Disclaimer by ©Masashi Kishimoto.
Warn : Typo, Plot, etc.
Don't Like .. Dont Read.
.
.
PAIN UNDER THE SUNSET
" Hidup adalah sebuah pilihan dan setiap pilihan dalam hidup mengandung resiko. Hidup, pilihan, dan resiko adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan di dalam hidupmu. Ketika saat penanggungan resiko itu tiba. Sudahkah kau siap? Harus siap! Karena masalah bisa datang kapan saja. "
.
Chapter 03
~ Kakashi's Hopes
Suara hewan malam saling bersahutan, malam mulai melengang. Disebuah ruangan, suasana hening tercipta antara dua lelaki yang menyandang hubungan sahabat itu - dia - Obito Uchiha terlihat sedikit kikuk. Manik onix-nya dilemparkan kesegala arah, sebuah ekspresi yang menggambarkan ketidaknyamanan akan suatu hal. Sementara di depannya, lelaki bersurai putih keperakan itu terlihat sedang menyamankan dirinya di sofa.
" Ehmm. " Bright tone lelaki itu memecah keheningan di ruangan itu.
" Tumben kau ingat sahabatmu ini Kakashi? " Fake smile Obito diobralnya untuk menghalau rasa kikuk yang tak mau pergi dari dirinya.
" Bisakah kau ambilkan aku minum dulu Obito? "
" Ah! Merepotkan. " Obito berjalan ke arah dapur, pikirannya masih mengawang kemana-mana, terutama tentang kedatangan Kakashi yang tiba-tiba di malam ini. Memang, Kakashi jarang menghubunginya sejak dia menikah dengan Hanare - wanita pilihan ayahnya - Sakumo Hatake. Jemari Obito mengambil dua buah kaleng Soft Drink di lemari pendingin yang terletak di sudut dapur itu. ' Hnn, si scarecrow. Apa tujuanmu kemari? Jika tujuanmu menyangkut Rin, kau hanya akan menambah masalah di dalam hidupku. Yare! ' Batin Obito. Meskipun pikirannya mengawang tak jelas, langkahnya membawanya lagi ke ruang tamu, dimana lelaki yang sering di panggilnya 'scarecrow' itu masih duduk manis di sofa sembari memainkan ponselnya.
" Ini. " Obito memberikan sekaleng soft drink pada Kakashi.
" Ngomong-ngomong Obito. Kenapa gerak-gerikmu terlihat lebih aneh? Bisa kau jelaskan? " Tanya Kakashi seraya memasukkan ponselnya di saku celana.
" Tidak! Aku hanya sedikit kaget. Kau pikir kau lupa padaku. Yah! Setidaknya pilihan ayahmu benar-benar sudah menyita duniamu. "
" Duniaku? Memang sudah disita. Tapi bukan oleh Hanare. " Jawab kakashi dengan nada lemas. Tatapannya perlahan menjadi sendu.
" Lalu? "
" Rin. Duniaku adalah Rin. Dan duniaku itu seakan dihapus secara paksa. "
" Dan kau pasrah saja? Rin? Kau bahkan tak pantas menyebut namanya lagi!" Obito mengejek.
" Tau apa kau soal Rin? Tau apa kau soal hubungan kami?"
" Tau banyak lebih daripada kau! "
" Jangan mengarang cerita Obito. "
" Sudah! Lupakan Rin. Lupakan dia! Fokuslah pada pilihan Ayahmu itu. "
" Jangan memerintahku! "
" Jangan mendebatku! "
Suasana semakin memanas di antara kedua sahabat Itu. Terjadi keheningan sesaat di tempat itu, dan Kakashi akhirnya membuka sebuah pembicaraan kembali.
" Aku hanya menyelamatkan perusahaan ayahku dari kebangkrutan. Ketahuilah Obito. Pernikahanku dan Hanare semata-mata hanya untuk sebuah kepentingan bisnis. Saat aku mengambil keputusan ini hatiku seperti terkoyak-koyak. Tapi tegakah aku membiarkan keluargaku menjadi gelandangan?" Pandangan Kakashi meredup oleh cairan bening yang memaksa jatuh dari matanya. Dia menghela nafas panjang. " Aku sempat mengutuk hidup ini yang seakan tidak berpihak padaku. Kemudian aku berfikir panjang hingga aku mengalami depresi ringan. Rin, mungkin bisa mendapatkan 'Kakashi yang lain' tapi apakah aku bisa mendapatkan 'keluargaku yang lain' ? Akankah aku membiarkan semua hancur hanya untuk kepentinganku semata? Berbekal Ijazah Magister Akutansi dan Managemen dan melihat bakatku di bidang pengaturan anggaran perusahaan, ayah Hanare ingin me-merger perusahaannya dengan perusahaan ayahku. Tapi syaratnya adalah... " Kakashi mendadak menghentikan ucapannya. Bulir-bulir bening itu tak kuasa jatuh di pipinya.
" Sudah, jangan di lanjutkan. " Obito menatap dalam sahabatnya tersebut. Dia merasa iba dan serba salah. Disaat dia sedang dalam masalah malah ada orang lain datang padanya dengan masalah-masalahnya.
" Kau boleh menyalahkan aku Obito! "
" Untuk apa? Tidak berguna! "
" Jika kau tau kabar tentang Rin, beritahu aku Obito. "
" Rin baik-baik saja Kakashi. " Obito tersenyum lembut.
" Kau tau darimana? "
" Aku dan dia sekarang sudah menjadi teman dekat. " Jawab Obito.
" Mana mungkin? " Kakashi sedikit kaget, tanpa disadari dia meraih gorden yg menggantung di belakangnya, kemudian mengelap ingusnya dengan benda malang itu.
" Kyaaa.. " Obito Melotot. " Kau apakan gordenku? Kau jorok sekali! Kebiasaanmu tak pernah hilang. "
" Maaf aku refleks. " Jawab Kakashi enteng. " Habis kau yang membuatku menangis. Ini kan efek samping dari tangisanku. " Lanjutnya.
" Menjijikkan! " Obito menggelengkan kepalanya.
" Lanjutkan yang tadi. Tidak usah menyela dengan intermezo yang tak penting! "
" Siapa juga yang menyela? Kalau kau bukan sahabatku kau sudah ku tendang dari rumahku sejak tadi! " Obito ngomel. Hujan lokal terjadi disekitarnya.
" Lanjutkan yang tadi. " Kakashi menegasi seraya mengusapi wajahnya dari hujan lokal buatan Obito.
" Ya, baiklah. " Obito mengambil nafas. " Aku memang menjadi teman dekat Rin, tapi bukan sebagai Obito. Aku menjadi teman Rin sebagai orang lain. Maafkan aku scarecrow. Tapi aku minta padamu, tolong lupakan Rin. Forget her please! "
" Apa kau menyukai Rin? "
" Are you kidding me? Aku rasa tidak! Aku hanya kasihan melihatnya. Itu hati kakashi, bukan taman bermain. Kau tak bisa datang dan pergi seenak di dalam hidupnya. Jika kau tak bisa memberinya kebahagiaan, cukuplah kau tidak membuatnya terluka."
" Walaupun hanya untuk sebuah permintaan maaf? "
" Dia sudah memaafkanmu kok. Trust me! Serahkan sisanya padaku Kakashi. "
" Baiklah jika kau memaksa. Tolong jaga Rin untukku. Dan.. Umh, rahasiakan pertemuan kita malam ini. Terutama tentang 'air mataku'. " Kakashi memohon, diselingi dengan senyuman yang susah payah dia buat.
" Kau malu dengan air mata Kakashi? "
"..." Kakashi hanya mematung, pandangannya meredup.
" Air mata ya? Air mata memang simbol kelemahan bagi laki-laki. Tapi itu manusiawi bukan? Karena laki-laki juga manusia, sebab kita kaum laki-laki juga punya hati dan perasaan. Mungkin, ketika bibir tak mampu berucap, air mata-lah yang akan berbicara. " Obito menepuk pundak sahabatnya itu. " Kau tak perlu malu Kakashi. Ada aku - Obito Uchiha - sahabatmu. Aku akan menjaga Rin untukmu tanpa kau harus memintanya. " Obito tersenyum simpul.
" Arigatou. " Kakashi terharu, terbawa suasana, tanpa dia sadari dia kemudian memeluk Obito. Awalnya Obito tenang-tenang saja, tapi lama-lama dia menjadi risih.
" Le-lepaskan Kakashi, jangan memelukku dengan penuh penghayatan seperti itu, aku tidak mau dianggap sebagai pasangan homosexsual kalau-kalau ada orang yang mengintip kita. Nyah! Lepaskan! Lepaskan! " Obito mendorong - dorong tubuh Kakashi agar menjauh.
" Ekspresimu berlebihan Obito! Dan kau sudah merusak suasana haru ini. "
" GO TO HELL! " Seru Obito sebal.
" Aku mohon jangan jutek begitu Obito. " Kakashi merajuk seraya mencolek pipi Obito, sedikit menggoda Obito agar dia semakin ketakutan.
" Ie...! Kaka-shi.. Damme! Damme! " Obito ketakutan, menjingkat, menjauh dari Kakashi.
" Hahahahhahahha. " Kakashi tertawa lebar.
" Kusho! " Umpat Obito kesal bercampur takut.
" Terimakasih Obito, kau sudah menghiburku dengan sikap over sensitifmu itu. Hahahahaha. " Mood dan ekspresi Kakashi berubah drastis.
" Kau memang aneh scarecrow. Tetapi kau tetap sahabat dan rival terbaikku. " Gumam Obito lirih, sementara Kakashi masih menertawakan ekspresi Obito. " Pulang Sana! Kau membuatku sebal! " Patah Obito, menghentikan tawa Kakashi.
" Kau mengusirku? "
" Iya! "
" Kau tidak bisa mengusirku! Karena malam ini aku akan bermalam disini. "
" Haa?! " Obito Jawdrop.
" Kau tidak keberatan kan? "
" Ya! Baiklah! Silahkan saja asal kau tidak macam-macam seperti tadi! Atau aku akan menyengat wajah sayu-mu yang berharga itu dengan raket nyamuk elektrik. " Obito sewot, seraya menunjuk raket nyamuk yang bertengger manis di atas meja. " Lalu satu lagi! Kau dilarang memasuki kamarku. Tidak boleh protes! " Ucap Obito ketus.
" Tapi.. " Kakashi memelas.
" Sudah, jangan seperti demonstran yang merengek minta keadilan. " Obito membuang muka.
" Wah! Tapi baiklah sebab dengan berada disini aja aku bisa mencurahkan semua bebanku. Aku merasa lebih tenang. " Kakashi melempar senyumnya kepada Obito.
" Yokatta. " Sahut Obito.
" Arigatou Obito, you are really my true friend. "
" Douitha Kakashi. " Obito membalas senyuman Kakashi.
Kedua Sahabat itu menghabiskan malam dengan suasana dan aura yang campur aduk, saling melepas beban dan penatnya. Ditambah lagi mereka telah lama tak bersua dan menjalin komunikasi seakrab malam ini. Sahabat sejati, dia akan selalu bersamamu, bahkan disaat kau terjatuh-pun, dia akan selalu bersedia untuk menolongmu. Disaat terjatuh pula, kau akan dengan mudah bisa mengetahui, mana 'sahabat' dan mana yang hanya sekedar 'kenalan'.
To be continued...
