PACARKU JUNIORKU

Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun (HunHan)

Genre : Romance, Drama, Family

Length : Chapter 4 0f ?

Summary :

Semua peristiwa yang di alami Luhan -siswi kelas 3 SMA- selama ini telah mengubah hidupnya. Pengkhianatan papa tirinya dan tak adanya figur seorang papa kandung membuat Luhan menjadi pribadi yang mata Luhan, semua laki-laki yang membuat Luhan tidak suka kalau ada laki-laki yang coba-coba mendekati :I don't need a man. Luhan tidak mau disakiti laki-laki seperti mamanya yang sudah disakiti papa tirinya, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkannya dan mamanya begitu saja.

Namun bagaimana jika Sehun -siswa kelas 1 SMA- mengusik kehidupannya dan tanpa malu menyatakan cintanya kepada Luhan secara blak-blakan?!

.

.

.

DISCLAIMER :

Hai Readers, sebelum kalian membaca FF ini, aku kasih tau dulu kalau FF ini aku ambil dari sebuah novel remaja dengan judul yang sama by Valleria Verawati.

Aku ngeposting cerita ini niatnya bukan untuk meng-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 4

.

.

.

"LU... gue anterin pulang ya," tawar Sehun saat semua anak sudah meninggalkan ruang kelas dengan penuh suka cita untuk segera pulang ke rumah.

Luhan berjalan cepat menyusuri lapangan tanpa memperdulikan tawaran Sehun yang berusaha mensejajarkan langkahnya di samping Luhan.

"Lulu... jangan cuek gitu anterin lo pulang ya," rayu Sehun pantang menyerah."Kan lebih enak naik mobil gue daripada naik bus."

Luhan tetap nggak peduli dan mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah yang menganga lebar.

"Lulu...," panggil Sehun sambil menahan tangan kiri Luhan.

Luhan berhenti dan menatap Sehun tajam."Lepasin tangan gue!"

"Nggak mau. Gue baru mau lepasin tangan lo kalau lo mau pulang bareng gue."

"Gue bilang lepasin tangan gue!"

"Gue nggak mau!"

PLAAKK!

Sebuah tamparan keras melayang di pipi Sehun. Semua mata kontan menatap mereka. Sehun melepaskan genggamannya. Dia nggak menyangka Luhan akan senekat itu. Dalam hitungan detik, di pipi Sehun yang mulus dan putih tercetak bekas tamparan jari-jari tangan Luhan.

"Dengar baik-baik, ya. Tamparan itu hadiah buat kekurangajaran lo megang-megang tangan gue. Kalau elo masih berani ganggu gue, gue nggak akan segan menghajar elo. Jangan kira gue nggak berani sama elo. Biarpun cewek, gue nggak takut kalau harus ribut sama elo!"

Sehun terperanjat. Tapi cowok itu memang sabar, ia nggak termakan emosi mendengar ancaman Luhan.

"Lu, kenapa sih elo sewot banget sama gue. Apa gue salah, jatuh cinta sama elo?"

"Lo kira gue bisa kemakan rayuan gombal lo? Elo salah besar! Gue bukan cewek gampangan seperti yang lo kira. Kalau lo mau mainin cewek, gue rasa banyak temen sekelas lo yang bersedia!"

"Lu, gue nggak pernah nganggap elo cewek gampangan. Gue nggak pernah berniat mainin cewek manapun. Gue cuma mengikuti kata hati dan debaran jantung gue yang udah menjatuhkan pilihannya ke elo..."

"Sehun, kalau elo masih coba-coba deketin gue dan sok ngegombal, gue akan benar-benar membenci elo dengan segenap jiwa raga gue!" bentak Luhan kesal.

Anak-anak yang lagi bubaran kelas membuat pagar lingkaran di sekeliling Luhan dan Sehun. Mereka membatalkan niat mereka untuk segera meninggalkan sekolah. Tontonan gratis yang seru ini sama sekali nggak boleh dilewatkan. Bahkan sampai-sampai ada yang nekat taruhan siapa yang menang dalam pertarungan kali ini. Kebanyakan sih pada megang Luhan.

"Lu... gue suka sama elo. Dan gue akan membuat elo melihat ketulusan perasaan gue. Gue nggak akan mundur begitu aja. Tamparan ini malah membuktikan bahwa elo ada perhatian ke gue," kata Sehun lembut. Ia tersenyum manis menatap kedua bola mata Luhan yang melotot marah.

"Dasar GILA!" teriak Luhan lalu berlari meninggalkan Sehun dan menembus pagar lingkaran teman-temannya.

"HIDUP SEHUN!" teriak salah satu penonton yang kemudian diikuti sorakan teman-temannya yang lain. Ternyata Sehun yang menang.

"Ayo, lo bayar taruhannya!" tagih Jongin, salah satu sobat Sehun yang ikutan pasang taruhan untuk kemenangan Sehun.

Anak-anak mulai bubar. Yang menang taruhan tertawa lebar, sedangkan yang memilih Luhan cuma bisa mesem-mesem kecewa.

"Hun, lo TOP banget dah! Tu cewek bisa lo buat nggak berkutik. Hebat, hebat!" puji Jongin mendekati Sehun sambil mengantongi uang yang baru saja didapatkannya.

Sehun cuma diam dan mengelus-elus pipinya yang masih terasa agak panas.

"Weits! Pipi lo merah juga, Hun. Tamparan tuh cewek keras juga ya?" kata Jongin. "Lo nggak serius kan naksir cewek kasar gitu?"

"Dia bukan cewek kasar. Dia cuma punya watak keras," bela Sehun.

"Hun... jangan bilang lo serius naksir dia ya," ujar Jongin curiga.

Sehun nggak menjawab. Dia hanya diam dan tersenyum. Tapi bagi Jongin, senyum Sehun itu udah cukup sebagai jawaban.

"Lo gila, Hun! Segitu banyak cewek yang naksir lo sejak hari pertama kita masuk sekolah ini, elo malah milih cewek kasar yang jelas-jelas nggak suka sama elo," kata Jongin heran. "Gue rasa otak lo udah nggak waras lagi."

"Elo salah, Jong!" bantah Sehun. "Justru karena gue waras, gue milih Lulu daripada cewek-cewek sok jaim yang ngejar-ngejar gue tiap hari itu."

"Apa sih yang bagus dari tuh cewek?" tanya Jongin. "Cakep kagak, otaknya juga biasa aja. Udah gitu, dia kan senior kita, galak pula, sama sekali nggak ada nilai plusnya deh."

"Sekali lagi lo salah," jawab Sehun. "Lulu gadis paling baik yang pernah gue temui."

.

.

.

Luhan membanting tasnya ke tempat tidur dengan kesal. Hari ini benar-benar hari terburuk buatnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan mengambil gulingnya, lalu meremasnya gemas.

KRIING...!

Dering telepon memaksa Luhan untuk bangun dan segera ke bawah untuk mengangkat telepon. Luhan berlari kecil sambil ngedumel kesal.

"Halo...," sapa Luhan ogah-ogahan.

"Halo, Lu," sapa Zitao ramah dari seberang. "Gue ganggu nggak?"

"Eh, elo, Zi," jawab Luhan. "Nggak ganggu kok, ada apa?"

"Cuma mau ngobrol aja sama elo."

"Lho, tumben. Ada apaan sih?" tanya Luhan heran. "Nggak biasanya elo berkesan misterius gini."

"Siapa yang misterius?" Zitao malah balik tanya. "Gue cuma mau ngobrol biasa aja sama elo."

"Oke. Tentang apa nih?"

"Tentang elo."

"Gue?"

"Iya, tentang elo," jawab Zitao. "Gue denger, pas pulang sekolah lo ribut sama Sehun di lapangan, ya?"

"Tau dari mana lo?"

"Dari berbagai sumber. Topik itu mulai jadi pembicaraan hangat di antara anak-anak, dan gue yakin besok berita itu pasti bakal jadi lebih heboh lagi."

"Pada kurang kerjaan, ya! Buat apa sih kejadian gitu aja dibesar-besarkan!"

"Lu, apa elo nggak sadar? Ini pertama kalinya ada cowok yang benar-benar berhasil merebut perhatian lo."

"Merebut perhatian gue?" tanya Luhan. "Apa lo nggak salah, Zi? Gue malah setengah mampus benci banget sama dia."

"Bukankah benci itu juga satu bukti bahwa elo merespons semua tindakan dia dan memberi dia satu perhatian lebih?"

"Maksud lo apa, Zi?"

"Lu, hampir tiga tahun gue kenal elo, dan gue tau siapa elo," jelas Zitao. "Lulu yang gue kenal sangat dingin sama cowok yang berusaha mendekatinya. Lulu yang gue kenal pantang mengharapkan bantuan cowok kecuali jika ada hubungan kerja sama yang saling menguntungkan di dalamnya. Lulu yang gue kenal nggak pernah mau merespons semua tindakan cowok yang mencoba pedekate sama dia. Lulu yang gue kenal nggak akan mau ribut sama cowok karena urusan cinta."

Luhan nggak bersuara. Dia nggak bisa membalas semua ucapan Zitao. Dia terpaku diam.

"Tapi Lulu yang sekarang mulai berubah," lanjut Zitao. "Lulu yang sekarang marah-marah dan ngejutekin seorang cowok yang sedang berusaha pedekate sama dia. Padahal dulu boro-boro melirik, setiap cowok yang mencoba mendekati Lulu bakal dicuekin habis-habisan. Lulu yang sekarang juga mau dianterin ke sekolah sama cowok tersebut meskipun dengan alasan terpaksa. Bahkan Lulu yang sekarang bisa ribut di depan umum sama seorang cowok gara-gara masalah cinta."

"Tapi gue nggak ngeributin masalah cinta sama Sehun!" bantah Luhan. "Gue cuma... gue cuma... nampar dia dan minta dia nggak ganggu gue lagi."

"Apa bedanya, Lu?" sahut Zitao. "Itu malah semakin menunjukkan bahwa elo jelas merespons semua tindakan dia. Elo marah-marah sama dia, elo ngejutekin dia, elo bilang elo benci sama dia, bukankah itu berarti elo memberi perhatian dan menanggapi semua tindakan yang dia lakukan?"

"Tapi..."

"Lo masih ingat Jinki nggak, cowok yang empat bulan lalu mencoba ngedeketin elo?" tanya Zitao.

"Jinki?"Luhan malah balik bertanya."Jinki yang mana? Memangnya ada cowok yang namanya Jinki yang mencoba deketin gue?"

"Tuh... benar, kan? Bahkan nama cowok yang pedekate sama elo aja lo nggak ingat," kata Zitao. "Jinki itu teman kuliahnya Minho, Lulu...! Nah, sekarang kembali ke Sehun nih. Elo tuh benar-benar merespons kehadiran cowok itu."

"Gue nggak bermaksud gitu, Zi."

"Jujur sama gue, Lu," kata Zitao, "apa elo udah jatuh cinta sama Sehun?"

"Nggak... itu nggak mungkin," jawab Luhan."Gue nggak mungkin jatuh cinta sama cowok aneh itu."

"Kenapa nggak, Lu? Elo nggak salah kok kalau elo jatuh cinta sama dia."

"Nggak mungkin! Gue nggak mau jatuh cinta," ujar Luhan. "Cinta itu cuma bikin gue menderita, dan gue nggak akan membiarkan diri gue merasakan penderitaan yang sama kayak nyokap gue. Gue nggak akan membiarkan cowok mana pun menyakiti gue. Nggak akan!"

"Elo salah, Lu," kata Zitao. "Kalau elo sendiri takut untuk mencintai, gimana elo bisa tau apa elo bakal menderita atau malah bahagia?"

"Gue nggak peduli! Lagi pula, buat apa sih elo ngomongin masalah ini sama gue?"

"Gue cuma mau membantu lo untuk jujur sama diri lo sendiri."

"Udahlah, Zi," kata Luhan kesal. "Gue nggak mau membahas Sehun lagi. Hari ini gue udah cukup capek gara-gara cowok rese itu. Gue sampai enek terus-terusan mendengar nama dia hari ini."

"Oke, oke. Sori ya kalau gue udah mengganggu elo, Lu."

"Nggak kok, Zi. Elo nggak ganggu gue."

"Bohong banget!"

"Bener... Gue cuma nggak pengen mendengar nama cowok aneh itu lagi."

"Iya. Dia memang cowok aneh, Lu," ujar Zitao."Dia cowok aneh yang udah mulai memasuki kehidupan lo."

"Tuh, kan? Lo mulai lagi..."

Zitao tertawa lalu berkata, "Oke, udahan dulu ya. Gue mau nelepon Minho. Bye!"

"Bye!" Bia menutup telepon lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Sehun lagi Sehun lagi. Mau nggak mau Luhan kepikiran juga sama semua ucapan Zitao barusan.

Apa iya gue jatuh cinta sama dia? Nggak mungkin!

Eits, apa iya nggak mungkin?

.

.

.

Luhan duduk di sofa ruang tamu sambil membuka buku sejarahnya. Dia sedang menunggu Mamanya pulang kerja, sembari mengerjakan PR sejarah. Luhan membalik halaman demi halaman buku sejarahnya, mencari jawaban untuk pertanyaan yang sedang dikerjakannya.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.15. Tapi aneh, Mamanya belum juga pulang. Luhan mulai nggak tenang, soalnya Mamanya bilang hari ini mau pulang lebih awal. Jadi aneh kalau jam segini Mamanya belum sampai di rumah.

Apa jalanan macet, ya?

Deru mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian Luhan dari buku yang ada di tangannya. Siapa yang berhenti di depan rumahnya? Yang pasti itu bukan Mamanya, soalnya biasanya Mamanya pulang kerja selalu naik bus dan akan jalan kaki dari halte ke rumahnya karna jaraknya memang tidak jauh. Jadi nggak mungkin Mamanya naik mobil.

Jadi siapa ya? Mungkin orang lewat aja kali ya.

Terdengar suara pagar depan dibuka. Luhan mengernyitkan dahi.

Apa itu Mama?

Suara mobil kembali terdengar lalu perlahan berlalu pergi. Bersamaan dengan itu kenop pintu berputar dan Mamanya muncul dari balik pintu dengan wajah lelah.

"Mama kok baru pulang?" tanya Luhan heran.

"Iya. Memangnya kenapa, Sayang?" Mamanya ikutan heran melihat ekspresi Luhan.

"Nggak. Aku cuma heran," jawab Luhan. "Soalnya tadi aku dengar suara mobil di depan rumah."

"Oh... itu." Mamanya kelihatan gugup dan salah tingkah. "Ng... itu... tadi Mama diantar teman kantor Mama."

"Teman kantor?"

"Iya... mmm... teman kantor Mama," jawab Mamanya tambah gugup. "Manajer personalia di tempat Mama kerja."

"Kok tumben dia nganter Mama pulang?" tanya Luhan, kayak polisi mengintero-gasi tersangka. "Jangan-jangan kemarin-kemarin dia juga yang nganterin Mama pulang? Cowok atau cewek, Ma? Apa dia punya maksud khusus sama Mama?"

"Kamu tuh apa-apaan sih, Lu?" Mamanya jadi sewot ditanya bertubi-tubi gitu sama anaknya. "Mama rasa Mama nggak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan kamu yang aneh itu. Mama mau mandi."

Mamanya membawa tas kerjanya ke kamar lalu kembali keluar sambil membawa handuk dan berjalan menuju kamar mandi.

Luhan menghela napas panjang. Rasanya wajar aja kalau Luhan curiga sama Mamanya. Masalahnya, selama ini Mamanya selalu pulang kerja sendirian. Mamanya itu wanita mandiri. Tapi kok sekarang Mamanya pakai acara dianterin pulang segala sama teman kantor yang katanya manajer personalia itu? Rasanya benar-benar mencurigakan, apalagi kalau melihat tampang Mamanya yang gugup waktu menjawab pertanyaan-pertanyaan Luhan tadi.

Luhan menutup buku sejarahnya dan membiarkan pikiran-pikirannya bekerja mencari jawaban untuk keanehan ini.

.

.

.

Besok siangnya, setelah bel pulang berbunyi, Luhan sedang merapikan bukunya ketika tiba-tiba Minseok nongol di kelas.

"Lu, lo harus ikut gue ke lapangan," ajak Minseok.

"Apaan sih?" tanya Luhan. "Lo kan tadi udah mau pulang duluan sama Baekhyun dan Zitao, kok sekarang balik lagi sih?"

Luhan yang masih sibuk merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja memandang Minseok heran. Kelas udah sepi. Anak-anak udah pada bubar dari tadi. Tinggal mereka berdua di ruangan itu.

"Pokoknya lo harus ikut gue sekarang juga," ajak Minseok lagi yang kali ini lebih berkesan memaksa.

"Ada apa sih, Xiu?" tanya Luhan lagi. "Lo nggak liat ya, gue lagi sibuk ngerapiin buku-buku gue."

"So what gitu loh!" jawab Minseok asal. "Yang penting lo ikut gue sekarang juga."

"Tapi gue lagi rapiin buku-buku gue, Xiu!" protes Luhan.

"Gue bantuin," kata Minseok lalu secepat kilat mengambil semua buku Luhan yang berserakan di meja dan menjejalkannya ke dalam tas ransel Luhan.

Luhan cuma bisa melotot melihat buku-bukunya yang jadi lecek nggak keruan gara-gara ulah Minseok.

"Udah, ayo jalan," ajak Minseok sambil menarik tangan Luhan meninggalkan ruang kelas. "Baekhyun sama Zitao udah nunggu dari tadi."

"Iya, iya. Tapi pelan-pelan dong, Xiu," Luhan ngedumel.

"Kita nggak ada waktu lagi."

Memangnya ada apa sih?

.

.

.

Lapangan basket tampak ramai oleh anak-anak yang nggak jadi pulang. Mereka berdiri di sekeliling lapangan sambil berteriak-teriak heboh.

Minseok dan Luhan menerobos barisan penonton dan menempatkan diri di samping Zitao dan Baekhyun yang juga sedang seru memperhatikan lapangan basket.

"Ada apa sih?" tanya Luhan heran.

"Lo liat aja sendiri," jawab Minseok.

Luhan menajamkan penglihatannya ke tengah lapangan. Di sana ada sebuah meja, dan di atasnya berdiri seorang cowok cakep sambil memegang TOA. Luhan melongo kaget, nggak percaya atas apa yang dilihatnya. Cowok yang berdiri di atas meja itu...

SEHUN! Gila! Ngapain dia di situ? Di tengah lapangan, lagi! Dasar kurang kerjaan, tukang cari sensasi.

"Halo semuanya...!" sapa Sehun, mulutnya menempel di corong TOA.

"Halo juga!" balas semua anak yang ada di situ, kecuali Luhan pastinya.

"Oke. Hari ini gue spesial tampil di depan kalian semua untuk menghibur kalian selama kurang-lebih lima belas menit," kata Sehun. "Gue juga akan mempersembahkan lagu untuk seseorang yang udah membuat gue jatuh cinta..."

Mata Sehun tertuju pada sosok Luhan yang berdiri di pinggir lapangan. Sinar matanya menunjukkan kehangatan dan ketulusan hatinya. Luhan balas menatap Sehun, tapi nggak lama kemudian dia langsung buang muka.

"Semua siap bergoyang?" tanya Sehun kayak penyanyi profesional.

"Siap!" teriak anak-anak heboh.

"Lagu pertama gue persembahkan untuk para Sehuners yang udah banyak mendukung gue selama ini," kata Sehun. "Karena Cinta."

"Huuu...!" sorak anak-anak.

Sehun mulai menyanyi dengan menggunakan TOA tanpa diiringi musik. Terdengar rada aneh, tapi lumayanlah.

"Si Sehun benar-benar gila!" ujar Baekhyun. "Tapi gue suka cowok model gini."

"Lo suka cowok gila, Baek?" tanya Luhan.

"Gilanya Sehun kan beda, Lu," jawab Baekhyun. "Gilanya dia tuh keren banget."

Luhan mencibir. Baginya sekali gila ya tetap gila.

Apanya yang keren? Malah kayak orang kurang kerjaan banget.

"Zi, gue mau ngomong bentar sama elo." Tiba-tiba Yifan, teman sekelas mereka, udah nongol di sebelah Zitao dengan tampang serius.

"Oh, ada apa, Fan?" tanya Zitao. "Ngomong aja sekarang."

Yifan melirik sebentar ke arah ketiga teman Zitao, lalu kembali menatap cewek itu. "Gue mau ngomong empat mata sama elo," jawab Yifan. "Penting!"

Zitao mengernyitkan dahinya heran, begitu pula ketiga temannya.

"Ya udah. Kita ngomong di kantin aja," tawar Zitao.

Yifan mengangguk lalu berjalan lebih dulu menuju kantin.

"Gue ke kantin dulu bentar," pamit Zitao. "Nanti gue balik lagi."

Luhan, Baekhyun, dan Minseok hanya bisa mengangguk kebingungan. Tumben banget Yifan berani ngajak Zitao ngomong berduaan. Yifan memang udah lama naksir Zitao, ketahuan dari gerak-gerikya yang selalu baik sama Zitao. Tapi anehnya dia nggak pernah berani ngomong berduaan sama Zitao, apalagi nembak. Jadi selama ini dia cuma menyimpan rasa sukanya dalam hati, sehingga akhirnya Zitao jatuh ke tangan Minho.

Makanya semua pada heran melihat Yifan mengajak Zitao kayak tadi. Rasanya aneh aja.

Tepuk tangan meriah dari anak-anak mengembalikan perhatian ketiga cewek itu pada Sehun yang masih berdiri di tengah lapangan.

"Oke, lagu berikutnya gue persembahkan buat cewek yang udah menawan hati gue. Dia adalah... Lulu," ujar Sehun sambil menatap lembut Luhan.

Luhan melotot kaget. Semua mata yang ada di lapangan saat itu langsung melihat ke arahnya. Tanpa Luhan sadari, mukanya memerah kayak udang rebus.

"Tidak semua laki-laki," Sehun menyebutkan judul lagu yang akan dinyanyikannya, lalu melompat turun dari atas meja dan mulai bernyanyi sambil perlahan berjalan dan bergoyang mendekati Luhan.

Bait demi bait dinyanyikannya di bawah sorakan dan tepukan tangan anak-anak yang masih setia menonton pertunjukannya. Sehun nggak peduli dengan puluhan mata yang menatapnya geli atau tawa dan teriakan mereka yang seakan melecehkannya. Dia tetap bergoyang ria sambil menatap mata Luhan, cewek pujaannya.

Sorakan dan tepuk tangan riuh mengakhiri lagu yang dinyanyikan Sehun. Luhan menatap Sehun yang sudah berlutut di hadapannya. Dia benar-benar bingung nggak tahu harus berkata dan berbuat apa.

Sehun masih berlutut, lalu masih dengan menggunakan TOA, dia bertanya pada Luhan, "Lulu, would you be my princess?"

Mulut Luhan menganga lebar. Dia nggak percaya dengan apa yang baru aja didengarnya. Nggak mungkin cowok gila ini benar-benar nekat ngomong gitu di depan semua orang. Luhan celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sesuatu, siapa tahu ada kamera tersembunyi yang lagi meliput kejadian ini. Bisa aja kan, ini lagi acara reality show? Kan sekarang lagi zamannya segala sesuatu dibikin reality show. Tapi ternyata nggak ada. Mata Luhan malah tertumbuk pada tiga cewek yang pernah ngegosipin dia di toilet sekolah. Ketiga cewek itu berdiri diam di salah satu sudut lapangan dan memandangnya dengan sorot mata jijik.

Darah Luhan bergejolak hebat, dan tiba-tiba saja emosinya meluap-luap. Luhan jadi kesal sama kelakuan Sehun yang udah memberi kesempatan pada ketiga cewek genit itu untuk memandanginya dengan tatapan merendahkan.

Luhan menatap Sehun yang masih berlutut di depannya, lalu berkata tajam, "Elo tuh benar-benar nggak punya malu! Gue jijik sama elo!"

Kemudian Luhan berlalu begitu saja, meninggalkan Sehun yang terpengarah menatapnya, bersama puluhan mata yang juga kaget dengan jawaban yang dilontarkannya. Tapi Luhan nggak peduli. Dia berjalan cepat menerobos kerumunan dan meninggalkan gedung sekolah.

.

.

.

"Lu, kok lo pulang duluan sih?" protes Zitao di telepon sore itu.

"Sori, gue males aja jadi tontonan orang," jawab Luhan. "Lagian, siapa suruh lo ngilang lama banget."

"Gue kan lagi ngomong sama Yifan di kantin."

"Oh iya, gue lupa," kata Luhan sambil nyengir. "Kalian ngomongin apaan sih? Tumben banget si Yifan ngajakin elo bicara empat mata..."

Terdengar suara tarikan napas dari seberang. Zitao terdiam sesaat.

"Ah, nggak penting," jawab Zitao akhirnya. "Gue yang mestinya nanya sama elo, apa yang terjadi di lapangan setelah gue ke kantin."

"Lo pasti udah diceritain sama Minseok atau Baekhyun."

"Iya sih," lanjut Zitao. "Tapi gue mau dengar cerita versi elo."

"Ceritanya sama aja."

"Lo kedengarannya bete banget sih, Lu?"

"Masa?"

"Jutek, tau!" dumel Zitao.

"Perasaan lo aja, kali."

"Ih, nih anak, kalo dibilangin," gerutu Zitao lagi. "Gue kan cuma mau ngajak lo ngobrol. Kok respon lo ngebetein gitu sih?"

"Habis, lo ngajakin gue ngobrol soal tadi sih. Gue keki, tau!"

"Lho memangnya kenapa?" tanya Zitao heran. "Sehun kan cuma bikin pertunjukan spesial buat lo di lapangan. Masa gitu aja salah sih?"

"Jelas salah!"

"Apanya yang salah?"

Luhan merengut karena kesal. "Zi, Sehun udah bikin gue malu. Dia bikin gue jadi tontonan anak-anak, dia bikin gue nggak punya muka di depan teman-teman dan junior-junior gue sendiri."

"Ya ampun, Lu...," ujar Zitao. "Sehun nggak mungkin bermaksud kayak gitu."

"Lo tau dari mana?" tanya Luhan. "Lo kan nggak ngeliat kejadian tadi. Anak-anak kelas satu pada ngeliatin gue dengan pandangan menghina. Gue benar-benar kesal banget."

"Nggak mungkin, Lu," bantah Zitao. "Kalaupun iya, itu cuma karena mereka iri sama elo."

"Iri sama gue?"

"Iya, Lu," jawab Zitao. "Mereka iri karena elo mendapat perhatian dari Sehun, cowok yang lagi naik daun di sekolah kita saat ini. Masa lo nggak ngerti sih?"

Luhan terdiam sesaat, mencoba memikirkan kata-kata Zitao. Entah mengapa Luhan malah tambah kesal.

"Siapa yang suruh mereka pake acara iri segala!" maki Luhan. "Mereka kira gue suka apa, sama hal-hal kayak gini? Gue ngerasa kayak di sinetron-sinetron, terlalu didramatisir, cengeng banget. Ih, gue benci banget. Dan ini semua gara-gara cowok gila itu. Gue benar-benar sial ketemu dia!"

Zitao menghela napas panjang. "Menurut gue bukan elo yang sial karena ketemu sama Sehun, tapi Sehun yang sial karena jatuh cinta sama cewek kayak elo, Lu..."

.

.

.

TBC

.

.

.

So, Mind to Review..?

.

.

.

"020115"