黒子のバスケ © Fujimaki Tadatoshi

being with you © Ai Natha [Alenta93]

inspirated by

Sailor Fuku ni Onegai! – Meca Tanaka

Watashi no Okusuri – Takamiya Satoru

.

Length : 6106 words [oneshot]

Pairing[s] : AkashixKuroko | Ogiwara/Kuroko

Genre[s] : AU | Fantasy | Friendship

Warnings : shonen ai, possibly OOC

.

.

being with you

.

.

Akashi Seijuurou berlari cepat sebelum menarik seseorang dan terguling di pinggir jalan. Suara klakson mobil itu masih menggema disusul dengan pejalan kaki yang menoleh ke arah mereka berdua yang tersungkur. Akashi menghiraukannya, ia menatap tajam bocah dalam pelukannya. Sepasang manik crimsonnya menyusuri tubuh mungil itu, berharap tak ada luka yang berarti. "Sugoi itai tokoro aru? (Apa ada yang sakit?)" Ada kesan khawatir di balik suara baritonnya yang tegas.

Bocah bersurai blue aqua itu mengerjap beberapa kali sebelum menggeleng pelan. "Da-daijoubu desu. (A-aku baik-baik saja.)" Ujarnya lirih.

Akashi menarik dirinya menjadi setengah duduk dengan menumpu berat tubuhnya pada sebelah sikunya. Mendapati bocah di hadapannya ini masih shock―hanya duduk di pangkuannya dengan manik saffir yang menerawang jauh―Akashi kemudian menepuk kepalanya pelan sebelum mengacak surai blue aquanya. "Apa yang kau pikirkan? Kau harus hati-hati saat menyeberang sekalipun lampu pejalan kaki sudah berubah hijau." Ia menasihati. "Kau bisa berdiri?" Akashi yang sudah menarik dirinya berdiri mengulurkan tangannya.

Menyambut uluran Akashi, bocah itu menarik dirinya berdiri namun sebelah kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya. Ia mendesis.

"Lututmu terluka." Ujar Akashi begitu mendapati sebelah lutut bocah mungil itu mengeluarkan darah. Tanpa pikir panjang, Akashi lalu menggendong bocah itu dan membawanya pulang.

Sudah satu minggu Akashi memperhatikan Kuroko Tetsuya―dari kejauhan. Seorang bocah berusia tiga belas tahun, bertubuh mungil, berkulit putih pucat, bersurai biru muda sewarna langit cerah di musim panas, berwajah datar dan berekspresi dari manik saffir cerahnya. Kuroko Tetsuya, sesosok manusia yang sudah tertulis dalam garis takdir untuk dilindunginya. Selama satu minggu ini, Akashi bertugas untuk mengamati dan mempelajari kehidupan orang yang akan dilindunginya―atau biasa disebut 'target'nya―sebelum benar-benar mengemban tugas untuk menemani dan melindungi 'target' tersebut kurang dari satu tahun lagi.

.

*55*

.

RAKUZAN

merupakan sebuah perkumpulan berisikan para guardians yang terlahir ke dunia dan mengemban sebuah tugas. Tugas yang sudah ada sejak di kehidupan sebelum-sebelumnya. Setiap guardian yang lahir, ia telah mendapatkan 'target' yang telah ditakdirkan untuk dilindunginya. Guardian akan turun ke bumi, sekitar satu tahun menjelang sang 'target' ditinggalkan atau kehilangan seseorang atau sosok yang berarti baginya. Saat itulah, guardian menjalankan tugasnya.

Sebelum saat itu tiba, dalam rentang waktu satu tahun itu, para guardians akan diberi kesempatan selama tiga bulan untuk memperhatikan dan mempelajari kehidupan 'target'nya. Selama tiga bulan itu, para guardians harus mengamati dan memahami 'target'nya tanpa berkontak langsung dengan sang 'target'. Mencari tahu apa saja yang dibutuhkannya, apa hal yang ditakutinya, dan sebagainya karena delapan bulan setelahnya―satu bulan menjelang sang 'target' benar-benar ditinggalkan orang atau sosok terpenting dalam hidupnya―guardian akan mulai menjalankan tugasnya untuk menemani dan melindungi sang 'target'. Selalu berada disisi 'target'nya, hingga akhir dari kehidupan sang 'target'.

Guardian lahir dan hidup untuk melindungi 'target' yang berada dalam garis takdir untuk dilindunginya. Dan kebahagiaan sang 'target' adalah prioritas utama para guardians.

.

*55*

.

Manik crimson Akashi menatap lurus lutut kiri Kuroko Tetsuya sebelum ia mengangkat tangan kanannya. Akashi hendak mengayunkan tangannya membuat sebuah tanda bintang tak kasat mata saat ia mengatupkan kembali bibirnya. Akashi menggenggam tangannya, mengurungkan niatnya."Tunggu disini, aku akan mengambilkan kotak P3K." Titah Akashi kemudian usai mendudukkan Kuroko Tetsuya di atas tatami (Tikar jerami/tikar Jepang) di ruang duduk. Akashi beralih ke koridor dekat tangga sebelum mengambil kotak putih berisikan obat-obatan itu.

Akashi mengambil kapas kemudian menuangkan sedikit alkohol sebelum menyentuhkannya pada luka Kuroko yang membuat bocah itu meringis. Tanpa mengatakan apapun, Akashi kemudian menuangkan obat merah pada luka Kuroko. Bocah itu menggigit bibirnya kuat untuk menahan sakit.

"Itai no heiki? (Apa lukanya tidak sakit?)" Tanya Akashi sementara tangannya melilit perban.

Kuroko menggeleng polos menjawab pertanyaan Akashi. Tentu saja sakit. Mungkin batinnya sudah berteriak, "Docchi ga heiki desuka? (Mananya yang tidak sakit?)" namun nyatanya ia bungkam. Manik saffirnya tak lepas memandang gerak gerik pemuda asing di depannya ini. Sesekali Kuroko memandang sekelilingnya. "Koko wa―? (Ini―? *maksudnya: ini, rumah―?)"

"Socchi no ie, darou. (Tentu saja rumahmu kan?)" Akashi memotong kalimat Kuroko.

Usai dengan pekerjaannya, Akashi beralih mengembalikan kotak putih itu sebelum menuju dapur dan mencuci tangannya. Ia kemudian kembali ke ruang duduk, masih dengan tatapan Kuroko yang memandangnya bingung.

"Kimi tte― dare? (Kau― siapa?)" Kuroko membuka mulutnya melontarkan isi kepalanya.

Akashi menatap manik saffir itu lurus. "Seijuurou. Akashi Seijuurou."

Kuroko menelengkan kepalanya. Ia tidak mengenal pemuda yang terlihat lebih tua darinya ini―jika dilihat dari postur tubuhnya yang lebih besar dari Kuroko yang masih berusia tiga belas tahun. Seingatnya, ia tak memiliki teman bernama―Akashi Seijuurou?

Akashi menaikkan sebelah alisnya merespon tingkah Kuroko, seolah tak menyadari bocah itu tengah kebingungan. Tentu saja Akashi menyadari kebingungan Kuroko dibalik wajah datar bocah blue aqua itu, hanya saja Akashi tak mengatakannya, ia ingin membuat Kuroko mengatasi keingin-tahuannya dengan usahanya sendiri.

"Aku tak memiliki teman bernama Akashi Seijuurou." Ujar Kuroko kemudian.

"Kau akan memilikinya."

Jawaban singkat Akashi membuat Kuroko mengerutkan dahi. "Apa kau mengenalku?" Tanyanya lagi, perlahan mengatasi rasa ingin tahunya yang semakin besar mengenai pemuda bersurai merah di depannya ini.

Akashi mendengus sebelum menjawab, "Tentu saja."

"Tapi aku tidak mengenalmu."

"Tidak masalah untukku."

Kuroko memutar bola mata saffirnya. "Lalu? Apa kau akan menjadi temanku?"

"Kalau kau menginginkannya." Senyum Akashi.

"Boleh aku memanggilmu―'Akashi-kun'?" Suara Kuroko nyaris hilang saat ia mengucapkan kata terakhir disusul dengan tubuhnya yang menghangat.

"Panggil aku sesukamu, Tetsuya." Akashi mengulurkan tangan mengacak surai blue aqua itu.

Kuroko mengatupkan bibirnya rapat, rasa hangat itu kini menyambangi kedua pipinya, membuat pipi pucat Kuroko sedikit merona. "Darimana Akashi-kun tahu namaku?"

"Aku mengetahui semuanya."

"Semuanya?" Manik saffir itu melebar, masih tak lepas menatap Akashi. Mendapati Akashi mengangguk, Kuroko kembali bertanya. "Apa kau pernah datang kemari saat aku tidak di rumah?"

Akashi menggeleng.

"Tapi kau tahu letak kotak P3K di rumahku." Kuroko memandang Akashi polos.

"Bukankah aku sudah mengatakannya, Tetsuya? Aku mengetahui semuanya. Aku juga mengetahui masa depanmu."

"Masa―depanku?" Kuroko semakin mengerutkan dahinya.

"Ya." Akashi menganggukkan kepalanya.

"Jitsu wa, dare datta kke? (Sebenarnya, kau ini siapa?)" Tanya Kuroko yang hanya dijawab dengan senyuman Akashi.

Kuroko tak menghindari saat Akashi mengusap pipinya, menghantarkan rasa dingin hingga bulu kuduknya meremang. Kuroko yang tak tahu tengah berhadapan dengan siapa pun mengusap-usap lengannya. "Jemarimu―dingin sekali, Akashi-kun~"

.

*55*

.

Guardians

terlahir dengan fisik sama seperti manusia yang berusia sekitar tujuh belas tahun. Yang membedakan adalah, mereka tidak memiliki detak konstan di dada mereka. Tidak mengatur diafragma dengan tempo yang teratur. Memang, mereka menarik dan menghembuskan nafas, namun udara yang dihirup hanya masuk begitu saja tanpa memproses apapun. Mereka juga memiliki cairan merah pekat yang mengalir dalam tubuhnya―sama seperti manusia―namun sel kehidupan dalam tubuh mereka mati. Sama halnya dengan udara yang mereka hirup, darah dalam tubuh para guardians juga hanya mengalir begitu saja. Katakanlah mereka memiliki jantung, paru-paru, lambung dan segala alat penting untuk kehidupan seorang manusia, tapi milik mereka―semuanya mati.

Tak ada kehidupan dalam tubuh guardians. Yang hidup dalam tubuh mereka hanyalah otak yang berpikir dan hati yang merasakan. Hati yang berisi perasaan dan otak yang memproses tindakan yang diambil atas perasaan itu. Mereka tidak merasakan sakit sekalipun cairan merah itu keluar dari tubuh mereka. Mereka bahkan dapat menutup luka itu dengan jimat yang telah mereka pelajari.

Kemudian selama tiga bulan mengemban tugas awal, yaitu mengamati dan memahami kehidupan sang 'target', ada beberapa aturan yang telah ditentukan. Para guardians tidak diijinkan untuk membuat suatu kontak apapun dengan sang 'target'. Para guardians juga tidak diijinkan untuk mengatakan mengenai siapa dirinya sebelum saatnya tiba. Meeka telah bersumpah, dan jika guardian itu melanggar―

.

*55*

.

Dua minggu telah berlalu dan Kuroko Tetsuya telah berteman dengan Akashi Seijuurou―sosok yang ia anggap sama sepertinya―manusia. Selama dua minggu ini, Kuroko Sayaka―nenek Kuroko mengijinkan Akashi untuk tinggal di rumah mereka dan selama itu pula Akashi selalu menemani Kuroko, juga membantunya. Akashi belajar memasak, mencuci dan menjemur pakaian, mencuci piring, membersihkan diri―mandi. Ia juga belajar merasakan panas-tidaknya suatu benda, seperti saat menyiapkan air mandi di ofuro (Bathub), ia harus dapat memperkirakan dalam suhu berapa, tubuh manusia mampu menerima hangatnya air. Awalnya Akashi tak merasakan apapun. Permukaan kulitnya mati rasa, namun setelah Kuroko membiasakannya, kini Akashi mampu membedakannya. Perlahan, ia dapat merasakannya―bukan, ia dapat memperkirakannya.

Ia belajar segala hal mulai dari awal. Akashi ingat, nenek Kuroko pernah mengatakan bahwa segala sesuatu itu pastilah membutuhkan proses. Akashi pun perlahan mulai jarang memakai jimat yang sudah dipelajarinya. Jimat yang membuat segelanya menjadi mudah. Ia tak pernah menggunakan jimat itu lagi setelah ia hampir memperlihatkannya pada Kuroko dua minggu lalu.

Sembari berbaring di samping Kuroko yang sudah terlelap, Akashi mengangkat tangannya membuat tanda bintang tak kasat mata itu dalam sekejap. Jimat Saturnus nomor 4, "Untuk memerangkap musuh, membuatnya tidak dapat bergerak." Gumamnya lirih, sangat lirih. Ia tak ingin mengusik tidur Kuroko. Akashi kemudian membuat tanda bintang yang lain. Jimat Mars nomor 4. "Dapat menyembuhkan berbagai luka." Akashi terbiasa menghafalkan bentuk jimat tersebut dalam kepalanya. Ia menghafalkannya berkali-kali guna menghabiskan malamnya. Ia tak butuh tidur. Jimat Venus nomor 4, "Dapat membuat sebuah mimpi dan halusinasi." Gumamnya dan tangannya telah membuat tanda bintang itu lagi. Setelah usahanya dulu menghafalkan bentuk jimat itu dalam kepalanya, kini Akashi dapat memunculkan simbol bintang jimatnya―yang rumit―secepat ia memikirkan bentuk dan menyebutkan huruf 'A'.

Selama dua minggu tak menggunakannya, Akashi berpikir ia telah lupa dan tidak bisa secepat dulu memakai jimatnya. Namun ia salah. Kepalanya mampu mengingat semuanya dan memproses cepat pikirannya.

Akashi termenung, ia menyadari satu hal. Ia mempelajari kehidupan manusia secara langsung. Sesuatu yang merupakan sebuah dosa. Akashi ingat, sebagai guardian yang akan melindungi Kuroko kurang dari satu tahun lagi, ia tak diijinkan berkontak langsung selama tiga bulan masa pengamatannya. Itu mutlak dan sudah merupakan aturan yang telah ditetapkan Raja. Namun Akashi melanggarnya lantaran tubuhnya bergerak untuk melindungi pemuda blue aqua itu dari tabrakan yang hampir terjadi dua minggu lalu.

Sebenarnya Akashi tak berhak untuk menolongnya. Ada beberapa cerita yang pernah didengarnya di RAKUZAN, bahwa beberapa dari guardians seniornya ikut 'pergi' empat puluh sembilan hari setelah 'target'nya meninggal. Baik meninggal di depan matanya, maupun jauh sebelum ia dapat menikmati kehidupan di dunia. Singkatnya, kehidupan para guardians bergantung pada seberapa lama kehidupan 'target'nya. Dan semenjak pertama kali Akashi turun ke bumi, ia seolah terikat dengan pemuda mungil itu dan tak ingin apapun terjadi padanya. Ia ingin melindunginya.

.

*55*

.

"Bukankah aku sudah mengatakannya dan kau sudah bersumpah? Kau bilang ingin melindunginya, tapi ini belum saatnya. Ada kalanya kau dapat menunjukkan dirimu di depan 'target'mu. Kau hanya perlu menunggu sedikit lebih lama.

"Kau hanyalah seorang pendosa yang bahkan tak layak menjadi seorang guardian. Kau hanya terlalu bernafsu untuk bersama dengan 'target'mu dan tak bisa menahannya. Guardian bukanlah hanya pelindung, tapi juga sosok yang menemani sang 'target' tanpa ikut campur dalam kehidupannya. Dan yang kau lakukan saat ini adalah sebuah dosa. Dosa yang tak termaafkan."

.

*55*

.

Keesokan harinya, Akashi tengah menarik selimut menutupi setengah tubuhnya dan juga Kuroko yang terbaring di sebelahnya.

"Kau tak mengantuk, Akashi-kun?" Kuroko mengarahkan manik bulatnya mendongak menatap Akashi yang bersandar pada kepala ranjang.

Mengarahkan manik crimsonnya menatap bocah mungil itu, Akashi kemudian menutup buku yang tengah dibacanya. Meletakknya di atas nakas di samping ranjang, ia kemudian beringsut ke balik selimut dan berbaring, mengarahkan tubuhnya berhadapan dengan Kuroko. "Kau sudah mengantuk?" Akashi mengusap helaian blue aqua itu dengan sebelah tangannya yang tak dijadikan bantalan kepala.

DEG!

Akashi menyibak selimutnya dan segera bangkit dari posisinya. Manik crimsonnya sempat menangkap sekelebat sosok bertudung hitam dari celah korden yang tertiup angin. Seketika perasaan tidak tenang mengambil alih.

Akashi yang bangkit dari tidurnya secara tiba-tiba itu menarik sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Kuroko. "Ada apa, Akashi-kun?"

Beranjak dari ranjang, Akashi beralih pada jendela yang masih terbuka itu. Usai menengok dan memandang awas pada sekitar di luar sana, Akashi kemudian menutupnya. Tanpa menghilangkan kerutan samar di dahinya, Akashi berbalik dan kembali berbaring. "Bukan apa-apa, Tetsuya. Ne, kau sudah mengantuk?" Akashi mengulang pertanyaannya.

Kuroko menggeleng sebelum mendekatkan tubuhnya pada Akashi sementara Akashi masih mengelus rambut Kuroko. Hening beberapa saat hingga Kuroko membuka mulutnya. "Ne, Akashi-kun. Aku tak mendengar detak jantungmu." Kuroko meremat kaus yang Akashi kenakan tepat di dadanya.

Akashi mengernyitkan dahinya, menyembunyikan keterkejutannya. Ia kemudian membuat tanda bintang tak kasat mata itu di balik punggung Kuroko. "Jimat Venus nomor 4." Ucapnya dalam hati. Ia kemudian mengarahkan tangannya menyentuh pipi Kuroko, meminta bocah itu untuk menatapnya. "Coba kau dengar lagi." Senyum Akashi.

Kuroko kembali beringsut, semakin mendekatkan tubuh mungilnya pada Akashi. Ia kemudian mengarahkan tangan mungilnya untuk ikut merasakan, seolah tidak percaya jika ia tadi benar-benar tak mendengar apapun.

"Bagaimana? Apa kau merasakannya?" Tanya Akashi yang dijawab dengan sebuah anggukan. Akashi beruntung, Kuroko masih kecil dan tak memikirkan ia akan menggunakan jimatnya untuk membuat halusinasi. "Sekarang tidurlah, Tetsuya." Akashi mengecup kening Kuroko usai bocah itu mengangguk dan mengucapkan, "Oyasumi, Akashi-kun."

.

*55*

.

RAKUZAN memiliki seorang Raja.

Raja yang mengatur segala sesuatunya. Raja yang menentukan garis takdir para guardiansnya. Raja yang memimpin dan mendidik para guardiansnya untuk menjadi guardian yang dapat diandalkan serta mampu mengemban dan menyelesaikan tugasnya.

Kehidupan para guardians bergantung pada seberapa lama kehidupan 'target'nya.

Para guardians lahir saat janin mulai terbentuk. Semenjak saat itu, Raja telah menggariskan takdir seorang guardian untuk melindungi sesosok manusia yang belum lahir. Raja mengajarkannya berbagai hal, mendidiknya dan membuatnya menjadi guardian yang layak. Bila janin itu tak terselamatkan, maka sosok guardian yang telah ditakdirkan untuk melindunginya juga akan melebur dan lenyap bersama jiwa sosok calon manusia itu. Guardians akan lenyap dan menghilang saat kehidupan sang 'target' berakhir, bersama dengan jiwa yang 'pergi'.

.

*55*

.

"Akashi."

Akashi bangun dari posisi berbaringnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali hingga manik crimsonnya menangkap sosok tinggi di hadapannya dengan jelas. "Shigehiro? Sedang apa kau disini?" Akashi berbisik seraya memandang sosok di depannya dan Kuroko yang terlelap disampingnya bergantian.

Ogiwara memandang Kuroko sendu, ia kemudian mengarahkan manik orange gelapnya menatap lurus manik crimson Akashi. "Ou-sama (Raja) memintaku untuk menjemputmu."

Mengerutkan dahi, Akashi bertanya, "Aku masih memiliki waktu tiga hari lagi. Ada apa dengan Ou-sama?"

Ogiwara berdecak. "Kau keliru dengan pertanyaanmu, Akashi. Bukan ada apa dengan Ou-sama, tapi ada apa denganmu?!" Ogiwara meninggikan volume suaranya, membuat Akashi menarik jari telunjuknya ke depan mulut dan berdesis. Mengerti, Ogiwara berbisik sebelum mengajak Akashi membicarakannya di luar. "Kau sadar apa yang sudah kau lakukan?"

.

Akashi menengadahkan kepalanya, membiarkan gumpalan salju yang perlahan turun jatuh menyapa pipinya. Angin malam musim dingin menerpa keduanya di balkon kediaman Kuroko, namun Akashi dan Ogiwara tak begidik. Mereka bahkan tak merasakan apapun. "Aku mengerti." Akashi menjawab pertanyaan Ogiwara sebelumnya.

"Kau tahu apa kesalahanmu?" Ogiwara memaku manik jingganya pada pemuda mungil bersurai merah yang masih mendongak di sampingnya.

Akashi memalingkan pandangannya. Manik crimsonnya beradu dengan manik orange kecoklatan yang memandangnya tajam. "Aku salah berada disisi Tetsuya saat ini."

Ogiwara kembali mendecakkan lidahnya, "Lalu kenapa kau tetap melakukannya?!" Ia tak habis pikir dengan Akashi yang dengan mudahnya melanggar sumpahnya. "Kau tahu sanksi atas perbuatan―"

"Aku tahu, Shigehiro." Akashi memotong kalimat Ogiwara. "Ou-sama tak akan membiarkanku menjadi guardian Tetsuya." Akashi kembali memandang jauh langit malam yang kelam, khas langit musim dingin.

"Lalu?! Apa kau memang tak berniat menjadi guardiannya, Akashi?" Tanya Ogiwara lelah. Ia benar-benar tak mengerti akan jalan pikiran Akashi.

Dan jawaban Akashi Seijuuro membuat Ogiwara Shigehiro menolehkan kepalanya cepat dan manik jingganya terbelalak sempurna.

"Jika aku boleh mengatakan satu permintaan pada Ou-sama, aku ingin dilahirkan sebagai manusia biasa di kehidupan selanjutnya."

.

*55*

.

Saat kematian atau akhir dari kehidupan sang 'target' memisahkannya dengan sang guardian, mereka dapat mengucapkan permohonan pada Kami-sama agar mereka dipertemukan kembali di kehidupan selanjutnya.

.

*55*

.

Malam itu juga, saat Ogiwara diperintahkan untuk menjemput Akashi, usai berbincang di balkon dan melihat bagaimana Akashi mengecup kening Kuroko Tetsuya yang terlelap sebelum meninggalkannya, kini Ogiwara berjalan beriringan dengan Akashi Seijuurou hendak menemui sang Raja.

Memasuki ruangan dengan pintu besar setinggi tiga meter itu, Akashi dan Ogiwara dapat merasakan aura yang tidak mengenakkan. Ogiwara sempat menggedikkan bahunya sementara sebelah tangannya menangkup tengkuknya.

"Akashi~" Panggil Ogiwara lirih.

"Tenang saja, Shigehiro. Ou-sama takkan melakukan apapun padamu." Akashi menjawab tanpa menoleh Ogiwara yang berjalan di sampingnya. Akashi tetap melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ruangan dimana sang Raja tengah menunggunya.

.

"Shitsurei itashimasu. (Permisi.) Sa-saya kemari membawa Akashi seperti permintaan Ou-sama." Ogiwara tergagap. Entah mengapa aura yang menguar di ruangan ini membuatnya sulit berkata-kata. Semua kata-katanya tercekat di tenggorokan. Ia bisa menyampaikan laporannya itu pun setelah ia mengepalkan tangannya erat dan memejamkan matanya.

"Santai saja, Shigehiro. Kau tak perlu ketakutan seperti itu." Sang Raja kemudian mengangkat tangannya. "Jimat Jupiter nomor 1." Gumamnya dan seketika Ogiwara tak lagi merasakan aura menyeramkan itu.

Pandangan sang Raja beralih pada Akashi. Wajahnya yang semula tersenyum lembut pada Ogiwara kini mengeras saat manik matanya bertatapan langsung dengan manik crimson pemuda mungil bersurai merah itu. "Kau tahu dimana letak kesalahanmu, Seijuurou?!" Suara tegas sang Raja menggema dalam ruangan besar itu.

Akashi jelas dapat merasakan kemarahan pada aura sang Raja, sementara Ogiwara yang berdiri di samping Akashi tak merasakan apapun selain ia dapat mengerti akan kemarahan sang Raja dari suara yang dikeluarkan dan wajah Raja yang mengeras. "Saya tahu, Ou-sama." Jawab Akashi menundukkan kepalanya.

"Apa?" Tanya sang Raja.

"Saya tidak seharusnya berada di sisi Kuroko Tetsuya sebelum waktunya tiba."

"Kau tahu? Kau bahkan tak pantas menyebut namanya!"

Akashi mendongak, ia mengarahkan pandangannya pada sang Raja di hadapannya.

"Kau tidak bisa menjadi guardiannya, Akashi Seijuurou! Kau tak pantas! Dan kau tak layak karena kau telah melanggar sumpahmu sendiri!" Jeda. Sang Raja menatap lurus pada sosok mungil Akashi. "Tidak ada pilihan lain, seorang guardian tidak seharusnya menemui orang yang akan dilindunginya sebelum waktunya. Kau akan dihukum di ruang tertutup mulai hari ini dan kami akan menghapus ingatannya!"

.

*55*

.

"Apa ini sudah cukup?" Akashi mencelupkan sebelah tangannya pada bak mandi. Kini ia tengah berada di dalam kamar mandi, membantu Kuroko menyiapkan air hangat untuk nenek Kuroko mandi.

"Coba kulihat," Bocah mungil itu kemudian beralih dan mencelupkan tangannya. "Panas!" Teriaknya seraya menarik tangannya keluar sebelum mengibas-ngibaskannya. "I-ini panas sekali!" Kuroko mengarahkan tangannya yang lain untuk menyalakan kran guna mengalirkan air dingin. Sesekali ia meniup-niup tangannya. "Apa Akashi-kun tak merasa panas?" Ia menelengkan kepalanya mengingat bagaimana Akashi dengan santai mengaduk bak mandi itu dengan tangannya.

Akashi menggeleng. Tubuhnya tak merasakan apapun. Panas itu, seperti apa? Pikirnya.

Mematikan kran, Kuroko kembali mencelupkan tangannya. "Nah, coba Akashi-kun rasakan." Kuroko menarik tangan Akashi, mencelupkannya perlahan ke dalam bak mandi. "Hangat kan?"

Akashi bungkam. Sungguh, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia bahkan tak merasakan apapun. Air yang ini dengan yang tadi sama sekali tak berbeda menurutnya.

Melihat Akashi yang diam, Kuroko kemudian mengalihkan pandangannya pada wastafel di sudut kamar mandi. "Coba rasakan yang ini." Kuroko menarik Akashi ke wastafel, ia kemudian mengalirkan airnya. "Bagaimana rasanya? Berbeda bukan?" Manik saffirnya menatap lurus manik crimson Akashi.

Kuroko tak lelah mengajari Akashi. Keesokan harinya pun sama. Kuroko meminta Akashi merasakan. Setelah berulang kali, lama kelamaan Akashi dapat mengerti mana yang dikatakan sebagai air panas, dingin dan hangat. Bukan. Tentu saja Akashi tak dapat merasakannya, namun Akashi dapat melihatnya. Saat air segera mengepulkan uap usai dituang, maka air itu adalah air panas. Saat air itu tak mengeluarkan uap, maka itu adalah air dingin. Dan karena Akashi tak mengerti hangat itu yang seperti apa, Akashi sudah memperkirakan berapa banyak air dingin yang dibutuhkan agar air panas itu dapat menjadi air hangat yang mampu diterima oleh tubuh manusia.

Ekspresi Kuroko Tetsuya yang tak pernah Akashi duga akan dilihatnya pun terpampang begitu nyata di hadapannya saat Kuroko melihat ia mampu membedakan ketiga jenis air itu dengan baik. Sebuah senyuman yang begitu manis. Sebuah ekspresi yang selalu Akashi simpan baik-baik dalam memori otaknya.

.

*55*

.

"Kau tidak bisa menjadi guardiannya, Akashi Seijuurou! Kau tak pantas! Dan kau tak layak karena kau telah melanggar sumpahmu sendiri!" Jeda. Sang Raja menatap lurus pada sosok mungil Akashi. "Tidak ada pilihan lain, seorang guardian tidak seharusnya menemui orang yang akan dilindunginya sebelum waktunya. Kau akan dihukum di ruang tertutup mulai hari ini dan kami akan menghapus ingatannya!"

Manik crimson Akashi membulat mendapati pernyataan itu. Ia tahu dengan jelas bahwa ia akan dihukum, namun ia tak pernah menyangka bahwa sang Raja akan menghapus ingatan Kuroko. Akashi menggelengkan kepalanya. "Jangan, Ou-sama." Kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Akashi. Akashi tak ingin kenangan yang telah ia buat selama hampir tiga bulan ini bersama Kuroko hilang begitu saja. "Jangan hapus ingatannya."

Ogiwara juga terbelalak. Ia tak menyangka sang Raja akan mengambil keputusan itu. Ogiwara mengepalkan tangannya erat.

Sang Raja mengalihkan pandangannya pada Ogiwara. "Ada apa, Shigehiro? Apa kau juga akan mengatakan 'jangan'?" Tanya sang Raja dengan nada yang lebih lembut dibandingkan saat beliau berbicara dengan Akashi, namun Ogiwara tetap dapat merasakan ketegasan dalam pertanyaannya.

Ogiwara membuka mulutnya sejenak sebelum kembali mengatupkannya. Ogiwara tahu ia takkan bisa mengubah keputusan sang Raja, tapi ia ingin berusaha. Entahlah tapi jauh dalam benak Ogiwara, ia mendukung keputusan Akashi yang sempat mengagetkannya tadi―keputusan yang Akashi katakan untuk mengakhiri perbincangan mereka sebelum pergi menemui sang Raja. "Maafkan saya, Ou-sama, tapi saya ti―" Jeda. Ogiwara meralat kalimatnya, "―tapi saya kurang setuju dengan keputusan Ou-sama."

Sang Raja mengerutkan dahinya, meminta alasan.

"Saya rasa, seperti guardian yang lainnya, Ou-sama juga tidak berhak mencampuri kehidupan manusia." Ogiwara membungkus manik jingganya erat saat kalimatnya berakhir.

"Tapi Kuroko Tetsuya tidak seharusnya memiliki kenangan bersama dengan guardiannya sebelum waktunya, Shigehiro." Sang Raja mencoba bernegosiasi.

Genggaman Ogiwara semakin mengerat. "Kalau Ou-sama menghapus ingatan Kuroko Tetsuya―" Jeda. Ogiwara mengirup nafas dalam sebelum melanjutkan. "―maka Ou-sama juga akan menghapus kenangan Kuroko Tetsuya bersama Sayaka-bachan yang tersisa, sebelum beliau meninggalkannya sebentar lagi."

Akashi menatap Ogiwara di sampingnya. "Sayaka-bachan? Sayaka? Kuroko―Sayaka? Bagaimana Shigehiro mengenalnya dan memanggil nama kecil nenek Tetsuya?" Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Akashi.

"Hmm~" Sang Raja menimbang-nimbang tiap kalimat yang dilontarkan Ogiwara. "Tapi tetap saja, aku tak bisa melepaskanmu dari hukuman, Akashi Seijuurou." Pandangan sang Raja kembali mengarah pada Akashi, sementara Ogiwara menghela nafas lega sesaat sebelum kalimat Akashi membuatnya kembali menahan nafasnya.

Pikiran Akashi buyar, manik crimsonnya beralih menatap lurus sang Raja. "Tapi saya tidak bisa hari ini."

"Kau tahu dimana posisimu, Seijuurou?! Ini bukan saatnya untukmu bernegosiasi!" Raja kembali meninggikan volume suaranya.

"Kumohon~ beri saya waktu beberapa hari lagi dan Ou-sama tak perlu repot-repot meminta Shigehiro untuk membawa saya pulang. Ada yang harus―saya lakukan." Akashi membungkukkan badannya dalam. Ia tak bisa tak menghiraukan sosok bertudung hitam yang sekelebat ia lihat sejak beberapa hari terakhir. "Saya mohon." Pintanya.

"Tiga hari!" Putus sang Raja usai memijit pangkal hidungnya. "Setelah tiga hari, kau akan langsung masuk pada masa hukumanmu!"

.

*55*

.

Kebahagiaan sang 'target' merupakan prioritas utama para guardians.

.

*55*

.

"Akashi-kun? Aku mencarimu. Kau kemana?" Kuroko menghampiri Akashi yang berdiri di ambang pintu dapur, meninggalkan piring-piring yang tengah dicucinya.

"Ada apa mencariku?" Tanpa menjawab pertanyaan Kuroko, Akashi mengalihkan perhatian. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Kuroko, bukan? Bahkan selama hampir tiga bulan ini pun Kuroko tak mengetahui bahwa Akashi bukanlah manusia, melainkan seorang guardian yang akan melindunginya kelak―sesuai dengan takdir yang digariskan sebelum ia melanggar sumpahnya.

"Tidak apa, hanya saja―" Manik saffir itu meneduh. "Aku sudah terbiasa dengan Akashi-kun yang mengucapkan 'ohayou' ('selamat pagi') saat aku bangun." Lanjutnya.

Akashi tersenyum. "Kau merindukanku?"

Sontak rona merah menyambangi pipi pucat pemuda blue aqua itu.

DEG!

Akashi memalingkan pandangannya cepat. Lagi-lagi perasaan tidak tenang itu kembali menyerbunya. Dan manik crimsonnya jelas menangkap sosok berjubah hitam dan bertudung itu sebelum menghilang. Dia berada di luar, terlihat dari kaca dapur yang sengaja dibuat menghadap pekarangan samping rumah. Akashi mengerutkan dahinya. Kini sosok itu menampakkan dirinya sedikit lebih lama, seolah keberadaannya ingin diketahui.

"Akashi-kun?"

"Ah." Teringat pembicaraan sebelumnya, Akashi mengalihkan perhatiannya. "Aku tahu, Tetsuya. Sekalipun kau memalingkan wajahmu seperti tadi." Akashi menyeringai. "Aku juga tahu, bahkan dapat melihat dengan jelas bagaimana bentuk tubuhmu sekalipun kau mengenakan baju." Bisik Akashi disebelah telinga Kuroko.

"Akashi-kun! Pikiranmu terlalu dewasa melebihi umurmu!" Wajah Kuroko semakin memerah.

Akashi terkikik geli sebelum mendaratkan sebuah kecupan di pipi Kuroko. "Aku lapar~" Ujarnya mengalihkan pembicaraan.

Kini giliran Kuroko yang terkekeh. "Duduklah, aku akan siapkan sarapan untukmu." Ujarnya seraya melangkah kembali ke dapur.

Akashi bersila di ruang duduk keluarga Kuroko. Lapar? Tentu saja tidak. Sebagai seorang guaardian, Akashi takkan pernah merasakan lapar. Ia hanya ingin menyantap masakan nenek Kuroko sebelum ia tak dapat lagi merasakannya. Ya. Juga sebelum Kuroko tak dapat merasakannya kurang dari satu tahun kedepan. Akashi tahu, kehadiran seorang guardian hampir sama dengan kehadiran God of Death yang mencabut nyawa seorang manusia sebelum membawa jiwanya pada kehidupan setelah kematian. Hanya saja, guardian datang untuk menemani dan melindungi mereka yang ditinggalkan. Setiap guardian yang turun, maka orang terdekat sosok manusia yang akan dilindunginya itu akan segera pergi. Akashi menggigit bibir bawahnya. Ia tidak suka ini. Ia merasa keberadaan guardian tak beda dengan God of Death yang mencabut nyawa.

God of Death? Akashi teringat pada sosok bertudung itu. Sosok yang beberapa kali dilihatnya. Sedang apa dia berkeliaran di sekitar sini? Seingat Akashi, God of Death akan berkeliaran disekitar manusia yang hidupnya hampir berakhir, sebelum kemudian mencabut nyawanya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Lantas, bukankah seharusnya ia datang beberapa bulan lagi?

.

*55*

.

Malam ini adalah hari terakhir Akashi berada di bumi sebelum menjalani masa hukumannya. Usai keluar dari kamar mandi, Akashi mendapati Kuroko yang duduk memeluk lutut menatap televisi di ruang duduk. "Tetsuya?" Sapanya.

"Akashi-kun." Kuroko membalikkan tubuhnya menoleh ke arah Akashi yang masih berdiri tengah mengeringkan surai merahnya.

"Ada apa?" Akashi menyentuhkan jemarinya menangkup pipi Kuroko.

"Entah kenapa, aku merasa kesepian. Aku tidak tega melihat Bachan terbaring seperti itu." Ujarnya. Manik saffirnya berubah sendu. Kuroko menggenggam tangan Akashi yang menangkup pipinya. Rasa dingin itu menjalar.

Belum sempat Akashi menjawab, Kuroko kembali membuka mulutnya. "Tanganmu dingin sekali, Akashi-kun, seperti Bachan saat beliau pingsan siang tadi." Ujarnya dengan tubuh yang mulai bergetar.

Akashi tidak menyukai perasaan yang tiba-tiba menyerbunya. Perasaan yang sarat akan ketakutan untuk kehilangan seseorang yang berarti. Akashi tahu, semenjak kehadirannya, waktu Kuroko untuk bersama orang yang terpenting baginya―neneknya―tidaklah lama lagi. Dan hal inilah yang tidak pernah ia sukai. Lantas apa beda kehadirannya dengan kehadiran para God of Death yang datang untuk mengambil jiwa manusia yang masa hidupnya telah habis?

Tanpa sadar Akashi telah membawa bocah tiga belas tahun itu dalam dekapannya. Tidakkah terlalu muda bagi Kuroko untuk merasakan kehilangan orang terpenting baginya? Namun garis takdir telah ditentukan oleh Dewa. Bahkan sang Raja pun tak memiliki hak untuk mengubahnya, terlebih Akashi yang hanyalah seorang guardian―yang kini telah melanggar sumpahnya. "Semua akan baik-baik saja, Tetsuya. Tanganku terasa dingin karena aku baru saja selesai mandi, bukan?" Akashi mengelus kepala Kuroko sayang.

Dingin. Tubuhnya terasa dingin. Tentu saja. Guardians tidak hidup. Benar mereka memiliki tubuh, namun sebenarnya, mereka lebih seperti mayat hidup. Tubuhnya tak memproses apapun kecuali otak dan hatinya. Akashi juga belum siap untuk mengatakan semuanya. Mengatakan akan siapa dirinya yang sebenarnya, terlebih ia yang kini tak lagi memiliki hak untuk menjadi seorang guardian. Tentunya Akashi tak ingin membuat Kuroko semakin merasa kehilangan. Benar. Seharusnya ia tak pernah muncul dalam kehidupan Kuroko Tetsuya.

Akashi memejamkan matanya erat, menyadari dosa besar yang telah diperbuatnya. "Semua akan baik-baik saja." Hanya frase itu yang dapat Akashi ucapkan. Ya, setidaknya semuanya akan baik-baik saja untuk―saat ini.

.

*55*

.

Tugas utama para guardians adalah menemani dan melindungi sang 'target'. Selalu berada disisi 'target'nya, hingga akhir dari kehidupan sang 'target'.

.

*55*

.

Lima hari berlalu semenjak sang Raja memberikan injury time untuk Akashi. Ya, tambahan waktu selama tiga hari yang seharusnya berakhir dua hari yang lalu.

Akashi tengah membantu Kuroko menata ruang duduk tempat mereka bertiga sarapan saat Kuroko menyelanya, "Akashi-kun, kita butuh empat zabuton."

(*zabuton: Bantal duduk. Berbentuk pesegi, biasa dipakai saat duduk di atas lantai yang beralaskan tatami.)

Akashi menaikkan sebelah alisnya, yang terjawab saat tak lama Kuroko menyapa sosok tinggi bersurai jingga itu dengan akrab.

"Ohayou, Ogiwara-kun."

Ogiwara menghampiri Kuroko kemudian mengacak surai bocah itu. "Ohayou." Sapanya ceria. Ogiwara kemudian beralih menatap Akashi yang membatu di ruang duduk. "Ohayou, Akashi."

"Shige―hiro?"

"Shitteimasuka, futaritomo? (Apa kalian saling kenal?)" Kuroko menelengkan kepalanya menatap kedua pemuda itu. Tak mendengar jawaban, Kuroko menjelaskan. "Anou ne, Akashi-kun. Kochira wa shinjin no tonari kinjo no Ogiwara-kun desu. Eeto, ikkagetsu mae gurai kanaa. (Ah, Akashi-kun, kenalkan. Ini Ogiwara-kun, tetangga baru kami sejak bulan lalu.)Ogiwara-kun sering membantu Bachan belanja dan ini pertama kalinya Bachan mengajak Ogiwara-kun untuk kemari."

Perasaan tidak enak itu kembali menyerbu Akashi seperti saat hari―yang seharusnya menjadi hari―terakhirnya di bumi, saat ia memeluk Kuroko, juga perasaan yang ia rasakan tiap melihat God of Death berkeliaran disekitarnya. "Apa maksudnya?" Akashi bergumam. Pikirannya kemudian menarik kerja otaknya untuk kembali pada penjelasan Kuroko.

tetangga baru kami sejak bulan lalu. Bulan lalu?

Ogiwara-kun sering membantu Bachan belanja. Membantu?

Hati Akashi mencelos, manik crimsonnya menatap awas pada manik jingga Ogiwara. "Masaka― (Jangan katakan―)"

Ogiwara berjalan menghampiri Akashi dan duduk di sebelahnya. "Zannen da ga, sono toori da. (Sayang sekali, Akashi, tapi begitulah―seperti yang kau pikirkan.)"

Akashi terbelalak mendengarnya. Jika Ogiwara mengatakan pemikirannya benar, maka keberadaan Ogiwara selama satu bulan disini adalah sebagai guardian nenek Kuroko. Jika ia menunjukkan dirinya di depan 'target'nya, itu berarti sang 'target' tak lama lagi akan kehilangan orang terpentingnya. Kemudian, jika dikaitkan dengan kehadiran God of Death yang ia temui akhir-akhir ini― dengan kata lain―

Pandangan Akashi beralih pada Kuroko yang tengah menuang miso (Sup―biasanya ditambah dengan toufu/tahu) pada mangkuk-mangkuk kecil di dapur. Dadanya sesak. Perasaan tidak mengenakkan itu benar-benar menyakitinya. Ia menggelengkan kepalanya, menolak segala pemikirannya. Akashi hanya mematung saat Ogiwara berujar dengan manik jingga yang menatapnya sendu.

"Kami-sama (Dewa) telah menggariskan takdir manusia yang lahir. Ou-sama juga telah menenentukan takdir para guardiansnya. Sebagai guardian, kita tak dapat melakukan apa-apa, Akashi. Kita tak berhak mengubah takdir manusia. Aku memohon padamu― untuk merelakannya."

.

*55*

.

Tangan Akashi menggenggam erat lengan mungil Kuroko sementara kakinya terus berlari cepat. Tanpa pikir panjang, saat melihat Kuroko tengah berbincang dan tertawa dengan sosok bertudung itu, Akashi sontak meraih lengan Kuroko dan menariknya pergi. Mereka berhenti di depan sebuah cafe di bawah kanopi yang melindungi mereka dari salju yang turun perlahan.

"Ada apa―Akashi-kun? Aku tadi―sedang berbincang dengan―Aomine-kun. Dia membantuku―memungut koinku yang terjatuh." Kuroko mencoba menjelaskan diantara nafasnya yang tersengal.

Manik crimson Akashi menatap tajam manik saffir itu. "Kau―" Akashi meraih kedua bahu Kuroko. "Kau tidak seharusnya berbicara dengan Daiki." Ia menggigit bibirnya. Bagaimana ia harus menjelaskannya sekarang? Ia tak mungkin mengatakan bahwa Aomine Daiki adalah seorang God of Death yang akan menjemput jiwanya, bukan? Bocah mana yang tak akan ketakutan saat menemui sosok yang akan mencabut nyawanya?

Sekejap, hembusan angin kencang menerpa keduanya, membuat Akashi menarik bocah blue aqua itu dalam pelukannya, melindugi bocah itu dari sayatan es yang mampu merobek kulitnya.

Manik saffir Kuroko membulat saat mendapati darah mengalir dari beberapa bagian tubuh Akashi. "A-akashi-kun?!" Gumam Kuroko begitu lirih seolah tak dapat menemukan suaranya yang tercekat di tenggorokan.

Akashi semakin mendekap Kuroko seraya berbisik di telinga bocah itu. "Aku baik-baik saja, Tetsuya. Kau tak perlu khawatir." Sementara itu, manik crimsonnya menangkap sosok yang menyerangnya berdiri tak jauh dari tempatnya dengan Ogiwara berdiri di belakangnya.

"Ou-sama." Akashi menggumam.

"Aku harus menjemputmu secara paksa, Seijuurou! Kau telah melebihi batas waktu yang telah kutentukan!" Sang Raja melangkah mendekat.

Akashi memundurkan langkahnya, masih dengan Kuroko dalam dekapannya. Hembusan angin setelahnya membuat Akashi membalikkan tubuhnya, membiarkan punggungnya menerima serangan dari sang Raja. Darah semakin banyak bercucuran dari tubuhnya, namun Akashi tak merasakan apapun.

Sesekali Akashi membalas serangan sang Raja seraya berlari menghindar, hingga serangan itu mengenai lengan Kuroko. "Tetsuya!" Hati Akashi mencelos saat telinganya mendengar rintihan bocah itu. Akashi mengayunkan tangannya hendak membuat Jimat Mars untuk menyembuhkan luka Kuroko saat Jimat Saturnus sang Raja membuatnya terlempar ke dinding dan terpaku disana. Tak mampu bergerak.

Akashi semakin gusar dan menggenggam tangannya erat kala ia tak bisa melakukan apapun saat sang Raja mendekati Kuroko yang duduk membungkukkan tubuhnya, menahan sakit. "Jangan!" Akashi berteriak.

Sang Raja menangkupkan tangan besarnya menutup mata Kuroko seraya mengucapkan mantra.

"Tidak! Ou-sama, kumohon jangan!" Akashi berusaha melepaskan ikatan jimat pada tubuhnya. Dan Nihil.

Tak berapa lama, sebelah tangan Kuroko yang meremas lengannya yang terluka itu terkulai begitu saja.

Akashi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kumohon. Tetsuya!"

Sang Raja menurunkan tangannya, memperlihatkan Kuroko yang perlahan membuka matanya. Kuroko bangkit perlahan dari posisi duduknya. Mengambil sebuah pisau kecil dari saku celananya, ia berjalan menghampiri Akashi.

"Tetsuya?" Menatap bocah yang kini berdiri dihadapannya, Akashi siap menerima apapun. Pisau yang dibawa Kuroko bukanlah pisau biasa. Pisau tersebut mampu melukai para guardians. Pisau yang terbuat dari bahan yang sama dengan alat yang dipakai untuk menghukum para guardians yang melanggar aturan.

Kuroko mengangkat pisau itu tinggi-tinggi sebelum mengayunkannya.

JLEBB!

Akashi membelalakkan matanya saat mendapati sosok mungil itu terjatuh di hadapannya. Terbaring di depan Akashi dengan pisau yang menancap pada dadanya. Terbaring dengan darah yang mengalir dari dada juga mulutnya. Akashi bahkan tak mampu mengeluarkan suaranya.

"Ne―kimi. (Hey― kau.)" Bocah blue aqua itu mengarahkan manik saffirnya menatap Akashi.

Tenggorokan Akashi semakin tercekat, Kuroko bahkan tak lagi memanggil namanya. "Te-Tetsu-ya." Lirih Akashi, masih dalam posisinya yang terkunci di dinding. Sepasang manik crimsonnya menatap lurus Kuroko yang terbaring di atas tumpukan salju yang perlahan memerah.

"Aku― tidak tahu siapa kau. Tapi― aku merasa― harus mengatakan ini." Jeda. "Kita― akan bertemu lagi― di kehidupan selanjutnya seperti― dongeng tentang para guardian yang―" Nafas Kuroko tersengal. "Yang memohon pada― Kami-sama untuk dipertemukan kembali― dengan 'target'nya, bukan―? Aku― aku akan menunggumu." Ujar Kuroko terputus-putus.

Dan saat Ogiwara yang sudah tidak mampu menahan perasaannya untuk tidak melakukan apapun hendak menghampiri Kuroko, Aomine telah menarik sosok mungil itu dalam gendongannya. Sebelum manik saffir itu terpejam sempurna, Akashi mampu mendengar sebuah kalimat terakhir terucap dari bibir itu yang diselingi dengan sebuah senyuman yang tak pernah bisa Akashi lupakan.

"Itsu made mo matteru kara. (Karena aku akan menunggumu sampai kapanpun.)"

Setitik air mata perlahan jatuh menuruni pipi Akashi bersamaan dengan salju yang kembali turun. Ketika sang Raja menghapus jimat kekangnya pada Akashi, tubuh Akashi hanya mampu mengikuti gerak gravitasi bumi dan membuatnya jatuh terduduk. Manik crimsonnya memandang kosong pada serpihan tubuh Kuroko yang perlahan terbang ke langit.

"Apakah ada permohonan terakhir, Seijuurou?"

.

*55*

.

Permohonan terakhir?

Huh.

Akashi menunduk. Seolah semua telah lenyap. Apa gunanya ia mengatakan permohonan terakhirnya jika sudah tidak ada kenangan tentangnya dalam memori Kuroko―bahkan di saat terakhirnya? Akashi memukul pagar balkon yang ditumpunya kesal. Sekarang ia tak tahu harus melakukan apa.

"Akashi."

Akashi menolehkan kepalanya dan mendapati Ogiwara bersandar pada balkon di sampingnya.

"Maafkan aku." Ujar Ogiwara, membuat Akashi mengerutkan dahinya. "Maafkan aku yang hanya dapat berdiam diri disana tanpa melakukan apapun untuk membantumu dan melindungi Kuroko Tetsuya."

"Tidak masalah. Aku lah yang tidak bisa menjaganya."

Ogiwara dapat melihat tatapan sendu itu. Ia merasa seolah tak lagi ada kehidupan dalam manik crimson itu. Ogiwara merasa Akashi telah kehilangan segalanya. Ia kemudian menepuk bahu pemuda mungil itu, meminta Akashi menatapnya. "Biarkan aku berjanji akan satu hal padamu, Akashi." Manik jingga Ogiwara menatap lurus manik crimson Akashi. "Katakanlah permohonan terakhirmu pada Ou-sama. Aku dan Kuroko Tetsuya akan menunggumu."

Akashi mengerutkan dahinya, manik crimsonnya seolah menyiratkan pertanyaan, "Apa maksudmu?"

"Kami akan menunggumu di kehidupan selanjutnya."

Menghela nafas, Akashi menurunkan tangan Ogiwara dari bahunya, lelah. Ia mengarahkan pandangannya menatap lantai yang dipijaknya. "Itu tidak mungkin, Shigehiro. Tetsuya telah melupakanku―"

"Kau percaya padaku, Akashi?" Ogiwara kembali menarik bahu Akashi, membuat pemuda bersurai merah itu kembali menatapnya.

Akashi menyelami manik orange gelap di depannya. Tak ada kebohongan di dalamnya, yang ada hanyalah sebuah kesungguhan yang besar. Begitu besar. Akashi menganggukkan kepalanya.

Pemuda tinggi itu kemudian memamerkan senyum lebarnya. "Aku janji akan membuatnya kembali mengingatmu." Ujarnya. "Aku tidak tahu apa takdirku di kehidupan selanjutnya akan menjadi guardian Kuroko Tetsuya atau tidak. Tapi aku akan mencarinya dan membuatnya mengingatmu. Aku akan melakukannya hingga kau selesai menjalani hukumanmu dan kembali padanya sebagai― manusia."

.

*55*

.

Ogiwara meremat sebuah wrist band berwarna hitam di tangannya. Ia menahan nafas saat melihat Akashi tengah dibawa ke ruang tertutup untuk menjalani masa hukumannya. Namun, Ogiwara tak bisa tidak merasakan perasaan senang yang menyerbu dadanya kala melihat Akashi mengulaskan senyumnya usai mengatakan permohonan terakhirnya pada sang Raja.

"Akashi Seijuurou. Apa kau sadar akan kesalahanmu?"

Akashi mengangguk, "Ya."

"Kau telah melanggar sumpahmu sebagai guardian untuk tidak berkontak langsung dengan 'target' pada masa tugas awalmu selama tiga bulan. Kau juga telah menyalahi takdir seorang manusia dengan menunda kematiannya dan menolongnya. Kau diputuskan akan menjalani hukuman selama 200 tahun atas kesalahan yang kau perbuat." Sang Raja menatap lurus pemuda bersurai meah itu. "Apa permohonan terakhirmu, Akashi Seijuurou?" Tanyanya.

Akashi menatap sang Raja yang berdiri di depannya. Ia telah membuat keputusan. "Aku― ingin dilahirkan sebagai seorang manusia biasa di kehidupan selanjutnya, Ou-sama." Setelahnya, Akashi mengarahkan senyum terakhirnya pada Ogiwara Shigehiro.

"Aku percaya padamu."

Ogiwara dapat menangkap ucapan Akashi dari gerakan bibirnya. Ia kemudian mengangkat wristband yang digenggamnya setinggi dada, kemudian dilihatnya Akashi mengangguk.

Kembali, pikiran Ogiwara tertarik pada malam saat ia mengucapkan sebuah janji pada Akashi di balkon. Setelah memantapkan diri untuk tetap menyebutkan permohonan terakhirnya di depan sang Raja saat hari eksekusi, Akashi memberikan sepasang wristband berwarna hitam padanya.

Akashi memasangkan satu pada tangan kiri Ogiwara, "Ini sebagai tanda untuk janji kita." Akashi kemudian menarik telapak tangan Ogiwara, meletakkan wristband itu disana sebelum menangkupkan jemari Ogiwara, membuat Ogiwara menggenggam wristband itu. "Yang ini, berikan pada Tetsuya. Aku ingin dia menyimpannya."

Setitik cairan bening jatuh saat Ogiwara teringat kalimat terakhir Akashi mengenai Kuroko Tetsuya.

"Dia― memberikanku banyak hal, Shigehiro."

.

.

*Fin*

.

.

A/N:

Just wait for the epilogue XD

Last words, お誕おめ、赤司征十郎! o/

Lets celebrate 20-12-2013 ね、みんな :D

Hai, mohon komen, kritik dan sarannya, サンキュウ :*