author:ruccrys

I'm Sorry

Main Cast:

Kyungsoo, Kai

.

Boys Love don't like don't read!

no plagiarism, no siders

[isyarat tangan Kyungsoo di italic]


"Huang Zitao imnida. Panggil saja Tao"

"Aku Kris. Ayo duduk dan jelaskan apa yang terjadi pada Kyungsoo. Ngomong- ngomong matamu mirip panda. Sangat lucu"

BLUSHH

"T-t-terimakasih ge" balas Tao dengan pipi merona

.

Selama itu seorang namja mungil yang berada tak jauh dari mereka sedang tersenyum bahagia

.

.

.

"Tuan muda, airnya sudah siap, anda bisa mandi sekarang" ucap seorang pelayan kepada Kyungsoo yang sedang memperhatikan sahabatnya dan gegenya yang terlihat bahagia itu. Asal orang disekitarnya bahagia, ia akan lebih bahagia. Kyungsoo mengangguk kepada pelayannya lalu tersenyum manis. Kyungsoo pun menuju ke kamar mandi di kamarnya dan membasuh tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket itu.

.

Kristao side

.

Tao menceritakan semuanya dengan rinci. Walaupun dengan sedikit perasaan takut tersimpan melihat ekspresi Kris yang tidak bisa diartikan sekarang. Tao berbicara sepelan mungkin karena ia yakin namja yang berada didepannya ini sedang berada di titik puncak dari sebuah emosi. Dimana emosi itu harus ditumpahkan atau dilampiaskan layaknya ember yang sudah terisi penuh oleh air dan air itu harus ditumpahkan atau dialirkan. Dan Tao tidak akan mau menjadi bahan pelampiasan emosi Kris, menurut Tao, salah bicara sedikit saja saat ini akan berakibat sangat fatal. Bisa saja Kris langsung menonjoknya. Tapi itu hanya di pikiran Tao, mungkin jika hanya melihat wajah Kris sekilas, kita juga akan berpikir begitu. Tatapan mata tajam menyayat, rahang yang tegas, postur yang tegap dan tinggi. Siapa sangka hatinya selembut Kyungsoo? Setelah Tao selesai menceritakan semuanya, Kris mengangkat tangannya Tao bersiap- siap, ia kira Kris akan memukulnya atau apa ternyata Kris justru mengelus rambutnya.

"Terimakasih telah menjaga adikku di sekolah" ucap Kris sambil mengelus rambut lembut Tao dan menatap mata pandanya lekat. Hanya lewat tatapan saja namja bermata panda itu pipinya sudah terbakar habis. Warna pipinya yang menyerupai tomat sekarang membuat Kris tertawa kecil "Kau lucu Zitao" ucap Kris sambil tersenyum. Sungguh, Tao merasa ingin terbang sekarang atau berteriak demi boneka panda kesayangannya. Tidak bisa Tao bayangkan sudah seperti apa wajahnya sekarang dibuat oleh namja tinggi dihadapannya ini. Kris melepas tangannya dari kepala Tao, begitupun tatapannya. Sekarang ia sedang menatap lurus ke halaman hijau rumah megahnya itu. "Apa menurutmu aku berlebihan jika memindahkan Kyungsoo ke sekolah yang lebih baik dan dekat? Setidaknya aku bisa mengawasinya dan dia terjauh dari orang orang tak berhati seperti mereka semua" tanya Kris. Matanya menyipit seolah olah menerawang apakah yang akan ia putuskan ini benar atau tidak.

Pertanyaan itu sontak membuat Tao membulatkan matanya. Apa jadinya kalau Kyungsoo pindah? Siapa lagi orang yang akan menjadi teman sebangku terbaiknya? Siapa yang akan mendengarkan curhatannya jika ia ada masalah? Siapa yang akan dengan rela memberikan bahunya untuk disandari dan dibasahi oleh air mata yang keluar dari matanya saat hati dan jiwanya menangis? Tentu Luhan dan Suho bisa melakukannya, tapi mereka berdua berbeda dengan Kyungsoo. Kyungsoo sangat hafal dan mengerti jalan fikirannya. Kyungsoo selalu memberikan solusi dengan pemikiran yang matang dan hasil yang jelas. Berbeda dengan kedua hyungnya yang menghubungkan semuanya dengan hukum-alam, hukum-blahblahblah, semua yang berhubungan dengan pelajaran. Mereka lebih menggunakan nalar untuk menyaring dan memberikan sebuah solusi daripada mengerti perasaan Tao terlebih dahulu. Jujur saja, jawaban yang ada di otak Tao sekarang hanya "Itu berlebihan ge. Jika Kyungsoo pindah ke lingkungan baru, ia akan susah beradaptasi apalagi dengan keadaannya" Tao menumpahkan isi pikirannya. Katakanlah Tao sangat takut kehilangan sahabatnya itu sama seperti seseorang yang takut kehilangan nyawanya yang sangat berharga.

Kris mengangguk. "Benar juga. Tapi aku juga tidak tega melihat Kyungsoo dibully terus menerus seperti saat ini. Orang tuanya berpesan kepadaku untuk menjaganya dengan baik" ucap Kris. Pandangannya masih lurus. Dapat terlihat dari pandangannya betapa ia menyayangi adik angkatnya itu dan ingin mellindunginya. "Atau mungkin aku harus membuat anak- anak itu dikeluarkan?" lanjut Kris.

Tao menggeleng. "Kami sudah pernah menyarankan cara itu. Namun menurut Kyungsoo seorang lelaki harus menghadapi apa yang akan terjadi dan tidak boleh lari dari masalah atau menyelesaikan sesuatu dengan cara yang singkat dan mudah. Kyungsoo sering mengatakan bahwa sesuatu yang terjadi pasti memiliki maksud tertentu. Ia menganggap semua yang terjadi padanya sekarang adalah sebuah pelatihan untuk menangguhkan dirinya. Menjadikannya sekeras batu dan membuatnya lebih kuat menghadapi kemungkinan yang lebih buruk. Aku tidak tahu darimana Kyungsoo mendapatkan kata- kata emas itu. Tapi ia adalah namja luar biasa ge. Percayalah ia pasti bisa menahan semua ini. Lagipula kalau kau membawanya pergi, a-a-aku tidak siap" ucap Tao gugup ia menahan air mata yang meronta untuk jatuh. Bayangannya tentang seorang Kyungsoo yang luar biasa memang tidak berlebihan. Semua yang Tao katakan benar. Walaupun Kyungsoo adalah orang yang selalu disandung, ia juga adalah orang yang selalu menolong. Begitu singkatnya

"Baiklah. Aku percaya padamu panda" ucap Kris. Tao sontak mengangkat kepalanya yang memanggilnya panda hanyalah orang- orang terdekatnya, dan itupun tidak semuanya. Dan sekarang sang pujaan hati memanggilnya panda? Oh bayangkanlah kau duduk di posisi Tao sekarang. Didepanmu ada orang yang kau sukai dan ia memanggilmu dengan panggilan ehmm sayang? Rasanya memabukkan bukan.

"P-panda?" ucap Tao terbata.

"Ne. Matamu terlihat seperti panda. Apa salah aku memanggilmu panda? Itu sangat cocok denganmu" tanya Kris

Tao menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia tidak keberatan. Tidak sama sekali malah.

Kris tertawa kecil melihat perubahan sikap Tao yang drastis. Menurut Kris itu lucu, mungkin menurut siapapun yang mendengarnya itu lucu.

PUK

Tiba tiba ada yang menepuk pundak mereka berdua.

Ternyata orang itu adalah namja berbadan mungil bermata bulat. Ia terlihat sangat indah sekarang dengan baju lengan panjang big size yang membalut badannya sampai sekitar paha lalu diteruskan oleh celana pendek berwarna coklat yang tergantung tepat diatas lututnya. Tetesan air masih jatuh dari surai coklatnya itu menembah kesan indah pada dirinya. Aroma susu dan sabun bayi menyeruak menyapa indra penciuman kedua namja lainnya memberikan sensasi nikmat dan perasaan tenang bagi keduanya. Keadaannya sangat berbeda dengan penampilannya sebelumnya. .

Disaat ia bermandikan benda padat berbentuk serbuk dan juga biji biji dan cairan daging buah merah bernama tomat itu. Kau tak akan menyangka betapa indahnya ia yang sebenarnya jika melihat sosoknya yang seperti itu

'AKU MENGGANGGU YA?' tanya Kyungsoo karena ia muncul secara sangat tiba- tiba saat mereka sedang berbicara. Lebih tepatnya tertawa. Tao dan Kris menggeleng

"Cepat sekali kau mandi Kyung" ucap Tao. Sesungguhnya bukan Kyungsoo yang mandi terlalu cepat, tapi Tao lah yang terbawa oleh pembicaraannya dengan Kris sehingga waktu seolah olah berjalan lebih cepat dari seharusnya.

Kyungsoo hanya mengendikkan bahunya lalu menatap kedua insan didepannya itu. Kyungsoo tau benar bahwa Tao mulai menyukai gegenya. Dan Kyungsoo tau bahwa Tao adalah type dari gegenya itu. Apa salahnya mencoba menyatukan mereka? Kyungsoo kembali tersenyum menyiratkan misteri lalu berlari kecil masuk kedalam rumahnya. Kedua orang yang masih duduk di kursi taman itu pun menatap punggung namja mungil itu bingung.

Kyungsoo sengaja, tidak salah kan ia menginginkan Tao lebih dari sahabatnya kelak?

Ah jangan salah paham. Maksudnya lebih dari sahabat melainkan saudara. Saudara ipar mungkin?

.

"Kenapa dia?" Tanya Kris masih dengan tatapan bingungnya namun bedanya sekarang ia menatap Tao bukan Kyungsoo

"Entahlah. Ia jarang bertingkah aneh seperti itu" jawab Tao sambil mengendikkan bahunya

"Yasudah susul saja dia. Aku mau bekerja dulu" ucap Kris lalu melangkah menjauhi Tao dan masuk ke rumah megah itu diikuti Tao

Tao sudah sangat sering bermain kesini bahkan ia hafal 'hampir-semua' nama pelayan Kyungsoo tapi sumpah, Tao tidak pernah tahu bahwa Kyungsoo mempunyai kakak angkat apalagi setampan Kris

"Victoria ahjumma!" panggil Tao kepada kepala pelayan yang sedang mengawasi pelayan di rumah Kyungsoo yang sedang memasak tersebut

"Tao-ah? Untuk apa kau disini? Bukankah ini masih jam pelajaran sekolah? Jangan bilang kau melarikan diri lagi dengan alasan mengantar Tuan Muda Kyungsoo pulang? Oh ayolah ceritakan kepada ahjumma apa yang kau dan Tuan Muda Kyungsoo alami kali ini disekolah hingga kalian pulang lagi" ucap Yeoja berumur 30 tahun itu. Wajahnya memang penipu yang handal. Orang yang bertemu dengannya mungkin menyangka ia berumur 20 tahun. Ia bisa nampak begitu muda dan cantik di usianya yang ke-30.

"Ahjumma, bisakah kau bertanya pelan- pelan. Sikap cerewetmu tidak juga berubah. Hari ini Kyungsoo dikerjai habis- habisan lagi makanya aku membawa Kyungsoo pulang. Oh iya ahjumma, sejak kapan Kyungsoo punya gege angkat?" Tanya Tao balik namun ia sedikit berbisik di kalimat terakhirnya

"Tuan Muda Kris? Dia sudah diangkat menjadi kakak angkat Kyungsoo sejak 2 tahun yang lalu. Namun ia ditugaskan Tuan besar Do bekerja di perusahaannya di Kanada. Tapi mendengar keadaan Tuan Muda Kyungsoo yang memburuk sekitar akhir tahun belakangan, Tuan Besar Do menyuruh Tuan Muda Kris kembali dan bekerja di Korea sambil mengawasi Tuan Muda Kyungsoo" jelas Victoria

"Ooh begitu. Pantas saja aku baru melihatnya. Umurnya berapa ahjumma?" Tanya Tao lagi

"Seumuran dengan Luhan. Ia sangat pintar sehingga dipercaya bekerja di perusahaan Tuan Besar Do" jawab Victoria

"Ooh. Kyungsoo dimana ahjumma?"

"Dikamarnya mungkin. Cari saja" jawab Victoria lagi lalu kembali mengawasi pelayan- pelayan itu.

.

TOK TOK TOK

"Kyung kau didalam? Aku masuk ya?" ucap Tao lalu masuk kekamar Kyungsoo. "Ah dia tertidur. Tidak mungkin aku membangunkannya" ucap Tao sedikit berbisik. "Yasudah. Kyungsoo, aku pulang ya" bisik Tao lalu mengecup pipi sahabatnya itu dan berjingkat keluar dari kamar Kyungsoo. Setelah keluar dari kamar namja mungil itu, Tao langsung berpapasan dengan sosok tidak asing namun tidak terlalu dikenalnya itu.

"Eh Tao, kenapa keluar lagi?" Tanya namja tiang itu. Ia sudah memakai jas dan pakaian yang rapi. Pakaian kantor lebih tepatnya

"Eh itu, Kyungsoo tidur hyung. Lebih baik aku pulang saja" ucap Tao dengan raut wajah kecewa

"Hm. Kau pulang naik apa? Kau tidak bawa mobil kan?" tanya Kris lagi

"Eh iya. Mobilku masih disekolah. Mungkin aku akan naik bus"

"Tidak usah. Kau sudah mengantarkan Kyungsoo, bagaimana kalau kau kuantar pulang sebagai ucapan terimakasih. Juga agar kita bisa mengenal lebih satu sama lain. Tentu aneh rasanya jika aku tidak mengenali sahabat sahabat adikku" ucap Kris

Tao mengangguk tanpa berpikir panjang

"Kajja kemobilku" Kris berjalan diikuti Tao dibelakangnya.

.

'Rencanaku sukses'

.

Mobil Kris tidak sepi karena suasana canggung melainkan mobil itu penuh dengan tawa dan percakapan dari kedua orang yang duduk didalam mobil tersebut. Entahlah percakapan apa saja yang mereka bicarakan sehingga mereka bisa terlihat seperti sudah kenal begitu dekat. Namun sayang mobil itu menjadi sangat sepi ketika mobil itu berhenti di rumah megah (namun tak semegah milik Kyungsoo) dan satu diantara mereka keluar dari mobil itu.

"Mobilmu disekolah kan? Besok aku akan datang menjemput dan mengantarkanmu ke sekolah ya" ucap orang yang masih berada didalam mobil

"Eh? Apa itu tidak menyusahkan gege?" tanya namja yang diluar

"Tidak. Sampai bertemu besok" ucap namja yang masih ada di dalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju ke kantornya

.

Skip Time

.

"Kyungsoo bangun!" teriak Kris sambil mengetuk pintu kamar adiknya itu

"Tuan muda, Tuan muda Kyungsoo baru saja berangkat sekolah" ucap Victoria yang mendengar Kris memanggil Kyungsoo

"Hah pagi sekali? Apa dia sudah sarapan?" tanya Kris

"Sudah tuan muda. Dia berpesan agar tuan segera mandi karena Tuan Tao bisa terlambat" ucap Victoria lagi

"Oh iya bagaimana aku bisa lupa harus menjemput Tao pagi ini! Baik terimakasih ahjumma" ucap Kris lalu berlari ke kamarnya. Ia hanya menyikat giginya, membasuh wajahnya lalu mengganti bajunya. Ia yakin Kyungsoo akan marah jika ia terlambat mengantarkan sahabatnya. Eh Tunggu dulu, darimana Kyungsoo bisa tahu Kris akan mengantarkan Tao pagi ini? Entahlah adiknya itu memang hebat.

.

Kris mengendarai mobilnya dengan cepat menuju rumah Tao agar Tao tidak terlambat namun betapa menyesalnya Kris bahwa Tao sudah berangkat duluan. Entah kenapa Kris merasa sedih tidak bisa mengantar Tao sekolah hari ini. Mungkin ia mulai menyimpan perasaan terhadap sahabat adiknya itu. Bisa jadi.

.

.

Canteen

.

"Aku sebal dengan gegemu itu huh" ucap Tao sambil mempoutkan bibirnya selama Kyungsoo sedang menikmati roti bakar dihadapannya. Sebenarnya Kyungsoo belum makan tapi ia menyuruh Victoria mengatakan bahwa ia sudah sarapan agar Kris segera menjemput Kyungsoo

"Hahaha Tao kau sangat berharap" balas Suho sambil tertawa memegangi perutnya. Ia merasa Tao sangat konyol mengharapkan gege Kyungsoo yang terlihat sempurna itu

"Lagipula gege Kyungsoo sudah bekerja kan? Apa kau mau bersanding dengan om om?" tanya Luhan sambil menahan tawanya. Kyungsoo tersedak dan Sehun segera memberikannya minum

Kyungsoo menggeleng lalu memulai ejaan tangannya

'KRIS GEGE LEBIH MUDA DARIPADA LUHAN GEGE TAU' eja Kyungsoo lalu memakan rotinya lagi dan tidak memperdulikan ekspresi kaget dari Luhan dan Suho juga ekspresi bingung Sehun

"Apa yang ia katakan?" tanya Sehun

"Kata Kyungsoo, gegenya lebih muda daripada Luhan ge" jelas Tao dengan nada penuh kemenangan. Sehun hanya mengangguk mengerti. Ia tidak tahu bagaimana sosok gege Kyungsoo sehingga ia tidak sekaget Luhan dan Suho.

"Aku ingin belajar mengerti bahasa isyarat Kyungsoo hyung" ucap Sehun

"Aku akan mengajarimu!" ucap Luhan semangat

"Jinjja? Baguslah. Aku ingin sepenuhnya menjadi sahabat kalian semua" ucap Sehun dibalas senyuman keempat namja lainnya. Kyungsoo senang ia akan mempunyai teman baru

"Kyungsoo, nanti kau pulang bersamaku ya? Luhan kan akan mengajari Sehun dan Tao membawa mobil" ucap Suho

Kyungsoo menggeleng. 'AKU JUGA MEMBAWA MOBIL KOK. LAGIPULA AKU AKAN MENGIKUTI KELAS MUSIK NANTI. MUNGKIN AKAN LAMA. AKU PULANG SENDIRI SAJA' eja Kyungsoo

"Hmm baiklah. Ayo masuk ke kelas!" balas Suho yang membuat keempat namja lainnya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kelas masing- masing.

.

Skip Time

.

Hari ini merupakan hari yang tenang bagi Kyungsoo, Kai, Xiumin dan gengnya tidak mengganggunya sama sekali. Sehun bilang Kai juga tenang di kelas hari ini. Sesuatu yang aneh namun Kyungsoo menyukainya. Padahal seharusnya Kyungsoo justru curiga dengan semua ini. Seharusnya otak robotnya mengira ngira apa sebab semua ini dan kenapa ini bisa sampai terjadi. Bukannya bersantai seperti saat ini. Merasa tidak ada ancaman atau tanda- tanda pembullyan, Kyungsoo berjalan dengan santai di area sekolahnya. Ia hendak pergi ke ruangan musik. Sekolah sudah sepi, tinggal orang- orang yang akan mengikuti ekskul saja yang masih bertahan di tempat menuntut ilmu ini. Seharusnya ia tetap waspada kan?

.

SRET
.

Seseorang menarik namja bertubuh mungil itu dan menyeretnya ke lapangan. Sungguh Kyungsoo kaget dan tidak habis pikir bagaimana sekarang ia sudah terikat di tiang bendera dan dikelilingin namja namja yang sudah menyiapkan balon air yang siap ditembakkan kepadanya. Kyungsoo menutup matanya berniat menyiapkan mentalnya namun terlambat.

.

PAK

.

Ia merasa kepalanya sakit dan basah dalam waktu bersamaan. Itu tembakan balon pertama.

"BAGAIMANA RASANYA BODOH?!" teriak sebuah suara. Kyungsoo mengenal suara itu. "DIMANA PARA PELINDUNGMU ITU?HAH?" lanjutnya. "Lempar!" Itu adalah kata kata terakhir yang Kyungsoo dengar dari orang itu (-Xiumin) sebelum pendengarannya diredam oleh puluhan balon air yang pecah mengenai tubuhnya.

Sakit?

Tentu.

Basah?

Ya.

Malu?

Sangat.

Namun semua itu tidak lama. Ia merasakan seseorang merengkuhnya dan menghalangi balon balon air itu menyakitinya. Orang itu memeluknya sehingga balon balon itu mengenai punggungnya. Kyungsoo mengangkat kepalanya dan melihat siapa orang itu. Dia Luhan. Xi Luhan

"Aku sudah bilang jangan pergi jauh- jauh dariku Do Kyungsoo" bisiknya. Kyungsoo masih bisa mendengarnya walaupun samar samar karena suara pecahan balon air itu lebih mendominasi. Tidak lama kemudian tangan Luhan berpindah ke telinga Kyungsoo dan menutupnya erat

"BERHENTI KALIAN SEMUA!" teriak Luhan. Suaranya terdengar sangat keras dan bercampur dengan emosi. Kyungsoo masih dapat mendengar teriakan itu dengan jelas walaupun kedua tangan Luhan menghalanginya tetapi posisinya dengan Luhan yang sangat dekat saat ini dan suara Luhan yang sangat keras membuat Kyungsoo mendengarnya. Tidak lama setelah suara teriakan Luhan, semua balon itu berhenti ditembakkan. Luhan segera melepaskan ikatan di tangan Kyungsoo dan membawanya pergi tanpa basa- basi. "Aku kembali hanya untuk mengambil buku. Lepas saja jasmu, kau bisa masuk angin Kyung. Berhati- hatilah. Setelah selesai ekskul langsung pulang ya hyungmu pasti khawatir" ucap Luhan penuh kasih sayang. "Ayo kuantar kau keruang musik" ucap Luhan sambil menggandeng tangan Kyungsoo dan berlari menuju ruang musik. "Belajar yang baik ya selamat bersenang senang" ucap Luhan lalu berlari menjauh menuju ke mobilnya. Kyungsoo tersenyum. Ia tidak menyangka ia memiliki harta yang paling berharga yaitu sahabat sahabatnya. Kyungsoo memasuki ruangan musik itu. Betapa bingungnya namja bermata bulat itu mendapati ruangan musik gelap.

'Kenapa lampunya mati?' tanyanya dalam hati. Kyungsoopun menyalakan lampu ruang musik itu. 'Kosong? Kemana yang lainnya?' batinnya lagi. Ia lalu duduk di kursi depan grand piano di ruang musik itu. Ia lalu menemukan sebuah catatan

'Ekskul musik hari ini ditiadakan karena banyak yang berhalangan hadir'

Kyungsoo menghela nafasnya. 'Sudah sampai sini, lebih baik aku berlatih sendiri' pikir Kyungsoo. Kyungsoo pun membuka grand piano itu lalu menekan tutsnya dan melahirkan nada nada yang indah. Air matanya menetes. Ia sangat ingin bernyanyi saat ini namun mengapa suaranya enggan keluar. Ia benci, sangat benci. Jari jari lentiknya menari nari diatas tuts piano itu seolah olah seorang menari ditengah hujan karena air matanya terus menetes melambangkan kepedihan dan kelelahan yang ia rasakan. Beban yang ia rasakan memang sudah terlalu berat sekarang.

Kalau saja ia bisa, ia ingin berteriak sekencang mungkin lalu menangis sekencang kencangnya setidaknya agar bebannya terlampiaskan.

Kalau saja ia bisa, ia ingin melemparkan beban itu ke sembarang arah asalkan beban itu pergi dan tidak menganggu hidupnya lagi. Sungguh kata lelah itu kurang untuk mengukirkan apa yang Kyungsoo rasakan.

Ia mulai memainkan piano itu lagi

Barami malhaejuneun yaegi sesangeun deo geochildamyeo hajiman idaeroramyeon waenji gwaenchanheul geotman gata

Nae meorissoge neomchineun jilmundeure
Nuga daphaejulkka haneobsi gidarijiman geu
Dabeul chatneun geon nayeotdaneun geol

Jogeum tteollineun mameun gamchugo
Geunyang ne sonman kkok japgo dalligo sipeora
Mak ssodajineun chorokbisoge urin deo singgeureowojyeo
Neul ai gatdeon cheoreopgiman haetdeon naega deo keobeorin geon nareul mideojun
Ne nunbit hana, hanbeonui miso
Geugeollo chungbunhaetdago

Gadeon giri teullyeo, hogeun makhyeoisseo
Meomchwo seol ttae urin eotteoke haeya halkka
Geurigo geu gireul neomeoseoneun geu sungan eotteon eolgullo seo isseulkka

Jogeum tteollineun mameun gamchugo
Geunyang ne sonman kkok japgo dalligo sipeora
Mak ssodajineun chorokbisoge urin deo singgeureowojyeo
Neul ai gatdeon cheoreopgiman haetdeon naega deo keobeorin geon nareul mideojun
Ne nunbit hana, hanbeonui miso
Geugeollo chungbunhaetdago

SHINee- Green Rain

Hatinya menyanyi, menuangkan rasa pedih yang ia rasakan selama ini. Ia tersenyum menghapus air matanya dengan punggung tangannya lalu menutup Grand piano itu. Ia ingin bermain piano lagi tapi ia merasa tidak nyaman karena bajunya yang basah. Ia pun menyudahi permainannya dan membuka bajunya lalu mengibaskannya agar baju itu lebih kering

.

.

'Indah sekali permainannya, siapa yang masih ada di ruang musik saat ini? Bukankah hari ini ekskul musik tidak ada?' batin seseorang di ruang tari. Orang berkulit tan itupun berjalan keluar dari ruangan yang dikelilingi cermin itu lalu menuju ruangan disebelahnya dan membukanya. 'K-kyungsoo?' matanya membulat melihat sosok yang ada dihadapannya saat ini. Kai melihat dengan jelas tubuh Kyungsoo yang seputih susu. Entah setan darimana yang membuatnya melangkah masuk kedalam ruangan itu. Katakan saja Kai sudah gila sekarang.

KRIETT

CKLEK

Suara pintu yang terbuka dan lalu ditutup dengan lembut itu seolah olah memanggil Kyungsoo untuk menolehkan kepalanya ke sumber suara. Matanya membulat melihat siapa pelakunya. Yang membuat Kyungsoo panik adalah Kai yang berjalan mendekatinya dan keadaannya yang shirtless saat ini. Kyungsoo segera mencoba memakai pakaian di tangannya namun tangan kekar Kai menahannya.

"Aku tidak pernah tahu kau indah, Bisu~" bisik Kai. Kai mengunci Kyungsoo di dinding pojok ruang musik. Satu tangannya menahan tangan Kyungsoo dan tangan yang satu lagi mengunci pergerakan Kyungsoo. "Hari ini aku belum membullymu kan? Bagaimana jika kau berterimakasih dengan cara.. Melayaniku" bisik Kai tepat di telinga Kyungsoo lalu mengigit daun telinga yang putih bersih itu layaknya ulat yang kelaparan. Panggil saja Kai si beruntung karena Kyungsoo tidak bisa berbicara. Jika ia bisa, percayalah Kyungsoo sudah berteriak dan membuat siapapun datang ke tempat ini. "Kau mandi menggunakan sabun bayi hm? Kulitmu selembut dan seharum bayi" bisik Kai lalu menjilat leher putih Kyungsoo. Menggigit dan menghisapnya meninggalkan jejak keunguan disana. Kyungsoo menutup matanya sangat erat. Ia belum pernah sedekat ini dengan Kai apalagi tubuh mereka bersentuhan. "I'll melt you down like ice cream" bisik Kai lagi lalu mulai menempelkan bibirnya pada bibir cherry Kyungsoo. Kai menyesap bibir manis namja bermata bulat itu menggigit gigitnya layaknya singa yang lapar, lidahnya menari di permukaan bibir cherry itu mencoba membuat gerbang yang menghalangi goa hangat itu terbuka. Merasa tidak diperdulikan, gigi Kai ikut beraksi menggigit gigit pintu gerbang yang menutupi sebuah telaga manis itu sehingga gerbang itu mengeluarkan cairan merah kental. Dihisapnya cairan itu. 'Manis' ini belum seberapa karena gerbang itu telah terbuka. Lidah Kai masuk menelusuri goa hangat itu, mengabsen setiap gigi sang pemilik lalu mengajak penghuninya bermain. Kai mulai dengan mendorong lidah Kyungsoo hingga ia mulai bereaksi. Mereka saling mendorong, mengikat dan menikmati. Lidah Kai keluar sebagai pemenang, ia mendapatkan telaga manis yang ia cari. Persetan karena insan didepannya dan ia tentunya membutuhkan asupan oksigen yang membuat permainan manis itu berakhir dengan jembatan saliva merentang dari bibir keduanya.

Puas dengan kegiatan menghirup oksigen yang ia anggap sedikit mengganggu, Kai membawa Kyungsoo untuk berbaring dilantai dan ia menumpu diatasnya. Leher putih nan jenjang milik Kyungsoo berhasil membuatnya merasa lapar. Ia segera menggigit dan menghisapnya meninggalkan jejak keunguan yang menurutnya indah namun sakit bagi Kyungsoo. Tidak puas dengan leher itu, Kai turun lagi menuju sebuah gundukan pink kecoklatan mungil yang mulai mengeras. "Kau terangsang juga huh?" godanya sebelum mulai memanjakan gundukan mungil itu. Kai menyentuhnya sedikit lalu menjepitnya dengan dua jarinya. Permainannya terasa sangat lincah diatas tubuh namja mungil itu, sumpah Kyungsoo sudah berusaha mendorong Kai namun nihil sentuhan Kai diatasnya membuatnya lemas. Selama Kyungsoo sudah mulai menangis, Kai semakin gila. Ia menggigit nipple mungil yang menurutnya manis itu selama bibir sexynya berusaha mencari kenikmatan di salah satu nipple Kyungsoo itu, tangannya ikut berperan memuaskan namja dibawahnya itu. Memainkan nipple satunya. Mencubitnya hingga namja dibawahnya itu menutup matanya erat.

Bagaimana Kyungsoo bisa mengiaskan kenikmatan yang Kai berikan saat ini? Mengeluarkan sebuah lenguhan menggoda dari bibirnya saja ia tidak bisa. Kyungsoo menggigit bibirnya sampai lagi lagi bibir tak bersalah itu mengeluarkan darah saat Kai mencubit kuat nipple kirinya dan menggigit nipple kanannya hingga berdarah. Perih namun nikmat. Kai menggesekkan juniornya dengan milik Kyungsoo yang masih terbungkus rapi dibawah sana membuat Kyungsoo menjadi gila. Ia menjambak rambut Kai untuk melampiaskan rasanya saat ini. Kai turun lagi ke cekungan indah di perut rata Kyungsoo. Lidahnya bermain di pusarnya selama tangannya sudah mulai melepas ikat pinggang Kyungsoo dan menurunkan celana panjang Kyungsoo sedikit sampai junior mungilnya yang diselimuti celana dalam itu dapat terlihat dengan jelas. Sepenuhnya tegak seperti milik Kai sekarang.

Tangan kiri Kai mulai mengelus batang adik Kyungsoo itu. Lidahnya masih bermain di cekungan Kyungsoo yang menurutnya manis itu dan tangan kanannya mengelus selangkangan Kyungsoo yang membuat cengkraman Kyungsoo dirambutnya semakin kencang. Merasa penasaran dan ingin berkenalan dengan adik kecil Kyungsoo itu, ia segera menurunkan semua celana Kyungsoo hingga namja mungil itu naked total sekarang.

"Aku tak pernah tahu kau sangat indah" ucap Kai lalu menyentuh kepala junior Kyungsoo itu. Ia mengelusnya pelan lalu meniup junior mungil itu. Menggenggamnya dengan erat membuat Kyungsoo kesakitan. Erangannya tertahan dimulutnya. Ingat, Kyungsoo bisu sepenuhnya, suara sekecil apapun tidak bisa ia ciptakan. Kai mulai menggerakkan tangannya, mengocok junior Kyungsoo dengan tempo lambat. Bermain dengan adik Kyungsoo merupakan sesuatu yang menyenangkan. Kai tidak pernah membayangkan bahwa Kyungsoo seindah ini. Mungkin bibir Kai merasa iri dengan tangannya yang terus bermain dengan adik kecil itu, bibir Kai mengambil alih permainannya. Ia memasukkan junior Kyungsoo ke mulutnya. Menggigit gigit batangnya membuat Kyungsoo mencakar ubin marmer kelas musik itu. Perasaan asing yang baru pertama kali ia terima itu memabbukkannya seolah olah menggelitik perutnya dan menyengat lehernya. Hatinya memaksa mengeluarkan desahan atau semacamnya namun suara itu tertahan. Tak bisa ia muntahkan walau hanya sedikit.

Merasa tubuh Kyungsoo menggodanya, Kai segera melucuti semua pakaiannya. Tereksposlah tubuh indahnya yang dibalut kulut tan sexy yang berhasil membuat Kyungsoo memerah. Juniornya tidak bisa dikatakan kecil. Kyungsoo meneguk ludahnya kasar. Mungkin ini akan sangat menyakitkan mengingat bersama berjalannya waktu junior itu akan merobek single holenya dengan paksa. Ia yakin Kai tidak akan membuatnya menikmati permainannya. Kai pasti akan mengusahakan kenikmatannya dan tetap menyiksa Kyungsoo.

Ia menuntun juniornya ke bibir cherry Kyungsoo. Tidak adil jika hanya bibirnya yang merasakan bibir Kyungsoo. Adik kecilnya juga harus merasakannya bukan? Kyungsoo bingung apa yang harus ia

"Aku tak pernah tahu kau sangat indah" ucap Kai lalu menyentuh kepala junior Kyungsoo itu. Ia mengelusnya pelan lalu meniup junior mungil itu. Menggenggamnya dengan erat membuat Kyungsoo kesakitan. Erangannya tertahan dimulutnya. Ingat, Kyungsoo bisu sepenuhnya, suara sekecil apapun tidak bisa ia ciptakan. Kai mulai menggerakkan tangannya, mengocok junior Kyungsoo dengan tempo lambat. Bermain dengan adik Kyungsoo merupakan sesuatu yang menyenangkan. Kai tidak pernah membayangkan bahwa Kyungsoo seindah ini. Mungkin bibir Kai merasa iri dengan tangannya yang terus bermain dengan adik kecil itu, bibir Kai mengambil alih permainannya. Ia memasukkan junior Kyungsoo ke mulutnya. Menggigit gigit batangnya membuat Kyungsoo mencakar ubin marmer kelas musik itu. Perasaan asing yang baru pertama kali ia terima itu memabbukkannya seolah olah menggelitik perutnya dan menyengat lehernya. Hatinya memaksa mengeluarkan desahan atau semacamnya namun suara itu tertahan. Tak bisa ia muntahkan walau hanya sedikit.

Merasa tubuh Kyungsoo menggodanya, Kai segera melucuti semua pakaiannya. Tereksposlah tubuh indahnya yang dibalut kulut tan sexy yang berhasil membuat Kyungsoo memerah. Juniornya tidak bisa dikatakan kecil. Kyungsoo meneguk ludahnya kasar. Mungkin ini akan sangat menyakitkan mengingat bersama berjalannya waktu junior itu akan merobek single holenya dengan paksa. Ia yakin Kai tidak akan membuatnya menikmati permainannya. Kai pasti akan mengusahakan kenikmatannya dan tetap menyiksa Kyungsoo.

Ia menuntun juniornya ke bibir cherry Kyungsoo dan mengambil posisi 69. Tidak adil jika hanya bibirnya yang merasakan bibir Kyungsoo. Adik kecilnya juga harus merasakannya bukan? Kyungsoo tidak memberikan reaksi apapun sebelum Kai mendorong juniornya lebih masuk ke mulut Kyungsoo yang kecil itu. Mulutnya penuh ia hanya bisa memaju mundurkan junior besar milik Kai yang sekarang memenuhi mulutnya itu. Tidak lama kemudian Kyungsoo merasakan sesuatu menerobos bawahnya. Rasanya sakit. Sangat sakit. Ternyata Kai memulai pemanasannya. Ia memasukkan dua jarinya sekaligus membentuk gerakan zig zag untuk melonggarkan single hole Kyungsoo yang nantinya akan menjadi tempat singgah adik kecilnya.

Kyungsoo meringis. Ia melepaskan junior Kai dari kulumannya ia merasakan sebuah kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Kai terus menggerakkan kedua jarinya itu mengaduk aduk lubang itu sampai Kyungsoo menjambak rambutnya keras, ia tahu maksudnya, Kai menemukan titik itu. Titik kenikmatan bagi Kyungsoo. Kai terus menumbuk titik itu membuat Kyungsoo menggelinjang hebat. Keringatnya bercucuran menambah kesan sexy yang ada pada dirinya yang sudah full naked itu. Kyungsoo mengadah keatas menampilkan lehernya yang sudah tidak bersih lagi membuat Kai semakin bernafsu. Digesekkannya junior big sizenya itu ke leher namja putih dibawahnya membuat namja mungil itu mencengkram selangkangan Kai dengan sangat kuat membuat namja itu mendesah

"Ahh"

Suara itu yang Kai keluar saat Kyungsoo menyentuh selangkangannya itu. Merasa mulutnya menganggur, Kai mengulum adik Kyungsoo yang sudah tegak namun belum mencapai klimaksnya. Digigitnya batangnya lalu dijilat puncaknya. Ia mengulum twinsballnya yang lagi lagi berhasil membuat Kyungsoo mengeratkan cengkramannya. Kai yakin Kyungsoo pasti sudah mendesah berat saat ini jika ia bisa. Kai merasakan junior mungil dimulutnya mulai berkedut. Kyungsoo menembakan cairan benihnya itu di mulut Kai. Kai menelan semua cairan Kyungsoo itu, merasakan cairan putih itu membasahi kerongkongannya memberinya sebuah kesegaran tak terbatas. Merasa bosan, Kai pun menarik adik kecilnya dari leher Kyungsoo dan memasukannnya kedalam lubang Kyungsoo. Masih sempit walaupun Kai sudah melonggarkannya tadi.

Kyungsoo meneteskan air matanya saat junior Kai mulai menerobos lubangnya. Rasanya sangat sakit dan perih. Holenya dirobek secara paksa.

"Ahhh Kyungghhh sempithhhhh" desah Kai padahal juniornya belum tertanam sempurna. Kepalanya mengadah keatas merasakan pijitan ekstra profesional yang diberikan oleh hole Kyungsoo yang sangat ketat itu. Lubang itu menyempit seolah olah menyesap kejantanan Kai lebih dalam membuat pemilik benda tumpul itu merasakan surga dunia. Entah kenapa rasanya berbeda dengan saat ia melakukannya dengan orang lain. Rasanya kali ini jauh lebih nikmat dan indah. Cairan dan bibir Kyungsoo rasanya lebih manis daripada seks yang pernah ia lakukan dulu.

Kyungsoo memejamkan matanya sambil mencengkram erat bahu Kai. Setelah ia mencapai klimaksnya tadi, ia merasa sangat lelah dan ingin berhenti namun permainan belum benar benar dimulai. Tidak lama setelah kejantanan Kai tertanam sempurna dengan Kyungsoo, Kai mulai menggerakkan pinggulnya. Menusuk nusuk lubang Kyungsoo. Rasa sakit yang Kyungsoo rasakan sekarang sudah berubah menjadi sebuah perasaan nikmat yang memuaskan. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kai menggenjot semakin liar. Suara gesekkan hole Kyungsoo dan juniornya menggema di ruang musik itu. Akhirnya setelah cukup lama berkelana di lubang sempit itu, Kai menemukan titik yang membuat Kyungsoo menggelinjang dan mencengkramnya makin erat. Ditumbuknya lubang itu berkali kali membuat Kyungsoo dibawahnya mendesah tanpa suara.

"Oohh hyuungghh iniihh nikmatthhhhhh. Ohhhhh fuckhh why so tigghttt" Kai merasakan sebuah kenikmatan tambahan saat ia merasa adiknya berkedut. Ia segera mengambil seruling yang masih ada dalam jangkauannya dan memasukkannya bersama kenjantanannya.

Kyungsoo membulatkan matanya. Rasanya sangat sakit. Kai memasukkan benda asing itu ketubuhnya bersama dengan kejantanan Kai yang semakin membesar dan mengeras didalam sana. Kai sudah gila. Ya ia gila

"Kyungghhh ohhh sempitthh sshhhh" desah Kai dan semakin mendorong seruling itu. YaTuhan Kyungsoo sudah menangis tak karuan dibawah Kai sekarang. Kai memaksa seruling tak berdosa itu ikut menyakiti Kyungsoo. Bahkan ujungnya menggores kulit hole Kyungsoo dan melahirkan darah disitu.

CROTT

Cairan benih Kai menembak hole Kyungsoo tepat di titik prostatnya. Kai langsung ambruk diatas tubuh Kyungsoo yang matanya sudah memerah karena terlalu banyak menangis. Kai memang keterlaluan malam ini. Kesadaran Kai langsung hilang. Ia segera menuju kealam mimpi setelah memutar badannya menjadi disebelah Kyungsoo. Ia tertidur dengan posisi junior yang masih ada di lubang Kyungsoo bersama sebuah seruling.

.

Skip Time

.

Kai terbangun karena suara handphonenya yang berdering

"Engh yeob-"

"KKAMJONG! DIMANA KAU! INI SUDAH HAMPIR PUKUL 1 DAN KAU BELUM PULANG EOH? TIDAK MUNGKIN KAU MASIH DISEKOLAH KAN?! CEPAT PULANG ATAU AKU AKAN MENELFON EOMMA MU!" teriak suara diseberang sana -Xiumin. Kai masih belum sepenuhnya terbangun. Ia bangun dari tempatnya. Melihat sebuah seruling penuh darah dan jejak darah kearah luar pintu ruang musik. Kai diam. "HEY KKAMJONG!"

'Sejahat itukah aku?'

.

.

.

.

TBC


Ottokhae? Gabisa bikin NC mian.

Maksa banget ya?

RnR Ok/