Disclaimer by ©Masashi Kishimoto.
Warn : Typo, Plot, etc.
Don't Like .. Dont Read.
.
.
PAIN UNDER THE SUNSET
" Bayangan itu terus menari-nari di pelupuk mataku. Aku menepisnya. Bayangan tentangmu akan aku kubur bersama terbenamnya matahari di pantai ini, bersama semua kenangan dan rasa sakit yang ditinggalkannya. Hilang, harus hilang seperti senja yang mengabur di telan pekatnya malam."
.
Chapter 02
~ Kebimbangan Obito
Embun pagi bergelayutan di dedaunan, suara kicauan burung terdengar ramah di telinga. Matahari mulai muncul dari persembunyiannya, siap menyinari dunia dan memberikan kehangatan bagi bumi ini. Dia - Rin Nohara - Perlahan menyingkap selimut yang membungkus tubuh rapuhnya. Perasaan yang berbeda, sepertinya lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Kali ini bebannya sedikit berkurang. Berusaha bangkit dari posisi tidurnya, kemudian menyibak gorden ungu yang menggantung rapi di jendela kacanya, membiarkan kehangatan matahari meresap di pori-pori kulitnya. Dihelanya nafas panjang sembari memejamkan mata, menikmati setiap resapan kehangatan lentera dunia.
" Yosh, saatnya membuka lembaran baru seperti matahari di waktu fajar. Tidak akan menatap terus masa lalu, tetapi akan fokus pada masa yang akan datang. Masa lalu adalah sebuah pembelajaran. Aku yakin, kali ini aku telah lulus! Hnn, ini semua berkat Tobi. " Gumamnya Lirih. " Sore ini aku harus berterimakasih pada Tobi. Dan aku ingin mentraktirnya secangkir kopi. Tapi apa dia suka kopi? Ah! Entahlah. Hihihi. " Lanjutnya.
.
.
Waktu berjalan dengan cepat. Sore hari perlahan menjemput, matahari sudah condong di ufuk barat, seperti biasanya Rin pergi ke pantai itu. Pantai yang dulu menjadi tumpahan air matanya, pantai yang dulu menjadi saksi bisu kesedihannya. Sekarang telah berubah menjadi pantai yang indah sejak kehadiran lelaki bertopeng itu, Tobi. Rin melangkah, langkahnya terlihat lebih ringan, mendaratkan kakinya di hamparan pasir yang keemasan. Sebuah senyuman manis hinggap di bibirnya yang mungil ketika korneanya menangkap lelaki bertopeng orange itu sudah tiba di pantai itu lebih dulu daripada dia. Dia berjalan mendekat kearah lelaki yang sedang mencorat-coret pasir dengan sebuah ranting kayu itu.
" Good Evening Tobi." Sapa Rin.
" Good Evening. "
" Ano, Arigatou gozaimasu. "
" Eh?! " Tobi sedikit kaget. " Untuk apa kak? " Sambungnya.
" Untuk semuanya. Kau sudah menyembuhkan luka-luka di sayapku. Aku siap untuk terbang lagi. "
" Yokatta. Aku senang jika memang begitu. Dari awal aku sudah tau kalau kakak akan bisa melewati ini."
" Kau terlalu memuji Tobi. Ya, dan sebagai ucapan terimakasih aku ingin mentraktirmu secangkir kopi. Kau bisa kan? "
"..." Tobi terdiam sejenak, sedikit bingung dengan ajakan Rin. Jika dia menerima ajakan Rin, berarti penyamarannya sebagai Tobi akan dengan mudahnya terbongkar. Mana mungkin minum kopi dengan memakai topeng? Otomatis juga harus melepaskan topeng. Dan waktunya malam hari pula, dulu dia memberi alasan jika dia memakai topeng karena sensitif terhadap sinar matahari. Dilema itu berkecamuk di dalam hati Tobi. Dia memutar pikirannya agar menemukan alasan yang tepat untuk dilontarkan.
" Ano! Gomenne Rin, bukannya tidak mau. Demo, aku ada acara bersama teman-temanku malam ini. "
" Daijoubo yo. " Sahut Rin. " Cotto! Kau panggil aku apa tadi? Rin? Tumben sekali? " Rin sedikit curiga.
" Hah? Apa? Tidak-tidak! Aku memanggilmu kak Rin kok. Mungkin kau tak lengkap mendengarnya. " Tobi berdalih, kegugupannya membuatnya sedikit keceplosan. Hampir saja.
" Kau aneh Tobi. " Rin menyipitkan kedua matanya.
" Ano kakak! Maaf, aku hari ini lumayan sibuk. Jadi aku harus pulang cepat. "
" Yah! Tidak asyik! Tapi ya sudahlah. Kau punya urusan. Dan aku tak boleh mengganggunya. Ganbatte Tobi. " Rin tersenyum kepada Tobi.
" Hei, kakak baru saja tersenyum? "
" Seperti yang kau lihat, hatiku sudah siap untuk ber-regenerasi lagi. Bebanku sudah aku lepaskan. Biarkan beban itu hanyut seperti sampah yang ditelan aliran sungai. Sebab jika aku tak membiarkannya mengalir dan masih menghentikan beban itu di hati terdalamku, tidak akan membawa manfaat dalam hidupku. Benar kan Tobi? "
" Iya. " Sahut Tobi
Dibalik topengnya, Tobi menaikan sudut bibirnya, dia tersenyum simpul. Dia senang segala upaya-nya berhasil. Namun dia juga bingung bagaimana nanti dia menentukan akhir kisah perannya sebagai Tobi.
" Hei kau Tobi! Kau kenapa? Kau tidak senang aku sembuh ya? "
" Ie..! Aku senang kakak sudah tidak murung lagi. "
" Kau tak jadi pulang? "
" Oh iya kak! Untung kakak mengingatkan aku, kalau tidak pasti teman-temanku akan protes karena menungguku terlalu lama. Mata Ashita. " Pamit Tobi, dia berjalan seraya melambaikan tangannya pada Rin.
.
.
OBITO POV
Entah apa yang telah aku lakukan sejauh ini, aku bahagia karena sudah membuatnya kembali seperti sedia kala. Aku telah menyembuhkan luka-luka di sayapnya. Ah! Itu menurutnya. Tapi aku sekarang jadi bingung. Bagaimana aku harus mengakhiri semua ini? Ini dilema, tapi aku harap dia memang sembuh karena kemauannya, bukan karena sosok Tobi yang dia kenal. Jika aku semakin lama bersamanya sebagai Tobi tidak menutup kemungkinan dia akan semakin penasaran dengan aku di balik topengku. Jika itu terjadi dan tau siapa Tobi yang sebenarnya, dia pasti akan marah besar dan mungkin akan membenciku selamanya. Aku thulus melakukan ini, semoga jika kemungkinan terburuk terjadi dia akan baik-baik saja dan tidak berpikiran jika kakashi-lah yang menyuruhku melakukan ini.
.
NORMAL POV
Laki-laki bersurai hitam pendek itu merebahkan dirinya di sebuah sofa rumahnya. Dipandanginya jubah hitam bercorak awan merah yang menggantung bebas pada hangernya. Di dalam hatinya terjadi pergolakan hebat antara dua pilihan ' terus menjadi Tobi ' atau ' berhenti menjadi Tobi ' . Keningnya perlahan dikerutkannya menandakan jika dia sedang benar-benar berfikir keras. Sangat keras sampai hampir membuatnya frustasi.
" Bagus! Sekarang aku malah terjebak sendiri dalam permainanku. Kenapa susah untukku tegas dan mengakhiri ini semua? Tapi aku harus bisa, toh Nona Nohara juga sudah sembuh. Dia tidak butuh Tobi lagi." Obito bergumam lirih, pandangannya masih belum terlepas dari Jubah hitam bermotif awan merah tersebut. Fokusnya perlahan terpecah ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Mengambil langkah malas, dia segera menuju arah pintu utama rumahnya.
'KREKK'
Dibukanya pintu rumah itu dan betapa terkejutnya dia setelah melihat siapa tamu yang berkunjung ke kediamannya.
" Ka-Kaka-shi. " Pekik Obito Pelan.
.
.
Rasa keingintahuan masih saja menggelitiki pikiran Rin Nohara, dia duduk sendirian di teras rumahnya. Bersama hempasan angin malam yang dingin, disanggakan pipinya pada telapak tangan kirinya. Aneka pikiran dan klise - klise mendadak datang dalam pikirannya yang hampir mengosong. Bayangan Kakashi dan Hanare yang membuat batinnya teramat sakit juga ikut mampir untuk sekedar menggangu akal sehatnya. Rin mati-matian mencoba menepiskan itu semua. Dia telah membuat komitmen dalam hidupnya ' Hati yang harus selalu siap beregenerasi kembali ketika dipotong ' dan ' melepaskan segala beban sebab hanya akan memperumit pikiran dan juga tak bermanfaat untuk dipikirkan' . Namun kemudian sebuah senyuman kembali menghiasi wajah cantiknya. Dia merasa berhutang budi pada pria misterius bertopeng orange, Tobi. Kembali pikirannya terpusat pada Tobi, kembali rasa ingin tau menyerangnya tanpa celah.
" Tobi. Hari ini dia begitu aneh. Ada kejanggalan yang aku temukan padanya. Lihat saja, besok apa lagi ulahnya. Hihihi. " Rin tersenyum kecil. Berharap tetap akan selalu menghabiskan Sunset yang indah bersama si pria bertopeng orange yang selama ini dikenalnya sebagai sosok penyembuhnya.
.
To be continued ...
A/N : Langsung rilis tiga chapter, silahkan reviewnya minna :) . Arigatou.
