I don't own Kuroko no Basuke! Happy Reading~! kutunggu Reviewnya~ (o)/
Chapter 5
Tak ada percakapan yang terjadi, hanya suara daun kering dan ranting yang terinjak, burung berkicau, daun yang bergesekan terkena angin yang jadi pengusir sepi. Akashi terus menatap Lisa yang berjalan didepannya itu, lalu Lisa berhenti.
"Kenapa mengikutiku?" tanyanya
"..." Akashi tetap diam.
"Kakak pasti merasa simpati kan? Kasihan kan? Aku tidak butuh simpati siapapun."
"Aku tidak merasa kasihan,benar katamu tadi,'masa lalu bukan untuk disesali',aku hanya memastikanmu untuk tidak tersesat saja." Jelas si kapten absolut. Terdengar Lisa hanya menghela nafas saja dan melanjutkan jalannya, tiba tiba dia jatuh ke lubang yang tertutup semak,sebenarnya dia bisa langsung menendang dinding lubang itu dan mendarat dengan selamat,atau berpegang pada akar tanaman yang menggantung di sana, tapi tak disangka Akashi langsung berlari dan ikut terjun, lalu memeluk-melindunginya.
"BRUUK!"
Posisi: Lisa di atas sambil memejamkan mata dan Akashi(masih memeluk) di bawah, sedikit merintih kesakitan, kepala Lisa di dada Akashi, jadi dia bisa dengan jelas mendengar detak jantungnya yang berdetak cepat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Akashi yang hebatnya langsung memasang muka datar nan serius dan suara yang tenang.
"ti..tidak apa apa? Tidak apa apa katamu? Bagaimana bisa kau tanya begitu?! Kalau kau terluka parah bagaimana?!" Bentak Lisa mengangkat kepalanya dan memeras baju Akashi. Kemudian dia menunduk, menempelkan kepalanya ke dada seorang pemuda yang kini tengah membulatkan matanya.
"Kak Akashi...aku tidak sanggup kalau harus kehilangan lagi...kumohon jangan lakukan hal seperti itu lagi..." pinta Lisa dengan suara pelan dan nada seakan mau menangis,tangannya gemetar. Lalu sesaat kemudian gemetarnya berhenti dan Lisa beranjak dari atas tubuh Akashi. Kini mereka berdua terduduk.
"Saat aku tiba di panti asuhan tak ada seorang anakpun yang mendekatiku,kecuali seorang anak laki laki, dia lebih tua 1 tahun dariku,orangnya baik,ramah dan disayangi semua orang,berkat dia juga anak-anak yang lain jadi mau berteman denganku,suatu hari,saat kami sedang bermain di Area rekonstruksi...yang seharusnya menjadi hari kematianku...beberapa pipa besi terjatuh tepat di atasku, anak itu mendorongku dan tertusuk pipa-pipa itu... menggantikanku... itu sekitar 2 bulan lalu, kejadian itu masih kuingat dengan jelas, teriakan orang orang,darahnya yang berceceran,senyum terakhirnya...Selalu,dari dulu orang-orang yang kusayangi selalu direnggut dariku..." Cerita Lisa sambil menunduk,dengan dan suara yang lemah dan gemetar. Lalu dia menarik nafas panjang.
"Lalu kuputuskan untuk menghargai pengorbanannya, aku akan menjalani kehidupan dengan caraku sendiri,melakukan semua yang kusuka, tak peduli dia menyesal atau tidak saat ini di sana, aku tak mau berhutang budi lagi, dan aku pasti akan mengeluarkan kita dari sini." Mantap Lisa menatap Akashi tegas,
Lalu ia mendongakkan kepala, mengangkat tangan hingga depan mulut dan bersiul meniru suara burung. Tak lama kemudian rombongan tim Rakuzan+Seishirou datang, melempar seutas tali dan menarik mereka berdua berhasil keluar dari lubang yang cukup dalam. Setelah itu mereka kembali ke desa, suasananya sudah lebih baik dari sebelumnya, tak terasa sudah jam 3 sore,mereka pulang naik kereta dan langsung ketiduran sepanjang perjalanan. Kepala Lisa bersandar pada pundak Akashi yang tengah membaca buku, wajah tidunya manis dan polos sekali, sama sekali beda dengan wajah tegasnya tadi. Sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Lisa, Sang Emperor berkata dengan suaranya yang seksi :
"Kau harus bertanggung jawab karena dengan berani telah mencuri hatiku tanpa izin, Ryuugamine Lisa."
"Ng...h" erang Lisa merasa dia sedang bermimpi buruk. Akashi tersenyum. Berjuanglah! Ryuugamine Lisa!
Di salah satu gerbong kereta api Shinkansen,dengan diselimuti angin sore dan matahari senja,sang Emperor telah menentukan target.
-End-
OMAKE~
Setelah 3 hari tak datang ke Gym Rakuzan,sang kapten pun bermaksud mendatangi tempat tinggal si pencuri hati,di Panti Asuhan Rumah Kayu ditemani Reo dan Koutarou. Setibanya di sana...
"Ara..ara...teman Lisa-chan ya? Tak kusangka anak itu mempunyai teman-teman setampan kalian... Dia sedang di Ruangan serba guna sekarang,sedang berlatih dengan temannya..." Sambut hangat Bu Reina pada Akashi dan 2 temannya,lalu Bu Reina mengantar mereka ke ruangan serba guna yang dibilang tadi.
Sayup-sayup terdengar suara biola dan piano yang beradu suara,semakin lama semakin jelas. Dibalik pintu kayu yang kini ada di hadapan mereka. Bu Reina mengetuk pintu 3 kali,dan suara itupun terhenti. Bu Reina membuka pintu.
"Lisa-chan, ada temanmu yang menjemputmu lho..." kata Bu Reina. Lisa memiringkan kepalanya dan memberi tatapan 'siapa?'. Dan Akashi, Reo dan Koutarou pun masuk.
"Apakah ini alasanmu melewatkan latihan selama 3 hari terakhir?" Tanya sang kapten to the point.
"Aku dapat undangan dari acara resital musik di aula Yamato,mana mungkin aku melewatkannya kan? Maaf tak sempat mengabari, dan aku juga tak punya nomor kakak. " Jawab Lisa tersenyum mantab dengan binar di matanya. Sang kapten menghela nafas,lalu melihat piano dengan pianisnya dan biola dengan violinisnya.
"Lanjutkan latihanmu,aku akan mendengarkan,Reo,bilang pada pelatih aku absen latihan hari ini." Perintah sang kapten.
"Eeh~ tapi aku ingin mendengar permainan Lisa-chan juga~ HP-ku low batt dari tadi..." kata Reo rada memelas.
"Akashi! Barusan Shirogane-kantoku sms kalau latihan hari ini di tiadakan! Aku juga ingin mendengarkan!" kata Koutarou bersemangat.
"Terserah kalian deh...oh iya,kalau tak salah Kak Akashi main biola ya? Kita terhubung dong." Ujar Lisa dengan polos sambil ketawa. Entah apa artinya.
Love Sorrow, Kreutzer, Introduction and rondo capriccioso, Chopin Ballade No 1 di G Minor,Op 23... Permainan Lisa pada lagu-lagu klasik itu disesuaikan dengan gaya khasnya sendiri,dengan kata lain: Seenaknya sendiri, liar, dinamis, agresif, tak bisa ditebak. Pianisnya saja sampai kerepotan. Tapi mereka menikmatinya, terlihat dari wajah dan tatapan mereka. Permainan mereka membuat siapapun yang mendengarkan kagum, nafas mereka seakan terhenti, dan tatapan mereka tak bisa beranjak dari 2 orang musisi yang tengah mengekspresikan jiwa dan perasaan mereka itu.
Saat permainan selesai,sang pianis pun angkat bicara.
"Lisa, permainanmu 'kacau' seperti biasa...latihannya sampai sini saja ya,sudah gelap. Oh iya, Lukisanmu di pamerkan bulan depan di Pameran 'Tokyo Finest Painting 20xx' nanti, datang ya." kata si pianis sambil terkekeh, dibalas dengan senyum puas Lisa dan keringat mereka yang bercucuran membuat mereka harus ganti baju.
Reo dan Koutarou masih mematung dengan mulut menganga.
'Sepertinya hatiku tercuri oleh gadis yang tidak biasa.' batin Akashi.
Suatu hari nanti, dia pasti akan menjadi seorang tokoh kelas dunia dan namanya akan terukir indah di sejarah dan semua orang.
-Really End-
Lisa : Tunggu! Nasibku bagaimana author sinting?! Beda umur kami 4 tahun loh?!
Author : (senyum senyum) yaaah...begitulah...
Lisa : Kau ini!
Akashi: memang kenapa Lisa? Kau tidak suka?
Lisa : bukannya gak suka,tapi aku ingin berpasangan dengan kak Kuroko...
Author: nggak boleh,Kuroko punyaku. (meluk Koroko yang entah datang dari mana)
Kuroko: selamat siang.
Lisa: Aaah! Author curang!
Kuroko: (muka polos) Ano...sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Tiba tiba gunting mematikan lewat sekejap mata menancap tembok,Author pucat sambil nyengir garing, Lisa masang muka kucing ber-sweat drop, Kuroko pingsan.
krik..krik..krik...
Terima kasih telah membaca fan fiction pertamaku ini...mohon maaf atas segala kekurangannya..sampai jumpa di fanfic berikutnya!
