Disclaimer by ©Masashi Kishimoto.

Warn : Typo, Plot, etc.

Don't Like .. Dont Read.

.

.

PAIN UNDER THE SUNSET

" Kenapa harus menyesali yang telah terjadi? Bukankah kau pernah merasakan kehilangan di saat kau menemukan dan menemukan di saat kau kehilangan? Merasakan kesepian ditengah keramaian ataupun keramaian di sela-sela kesepian? Merasakan ada pada bayang-bayang 'ketiadaan' bahkan merasakan 'ketiadaan' pada suatu kondisi yang bisa dikatakan 'ada'? Hidup itu penuh liku-liku, tidak akan ada yang tau apa yang akan terjadi besok, sebab bisa saja besok akan jauh berbeda dengan hari ini ataupun kemarin. "

.

Chapter 04

~ Jalan Cinta juga Jalan Hidupmu

Obito membuka kedua matanya, perlahan menggeliat dan menyingkap selimut tipis yang membungkus tubuhnya. Aroma makanan yang lezat mengundangnya untuk segera sampai di dapur. Kaget, mendapati seorang lelaki yang sebaya dengannya sedang asyik di depan kompor, memasak sarapan yang sepertinya lezat.

" Aku lupa kalau dia ada disini. " Gumam Obito seraya mengkucek matanya. Membawa langkahnya menuju arah meja makan. " Ohayou." Sapanya.

" Ohayou. " Balas lelaki bersurai perak yang tak lain adalah sahabatnya, Kakashi Hatake. Tengah sibuk dengan beberapa peralatan makan.

" Kau dapat dari mana bahan makanan itu? Bukannya lemari es-ku... " Ucapan Obito terpotong.

" Kau pikir sejak kapan kita kenal? Aku sudah mengantisipasi semua ini. " Kakashi ketus.

" Tidak rugi aku menjadi sahabatmu. Walaupun terkadang kau ini sangat aneh dan terlihat seperti pria abnormal. "

" Abnormal katamu? Kurasa itu berlebihan. Aku hanya sedikit ekspresif dan reflektif. " Sanggah Kakashi, membela diri.

" Ya.. Apalah yang penting sekarang aku lapar. Kau masak apa sih? "

" Apapun yang bisa dimakan."

" Asalkan tidak beracun, aku juga tidak terlalu pilih-pilih makanan. "

Kakashi berjalan kearah meja makan sembari menaruh hasil olahannya.

" Ready on plate! Tuna Burger ala Kakashi. " Dia menepuk tangannya.

" Sudah lama aku tidak makan masakan Western begini. Arigatou Kakashi. "

" Doithashimasu. Kau harus mencobanya!"

" Selamat makan. " Kata mereka.

" Enak. " Puji Obito, Kakashi hanya tersenyum simpul menanggapi pujian Obito.

" Maaf ya obito? Aku hanya datang dan membawa masalah. "

" Eh?! Benarkah? Menurutku kau malah datang membawa makanan di saat aku lapar. Terimakasih-terimakasih. " Alih Obito.

" Aku tidak pantas disebut teman, seharusnya..."

Ucapan Kakashi terpotong.

" Kau mulai membosankan! Kau tahu? Selama manusia punya persepsi disitu akan muncul masalah, dimana ada realita disitu juga akan ada masalah sebab masalah adalah kesenjangan antara harapan dan realita. " Jelas Obito.

" Begitu ya? "

" Dan kau temanku, kita berteman sudah satu paket, susah dan senang! Jadi aku akan bersamamu dalam satu paket itu pula, tidak hanya bersamamu di saat kau senang saja ya bakka! "

" I am pretty lucky.. "

" Sudah! Jangan berlebihan seperti semalam lagi. " Obito membuang muka.

" Arigatou. Aku harus membalasnya dengan apa? "

" Balas saja dengan tanggung jawabmu sebagai laki-laki. Jalani pilihanmu dan jangan pernah menoleh kebelakang. Kau tidak mau kan aku sebut sampah?"

" Sampah juga bisa di daur ulang lho. "

" Hoeh! Tetapi kau ini terkadang memalukan."

" Memalukan dalam hal apa? "

" Kau mau aku berkata apa? "

" Bahkan orang kuat sekalipun akan menjadi lemah ketika dihadapkan dengan cinta, orang pintar sekalipun juga bisa menjadi konyol dan tolol karena cinta. Mungkin ini efek liku-liku cinta yang aku alami. "

" Ya.. Aku paham. Perjalan cinta memang tak selamanya seperti jalan tol, kadang ada pula jalan berkerikil ataupun jalan setapak yang harus dilalui. Yakinlah indah pada waktunya. "

" Kau memang dewa cinta Obito. "

" Kalau kau tetap aneh begitu aku juga bisa menjadi dewa kematian. "

" Ancamanmu sama sekali tidak membuatku takut. "

" Iya! Karena kau pria abnormal! "

" Berhenti mengolokku! "

" Sudah cepat habiskan makanannya. Kita punya hal lain yang harus dikerjakan. "

.

.

Siang semakin terik, sang surya semakin naik dan menyebarkan hawa panas ke penjuru kota. Kakashi sudah berada di halaman Obito yang kemudian tanpa buang-buang waktu memasuki mobilnya. Menyamankan dirinya untuk menyetir, menyalakan mesin kendaraan itu.

" Arigatou Obito. "

" Douitha yo.. Scarecrow! See ya! " Obito tersenyum seraya melambaikan tangannya, sementara mobil Kakashi mulai menjauh dari pandangan, menghilang di telan jarak.

.

OBITO POV

Kau tahu? Sebenarnya aku ingin menjadi seperti kembang api. Menebarkan keindahan, memberikan kehangatan, memberikan sebuah suasana keabraban. Tapi kemudian perlahan-lahan menghilang bersamaan dengan habisnya bunga-bunga api indah itu. Sehingga aku tak perlu punya beban setelah aku menghilang. Aku berharap akan dilupakan setelah mereka menemukan 'kembang api' yang baru. Menjalani kehidupan seperti ini secara teori memang mudah. Tapi prakteknya? Kadang rencana dan harapan tak sesuai realita. Hidup itu realistis dan dinamis. Harapan berbanding lurus dengan kekecewaan. Semakin besar angka harapan, akan semakin sakit dan dalam kekecewaan yang akan di tanggung. Err.. Lama-lama aku bisa gila dengan semua ini. Aku nampak baik-baik saja di depan sahabatku, aku nampak sebagai sosok yang tegar dan penghibur di depan Rin. Sebenarnya jika kau tengok di dalam hatiku dan pikiranku akulah yang seharusnya paling gelisah. Namun satu! Janji tetaplah janji, laki-laki sejati tidak akan pernah menarik kembali janjinya. Itu prinsipku.

.

NORMAL POV

" Selagi yang aku lakukan untuk kebaikan, aku yakin akan ada jalan. " Gumam Obito, menyemangati dirinya yang diserang kerapuhan.

.

.

Sore hari telah menjemput, musim panas sebentar lagi berakhir, musim gugur akan menyambut. Hari ini cuaca begitu bagus dan cerah, secerah senyuman gadis yang sedang berdiri ditepi pantai itu, memandang matahari yang akan segera pulang keperaduan. Lembayung langit sore terbias dipermukaan air asin yang terlihat tenang, setenang hatinya. Masalahnya sudah berlalu seperti benda usang berdebu yang tak patut di kenang. Dia tidak boleh menoleh kebelakang, karena menoleh hanya akan mengkorek-korek luka lama yang seharusnya sembuh dan tidak meninggalkan cacat di hatinya. Dia hanya boleh menantap kedepan, karena tidak ada yang perlu di ingat dari potongan kisah masa lalu itu.

" Tobi, ada apa? Kenapa dia tidak ada disini hari ini? " Gumamnya Lirih.

Pandangan gadis itu mengawang di hamparan pasir keemasan, menunggu temannya agaknya membuatnya terlihat jenuh. Sebelum akhirnya sebuah sapaan membuatnya sedikit terjingkat.

" Selamat sore.. nona Nohara. "

Rin menoleh, " Uchi-ha O-bito. " Dia terbata, ekspresi campur aduk memenuhi raut mukanya. Tanpa sepatah kata-pun dia meninggalkan Obito.

" Tunggu! "

" Pergilah jika kau kesini hanya untuk menertawakan aku! "

" Siapa? Aku? Apa aku terlihat seperti orang yang ingin menghinamu? "

" Masa Bodoh! "

" Kau terlihat membenciku ya? Memang apa salahku? "

" Karena kau adalah sahabat-nya! Melihatmu membuatku sakit! "

" Maaf, aku hanya numpang lewat. Dan tujuanku kemarin hanya untuk menyampaikan pesan dari pria bertopeng orange spiral yang terlihat aneh. "

" Jangan sebut temanku aneh. "

" Kau lebih aneh Nona! Jadi berhentilah bicara dan biarkan aku yang mulai berbicara. "

... Tobe continued.

A/N : Maaf ya lama rilis? Silahkan di review ya readers. ^^