PACARKU JUNIORKU
Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun (HunHan)
Genre : Romance, Drama, Family
Length : Chapter 8 0f ?
Summary:
Semua peristiwa yang di alami Luhan -siswi kelas 3 SMA- selama ini telah mengubah hidupnya. Pengkhianatan papa tirinya dan tak adanya figur seorang papa kandung membuat Luhan menjadi pribadi yang keras. Di mata Luhan, semua laki-laki brengsek. Itulah yang membuat Luhan tidak suka kalau ada laki-laki yang coba-coba mendekati dirinya. Prinsipnya : I don't need a man. Luhan tidak mau disakiti laki-laki seperti mamanya yang sudah disakiti papa tirinya, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkannya dan mamanya begitu saja.
Namun bagaimana jika Sehun -siswa kelas 1 SMA- mengusik kehidupannya dan tanpa malu menyatakan cintanya kepada Luhan secara blak-blakan?!
.
.
.
Hai Readers, sebelum kalian membaca FF ini, aku kasih tau dulu kalau FF INI AKU AMBIL DARI SEBUAH NOVEL REMAJA DENGAN JUDUL YANG SAMA BY VALLERIA VERAWATI.
AKU NGEPOSTING CERITA INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.
NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 8
.
.
.
DUA minggu telah berlalu. Sampai hari ini Luhan selalu menghindar dari Baekhyun dan Sehun. Zitao dan Minseok yang nggak mengerti apa yang telah terjadi hanya berusaha menempatkan diri sebagai sahabat yang baik buat Luhan maupun Baekhyun yang enggan bertegur sapa.
"Lu, besok mau ikut belajar bersama di rumah gue nggak?" tanya Minseok.
Luhan, Zitao, dan Minseok duduk di kelas, menghabiskan sisa jam istirahat mereka.
"Baekhyun ikut?" tanya Luhan to the point.
"Mmm... dia sih udah bilang oke," jawab Minseok jujur. Minseok nggak mau bohong lagi sama Luhan. Waktu itu dia dan Zitao udah pernah bohong dan berusaha mempertemukan Luhan dengan Baekhyun. Mereka berharap dengan begitu masalah di antara Luhan dan Baekhyun bisa selesai, tapi nyatanya keduanya malah marah besar dan pergi begitu aja tanpa bicara.
"Kalau ada Baekhyun, gue nggak ikutan," kata Luhan. "Gue udah bilang sama kalian, gue nggak mau bicara lagi sama dia."
"Lu, lo kenapa sih?" tanya Zitao kesal. "Kalian berdua kayak anak kecil, tau! Kalau memang ada masalah, ya dibicarain dong, jangan bersikap seperti ini!"
"Gue nggak ada masalah, tapi dia yang bermasalah," jawab Luhan.
"Iya, tapi apa masalahnya?" tanya Zitao lagi. "Kita udah temenan selama tiga tahun. Sebentar lagi kita bakal lulus SMA dan pisah. Apa lo mau kita terus-terusan seperti ini? Apa persahabatan kita berempat sama sekali nggak ada artinya buat elo?"
"Lo jangan bicara seperti ini ke gue, tapi ke Baekhyun," sahut Luhan. "Lo tanyain ke dia apa selama tiga tahun ini dia berteman dengan gue karena kasihan dengan masa lalu gue."
"Siapa yang bilang gitu?" tanya Minseok. "Lo pasti salah dengar. Ini pasti cuma salah paham."
Luhan tertawa. "Kalian juga nggak percaya, kan?"
"Lu, apa masalah lo dengan Baekhyun ada hubungannya dengan Sehun?" tanya Zitao.
"Jangan sebut-sebut nama bajingan itu di depan gue!" bentak Luhan.
Zitao dan Minseok terdiam.
"Sori, Zi. Gue nggak bermaksud ngebentak elo," kata Luhan, nyesel karena nggak bisa menahan emosinya. "Gue ke toilet dulu ya."
Luhan bangkit dari duduknya dan keluar kelas menyusuri koridor menuju toilet.
Saat Luhan berjalan sendirian, ada yang memanggilnya dari arah belakang.
"Luhan!"
Luhan menoleh, tapi begitu melihat sosok orang yang memanggilnya, dia langsung buang muka dan kembali berjalan.
"Luhan, tunggu!" Sehun menahan tangan Luhan.
"Lepasin, brengsek!" seru Luhan. "Gue nggak kenal sama lo, jadi jangan panggil-panggil nama gue seenak jidat lo!"
"Lu, kasih gue kesempatan untuk ngejelasin semuanya," mohon Sehun. "Gue sama Baekhyun nggak ada hubungan apa-apa. Dia memang baik sama gue. Belakangan ini dia sering ke rumah gue, nelepon gue, ngobrol sama gue, nanyain tentang masa kecil gue, tapi cuma sebatas itu, nggak pernah lebih. Gue nggak punya perasaan khusus sama dia."
"Lo pikir gue percaya sama elo?" tanya Luhan ketus. "Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, gimana mesranya elo sama dia, dan lo bilang elo nggak ada hubungan apa-apa sama dia? Lo pikir gue percaya sama kata-kata lo itu?"
Luhan membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Sehun.
"Luhan!" panggil Sehun. "Lo cemburu, ya?"
Luhan berhenti dan membalikkan badannya, menatap Sehun yang tersenyum di hadapannya. "Dasar cowok nggak punya malu. Cemburu gara-gara elo cuma buang-buang tenaga. Pikir pakai otak, apa kelebihan lo yang bisa bikin gue cemburu gara-gara elo?"
"Jangan menipu diri sendiri, Lu," kata Sehun sambil tetap tersenyum. "Akui aja kalau elo memang udah jatuh cinta sama gue dan elo cemburu karena gue dekat sama Baekhyun. Iya, kan?"
Luhan tertawa mengejek. "Lebih baik gue jatuh cinta sama monyet daripada sama elo!"
Luhan membalikkan badannya dan berjalan cepat tanpa memedulikan Sehun yang memanggil namanya berulang kali.
.
.
.
Satu hari lagi telah berlalu.
Luhan melempar selimut yang menutup tubuhnya. Disambarnya handuk yang tergantung di belakang pintu kamar, lalu bergegas menuju kamar mandi buat siap-siap ke sekolah.
Selesai mandi, Luhan membawa ranselnya menuju ruang makan. Mama sudah menunggu dengan segelas kopi panas.
"Pagi, Ma," sapa Luhan.
"Pagi, Sayang," sahut Mama. "Gimana tidur kamu semalam?"
"Mimpi buruk," jawab Luhan. "Aku mimpi ketemu monster serem. Dia ngejar-ngejar aku sambil bawa bunga. Aku kabur sampai-sampai aku kecebur got, tapi makhluk itu sama sekali nggak mau berhenti ngejar aku."
Mama tertawa. "Untung monsternya bawa bunga, itu tandanya monsternya baik hati."
"Ih, Mama... Mau bawa bunga kek, mau bawa cokelat kek, yang namanya mosnter ya tetap aja nakutin."
"Monsternya cowok atau cewek?"
"Mana aku tau...," jawab Luhan. "Memangnya aku sempat wawancara sama tu monster? Mama nih ada-ada aja."
Mama kembali tertawa. Luhan mengambil setangkup roti tawar yang sudah diolesi selai kacang oleh Mama dan melahapnya.
"Lu, nanti malam papamu mau makan malam bersama di sini. Boleh, kan?" tanya Mama.
"Terserah."
"Kok terserah sih, Lu?" tanya Mama. "Papamu udah kangen sama kamu. Sejak makan malam waktu itu, kamu nggak pernah bicara lagi sama dia. Setiap dia datang, kamu ngumpet di dalam kamar. Kasihan kan dia."
"Aku tuh lagi banyak tugas dan ujian, Ma. Dua bulan lagi kan aku udah mau ujian akhir."
"Mama ngerti. Tapi paling tidak, kamu kan bisa menyempatkan diri untuk sekadar menyapa papamu sebentar."
"Ma, jujur sama aku," kata Luhan menghentikan kegiatan makannya, "apa Mama nggak takut kalau ternyata dia nggak sebaik yang Mama kira? Apa Mama nggak takut kalau suatu hari nanti dia ninggalin kita lagi? Apa Mama nggak takut kalau nanti dia selingkuh kayak Om Siwon."
Mama diam. Sesaat kemudian ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ia berkata, "Kadang-kadang rasa takut itu muncul, Lu. Mama tidak ingin kecewa dan sakit hati lagi. Tapi Mama belajar percaya dan pasrah. Kegagalan bukan berarti kita berhenti untuk berusaha, kan?"
"Kenapa Mama mau memaafkan dia?"
"Entahlah, Mama juga tidak tau. Mungkin karena dia papa kandungmu."
"Lalu kapan Mama mau menikah dengannya?"
Mama tertawa. "Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi. Habiskan sarapanmu, lalu cepat berangkat sekolah."
Luhan menurut. Dia menghabiskan rotinya lalu meneguk susu cokelat di hadapannya tanpa sisa.
"Ya udah. Aku berangkat dulu ya, Ma," pamit Luhan sambil menyambar tas ransel di sebelahnya lalu bangkit dan bergegas keluar.
Mama ikut berdiri dan mengantar putri semata wayangnya itu ke depan.
"Jangan pulang terlalu sore, ya!" pesan Mama sambil membukakan pintu buat Luhan.
"Iya, aku tau," jawab Luhan lalu segera keluar dari rumah. Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Pemandangan di depannya membuat mulutnya terbuka lebar karena terkejut.
Mama Luhan yang heran melihat tingkah putrinya segera mendekati Luhan sambil bertanya, "Ada apa sih, Lu?"
Tapi pertanyaan mama nggak perlu Luhan jawab. Pemandangan yang terhampar di hadapannya merupakan jawaban yang membuat Mama terpesona.
Di depan pagar rumah mereka, terpajang buket bunga berukuran besar, berisi beraneka mawar, dan spanduk bertulisan: "LULU, I'M SORRY!"
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya Mama heran sekaligus takjub. "Ini benar-benar luar biasa."
Luhan nggak menjawab. Matanya menatap spanduk yang terikat di pagar rumahnya. Kata-kata di spanduk itu membuat dia tahu siapa pelakunya. Tapi Luhan memilih bungkam. Dia berjalan ke arah pagar dan berhenti tepat di depan spanduk. Dalam sekali tarikan, keras, Luhan mencopot spanduk yang ternyata nggak terikat kuat di pagar. Lalu Luhan menggulung dan menjejalkannya ke dalam tas ranselnya.
"Ma, tolong buang bunga-bunga ini ke tong sampah," pinta Luhan. "Kalau perlu dibakar aja. Aku nggak mau saat aku pulang nanti bunga-bunga ini masih ada di halaman."
"Tapi, Lu..."
"Tolong, Ma," mohon Luhan.
Mama akhirnya mengangguk pasrah. "Iya, nanti Mama rapikan sebelum berangkat kerja."
"Makasih, Ma. Aku berangkat dulu ya," pamit Luhan.
Luhan membuka pintu pagar dan bergegas ke sekolah. Ada seseorang yang harus dia temui sekarang juga.
.
.
.
Luhan melangkah dengan cepat menyusuri koridor sekolah menuju kelas Sehun. Ranselnya masih nangkring dengan manis di punggungnya, tapi gulungan spanduk udah pindah ke dalam genggaman tangannya.
Mata luhan mencari sosok Sehun di dalam kelas yang udah lumayan ramai pagi itu. Begitu matanya menemukan Sehun yang lagi duduk di meja bersama beberapa temannya, Luhan langsung memanggilnya.
"Sehun!"
Cowok itu terkejut mendengar teriakan itu. Dia menoleh ke asal suara dan mendapati Luhan sedang berdiri di depan pintu kelasnya. Sehun tersenyum lalu berdiri dan berjalan mendekati Luhan.
"Ada apa, Lu, pagi-pagi udah cari gue?" tanya Sehun manis.
"Nggak usah sok innocent deh!" bentak Luhan tanpa memedulikan tatapan anak-anak kelas satu yang mengarah padanya. "Apa maksud lo dengan semua ini?" Luhan menunjukkan gulungan spanduk di tangannya, tepat di depan hidung Sehun.
"Ini...," Sehun mengambil gulungan spanduk dari tangan Luhan sambil tersenyum, "adalah wujud permintaan maaf gue ke elo."
"Lo pikir gue cewek gampangan yang langsung klepek-klepek kalau dikasih bunga?"
"Luhan, kenapa sih elo selalu menganggap negatif semua hal yang gue lakukan buat elo?" tanya Sehun pelan. "Gue melakukan semua itu dengan tulus, sama sekali nggak ada maksud apa-apa. Gue cuma mau minta maaf sama elo."
"Trus, lo pikir dengan begitu gue bakal maafin elo?"
"Paling nggak, gue udah usaha, kan?"
"Lo salah!" bentak Luhan. "Gue bukan cewek gampangan yang seneng dirayu sama bunga. Lo mau kasih gue seratus mawar kek, gue nggak akan peduli. Asal lo tau, Hun, gue paling benci cowok gombal kayak elo!"
Luhan membalikkan badannya dan segera berlalu dari kelas Sehun.
"Tunggu, Lu!" tahan Sehun. "Gue cuma mau minta maaf sama elo, dan bukan membuat elo semakin membenci gue."
Luhan menatap kedua bola mata Sehun dengan tajam dan tanpa suara. Sorot matanya seakan ingin menusuk lawan bicaranya. Sehun perlahan melepaskan tangannya dari lengan Luhan.
"Lu, please, maafin gue," Sehun memohon dengan wajah memelas. Jujur, dia benar-benar tertekan menghadapi gadis keras kepala ini. Dia nggak tahu bagaimana lagi caranya meluluhkan hati Luhan. Dia tersiksa menghadapi sikap ketus Luhan. Dia nggak mau gadis ini sampai benar-benar membencinya. Dia takut kehilangan Luhan.
Tapi Luhan tetap cuek. Dia nggak peduli dengan usaha-usaha Sehun untuk meluluhkan hatinya. Dia nggak peduli dengan permohonan maaf Sehun. Dia juga nggak peduli dengan wajah memelas di depannya itu. Luhan telanjur sakit hati, dan dia nggak mau itu terulang untuk kedua kailnya. Baginya, membuka hatinya untuk Sehun adalah sebuah kesalahan.
.
.
.
Malam itu Luhan duduk di ruang tamu sambil membaca catatan matematika buat ulangan besok. Mama sedang sibuk di dapur membersihkan piring-piring bekas makan malam. Sebenarnya Luhan mau ikut bantuin sih, tapi batal gara-gara Om Hangeng udah duluan turun tangan membantu Mama membereskan meja makan. Luhan malas kalau harus nimbrung di tengah-tengah mereka. Meskipun Om Hangeng papa kandungnya, Luhan tetap belum bisa menerima kehadiran laki-laki itu. Luhan masih merasa asing dan belum sepenuhnya memaafkan dia.
Luhan pengen segera masuk kamar setelah makan malam tadi dan menghindar dari laki-laki itu. Tapi Luhan ingat percakapannya tadi pagi dengan Mama, Luhan nggak mau mengecewakan Mama. Jadi dia terpaksa duduk manis di ruang tamu, meskipun nggak ngobrol dengan Om Hangeng seperti permintaan Mama. Paling tidak, dia nggak mengunci diri di kamarnya.
Luhan membalik halaman buku catatannya dan mulai mempelajari materi buat ulangan besok. Mulutnya komat kamit menghafalkan rumus dan bola matanya berputar-putar. Dia nggak sadar Om Hangeng sudah berdiri di dekatnya.
"Besok ada ulangan ya, Lu?" suara Om Hangeng mengagetkan Luhan.
"Iya," jawab Luhan sekadarnya.
Om Hangeng duduk di dekat Luhan sambil tersenyum. Luhan menatap laki-laki itu kesal. Pede banget dia, duduk dekat-dekat tanpa permisi dulu, rutuk Luhan dalam hati.
"Katanya tadi pagi ada kiriman bunga ya di halaman?" tanya Om Hangeng.
"Itu bukan urusan Om," jawab Luhan keki. Sejak kapan laki-laki ini mulai berani ikut campur dalam masalahnya?
"Pasti cowok yang mengirim mawar itu sangat menyukai kamu..." Om Hangeng seakan nggak peduli dengan kekesalan yang tersirat di wajah Luhan.
"Udah aku bilang, ini bukan urusan Om!"
"Kamu memang cantik seperti mamamu, wajar saja kalau banyak cowok yang jatuh hati padamu."
"Laki-laki semua sama aja," sindir Luhan. "Cuma manis di mulut, tapi hatinya lebih busuk daripada sampah."
"Tidak semua laki-laki seburuk yang kamu pikirkan, Lu."
"Tapi semua laki-laki yang hadir dalam hidupku malah membuat dugaanku semakin tepat."
Om Hangeng menghela napas, lalu berkata lembut, "Apa yang Om lakukan dulu memang tidak layak untuk mendapatkan maaf. Om telah membuat hidupmu menderita, dan Om pula yang telah membuatmu selalu berpikir negatif tentang laki-laki."
Luhan cuma diam. Kali ini dia nggak bereaksi dengan ucapan Om Hangeng.
"Kalau dulu Om berpamitan dengan mamamu sebelum berangkat ke Beijing dan mengatakan kesediaan Om untuk bertanggung jawab, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kita pasti akan menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia. Dan mungkin kamu tidak akan bersikap dingin pada laki-laki," lanjut Om Hangeng. "Tapi apalah guna sebuah penyesalan. Yang sudah terjadi tak mungkin dapat diulang kembali. Saat ini Om hanya berusaha memperbaiki semua kesalahan paman dulu dan memperjuangkan kebahagiaan yang sangat Om inginkan saat ini, yaitu membahagiakan kamu dan mamamu."
"Membahagiakan aku dan Mama?"
"Benar, itulah tujuan hidup Om saat ini," jawab Om Hangeng. "Lulu, saat kamu mencintai seseorang dengan tulus, maka bagimu yang terpenting adalah melihat orang yang kamu cintai itu bahagia. Dan itulah yang paman rasakan saat ini."
Luhan menatap laki-laki yang duduk di sebelahnya. Laki-laki yang sejak dulu begitu dibencinya. Entah kenapa untaian kata yang keluar dari mulut lelaki itu mengusik hatinya. Luhan berusaha mencari kejujuran dan ketulusan di wajah Om Hangeng. Apa kata-kata yang keluar dari mulutnya berasal dari hati? Dan Luhan menemukan jawabannya. Om Hangeng nggak akan menipu. Tatapannya yang lembut dan penuh kasih membuat hati Luhan terasa hangat dan nyaman.
"Boleh aku bertanya satu hal?" tanya Luhan pelan.
Om Hangeng mengangguk sambil tersenyum.
"Jika seseorang yang Om percaya dan cintai mengkhianati Om, apa yang akan Om lakukan?"
"Tentu saja Om akan marah," jawab Om Hangeng. "Tapi dalam cinta selalu ada maaf yang tiada batasnya. Dan itu pula yang akan Om lakukan."
"Seperti Mama memaafkan Om?"
"Mungkin seperti itu."
Luhan teringat percakapannya dengan Mama tadi pagi tentang alasan Mama memaafkan Om Hangeng. Sekarang Luhan baru mengerti alasan itu. Alasan yang sederhana tapi memiliki kekuatan yang begitu dahsyat sehingga Mama dengan mudah melupakan sakit hatinya dan menerima laki-laki ini kembali. Alasan itu adalah cinta.
Luhan bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Om Hangeng tanpa sepatah kata pun. Om Hangeng hanya diam. Dia menatap punggung Luhan sambil tersenyum. Dia sadar, kesalahannya terlalu besar dan nggak mudah untuk membuat Luhan mau memaafkannya. Dia telah menelantarkan anaknya selama bertahun-tahun. Terlalu muluk rasanya jika dia mengharapkan Luhan dengan tersenyum lebar langsung menerimanya kembali. Meskipun sesungguhnya hatinya nggak dapat menahan rasa rindu untuk dapat memeluk anak yang terus dicarinya selama ini.
Tiba-tiba Luhan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Om Hangeng. Matanya beradu dengan tatapan hangat lelaki itu.
Lalu Luhan berkata, "Jangan pulang malam-malam. Bahaya, Om..."
Suara Luhan yang lembut membuat Om Hangeng terbelalak kaget. Dia mengangguk pelan sebagai jawaban.
Luhan masih berdiri di tempatnya sambil menatap Om Hangeng, lalu kembali berkata, "Aku mau tidur dulu karena besok harus sekolah..."
Lagi-lagi Om Hangeng hanya mengangguk.
Luhan membalikkan badannya dan kembali berjalan. Tapi baru beberapa langkah, dia kembali berhenti dan berbalik menatap papanya lagi.
"Aku memang sangat membenci Om," katanya pelan. Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan, "Tapi aku juga sangat merindukan Papa..."
Om Hangeng terdiam. Jantungnya berdetak kencang dan darahnya seakan bergolak. Perasaan bahagia perlahan meluap dalam dirinya. Senyum tersungging di bibirnya dan air mata menggenangi pelupuk matanya. Lelaki itu tak bisa menahan haru yang membungkus hatinya. Lidahnya terasa kelu dan tubuhnya terasa kaku. Saat ini ia terlalu bahagia.
Sama seperti Luhan. Rasa lega memasuki kalbunya. Kehangatan dan kebahagiaan menyelimuti dirinya. Dia sama sekali nggak menyangka, lidahnya mampu memanggil laki-laki itu "Papa". Dan panggilan itu telah menyembuhkan begitu banyak koreng yang membuat cacat hatinya. Luhan nggak bisa memungkiri, jauh di lubuk hatinya dia merindukan laki-laki itu. Laki-laki yang mulai detik ini dan selamanya akan dipanggilnya Papa.
.
.
.
"Lulu..." Suara Mama terdengar dari balik pintu kamar Luhan. "Kamu sudah tidur, Sayang?"
Luhan menutup catatan matematikanya dan berjalan membukakan pintu.
"Ada apa, Ma?" tanyanya begitu pintu kamarnya terbuka. "Aku masih belajar buat ulangan besok."
Mama tersenyum. "Papamu sudah pulang."
"Aku tau," sahut Luhan. "Aku dengar suara mobilnya.
"Papamu nggak mau mengganggu kamu," kata Mama. "Dia takut kamu sudah tidur."
Luhan menganggukan kepala.
Mama diam. Luhan juga diam.
"Lu..." Mama buka suara. "Makasih, ya."
"Makasih buat apa, Ma?"
"Makasih karena kamu sudah memaafkan papamu."
Luhan diam. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar.
"Ma, apa sekarang Mama bahagia?" tanya Luhan kemudian.
"Mama bahagia," jawab Mama mantap. "Mama bahagia karena Mama memiliki putri seperti kamu."
"Aku juga bahagia, Ma," sahut Luhan. "Mama nggak perlu bilang makasih sama aku karena memang sudah wajib hukumnya seorang anak mengakui papanya."
Mama tersenyum lalu merengkuh tubuh Luhan ke dalam pelukannya. "Mama sayang kamu, Lu, dan Mama bangga padamu."
Luhan membalas pelukan Mama. "Ma, di pesta pernikahan Mama dan Papa nanti, aku jadi pengiring pengantin wanitanya, ya?"
Mama tertawa. "Iya, Sayang."
Luhan ikut tertawa. Rasanya belum pernah ia merasa begitu bahagia seperti hari ini.
Begitu hebatkah kekuatan cinta dan maaf?
Dering telepon membuat pelukan ibu dan anak itu terlepas.
"Mama angkat telepon dulu, ya."
Luhan mengangguk lalu menutup pintu kamarnya begitu Mama pergi. Ia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar. Rasanya nggak percaya, dia dan Mama bisa tertawa seperti tadi. Hatinya kini terasa seringan kapas.
"Lulu!" suara Mama memanggil Luhan.
Luhan terlonjak kaget dan langsung bangkit dari tidurnya.
"Telepon, Lu! Dari Zizi" ujar Mama. "Katanya penting!"
"Iya, Ma!" sahut Luhan lalu bergegas keluar dari kamar.
Mama menyerahkan gagang telepon kepada Luhan lalu menghilang ke kamarnya.
"Halo," sapa Luhan.
"Sori, Lu, gue ganggu malam-malam gini."
"Nggak apa-apa, Zi," kata Luhan. "Gue juga belum tidur kok."
"Gue cuma mau menyampaikan kabar buruk."
"Kabar buruk?" tanya Luhan heran. "Kabar buruk apa?"
"Bokapnya Baekhyun meninggal."
"MENINGGAL?!" pekik Luhan.
"Iya, baru aja."
"Kenapa?"
"Gue juga nggak tau," jawab Zitao. "Terakhir kali gue jenguk bokapnya di rumah sakit, bokapnya masih bisa ngomong. Mungkin memang penyakitnya udah benar-benar parah."
"Bokapnya Baekhyun masuk rumah sakit, kok lo nggak kasih tau gue?"
"Bukannya lo lagi musuhan sama Baekhyun?" Zitao malah balik bertanya dengan nada sinis. "Bukannya lo nggak mau denger gue dan Xiumin nyebut nama Baekhyun?"
Luhan terdiam. Zitao benar. Selama ini dia yang melarang Zitao dan Minseok membicarakan Baekhyun. Dia yang marah-marah waktu Zitao dan Minseok mempertemukannya dengan Baekhyun. Dia yang menutup telinganya rapat-rapat setiap kali Zitao dan Minseok menyebut nama Baekhyun. Jadi wajar saja kalau kedua temannya ini tidak memberitahunya kabar tentang papanya Baekhyun.
"Zi, boleh gue tau bokapnya Baekhyun disemayamkan di mana?"
"Sekarang masih di rumah sakit," jawab Zitao. "Besok baru dipindah ke rumah duka. Gue belum tau bakal dimakamkan di mana."
Penyesalan masih merasuki hati Luhan. Dia nggak tahu harus berkata apa. Sampai telepon ditutup, Luhan nggak banyak bicara. Perasaannya saat ini benar-benar kacau.
Luhan berjalan gontai menuju kamar Mama, lalu mengetuk pintunya pelan.
Pintu terbuka dan wajah Mama muncul dari baliknya.
"Ada apa, Lu?" tanya Mama.
"Aku boleh ke rumah sakit, Ma? Sekarang."
"Ke rumah sakit?" Mama bertanya heran. "Ada apa?"
"Papanya Baekhyun meninggal."
"Meninggal?"
Luhan mengangguk. "Boleh ya, Ma?"
"Apa nggak bisa ditunda besok saja, Lu. Ini sudah malam."
"Nggak bisa, Ma. Perasaanku nggak tenang."
Mama menatap Luhan dalam-dalam. Ia ragu memberikan izin untuk Luhan. Ini sudah malam, berbahaya bagi anak perempuan pergi sendirian
"Please, Ma," mohon Luhan. "Aku nggak akan lama. Aku cuma mau ketemu dan bicara sama Baekhyun sebentar saja."
Mama menghela napas. "Baiklah, tapi Lulu, papamu yang mengantar kamu."
"Jangan, Ma," tolak Luhan segera. "Kasihan Papa. Dia baru aja pulang, masa harus balik lagi ke sini dan mengantar aku ke rumah sakit. Papa pasti capek."
"Papamu pasti bersedia," tegas Mama, "karena ini untuk putrinya."
Luhan nggak membantah lagi. Mama langsung berjalan menuju meja telepon dan menghubungi nomor handphone Papa.
.
.
.
T B C
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
"010315"
