PACARKU JUNIORKU
Author : Valleria Verawati
Editor : Han Lu
Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun (HunHan)
Genre : Romance, Drama, Family
Length : Chapter 10 0f 10
Summary :
Semua peristiwa yang di alami Luhan -siswi kelas 3 SMA- selama ini telah mengubah hidupnya. Pengkhianatan papa tirinya dan tak adanya figur seorang papa kandung membuat Luhan menjadi pribadi yang keras. Di mata Luhan, semua laki-laki brengsek. Itulah yang membuat Luhan tidak suka kalau ada laki-laki yang coba-coba mendekati dirinya. Prinsipnya : I don't need a man. Luhan tidak mau disakiti laki-laki seperti mamanya yang sudah disakiti papa tirinya, juga papa kandungnya yang sudah meninggalkannya dan mamanya begitu saja.
Namun bagaimana jika Sehun -siswa kelas 1 SMA- mengusik kehidupannya dan tanpa malu menyatakan cintanya kepada Luhan secara blak-blakan?!
.
.
.
Hai Readers, sebelum kalian membaca FF ini, aku kasih tau dulu kalau FF INI AKU AMBIL DARI SEBUAH NOVEL REMAJA DENGAN JUDUL YANG SAMA BY VALLERIA VERAWATI.
AKU NGEPOSTING CERITA INI NIATNYA BUKAN UNTUK MENG-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya.
NB. Tulisan miring hanya untuk kata yang Berbahasa Inggris dan kata hati tokoh yang bersangkutan.
.
.
.
Happy Reading ^-^
.
.
.
CHAPTER 10
.
.
.
BAEKHYUN menjemput Luhan tepat waktu. Satu jam kemudian mereka tiba di rumah sakit. Baekhyun memarkir mobilnya dan bergegas menarik tangan Luhan menuju kamar tempat Sehun dirawat.
"Pelan-pelan dong, Baek," protes Luhan.
Baekhyun nggak peduli. Sebelah tangannya malah sibuk menekan-nekan tombol handphone-nya.
"Lo di mana?" tanya Baekhyun lewat handphone-nya. "Gue sama Luhan udah sampai." Baekhyun mematikan handphone-nya dan memasukkannya ke saku celananya.
"Siapa?" tanya Luhan.
"Minseok," jawab Baekhyun singkat lalu menggiring Luhan masuk ke lift.
Keluar dari lift mereka menyusuri koridor menuju kamar tempat Sehun dirawat. Koridor itu agak ramai. Sepertinya sedang jam besuk. Baekhyun berhenti di depan kamar yang berada di ujung koridor.
"Ini kamarnya," Baekhyun memberitahu Luhan.
Luhan cuma mengangguk.
Baekhyun mengetuk pintu kamar itu dua kali, lalu membuka pintu dan masuk. Luhan mengekor di belakang.
Di kamar itu cuma ada satu tempat tidur pasien. Perabotannya lengkap: ada televisi, lemari pakaian, kulkas mini, dan sofa yang dijamin pasti empuk.
Sehun berbaring di tempat tidur pasien dengan alat bangu pernapasan menutupi hidungnya dan selang infus yang terpasang di tangannya. Matanya tertutup rapat.
Luhan mengedarkan pandangan. Selain dia, di kamar ini ada Baekhyun, Minseok, Zitao, dan Jongin yang berdiri berjajar di samping tempat tidur.
Baekhyun bergabung dengan teman-temannya dan berdiri di sisi tempat tidur. Luhan berjalan mendekati Sehun yang tampaknya tertidur lelap.
"Xiu, bener nggak sih, Sehun sakit flu burung?" tanya Luhan.
"Betul, Lu," jawab Minseok cepat. "Tapi masih belum positif sih."
"Lalu orangtuanya mana?" tanya Luhan lagi.
"Mmm... tadi sih udah ke sini, tapi sekarang lagi pulang buat istirahat," kali ini Jongin yang menjawab.
"Lu..., lo nggak kasihan sama Sehun?" tanya Zitao pelan. "Dia udah dirawat sejak dua hari yang lalu."
Luhan nggak menjawab. Dia cuma menatap wajah Sehun.
"Lu, gimana kalau Sehun nggak bisa diselamatkan?" ujar Minseok. "Apa elo nggak sedih kehilangan dia?"
Luhan tetap bungkam.
"Sehun benar-benar suka sama elo," kata Jongin. "Kalau memang dia nggak bisa diselamatkan, paling nggak, lo balas cintanya di sisa umurnya."
Luhan mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Lu, kok elo diam aja sih?" protes Baekhyun.
Luhan mendongakkan kepalanya. Dia memandang teman-teman yang berdiri di hadapannya dengan diam.
"Gue nggak peduli," akhirnya Luhan buka suara. "Gue nggak peduli dia sakit atau sekarat. Puas?"
Mata Baekhyun, Zitao, Minseok, dan Jongin melotot. Mereka kaget mendengar ucapan Luhan.
"Lo kejam, Lu!" kata Minseok.
"Sehun sayang banget sama elo, tapi elo malah jahat sama dia," sambung Zitao. "Lo keterlaluan."
"Hun, dengar kata-kata gue dengan baik!" Luhan nggak memedulikan ucapan teman-temannya, dia malah bicara dengan Sehun yang terbaring di tempat tidur. "Gue nggak suka cowok lemah!"
Setelah itu Luhan beranjak meninggalkan tempatnya.
"Tunggu, Lu!" suara seseorang menahan Luhan.
Luhan membalikkan badan. Dilihatnya Sehun duduk tegak dan melepas alat bantu pernapasan yang menutup hidungnya. Lalu dia mencabut jarum infus yang ternyata hanya menempel di tangannya.
"Lulu... gue bukan cowok lemah!" ujarnya, lalu berdiri dan berjalan mendekati Luhan.
"Syukur deh," kata Luhan, lalu berbalik lagi untuk meninggalkan kamar itu.
Baru saja Sehun hendak menahan Luhan, pintu kamar terbuka sehingga Luhan berhenti melangkah.
Seorang pria setengah baya berpakaian dokter muncul dari balik pintu dengan senyum ramah sambil bertanya, "Bagaimana latihan syutingnya?"
Luhan merasa pernah melihat laki-laki itu. Ah, dia ingat. Pria itu paman Baekhyun yang waktu itu pernah mengobrol dengan papanya waktu papa Baekhyun meninggal.
"Latihannya baik, Om," jawab Luhan.
Sehun, Baekhyun, Zitao, Minseok, dan Jongin terpana mendengar jawaban Luhan.
"Bagus kalau begitu," sahut paman Baekhyun. "Tapi jangan lama-lama ya, takutnya nanti ada pasien yang mau masuk."
"Baik, Om," Luhan kembali menjawab. "Lagi pula latihannya udah selesai kok."
"Oh, begitu ya." Paman Baekhyun tersenyum. "Kalau begitu, nanti kalian lapor pada suster jaga agar kamar ini bisa segera dirapikan."
"Baik, Om."
Paman Baekhyun keluar dari kamar sambil tetap tersenyum.
"Jadi, lo udah tau kalau semua ini cuma pura-pura, Lu?" tanya Baekhyun begitu pintu kamar tertutup kembali.
"Memangnya kalian pikir gue bego?" Luhan balik bertanya.
"Lo jangan marah, Lu," kata Sehun. "Mereka cuma bermaksud menolong gue agar bisa baikan sama elo. Mereka nggak salah."
"Gue nggak bilang mereka salah...," sahut Luhan.
"Maaf, Lu, ini semua ide gue," aku Zitao.
"Dan gue yang jadi sutradaranya," ujar Baekhyun. "Dokter tadi om gue. Dia punya kedudukan yang cukup tinggi di rumah sakit ini dan dia yang meminjamkan kamar ini dengan alasan gue mau latihan syuting buat pertunjukan saat kelulusan nanti," sambung Baekhyun.
Minseok nggak mau ketinggalan. Dia ikut buka suara, "Gue penulis skenarionya, Lu."
Luhan diam saja. Ekspresinya datar.
"Lu, kami tuh cuma mau ngebantuin Sehun buat baikan sama elo," kata Zitao. "Dia tulus sayang sama elo."
"Siapa yang punya ide tentang penyakit flu burung?" tanya Luhan tanpa merespons kata-kata Zitao.
Minseok mengangkat tangan kanannya. "Gue."
"Sebenarnya, idenya maksa sih...," celetuk Jongin.
Tiba-tiba Luhan tertawa. "Kalian tuh tolol banget sih! Cari penyakit kok yang aneh gitu. Mana mungkin gue percaya."
"Jadi lo curiga?" tanya Baekhyun.
"Jelaslah!" jawab Luhan. "Flu burung kan bukan penyakit sembarangan. Orang yang diduga terjangkit virus flu burung bakal diisolasi. Jadi mana mungkin kalian diizinin ngumpul di sini bareng Sehun yang katanya kena flu burung. Udah gitu, masa anak sakit parah orangtuanya nggak nemenin. Satu lagi yang perlu kalian tau, biasanya pasien yang dicurigai kena flu burung itu bakal dirujuk ke Rumah Sakit Pusat. Masa kalian nggak pernah dengar sih?"
"Tuh kan, gue bilang juga apa!" ujar Baekhyun. "Jangan bilang kena flu burung. Demam berdarah aja. Lebih masuk akal."
"Tapi kan flu burung lagi ngetren, Baek," Minseok ngotot.
"Tapi buktinya, rencana kita gagal gara-gara ide lo itu," balas Baekhyun.
Minseok cuma manyun.
"Apa kalian pikir semua yang udah kalian rancang ini bisa membuat gue baikan sama Sehun?" tanya Luhan.
"Itu harapan kami, Lu," jawab Zitao. "Paling nggak, kami udah usaha."
Suasana mendadak jadi hening. Mata Luhan beradu pandang dengan Sehun yang berdiri di hadapannya.
Lalu Luhan berkata pelan, "Apa buktinya kalau elo sayang sama gue dan nggak akan pernah membuat gue kecewa?"
"Gue nggak bisa menunjukkan buktinya ke elo, karena bukti itu ada di dalam hati gue dan hanya bisa gue perlihatkan seiring berjalannya waktu...," jawab Sehun sungguh-sungguh.
"Berarti, gue harus percaya sama ucapan elo begitu aja?"
Sehun mengangguk. Bola matanya menatap Luhan dengan lembut, membuat jantung Luhan berdebar nggak karuan. Luhan menunduk agar Sehun nggak bisa melihat wajahnya yang mulai terasa memerah dan panas.
"Kalau ternyata elo ngecewain gue?" tanya Luhan dengan kepala masih tertunduk, "gue jamin lo nggak bakal bisa tersenyum lagi."
Sehun terkesima mendengar kata-kata Luhan. Begitu pula Zitao, Baekhyun, Minseok, dan Jongin yang menonton dari belakang.
"Apa ini berarti lo nerima cinta gue, Lu?" Sehun mencoba menerka.
Wajah Luhan makin memerah. Dia menyahut sambil pura-pura membuang muka, "Nggak tau ah!"
Senyum Sehun merekah. Dia melompat dan berteriak kencang, "YES!"
Luhan nggak tahu harus bersikap bagaimana. Dia jadi salah tingkah. Apalagi ketika Sehun tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya erat.
"Gila, apa-apaan sih lo!" protes Luhan sambil meronta.
Tapi Sehun nggak mau melepasnya. "Makasih, Lu. Sekarang lo resmi jadi pacar gue..."
"Heh, siapa yang bilang gue mau pacaran sama lo?" Luhan berusaha melepaskan diri dari pelukan Sehun.
"Kali ini lo nggak akan gue lepasin," bisik Sehun lembut di dekat telinga Luhan. "Kata-kata lo tadi udah gue terjemahkan sebagai pernyataan bahwa elo bersedia jadi pacar gue. Dan elo nggak bisa menariknya lagi."
Luhan berhenti meronta. Tubuhnya terasa lemas saat merasakan desah napas Sehun di telinganya. Luhan menyerah. Dia nggak lagi melawan. Dia membiarkan cinta merasuki dirinya.
"Gue sayang elo, Lu...," bisik Sehun lagi.
Luhan nggak menjawab, tapi tangannya perlahan bergerak dan membalas pelukan Sehun dengan sepenuh hati. Direbahkannya kepalanya di pundak Sehun, dibiarkannya
sensasi yang belum pernah dia rasakan menjalar lembut ke seluruh pembuluh darahnya.
Gue juga sayang elo, Hun, kata Luhan tanpa suara. Senyumnya merekah dalam pelukan hangat Sehun.
.
.
.
END
.
.
.
Yeaayy, akhirnya selesai juga. Ini fanfic pertama yang END..
Mudah-mudahan semua pada suka sama jalan ceritanya dari awal sampe akhir yaa..
Thank you so much buat yang setia baca, nge-koment, nge-favorite, nge-follow. Maaf, gak bisa sebutin satu-satu. Pokoke terima kasih banyak-banyak yaa..
.
.
.
"270315"
