PACARKU JUNIORKU
Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun (HunHan)
Genre : Romance, Drama, Family
Length : Chapter 9 0f ?
Summary:
Semua peristiwa yang di alami Luhan -siswi kelas 3 SMA- selama ini telah mengubah hidupnya. Pengkhianatan papa tirinya dan tak adanya figur seorang papa kandung membuat Luhan menjadi pribadi yang keras. Di mata Luhan, semua laki-laki brengsek. Itulah yang membuat Luhan tidak suka kalau ada laki-laki yang coba-coba mendekati dirinya. Prinsipnya : I don't need a man. Luhan tidak mau disakiti laki-laki seperti mamanya yang sudah disakiti papa tirinya, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkannya dan mamanya begitu saja.
Namun bagaimana jika Sehun -siswa kelas 1 SMA- mengusik kehidupannya dan tanpa malu menyatakan cintanya kepada Luhan secara blak-blakan?!
.
.
.
Hai Readers, sebelum kalian membaca FF ini, aku kasih tau dulu kalau FF INI AKU AMBIL DARI SEBUAH NOVEL REMAJA DENGAN JUDUL YANG SAMA BY VALLERIA VERAWATI.
AKU NGEPOSTING CERITA INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.
NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 9
.
.
.
LUHAN dan papanya tiba di rumah sakit untuk menemui Baekhyun. Dari jauh Luhan melihat Baekhyun bersandar sendirian di dinding rumah sakit tepat di sebelah pintu kamar yang terbuka lebar. Isak tangis terdengar dari dalam kamar itu.
Luhan dan papanya berjalan mendekat. Jantung Luhan berdegup kencang.
"Baekhyun...," panggil Luhan pelan.
Baekhyun mendongakkan kepalanya dan terkejut menatap Luhan. Matanya merah dan bengkak. Ujung hidungnya juga merah. Bahkan pipinya masih basah oleh air mata.
"Baek, gue turut berduka cita," kata Luhan pelan.
Baekhyun mengangguk pelan tanpa suara.
"Baek, maafin gue ya...," mohon Luhan. "Lo benar, gue egois dan selalu mau menang sendiri. Gue nggak pernah ada buat lo, bahkan di saat elo benar-benar membutuhkan kehadiran gue. Gue nggak pernah menjadi sahabat yang baik buat elo. Maafin gue, Baek."
Baekhyun menatap Luhan, lalu memeluk Luhan dan menumpahkan kesedihannya.
"Maafin gue juga, Lu," kata Baekhyun lirih di sela derai air mata. "Gue nggak jujur sama lo, gue marah-marah sama elo seenaknya aja, dan gue udah berkata kasar sama elo."
"Nggak, Baek, gue yang salah. Bokap lo sakit aja gue nggak tau. Sahabat macam apa gue ini?"
Air mata Luhan ikut menetes. Hatinya terasa perih. Dia menyesal karena nggak pernah ada untuk Baekhyun di saat sahabatnya itu butuh seorang sahabat.
Luhan melepaskan pelukannya begitu teringat papanya masih berdiri di dekatnya.
"Baek, ini bokap gue..."
"Bokap lo?" Baekhyun nggak bisa menutupi rasa kagetnya.
Luhan mengangguk. "Nanti gue ceritain..."
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah papa Luhan, lalu mengulurkan tangan.
"Om turut berduka cita," kata papa Luhan. "Kamu yang tabah, ya."
Baekhyun mengangguk, "Makasih, Om."
"Oh ya, dimana keluarga kamu yang lain?" tanya papa Luhan.
"Mama masih di dalam," jawab Baekhyun.
Luhan dan papanya mengikuti Baekhyun menemui mama Baekhyun. Setelah mengucapkan turut berduka cita, Luhan diajak Baekhyun keluar dari kamar.
.
.
.
"Lu, itu bokap lo?" tanya Baekhyun mengawali pembicaraan. Saat itu mereka duduk di bangku semen di koridor rumah sakit.
Luhan tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, dia bokap kandung gue. Dua hari sebelum kita berantem di rumah Sehun, gue baru tau dia bokap gue." Luhan menceritakan kronologi cerita pertemuan dia dengan papa kandungnya.
"Dan elo udah maafin dia?" tanya Baekhyun heran. "Bukannya elo benci sama dia?"
"Gue emang benci sama dia, tapi gue udah belajar memaafkannya."
Baekhyun menghela napas. "Ternyata ada banyak cerita yang udah gue lewatkan."
"Baek, sejak kapan bokap lo sakit?"
"Udah sekitar tiga bulanan ini bokap gue keluar-masuk rumah sakit."
"Kok elo nggak pernah cerita?"
"Karena gue pikir penyakit bokap gue nggak parah. Waktu bokap gue udah mulai dirawat di rumah sakit, gue mau cerita sama kalian. Tapi nggak bisa, nggak ada kesempatan, karena tiap kali kita ngumpul, yang dibicarain cuma tentang elo. Lama-lama gue jadi kesal dan males cerita sama kalian. Zizi dan Xiu juga baru gue kasih tau seminggu yang lalu."
"Maafin, gue, Baek, semua memang gara-gara gue."
"Nggak, Lu, ini juga salah gue," kata Baekhyun. "Kata-kata lo waktu itu benar. Gue seharusnya bicara. Kalau nggak gitu, siapa yang bisa mengerti gue?"
Suasana mendadak hening. Luhan dan Baekhyun sama-sama terdiam.
"Lu, tentang Sehun," suara Baekhyun memecah keheningan.
Mendengar Baekhyun menyebut nama Sehun, jantung Luhan berdegup kencang. Di saat seperti ini, Luhan benar-benar nggak ngerti harus bagaimana. Bohong banget kalau dia bilang dia membenci Sehun. Dia memang marah dan kecewa, tapi nggak sedetik pun dia mampu mengusir Sehun dari dalam benaknya. Sehun memang telah berhasil membuatnya jatuh cinta, tapi Sehun juga yang udah membuatnya patah hati dan kecewa. Jika sekarang Baekhyun mengakui bahwa dia menyukai Sehun dan meminta Luhan untuk mundur, Luhan nggak tahu harus bagaimana. Dia nggak mau kehilangan Sehun. Tapi di lain pihak, dia juga nggak mau kehilangan sahabat. Keegoisannya ingin mengikat Sehun untuk terus mengejar dirinya. Luhan nggak rela Sehun dekat dengan cewek lain.
"Lu, elo suka sama Sehun?" pertanyaan Baekhyun menambah dilema dalam diri Luhan.
"Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?"
"Cuma pengen tau."
"Elo sendiri?" Luhan balik bertanya. "Apa lo suka sama Sehun?"
"Iya," jawab Baekhyun langsung.
Jawaban Baekhyun membuat jantung Luhan seakan ingin melompat keluar.
"Gue suka Sehun, dan sayang banget sama dia," lanjut Baekhyun. "Gue suka melihat tawanya, senang mendengar lelucon jayusnya, dan itu membuat gue jadi tambah sayang sama dia."
Hati Luhan terasa perih mendengar pengakuan Baekhyun. Dadanya mendadak terasa sakit. Sejenak ia merasa akan kehilangan Sehun. Dan rasa itu semakin membuatnya takut. Tapi persahabatannya dengan Baekhyun jauh lebih berharga. Bukankah kata orang pacar bisa dicari lagi tapi kalau sahabat susah untuk ditemukan?
"Kalau elo emang suka sama Sehun, gue dukung sepenuh hati agar lo jadian sama dia," ujar Luhan. Dia paksakan dirinya untuk tersenyum.
Baekhyun menoleh dan menatap Luhan. Sesaat kemudian tiba-tiba Baekhyun tertawa, "Lo gila apa! Mana mungkin gue jadian sama Sehun?!"
Luhan mengernyitkan keningnya. "Kenapa nggak mungkin?"
"Janji ya, Lu, lo jaga rahasia ini."
Luhan tambah heran, tapi dianggukkan juga kepalanya.
"Sehun tuh adik gue..."
Luhan melongo.
"Lo pasti nggak percaya, kan?" kata Baekhyun lagi.
"Jelas gue nggak percaya," sahut Luhan. "Soalnya gue tau pasti, lo tuh anak tunggal. Mana mungkin tiba-tiba Sehun jadi adik lo?"
Baekhyun tersenyum lalu menghela napas panjang. "Gue juga tau hal ini belum lama. Semua berawal waktu gue tanpa sengaja menemukan surat di ruang kerja bokap gue. Surat itu dari seorang wanita yang ternyata selingkuhan bokap gue."
"Selingkuhan?!"
"Jangan potong cerita gue, Lu, biar gue cerita sampai selesai dulu."
Luhan menutup mulutnya.
"Dari surat itu gue tau bokap gue pernah selingkuh waktu gue masih berumur satu tahun. Dan dari surat itu juga gue tau bahwa bokap gue punya anak laki-laki dari wanita itu. Anak yang sama sekali nggak pernah mau diakui bokap gue dan kemudian ditinggalkan oleh wanita itu di panti asuhan," cerita Baekhyun.
"Gue kaget dan shock berat waktu pertama kali tau hal itu. Tapi gue pura-pura nggak tau. Gue ngerti kenapa bokap gue nggak mau mengakui anak itu, bahkan sampai akhir usianya. Bokap gue pasti nggak mau nyokap gue ngamuk kalau tau bokap gue pernah selingkuh, bahkan sampai punya anak dari wanita lain. Wanita mana sih yang mau dimadu? Tapi ada rasa penasaran yang bikin gue pengin mengetahui gimana keadaan anak itu sekarang. Dan itu yang membuat gue pada akhirnya tau bahwa Sehun adik tiri gue."
"Maksud lo?" tanya Luhan nggak percaya dengan cerita yang didengarnya. "Sehun anak bokap lo dan selingkuhannya?"
Baekhyun mengangguk. "Lo pasti tau kan, Sehun tuh anak angkat?"
Luhan mengangguk. "Tapi..."
"Gue diam-diam mencari panti asuhan yang ditulis wanita itu dalam suratnya. Gue berusaha mencari tau dari pengurus panti asuhan itu tentang anak yang 16 tahun lalu pernah ditinggalkan di depan panti asuhan itu. Awalnya mereka nggak mau kasih gue informasi apa pun. Tapi setelah gue setengah memaksa dan memberikan sedikit sumbangan ke panti asuhan itu, mereka mau membuka file mereka dan memberi gue informasi tentang anak itu," jelas Baekhyun.
Baekhyun menarik napas dan kembali melanjutkan ceritanya. "Tuhan ternyata mempermudah langkah gue dalam menemukan adik tiri gue itu. File yang mereka punya menyatakan bahwa enam belas tahun lalu cuma ada satu anak laki-laki dan delapan anak perempuan yang ditinggalkan di depan pintu panti asuhan itu. Berarti jelas anak laki-laki itulah adik tiri gue karena di suratnya wanita itu mengatakan bahwa anaknya laki-laki. Nama anak itu Sehun."
"Nggak mungkin." Luhan nggak bisa menahan rasa kagetnya.
"Gue juga kaget waktu mendengar nama itu. Gue pikir mungkin itu cuma kebetulan. Gue menanyakan alamat keluarga yang mengadopsi anak itu dengan perjanjian gue hanya melihat dan nggak akan mengusik keluarga mereka. Dan ternyata alamat itu mengantarkan gue sampai ke rumah Oh Sehun, adik kelas kita..."
Luhan menatap ekspresi wajah Baekhyun. Dia masih ragu apakah Baekhyun sedang mengarang cerita atau ini memang kenyataan. Tapi kelihatannya Baekhyun serius.
"Sehun tau tentang hal ini?" tanya Luhan pelan.
Baekhyun menggeleng. "Sesuai perjanjian, gue nggak boleh mengusik keluarga mereka. Lagi pula buat apa gue menceritakan semua ini ke Sehun? Ini malah akan membuatnya menderita. Apalagi kalau dia tau bokap gue nggak pernah mau mengakui dia."
Luhan membenarkan ucapan Baekhyun. Lalu dia bertanya, "Jadi karena itu lo mendadak dekat sama Sehun?"
Baekhyun tersenyum dan mengangguk. "Gue pengin mengenal dia lebih dekat. Gue juga pengen tau apakah sekarang dia bahagia. Anggap saja gue menggantikan tugas bokap gue untuk memerhatikan dia."
Luhan terdiam. Kalau diingat lagi, pantas saja waktu pertama kali melihat Sehun, dia merasa wajah Sehun mirip seseorang.
"Sorry ya, Lu, waktu di rumah Sehun dulu gue marah-marah sama lo. Gue juga udah bikin elo cemburu," kata-kata Baekhyun bikin Luhan kembali ke alam sadar.
"Cemburu?" Luhan mengelak, tapi dia nggak bisa menahan rona merah yang muncul di pipinya. "Siapa juga yang cemburu?"
"Nggak usah pura-pura deh, Lu," ujar Baekhyun. "Gue tau kok elo sebenarnya suka sama Sehun. Waktu itu lo marah-marah sama dia karena ngeliat kami berduaan, dan itu membuat lo merasa selama ini Sehun cuma mempermainkan elo, kan? Jujur aja deh!"
Luhan nggak menjawab. Wajahnya semakin memerah.
Baekhyun berusaha menahan tawa melihat wajah Luhan yang merah. "Hebat juga ya si Sehun. Bisa meruntuhkan karang di hati seorang Lulu..."
"Baekhyun...!" rajuk Luhan.
Baekhyun malah tertawa. "Akhirnya lo bisa jadi cewek juga, Lu."
"Rese lo!"
"Ssstt..." Baekhyun mendadak diam lalu menyenggok pundak Luhan sambil memandang ke arah kanan koridor.
Luhan mengikuti arah mata Baekhyun dan menemukan sosok Sehun sedang berjalan mendekati mereka.
Baekhyun berdiri dan berjalan mendekati Sehun. Luhan tetap duduk diam di tempatnya.
"Gue turut berdukacita ya, Baek," ucap Sehun tulus. Dia mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Baekhyun.
"Makasih, Hun," balas Baekhyun. "Makasih juga karena lo udah mau datang malam-malam gini."
"Tapi masih ada orang yang datang lebih cepat daripada gue," jawab Sehun sambil melirik ke arah Luhan.
Luhan yang melihat Sehun melirik ke arahnya langsung buang muka.
"Lo udah ketemu keluarga gue?" tanya Baekhyun.
Sehun mengangguk. Matanya sesekali melirik ke arah Luhan.
"Gue lega melihat elo masih tersenyum," kata Sehun pada Baekhyun. "Gue tadi udah takut banget kalau harus ngelihat elo nangis-nangis. Jujur aja, gue paling nggak bisa menghibur orang yang lagi sedih."
"Bohong!" celetuk Luhan. "Waktu di jembatan dulu elo kan yang..." Luhan berhenti bicara. Dia baru sadar udah kelepasan. Luhan buru-buru buang muka biar Sehun dan Baekhyun nggak bisa melihat wajahnya yang lagi-lagi berubah jadi merah.
Sehun dan Baekhyun menatap Luhan sambil tersenyum geli.
"Gue memang nggak bisa menghibur orang lain," kata Sehun. "Gue cuma bisa menghibur orang yang gue cintai."
Luhan melotot mendengar kata-kata Sehun, tapi dia juga nggak bisa menahan debaran jantungnya yang seolah berteriak histeris.
Meski begitu, cuma satu kata yang kemudian keluar dari mulut Luhan: "GOMBAL!", dan Luhan pun berlari meninggalkan Baekhyun dan Sehun begitu aja.
Ternyata Luhan ya tetap Luhan. Gengsinya masih setinggi langit.
.
.
.
Dua minggu telah berlalu sejak papa Baekhyun dimakamkan. Hubungan Luhan dan Baekhyun sudah kembali normal. Mereka sudah dekat lagi seperti dulu. Sekarang Luhan, Baekhyun, Minseok, dan Zitao sedang menikmati indahnya persahabatan sebelum akhirnya nanti harus berpisah kalau sudah lulus dari sekolah ini.
Ujian akhir yang tinggal sebulan lagi sama sekali nggak mereka pedulikan. Belajar sih belajar, tapi ngumpul-ngumpul melepas ketegangan tetap jadi prioritas utama. Seperti sore ini, mereka berempat ngumpul di halaman belakang rumah Baekhyun cuma buat sekadar bersantai ria.
"Ngomong-ngomong nih, Zi, gimana kabar hubungan lo sama Yifan?" tanya Baekhyun. "Udah sampai tahap mana nih kemajuannya?"
"Hubungan gue sama dia baik-baik aja." Zitao tersenyum kecil, wajahnya merona. "Kami lagi mesra-mesranya nih..."
"Duile...!" ledek ketiga temannya.
"Kalo elo, Lu?" Baekhyun langsung beralih ke Luhan.
"Lho, kok gue juga kena tanya?" Luhan nggak terima.
"Udah... jawab aja," sahut Baekhyun.
"Gue nggak pernah ada hubungan apapun sama siapapun, jadi nggak ada yang perlu gue jawab, kan?"
"Lu, gue dengar, udah dua hari lho, Sehun nggak masuk sekolah," kata Zitao dengan perasaan lega karena teman-temannya udah berhenti ngegodain dia. "Lho nggak khawatir, Lu?"
"Buat apa gue mengkhawatirkan dia?" Luhan malah balik tanya. "Dia bukan siapa-siapa gue."
"Kenapa sih elo jutek banget sama Sehun?" serang Minseok. "Seakan-akan Sehun tuh udah melakukan kesalahan besar sama elo."
"Nggak usah sebut-sebut lagi nama dia deh. Kita ngumpul di sini bukan buat ngomongin dia, kan?"
Luhan kayaknya udah mulai kesal. Zitao, Minseok, dan Baekhyun memilih tutup mulut. Mereka mencomot irisan mangga di piring dan memasukkannya ke mulut sambil bertatapan.
.
.
.
Sorenya, di rumah, Luhan tergopoh-gopoh menuju meja telepon untuk mengangkat telepon yang berdering. Tangannya membawa sepiring mi goreng instan.
"Halo," sapanya.
"Halo, Lulu," balas Baekhyun dari seberang.
"Napa, Baek?" tanya Luhan to the point. "Gue lagi mau makan nih."
"Makannya nanti aja, Lu. Lo harus ke rumah sakit sekarang juga."
"Rumah sakit?" tanya Luhan heran. "Siapa lagi yang sakit?"
"Sehun."
"Hah?!" jantung Luhan berdegup kencang. "Kenapa Sehun?"
"Makanya lo ke rumah sakit deh sekarang juga. Kondisinya nggak begitu baik."
"Lo tau dari mana kalau dia masuk rumah sakit? Memangnya dia sakit apa?"
"Gue kakaknya, Lu, jelas gue tau lah. Kata dokter dia kemungkinan kena flu burung...," jawab Baekhyun.
"Flu burung?!" hampir aja piring di tangan Luhan terlepas.
"Iya, itu baru dugaan sementara," jawab Baekhyun. "Darahnya masih diperiksa dan masih menunggu hasil laboratorium."
"Sekarang Sehun di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit tempat bokap gue dirawat."
Luhan diam. Dia tampak berpikir keras. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang ganjil.
"Lo mikir apa lagi sih, Lu?" tanya Baekhyun. "Anak-anak udah pada jalan buat jenguk dia. Gue juga lagi on the way ke rumah lo buat ngejemput lo. Sepuluh menit lagi gue sampai. Jadi lo siap-siap ya. Kita berangkat ke sana sama-sama."
"Tapi... gue mau mak...," sahut Luhan.
"Lima menit buat lo makan dan lima menit buat lo siap-siap. Oke!" Baekhyun langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Luhan.
Luhan meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Matanya menatap mi goreng instan yang ada di tangannya. Nggak tahu kenapa rasa laparnya lenyap begitu aja.
Luhan berjalan menuju ruang makan dan meletakkan mi goreng itu di bawah tudung saji. Lalu dia menuju kamar untuk mengganti kaus rumahnya dengan kaus untuk bepergian. Rasa cemas melingkupi dirinya. Luhan nggak mau hal buruk terjadi pada Sehun. Dia takut kehilangan Sehun. Takut banget.
.
.
.
T B C
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
"080315"
