PACARKU JUNIORKU

Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun (HunHan)

Genre : Romance, Drama, Family

Length : Chapter 5 0f ?

Summary :

Semua peristiwa yang di alami Luhan -siswi kelas 3 SMA- selama ini telah mengubah hidupnya. Pengkhianatan papa tirinya dan tak adanya figur seorang papa kandung membuat Luhan menjadi pribadi yang keras. Di mata Luhan, semua laki-laki brengsek. Itulah yang membuat Luhan tidak suka kalau ada laki-laki yang coba-coba mendekati dirinya. Prinsipnya : I don't need a man. Luhan tidak mau disakiti laki-laki seperti mamanya yang sudah disakiti papa tirinya, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkannya dan mamanya begitu saja.

Namun bagaimana jika Sehun -siswa kelas 1 SMA- mengusik kehidupannya dan tanpa malu menyatakan cintanya kepada Luhan secara blak-blakan?!

.

.

.

DISCLAIMER :

Hai Readers, sebelum kalian membaca FF ini, aku kasih tau dulu kalau FF ini aku ambil dari sebuah novel remaja dengan judul yang sama by Valleria Verawati.

Aku ngeposting cerita ini niatnya bukan untuk meng-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 5

.

.

.

SUDAH tiga hari berlalu sejak kejadian di lapangan itu. Dan dalam tiga hari itu Luhan seakan berubah menjadi selebriti yang dibicarakan banyak orang. Tiap kali berjalan di koridor sekolah, pasti puluhan mata menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Udah gitu, mereka pakai acara bisik-bisik segala, lagi. Risi banget rasanya. Luhan benar-benar kesal dibuatnya. Entah udah berapa kali Luhan memaki-maki orang yang ngeliatin dia, tapi bukannya pada kapok, mereka malah tambah parah. Cerita tentang kejadian di lapangan itu bahkan jadi hot news yang paling banyak diminati saat ini. Pokoknya menduduki rating tertinggi deh. Dan yang lebih luar biasa lagi, cerita yang beredar dari mulut ke mulut itu terus berkembang sampai sekarang. Luhan sendiri sampai heran dengan daya kreativitas orang-orang yang udah ngembangin cerita itu.

Cerita terakhir yang luhan dengar tentang kejadian di lapangan hari itu sih begini:

1. Sehun nyanyi di lapangan buat nyatain perasaannya ke Luhan.

2. Luhan shock sampai pingsan soalnya selama ini kan nggak ada cowok yang senekat itu ngejar-ngejar dia.

3. Pas sadar Luhan nangis saking terharunya karena ada cowok yang mau sama dia.

Gila nggak tuh cerita! Mungkin nggak sih Luhan kayak gitu? Nangis buat cowok, nggak ada tuh dalam kamus hidup Luhan. Benar-benar nggak masuk akal, kan? Yang ngarang tuh cerita pasti benar-benar udah sinting. Tapi menurut Luhan, yang ngedengerin cerita itu jauh lebih sinting lagi karena mereka percaya sama cerita itu.

Ini benar-benar tiga hari terberat dalam hidup Luhan. Baru kali ini ia merasakan hal-hal semacam ini. Jadi pusat perhatian dan digosipin. Rasanya mau marah dan teriak, tapi ke siapa? Ke Sehun? Mana mungkin.

Masalahnya, udah tiga hari ini Sehun menghilang gitu aja dari peredaran. Cowok itu nggak pernah lagi datang ke kelas Luhan, nyamperin ke kantin, nungguin Luhan pulang sekolah, atau nelepon ke rumah. Pokoknya lenyap gitu aja deh.

Dan sekarang, entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam diri Luhan. Rasanya ada yang hilang. Luhan nggak tahu itu apa, yang dia tahu rasanya aneh banget. Apa iya itu gara-gara Sehun?

.

.

.

Siang itu Luhan, Zitao, dan Minseok duduk di kantin sambil menikmati semangkuk ramyeon. Biasalah, tiga cewek itu lagi malas pulang cepat. Jadi mereka nongkrong di kantin sama-sama.

Luhan menggulung-gulung ramyeon dengan garpunya. "Baekhyun mana?"

"Katanya mau pulang duluan," jawab Minseok sambil menuangkan sesendok sambal ke dalam mangkuk ramyeon-nya. "Dia bilang sih ada janji sama bokapnya."

"Bokapnya?" Luhan mengernyitkan dahinya heran. "Bukannya bokapnya lagi ke Pekanbaru?"

Minseok mengedikkan bahu. "Tau deh. Udah pulang, kali."

Luhan manggut-manggut lalu menyuapkan sesendok mi ke mulutnya.

"Lu, si Sehun apa kabarnya?" tanya Zitao tiba-tiba.

Luhan diam saja, pura-pura nggak dengar.

"Iya, Lu," tambah Minseok. "Gosip tentang kalian berdua kan lagi hot-hotnya nih. Masa nggak ada perkembangan baru sih?"

"Tau ah," jawab Luhan kesal. "Tuh anak udah mati, kali."

"Ih...! Kejam amat sih ngomongnya," goda Minseok. "Nggak baik lho kayak gitu. Ntar kalo orangnya mati beneran, lo bakalan nyesel!"

"Nggak bakal!"

"Jangan sewot gitu dong, Lu," ujar Zitao. "Kami kan cuma mau tau aja."

"Asal lo berdua tau," kata Luhan, "gue nggak pernah punya hubungan apa pun sama cowok rese itu. Jadi nggak bakal ada hal apa pun yang berkembang antara gue dan dia. Lagi pula, gue rasa dia udah malas deketin gue. Mungkin dia udah dapat cewek lain yang bisa dia mainin."

"Ada apa sih, Lu?" tanya Zitao heran.

"Apanya yang ada apa?" Luhan balik nanya.

"Yah elo itu...," jawab Zitao. "Gue merasa ada yang aneh sama elo."

"Nggak ada apa-apa kok. Apanya yang aneh sama gue?"

Minseok yang menjawab, "Lo emang lagi aneh, Lu. Apa gara-gara Sehun?"

"Kenapa gue mesti aneh gara-gara dia?"

"Karena lo merasa kehilangan Sehun yang udah beberapa hari ini nggak lagi gangguin elo. Iya, kan?" Minseok tersenyum nakal.

"Ngapain gue merasa kehilangan dia!" seru Luhan. "Gue malah senang karena dia nggak gangguin gue lagi!"

Minseok dan Zitao malah tertawa. Luhan melototi kedua temannya itu, tapi Zitao dan Minseok terus tertawa heboh.

Tanpa mereka bertiga sadari, Yifan udah berdiri di samping meja mereka.

"Zizi, gue mau bicara sama elo," kata Yifan tajam. "Ini penting, dan gue harus bicara sama elo saat ini juga."

Zitao berhenti tertawa dan menatap Yifan. Dia menghela napas panjang dan membuang muka sambil berkata, "Nggak ada lagi yang perlu kita bicarain."

"Ada!" bentak Yifan. "Lo nggak bisa pura-pura nggak ada masalah, Zi."

"Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!"

Yifan mencekal tangan Zitao. "Lo harus dengar kata-kata gue, nggak peduli lo suka atau nggak!"

Luhan berdiri dari tempat duduknya dan menepuk bahu Yifan pelan. "Jangan kasar gitu dong, Fan. Kalo dia nggak mau bicara sama elo, ya udah. Lo nggak berhak maksa dia."

"Dia harus mau bicara sama gue!" bentak Yifan kasar. "Gue nggak peduli!"

Yifan masih mencengkeram tangan Zitao. Matanya menatap tajam ke arah Luhan seakan memberi perintah agar Luhan nggak usah ikut campur.

"Lepasin tangan gue, Fan!" Zitao bangkit dan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Yifan. "Gue nggak mau mendengar apa pun dari mulut lo!"

"Gue nggak bakal melepas tangan lo sampai lo mau bicara sama gue."

"Fan, lepasin tangan Zizi!" seru Minseok cemas. "Dia kesakitan, tau!"

"Fan, gue minta sekali lagi...," pinta Luhan menahan emosi, "lepasin Zizi..."

"Lebih baik tangannya merah dan sakit daripada gue harus ngeliat dia sakit hati lebih dalam lagi," ujar Yifan keras kepala. Tangannya malah semakin keras mencengkeram pergelangan Zitao.

"Lebih baik lo lepasin tangan Zizi dan kita bicara baik-baik, Fan," Luhan berusaha berkata bijak untuk meredakan emosi Yifan yang meluap-luap.

Yifan menatap Luhan lama, lalu perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Zitao. Zitao buru-buru menarik tangannya dan memijitnya pelan-pelan. Yifan memandangi Zitao dalam-dalam. Mata Zitao yang mulai berair menahan tangis menyayat hatinya. Dia sama sekali nggak bermaksud menyakiti Zitao, gadis yang begitu disayanginya. Dia cuma mau Zitao mendengarkannya. Itu saja. Dia cuma nggak mau Zitao terluka lebih dalam nantinya. Dia nggak mau ada seorang pun yang menyakiti Zitao. Dia nggak rela ada seorang pun yang mempermainkan Zitao.

"Zi, gue mohon pikirkan lagi kata-kata gue waktu itu," kata Yifan pelan. "Gue emang nggak punya bukti, tapi gue nggak bohong. Gue ngeliat dengan mata gue sendiri. Dan itu nggak mungkin salah. Please, Zi... percaya sama gue."

"Gimana mungkin gue bisa percaya sama elo?!" sahut Zitao, air mata mengalir di kedua pipinya. "Kalau gue percaya sama elo, itu artinya gue mengkhianati cinta gue sendiri. Itu artinya gue nggak percaya sama pacar gue sendiri."

"Tapi dia memang nggak layak untuk elo percaya!"

"Fan, gue pacaran sama dia udah lama. Gue udah tahu siapa dia, dia nggak mungkin berbuat gitu sama gue. Dia nggak mungkin mengkhianati gue."

"Elo tuh udah buta, Zi!" maki Yifan. "Elo buta karena cinta, dan elo sama sekali nggak sadar bahwa elo cuma dipermainkan sama dia!"

"Yifan, dengerin gue sekali lagi. Dia nggak mungkin mempermainkan gue!" sahut Zitao. "Gue rasa elo yang nggak punya malu. Gue tau sejak dulu elo suka sama gue. Terus sekarang lo ngejelek-jelekin cowok gue biar gue putus sama dia. Iya, kan?!"

BRAAKK!

Yifan memukul meja dengan keras sampai sisa-sisa makanan yang masih ada di mangkuk tumpah dan mengotori meja kantin.

"Gue memang suka sama elo," Yifan menatap Zitao tajam, "tapi gue nggak pernah punya pikiran serendah tudingan lo itu. Gue masih punya moral dan harga diri."

Luhan dan Minseok nggak bisa berkutik. Mereka cuma mendengarkan pertengkaran itu, menoleh dari wajah Zitao ke wajah Yifani.

"Lalu, apa mau lo?!" seru Zitao. "Kenapa lo terus-terusan mengganggu gue dengan kebohongan-kebohongan itu?"

"Itu bukan kebohongan, Zi," suara Yifani melemah. Hatinya benar-benar terluka mendengar ucapan Zitao. "Gue cuma nggak mau ada seorang pun yang menyakiti dan mempermainkan elo. Gue terlalu sayang sama elo..."

Usai mengatakan itu, Yifan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, kemudian berlalu meninggalkan Zitao yang masih menangis.

Luhan dan Minseok bertatapan heran, juga puluhan anak yang sejak tadi memerhatikan mereka dengan rasa ingin tahu.

Minseok merangkul pundak Zitao dan membiarkannya menangis di bahunya, sedangkan Luhan cuma bisa menatap Zitao, menunggu penjelasan atas kejadian ini.

.

.

.

Luhan, Zitao, dan Minseok duduk bertiga di bangku panjang di pinggir lapangan basket. Zitao tampak lebih tenang, tapi mata dan hidungnya masih merah karena habis menangis.

"Oke," Luhan memulai pembicaraan. "Sekarang lo jelasin deh, apa yang udah lo sembunyikan selama ini dari kami."

"Gue... nggak bermaksud menyembunyikan apa pun dari kalian." Zitao mulai sesenggukan, berusaha menahan air mata yang hendak bergulir lagi di pipinya.

"Zi, elo nganggap kami sobat lo, kan?" Minseok merangkulkan tangannya ke pundak Zitao, berusaha menenangkan cewek itu.

Zitao mengangguk.

"Kalo gitu, lo harus cerita ke kami, apa pun masalah yang sedang elo hadapi," lanjut Minseok. "Walaupun kami belum tentu bisa membantu, paling nggak kita bisa saling berbagi dan mendukung."

Zitao menangis lebih keras.

Luhan menghela napas dan menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang tumben banget lagi cerah siang ini.

Setelah beberapa saat akhirnya Zitao mulai tenang dan bicara lagi, "Tiga hari yang lalu, waktu Sehun nyanyi di lapangan, Yifan ngajak gue bicara."

Luhan menolehkan kepalanya menatap Zitao.

"Kata Yifan, Minho udah mengkhianati gue," lanjut Zitao. "Minho selingkuh di belakang gue. Tapi gue nggak percaya. Dia bilang dia pernah melihat Minho jalan sama cewek yang sama dua kali."

Minseok mengernyitkan keningnya mendengar cerita Zitao. "Ah, masa Minho kayak gitu?"

"Gue juga bilang gitu sama Yifan," kata Zitao. "Tapi Yifan ngotot. Dia bilang dia yakin banget. Dan... dan terakhir kali dia melihat mereka seminggu yang lalu, mereka sedang berciuman di depan bioskop."

"Hah... ciuman?!" seru Minseok nggak percaya.

Zitao mengangguk. "Makanya gue nggak percaya... gue nggak percaya Minho bisa berbuat seperti itu sama gue. Tapi Yifan terus-menerus berusaha meyakinkan gue tentang hal itu."

Luhan menatap Zitao lekat-lekat, kemudian berkata, "Zi, menurut gue, Yifan nggak mungkin berbohong."

Zitao dan Minseok menatap Luhan. Mereka terkejut dengan apa yang baru saja Luhan katakan.

Luhan berdiri dan berjalan ke hadapan Zitao. "Zi, gue tau, Yifan itu bukan cowok tukang adu domba. Gue pernah sebangku sama dia waktu kelas dua, dan gue tau banget dia bukan tipe cowok seperti dugaan lo."

"Jadi maksud lo... Yifan benar... Minho udah ngekhianatin gue?" tanya Zitao dengan suara bergetar.

"Kalau untuk hal itu gue nggak bisa memastikannya," jawab Luhan.

Zitao mulai menangis lagi. "Kalau gitu... kalau gitu gue harus gimana?"

"Zi, daripada lo nangis kayak gitu, lebih baik lo tanyain kejelasannya secara langsung ke Minho."

"Ya ampun, Lu... mana mungkin Minho mau ngaku kalau dia memang benar-benar salah," sahut Minseok.

"Yah, itu soal kedua. Yang penting sekarang kita tau dulu apa pembelaan dia. Hakim juga nggak pernah langsung memutuskan apa tersangka itu benar-benar salah atau nggak sebelum mendengar pembelaan dari tersangka, saksi, dan bukti-bukti yang ada," argumen Luhan.

Minseok tersenyum membenarkan kata-kata Luhan. "Luhan benar, Zi. Lebih baik sekarang lo nenangin diri lo, lalu cari waktu yang tepat untuk menanyakan semuanya langsung ke Minho."

Zitao menyeka sudut matanya yang berair, berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. "Thanks, ya," katanya lirih. "Kalian udah nemenin gue dan mendengarkan semua keluhan gue. Lu, maaf ya, gue emang cengeng banget."

"Ember," jawab Luhan tersenyum lebar. "Tapi... yah... itulah elo."

Zitao tersenyum. Kali ini lebih lebar dan sama sekali nggak terpaksa. Sahabat memang obat terbaik di kala kita sedang terluka. Dan itulah yang saat ini dirasakan Zitao.

.

.

.

Luhan mengeluarkan beberapa butir telur dari dalam kulkas. Setelah memecahkannya dan menuangkan isinya ke mangkuk, Luhan mengambil garpu dan mengocok telur itu hingga rata. Lalu ia mengupas bawang putih dan bawang merah, lalu mengirisnya tipis-tipis dan menaburkannya ke atas telur kocok. Tak lupa ditaburkannya garam dan merica ke atas telur kocok secukupnya.

Luhan menyalakan kompor dan meletakkan wajan di atasnya. Sedikit minyak dituangkannya ke atas wajan, dan setelah minyak itu panas dia mulai membuat omelet favoritnya.

Luhan melirik jam dinding. Sudah hampir jam 19.00. Seharusnya Mama sudah pulang sejak tadi.

Gadis itu berjalan menuju ruang tamu. Ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya. Luhan menyibak tirai yang menutupi jendela dan mengintip keluar.

Itu Mama!

Mama turun dari mobil. Jendela mobil itu terbuka, dan Mama kelihatan sedang berbicara dengan seseorang yang mengendarai mobil itu. Luhan berusaha menajamkan penglihatannya.

Laki-laki! Mama bicara dengan seorang laki-laki.

Jantung Luhan berdetak cepat.

Siapa laki-laki itu? Kenapa Mama pulang diantar dia? Apa itu orang yang sama dengan yang mengantar Mama waktu itu? Siapa dia? Apa hubungannya dengan Mama? Apa yang dia mau dari Mama?

Berpuluh pertanyaan memenuhi batinnya. Luhan menutup tirai lalu berjalan cepat menuju meja makan. Terdengar suara pintu dibuka.

Pasti Mama sudah masuk.

Luhan duduk di depan meja makan lalu mengambil gelas dan menuangkan air dingin ke dalamnya.

Mama yang sudah masuk tersenyum melihat meja makan sudah tertata rapi. "Maaf ya, Mama pulang kemalaman. Kamu pasti udah kelaparan, Lu?"

Luhan diam saja. Ia menuangkan air dingin ke dalam gelas lainnya tanpa memedulikan sapaan Mama.

"Mama tadi ada keperluan sebentar, jadi pulangnya agak terlambat," tambah Mama sambil berjalan menuju kamar.

Luhan tetap diam saja.

"Kamu kenapa sih?" tanya Mama heran. "Kamu marah sama Mama?"

Mama berhenti di depan kamar dan menatap Luhan.

"Mana mungkin aku marah sama Mama," jawab Luhan sinis. "Aku nggak punya hak untuk marah sama Mama meskipun Mama lagi menyembunyikan sesuatu dari aku."

Alis Mama bertaut. "Apa maksud kamu? Memangnya Mama menyembunyikan apa dari kamu?"

"Aku nggak bermaksud apa-apa kok. Tadi cuma pengandaian aja."

Mama menatap Luhan tajam, lalu membuka pintu kamar sambil berkata, "Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Mama mandi dulu, lalu kita bisa makan sama-sama."

Luhan diam. Dia mengambil piring dan menyendok nasi tanpa bersuara. Namun hati kecilnya berkata lirih.

Nggak ada yang perlu dilanjutkan, Ma. Selama Mama nggak mau jujur sama aku, nggak ada gunanya kita bicara.

.

.

.

Luhan meletakkan tas ranselnya di meja. Kelas udah ramai oleh anak-anak yang sibuk menyalin PR. Luhan duduk di bangkunya dengan tampang bete. Dia masih kesal dengan kejadian semalam. Sesuai dengan perkiraannya, Mama udah nggak jujur. Mama hanya membahas tentang pekerjaan yang membuatnya pulang terlambat, tapi nggak sedikit pun menyinggung laki-laki yang belakangan ini sering kali mengantar Mama pulang.

Luhan nggak mau memaksa Mama bercerita. Dia ingin menunggu sampai Mama terbuka dan jujur sama dia. Dia mau memercayai Mama meskipun nggak bisa dia pungkiri bahwa saat ini hatinya agak kecewa.

"Hei!" tegur Minseok, mengambil tempat di sebelah Luhan. "Pagi-pagi udah melamun. Kesambet baru tau loh!"

"Biarin!" jawab Luhan asal.

"Ngelamunin siapa sih lo?" tambah Minseok. "Sehun?"

"Enak aja! Rugi gue ngelamunin cowok kayak dia. Bikin otak gue jadi tumpul."

Minseok mencibir. "Lain di hati lain di mulut, lo!"

"Lo kenapa sih, Xiu?" seru Luhan kesal. Pagi ini Luhan udah cukup bete dan dia merasa nggak perlu lagi dibuat bete gara-gara cowok aneh itu.

"Duile... gitu aja marah," goda Minseok. "Iya deh... gue nggak akan sebut-sebut nama Sehun lagi."

Luhan mengambil buku matematika dari dalam tasnya. Pelajaran pertama hari ini pelajaran killer. Nggak hanya pelajarannya, gurunya juga. "Baekhyun sama Zizi mana?" tanya Luhan.

"Baekhyun sih tadi katanya mau ke kantin, kalau Zizi belum datang tuh."

"Zizi belum datang?" tanya Luhan heran. Diliriknya jam tangan yang nangkring manis di pergelangan tangannya. "Kan sebentar lagi bel..."

"Tadi gue udah coba telepon ke HP-nya, tapi mailbox."

"Aneh. Nggak biasanya dia telat."

"Mungkin dia nggak masuk hari ini. Bolos, kali."

"Zizi bolos? Mana mungkin. Di antara kita berempat, dia kan paling rajin. Apalagi sebentar lagi udah mau ujian semester."

"Iya juga ya. Atau... mungkin dia ada urusan, kali. Atau sakit."

Suara bel yang berdering nyaring meyakinkan Luhan dan Minseok bahwa Zitao hari ini memang nggak masuk sekolah.

"Nanti pulang sekolah kita ke rumah dia yuk?" ajak Luhan.

"Oke. Nanti istirahat gue ke kelas Baekhyun buat ngajak dia."

.

.

.

"Lho, Baekhyun-nya mana, Xiu?" tanya Luhan saat Minseok melajukan mobilnya tanpa menunggu Baekhyun. Rencananya mereka mau ke rumah Zitao.

Minseok nggak menjawab pertanyaan Luhan. Dia malah asyik menyetel CD Jennifer Lopez dan menggerak-gerakkan badannya.

"Heh, serius dong nyetirnya. Jangan sambil goyang begitu."

"Iya, ini gue serius. Hehehe... Si Baekhyun nggak bisa ikutan, Lu. Katanya sih dia ada janji sama teman lamanya yang baru balik dari Jerman. Dia nggak enak ngebatalinnya. Dia bilang sih kalau urusannya udah selesai, dia bakal nyusul ke rumah Zizi," kata Minseok akhirnya.

Luhan semakin heran. Belakangan ini sepertinya ada yang aneh sama Baekhyun. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Entah apa, tapi nggak biasanya Baekhyun sok sibuk begini. Luhan menghela napas panjang.

"Kenapa sih, Lu?" tanya Minseok.

"Nggak tau. Gue ngerasa ada yang aneh aja sama Baekhyun."

"Aneh?" tanya Minseok lagi. "Apanya yang aneh?"

"Ya aneh. Kok mendadak Baekhyun kayak orang sibuk gitu. Dia udah jarang kumpul dan susah banget dihubungi."

"Mungkin dia emang lagi sibuk beneran. Nggak usah negative thinking gitu, Lu."

"Iya... mungkin lo benar."

.

.

.

Minseok menghentikan mobilnya nggak jauh dari rumah Zitao. Rumah yang didominasi warna putih itu nggak terlalu besar, tapi kelihatan paling rimbun di antara rumah-rumah lainnya yang ada di kompleks itu. Semua orang yang lewat di depan rumah itu pasti langsung tahu bahwa penghuni rumah itu pencinta tanaman. Bayangin aja, dari balik pagar terlihat jelas beraneka tanaman, mulai dari tanaman bunga aneka warna sampai pohon cemara. Pokoknya lengkap deh!

Luhan turun lebih dulu dari mobil dan langsung menekan bel di tembok pagar rumah Zitao. Minseok menyusul di belakangnya.

Sesosok perempuan tua tergopoh-gopoh datang untuk membukakan pintu. "Halo, Bi Qian," sapa Luhan ramah. "Zizi ada, Bi?"

"Ada, Non," jawab Bi Qian, pembantu Zitao yang setia banget, karena udah belasan tahun kerja di keluarga Zitao. Sambil membukakan pintu pagar untuk Luhan dan Minseok, Bi Qian berkata, "Tapi Non Zizi-nya lagi sakit."

"Sakit apa, Bi?" tanya Luhan.

"Bibi nggak tau, Non. Badannya Non Zizi anget, udah gitu muntah terus. Bibi jadi kasihan ngelihatnya."

"Kalau kami langsung masuk ke kamar Zizi, boleh nggak, Bi?"

"Boleh dong, Non. Nyonya lagi di dapur buatin bubur spesial buat Non Zizi. Nanti Bibi yang bilangin ke Nyonya kalau Non Luhan sama Non Minseok datang."

"Sip deh, Bi," sahut Luhan setuju.

Luhan dan Minseok masuk dan langsung menuju kamar Zitao di lantai atas. Kedua cewek itu udah sering banget main ke rumah Zitao, makanya mereka hafal seluk-beluk rumah ini.

Sampai di depan kamar Zitao, Luhan menghentikan langkahnya dan mengetuk pintu pelan-pelan. Nggak ada sahutan. Sekali lagi Luhan mengetuk pelan, tapi kali ini sambil memanggil nama Zitao.

"Masuk aja," terdengar jawaban lirih dari dalam kamar.

Luhan dan Minseok beradu mata sesaat, lalu pelan-pelan mereka masuk ke kamar.

"Halo, Zi," sapa Luhan mendekati tempat tidur Zitao dan duduk di sisi sobatnya yang sedang terbaring itu. "Tumben lo bisa sakit."

Minseok juga nggak mau ketinggalan. Tanpa basa-basi dia mengambil kursi dan duduk.

"Hei, lo sakit apa sih?" tanya Luhan lagi. "Kata Bi Qian badan lo panas, terus lo muntah-muntah melulu. Bener nggak sih?"

"Jangan-jangan lo kena flu burung ya," timpal Minseok asal.

Yang ditanya diam seribu bahasa. Selimut menutupi seluruh tubuhnya.

"Zi, kenapa sih lo?" tanya Luhan mulai keki. "Kami kan datang buat jenguk elo, jangan malah dicuekin gini dong! Apa sakit lo parah banget sampai nggak bisa ngomong atau ngelihat kami berdua?"

Zitao tetap mengurung diri di balik selimut. Tapi kali ini tubuhnya bergetar pelan. Lama-kelamaan semakin kencang dan disertai isak pelan. Zitao menangis.

Luhan dan Minseok kaget plus heran. Saking nggak sabarnya, Luhan menarik selimut yang menutupi tubuh Zitao. "Lo kenapa sih?!"

Wajah Zitao yang pucat dan bersimbah air mata muncul dari balik selimut. Matanya bengkak, bibirnya kering, wajahnya merah, dan peluh mengalir di keningnya. Luhan dan Minseok melotot kaget.

"Zizi, lo kenapa?" pekik Minseok.

Zitao malah menangis lebih kencang dari sebelumnya. Minseok menarik tubuh Zitao dan memeluknya.

"Gue benci Minho... gue benci dia," kata Zitao di tengah isak tangisnya.

Luhan mengambil tisu yang ada di atas meja tepat di sebelah tempat tidur Zitao dan menyodorkannya pada cewek itu. Zitao mengambilnya dan menghapus air mata yang turun di pipinya.

"Ada apa, Zi?" tanya Luhan tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya. "Apa yang udah terjadi?"

"Gue benci Minho. Gue benci dia!" pekik Zitao histeris.

"Kenapa dengan Minho? Apa yang membuat elo begitu marah sama dia?" tanya Luhan nggak sabar.

Zitao menghapus air matanya dan melepaskan diri dari pelukan Minseok. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol emosi yang meluap dalam dirinya.

"Lu... ternyata Yifan benar," ujar Zitao lirih. "Minho selingkuh. Dia ngeduain gue. Kemarin malam gue nanya langsung ke dia. Awalnya dia nggak mau ngaku, tapi waktu gue bilang gue lihat dia jalan sama cewek di mal, akhirnya dia ngaku."

"Jadi... Minho benar-benar... selingkuh?" Minseok masih nggak percaya. Masalahnya, Minho yang selama ini dia kenal benar-benar tipikal cowok idaman. Baik hati, gentleman, ramah, sopan, dan yang pasti setia. Rasanya siapa pun nggak akan percaya kalau cowok seperti Minho ternyata mendua hati.

Zitao mengangguk sebagai jawaban untuk keraguan Minseok. "Dia bilang, dia bosan pacaran sama anak SMA. Katanya nggak ada serunya, kayak pacaran sama anak kecil. Gue nggak ngerti apa maunya, padahal sebentar lagi gue juga lulus SMA dan bakal jadi mahasiswa kayak dia. Kenapa dia nggak mau menunggu? Kenapa dia malah memilih cewek itu dan mutusin gue gitu aja? Apa hubungan gue sama dia selama ini nggak punya arti apa-apa buat dia? Kenapa dia dengan begitu mudahnya mutusin gue? Kenapa?"

Tangis Zitao bertambah kencang. Dia benar-benar patah hati dan kecewa. Mungkin itu yang bikin dia jadi sakit seperti ini. Kata orang penyakit kan bisa juga disebabkan oleh gangguan psikologis kayak yang dialami Zitao sekarang ini.

Luhan bangkit dan berjalan menuju pintu kamar Zitao dengan tangan terkepal.

"Lu, lo mau ke mana?" tanya Minseok.

"Gue mau bikin perhitungan sama cowok brengsek itu. Gue nggak akan tinggal diam melihat sahabat gue dicampakkan gitu aja. Dia harus gue kasih pelajaran sampai kapok!" jawab Luhan geram.

"Jangan, Lu... jangan. Gue mohon jangan!" tahan Zitao memelas.

"Kenapa?" tanya Luhan. "Apa lo masih cinta sama dia? Apa lo masih mau ngebelain dia?"

"Bukan... bukan..."

"Terus kenapa?"

"Gue nggak mau dia tau bahwa gue terluka gara-gara dia. Jangan permalukan gue di depan dia, Lu. Kalau dia sampai tau gue kayak gini gara-gara dia, gue nggak akan punya muka lagi di depan dia. Dia akan merasa menang dan hebat karena bisa mencampakkan gue."

Luhan terdiam. Lalu perlahan dia kembali ke samping Zitao.

"Kalau lo nggak mau dia merasa menang dan hebat, jangan siksa diri lo seperti ini. Buktikan sama dia bahwa dia nggak ada artinya buat elo. Buktikan sama dia, bukan dia yang mencampakkan elo tapi elo yang mencampakkan dia," cecar Luhan.

"Gue tau, tapi gue nggak bisa, Lu. Gue nggak tau gimana caranya bangkit lagi..."

"Gue yang akan membantu lo bangkit lagi." Tiba-tiba Yifan muncul dari balik pintu kamar Zitao.

Luhan, Zitao, dan Minseok menatap Yifan kaget. Mereka sama sekali nggak menyadari kehadiran cowok itu.

"Udah berapa lama lo di situ?" tanya Luhan ketus.

"Cukup lama," jawab Yifan tenang. "Yang pasti, gue udah dengar semua pembicaraan kalian."

"Ngapain lo nguping di rumah orang?" ketus Luhan.

"Sori, gue nggak bermaksud nguping. Tujuan gue ke sini mau jenguk Zizi, tapi pas gue mau ngetuk pintu, gue dengar Zizi nangis. Gue nggak jadi masuk dan akhirnya malah mendengar semuanya. Sekali lagi sori."

"Tapi lo sekarang puas kan, Fan? Omongan lo soal Minho ternyata benar, dan lo bisa ngetawain gue, kan? Apa lo ke sini buat ngelihat penderitaan gue?" tanya Zitao sinis.

"Nggak begitu, Zi. Please, jangan berpikiran senegatif itu tentang uge."

"Lalu buat apa lo ke sini?"

"Karena gue khawatir sama elo, karena gue peduli sama elo, karena gue sayang sama elo..."

Zitao terdiam. Air matanya mengalir pelan.

"Zi, lo tau, gue udah lama suka sama elo. Dan sampai sekarang, perasaan gue nggak berubah sedikit pun. Zi, izinkan gue berada di samping lo. Nggak perlu sebagai pacar, tapi cukup... sebagai tempat lo bersandar."

Tanpa sadar air mata Zitao mengalir lebih deras. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kencang.

Yifan jadi kebingungan. Dia langsung panik melihat Zitao menangis histeris begitu. Luhan tersenyum geli melihat kepanikan Yifan dan buru-buru menahan Minseok yang udah mau memeluk Zitao.

Luhan menghampiri Yifan dan mendorongnya ke arah Zitao. Yifan semakin salah tingkah. Mukanya berubah merah. Entah karena panik atau karena malu. Tapi pelan-pelan Yifan mengulurkan tangan, lalu dengan lembut membelai rambut Zitao. Zitao tetap menangis, tapi dia membiarkan tangan Yifan membelai rambutnya.

"Zi... gue ada di sini. Jangan khawatir. Gue akan selalu di samping lo, apa pun yang terjadi," bisik Yifan lembut.

Tiba-tiba Zitao langsung memeluk Yifan dan menangis di pundaknya. Sesaat Yifan terpana lalu perlahan membalas pelukan Zitao, semakin lama semakin erat.

Luhan dan Minseok tersenyum di sisi tempat tidur. Adegan barusan persis kayak di film-film romantis. Meskipun menurut Luhan kata-kata Yifan rada gombal, tapi bolehlah. Semoga aja kehadiran Yifan bisa jadi obat mujarab untuk luka di hati Zitao.

.

.

.

T B C

.

.

.

So, Mind to Review..?

.

.

.

"180115"