PACARKU JUNIORKU

Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun (HunHan)

Genre : Romance, Drama, Family

Length : Chapter 2 0f ?

Summary :

Semua peristiwa yang di alami Luhan -siswi kelas 3 SMA- selama ini telah mengubah hidupnya. Pengkhianatan papa tirinya dan tak adanya figur seorang papa kandung membuat Luhan menjadi pribadi yang keras. Di mata Luhan, semua laki-laki brengsek. Makanya, Luhan nggak suka kalau ada cowok yang coba-coba mendekati dirinya. Prinsipnya : I don't need a man. Luhan nggak mau disakiti cowok seperti mamanya yang sudah disakiti papa tirinya, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkan dirinya dan mamanya begitu saja.

Namun bagaimana jika Sehun -siswa kelas 1 SMA- mengusik kehidupannya dan tanpa malu menyatakan cintanya kepada Luhan secara blak-blakan?!

.

.

.

DISCLAIMER :

Hai Readers, sebelum kalian membaca FF ini, aku kasih tau dulu kalau FF ini aku ambil dari sebuah novel remaja dengan judul yang sama by Valleria Verawati.

Aku ngeposting cerita ini niatnya bukan untuk meng-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

TIGA hari sudah berlalu. MOS sudah selesai dan sekolah mulai berjalan seperti biasa. Nggak ada lagi yang namanya bentak-bentak dari kakak kelas, dan anak-anak kelas satu pun kini bisa bernapas lega.

Seperti biasa, Luhan duduk di kantin sambil menikmati semangkuk mie pangsit bersama teman-teman segengnya : Minseok, Zitao, dan Baekhyun. Jam istirahat memang waktu yang paling menyenangkan buat mereka, bisa nongkrong di kantin sambil menikmati jajanan.

Dan yang namanya geng, pasti punya markas. Meja yang ada di pojokan kantin, itulah yang menjadi markas geng Luhan, dan secara de facto menjadi daerah teritorial milik mereka.

Luhan dan ketiga temannya udah sobatan sejak pertama kali mereka menginjak sekolah ini. Dan saat ini, di antara mereka berempat cuma Baekhyun yang beda kelas. Tapi yang jelas, persahabatan nggak pernah memedulikan elo di kelas mana dan gue di kelas mana. Bagi mereka, sekali sahabat ya tetap sahabat.

Minseok melahap sepotong kecil pangsit sambil bertanya, "Gimana MOS kemarin, Lu?"

"Biasa aja." jawab Luhan singkat. Ia mengambil botol sambal yang ada di meja dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk mie-nya.

"Ah, elo nggak asyik nih. Cerita dong. Masa nggak ada yang seru sih!" Minseok protes mendengar jawaban Luhan yang begitu singkat.

"Bagi gue, semuanya emang biasa aja, Xiu. Tanya aja sama Zizi," kata Luhan. "Dia kan juga pengurus OSIS."

Minseok menoleh ke arah Zitao yang duduk di sebelahnya, lalu berkata, "Cerita dong, Zi!"

"Lo mau gue ceritain tentang apa?" tanya Zitao, cewek yang jadi inceran sebagian besar cowok di SMA Negeri 1 Seoul ini. Tapi sayang, Zitao udah ada yang punya.

"Mmm... si Lulu dapat senior ter- apa nih?" tanya Minseok.

"Sama kayak tahun kemarin, senior tergalak dan terjudes," jawab Zitao.

"Hahaha! Tepat seperti dugaan gue, lo tuh emang nggak bisa lembut dikit ya, Lu," tawa Minseok.

"Kenapa harus lembut? Gue terpilih sebagai senior tergalak dan terjudes itu kan berarti gue sukses bikin anak-anak baru itu hormat sama gue," Luhan membela diri.

"Lo nggak salah? Mereka tuh bukan hormat sama elo, tapi takut dan benci setengah mampus," Baekhyun ikut sumbang suara sambil tertawa.

"Bener tuh, sekali-sekali kayak Zizi dong," ujar Minseok. "Pasti Zizi jadi senior tercantik dan terbaik lagi."

"Kurang satu... senior terfavorit," sambung Luhan.

"Tuh kan."

Zitao tersenyum malu. "Xiu, Lulu emang judes banget, tapi judesnya itu malah bikin MOS kita sukses, dan nggak ada masalah kok. Soalnya cuma ketegasan Lulu yang bisa nyelesaiin semua masalah dan bikin anak-anak baru itu nggak berani ngelawan."

"Dengar tuh, Xiu," kata Luhan senang karena dapat pembelaan.

"Ah, bodo deh sama senior ter- itu. Yang perlu gue tau, anak barunya subur atau gersang nih?" tanya Baekhyun.

"Tanaman, kaleee...," sahut Luhan.

"Yee, gue serius nih. Masa SMA kita kan tinggal setahun ini. Kalau pemandangannya nggak ada yang baru, bisa butek nih otak gue," kata Baekhyun.

"Lo suka daun muda, Baek?" tanya Minseok.

"Kalau tampangnya oke, why not?!"

"Ih... anak kelas satu gitu loh. Masih bau kencur, kali," sahut Luhan dengan tampang jijik.

"Menurut gue, it's okay kok. Asal tampangnya oke, dokunya kenceng, bau tanah juga nggak apa-apa," kata Baekhyun.

Semua tertawa mendengar kata-kata Baekhyun itu.

"Serius dong... Ada yang cakep, nggak? Kalo ada, mau gue samperin tuh anak," ujar Baekhyun.

"Menurut gue sih ada, Baek. Dan kalau lo beneran serius pengen kenalan, lo harus buru-buru. Soalnya udah banyak yang ngincer," jawab Zitao.

"Masa sih? Siapa namanya? Siapa? Kelas berapa?" tanya Baekhyun antusias.

"Zi, jangan bilang kalau yang lo maksud itu si cowok katro itu ya," kata Luhan curiga.

"Iya, Lu... emang dia kok. Namanya Oh Sehun, anak kelas 1 D. Satu-satunya cowok yang bikin surat cinta buat elo waktu MOS," jawab Zitao.

Luhan menghela napas. Tepat dugaan dia. Cowok aneh itu emang punya tampang oke. Nggak heran dia langsung jadi idola baru di sekolah ini.

"Oh Sehun? Bikin surat cinta buat Lulu?" tanya Baekhyun heran.

"Wah... ada yang nyimpan cerita sendirian nih. Curang lo berdua, berita heboh gitu kok nggak diceritain sih. Ayo dong cerita!" seru Minseok penasaran.

"Cerita apaan sih?" Tiba-tiba sesosok makhluk berjenis kelamin laki-laki muncul di sebelah Luhan.

Semua terdiam karena kaget. Terutama Minseok dan Baekhyun. Keduanya melongo melihat cowok keren yang berdiri di dekat mereka itu.

"Lho, kok pada diam sih, kakak-kakak yang cantik?" tanya cowok itu tersenyum manis.

"Lo ngapain di sini?!" bentak Luhan. "Nggak ada yang ngajak lo ikutan gabung. Pergi sana!"

"Ih, kakak kok galak gitu sih," rajuk cowok itu.

"Pergi nggak lo!" usir Luhan kasar.

"Nggak mau ah. Saya kan mau kenalan sama kakak-kakak yang cantik ini," ujar cowok itu sambil beranjak ke samping Baekhyun dan Minseok.

"Halo, kak. Saya Sehun," kata Sehun sambil mengulurkan tangannya ke arah Baekhyun. "Boleh kenalan nggak, kak?"

"Boleh, nama gue Baekhyun." Baekhyun membalas uluran tangan Sehun. "Dan jangan panggil kami 'kakak' kesannya tua banget."

"Kalo gue Minseok, tapi lo boleh panggil gue Xiumin." Minseok nggak mau kalah. Dia ikut-ikutan mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Sehun.

Sehun menyambutnya sambil tersenyum manis.

"Kalau yang cantik ini gue udah kenal. Zizi kan?" goda Sehun.

Zitao tersenyum manis mendengar namanya disebut Sehun sebelum ia menyebutkan namanya terlebih dahulu.

"Gue sama sekali nggak nyesel masuk sekolah ini. Ternyata di sini banyak bidadarinya," kata Sehun.

"Lo nggak usah ngegombal deh sama teman-teman gue. Cepet lo pergi dari sini sebelum gue lempar nih gelas!" bentak Luhan keki.

"Wah... lo kejam banget, Lu. Lo cemburu ya, gue deket sama cewek lain," kata Sehun. "Tenang aja, cuma Lulu kok yang ada di hati Sehun..."

"Pergi nggak lo!" bentak Luhan sambil mengangkat gelas minumannya yang sudah kosong.

Tepat saat Luhan mengangkat gelasnya, bel tanda istirahat telah selesai, berbunyi dengan nyaringnya. Saved by the bell.

"Oke deh, gue masuk kelas dulu ya," kata Sehun sambil tersenyum manis ke arah Luhan. "See you, my angel."

Sehun beranjak meninggalkan kantin sambil melambaikan tangan. Baekhyun dan Minseok membalas lambaian itu sambil tersenyum lebar. Luhan melotot kesal melihat ulah kedua temannya itu.

"Gila! Itu yang namanya Sehun? Cakep banget!" seru Baekhyun.

"Iya. Mukanya itu lho. Ya ampun... cute abis!" tambah Minseok nggak kalah heboh dari Baekhyun.

"Cakep? kayak gitu lo bilang cakep? Lo berdua buta kali ya!" ujar Luhan heran.

"Lu, kayaknya si Sehun serius naksir sama elo deh," kata Zitao dengan senyum manisnya.

"APA?! AMIT-AMIT DEH!" ujar Luhan jijik sambil mengetuk-mengetukkan jarinya di meja berulang kali.

.

.

.

Udara siang ini luar biasa panasnya. Matahari sedang seru-serunya memancarkan sinar. Naik bus dari sekolah sampai ke rumah benar-benar telah menguras keringat Luhan. Tapi lumayan juga sih buat membakar kalori. Nggak perlu menghabiskan uang buat mandi sauna. Lebih alami!

Luhan mengeluarkan kunci dari dalam tas ranselnya dan membuka pintu pagar rumah. Ia buru-buru masuk ke rumahnya sebelum kulitnya gosong terkena sengatan sinar matahari. Ia melempar tas ranselnya dan bergegas ke dapur mengambil segelas air dingin dari kulkas. Luhan meneguk air minumnya dengan cepat untuk meredakan dahaga.

Hah... lega rasanya.

Saat menutup pintu kulkas, Luhan menemukan secarik memo tertempel di pintu kulkas. Memo dari Mamanya.

Lu, ada nasi dan ayam goreng di meja makan. Maaf ya, mama cuma sempat masak itu tadi pagi. Nanti mama pulang malam. Kamu nggak usah nunggu mama. Kalau kamu mau, nanti malam beli makanan aja, lalu tidur duluan.

Hati-hati di rumah ya.

Love, Mama.

Lagi-lagi pulang malam.

Belakangan ini mama kelihatannya benar-benar sibuk. Hampir setiap hari mama lembur.

Mama Luhan bekerja di bagian pembukuan di sebuah pabrik tekstil. Sedangkan papanya... Luhan nggak tahu laki-laki mana yang disebutnya papa. Sejak lahir Luhan nggak pernah tahu siapa papa kandungnya. Luhan lahir di luar nikah. Anak haram... mungkin itu sebutannya.

Berulang kali Luhan menuntut mamanya untuk menceritakan siapa papa kandungnya, tapi mamanya selalu bungkam. Bahkan nggak jarang mamanya malah marah besar sewaktu Luhan memaksa mamanya bicara. Bukan hanya mamanya yang bungkam, tapi semua keluarga mamanya juga bungkam. Kalau Luhan mencoba bertanya pada mereka, mereka segera mengalihkan pembicaraan. Luhan nggak tahu apa alasannya, tapi Luhan yakin mamanya sudah meminta semua orang untuk merahasiakan identitas papa kandungnya.

Lambat laun Luhan menyerah. Dia nggak lagi berusaha mencari tahu tentang papa kandungnya. Tapi satu keyakinan yang tertanam dalam benaknya, laki-laki yang meninggalkan anak dan istrinya tanpa alasan pasti bukan laki-laki yang pantas untuk di panggilnya papa. Dan Luhan membenci laki-laki yang sudah membuat dirinya dipanggil anak haram itu.

Mamanya memang pernah menikah secara resmi. Waktu itu Luhan baru kelas 6 SD. Mamanya menikah dengan laki-laki yang usianya lebih muda dua tahun. Luhan memanggil laki-laki itu Papa Siwon. Papa Siwon orang yang humoris. Luhan nggak bisa memungkiri, dia senang mamanya menikah dengan Papa Siwon. Tapi sayang, pernikahan itu nggak bertahan lama. Penyebabnya karena mamanya memergoki Papa Siwon selingkuh. Dan Mamanya kembali terluka.

Sekarang Luhan cuma tinggal berdua lagi dengan mamanya. Sejak perceraian itu, mamanya kembali berperan sebagai single parent buat Luhan. Sama seperti sebelum mamanya menikah dengan Papa Siwon, mamanya bekerja banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan Luhan. Mamanya nggak pernah mau menerima belas kasihan dari siapa pun. Mamanya selalu menolak setiap bantuan yang hendak diberikan oleh keluarga mamanya. Mamanya memilih bekerja dan hidup mandiri bersama Luhan di rumah kontrakan yang sederhana ini. Bagi Luhan, mamanya adalah segalanya.

Luhan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia berjalan menuju kamarnya sambil menyeret tasnya yang tergeletak di lantai. Setelah meletakkan tasnya di meja belajar, cewek itu berjalan gontai menuju tempat tidur. Direbahkannya tubuhnya di atas tempat tidur. Ditatapnya langit-langit kamarnya. Pahitnya masa lalu kembali bergulir dalam memorinya.

Semua peristiwa yang di alaminya selama ini telah mengubah hidup Luhan. Pengkhianatan Papa Siwon dan tak adanya figur seorang papa membuat Luhan menjadi pribadi yang keras. Di mata Luhan, semua laki-laki brengsek. Makanya, Luhan nggak suka kalau ada cowok yang coba-coba mendekati dirinya. Prinsipnya : I don't need a man. Luhan nggak mau disakiti cowok seperti mamanya yang sudah disakiti Papa Siwon, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkan dirinya dan mamanya begitu saja. Bagi Luhan, cowok itu nggak pantas mendapatkan cinta dari perempuan karena mereka sama sekali nggak pernah bisa menghargai arti seorang perempuan dalam kehidupan mereka. Makhluk yang bernama cowok itu sering merasa dirinya adalah makhluk berakal budi yang pertama kali diciptakan Tuhan, dan perempuan cuma sekadar pendamping yang mencuri tulang rusuk mereka. Luhan yakin dirinya mampu berdiri sendiri tanpa kehadiran cowok dalam hidupnya. Luhan nggak akan membiarkan seorang cowok pun menyakiti dirinya. Cita-cita Luhan cuma satu, membuat mamanya bahagia.

KRIINNGG...!

Dering telepon dari ruang tamu mengembalikan Luhan ke alam nyata. Luhan bangkit dari tempat tidur dan buru-buru berlari kecil menuju ruang tamu untuk mengangkat telepon.

"Halo..." sapa Luhan.

"Halo, ini Lulu, ya?" balas si penelepon dari seberang. Suara cowok.

"Iya. Ini siapa ya?"

Bukannya menjawab, cowok di seberang malah berkata, "Wow! Suara lo di telepon merdu banget. Suara lo imut, kayak orangnya."

Luhan melotot mendengar kata-kata si penelepon gelap itu. Dia paling nggak suka cowok yang berani ngegombal padanya.

"Siapa lo? Gue nggak suka gaya bicara lo!"

"Duilee... marah lagi... marah lagi. Gue kan cuma berkata jujur. Gue Sehun, Lulu. Masa lo nggak kenal sama suara keren gue ini."

"Sehun! Berani-beraninya lo nelepon gue! Dapat dari mana lo nomor telepon gue!" bentak Luhan kaget.

Gila juga nih cowok, baru sehari selesai MOS udah berani kurang ajar sama kakak kelas. Apa perlu ditambah ya MOS-nya? Biar digojlok habis-habisan sampai kapok.

"Sabar dong, Lu. Gue nggak punya maksud jelek kok sama elo. Jangan galak-galak gitu dong...," ujar Sehun. "Gue tau nomor telepon lo dari temen lo, Baekhyun. Tadi pas pulang sekolah gue nyari elo, tapi nggak ketemu. Gue malah ketemu Baekhyun di kantin. Katanya lo udah pulang duluan naik bus. Padahal gue bermaksud nganterin lo pulang tadi. Ya udah, sekalian aja gue tanya nomor telepon lo."

Dasar Baekhyun rese! Ngapain juga dia ngasih tau nomor telepon gue ke anak kutu ini!

"So, elo ada perlu apa sama gue sekarang?" tanya Luhan ketus.

"Gue cuma mau nanya... ng... lo lagi jomblo ya?"

"Apa?!" pekik Luhan kaget.

"Gue serius nih, Lulu. Gue boleh nggak jadi pacar lo?"

"Jangan kurang ajar ya!" suara Luhan makin melengking.

"Ya ampun. Nggak usah histeris gitu dong. Kaget ya, ditembak cowok ganteng?"

"Ngaca dulu sana! Lee Min Ho aja nembak gue, gue tolak. Apalagi elo! Sadar ya, di mata gue, lo tuh masih bau kencur! Gue ini kakak kelas lo. Lo nggak usah main-main sama gue. Oke?" jawab Luhan sambil tertawa.

"Begitu ya. Jadi lo nggak mau sama gue cuma karena gue adik kelas lo?" suara Sehun terdengar lirih. Kayaknya dia kecewa. Nggak tau kenapa, Luhan jadi nggak enak hati udah ngomong sekasar itu pada Sehun. Padahal biasanya kalau ada cowok yang nembak, langsung ditolaknya tanpa memedulikan perasaan tuh cowok. Tapi nggak tau kenapa, kok sekarang Luhan jadi kasihan sama Sehun? Mungkin karena Luhan merasa Sehun masih muda, jadi belum tahan banting, kali ya. Mmm... ada hubungannya nggak sih?

"Mmm... bukan cuma karena itu, tapi karena gue emang nggak minat pacaran," suara Luhan mulai melembut.

"Kenapa?"

"Lo nggak perlu tau alasannya, Hun. Lagian lo tuh belum kenal siapa gue. Gue yakin lo nggak serius sama gue."

"Gue kenal kok siapa elo," sahut Sehun. "Elo tuh Luhan, cewek yang emang udah ditakdirkan Tuhan buat gue. Gue serius sama elo dan gue akan membuktikan hal itu sama elo. Gue akan membuat elo mau membuka hati buat gue. Gue akan membuat lo jatuh cinta sama gue..."

"Omong kosong!"

BRAK!

Luhan membanting gagang telepon dan memutus pembicaraan begitu saja.

Dasar cowok rese! Nggak tau malu! Nggak tau diri. Dia kira gue cewek gampangan, apa!Yang klepek-klepek kalau dengar rayuan murahan kayak gitu. Nih cowok emang nggak bisa dikasih hati. Dilembutin dikit malah makin ngegombal. Gue paling jijay sama cowok kayak gitu. Iih, kesel banget deh gue! Semua cowok emang sama aja! GOMBAL!

Luhan membanting tubuhnya di sofa ruang tamu lalu merengut kesal.

.

.

.

T B C

.

.

.

So, Review Again Please ^-^

.

.

.

"181214"