Chapter 4
"Nee~ Lisa-chan...seberapa jauh kita akan berlari?" tanya Reo dengan keringat seakan dia habis renang di kolam.
"Gawat! Jantungku sepertinya akan meledak! Lihat Akashi! Latihan ini gila!" teriak antusias setengah gila koutarou.
"..." Akashi hanya diam tak menggubris kawannya. 'Latihan fisik sekaligus mental kah...' batinnya.
"Diam saja dan ikuti aku... Kalian akan kuberi hadiah kalau bisa mengikutiku sampai akhir~" Ujar Lisa yang nafasnya sudah sedikit terengah-engah. Jangan tanya Seishirou,dia ada di barisan belakang menemani kawan mereka yang tertinggal.
Entah sudah berapa lama mereka berlari mendaki gunung itu. Saat istirahat... Akashi melihat punggung Lisa di tumpukan batu yang cukup besar dengan sinar matahari yang menembus daun,punggung yang kecil tapi tegap dan kokoh 'seperti adegan di film saja' batinnya.
"Kabar baik Kak Akashi,sebentar lagi kita akan sampai ke tujuan kita! Sudah bisa kau dengar?" kata Lisa seraya turun dari batu itu dan menatap mata heterokrom milik Akashi. Matanya yang bulat berwarna hitam dan binar didalamnya bagaikan langit malam di musim panas, indah sekali, memaksa Sang Emperor untuk terus menatapnya lekat-lekat...
"Sepertinya masih belum kedengaran yaa..." lanjut si pemilik mata indah itu sambil memalingkan pandangan ke jam tangan. "10 menit lagi...10 menit perjalanan lagi..." ujar antusias gadis kecil itu.
10 menit kemudian...
"Semua! Kalian sudah mendengarnya?! Ini hadiahku untuk kalian! Selamat menikmati~!" kata Lisa sedikit berteriak mempersembahkan salah satu tempat rahasia miliknya, Air Terjun yang masih belum terjamah manusia lain selain dirinya. Tingginya sekitar 6 meter,kolam airnya cukup dalam dan langsung membentuk sungai.
Anggota tim basket langsung membuka baju mereka dan—"CIHUY!" teriak mereka seraya terjun bebas ke kolam, Seishirou juga, disusul dengan Lisa dan terakhir Akashi. Mereka terkejut-bagaimana tidak? Mereka melihat tubuh seorang gadis cilik yang dipenuhi oleh luka sabetan yang tak terhitung jumlahnya, bahkan sampai ada yang dijahit.
"Anoo...Lisa-chan,se-seorang gadis tidak bisa menikah setelah memperlihatkan tubuhnya pada pria lho..."Kata Reo sedikit terbata dengan wajah agak pucat.
"Hah? Oh,jangan khawatir,aku tak punya niatan untuk menikah kok!" jawab polos nya sambil ciprat cipratan air dengan Seishirou.
"Oi,luka di tubuhmu itu...kenapa?" tanya Nebuya dengan muka serius.
"Oh! Ayolah! Kita disini untuk bersenang-senang kan? Aku akan menceritakannya nanti,janji deh!" seru Lisa dengan wajah yang seakan berkata 'merepotkan' begitu.
Entah sudah berapa jam mereka di Air terjun itu,mereka sekarang mulai merasakan dingin dan naik ke permukaan. Seishirou menangkap 2 ikan yang cukup besar dan Lisa menangkap 3 Ikan besar, dengan tangan kosong.
"Yang dapat ikan lebih sedikit kalah." Kata Seishirou dengan api yang membara di matanya.
"Hee? Boleh juga,yang kalah memasak semua ikan dan menuruti yang menang selama 1 hari,seperti biasa." Balas Lisa menerima tantangan.
"sekarang sekitar jam 11.30... pertandingan selama 30 menit dimulai dari... SEKARANG!" seru Lisa dan.. "BYUUUR!" seperti orang yang terbiasa hidup di hutan, mereka dengan mudah menangkap ikan-ikan sungai yang besar dengan tangan kosong. 30 menit kemudian...
"Aku merasa...kalau kamu tak akan mungkin menang melawanku dalam hal ini... Sei-tan." Kata Lisa sambil melihat 'budaknya' bersusah payah memasak di bantu anggota tim yang bisa memasak.
"Berisik." Kata Seishirou dengan aura hitam keluar dari badannya.
Beberapa saat kemudian...
"Ikannya sudah matang...silahkan ,O-JOU-SA-MA." Kata Seishirou dengan nada menyeret dan penekanan pada 'Ojou-sama' itu.
"Hahaha...sankyuu! Nah,sambil makan,aku akan menceritakan yang jadi pertanyaan kalian tadi,topiknya rada berat, jadi maaf sebelumnya." kata Lisa lalu membungkukkan badan,sekarang semua mata tertuju padanya,tanda bahwa mereka akan memperhatikan dengan seksama. Lisa pun mengambil nafas panjang dan menghembuskannya
"Aku tak tahu tempat kelahiranku maupun orang tuaku,tapi ingatan masa laluku dimulai dengan tangan orang orang dewasa yang sering menyerahkan, memindah, mempersembahkan, menyeret dan menyiksa setiap anak, termasuk aku dan teman-temanku, kaki, tangan dan leher kami dirantai, pakaian kami lusuh dan kami tidak pernah sekalipun diperlakukan dengan baik... siapapun orangnya." Lisa menghela nafas lagi
"Ya,aku adalah salah satu dari anak yang di perjual belikan di bisnis perdagangan manusia." Jelas Lisa panjang-kali-lebar-kali tinggi (volume balok itu ding). Yang seakan membuat nafas mereka yang mendengarkannya terhenti sejenak. 'Perdagangan manusia?'.
"Aku sering dipekerjakan sebagai penjaga atau yang menyangkut fisik,jadi dari kecil tubuhku sudah terlatih. Terakhir kali aku dibeli seseorang umurku sekitar 10 tahun,aku mendapat perlakuan yang lebih baik di banding selama ini,jadi kupikir 'dia orang baik' begitu, dia memberiku porsi latihan yang cocok, makan meski 2 kali sehari, dan tempat tidur, aku pikir aku beruntung memiliki pemilik seperti itu, sampai pada suatu hari, kudengar ternyata pemilikku ini...pebisnis jual beli organ manusia, dia bilang harga organku tinggi kepada kliennya dengan mudahnya." Lanjut Lisa dengan kedua tangannya yang terkepal erat.
"Jadi aku kabur dari sana,tak kusangka hutan di sekitar tempat tinggalnya sangat luas,jadi aku tinggal di hutan itu sampai polisi hutan menemukanku dan mengantarku ke Panti Asuhan sekitar...6 bulan yang lalu. Selesai, happy end." Ujar Lisa sambil senyum dan bernafas lega.
Semua masih terdiam,dengan memasang wajah yang tidak enak,kecuali Akashi yang dari tadi Poker face. Benar benar hebat. Suasana yang tidak menyenangkan itu membuat Lisa menghela nafas lagi
"Masa lalu bukanlah untuk di sesali,tapi di pelajari,masa sekarang adalah anugerah,syukurilah,dan masa depan bukan untuk ditakuti,tapi dihadapi. Itu kata seseorang kepadaku." Kata Lisa sambil berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Akashi
"mengembalikan mood." Jawab singkat Lisa
Akashi ikut berdiri dan berjalan mengiringi langkah Lisa,meninggalkan mereka yang tengah mematung di sekitar api unggun sambil memegang ikan bakar mereka yang belum terjamah.
