Disclaimer by ©Masashi Kishimoto.

Warn : Typo, Plot, etc.

Don't Like .. Dont Read.

.

.

PAIN UNDER THE SUNSET

" Semua masa itu saling berhubungan. Entah masa lalu, masa sekarang atau masa medatang. Dirimu yang sekarang dibentuk oleh masa lalu, begitu juga masa sekarangmu akan mempengaruhi masa-mu mendatang. "

Chapter 05

~ Aku Membencimu

Masih dengan suasana senja di tepi pantai yang tenang, dia berdiri membelakangi lelaki itu. Rasa sakit itu perlahan-lahan datang dan menyeretnya pada kondisi yang tidak diinginkannya. Perih, hatinya seperti diiris dengan pisau tumpul yang berkarat. Hati yang akan sembuh seketika enggan beregenerasi kembali. Cinta yang seharusnya agung, dipuja, dan memberikan keindahan harus berubah menjadi musuh yang siap untuk menikam kapan saja. Malaikat-malaikat berubah menjadi setan yang siap menyeret pada neraka kebencian, dimana hanya ada kekecewaan dan kegelisahan. Ini terlihat membuatnya begitu pedih.

" Jadi nona Nohara. Apa kau siap untuk memulai percakapan yang menyenangkan? "

" Whatever! " Rin ketus.

" Sebenarnya ini tidak adil, kau membenciku atas semua hal yang tak aku lakukan. Seharusnya kau lebih bisa sedikit bijaksana. "

" To the poin saja tuan Uchiha. "

" Haaah. " Obito menarik nafas panjang. " Tapi aku tidak terbiasa berbicara menghadap punggung seseorang. "

" Katakan saja apa pesan temanku. "

" Begitu ya caramu berbicara dengan orang lain? "

Rin mengepalkan jari-jarinya, kemudian dia berbalik dan menatap tajam Obito. " Baiklah tuan Uchiha, tolong katakan! Apa pesan temanku? "

" Bisa kau rubah tatapan yang seolah ingin menelanku hidup-hidup itu? "

" Kau menyebalkan! Tapi baiklah. " Rin mencoba melembutkan tatapannya.

" Nah! Begitu kan manis. "

" Bisa kau katakan sekarang? "

" Kau sangat peduli ya pada temanmu itu? " Obito memasukan kedua tangannya pada saku celanannya.

" Bisa dikatakan begitu. "

" Bahkan jika kau tau siapa dia yang sebenarnya? "

" Siapapun dia, dia sudah membuatku lebih baik. Aku berhutang padanya. "

" Lalu bisakah kau melepas seluruh atribut masa lalumu dan berusaha tidak membenciku nona? "

" Itu sulit."

" Yang paling sulit dibagian mana? "

" Kenangannya. "

" Kau tampak seperti wanita yang gagal move on. "

" Aku bisa move on kok! Aku sudah melupakannya. "

" Bhullshit. "

" Apa kau bilang? "

" Aku bilang kau bhullshit! Kalau kau bisa move on dan sudah melupakannya harusnya kau tidak terlalu terefek pada kenangannya. Harusnya kau lebih bisa memilah-milah. Kau tak punya alasan kuat membenciku jika kau benar-benar sudah move on."

"... " Rin hanya terdiam.

" Baiklah, aku minta maaf kalau kata-kataku kasar. Akan aku katakan apa pesan temanmu itu. "

" Matte! "

" Eh? "

" Apa Kakashi sudah benar-benar bahagia? "

" Kau mau aku jawab apa? "

" Jawab yang sejujurnya. "

" Keadaan tak bisa berubah semudah membalikkan telapak tangan. Hal terbaik yang bisa kau lakukan hanyalah melupakan cinta kalian dan kenangannya. Jika kau mau berhubungan lagi aku sarankan bangun hubungan baru sebagai seorang teman. Tidak lebih. "

" Aku sudah menyadarinya dari awal. Sejak awal dia membuangku. "

" Lupakan Kakashi! " Kata Obito Singkat.

" Sakitnya susah dilupakan. "

" Baiklah, aku akan membantu melupakannya. Aku ingin kau mengenalku sebagai Obito Uchiha, bukan sebagai potongan masa lalu yang menyakitkan. Jadi katakan! Apa yang bisa aku lakukan agar persepsimu padaku bisa berubah? Kau tak adil jika membenciku begitu saja sebelum kau benar-benar mengenalku. "

" Entahlah. "

" Ya sudah, aku mau pulang dulu, pada akhirnya kau tetap membenciku kan? Kau bahkan membenciku hanya karena aku teman baik Kakashi." Obito membalikkan badannya, senyum kecut itu menghiasi wajah tampannya yang dipenuhi rasa kekecewaan atas perlakuan Rin. " Itu tadi pesan yang mau disampaikan lelaki bertopeng itu! Aku harap kau menyadarinya. "

" ... " Rin terbelalak, manik kecoklatannya mendadak berkaca-kaca. " Hei, apa maksudmu Uchiha Obito? "

" Nothing! Kau bisa menyembuhkan lukamu sendiri." Obito terseok menjauh, langkahnya terasa berat karena pasir seolah menarik kaki-nya agar tak melangkah lebih jauh. " It's too complicated. " Tambahnya.

" Hei Tunggu! " Rin yang berusaha berlari dan mengejar Obito sedari tadi kini telah berada di hadapan Obito.

" Apa lagi yang kau mau dari orang yang kau benci ini? "

" Kau..! Kau Tobi kan? "

" Tobi? Siapa Tobi? Aku tidak kenal. " Obito membuang muka-nya.

" Jangan berdalih, kau Tobi kan? " Rin ngotot.

" Apa bedanya Obito dan Tobi. Hanya beda nama dan penampilan. " Tatapan Obito perlahan menyayu.

" Kalau kau benar-benar Tobi. Apa motivasimu melakukan ini semua? APA? Lulucon macam apa ini? Hiks.. " Rin terisak.

" Selama kau membenciku semua yang aku lakukan tidak akan tampak. Kau tak akan bisa melihat apapun selama di hatimu hanya ada kebencian. "

" Jangan mempermainkan aku! "

" Kau pikir kau ini siapa? Apa aku mau berpenampilan konyol dan aneh hanya untuk menghibur wanita ketus sepertimu? "

" AKU MEMBENCIMU! " Teriak Rin.

" Silahkan! " Jawab Obito singkat, kemudian dia berlalu tanpa mempedulikan Rin yang terisak dan melorot, duduk tertunduk pada hamparan pasir yang mulai meredup sebab senja telah berangsur. " Kau bodoh Rin. " Obito berkata dengan nafas yang berat dan terengah namun langkahnya tak dapat dia hentikan, terus melaju meninggalkan area itu.

...

...

" Hiks.. Hiks.. " Rin masih terisak, dia tidak mempedulikan jika gelap telah merambah ke sekitarnya.

.

RIN POV

Apalah arti semua ini, jika ternyata takdir hanya mempermainkanku. Aku terlihat dungu dihadapan mereka. Aku ini apa? Setelah aku dibuang begitu saja, kini aku seolah dipermainkan. Obito uchiha, Kakashi Hatake. Kalian hanya lelaki pengecut yang telah membuatku sakit. Aku benci kalian. Dan kau Tobi! Apa kau dan Obito adalah orang yang sama? Tapi jika kalian orang yang sama apa tujuannya membuat skenario seperti ini? Awalnya aku merasa senang ada Tobi yang hadir di dalam kehidupanku, awalnya aku sangat gembira karena hatiku yang patah sudah perlahan bisa beregenerasi lagi. Hari ini semuanya hancur kembali, ibarat sebuah istana pasir yang susah payah dibangun namun kemudian ditendang begitu saja saat sudah megah berdiri seperti kastil di negeri dongeng dan ibarat sebuah malaikat.. tidak hanya satu sayapku yang patah, tapi sudah dua-duanya, aku seperti malaikat yang cacat.

.

NORMAL POV

Rin masih belum beranjak dari tempatnya, lemas, lunglai, dia terlihat sangat kacau. Namun kemudian dia teringat akan perkataan Obito. 'Kau tak akan pernah bisa melihat apapun selama di hatimu hanya ada kebencian. '

" Baiklah, aku akan mengikuti alur permainan kalian. Lihat saja. " Rin tersenyum sinis.

.

Rin berusaha menyangga tubuhnya yang dia rasa sangat lemah, dengan sekuat tenaga dia berjalan. Dia sedikit tersentak ketika tiba-tiba di depannya berdiri sesosok lelaki jangkung.

" Hanabi O matsuri. " Dia menyodorkan sebuah kertas berwarna hangat yang ternyata adalah tiket sebuah festival kembang api. Rin masih tercengang dengan aura yang campur aduk.

" Tobi? "

" Iya kakak! Kenapa? Kaget dengan penampilanku? "

" Ya, kau berbeda. Tidak dengan jubah motif awan merah itu lagi ya. "

" Jubahku sedang di laundry kak. "

" O ya? " Rin mengamati Tobi dari ujung rambut sampai ujung kaki.

" Kenapa menatapku begitu? Ada yang aneh? "

" Kau mirip seseorang. "

" Siapa? Hmm.. "

" Seseorang di masa lalu-ku. "

" Memang kadang antara manusia yang satu dengan yang lainnya ada kemiripan kok. Sifat, logat, cara bicara atau yang lainnya. Kemiripan menarik kemiripan. Eh?! Kenapa kau terlihat kacau lagi? "

" I have some problem. "

" Jangan terlalu dipikirkan kak. Kau harus bisa selektif, jangan sedikit-sedikit terlalu kau masukkan hati. Hanya mengotori pikiran, dan membuat hatimu over load. Kau hanya wanita biasa!"

" Ya! "

" Yosh! Aku mau langsung pulang ya? Mata ashita nee-san. "

" Hei. Tadi kadi pesan apa pada seseorang? "

" Pesan? Aku hanya bilang aku terlambat dating karena harus memesan tiket ini. "

" Oh. "

" Jangan melamun di jalananan. Tidak baik! Ja ne… " Kata tobi dengan nada ceria. Kemudian berlalu seolah tanpa dosa ataupun beban.

" Ja! " Sahut Rin masih dengan wajah agak bingung. " Sekarang apalagi? " Gumam Rin sembari melirik tiket 'Hanabi o matsuri' yang ternyata akan diadakan besok malam.

" Kau harus datang ya nee-san?! " Teriak Tobi dari kejauhan.

" Anno. "

" Tidak menerima alasan! " Teriaknya lagi seraya melambaikan tangannya.

.

.

Suara hewan malam bersahutan satu sama lain, Obito berjalan dengan langkah gontai menyusuri trotoar menuju arah rumahnya. Pikirannya mengawang kemana-mana. Sebelum pada akhirnya langkah kakinya membawanya sampai di gerbang rumahnya, diambilnya kunci pada bagian depan tas ransel-nya.

'CEKREK'

Dibuka pintu gerbang itu dengan malas-malas dan tanpa semangat, mimik muka itu menunjukkan kesuntukan akan beban yang dia tanggung.

" Kau sepertinya kuwalahan menghadapi dia? " Sebuah kata-kata dari suara yang tak asing seolah menamparnya saat itu juga.

" Kau? " Kata Obito sembari menaikkan satu alisnya.

.

To be continued...

A/N : Yo.. Monggo reviewnya xD.