Happy reading

Chapter 4.

Pairing: Kwon Jiyoung –Choi Seunghyun/many others

Previous chap :

"aku memaksa Jiyongie.." ucapnya dengan penekanan

"nde,, maaf merepotkan sajangnim"

Jiyong segera naik ke mobil Seunghyun mendengar nada penekanan yang diucapakan Seunghyun.

Tak tahukah Jiyong ketika ia naik ke mobil, Seunghyun menyeringai.

"Seatbelt" ucap Seunghyun sambil melihat spion untuk melanjutkan perjalanan menuju Choi Company.

"ah..ne", Jiyong menarik seatbelt dan berusaha memakainya,, namun beberapa detik berlalu, seatbelt itu seakan tak menuruti keinginan Jiyong. 'poor Jiyong'.

Seunghyun yang melihat Jiyong kesulitan memasang seatbelt segera memajukan badannya mendekati Jiyong dan membantunya. Aroma manly yang menguar dari tubuh Seunghyun tercium jelas oleh Jiyong membuat pipinya merona merah dan salah tingkah.

"mengapa wajahmu memerah Jiyongie? Apa kau tidak enak badan?" Tanya Seunghyun sambil sesekali melirik Jiyong

"anio sajngnim, aku baik-baik saja" jawabku terkejut. 'babo kau Jiyong,, tak bisakah kau mengontrol perasaanmu' batin Jiyong.

"tidak usah terlalu formal Jiyongie,, kita hanya berdua disini, dan ini bukan di kantor. Tak bisakah kau memanggilku oppa saja?"

" ye?" Jiyong seketika tersadar dari lamunannya dan tampak bingung dengan perkataan bosnya ini. Seunghyun menoleh dan hanya tersenyum menanggapi keterkejutan Jiyoung.

30 menit kemudian, BMW hitam yang dikendarai Seunghyun dan Jiyong sampai di Choi Company, dengan cepat Seunghyun mematikan mesin mobil dan turun untuk membuka pintu samping mobil dimana Jiyong duduk. Jiyong yang menyadari hal ini tersipu malu, ia turun dan mengucapkan terima kasih.

"gamsahamnida sajangnim,, dan maaf merepotkanmu" dengan tergesa-gesa Jiyong masuk ke dalam Choi building dengan masih tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan Seunghyun yang melihatnya hanya bersmirk ria.

Drrrt… drrrt… getar ponsel Seunghyun seketika memecah konsentrasi Seunghyun, diangkatnya panggilan tersebut setelah sekilas melihat id si penelepon.

"wae?" ucapnya dingin.

"tak bisakah kau sedikit manis padaku oppa?" Choi Minji, yeodongsaeng Choi Seunghyun merengut karena mendapat perlakuan yang dingin dari oppa-nya.

"katakan saja ada apa?" masih dengan nada yang menusuk Seunghyun bertanya.

"well,, umma menyuruhmu pulang ke rumah untuk makan malam, mengingat kau tak pernah menjawab panggilan telepon dari umma dan jarang pulang ke rumah untuk sekedar menjenguk keluargamu" cerocos Minji tanpa jeda.

"arasso, jika tak sibuk aku akan mampir… hh…" Seunghyun menghela napas sambil berjalan meninggalkan parkiran, menuju ruangannya.

"Dan apa yang ada dipikiranmu sehingga kau memutuskan pindah ke Choi company? Bukankah kau menolak bekerja di Choi company dan lebih memilih Choi entertainment saat appa memintamu membantunya 5 tahun yang lalu?" lanjut Minji.

"ada sesuatu yang menarik disini" jawab Seunghyun menyeringai dan 'klik' langsung memutuskan sambungan telepon.

Minji yang belum selesai menginterogasi oppa-nya kesal bukan main, "yya ! jawaban apa itu. Awas saja oppa, aku akan mencari tahu apa itu, hmmm… sepertinya menarik". Choi Minji adalah anak kedua keluarga Jung, ia sangat menyayangi oppa-nya dan menjadi over-protektif terhadap oppanya. Sehingga yeoja-yeoja yang mendekati oppa-nya harus berlawanan dengan Minji terlebih dahulu.

Jam kantor berakhir tanpa Jiyong sadari, ia melirik jam digital di meja kerjanya dan merentangkan tangannya ke samping untuk merenggangkan ototnya yang kaku. Daesung yang berada di meja sebelah menoleh dan tersenyum.

"Yongie.. apa acaramu setelah pulang kantor?" Tanya Daesung dengan senyum lima jarinya.

"hmm.. tak ada, wae?"

"temani aku berbelanja. Otte? Aku butuh gaun baru untuk pesta ulang tahun perusahaan minggu depan" bujuk Daesung dengan wajah lucunya.

"baiklah.. sepertinya aku juga butuh gaun baru"

"assa…. Kajja" teriak Daesung bahagia.

At Jessie Boutique,

Daesung berkeliling dalam butik, sibuk mencari gaun yang cocok untuknya. Kemudian kembali dengan setumpuk gaun yang akan dicobanya di fitting room. Sedangkan Jiyong hanya duduk menyaksikan kehebohan Daesung.

"Yongie,, jangan hanya diam. Mana yang lebih cocok untukku, biru atau kuning?" Tanya Daesung memegang gaun berwarna biru dan kuning di tangan kiri dan kanannya.

Jiyong memperhatikan gaun yang ditunjukkan Daesung sambil memiringkan kepalanya. "kurasa gaun berwarna kuning lebih cocok untukmu, Jja.. cobalah"

Daesung masuk ke fitting room dengan gaun kuningnya. Beberapa menit kemudian keluar dan memutar tubuhnya di depan Jiyong. "otte?" Tanya Daesung.

Daesung terlihat manis dengan gaun berwarna kuning yang sangat pas membentuk tubuhnya, gaun panjang tanpa lengan dengan belahan hingga paha yang memperlihatkan kulit putihnya. Warna kuning juga menggambarkan kepribadian Daesung yang ceria. "perfect" puji Jiyong dengan mengacungkan jempolnya.

"gomawo Yongie.. untunglah aku mengajakmu. Kau benar-benar teman yang baik" ucap Daesung sambil memegang tangan Jiyong. "Jja… sekarang giliranmu. Sudah kupilihkan gaun yang cocok untukmu". Daesung mengambil gaun yang dipilihnya, gaun panjang berwarna merah muda yang cantik dengan aksen renda di bagian bawahnya. Jiyong menatap gaun itu sejenak dan membulatkan matanya.

"Sungie.. apa kau yakin? Bukankah ini terlalu terbuka?" Tanya Jiyong, masih menatap gaun yang kini sudah digenggamnya. 'omo, belahan dadanya rendah dengan string yang tipis dan bagian punggung yang terbuka'

"wae?.. ini sangat cocok untukmu. Cobalah" jawab Daesung dan mendorong tubuh Jiyong ke fitting room. Beberapa menit kemudian Jiyong keluar dengan malu-malu, merasa risih dengan gaun yang digunakannya.

Daesung yang melihat penampilan Jiyong, tersenyum lebar dan bertepuk tangan akan pilihan gaunnya, "neomu yippeo uri Yongie". "kajja kita bayar gaun ini,, dan Yongie, akan kupastikan kau memakai gaun ini di pesta ulang tahun perusahaan seminggu lagi.

'omo.. kalau begini jadinya, seharusnya dia tidak mengiyakan ajakan Daesung' batin Jiyong.

Jiyong berjalan lesu menuju apartemennya. Berbelanja dengan Daesung ternyata sangat melelahkan. Bayangkan saja berjam-jam mengelilingi pusat perbelanjaan tanpa istirahat. Yang dia inginkan saat ini hanyalah berbaring di kasurnya yang empuk dan tidur hingga pagi.

Setelah memasukkan kode apartemen, ia masuk ke dalam dengan lesu, melemparkan tas-tas belanjanya di ruang tamu dan mendudukkan pantatnya ke sofa.

"annyeong Jiyongie,," ucap seven dan duduk di sebelah Jiyong.

"ommo,, kau mengagetkanku hyung. Yya! Bukankah kau punya apartemen sendiri? Mengapa kau selalu menumpang di apartemenku" kesal Jiyong.

"hyung? Ani.. aku oppa. Aku disini karena aku suka mengganggumu" ledek Seven, memancing kemarahan Jiyong.

"aish,,, aku lelah membalasmu hyung" ucap Jiyong yang kini memejamkan matanya karena sangat mengantuk.

Sebenarnya Jiyong sangat tahu mengapa hyung-nya itu lebih betah di apartemennya ini. Hidup di keluarga yang broken home membuat Seven menjadi pribadi yang tertutup tentang perasaannya, semenjak kecil dia selalu bersama keluarga Jiyong karena dalam keluarga Jiyonglah Seven dapat merasakan kehangatan keluarga, dan Jiyong merupakan sepupu sekaligus satu-satunya sahabat yang sangat dekat dengan Seven.

Beberapa menit kemudian terdengar nafas yang teratur dari Jiyong, menandakan bahwa dirinya telah sampai ke alam mimpi. Seven yang berada di sebelahnya tersenyum lembut melihat Jiyong, kemudian mengangkat tubuh Jiyong ala bridal style dan membaringkannya di ranjang kamar tidur Jiyong dan menyelimutinya.

"jalja Jiyongie… mimpi yang indah" ucap seven pelan sambil mengecup kening Jiyong.

Tak terasa seminggu berlalu, malam nanti adalah malam pesta ulang tahun perusahaan. Sejak pagi Daesung sangat heboh membicarakan pesta nanti dengan beberapa karyawan lain. Jiyong bersandar di kursi kerjanya memperhatikan karyawan lain yang nampak bergosip tentang acara nanti. 'haruskah aku datang?' batinnya, Jiyong tak terlalu suka pesta, karena seperti tahun lalu dan sebelumnya, ia hanya tersisih di pojok pesta tanpa teman.

"apa yang kau lamunkan Yongie?" ucapan Daesung menyadarkan Jiyong.

"ani… tak ada" gugupnya.

"jeongmal?" tuntut Daesung, tak puas dengan Jawaban Jiyong.

"tak ada,, sunggguh" Jiyong mencoba meyakinkan Daesung.

"baiklah,, jangan lupa pakai gaun yang kupilihkan untuk pesta nanti yongie" senyum Daesung.

Jiyong berpikir sejenak, "bolehkah aku tak datang?" mohon Jiyong.

"andweee.." teriak Daesung. "kau harus datang, akan ku pastikan kau datang karena sore nanti aku ke apartemenmu, jika kau tetap menolak, akan kuseret ke tempat pesta"

Skak mat. Jiyong tak bisa menghindar lagi kali ini. (*poor Jiyong)

At Jiyong apartement,

Daesung datang sejam setelah jam kerja selesai. Dia nampak bersemangat sedangkan Jiyong nampak frustasi memikirkan bagaimana caranya agar dia tak bisa datang ke pesta apalagi dengan gaun pilihan Daesung yang sangat terbuka.

"haruskah?" bujuk Jiyong lagi dengan puppy eyesnya yang lucu.

"harus" tegas Daesung. "jja.. mari kita bersiap-siap, akan kubantu merias wajahmu"

Setengah jam kemudian, Daesung dan Jiyong telah selesai bersiap. Daesung memperhatikan penampilannya dan juga Jiyong. "perfect,, cantik.." ucapnya. Ketika pandangannya tertuju pada kaki Jiyong, "ommo.. Yongie-ah kau akan ke pesta bukan ke lapangan" teriak Daesung sambil memaksa Jiyong membuka sepatu ketsnya.

"bukannya ini lebih nyaman" bela Jiyong yang mendapat kritikan pedas Daesung.

"aigooo… aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi" Daesung beranjak menuju tas-tas karton yang tadi dibawanya. Dikeluarkannya sepatu kill heels berwarna hitam dan disodorkannya di depan wajah Jiyong.

Jiyong terduduk lemas melihat sepatu itu, 'penderitaan apa lagi ini, sepertinya telapak kakinya akan lecet setelah pesta nanti' batin Jiyong.

Thanks berat buat yang udah review.

Mian gak balas review kalian, tapi aku baca kok !

Mian karena ceritanya jadi GJ dan tak sesuai harapan.

Mian untuk yang kesekian kalinya karena lama tak update,, butuh usaha keras untuk melanjutkan cerita ini. Idenya udah ada di kepala, namun susah merealisasikan.

Last but not least, please di review, karena review kalian adalah penyemangat dalam melanjutkan chap selanjutnya..