PACARKU JUNIORKU

Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun (HunHan)

Genre : Romance, Drama, Family

Length : Chapter 7 0f ?

Summary:

Semua peristiwa yang di alami Luhan -siswi kelas 3 SMA- selama ini telah mengubah hidupnya. Pengkhianatan papa tirinya dan tak adanya figur seorang papa kandung membuat Luhan menjadi pribadi yang keras. Di mata Luhan, semua laki-laki brengsek. Itulah yang membuat Luhan tidak suka kalau ada laki-laki yang coba-coba mendekati dirinya. Prinsipnya : I don't need a man. Luhan tidak mau disakiti laki-laki seperti mamanya yang sudah disakiti papa tirinya, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkannya dan mamanya begitu saja.

Namun bagaimana jika Sehun -siswa kelas 1 SMA- mengusik kehidupannya dan tanpa malu menyatakan cintanya kepada Luhan secara blak-blakan?!

.

.

.

Hai Readers, sebelum kalian membaca FF ini, aku kasih tau dulu kalau FF INI AKU AMBIL DARI SEBUAH NOVEL REMAJA DENGAN JUDUL YANG SAMA BY VALLERIA VERAWATI.

AKU NGEPOSTING CERITA INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 7

.

.

.

LUHAN terjaga dari tidurnya sejak pagi sekali. Sekarang matanya terbuka lebar dan enggan menutup kembali. Sambil berbaring, ditatapnya langit-langit kamar. Kepalanya terasa penuh dan berat. Masalah kemarin seperti baru saja terjadi. Tidur pun nggak mampu menghapus beban di hatinya. Luhan nggak tahu harus berbuat apa. Nggak mudah baginya untuk menerima kembali seorang papa yang sudah meninggalkannya, apalagi untuk memaafkannya. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat.

Lampu di luar kamar menyala. Sepertinya Mama juga sudah terbangun. Luhan menendang selimutnya dan bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan keluar dari kamar tidur menuju arah cahaya. Ternyata lampu dapur yang menyala. Luhan mengintip Mama dari balik dinding. Dilihatnya Mama duduk di meja makan sambil memegang gelas berisi air. Mata Mama menerawang. Kerut-kerut pertanda usia yang terus bertambah mulai tampak di wajah Mama. Tampak lingkaran hitam di bagian bawah mata Mama. Sepertinya Mama nggak tidur semalaman.

Luhan bersandar di dinding sambil terus menatap Mama. Tujuh belas tahun, pasti waktu yang sangat berat bagi Mama, pikir Luhan. Mama berjuang seorang diri membesarkanku. Mama berusaha tegar menghadapi gunjingan para tetangga. Mama menekan rasa sakit dan kecewa karena pengkhianatan Papa Siwon. Dan Mama terus berusaha menjadi ibu yang baik buat aku. Penderitaan Mama jauh lebih berat dibandingkan apa yang aku rasakan.

Luhan menghela napas. Apa yang harus aku lakukan? batinnya. Apa aku harus memaafkan laki-laki itu dan menerimanya kembali? Apa aku bisa melakukan itu? Memanggil laki-laki yang telah meninggalkan aku selama ini sebagai Papa, apa aku bisa? Tapi kalau aku nggak bisa, aku akan terus membuat Mama mengalami kepedihan ini. Kalau di rumah ini ada seorang kepala rumah tangga, mungkin Mama nggak perlu bekerja lagi.

Kata-kata Sehun kemarin terngiang kembali di telinga Luhan, "Lulu, lo tau... sebenarnya lo itu sangat beruntung karena masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu bokap lo dan mempersatukan lagi keluarga lo..."

Luhan menatap wajah Mama. Ia bertekad akan membuat Mama bahagia. Mungkin Sehun benar, aku beruntung masih diberi kesempatan untuk mempersatukan lagi keluargaku. Aku hanya perlu belajar untuk menerima laki-laki itu sebagai papaku dan memberinya kesempatan untuk membayar utangnya selama ini kepada kami, utang berbentuk kewajiban dan tanggung jawab mengurus anak istri.

Luhan menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Dia memejamkan mata, lalu menghitung satu sampai sepuluh. Ditariknya napas dalam-dalam sekali lagi. Ia membuka mata dan tersenyum. Ajaib, beban yang memadati pikirannya seakan lenyap begitu saja. Luhan merasa lebih ringan. Dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Lalu dia berjalan mendekati Mama yang masih duduk termangu di meja makan.

"Ma...," panggil Luhan pelan.

Mama terkejut. "Kamu sudah bangun, Lu? Ini kan masih pagi sekali? Bukannya hari ini hari Minggu? Biasanya kalau hari Minggu kamu selalu bangun siang."

"Mama sendiri juga sudah bangun," sahut Luhan.

"Ng... ini, Mama cuma mau ambil air minum."

Luhan menarik kursi dan duduk di depan Mama. "Tidur Mama nyenyak?"

"Iya. Kamu sendiri gimana?"

"Nggak begitu nyenyak. Tapi paling nggak lingkaran hitam di mataku nggak sehitam di mata Mama."

"Ah, masa? Tapi Mama tidur nyenyak kok." Mama meraba bagian bawah matanya sambil tersenyum.

Luhan membalas senyuman itu tapi dia tahu mama berbohong.

"Ma, aku mau ketemu sama laki-laki itu," kata Luhan pelan. "Ajak dia makan malam di sini. Aku mau mendengar penjelasan langsung dari mulutnya. Setelah itu baru aku akan mencoba memikirkan apakah aku akan memaafkannya atau nggak."

Mama terpana. "Sungguh, Lu? Kamu mau bertemu dengan papamu?"

"Aku belum mengakuinya sebagai papaku, tapi aku akan memberinya kesempatan bicara."

Mama mengangguk. "Iya, Mama tau. Mama mengerti, Lu."

"Ya udah, aku mau tidur lagi," kata Luhan, lalu meninggalkan Mama yang masih tersenyum lega.

Luhan kembali ke kamarnya dan bersandar di balik pintu sambil berharap semoga keputusannya ini benar-benar tepat.

.

.

.

Sore harinya, Luhan gelisah. Ia mondar-mandir di kamarnya kayak setrikaan. Jarum jam sudah menunjuk angka enam. Mama sudah menyuruh Om Hangeng datang untuk makan malam. Kalau begitu, sebentar lagi laki-laki itu tiba.

Luhan benar-benar cemas. Dia nggak tahu bagaimana caranya menenangkan diri. Mama sudah memasak makanan istimewa untuk malam ini. Sedangkan Luhan sejak pagi sampai sekarang masih mengurung diri di kamar.

Telapak tangan Luhan mulai basah karena keringat. Baru kali ini ia merasa secemas ini. Waktu pertama kali berkenalan dengan Papa Siwon dulu, Luhan santai saja. Kali ini entah kenapa Luhan merasa kesulitan mengontrol debar jantung, keringat, dan rasa takut yang menyesakkan dadanya. Gila, ada apa pada diriku? rutuk Luhan. Aku mau ketemu sama Papaku sendiri, buat apa aku takut begini? Luhan mengacak-acak rambutnya kesal. Dia semakin frustrasi.

Terdengar suara deru mobil di depan rumah. Luhan menajamkan pendengarannya. Lalu ada suara pintu yang dibuka. Laki-laki itu pasti sudah datang.

Luhan bangkit lalu berjalan menuju pintu kamarnya. Tapi sesaat kemudian dia berhenti. Nggak, aku nggak boleh keluar duluan, kata Luhan pada dirinya sendiri. Aku nggak boleh menunjukkan bahwa aku menunggu kedatangannya. Aku harus menunggu Mama memanggilku keluar.

Ketukan halus terdengar dari luar. "Lu, Om Hangeng sudah datang."

"Aku tau," jawab Luhan. "Sebentar lagi aku keluar."

"Mama tunggu ya, Lu," sahut Mama lembut.

Luhan nggak menjawab lagi. Jantungnya berdegup semakin kencang dan liar. Ditatapnya jaket hitam milik Sehun yang sudah terlipat rapi di meja belajarnya. Luhan berjalan mendekati jaket itu dan mengambilnya.

"Gue lakukan ini semua gara-gara elo, Hun," kata Luhan sambil menatap jaket itu lekat-lekat. "Kalau sampai hasilnya malah buruk, elo orang pertama yang bakal gue damprat."

Luhan meletakkan kembali jaket itu ke meja belajarnya dan berjalan keluar dari kamar.

.

.

.

Om Hangeng sudah duduk bersama Mama di meja makan. Meja makan yang selama ini hanya terdiri atas dua kursi, hari ini sudah ditambahkan Mama dengan kursi plastik yang diambil dari gudang. Luhan ingat, kursi itu sebenarnya kursi yang dipakai Papa Siwon sewaktu Papa Siwon masih menikah dengan Mama.

Luhan duduk di tempatnya yang biasa. Suasana terasa berbeda. Atmosfer tegang memenuhi ruangan. Luhan menatap laki-laki yang duduk di hadapannya. Waktu di restoran kemarin Luhan nggak sempat memerhatikan wajahnya dengan mendetail karena keburu terbakar emosi.

Om Hangeng bertubuh tegap. Jauh lebih tinggi daripada Mama, mungkin sekitar 180 cm. Alisnya tebal. Rambutnya masih banyak yang hitam. Penampilannya rapi dan bersih. Hidungnya mancung. Wajahnya kelihatan ramah dan lembut. Nggak kayak bokapnya Minseok yang tampangnya rada sangar.

"Lulu, ini Papa... eh, Om Hangeng," Mama mengawali pembicaraan dengan memperkenalkan laki-laki yang ada di hadapan Luhan.

"Aku udah tau namanya kok, Ma," jawab Luhan ketus.

"Apa kabar, Lulu?" tanya laki-laki itu. Kelihatan banget dia berusaha ramah pada Luhan.

"Kabarku?" Luhan malah balik bertanya. "Kabarku waktu umur berapa yang mau Om tanyakan? Waktu aku masih bayi, waktu aku pertama kali masuk SD, atau kabarku waktu aku masuk rumah sakit gara-gara usus buntu?"

"LULU!" tegur Mama. "Jaga ucapanmu!"

Om Hangeng tersenyum. "Nggak apa-apa, biarkan dia mengeluarkan semua kemarahannya padaku. Bagaimanapun aku memang sudah bersalah padanya."

"BUKAN HANYA PADAKU, TAPI JUGA PADA MAMA!" bentak Luhan. "Om ke mana aja waktu Mama melahirkanku, waktu aku pertama kali belajar berjalan, waktu aku menangis karena jatuh dari sepeda, waktu Mama jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja?!"

Luhan meluapkan emosinya. "Apa Om tau betapa sakitnya diejek sebagai anak haram, apa Om tau betapa sedihnya melihat Mama menanggung semua beban rumah tangga, apa Om tau betapa merananya tidak memiliki papa?"

Om Hangeng terdiam. Senyum di bibirnya lenyap. Mama menundukkan kepala, dan Luhan tahu Mama sedang menangis.

"Maaf, Lulu," kata Om Hangeng lirih.

"Maaf?" tanya Luhan. "Apa kata maaf bisa menghilangan semua penderitaan yang aku dan Mama alami selama ini? Apa satu kata maaf bisa membuat masa kecilku yang menyedihkan menjadi lebih baik?"

Om Hangeng nggak menjawab.

"Sejak kecil aku harus menahan rasa sedih dan marah setiap kali mendengar orang-orang menghinaku. Aku harus menahan diri saat aku mendengar mereka menggunjingkan Mama. Aku hanya bisa menangis, tapi nggak bisa melakukan apa pun. Setiap kali orang menanyakan di mana papaku, aku cuma bisa diam. Kalau teman-temanku dengan bangganya menceritakan pekerjaan papanya, aku cuma bisa menghindar supaya mereka nggak menanyakannya padaku. Dan sekarang Om hanya bisa mengatakan maaf?"

"Lalu apa yang harus Om lakukan untuk menebus semua kesalahan Om?" tanya Om Hangeng pelan.

Luhan diam. Matanya menatap laki-laki di depannya itu.

"Jelaskan padaku alasan Om meninggalkan kami."

"Om nggak pernah berniat meninggalkan kalian. Om mencintai mamamu dengan tulus. Sewaktu Om mengetahui kehamilan mamamu, jujur saja, Om sempat merasa ragu. Om takut keluarga Om tidak bisa menerima semua ini. Kami masih terlalu muda. Om belum punya pekerjaan yang jelas. Om bingung dengan apa akan menghidupi kalian kelak. Tapi akhirnya Om memutuskan untuk kembali ke Beijing dan bicara dengan orangtua Om, tanpa pamit pada mamamu. Mungkin itu yang membuat mamamu salah paham dan mengira Om tidak mau bertanggung jawab," jawab Om Hangeng.

"Saat Om kembali ke Seoul, mamamu sudah pergi. Om sudah berusaha mencari, tapi tidak dapat menemukan kalian," lanjut Om Hangeng.

"Dan setelah itu Om menyerah dan berhenti mencari?" tanya Luhan ketus.

"Tidak. Om terus mencari kalian sampai akhirnya Om mendapat kabar tentang perusahaan tempat mamamu bekerja."

"Lalu kenapa Om menikah dengan orang lain?"

"Om terpaksa. Om tidak mungkin terus sendirian karena orangtua Om sangat menginginkan seorang cucu."

"Aku kan cucu mereka...!"

"Lu, waktu itu Om sama sekali tidak mengetahui keberadaan kalian dan Om terpaksa menuruti keinginan mereka."

"Dan kalian hidup bahagia sementara aku dan Mama berjuang menahan derita."

Melihat Luhan semakin emosi dan Om Hangeng semakin terdesak, mama Luhan menyela, "Lulu, jangan terus menyudutkan Om Hangeng. Dia telah kehilangan anak dan istrinya, dia juga telah menyesali semua kesalahannya. Apa kamu tidak bisa memaafkannya?"

"Biar saja, Ma. Anggap saja itu ganjaran dari Tuhan."

"Lulu...," Mama berkata memelas.

"Sudah, Heechul, biarkan Lulu menumpahkan kemarahannya. Aku terima," ujar Om Hangeng pada Mama.

Luhan terdiam sejenak. Tapi tak lama kemudian, ia melontarkan pertanyaan lagi pada Om Hangeng, "Terus, dengan apa Om akan membayar semua penderitaan aku dan Mama selama ini?"

"Om akan membayar dengan seluruh sisa hidup Oom," jawab Om Hangeng dengan tegas dan tanpa ragu.

Luhan terdiam lagi. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Ditatapnya laki-laki di depannya. Pantaskah laki-laki ini menerima maaf darinya? Tapi kalau dia nggak memaafkannya, bagaimana perasaan Mama? Luhan jelas tahu, Mama telah memaafkan Om Hangeng dan mau menerimanya kembali. Apa Luhan juga harus seperti Mama?

"Makanannya udah dingin," kata Luhan akhirnya. "Lebih baik kita makan karena aku udah lapar. Dan sebaiknya Om jangan terlalu lama di rumah ini. Aku nggak mau tetangga menyebarkan gosip nggak enak tentang Mama. Kalau memang Om mau tinggal di rumah ini, nikahi Mama dulu secara resmi."

Om Hangeng nggak menjawab. Ia berusaha mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Luhan. Sesaat kemudian dia pun mengerti. Luhan memang belum benar-benar memaafkannya, tapi Luhan bersedia memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah dia lakukan.

Om Hangeng hanya diam dan memandang Luhan sambil menyunggingkan senyum kelegaan. Mama juga tersenyum. Air mata haru mengalir dari sudut matanya. Meskipun Luhan belum bersedia mengakui Om Hangeng sebagai papanya, tapi paling nggak, Luhan mau menerima Om Hangeng sebagai bagian dari keluarga mereka. Bagi Mama, itu sudah merupakan hal yang sangat membahagiakannya. Itu sudah lebih dari cukup.

.

.

.

Esok harinya, Minseok dan Zitao menunggu Luhan di depan kelas. Mereka udah pengen banget mendengarkan cerita Luhan tentang kejadian Sabtu kemarin.

Begitu Luhan muncul dari ujung koridor, Zitao dan Minseok langsung berlari ke arahnya.

"Lulu, ayo buruan jalannya!" seru Minseok langsung menarik tangan Luhan menuju kelas.

"Apaan sih?" tanya Luhan heran. Tapi dia menurut juga. Dipercepatnya langkah kakinya mengikuti Minseok. Zitao berjalan di sebelahnya dengan tersenyum.

Sesampainya di kelas, Minseok membantu Luhan melepas tasnya lalu menekan pundak Luhan agar segera duduk. Asli, Luhan heran banget melihat tingkah dua sobatnya.

"Ada apa sih?" tanya Luhan.

"Mestinya kami yang nanya... ada apa sih kemarin?" tanya Minseok.

Mendengar pertanyaan Minseok, Luhan mulai mengerti kenapa sobat-sobatnya ini menunggunya di depan koridor.

"Kemarin... ng... oh ya, soal kemarin, gue mau bilang sori nih. Gue udah nyusahin kalian berdua," kata Luhan. "Tapi sekarang masalah gue udah selesai kok."

"Nah itu yang mau kami tanyain. Masalah apa sih?" tanya Zitao. "Cerita dong, Lu!"

"Mmm... kemarin gue ngeliat nyokap gue makan berdua sama laki-laki yang nggak gue kenal."

"So what?" tanya Minseok heran.

Zitao langsung memelototi Minseok dan menyuruhnya diam.

"Laki-laki itu ternyata... bokap kandung gue."

"HAH?!" seru Minseok kaget tanpa bisa menahan diri.

Zitao kembali memelototi Minseok. Minseok membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan.

"Nyokap gue udah cukup lama berhubungan lagi dengan dia, dan selama ini nyokap gue menutupinya dari gue. Nyokap takut gue nggak mau menerima kehadiran laki-laki itu."

"Jadi kemarin itu lo ribut sama nyokap lo?" tanya Zitao pelan.

Luhan mengangguk.

"Jadi... karena itu juga lo ninggalin kami berdua di mall?"

Luhan kembali mengangguk sambil menjawab, "Gue benar-benar marah dan kaget. Laki-laki itu, namanya Om Hangeng, setelah tujuh belas tahun ninggalin gue dan Nyokap, tiba-tiba muncul di depan gue dan bermesraan dengan nyokap gue. Gue benar-benar marah dan nggak tau harus bagaimana. Saat itu gue cuma pengin sendiri dulu sehingga gue ninggalin kalian begitu aja. Maaf ya."

"Trus sekarang gimana?" tanya Zitao lagi.

"Gue tau nyokap gue udah memaafkan dan bersedia menerima Om Hangeng kembali. Dan gue juga udah bicara dengan laki-laki itu. Dia minta maaf sama gue meskipun nggak semudah itu bagi gue untuk bisa memaafkannya. Dia cerita, sebenarnya dia nggak bermaksud ninggalin gue dan nyokap gue. Tapi kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan nyokap gue membuat semuanya jadi begini."

"Jadi... elo nggak mau menerima dia?" tanya Zitao.

"Jujur aja, gue belum bisa memaafkan dia," jawab Luhan. "Tapi gue tau, laki-laki itu mungkin bisa membahagiakan nyokap gue. Kalau mereka bersatu lagi, nyokap gue nggak perlu bekerja keras untuk membiayai hidup gue. Dia bisa istirahat dan menikmati hidup. Gue pengin ngeliat nyokap gue bahagia."

"Elo melakukan semua ini untuk nyokap lo, Lu?" tanya Minseok.

Luhan mengangguk. "Ada yang bilang ke gue bahwa gue tuh sebenarnya beruntung karena dikasih kesempatan untuk mempersatukan keluarga gue kembali. Gue cuma nggak mau menyia-nyiakan keberuntungan gue itu. Gue rasa ini semua bagian dari rencana Tuhan. Dia membuat gue nggak punya papa dari kecil agar gue tumbuh jadi perempuan yang tegar dan kuat. Dan sekarang, saat gue dirasanya udah cukup kuat dan tegar, dia mengembalikan sosok papa itu lagi ke gue. Dan Dia pasti punya rencana tersendiri di balik semua kejadian ini. Mungkin aja dia pengin gue belajar memaafkan, dan nanti seiring berjalannya waktu, gue bisa memaafkan Om Hangeng dan menerimanya dengan tulus. Who knows."

Zitao dan Minseok menatap Luhan heran.

"Lo makan apa semalem, Lu?" tanya Minseok.

"Makan apa?" Luhan malah balik bertanya dengan heran. "Gue nggak makan apa-apa. Memangnya kenapa?"

"Kata-kata lo tadi itu loh! Ajaib, dan bikin elo nggak seperti Lulu yang biasanya," jawab Minseok.

"Kata-kata gue yang mana?"

"Kata-kata lo tentang rencana Tuhan," jawab Zitao. "Selama ini yang kami tau, elo bukan orang yang bijak menilai cinta dan kehidupan, Lu. Prinsip hidup lo tuh 'lo nggak tubuh orang lain' Lo pantang bergantung pada orang lain apalagi pada makhluk adam. Lo merasa yakin elo pasti bisa membahagiakan nyokap lo tanpa bantuan dan kehadiran orang lain. Dan gue tau, elo sangat membenci bokap kandung lo. Tapi sekarang, elo malah menerima kehadirannya dan berkata seakan lo mau belajar untuk memaafkannya. Ini benar-benar ajaib. Apa yang bisa bikin elo berubah seperti ini dalam semalam?"

Wajah Luhan bersemu merah. Dia menundukkan kepalanya. Sesaat bayangan Sehun melintas di matanya. Jantungnya berdebar cepat. Lalu ia berkata lirih, "Mungkin... memang nggak semua laki-laki sejahat yang gue kira."

.

.

.

Luhan melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah menuju area kelas satu. Tujuannya udah jelas, mau mencari Sehun. Dia pengen ngucapin terima kasih sekaligus mengembalikan jaket Sehun.

Setelah berhasil mencari-cari alasan untuk pisah dari Zitao dan Minseok, Luhan bergegas menuju kelas 1 D.

Sesampainya di depan pintu kelas Sehun, Luhan celingak-celinguk mencari sosok Sehun. Nihil. Nggak ada Sehun di ruang kelas itu. Luhan kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar koridor kelas satu, siapa tahu Sehun lagi ngobrol sama teman-temannya di luar kelas. Tapi lagi-lagi hasilnya nihil. Atau jangan-jangan Sehun lagi ke kantin? Mmm... atau di lapangan? Atau di Toilet, ya?

Luhan melihat ke sekelilingnya. Mau nanya tapi nggak enak. Sekarang aja udah banyak yang merhatiin dia, apalagi kalau dia menanyakan Sehun. Anak-anak kan udah tahu bahwa Sehun ngejar-ngejar Luhan. Kalau ketahuan Luhan yang nyari Sehun, bisa-bisa muncul gosip baru.

Luhan jadi bingung sendiri. Mana sebentar lagi bel masuk berbunyi.

"Cari Sehun, ya?" tanya seorang cowok tiba-tiba, membuat Luhan terlonjak kaget.

"Eh, iya. Lo tau di mana dia?"

"Dia nggak masuk hari ini," jawab cowok itu ketus. "Sakit."

"Sakit?" tanya Luhan lagi. "Sakit apa?"

"Mana gue tau."

"Siapa sih lo?" tanya Luhan keki. Lagian nih cowok sok galak gitu, bikin kesal aja.

"Gue Jongin... temen dekatnya Sehun," lagi-lagi Jongin menjawabnya dengan ketus.

Jelas Luhan kesal diketusin Jongin. "Lo ada masalah apa sih sama gue, sampai nada suara lo jutek begitu?"

"Nggak ada. Gue cuma kasian sama Sehun. Jatuh cinta kok sama cewek kayak elo..."

"Heh, apa maksud lo?!" Luhan mulai emosi.

"Sehun itu bego. Banyak cewek yang suka sama dia, tapi dia tolak. Eh, dia malah ngejar-ngejar cewek kayak elo."

"Cewek kayak gue... apa maksud lo?"

"Yah... cewek yang kasar dan sok jual mahal."

"BRENGSEK! LO PIKIR LO SIAPA BISA NGATAIN GUE KAYAK GITU!" maki Luhan.

Jongin malah menanggapi Luhan dengan tawa.

"Ngapain lo ketawa?"

"Gue pantang ribut sama cewek."

"Heh, denger ya..." dering bel menahan gerakan Luhan yang udah siap-siap melayangkan tinjunya ke muka Jongin.

"Sana balik ke kelas lo, kakak kelasku yang manis," ejek Jongin lalu berjalan masuk ke kelasnya.

Luhan udah pengen menjambak rambut cowok itu, tapi nggak jadi begitu dilihatnya guru kimia kelas satu, sedang berjalan ke arahnya. Luhan hanya bisa menggeram marah lalu berjalan kembali menuju kelasnya sendiri.

.

.

.

Hari ini Sehun nggak masuk lagi. Luhan nggak sengaja mendengar hal itu dari cewek-cewek kelas satu yang lagi pada ngerumpi di toilet. Ada perasaan nggak enak dalam dirinya. Apa iya Sehun sakit? Jangan-jangan Sehun sakit karena kehujanan sewaktu menemaninya di jembatan hari itu. Udara dingin dan air hujan pasti membuatnya demam dan masuk angin.

Perasaan Luhan makin nggak enak.

Akhirnya dia putuskan untuk menahan gengsinya, menurunkan emosinya, dan menemui Jongin untuk menanyakan alamat rumah Sehun. Bagaimanapun Jongin kan teman dekat Sehun, jadi dia pasti tahu di mana rumah Sehun.

Luhan berjalan menuju kelas Jongin.

"Lulu!" panggil seseorang dari arah belakangnya. Luhan membalikkan badannya.

"Eh, elo, Xiu. Ada apa?"

"Lo mau ke mana?" tanya Minseok.

"Mmm... itu... mau ke toilet," Luhan berbohong. Dia nggak mau Minseok atau siapa pun juga tahu bahwa ia ingin mencari alamat rumah Sehun.

"Kok ke arah sini?" tanya Minseok heran. "Toilet kan di ujung sana."

"Toilet di sana penuh. Gue udah kebelet banget, jadi gue mau ke toilet anak kelas satu aja. Siapa tau sepi."

"Gue temenin, ya?" tawar Minseok.

"Nggak... nggak usah!" Luhan buru-buru menjawab. "Gue pengin buang air besar, Xiu. Kan nggak enak kalau ditungguin."

Minseok tersenyum geli. "Ooo... ya udah. Eh, tapi pulang sekolah lo bisa nemenin gue nggak, Lu?"

"Ke mana?"

"Ke toko buku sebentar. Gue mau cari buku Da Vinci Code."

"Mmm... kayaknya kalau hari ini gue juga nggak bisa. Gue ada urusan penting," kata Luhan. "Lo coba ajak Zizi aja."

"Zizi nggak bisa, dia ada janji sama Yifan."

"Baekhyun?"

"Baekhyun juga nggak bisa. Katanya dia mau jenguk tantenya yang sakit."

"Tapi, Xiu, sori banget. Hari ini gue benar-benar nggak bisa."

"Yah... ya udahlah. Nggak apa-apa kok," kata Minseok, walaupun sedikit kecewa. "Sana cepat ke toilet. Bentar lagi udah bel. Gue ke kelas duluan ya."

Luhan mengangguk lalu kembali berjalan menuju kelas Jongin. Dari jauh Luhan melihat cowok itu berdiri di depan ruang kelasnya. Luhan mempercepat langkahnya mendekati Jongin.

"Jong, gue mau minta tolong sama elo," ujar Luhan to the point.

Jongin menoleh ke arah Luhan. "Mau apa lagi lo?"

"Gue mau minta tolong," Luhan mengulangi kata-katanya.

"Minta tolong? Sama gue?"

"Iya... gue mau minta alamat rumah Sehun."

"Buat apa?"

"Itu urusan gue. Gue cuma minta tolong lo catatin alamat rumah Sehun buat gue. Itu aja."

"Lo pikir gue bakal mau ngasih tau?"

"Nggak ada untungnya lo ngerahasiain alamat Sehun dari gue."

"Nggak ada untungnya juga gue ngasih tau alamat Sehun ke elo."

Luhan terdiam. Nih cowok asli keras kepala banget. Luhan benar-benar heran kenapa Sehun mau berteman sama orang model gini.

"Jong, gue nggak peduli sama penilaian lo tentang gue. Tapi kali ini aja gue mohon, tolong kasih tau alamat rumah Sehun," pinta Luhan. "Untuk sekali ini aja."

Jongin menatap Luhan sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Luhan sampai kesal melihatnya. Pengin banget rasanya dia melayangkan bogem mentah ke muka Jongin.

"Jago juga si Sehun. Akhirnya dia berhasil nundukin hati cewek jutek ini," ujar Jongin di sela tawanya.

Luhan dongkol banget mendengarnya, tapi dia berusaha menahan diri. "Terserah lo mau ngomong apa. Lo bisa kasih tau alamat Sehun sekarang?"

"Gangnam Blok HA nomor 28," jawab Jongin akhirnya, lalu kembali tertawa.

Luhan mencatat alamat itu baik-baik di otaknya, lalu tanpa mengucapkan terima kasih Luhan berlalu dari hadapan Jongin. Dia benar-benar berharap mulut Jongin robek gara-gara kebanyakan ketawa. Dasar cowok brengsek!

.

.

.

Taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Luhan mengeluarkan uang dan memberikannya pada si sopir taksi.

"Mau ditungguin nggak, Non?" tanya sopir taksi ramah.

Luhan berpikir sejenak. Boleh juga tuh. Dia kan belum tahu daerah sini, takutnya nanti malah susah dapat kendaraan buat pulang. Lagi pula dia nggak berniat berlama-lama di rumah Sehun.

"Boleh deh, Pak."

"Oke deh, Non. Saya tunggu di situ ya," kata si sopir taksi senang, sambil menunjuk minimarket yang berada nggak jauh dari rumah Sehun.

Luhan mengangguk lalu turun dari taksi. Kini ia berdiri di depan pagar tinggi yang membentengi rumah bergaya Mediterania itu. Rumah Sehun ini didominasi warna cokelat bata yang memberi kesan natural, klasik, tapi simpel.

Dua kali Luhan menekan bel yang ada di sisi kiri pagar, sampai akhirnya seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan mendekatinya.

"Cari siapa ya?" sapa perempuan itu.

"Apa benar ini rumah Sehun?" tanya Luhan sopan.

"Ooh... cari Tuan Sehun. Ada kok. Tuan Sehun-nya lagi di kamar, masih nggak enak badan," jawab perempuan itu sopan. Dia langsung buru-buru membukakan pintu dan mempersilakan Luhan masuk.

Luhan masuk melewati pagar sambil bertanya, "Kalau boleh tau, ibu siapa?"

"Oh... saya cuma pembantu di sini."

"Eh, saya Lulu. Teman sekolah Sehun," ujar Luhan sok ramah sambil mengulurkan tangan.

Perempuan itu tersenyum senang menyambut uluran tangan Luhan.

Luhan mengikuti langkah perempuan itu masuk ke rumah yang bagian dalamnya tampak jauh lebih megah.

"Sehun sakit apa sih?" tanya Luhan.

"Demam," jawab perempuan itu. "Udah dua hari. Waktu itu Tuan Sehun pulang malam-malam dalam keadaan basah kuyup. Tuan sama Nyonya sampai marah-marah. Tapi Tuan Sehun diam aja, nggak mau jawab. Eh tau-tau besoknya badan Tuan Sehun panas gitu."

Jadi benar dugaan Luhan. Sehun sakit gara-gara menemaninya hujan-hujanan. Luhan jadi merasa bersalah.

"Sekarang keadaannya gimana?"

"Udah lebih baik sih. Panasnya udah turun, tapi sama Nyonya belum boleh sekolah dulu."

Syukurlah, Luhan mendesah lega.

"Siapa yang datang?" seseorang bertanya dari arah belakang Luhan.

Luhan dan perempuan itu sama-sama membalikkan badan. Sesosok perempuan setengah baya berjalan menuruni anak tangga. Rambut panjangnya yang ikal dan cokelat dibiarkan tergerai. Kulitnya yang bersih dan mulus dibalut blazer hitam.

"Nyonya...," ujar perempuan itu, "ini temannya Tuan Sehun."

Luhan menoleh ke arah perempuan itu. Nyonya? Berarti itu Mamanya Sehun!

"Siang, Tante," Luhan mengucapkan salam dengan sopan.

"Oh, temannya Sehun ya?" tanya Mama Sehun sambil menuruni sisa anak tangga dan berjalan mendekati Luhan.

"Iya, Tante, nama saya Lulu."

"Oh... Lulu mau jenguk Sehun ya? Sehunnya masih nggak enak badan, makanya Tante belum mengizinkannya masuk sekolah," kata Mama Sehun ramah.

Luhan hanya tersenyum. Diam-diam ia mengamati wajah perempuan setengah baya yang berdiri di hadapannya itu. Wajahnya sama sekali nggak mirip sama wajah Sehun. Mugkin memang benar bahwa Sehun anak angkat.

"Kalau begitu kamu langsung ke taman belakang aja. Kebetulan di sana juga lagi ada temannya Sehun. Mungkin kamu kenal."

Temannya? Jangan-jangan Jonginlagi! Yieks! Mampus gue kalau sampai ketemu Jongindi sini. Kalau dia sampai macam-macam lagi, bisa benar-benar ribut gue sama dia, Luhan ngedumel dalam hati.

"Nah, Tante pergi dulu ya. Silakan aja langsung ke belakang..."

"Iya, Tante. Saya permisi dulu ya," pamit Luhan sebelum berjalan menuju arah yang ditunjukkan Mama Sehun.

Luhan mengangguk lalu buru-buru berjalan menuju taman belakang. Setelah melewati ruang makan, Luhan membuka pintu kaca yang mengarah ke taman. Saat itulah Luhan berhenti. Pemandangan yang dilihatnya membuat darahnya bergolak hebat.

Di taman itu, di dekat kolam ikan... ada Baekhyun yang duduk di samping Sehun, sambil menyuapi makanan ke mulut cowok itu. Mereka berdua tertawa renyah. Siapa pun yang melihat mereka saat ini pasti merasa mereka adalah sepasang kekasih.

Sehun yang memakai sweter abu-abu bahkan sesekali mengambil sendok dari tangan Baekhyun dan berpura-pura hendak menyuapi Baekhyun yang buru-buru menghindar sambil tertawa. Jantung Luhan berdetak kencang. otaknya terasa terbakar. Luhan nggak bisa menahan diri lebih lama lagi.

"Jadi ini ceritanya?" tanya Luhan ketus. Darahnya mendidih dan emosinya meluap.

"Lulu...," Sehun dan Baekhyun terkejut. Mereka baru menyadari kehadiran Luhan di taman itu.

"Jadi ini yang selama ini lo sembunyiin dari gue, Baek? Jadi ini yang bikin elo nggak punya waktu lagi buat ngumpul sama teman-teman lo sendiri? Sejak kapan Sehun jadi tante lo yang perlu lo jenguk hari ini karena sakit? Sejak kapan lo jadi pembohong?" cecar Luhan.

Baekhyun bangkit dari duduknya dan buru-buru mendekati Luhan. "Sori, Lu. Gue sama sekali nggak bermaksud..."

"NGGAK BERMAKSUD BOHONGIN GUE? BEGITU?" bentak Luhan. "Gue benar-benar nggak nyangka lo bisa sejahat ini, Baek. Selama ini gue percaya sama alasan-alasan yang lo ucapkan. TAPI SETELAH MELIHAT INI SEMUA, GUE NGGAK AKAN PERNAH PERCAYA SAMA ELO LAGI! NGGAK AKAN PERNAH!"

"Lu, jangan emosi dulu... Biar gue jelasin." Sehun yang berusaha berdiri menenangkan Luhan. Bibirnya yang kering dan wajahnya yang pucat terlihat jelas. Tapi sayang, saat ini Luhan benar-benar kecewa, marah, dan sakit hati, sehingga dia nggak peduli kalau lawan bicaranya itu masih sakit.

"LO SAMA BRENGSEKNYA, HUN! KATA-KATA LO DI JEMBATAN ITU SEMUANYA CUMA OMONG KOSONG! LO SAMA AJA KAYAK LAKI-LAKI BRENGSEK LAINNYA! LO BENAR-BENAR BUSUK! GUE BENCI SAMA ELO!" maki Luhan kesal.

"Lulu... ini nggak seperti yang elo sangka. Gue sama Baekhyun nggak ada hubungan apa-apa...," Sehun berusaha membela diri.

"Lo pikir gue percaya? LO BENAR-BENAR BRENGSEK, HUN! LO BERDUA PEMBOHONG... PENIPU!"

"Lo kenapa sih, lu? Apa salah gue? Apa urusan lo sama hubungan gue dan Sehun? Bukannya lo sendiri pernah bilang kalo lo nggak suka sama Sehun? JADI KALAUPUN GUE MAU PEDEKATE SAMA SEHUN, INI HAK GUE DAN LO NGGAK BERHAK MARAH-MARAH ATAU NGELARANG GUE DONG!" Baekhyun balik membentak Luhan.

"Lo bohong dan lo masih nanya apa kesalahan lo?"

"Gue memang selalu ngarang alasan bohong sama kalian, dan gue punya alasan untuk itu. LAGIAN, APA PEDULI KALIAN! Kalian cuma ngurusin masalah dan perasaan kalian. Apa kalian ada yang peduli sama gue? Belakangan ini, setiap kalian ngobrol, yang diomongin cuma tentang Lulu dan Sehun. Lulu dan Sehun. Kalian nggak pernah sekali pun nanyain tentang gue, gimana keadaan di rumah gue, gimana perasaan gue. Kalian nggak pernah peduli sama gue lagi. Kalau sekarang gue dekat sama sehun, apa gue salah? APA MENTANG-MENTANG SEHUN SUKA SAMA ELO JADI GUE NGGAK BERHAK DEKAT SAMA SEHUN?!" seru Baekhyun.

"KALO LO NGGAK CERITA, MANA ADA YANG BISA NGERTI PERASAAN LO!" balas Luhan.

"LO MEMANG EGOIS, LU! LO SELALU MAU MENANG SENDIRI! Lo pikir semua orang bisa nerima sifat lo itu. LO SALAH! SEMUA ORANG CUMA KASIHAN SAMA MASA LALU LO! BAGI MEREKA, LO TUH CUMA CEWEK PENAKUT YANG SOK JAGO!"

"CUKUP!" bentak Sehun tiba-tiba.

Baekhyun terdiam. Luhan tak bicara.

"BAEK, SEKALI LAGI LO BICARA MACAM-MACAM TENTANG LULU, GUE NGGAK AKAN MAAFIN ELO," ancam Sehun.

Baekhyun terpana. Dia sama sekali nggak nyangka Sehun bakal bersikap seketus itu padanya.

"Jadi itu pandangan lo tentang gue selama ini, Baek?" Luhan berkata pelan. "OKE! Semua cukup sampai di sini. Mulai hari ini anggap aja kita nggak pernah saling mengenal atau bersahabat."

Luhan lalu berbalik dan berlari meninggalkan taman itu. Sehun berusaha mengejar, tapi baru setengah jalan, mendadak penglihatannya berkunang-kunang. Sehun berpegangan erat pada pintu kaca yang ada di sampingnya untuk menahan tubuhnya. Baekhyun yang melihatnya buru-buru menangkap tubuh Sehun dan membantunya berjalan menuju kursi.

Dia nggak bisa menyembunyikan rasa cemas di wajahnya.

Baekhyun menatap wajah Sehun yang pucat, dan tanpa dia sadari tangannya bergerak membelai rambut Sehun dengan penuh kasih sayang.

.

.

.

T B C

.

.

.

Mind To Review?

.

.

.

"250215"