut. "Maaf mengganggu, saya mengantarkan sarapan beserta sebuah paket untuk Tuan Kyuhyun."
"Masuk saja, Ahjussi. Paketnya taruh saja di meja, bawa makanannya kesini. Aku sangat lapar." kedua mata Kyuhyun berbinar saat melihat sarapannya datang.
Kepala pelayan Kim meletakkan nampan berisi makanan di meja samping tempat tidur. Kemudian ia meletakan paketan berwarna coklat di meja yang tadi diintruksikan oleh namja bertittle evil tersebut.
Setelah pelayan Kim meninggalkan kamar Kyuhyun, keenam namja muda itu memulai kembali obrolan. Sedangkan sang pemilik kamar mulai melahap sarapan paginya.
"Apa ada bagian tubuhmu yang sakit, Kyu?" Yesung memulai kembali pekerjaannya sebagai seorang uisa.
Namja yang ditanya oleh uisa itu terlihat menghentikan kegiatan makannya. Kemudian ia menatap Yesung, "aniya, tidak ada yang sakit, Hyung. Hanya pegal saja, mungkin kemarin aku terlalu antusias menikmati wahana-wahana disana."
"Aigooo~, kamu itu baru sembuh Kyu. Kenapa malah mencoba banyak permainan?" Tanya Leeteuk.
"Sudah sangat lama aku tidak kesana, hyung. Sekalinya diajak oleh Hae-hyung, pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu." Perasaan bersalah kembali menyeruak ke relung hati mereka. "Kemarin benar-benar puas, hyung." Kyuhyun tersenyum lebar saat mengingat kegiatannya kemarin.
Donghae tersenyum melihat antusias Kyuhyun. Ia jadi terbayang sosok dongsaeng-nya yang dulu. Kyuhyun yang sangat ceria dan sangat aktif, walaupun sekarang masih sama, tapi jika mengenalnya sudah lama, pasti akan merasakan perubahan dalam dirinya.
"Syukurlah jika kamu senang." Leeteuk, Sungmin, Siwon dan Yesung pun tersenyum. Mereka semua benar-benar berharap senyuman dan raut bahagia diwajahnya tidak akan pernah terhapuskan.
'Tetaplah tersenyum seperti itu, Kyunnie.'
TBC
buat yang review aku ucapkan banyak terimakasih..
maaf ga bisa balas satu-satu atau sebutin satu-satu..waktunya mepet banget..
cuman yang pasti aku senang tiap baca review yang diberikan..
nambah semangat buat lanjutan fict ini...
jeongmal kamsahamnida Minna-san.. #campur pake bahasa Jepang ga apalah ya#
kalo mau lebih cepat bisa langsung liat di blog, disana suka lebih dulu update daripada di ffn.. hehehe..
