Tittle : Uri Dongsaeng
Chapter : 6
Cast : Cho Kyuhyun as Choi Kyuhyun
Park Jung Soo as Choi JungSoo
Lee Sungmin as Choi Sungmin
Lee Donghae as Choi Donghae
Choi Siwon as Choi Siwon
Genre : Brothership, family
Rate : T
"Appa.."
"Chagi.."
"Appa.."
"Appa.. ssakit.. aku takut..."
"Chagi, mianhae... uhuk..."
"Hh.. hosh.. hosh.. hosh.." seorang namja paruh baya terbangun tiba-tiba dengan peluh membanjiri wajah juga seluruh tubuhnya.
Ia mengusap kasar wajahnya yang terlihat lelah tersebut. Kemudian terdiam dan menatap kosong kedepan.
Ia pun beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di ruangan tersebut.
Malam semakin dingin. Ditambah rintik-rintik hujan yang masih setia menenami sang malam.
Dilain ruangan yang masih satu rumah dengan namja paruh baya itu, terlihat seorang namja yang masih terlelap. Wajahnya masih terlihat sangatlah pucat.
Namja yang ternyata adalah Kyuhyun, jari-jarinya terlihat bergerak disusul dengan pergerakan kelopak matanya. Tak lama, mata itu pun terbuka menampilkan manik cokelat yang terlihat jernih namun kosong.
Ia mengerjap sesaat untuk menyesuaikan retina matanya terhadap penerangan disana yang memang terlihat kurang pencahayaannya. Erangan tertahan keluar dari mulutnya tatkala rasa sakit muncul dari paru-parunya.
"Ukh..."
Matanya terbelalak kaget saat ia menyadari bahwa kedua tangan dan kakinya terikat. Yang masih disyukuri yaitu mulut dan matanya tidak tertutup.
"Ukh.. i-ini dimana.. hyung.. h-hyungdeul.."
Klek!
"Sayang sekali hyungdeul-mu tidak ada disini."
Mata Kyuhyun menyipit. Ia berusaha untuk melihat sosok yang baru saja masuk ke ruangannya. Namun karena disana pencahayaannya sangatlah kurang, ia pun tetap tidak bisa melihat wajah sosok itu.
"S-siapa.. d-disana?" Kyuhyun berusaha menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa tiba-tiba berdetak begitu cepat. Saking cepatnya, sampai terasa sakit.
"Aku? Aku adalah suami dari orang yang telah dibunuh oleh kedua orangtuamu dan kamu."
"Mwo?! Apa.. maksud.. mu?" Entah kenapa, atmosfir yang dirasakan Kyuhyun terasa begitu mencengkam. Ingin sekali ia meremas dadanya, namun karena terikat ia pun hanya bisa memejamkan kedua matanya erat-erat.
Tap!
Tap!
Tap!
Tap!
Terdengar langkah kaki menuju kearah dimana Kyuhyun berada. Ia semakin was-was ketika sosok itu semakin mendekat.
Cruakkk!
Zrarrrrr!
Sebuah kilat terdengar begitu keras. Cahayanya mampu menyorot wajah sosok itu.
"Kau..." Kyuhyun tak mampu melanjutkan perkataannya.
#
#
#
#
/Kim Jongin../
Sebuah nama tiba-tiba terlintas dibenak Leeteuk. Kini ia berada di ruang kerjanya. Ia sungguh tidak percaya dengan semua kenyataan yang ada.
Ia masih mengingat dengan jelas nama yang diucapkan Heechul ketika mereka bicara tadi siang.
Nama itu, nama orang yang telah meneror, melukai dan menculik dongsaeng-nya, Kyuhyun.
'Apa motif dia sebenarnya?' Itulah yang ada dipikiran namja berwajah lembut tersebut.
/Aku belum menemukan apa motif dibalik itu semua, mengingat ia telah lama bekerja di keluarga Choi dan ia juga yang merawat Kyuhyun dari lahir./
Leeteuk mengacak rambutnya gusar. Sungguh ia khawatir dengan keadaan dongsaeng-nya saat ini. Apalagi ia masih dalam keadaan lemah.
"Ya Tuhan..." Leeteuk menelungkupkan kepalanya di meja. Perlahan airmata keluar dari balik kelopak yang terpejam itu.
"Kyu.. Kyunnie.." gumam Leeteuk.
#
#
#
ZRASSSSHHHHH-
Hujan malam itu semakin lebat. Semua tanah, bangunan, jalanan di kota Seoul basah akibat curahan hujan kala itu.
"A-ahjusi.. waeyo?"
Sosok yang ternyata adalah pelayan Kim atau Kyuhyun sering memanggilnya Kim Ahjussi, mendekat kearah Kyuhyun. Tangannya terjulur hendak meraba wajah pucat milik Kyuhyun.
"Kenapa? Kamu ingin tahu alasannya?" Kyuhyun mengangguk pelan. "Mudah saja, itu karena kamu dan kedua orangtuamu yang telah membunuh istri dan juga anakku."
Kedua bola mata Kyuhyun melebar ketika mendengar penuturan dari pengasuhnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan maksud dari penuturannya itu.
"Ah kamu lupa?!" Kyuhyun tetap bergeming. Ia berusaha mencari tahu apa maksud dari semua itu. "Tentu saja kamu lupa, karena kamu sendiri melupakannya atau tepatnya dibuat lupa oleh keluargamu sendiri."
Kim Jongin nama lengkap pria itu mencengkram wajah Kyuhyun bagian bawah.
"Kh.."
"Akan dengan senang hati aku mengingatkannya, Tuan Muda Kyuhyun.."
#
#
#
Terlihat 5 orang namja sedang duduk di Ruang Keluarga. Meskipun waktu sudah memasuki pergantian hari, mereka tidak merasa ngantuk sama sekali. Sesekali ada yang menguap, namun ia tetap mempertahankan kesadarannya.
Siwon, menelungkupkan kepalanya diatas kepalan kedua tangannya. Donghae, Yesung dan juga Heechul hanya berdiam diri. Sedangkan Sungmin terlihat berjalan masuk sambil membawa beberapa gelas teh.
"Apa polisi masih belum menemukannya?" Tanya Donghae entah kepada siapa.
Semuanya masih terdiam.
"Apa Kyunie akan baik-baik saja?" Donghae kembali menitikan airmatanya. Sungmin dengan segenap kasih sayangnya mengelus bahu namja itu.
"Ia akan baik-baik saja." Meskipun namja bergigi seperti kelinci itu berkata demikian, namun hatinya sendiri ragu.
Tap! Tap! Tap!
Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Langkah itu semakin lama semakin mendekat. Kini terlihat sosok Leeteuk yang lumayan berantakan. Kedua matanya nampak memerah setelah menangis tadi.
Tanpa berkata-kata ia pun duduk di kursi yang kosong.
Sungmin menyodorkan segelas teh hangat. "Gomawo, Sungminie."
Sungmin hanya tersenyum menanggapi ucapan terimakasih kakaknya tersebut.
"Aku sungguh tidak percaya bahwa Kim ahjusi pelaku dari semua ini." Ucapan Siwon mampu membuat semuanya menoleh kearah dirinya. "Selama ini Kim ahjusi sangat menyayangi, Kyuhyun kan."
Semua kembali hening.
"Apa karena kecelakaan waktu itu?" Ucap Donghae asal.
Semuanya terkecuali Yesung dan Heechul, membelalakan matanya. Kini semuanya masuk akal.
"Apa maksudmu, Donghae?" Tanya Heechul.
"Kenapa aku sampai melupakan kejadian itu." Gumam Leeteuk dengan nada kesal. Ia bodoh telah melupakan kejadian tersebut.
"Kini semuanya jelas, kenapa Kim ahjusi melakukan semua ini terhadap Kyuhyun." Ucapan Sungmin semakin membuat Yesung dan Heechul penasaran.
"Bisa jelaskan maksud dari semua ini?"
#
#
#
Flashback
"Ahjuma, ikut Kyunie yah.."
Terlihat seorang anak berumur sekitar 7 tahun menarik baju seorang wanita. Senyuman diwajah anak itu terlihat lebar dan berseri membuat wanita tersebut ikut tersenyum.
"Ada apa, Kyunie?"
Masih dengan tawa lebarnya, Kyuhyun menggenggam ujung baju wanita yang ternyata adalah pengasuhnya.
"Hari ini Kyu, appa dan eomma mau pergi ke taman hiburan. Kim ahjuma dan Jonghyun ikut, ne?"
Wanita itu kembali tersenyum. "Tidak bisa, Kyunie. Itu liburanmu bersama kedua orangtuamu, bukankah selama ini kamu menantikannya kan?"
Kyuhyun mengangguk. "Tapi Kyu ingin kalian juga ikuttt~~ "
Kim ahjuma menghela napasnya. Kembali mencoba untuk memberi pengertian kepada majikan kecilnya tersebut. "Tapi ahjuma tidak bisa ikut, Kyunie. Mianhae."
Mata milik Kyuhyun berubah menjadi sendu. "Hikss.. Kyu ingin ahjuma dan Jonghyun juga ikut.. hikss.."
Kini Kim ahjuma terlihat bingung. Tapi sungguh ia tak pantas ikut berlibur dengan majikannya.
"Kyu, jangan menangis ne.."
"Hiks.. tapi ahjuma ikut.. hikss.. huweeeee..."
Tangisan Kyuhyun semakin keras. Mampu membuat semua orang mendengarnya. Bahkan pemilik perusahan Choi itu nampak menuruni tangga dengan tergesa.
"Ada apa chagi?" Seorang wanita paruh baya dengan gayanya yang anggun mendekat kearah Kyuhyun.
"Hikss.. Kyu ingin.. hikss.. Kim Ahjuma dan juga.. hikss.. Jonghyun ikut bersama kita ke taman bermain.. hikss.." pipi chubby-nya basah karena tetesan airmata. "Biar nanti.. hikss.. Kyu ada yang.. hikss.. menemani.."
Kim Ahjuma hanya tersenyum canggung. Sedangkan Tuan dan Nyonya Choi hanya menghela napas melihat anak bungsunya tersebut.
"Ne, mereka juga akan ikut." Tuan Choi menatap ramah wanita yang selama ini sudah merawat anaknya. "Kalian bersiaplah, sebentar lagi kami akan berangkat."
Kim Ahjuma mengangguk paham. Sedangkan Kyuhyun tersenyum lebar saat mendengar ucapan ayahnya.
"Gomawo appa..." ucap Kyuhyun sambil memeluk kaki ayahnya.
Tuan Choi tersenyum, kemudian menggendong anaknya dan mengacak rambutnya dengan lembut.
"Jangan mengacak rambut Kyu, Appa. Nanti Kyu kalah tampan sama Siwonie-hyung.."
Ucapan Kyuhyun barusan mengundawang tawa kecil bagi orang yang disana. Termasuk seseorang yang berada dibalik tembok, Kim Ahjusi.
.
.
"Yak, kita akan berangkattttt~~" teriak Kyuhyun dengan riangnya. "Hyungdeul tidak ikut?"
Terlihat 4 orang namja yang usianya diatas Kyuhyun sedang berdiri dipelataran rumah. Mereka melihat tingkah laku sang dongsaeng yang terbilang lucu.
"Ani, Kyu.. kami semua sibuk dan mempunyai acara masing-masing.."
Kyuhyun menggembungkan pipinya. "Bhuuuu~ hungdeul sok sibuk. Menyebalkan.."
"Nanti aku yang akan menemanimu main, Kyuhyun-ah.." ucap seorang anak yang berumur tak jauh dari Kyuhyun.
"Ne, benar.. ada Jonghyun yang akan menemaniku.. hyungdeul pabbo.." Kyuhyun menjauh sebelum ia mendapatkan jitakan dari hyung-nya yang sangat menyukai ikan.
"Kyunieeee~~" teriak Donghae. Leeteuk, Sungmin dan Siwon hanya tertawa kecil.
"Saa, kami berangkat dulu." Ucap Nyonya Choi.
"Leeteuk-ah, jaga dongsaengdeul-mu."
Namja paling besar diantara keempat itu menganggukkan kepalanya. "Ne, Appa.."
Mereka pun berangkat menuju taman bermain sesuai rencana. Perjalanan begitu riang ketika mendengar celotehan Kyuhyun dan juga Jonghyun. Tuan dan Nyonya Choi, begitu juga dengan Kim Ahjuma hanya tersenyum simpul. Kim ahjusi yang saat itu bertugas sebagai supir pun tersenyum.
Namun tak disangka, ketika jarak tujuan dari mobil hanya tinggal satu kilometer, dari arah berlawanan datang sebuah truk. Karena kaget, Kim ahjusi pun membanting stir.
Tak ayal mobil yang berpenumpangkan 6 orang tersebut menabrak pembatas jalan dan berguling ke sebrangnya.
Brak!
"Uhuk.. ukh.."
"Eomma.. kh.. Appa.."
Terlihat Kyuhyun Kecil sedang meringis kesakitan. Darah mengalir dari kepalanya, begitupun dengan perut bagian kiri yang entah bagaimana bisa tertusuk pecahan kaca.
At Rumah Sakit
Kecelakaan yang menimpa mobil keluarga Choi begitu menghebohkan kota Seoul. Wajar saja mengingat keluarga Choi memegang perusahaan besar yang mampu menstabilkan keuangan negara Korea.
Dua orang mengalami luka ringan, 1 orang tewas, 3 orang luka parah.
Kim ahjusi yang mendapat keajaiban hanya terluka dibagian kepalanya. Meskipun begitu istrinya terluka parah, dan anak semata wayangnya meninggal di tempat kejadian.
Kyuhyun dan ibunya mengalami luka yang serius. Ginjal Kyuhyun tertusuk pecahan kaca hingga ia mengalami pendarahan hebat.
Diluar ruang UGD, terlihat Leeteuk beserta ketiga dongsaeng-nya menunggu dengan perasaan cemas luar biasa. Bahkan tangisan Donghae tak kunjung berhenti setelah mendapatkan kabar buruk yang menimpa kedua orangtua dan adik bungsunya.
Siwon berusaha menenangkan sang hyung meskipun rona sedih masih menghiasi wajah tampannya. Begitupun dengan Sungmin yang masih setia mengelus punggung kakaknya tersebut.
CKLEK!
Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Sontak keempatnya mendekati namja berpakaian putih-putih itu.
"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Leeteuk.
"Tuan Kim mengalami luka ringan, anaknya meninggal dunia, sedangkan istrinya kritis." Mendengar hal itu, membuat mereka semakin bersedih. "Tuan dan Nyonya Choi mendapat luka cukup parah, namun berhasil kami tangan. Sedangkan Kyuhyun-ssi...,
"Ada apa dengan adikku, Euisa? Ia baik-baik saja kan?" Tanya Donghae.
Sang Euisa menghela napasnya. "Keadaanya sangat parah. Ia mengalami pendarahan hebat akibat ginjalnya yang tertusuk pecahan kaca." Keempatnya shock mendengar hal tersebut. "Kini keadaannya koma.."
Beberapa minggu pun berlalu, istri Kim ahjusi dan kedua orangtua Kyuhyun akhirnya meninggal dunia. Sedangkan Kyuhyun masih dalam keadaan koma akibat pendarahan.
End of Flashback
#
#
#
"Jungsoo, jika memang alasannya seperti itu, kenapa dia harus meneror bahkan melukai Kyuhyun? Itu kecelakaan kan, itu pun dia yang membawa mobilnya." Heechul sungguh tidak habis pikir dengan pemikiran pelayan Kim itu.
Dia yang membawa mobilnya. Dan kecelakaan itu pun murni akibat kesalahan mobil yang berada dijalur yang salah.
Leeteuk dan ketiga dongsaeng-nya terdiam. Apa yang diucapkan namja cantik itu memang benar adanya. Lalu apa alasan sebenarnya? Semua semakin membingungkan.
"Apa ada cerita lain dibalik itu?" Kini Yesung yang bertanya.
"Aniyo, hanya itu yang kami tahu mengenai kecelakaan tersebut." Sungmin menatap namja bersuara merdu itu.
Keheningan kembali menguasai ruangan mewah tersebut. Tidak ada yang membuka suara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
#
#
#
Pagi pun menjelang. Pagi itu suasana terasa muram, langit yang biasanya berwarna biru, kini terlihat kelabu. Hawa dingin berhembus.
Seorang namja masih tertidur diatas ranjang kayu. Kasur tipis dan selimut tipis menjadi alat untuk menghangatkan dirinya.
Wajah putih nan menawan itu terdapat rona merah. Uap-uap putih terlihat tatkala ia menghembuskan napasnya ke udara.
CKLEK!
Seseorang masuk ke ruangan tersebut. Ia tersenyum sinis melihat tawanannya. Kim Jongin membawa langkah kakinya menuju ranjang tersebut. Ia puas dengan hasil saat ia telah menceritakan kejadian dulu.
"Che, mereka benar-benar menyembunyikan masalah itu.."
Namja itu menilik keadaan majikan kecilnya. Nampak begitu pucat dan menyedihkan.
"Kenapa saat itu bukan kamu saja yang mati?! Kenapa harus istriku?!"
Kelopak mata Kyuhyun bergerak akan terbuka. Kilauan bening kornea matanya nampak terlihat sayu.
"A-ahjusi.. ma-maafkan aku.. hikss.."
Tanpa diduga airmata Kyuhyun melesak keluar. Namja bermarga Kim itu nampak kaget sebelumnya hingga ia kembali menatap Kyuhyun dengan tatapan benci.
"Maafkan.. aku.. hikss.. yang sud-dah.. hikss.. membuat.. keluarga-mu.. hikss.. meninggal.."
"Ucapan maafmu tidak berguna. Takkan bisa menghidupkan istri dan anakku kan. Simpan saja jika kamu bertemu dengan mereka nanti.."
Jongin melangkah menuju jendela kecil disana. Embun masih menutupi permukana kaca jendela. Tangannya yang lebar, menghabus embun tersebut. Terlihatlah pemandangan sebuah danau dibalik ruangan itu.
Rumah yang menjadi penyekapan Kyuhyun berada di sebuah tempat terpencil. Sebuah rumah sederhana dengan danau kecil yang berada dibelakangnya.
"Hikss.. mianhae.. jeong-mal mianhae.. ahjusi.."
"Diamlah!" Jongin kembali mendekat dan..
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi tirus Kyuhyun. Ia meringis ketika sudut bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah.
"Ukh.." Kyuhyun mengerang ketika wajahnya dicengkram.
"Diamlah. Kata-kata yang keluar dari mulutmu sungguh tidak berguna.."
"Hikss.. hikss.." meskipun Kyuhyun sudah besar, ia tak dapat menyembunyikan rasa takutnya sendiri.
Tanpa disadari ada seseorang yang mengintip dari balik celah jendela. Terlihat matanya yang membelalak kaget. Tak ingin membuang waktu, ia pun kembali bergegas menjauhi rumah tersebut.
#
#
#
Di kediaman Choi, suasana masih nampak penuh kekhawatiran. Lingkaran hitam terlihat diwajah mereka yang kusut.
Siwon yang biasanya tampan dan rapi, kini penampilannya sangat acak-acakan. Begitupula dengan saudaranya yang lain.
"Apa belum ada kabar dari polisi tentang keberadaan mereka?" Donghae membuka suaranya.
"Polisi masih berusaha untuk melacak keberadaan Kyunie dan pelayan Kim." Leeteuk menjawab sembari mengusap wajah lelahnya.
Sungmin yang baru saja keluar dari dapur, kembali ke ruangan dengan membawa troli yang berisi makanan dan juga teh. Ia masih bisa mempedulikan kondisi yang lainnya.
"Makanlah sedikit, aku sudah membuatkan wafel dan teh." Dengan telaten, namja bertubuh mungil itu membagikan sepiring kecil wafel yang disiram dengan madu.
Meskipun enggan, mereka tetap memakannya. Menghargai usaha Sungmin yang masih mempedulikan kesehatan mereka.
Ditengah-tengah makan, terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Tak lama derap kaki yang nampak tergesa-gesa semakin mendekat ketempat dimana mereka berkumpul.
Kini terlihat sesosok namja mungil dengan peluh yang membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Kim Ryeowook.
"Ada apa, Wookie-ah?" Tanya Donghae ketika melihat temannya yang sangat berantakan.
"H-hyung.. a.. hosh.. hosh.. a-apa Kyunie.. a.. hosh.. hosh.. ada di rumah.." dengan susah payah Ryeowook menyelesaikan ucapannya.
Donghae menggeleng. "Kyunie diculik, sampai saat ini belum ditemukan.."
Mata Ryeowook membulat. Berarti apa yang dilihat saat ia berada di danau, sosok yang terikat itu memang Kyuhyun.
"Ada apa, Wookie-ah. Mianhae aku belum memberimu kabar.."
"Be-berarti.. orang yang kulihat tadi pagi adalah Kyuhyun.." ucap Ryeowook setelah berhasil mengatur napasnya kembali.
"MWO?!"
Donghae bangkit dan segera melangkah kearah sahabatnya berdiri. Ia mengguncang-guncangkan tubuh mungil tersebut.
"Dimana? Dimana kamu melihat Kyunie.. katakan Ryeowook.."
"Hae-ah, jangan mengguncangnya seperti itu. Lepaskan dan biarkan ia menjawabnya.." perkataan Leeteuk mampu membuat Ryeowook menghela napasnya.
"Ketika aku berkemah, tadi pagi aku menemukan sebuah rumah dipinggir danau kecil. Rumah itu begitu sederhana namun terlihat asri, karena penasaran, aku pun mendekat kearahnya.."
Semuanya terdiam mendengarkan cerita Ryeowook.
"Ketika sudah didekat sebuah jendela, aku mendengar suara tamparan. Akhirnya aku semakin dekat melangkahkan kakiku. Didalam sana terlihat seseorang yang diikat diatas tempat tidur dan seorang namja tua sedang mencengkram wajah namja yang diikat itu. Mereka terlihat seperti Kyuhyunie dan salah seorang pelayan disini..."
"Dimana tempatnya?" Tanya Heechul dengan nada tidak sabaran yang mampu membuat Ryeowook mengkerut ketakutan.
"A-aku kurang tahu nama tempatnya." Ucapan Ryeowook membuat mereka kecewa. Namun tak bertahan lama ketika mendengar kelanjutan ucapan namja itu. "T-tapi aku masih sangat hafal jalannya."
"Antar kami kesana." Ryeowook mengangguk pasti.
"Hikss.. hyung, dia.. dia menyiksa Kyunie.." tangisan Donghae kembali pecah.
"Ssst, uljima Hae-ah.. sekarang kita akan menyelamatkannya."
"Tunggulah kami, Kyunie."
#
#
#
Hari mulai menuju siang. Namun cuaca masih tetap mendung. Sinar matahari tak terlihat hari ini.
Kim Jongin kini sedang menikmati segelas wine sambil melihat kondisi anak majikannya yang semakin tak berdaya. Tak ada makanan maupun minuman yang diberikan. Seharusnya ia masih menggunakan infusan untuk nutrisi tubuhnya, namun karena peristiwa ini, ia tak mendapat asupan apapun. Hingga tubuhnya semakin melemah.
"Sepertinya ajalmu semakin dekat.."
Kyuhyun terdiam. Untuk berbicara saja ia tidak punya tenaga.
"Setelah kamu, selanjutnya hyungdeul-mu yang lain."
Namja berambut coklat itu kaget atas penuturan yang didengarnya barusan. Sungguh ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan hyungdeul-nya.
"J-jangan.. ganggu mereka.. hhh.. ahjusi.."
"Tentu saja aku menolaknya.." Jongin mendekatkan bibirnya kearah telinga Kyuhyun. "Karena kamu sudah membunuh keluargaku.."
Seketika tubuh Kyuhyun semakin gemetar, selentingan ingatan saat ia kecelakaan mulai terlihat di memori otaknya. Saat darah dan serpihan kaca bertebaran dimana-mana. Mobil yang terbalik dan asap yang mengepul ke udara.
"T-tidak.. hentikan.. he-hentikan ahjusi.."
"Karena kamu jugalah, kedua orangtuamu tidak ada di dunia ini lagi." Tubuh Kyuhyun semakin gemetar hebat.
Jongin melepaskan beberapa gelas kaca ke atas lantai. Pecahan gelas itu pun berserakan dimana-mana. Dengan santai ia menarik tubuh Kyuhyun, hingga tubuh rapuh itu terlentang diatas serpihan gelas.
"Ukh.."
Kini balutan piyama putih yang Kyuhyun kenakan, sudah ternoda oleh darahnya sediri. Tubuhnya semakin gemetar hebat. Ingatan itu semakin jelas diotaknya.
"Bagaimana? Sekarang sudah semakin ingat?"
Namja paruh baya itu menjambak rambut coklat Kyuhyun dengan kasar. Ringisan kembali keluar dari bibir Kyuhyun.
"Kamu pantas mendapatkan semua ini..
"Lepaskan adikku, brengsek!"
#
#
#
"Apa kamu yakin ini tempatnya, Ryeowook-ah?" Leeteuk mengamati sebuah rumah kecil yang dipenuhi oleh pekarangan bunga.
Tempat yang cukup asri dan cocok digunakan untuk bersantai.
"Ne, hyung. Aku sangat yakin."
"Kangin-ah, apa anak buahmu sudah mengepung tempat tersebut?"
Seorang namja berbadan besar dan tegap, Kim Jongwoon, terlihat menganggukkan kepalanya. Ia yang mengambil alih operasi ini selaku kapten dari pasukan polisi tersebut.
"Biar kami saja yang masuk, kalian tunggu saja disini."
Dengan kompak semuanya menggelengkan kepalanya. Tentu saja mereka harus ikut masuk.
"Haaahh.. tapi ini sangat berbahaya..." Kangin mencoba menjelaskan situasinya.
"Kami akan tetap ikut, hyung." Ujar Siwon dan Donghae.
Prang! Prang!
Suara benda pecah terdengar dari dalam sana. Mereka sontak melihat kembali kearah rumah tersebut.
Tanpa aba-aba, Donghae berlari masuk ke Rumah itu. Tak ada yang berusaha mencegah, karena yang lainnya masih terkejut. Mereka sadar ketika Donghae membuka pintu bercat coklat itu secara kasar.
"Dasar bodoh." Gumam Heechul.
Mereka pun mengikuti langkah Donghae. Kangin memberi aba-aba kepada anak buahnya agar tetap bersembunyi.
Saat tiba didalam, perasaan terkejut kembali mereka rasakan tatkala melihat kondisi adik mereka. Dalam keadaan terikat dengan darah yang mengotori piyama yang ia kenakan.
"Lepaskan adikku, brengsek!" Donghae menggeram dengan tangan terkepal disisi tubuhnya.
"Hooo.. lihatlah, Tuan Muda Kyuhyun. Keempat saudaramu sudah datang untuk mengantarkan nyawanya sendiri.." Jongin menyeringai.
"J-jangan.. J-jangan sentuh.. hhh.. mereka.. ukhh.."
"Jangan sakiti Kyuhyun!" Teriak Leeteuk ketika matanya melihat, sang adik dijambak oleh namja itu.
"Jika kalian mendekat, aku akan membunuhnya."
CKREK!
Sebuah senjata api diletakkan tepat dipelipis Kyuhyun. Mereka pun menghentikan langkahnya dan terdiam.
"Menyerahlah ahjusi, kami sudah mengepung rumah ini." Yesung membuka suara. Ia menatap lurus kearah Jongin yang masih mengarahkan senjatanya kepada Kyuhyun.
"Kenapa ahjusi melakukan semua ini? Semua itu hanya kecelakaan. Bukan salah Kyuhyun ataupun kedua orangtua kami atas kematian Kim ahjuma dan Jonghyun." Leeteuk menatap sendu namja paruh baya tersebut.
"Kecelakaan? Huh.. Orangtuamu yang membunuh istriku dan juga anak ini.."
"Itu hanya sebuah kecelakaan, ahjusi. Jadi tolong lepaskan Kyuhyun. Kondisinya masih lemah.." Sungmin mencoba membujuk Jongin untuk melepaskan Kyuhyun.
"Seharusnya sampai saat ini istriku masih hidup, namun nyawanya tidak tertolong akibat perbuatan orangtuamu."
Leeteuk semakin bingung dengan penuturan dari namja yang selama ini sudah merawatnya. Bukankah itu akibat kecelakaan kan?
"Kondisi anak ini saat itu sangat parah kan? Ia mengalami koma akibat ginjalnya yang rusak. Lalu orangtua kalian meminta istriku untuk mendonorkan salah satu ginjalnya yang sehat." Jongin menarik tubuh Kyuhyun supaya berdiri. "Seharusnya prosedur itu dilarang mengingat kondisi istriku yang sama-sama terluka parah. Tapi dengan kekuasaan kalian, pihak Rumah Sakit pun menyetujuinya. Operasi pun dilakukan, anak ini selamat dan sebagai gantinya nyawa istriku yang tidak tertolong."
Jongin menatap tajam kearah turunan Choi berdiri. "Orangtua kalian yang telah merengut keluargaku. Sebagai balasannya, aku ingin membuat anak ini tersiksa. Dan perlu kalian ketahui juga bahwa aku jugalah yang telah membunuh kedua orangtua kalian di Rumah Sakit."
Leeteuk sangat kaget ketika mendengar kejadian seperti itu. Ia sungguh tidak bisa percaya dengan kenyataan yang sebenarnya.
"A-ahjusi.. Mianhae.. jeong-mal mianhae.."
"Sudah kukatakan untuk diam kan?!" Jongin melempar tubuh Kyuhyun kearah meja kecil disamping tempat tidur.
Brak!
"KYU?!"
"JANGAN ADA YANG BERGERAK!" Jongin berteriak saat melihat pergerakan dari orang-orang yang telah dianggap musuhnya. "Atau aku bunuh dia sekarang juga."
"Ukh.. uhuk.. uhuk.. ahjusi.. hosh.. hosh.. se-belumnya aku.. hhh.. minta maaf.. kh.. karena su-dah membuat.. hosh.. Kim ahjuma.. uhuk.. meninggal.." Kyuhyun mencoba untuk bangun, namun karena masih terikat, ia hanya bisa berbaring. "A-aku.. uhuk.. tidak marah.. khh.. atau benci at-tas semua ini, Ahjusi.. uhukk.. aku te-tap menyayangi, ahjusi.. s-seperti orangtua-ku.. ukhh.. sendiri..."
Napas Kyuhyun semakin tersengal. Wajahnya kian memucat dengan peluh membanjiri sekujur tubuhnya.
"J-jangan banyak bicara, anak sialan."
Jongin mengarahkan senjatanya kearah tubuh Kyuhyun sambil melangkah mendekatinya. Kini ia berada dihadapan Kyuhyun yang terbaring lemas.
"A-ku.. menyayangimu, ah-ahjusi.."
Ckrek!
DOR!
Semuanya kaget ketika mendengar suara tembakan tersebut.
Tanpa mereka sadari, semuanya menahan napas. Rasa was-was menghinggapi perasaan mereka saat ini.
Bruk!
Tanpa diduga tubuh Jongin lah yang terkapar dilantai dengan luka tembak tepat dipinggangnya dan mengenai organ vital. Ternyata ia yang tertembak oleh anak buah Kangin yang berada dibalik jendela.
"Ah-ahjusi.. bertahanlah..."
Jongin kini menatap Kyuhyun dengan tatapan seperti dulu. Tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Pengasuhnya yang dulu.
"Maafkan, ahjusi.." Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Bayi mungil yang.. ahjusi rawat dulu.. kh.. kini telah tumbuh menjadi.. uhuk.. namja manis.."
"Namja tampan, ahjusi.." Jongin terkekeh. Darah keluar dari mulutnya. "Bertahanlah, ahjusi.."
Namja paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya. Ia tahu bahwa lukanya sangat dalam.
"Jadilah anak baik, ne.." Jongin tersenyum. "Saranghae, Kyunie"
Kyuhyun menangis keras. Ia tidak ingin kehilangan sosok seorang ayah lagi. Meskipun ia mendapat perlakuan buruk, namun ia tidak benci sama sekali terhadap sosok namja paruh baya itu.
"Hiks.. ahjusi.. hiks.. jangan tinggalkan.. hikss. Kyunie.. hikss.."
Leeteuk yang tidak tega, mendekat kearah tubuh sang dongsaeng. Ia merengkuh tubuh lemah nan rapuh.
"Hyung.. hikss.. ahjusi.. ukh.. ahjusi meninggalkan Kyu.. hiks.. hikss.."
"Ssst, uljima Kyunie.. yang penting sekarang kita rawat lukamu." Leeteuk mengusap pelan helaian coklat yang terlihat kusam tersebut.
"Ahjusi.. hikss.. ahjusi.."
Melihat Kyuhyun yang meraung seperti itu, Donghae dan Siwon pun ikut menitikkan air mata. Ryeowook yang sedari tadi menangis, kini berada dipelukan Yesung. Heechul dan Sungmin terdiam sambil memandangi kejadian didepan mereka. Kangin yang baru saja selesai menghubungi ambulans pun ikut terdiam.
Namja yang berprofesi sebagai polisi itu, mendekat kearah tersangka. Ia mengambil pistol yang akan ia sita nantinya.
"Lho..."
"Ada apa Kangin-ah?" Tanya Leeteuk.
"Pistol ini kosong, tidak terdapat satu peluru pun didalamnya. Sepertinya ia tidak benar-benar berniat membunuh Kyuhyun."
Ucapan Kangin membuat airmata Kyuhyun semakin mengalir deras. Leeteuk pun ikut menitikkan airmatanya.
"Saranghae.. ahjusi.. ukhhh.."
#
#
#
Disebuah bukit kecil, terlihat dua orang namja sedang memandangi sesuatu dibawah mereka. Salah seorang diantaranya terduduk diatas kursi roda dengan lima tangkai bunga tulip putih dipangkuannya.
Kyuhyun, menatap lima nisan didepannya. Nisan kedua orangtuanya, Kim ahjuma, Jonghyun dan juga Kim ahjusi.
Setelah kurang lebih sebulan ia dirawat di Rumah Sakit, ia langsung mengunjungi makam orang-orang yang disayanginya begitu ia keluar dari Rumah Sakit. Namun kondisinya yang masih lemah, ia diharuskan duduk di kursi roda.
Leeteuk yang berada dibelakang Kyuhyun, mengelus helaian coklat yang kini sudah kembali segar. Ia tersenyum, bersyukur bahwa adiknya telah kembali.
"Apa mereka bersama-sama disana, hyung?"
Leeteuk menoleh. Senyuman lembut terpatri diwajah tampannya. "Ne."
Kyuhyun mencoba untuk meletakan bunga tulip diatas matam. Namun karena masih terasa lemas, ia tidak bisa melakukannya.
Dengan lembut Leeteuk menggenggam tangan Kyuhyun dan mengambil alih bunga-bunga cantik itu. Kemudian ia meletakkan masing-masing satu tangkai diatas nisan tersebut.
"Kita pulang, ne. Kamu masih harus beristirahat."
Leeteuk mendorong kursi roda itu menjauh dari bukit.
Semilir angin berhembus menerbangkan serbuk bunga yang kini sedang bermekaran. Cuaca begitu cerah dengan dilatari langit berwarna biru bersih yang dihiasi awan-awan kecil.
'Saranghae, Kyunie.'
Fin
ga jelas banget endingnya.. yang penting happy ending..
Ahahaha.. kata hati harus namatin ni fict segera..
Maaf kalo kecewa.. pengen selesein fict satu2 hehe.. begitu juga fict anime yg udah hiatus selama bertahun-tahun.. hehe..
Mind to review? :3
