Disclaimer by ©Masashi Kishimoto.

Warn : Typo, Plot, etc.

Don't Like .. Dont Read.

.

.

PAIN UNDER THE SUNSET

" Kau tau kenapa 'rasa sakit' itu dinamakan patah hati? Bukan patah organ dalam yang lainnya? Hati atau liver adalah organ kelenjar paling besar dalam tubuh. Punya kemampuan untuk beregenerasi, kalau di ambil sebagian bisa tumbuh lagi. Jadi, apabila patah hati itu punya makna bisa sembuh lagi dan siap memberikan hati atau cintanya lagi kepada orang lain. Sehingga perasaan sedih yang berlebihan tidak akan terjadi sebab hati akan selalu siap dipotong lagi untuk diberikan pada orang lain lagi. "

Chapter 08

~ Kepingan Hati yang Masih Tertinggal

Getaran demi getaran aneh terasa kembali pada hati kecil Rin. Getaran itu membuka luka-luka hatinya yang perlahan mulai mengering. Sebenci-bencinya dia pada Kakashi ternyata masih ada sekeping pecahan hati yang tertinggal pada pria bermata sayu itu. Dia mencoba memandang mantan kekasihnya yang sekarang sudah menyandang status suami orang - suami Nona Hanare - putri seorang pengusaha kaya yang secara ekonomi sejajar dengan Kakashi. Bukan Rin, yang hanya seorang gadis sederhana dari keluarga kalangan menengah. Apa ini adil untuk seorang Rin? Gadis rapuh yang tidak bisa melawan takdirnya. Kenapa dia harus dilahirkan di kalangan menengah? Bukan kalangan ekonomi atas? Apa memang cinta itu bisa dengan mudahnya di hapus dengan status sosial? Kenapa dunia terkadang begitu kejam untuk mereka yang tidak memiliki posisi kuat dalam kehidupan?

.

Angin malam berhembus dingin, seolah mengerti semua kepedihan yang dirasakan oleh Rin. Hingga dirasakannya sesuatu yang hangat mulai meleleh kembali dari manik coklatnya ketika ingatan-ingatan yang terpatri seolah dimainkan kembali berulang-ulang seperti kaset rusak. Kakashi yang sedari tadi pura-pura sibuk dengan ponselnya mulai menaruh perhatiannya, dia menepuk pundak Rin lirih.

" Aku tau semua ini terasa amat sulit. Aku tau kau hanya berpura-pura tegar, tapi nyatanya kau gagal kan? "

" Kenapa kau harus datang Kakashi? Kau hanya membuka luka lama dari sekeping hati yang masih tertinggal. "

" Aku hanya ingin menjelaskan semuanya kepadamu kok! "

" ... " Rin terdiam.

Manik sayu Kakashi tak bisa melepaskan pandangannya dari Rin. Hati nuraninya serasa ditusuki ribuan jarum. Didalam benaknya hanya tertanam pertanyaan 'Mengapa?' .

' Mengapa takdir mempertemukannya dengan Rin?'

' Mengapa takdir tidak mempersatukan cintanya dengan Rin?'

' Mengapa Rin harus sakit karena dia?'

' Mengapa dia tidak memiliki status sosial yang sama dengan Rin?'

Pertanyaan lain tentang 'mengapa?' Selalu memenuhi benak Kakashi dan menyiksanya dalam rasa bersalah dan persepsi jika hidup terkadang memang tidaklah adil.

.

.

Sesosok tubuh yang langkahnya terseok dalam kerumunan manusia yang menyemut terlihat sedang menuju arah Rin dan Kakashi. Dua gelas minuman dia pegang dengan sangat berhati-hati. Langkahnya yang semakin dekat pada dua mantan pasangan itu membuat kecanggungan mendatanginya secara tiba-tiba. Raut muka tegangnya tersembunyi di balik topengnya yang berwarna cerah. Beruntung topeng itu bisa menyembunyikan segala ekspresinya tanpa harus susah payah dia memaksakan ekspresi-ekspresi konyol yang tak sesuai dengan suasana hatinya.

" Ehhem.." Dia berdehem.

" T-tobi. " Rin seolah tidak siap dengan kehadiran Tobi, sampai tidak sempat menghapus sisa-sisa air matanya.

" Kau menangis lagi ya? "

" Tidak, mataku kemasukan debu. " Jawab Rin sekenanya.

" Pasti karena laki-laki ini ya? Siapa dia? Kenapa saat dia berada disini kau malah menangis? "

" Sudahlah! Bukan urusanmu! "

" Memang bukan urusanku. Ini yang kau minta! " Tobi menyodorkan minuman pesanan Rin. " Sepertinya kau butuh berdua saja dengan pria itu ya! "

" Kamu mau aku jujur? Maaf aku merusak acaramu. "

" Bukan hal yang besar kak! Lagipula hari sudah mulai larut. Aku harus pulang! "

" Benar ya tidak apa-apa? "

" Trust me! " Jawab Tobi mantab.

" Yokatta. "

" Baiklah, aku akan pergi dulu ya Nee? Jaga dirimu baik-baik. " Tobi perlahan menjauhkan langkahnya dari Rin, dengan langkah malas-malas dan durasi yang lama pria bertopeng itu menghilang diantara kerumunan orang. Lautan manusia.

" Pria itu seperti peduli sekali padamu ya? " Kakashi yang sedari tadi diam tiba-tiba berkomentar.

" Apa sekarang hal begini masih pantas menjadi urusanmu? "Rin mematah komentar Kakashi dengan kata-kata sindiran. Sangat Ironi.

" Aku sedang tidak minat untuk berdebat. "

" Lalu? "

" Ikutlah denganku! "

" Kemana? "

" Suatu tempat! Aku ingin menculikmu sebentar saja. Sekali lagi! " Jawab Kakashi dengan tatapan mengawang.

" Kau.. Tidak berubah ya? Tapi sayangnya kau sudah jadi milik orang sekarang. " Gumam Rin Lirih.

" Kau bilang apa tadi? " Kakashi mencoba memastikan apa yang di dengarnya samar-samar, sebab lingkungannya begitu ramai saat itu.

" Ehh?! Tidak. Aku tidak bilang apa-apa. "

" Kau pasti sedang jaga image ya? "

" Ti-tidak! " Rin tergagap. " Kita mau kemana? Sebaiknya cepatlah! Aku tidak mau kemalaman. " Rin mengalihkan perhatian Kakashi.

" Ya.. Ya..! Kita akan segera berangkat! Nona ceriwis! "

" Nani? "

" Daijoubo! Ikuti aku! "

Rin tanpa bertanya-tanya banyak hal lagi langsung mengekor pada Kakashi. Berjalan dan berjalan, menyibak kerumunan orang menuju ke tempat yang lebih menyediakan banyak oksigen. Menghirup udara segar sejenak, mereka kemudian menuju tempat dimana Mobil kakashi diparkir. Kakashi memasuki mobilnya, begitu pula dengan Rin.

.

Sepasang bola mata onix itu itu memperhatikan Rin dan Kakashi dari jarak yang lumayan jauh. Dalam hatinya dia tersenyum puas, dia benar-benar menaruh harap pada Kakashi agar segera mampu menyelesaikan masalah rumit yang cukup membuat sakit kepala dan lelah hati.

" Kakashi! Untuk sisanya aku serahkan kepadamu ya! " Dia kemudian menaikkan sudut bibirnya.

" Oi Obito! Kau disini rupanya? " Sebuah seruan dari kejauhan dengan nafas setengah memburu menyapa Obito.

" Guy? "

" Yeph! " Kata Guy seraya mendekat.

" Menurutmu apa yang akan mereka lakukan? "

" Mana aku tau? Dan kenapa kau tiba-tiba melontarkan pertanyaan aneh macam itu? "

" Entahlah. Aku juga tidak tau. Yang aku tau aku sekarang sangat lelah. "

" Sama! Bahkan semangat mudaku hampir luntur dibuatnya! Benar-benar rumit ya? "

" Iya! "

" Yayayay..! Bagaimana kalau kita pulang Obito? "

" Ide bagus Guy. "

" Tapi sebelumnya bagaimana kalau kita mampir dulu ke kedai Kari? Aku ingin makan Kari ekstra pedas. "

" Ide buruk Guy! "

" Tapi aku lapar! "

" Ya sudah, permintaanmu aku kabulkan! "

" Sou ka? Arigatou! " Guy yang merasa senang seolah meluap-luap. " Kari ekstra pedas. Aku akan datang! " Serunya tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan kikuk.

.

.

" Kakashi! "

" Nanda yo? "

" Apa kau masih mencintaiku? "

' Apa kau masih mencintaiku? ' Pertanyaan yang sulit di jawab ini secara tiba-tiba terlontar dari bibir Rin dilengkapi dengan sebuah ekspresi wajah datar dan sendu.

'DEGH'

Pertanyaan sederhana yang hanya butuh jawaban 'iya' atau 'tidak' secara tiba-tiba mengguncang mental Kakashi dan menghujam dalam ke lubuk hatinya. Membuat nafasnya perlahan menjadi sesak, apa Kakashi masih mencintai Rin?

. To be continued .

A/N : No more coment. Silahkan reviewnya. :D