Disclaimer by ©Masashi Kishimoto.

Warn : Typo, Plot, etc.

Don't Like .. Dont Read.

.

.

PAIN UNDER THE SUNSET

" Luka tidak harus digambarkan melalui penyaluran secara emosional, melalui sebuah senyuman orang bisa saja tau kau sedang terluka. Sepandainya orang menyembunyikan luka tetap saja.. Tetap akan terasa sakit. "

Chapter 06

~ Apa kabar luka lama?

Obito terkejut dengan sapaan itu, jantungnya berdegup kencang, dia tak menyangka akan dipecundangi oleh keadaan sehingga tak bisa menepati janji pada sahabatnya, Kakashi Hatake. Benarkah dia akan menarik prinsipnya kembali? Benarkah lelaki sejati akan terus memegang kata-katanya dalam setiap kondisi? Betulkah lelaki sejati akan berjuang mewujudkan janji-janjinya bahkan ditengah badai-pun? Tapi kali ini bukan urusan dengan keadaan dan prinsip laki-laki sejati, kali ini dia berurusan dengan 'sekeping hati', urusan hati sangat berbeda. Mungkin viking yang bisa menghabisi naga buas sekalipun atau seorang ninja hebatpun akan dihadapkan pada situasi sulit jika sudah berhadapan dengan 'sekeping hati', ya 'sekeping hati yang terluka' .

" Kakashi, Gai. Sedang apa kalian disini? "

" Jangan sok tidak butuh bantuan begitu Obito. " Kata Kakashi.

" Aku bisa menyelesaikan sendiri kok, hanya saja aku butuh waktu lebih."

" Tidak usah menutupi lagi, aku paham kondisimu Obito. Jangankan menolongku.. Kau sendiri sekarang sedang dalam dilema bukan? Menolong dirimu sendiri saja kau sulit. "

" Aku mohon jangan campuri urusanku kali ini. Biarkan aku sendiri yang menyelesaikannya. "

" Jangan sok tegar! "

" Aku bisa, aku pasti bisa menyelesaikannya. " Obito mencoba memasang senyuman palsu.

" Senyuman macam apa itu? Kau harus menyadari aku juga salah, aku menghilang begitu saja dari dia. Aku juga berhak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan padanya bukan? Aku rasa ini kesempatan yang baik buatku. Man, I am not a loser. Can you understand? "

" Yeah! Whatever! "

" Cinta itu merepotkan ya? " Gumam Gai.

" Diamlah kau jomblo sepanjang hayat! " Seru Obito.

" ... " Gai langsung hening dan tidak berbicara sepatah katapun lagi, sebab dia sadar jika situasinya sedang memanas. " Aku mau cari angin dulu. " Kata Gai seraya berlalu, meninggalkan Obito dan Kakashi berdua.

" Kita akan menanggung beban itu bersama, apa kau tidak ingin menyuruhku masuk ke dalam rumah dulu? "

" Hah! " Obito membuka pintu rumahnya, membuang nafasnya dengan kasar.

.

.

Pagi telah menjemput, gadis itu - Rin Nohara - dia terdiam di meja makan, menyeduh secangkir teh panas untuk menenangkan pikirannya dan memberikan kehangatan bagi tubuhnya. Selembar kertas dengan warna cerah tergeletak di meja yang sama. Pupil kecoklatan-nya terus memandangi secarik kertas itu dengan penuh tanda tanya di dalam benaknya, sesekali jari telunjuknya dia ketuk-ketukkan pada meja, mencoba meredam kecamuk dari dalam jiwanya yang terdalam. Hatinya hancur, dia tidak bisa percaya kepada siapa-siapa lagi. Kemunculan Obito telah menghancurkan semua kepercayaannya pada Tobi dan kepercayaannya pada semua orang, dia tak tahu kepada siapa lagi harus percaya. Dia terluka untuk yang kesekian kalinya di suatu masalah yang sama dari waktu ke waktu. Terduduk lemas tak bertenaga, dengan tatapan yang belum lepas dari secarik kertas itu, mata sembam itu menatapnya dengan setengah pandangan yang makin mengosong, sepertinya dia baru menangis semalaman.

" Lelucon apa lagi ini? " Gumamnya. " Jangankan untuk pergi ke acara seperti ini, bahkan untuk keluar rumah saja aku malas." Imbuhnya.

Dengan susah payah dia berusaha berfikir lebih jernih, meronta dari kondisi hati yang membuatnya seperti orang yang terbuang. Meletakkan kedua telapak tangan pada wajahnya rapat-rapat, seolah dia tak ingin melihat dunia lagi. Dunia yang selalu membuatnya terluka.

" Haaaah..! " Menghela nafas panjang setelah membuat wajahnya terbebas, menegarkan kembali pribadinya yang sempat runtuh. Berusaha membalut luka hatinya yang menganga lebar.

" Baiklah, aku harus datang untuk memastikan semuanya. " Dia tersenyum kecut. " Tapi setidaknya, musim dingin nanti aku harus pergi, pergi jauh dari sini agar kenangan itu bisa memudar. Aku akan membangun hidup baru. "

Dia memantapkan hatinya, ya! Dia akan pergi setelah semuanya siap, dia tak mau jatuh dan larut terus dalam masalah yang sama. Musim dingin akan datang empat bulan lagi dan harus bisa membekukan semua kenangannya seperti air danau yang beku karena suhu udara yang terlampau dingin.

.

.

" Kakashi, apa kau yakin dengan semua ini? "

" Iya Obito, aku rasa ini penyelesaian yang terbaik. Temui dia sebagai Tobi dulu. "

" Gai, bagaimana dengan Gai? "

" Mungkin kita akan butuh sedikit bantuannya. "

.

Angin malam menyapa lirih dan sepoi seluruh makhluk hidup maupun benda mati di kota itu, bintang-bintang berjajaran di langit malam yang cerah, seolah melihat bisu kerumunan orang yang mulai menyemut di pusat kota. Penjaja pernak-pernik dan aneka camilan seakan berbaris di pinggiran, meramaikan sebuah acara pesta kembang api di musim panas. Festival kembang api akan segera dimulai. Seorang gadis berjalan mengenakan Yukata, rambut coklatnya yang biasa tergerai kini tampak rapi, dia cantik dengan Yukata berwarna lavender itu, tetapi sayang sekali, wajah cantik itu dihiasi oleh sebuah kesedihan yang sepertinya sulit untuk dihapuskan. Dia bersusah-payah membuat senyuman palsu, berpura-pura bahagia di lingkungan yang seharusnya tidak di isi dengan kepedihan itu. Tapi sia-sia, luka tetap saja luka. Seberapapun berusaha disembunyikan pada akhirnya juga akan tetap terasa sakit. Wanita itu mengedarkan pandangannya kesemua arah, memeriksa setiap kerumunan, hingga indera penglihatannya menangkap sebuah karakter yang tak asing baginya, lelaki yang mengenakan topeng orange spiral tersebut berjalan mendekatinya. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, tubuh itu semakin dekat dengannya. Tapi secara tiba-tiba lelaki lain dengan perawakan tegap muncul di depannya.

" The spirit of youth! Aye! "

" Si-siapa kau? " Rin lumayan terkejut.

" Lupa denganku ya? Sialnya aku menjadi tuan kurang populer. " Gai pura-pura sedih.

" Matte! Kau Gai kan? "

" Kau benar! " Gai menatap Rin dengan pandangan berbinar-binar.

" Lama tak jumpa ya Gai."

" Ya, sejak kita lulus SMA, kita sudah tak pernah bertemu. "

" Ehem! Maaf tuan, kau menghalangi Jalanku. Sepertinya kalian sedang nostalgia ya? "

" Ohohoho.. Yosh! Perkenalkan, aku Maito Gai. "

" Namae wa Tobi desu. Yoroshiku. "

" Yoroshiku. "

Tobi dan Gai berdiri di depan Rin, kedua lelaki dengan postur yang cukup tinggi itu kini bersama dengan Rin. Menepi dari kerumunan yang ramai.

" Jadi kita akan jalan bertiga ya? "

" Kalian berdua jalan dulu saja, aku sedang menunggu seseorang. " Kata Gai mantap.

" Baiklah Tuan Maito. " Jawab Tobi.

" Sayang sekali ya Gai, padahal kita baru saja ketemu. "

" …" Gai hanya tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.

" Ya baiklah, kami duluan ya? " Kata Rin pada Gai.

" Okay! " Seru Gai.

.

Tobi dan Rin berjalan, mencari tempat yang cocok untuk melihat kembang api, mereka berhenti di dekat jembatan bambu yang menghubungkan dua sungai kecil dengan alirannya yang lumayan deras.

" Apa kau senang kakak? "

" Aku akan lebih senang apabila kau mau membuka topengmu. "

" Apalah arti semua ini kakak, aku hanya ingin dekat dan menghiburmu. "

" Walaupun pada akhirnya kau akan lebih menyakitiku? "

" Apa maksudmu kak? "

" Tidak. Aku tak punya maksud apa-apa kok. "

" Apabila wajahku nyatanya cacat bagaimana kak? Apa aku harus mempermalukan diriku sendiri di depanmu? Apa dengan begitu kau kemudian menjadi senang? Aku hanya ingin kau benar-benar melihat seseorang dengan hatimu, bukan dengan persepsimu. Kau harus belajar melihat seseorang dengan ketulusan, tidak dengan kebencian karena trauma di masa lalumu. Tidak semua orang di dunia ini memiliki karakter yang sama."

" Tujuanmu membawaku kesini apa? "

" Aku ingin kakak seperti kembang api saja, tidak lebih. "

" Analogi lagi ya? "

" Bisa dibilang begitu. "

' BUMMB… BUMBB'

Puluhan kembang api ditembakkan ke langit luas, bunga-bunga api itu bertebaran dengan segera di langit, membentuk suatu pola-pola yang indah. Hangat, menyenangkan dan seharusnya membawa perasaan bahagia. Rin mendongak ke langit, indera penglihatannya sempat memancarkan rasa kagum, tapi rasa kagum akan keindahan kembang-kembang api itu belum cukup untuk menjadi obat atas luka hatinya. Ya, karena dia tidak berusaha mengobati sumber luka itu, tapi hanya mencoba lari dari rasa sakitnya.

" Kembang api sangat indah dan memberikan kehangatan, terlihat indah dari jauh tapi mungkin ketika kau menyentuhnya tanganmu akan terbakar. Namun ketika dia menghilang kau tak bisa menyentuhnya juga, intinya kau hanya bisa melihatnya tanpa menyentuhnya. Dengan melihatnya saja akan menimbulkan efek senang dihatimu. Saat orang-orang pulang kerumahnya masing-masing mungkin mereka hanya mengenang kembang api itu sesaat, namun ketika mereka ada pada rutinitasnya, mereka akan melupakan keindahan langit karena semaraknya. " Kata Tobi.

" Tapi kembang api bukan manusia yang punya hati. "

" Iya, memang benar! Itulah yang nantinya akan memberikan batasan antara manusia dan kembang api. "

" Iya Tobi. "

" Kakak, maukah kau berjanji padaku? "

" Apa? "

" Temani aku di pantai itu setiap sore ya kak? Kau harus janji ya kak? "

" Demo… "

" Sebentar lagi musim panas akan berakhir. Onegaishimasu. " Tobi memohon.

" Baiklah jika kau memaksa. "

" Yatta! " Tobi bersorak.

" Ya! " Rin tersenyum.

" Kakak, apakah kau mau kopi atau teh? "

" Hei, dulu aku janji mau mentraktirmu kopi kan Tobi? "

" Tidak, kali ini aku yang traktir. Tapi kau tunggu disini ya? Aku ingin menikmati kopi sambil menatap langit yang cerah, karena biasanya aku hanya menatap sunset. "

" Ya! Baiklah. "

" Tunggu ya? Aku segera kembali. "

Tobi beranjak dari tempat itu menuju sebuah tempat yang menjajakan minuman. Langkahnya semakin menjauh dari Rin. Selang beberapa menit kemudian sebuah langkah yang lain menghampiri Rin, mendekat dan semakin dekat. Dia meletakkan kedua tangannya pada saku celananya. Berdiri disamping Rin yang setengah menyandarkan dirinya pada pagar jembatan bambu itu, tidak menyadari kehadiran pria itu karena terlalu asyik melihat kembang api.

" Hai, apa kabar Rin? " Suaranya sedikit parau.

.

To Be Continued…

A/N : Silahkan review-nya