Disclaimer by ©Masashi Kishimoto.

Warn : Typo, Plot, etc.

Don't Like .. Dont Read.

.

.

PAIN UNDER THE SUNSET

" Hei, taukah kau bahwa cinta dan benci mempunyai sebuah sekat yang sangat tipis? Saking tipisnya kadang kau tak akan tau kapan kau mulai mencintai dan kapan pula kau mulai membenci. Tapi taukah kau jika yang mampu menyakitimu teramat dalam justru bukanlah musuhmu? Ya! Yang bisa membuatmu teramat sakit dan jatuh sebenarnya adalah 'orang yang paling kau cintai', jadi sebenarnya apakah arti dari cinta dan benci itu sendiri? "

Chapter 07

~ Kau Tetap Saja Sama

Malam semakin larut, kembang api - kembang api itu perlahan melenyap, mengembang indah bagai mahkota brokat di langit malam kemudian lenyap begitu saja bagai ditelan awan. Bayangan Kakashi menyentuh bayangan Rin, bukan rasa bahagia kala itu yang mereka rasakan, berbeda dengan bertahun-tahun sebelum kekecewaan dan rasa sakit itu hinggap dan menggerogoti kepribadian mereka. Jika mengenal cinta sama artinya belajar untuk membenci, situasi ini yang sekarang sedang terjadi pada mereka. Kecamuk, dilema, canggung, rasa sakit, kenangan, benci mengeroyok mereka dalam ketidakberdayaan. Rin mematung, raut mukanya mendadak menjadi kacau. Malam yang seharusnya indah dan bahagia itu perlahan berubah menjadi suram. Rin membuang pandangannya, air mata terus memaksa jatuh tanpa bisa diajak kompromi. Mengangkat tubuhnya dari sandaran, dia berniat meninggalkan Kakashi. Dipacunya sebuah langkah yang susah payah dia percepat, tapi mendadak tubuhnya seakan lemas tak bertulang.

'GREPP'

Tangan kekar Kakashi meraih pergelangan tangan Rin saat tubuh rapuh Rin melewati sisi tubuhnya yang lain.

" Kali ini tidak akan ku biarkan kau pergi! Dan akupun tidak akan pergi sebelum semuanya jelas. "

"..." Rin masih membisu, air matanya kini semakin deras. Lidahnya seakan kelu, tak kuasa berucap sepatah katapun.

" Kau mau aku memulainya dari mana? Tapi sebelumnya ayo kita cari tempat dulu. Setidaknya bukan disini, aku tidak mau menjadi tontonan gratis orang-orang yang lewat sini. " Kakashi mencoba menarik Rin, tapi tubuh mungil itu tetap mematung. " Rin..! " Desak Kakashi. Sebenarnya dengan melihat kembali masa lalunya itu dia merasa bersalah dan juga sakit. Kakashi mencoba menyembunyikan perasaan itu dalam 'topeng' sok tegarnya. Entah berapa lama 'topeng' sok tegar itu akan terus dipakai oleh Kakashi.

" Maaf! Apa aku mengenalmu? " Jawaban yang singkat, tapi luar biasa menusuk keluar begitu saja dari mulut Rin.

' DEGGH '

Hati Kakashi semakin bergetar, namun disisi lain dia tidak berdaya. Yang dia tahu sekarang hanyalah harus menyelesaikan tujuannya. Dia sudah lelah di cap pecundang yang terus lari dari kenyataan hidup, karena pada dasarnya lari dari masalah sangat berbeda dengan penyelesaian. Lari tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

" Aku memang tidak mengenalmu sekarang. Tapi aku sangat mengenalmu di masa laluku! "

" Jangan mengarang cerita. " Rin berdalih.

" Kalau kita tidak pernah mengenal kenapa kau terlihat sangat terpukul saat melihatku? "

" Heeh..! " Rin membuang mukanya. " Lepaskan tanganku atau aku akan teriak! "

" Teriak saja kalau kau mau! Kau sendiri nanti yang akan malu. Orang-orang itu tidak berhak ikut campur atas urusan hati. Kau tau aku bukan? " Tantang Kakashi.

" Kusho! " Rin mengumpat. Dia mencoba melepaskan tangannya dari Kakashi, tapi usahanya sia-sia.

" Jadi? Apa kita bisa memulai pembicaraan yang menyenangkan? "

" Mendokusai, tapi setelah ini berjanjilah kau dan temanmu Obito itu harus enyah dari hidupku! " Rin berucap lirih.

" Kau tidak boleh menyalahkan Obito. Dia tidak perlu menanggung beban atas semua perbuatanku. "

" Who cares? "

" I care you and him! "

" I can't trust you. "

" Hei Rin, taukah kau jika hati dan pikiran itu ibarat parasut? Kau tidak akan bisa menggunakannya ketika kau tak mau membiarkannya terbuka! "

" Taukah kau jika hati wanita itu seperti kembang api? Setelah terbakar dan meletus-letus semua-nya akan hilang begitu saja tanpa bekas. "

" Bukan analogi yang bagus tentang kembang api Rin. Kembang api dan parasut dua-duanya sama-sama mengembang di udara, tetapi keduanya juga sangat berbeda. Jadi Rin, Onegai! Izinkan aku menjelaskan semua-nya. Tidak hanya kau saja yang sakit kok." Kakashi mencoba tersenyum, namun kali ini justru mata sayu itu berkaca-kaca. Rin melirik kearah Kakashi, hatinya sedikit meluluh walaupun sebenarnya terjadi konflik di dalam batinnya.

" Aku sedang menunggu temanku disini, tidak sopan meninggalkan orang lain tanpa pesan atau keterangan bukan? "

" Tenang saja, aku bisa minta tolong Gai atau membayar orang untuk memberitahunya. "

" Kakashi! Kau benar-benar merusak suasana bahagia yang harusnya aku nikmati malam ini! "

" Aku bisa menggantinya dengan hal yang lebih membahagiakan jika kau mau! Tapi setidaknya biarkan aku menyelesaikan semua masalah yang telah aku buat. "

" Tunggu sampai temanku kembali! "

" Ya, baiklah jika itu maumu. " Kakashi melepaskan tangan Rin kemudian dia menepi dan meraih ponselnya, berusaha memberikan kode pada Obito yang selama ini menyamar menjadi Tobi agar dia segera kembali ke tempat Rin.

.

.

'Obito, rencana kita berubah! Cepatlah kembali dan tolong beri kami ruang.'

Sebuah pesan singkat masuk di ponsel Obito, namun karena suasana terlampau ramai, membuat suara dan getaran ponsel itu teredam oleh desakan-desakan serta kegaduhan pengunjung yang lainnya.

" Kenapa dalam keramaian begini aku merasa kosong dan sepi? " Gumam Obito sembari terus berjalan berdesakan di dalam kerumunan orang-orang itu.

.

OBITO POV

Manusia itu unik, manusia adalah makluk yang memiliki persepsinya masing-masing, rentan, salah paham sedikit bisa mengakibatkan sebuah masalah besar tercipta dan aku sedang dalam masalah sekarang. Aku hanya berharap kali ini nasib baik berpihak padaku dan Kakashi. Nona Nohara itu, dia wanita yang hatinya keras dan bukan tipe yang mudah mencair, mungkin dia berubah seperti itu karena dia kehilangan cinta yang seharusnya dia dapatkan, cinta yang seharusnya membuatnya bahagia malah membuat sayatan-sayatan dalam di hatinya dan aku tau itu sangat menyakitkan. Sepertinya wanita memang berbeda dari laki-laki, mereka lebih suka memakai hati daripada logikanya. Sementara sekarang hati yang seharusnya sembuh malah terluka untuk kesekian kalinya. Bagaimana dia akan memakai hatinya? Kami-sama, semoga Kakashi bisa membuatnya lebih terbuka. Eh?! Kenapa aku tiba-tiba menjadi sebegitu peduli pada gadis naif itu? Obito.. Obito.. Obito! Sadarlah! Kau ini kenapa?

.

Aku terus berjalan menyusuri kerumunan itu, entah sekarang pikiranku ada dimana, pandanganku aku rasakan menjadi tidak fokus. Sejenak aku mencari sebuah tempat yang sedikit sepi, aku merasakan mulai kekurangan pasokan oksigen, aku perlu membuka topeng orange spiralku ini. Kuedarkan pandanganku hingga indera penglihatanku menangkap sebuah pohon yang cukup rindang. Aku memutuskan untuk menyandarkan tubuhku sejenak disana dan mengumpulkan hawa segar agar paru-paruku tidak tersiksa. Sesampainya ditempat itu aku mencoba duduk dan menyandarkan tubuhku. Kubuka topengku perlahan. Sebelum tiba-tiba aku memikirkan apa yang sedang dilakukan Kakashi dan Rin disana, kenapa aku menjadi ingin tahu begini? Dan kenapa aku mulai peduli pada Rin?

.

Aku mengambil nafas dan menghembuskannya dalam-dalam. Sekarang aku merasa tubuhku lebih rileks, tapi suatu perasaan tidak enak tiba-tiba melandaku. Aku merogoh ponselku yang ada dibalik jubah hitam motif awan merah yang benar-benar membuatku gerah ini.

'Obito, rencana kita berubah! Cepatlah kembali dan tolong beri kami ruang.'

Betapa terkejutnya dikala onix-ku menangkap sebuah pesan singkat dari Kakashi.

" Astaga! Sudah 30 menit lalu."

" Eh..! Minuman? Aku belum membelinya. Aku harus cepat-cepat. " Segera aku berdiri dan mencari penjual minuman terdekat.

NORMAL POV

.

.

" Lama sekali Tobi! Sepertinya aku perlu menyusulnya! "

" Mau kau susul kemana? Sudah tunggu saja! " Cegah Kakashi, walau sebenarnya dia juga sudah bosan menunggu orang yang sama dengan Rin.

" Sebenarnya kau mau mengajakku kemana Kakashi? " Tanya Rin.

" Sebuah tempat yang cocok dan juga tidak akan ada orang yang akan menjadikan kita tontonan gratis, mengira kita sedang main drama percintaan lebay! "

" Kau sama sekali tidak berubah. Tetap saja sama ya!" Ucap Rin lirih, sebuah senyum palsu yang susah payah dia buat membingkai di wajah manisnya. Kakashi juga melihat Rin dengan tatapan campur aduk,namun dia sudah punya Hanare sekarang, sehingga dia mencoba menekan kuat-kuat kemungkinan cinta itu akan bersemi kembali.

- To be continued -