author: ruccrys
I'm Sorry
Main Cast:
Kyungsoo, Kai
.
Boys Love don't like don't read!
no plagiarism, no siders
[isyarat tangan Kyungsoo di italic]
Setidaknya, mereka semua sekarang tidak lagi terikat dalam hubungan permusuhan tapi pertemanan
Terimakasih untuk Kyungsoo yang hilang
dan, Terimakasih untuk Kai yang menemukannya
.
.
.
Kris mengajak Kyungsoo dan yang lainnya untuk masuk kedalam rumahnya. Kyungsoo yang merasa bersalah kepada Kai jadi membantu namja berkulit tan itu untuk berjalan karena Kai mengatakan bahwa kepalanya masih pening karena lemparan frisbee Kyungsoo yang sangat kencang. Dan anehnya, Luhan dan Suho tak lagi merasa cemburu dan menghujani Kai dengan tatapan pembunuh.
Apa yang terjadi?
Entahlah.
Mungkin Cinta.
Mungkin,
Semejak insiden Kyungsoo hilang dan mereka mencari Kyungsoo secara berpasangan, entah kenapa pasangan itu menjadi sangat dekat. Contohnya, Suho yang sudah berani mengajak Yixing mengobrol, Sehun yang terus bermanja- manja dengan Luhan, Kris yang sering senyum- senyum sendiri saat berbicara bersama Tao, Chen yang terus berpandang- pandangan dengan Xiumin, Chanyeol yang gombalannya sudah mulai direspon oleh Baekhyun bahkan Kai yang sudah berhasil membuat Kyungsoo mau berinteraksi dengannya.
.
"Kyungsoo" panggil Kai. Sekarang semua orang yang ada di rumah itu sedang bermain- main dengan koleksi mainan Kyungsoo. Selama itu Kyungsoo sedang berkutat dengan ponselnya. Kyungsoo menoleh lalu memberi Kai isyarat menggunakan dagunya yang bermaksud mengatakan 'ada apa'. "Hm aku bosan. Maukah kau mengantarku ke bagian dari rumahmu yang menurutmu menarik?" Kai berkata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena mencari- cari kata yang cocok. Kyungsoo nampak berfikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya dan menarik tangan Kai.
'Hangat' Kai merasakan tangan mungil Kyungsoo menggenggam pergelangan tangannya dan membawanya turun ke lantai satu lalu membawanya keluar melalui pintu belakang di dekat sebuah tempat gym. Kyungsoo membawa Kai ke sebuah taman yang tak terlalu besar dengan kolam ikan kecil didalamnya. Taman itu terletak didekat kolam renang. Walaupun tak terlalu luas, namun taman itu terlihat rapi dan bersih membuat Kai nyaman berada disana apalagi dengan Kyungsoo disebelahnya.
Kyungsoo menatap Kai bermaksud menanyakan apakah ia suka tempat ini. Kai tak mengerti maksud tatapan Kyungsoo justru menutup matanya lalu menghirup udara segar dan bau rerumputan yang bercampur bau bunga- bunga taman. Kyungsoo beranjak dari tempat duduk lalu meninggalkan Kai ke tepi kolam renang. Kyungsoo memasukkan kaki kecilnya kedalam kolam renang sambil mendengarkan lagu dengan perantara headset dari iPhonenya ke telinganya. Kyungsoo memejamkan matanya menikmati alunan lagu yang membisik di telinganya.
.
PUK
.
Seseorang menepuk bahunya. Awalnya Kyungsoo mengira itu adalah Kai, tapi ternyata itu adalah Victoria. Kyungsoo menatap Victoria dengan tatapan penasaran tanpa melepas headsetnya. Victoria menggeleng lalu melepaskan sebelah headset Kyungsoo
"Jinri datang"
Senyum Kyungsoo mengembang lebar. Namja bertubuh mungil itu segera mengeluarkan kakinya dari kolam renang lalu berlari kedalam rumahnya. Kai sempat melihat Kyungsoo berlari setelah Victoria mengatakan sesuatu padanya pun beranjak dari tempat duduknya lalu mengejar Victoria.
"Ahjumma, Kyungsoo kemana?" Kai memegang bahu Victoria
"Ada teman kecilnya datang. Kau tunggu saja di taman. Biasanya mereka akan langsung ke taman" ucap Victoria lalu pergi masuk. Kai mengangguk lalu kembali ke taman kecil tadi. Benar yang Victoria katakan. Belum lama ia menunggu, Kyungsoo datang membawa seorang..
gadis?
.
'Siapa gadis itu?' tanya Kai dalam hati. Ia tak pernah tahu bahwa Kyungsoo mempunyai seorang teman perempuan. Ya mungkin karena Kai tak mengetahui apapun dari Kyungsoo saat ini.
"Oppa, dia siapa?" tanya yeoja itu
'TEMANKU. NAMANYA KAI' eja Kyungsoo
"Oohh. Annyeong Kai-ssi. Namaku Jinri" ucap yeoja itu sambil tersenyum. Ia sangat manis dan matanya membentuk bulan sabit saat ia tersenyum. Giginya putih dan rapi, rambutnya pendek berwarna coklat kemerahan dan posturnya tinggi dan kurus. Tubuh ideal idaman para wanita
"Annyeong Jinri-ssi" Kai membungkukkan badannya sambil tersenyum
"Kau namjachingu Kyungsoo?" tanyanya frontal membuat Kai dan Kyungsoo membulatkan mata mereka.
"Eeehh? Aniya. Aku hanya temannya disekolah" elak Kai. Padahal jelas- jelas ia ingin berkata 'Doakan saja' namun ia rasa itu terlalu vulgar dan berlebihan.
"Ooh kukira Kyungsoo oppa sudah bisa membuka hatinya" ucap Jinri sedikit berbisik. Kai menajamkan pendengarannya.
'Apa maksud gadis ini?'
'OH IYA, AKU AMBILKAN MINUMAN DULU. KALIAN NGOBROL SAJA' eja Kyungsoo tiba- tiba lalu berjalan pelan masuk ke rumahnya
.
"Kau menyukai Kyungsoo kan?" Jinri bertanya sambil melangkahkan kakinya ketepi kolam ikan mini di taman itu. Mata Kai membulat mendengar pertanyaan Jinri. Apakah ia bisa membaca pikiran orang seperti yang biasanya Sehun lakukan?
Kai lebih memilih diam
"Jujur saja Kai-ssi. Aku dapat memahami pandanganmu" lanjut Jinri
"Err memang kenapa Jinri-ssi?" tanya Kai
"Aku harap kau bisa membuka hati Kyungsoo" ucapnya sambil memberi makan ikan dari makanan ikan yang tersedia di pinggir kolam
"M-maksudmu?" Kai berjalan mendekati Jinri lalu berdiri disebelahnya
"Ya, kejadian tiga tahun lalu yang telah merenggut suara merdu Kyungsoo dan juga merenggut nyawa Myungsoo membuatnya tak mau membuka hati sama sekali kepada siapapun"
"M-maksudmu, kejadian yang menyebabkan Kyungsoo trauma dan tak dapat mengeluarkan suaranya?"
Jinri mengangguk
"Apa yang terjadi padanya?"
"Apakah kau benar- benar ingin tahu?
"Sangat"
"Baiklah" Jinri berjalan kearah taman yang tempatnya sedikit tinggi seperti bukit kecil diujung taman lalu duduk disana. Ia menutup matanya lalu menghirup bau rumput yang menenangkan lalu menghela nafasnya lembut. "Saat itu, aku, Kyungsoo dan Myungsoo sedang bermain bersama."
.
.
Flashback on
.
.
"Hey Myungie hyung! Aku sudah bisa menyanyi dengan baik loh! Tanyakan saja pada Jinri!" seorang namja bermata bulat dengan pakaian Junior high school memamerkan bakat barunya
"Jinjjayo? Apa suaramu lebih bagus daripada milikku?" namja bermata sipit yang dipanggil Myungie itu menoleh dan bertanya balik, namja bermata bulat itu mengangguk mantap. "Benarkah itu Jinri?" ia bertanya kepada yeoja manis disebelah namja bermata bulat itu. Ia mengendikkan bahunya
"Menurutku suaraku lebih bagus" jawabnya santai lalu membuka mulutnya bersiap- siap menarik suara "Aa-mpphh!" sebuah tangan besar membekap mulutnya. Jinri memukul- mukul tangan yang membekapnya itu. Sang pemilik tangan menyeret Jinri
"Jinri! Jinrii!" teriak Myungsoo lalu mencoba mengejar orang- orang bertubuh kekar yang membawa sahabatnya itu
"Myungie hyung! Jinriya!" namja yang bermata bulat ikut mengejarnya. Namun karena kaki mungilnya dan juga kemampuan payahnya, namja bernama Kyungsoo itu harus tertinggal dibelakang.
Kyungsoo dapat menyusul mereka lama setelah itu. Sekarang mereka berada di sebuah gang sempit dengan posisi Jinri sedang menangis di ujung gang dan Myungsoo sedang membentak namja- namja bertubuh besar itu. Kyungsoo hanya bisa diam dan bersembunyi dibalik tempat sampah karena ia takut. Mereka hanya anak kecil dengan tangan kosong sementara orang- orang itu adalah namja dewasa bertubuh besar dengan pisau ditangan mereka.
"Lepaskan Jinri!" teriak Myungsoo
"Apa? Lepaskan? anak itu? Ah ah tidak semudah itu anak tampan. Berikan dulu nomor telpon orang tuamu" ucapnya sambil menyodorkan ponselnya
Myungsoo meraih ponsel itu lalu melemparnya kearah dinding sampai ponsel itu pecah dan hancur
"Jangan bermimpi pak tua yang jahat!" bentaknya setelah melempar ponsel itu. "Aku tak akan sudi membagi nomor ponsel orang tuaku pada sampah masyarakat seperti kalian!" bentaknya lagi.
Namja bertubuh kekar itu emosi, ia mengangkat kerah Myungsoo hingga namja bermata sipit itu ikut terangkat dan tubuhnya melayang- layang diatas udara.
"Kau mau bernasib sama seperti ponselku?!" teriaknya
"MYUNGSOO OPPA!" teriak Jinri dan ia langsung dibekap oleh namja kekar yang ada di dekatnya.
"Aku tak takut padamu! Orang benar selalu menang!" balasnya sambil menendang- nendangkan kaki jenjangnya di udara
"Kau pikir kau benar?!" bentaknya masih dengan Myungsoo ditangannya. Ia mengeratkan remasannya di kerah Myungsoo hingga Myungsoo tercekik. "CEPAT BERIKAN NOMOR ORANG TUAMU ATAU KAU AKAN BERNASIB SAMA DENGAN PONSELKU ANAK BODOH!" teriaknya
"ANIYO! TAK AKAN PERNAH!"
.
BRAKK
.
Namja bertubuh kekar itu melemparkan tubuh Myungsoo yang terasa ringan di tangannya ke arah kemana Myungsoo melemparkan ponselnya hingga Myungsoo terlempar dan tubuhnya menghantam dinding dengan keras. Tubuh namja mungil itu mengeluarkan darah dari kepalanya dan beberapa bagian lain. Myungsoo meringis kesakitan namun ia masih berusaha bangkit. Ia terlihat tertatih dan menahan sakit, sepertinya kakinya patah
"LEPASKAN JINRI!" teriaknya lagi
.
BUAGGH
.
Namja bertubuh kekar itu menendang Myungsoo hingga Myungsoo terjengkang dan terhempas cukup jauh bahkan dekat dengan Kyungsoo. Tubuh Kyungsoo bergetar hebat melihat orang yang sangat ia cintai berjuang demi sahabatnya bahkan sampai ia sekarat seperti itu. Kyungsoo ingin berbuat sesuatu, namun ia tak sekuat, tak seberani, dan tak sebodoh Myungsoo yang menantang namja- namja itu dengan tangan kosong. Kyungsoo memutar otaknya dengan cepat. Ia sedang tak membawa ponsel, ia menutup matanya memikirkan apa yang kira- kira bisa ia lakukan untuk menyelamatkan Myungsoo dan Jinri. Saat ia membuka mata, Myungsoo sedang mencoba untuk berdiri dan menghadap kearahnya dengan tatapan 'pergilah' karena tangannya mengayun mengusir Kyungsoo.
Myungsoo tak mau orang yang ia cintai melihatnya mati atau bahkan ikut mati bersamanya.
Kyungsoo menggeleng lemah. Ia sudah menangis di tempat persembunyiannya dan bermaksud membantu Myungsoo yang sedang mencoba untuk berdiri. Myungsoo yang mengerti maksud gerak- gerik Kyungsoo menggeleng melarang Kyungsoo membantunya.
"Selamatkan dirimu Kyungie. Pergi dari sini, S-s-sarang-"
.
BATSS
.
Pisau itu dilemparkan namja bertubuh kekar lagi tepat mengenai leher bagian belakang Myungsoo hingga remaja tampan itu memuntahkan darah yang cukup banyak
"hae" lanjutnya pelan sebelum tubuhnya ambruk tepat didepan Kyungsoo.
"MYUNGIE HYUUNGG!" Kyungsoo segera keluar dari tempat persembunyiannya lalu membalikkan tubuh Myungsoo memastikan bahwa pemilik hatinya itu masih hidup. Kyungsoo menangis hebat saat tak lagi merasakan detakan jantung didada Myungsoo. Kyungsoo memeluk tubuh Myungsoo yang sudah berlumuran darah lalu mencium bibir Myungsoo yang penuh dengan darah disana. "Hyung ireona hyung! Myungie hyung! Saranghae hyung! Ireona hyung! Hyungg!" teriaknya tak henti. Jinri sudah menangis hebat diujung sana. "KALIAN! AKU SUDAH MENELPON POLISI DAN MEREKA SEDANG MENUJU KESINI SEKARANG!" teriak Kyungsoo asal. Myungsoo sudah merelakan nyawanya demi keselamatannya dan Jinri. Ia tak boleh mati disini.
Para berandalan itu terlihat panik mendengar kata- kata Kyungsoo, mereka segera melempar asal satu lagi pisau yang ada di tangan mereka hingga menggores bahu Kyungsoo. Kyungsoo yang sedikit merasa tenang tak memperdulikan rasa nyeri yang menyobek bahunya. Pikirannya terfokus kepada namja yang ada dipelukannya sekarang.
"Myungie hyung! Bangun Hyung! Bangun! Hyung! Kau berjanji padaku untuk menjadi pendampingku selamanya kelak! Kau juga belum sempat mendengar suaraku hyung! Hyuuungg ireonaa! Myungie hyung! Ireonaa! Hyung saranghae hyung saranghaee!" Kyungsoo memeluk tubuh tak bernyawa Myungsoo yang sudah masih hangat. Kyungsoo sangat tak percaya sekarang Myungsoo telah tiada. Ia masih berharap bahwa semuanya hanya mimpi dan Kyungsoo akan segera bangun dan kembali bermain bersama Myungsoo.
"I do remember the swing of your step
The life of the party, you're showing off again
And I roll my eyes and then you pulled me in
I'm not much for dancing but for you I did
Because I loved your handshake, meeting my father
I love how you walk with your hands in your pockets
How you'd kiss me when I was in the middle of saying something
There's not a day I don't miss those rude interruptions
And I'll go, sit on the floor wearing your clothes
All that I know is I don't know
How to be something you'd miss
Never thought we'd have a last kiss
Never imagined we'd end like this
Your name, forever the name on my lips, ohh
So I'll watch your life in pictures like I used to watch you sleep
And I'll feel you forget me like I use to feel you breathe
And I'll keep up with our old friends just to ask them how you are
Hope it's nice where you are
And I hope the sun shines and it's a beautiful day
And something reminds you, you wish you had stayed
We can plan for a change in weather and time
I never planned on you changing your mind
So, I'll go, sit on the floor wearing your clothes
All that I know is I don't know
How to be something you'd miss
I never thought we'd have our last kiss
Never imagined we'd end like this
Your name, forever the name on my lips
Just like our last kiss, forever the name on my lips
Forever the name on my lips, just like our last kiss"
Taylor Swift -Last Kiss
(anggep aja lagunya udah ada waktu itu)
Kyungsoo menyanyi dengan suara merdunya, Seolah mengantarkan jiwa Myungsoo kedunia kekal di atas sana. Kyungsoo kembali mengecup lembut bibir Myungsoo yang penuh dengan darah sebelum ia akhirnya kehilangan kesadarannya dengan posisi memeluk Myungsoo dan terbangun diatas ranjang rumah sakit.
.
.
Flashback Off
.
.
Seolah merasa tersentuh dan mengerti yang Kyungsoo rasakan dulu, Kai meneteskan air matanya. Ia tak tahu bahwa Kyungsoo menutup hatinya untuk namja lain karena bernama Myungsoo itu.
"Dan, setelah itu Kyungsoo tak lagi bisa mengeluarkan suaranya?"
Jinri mengangguk. "Aku sangat merasa bersalah. Itu semua karena aku. Aku langsung berlari kearah mereka berdua yang tak sadarkan diri lalu membopong mereka di kedua lenganku karena jika aku tak membawa mereka aku yakin tak ada yang percaya dan mau membantu" ucap Jinri. Wajahnya sudah merah dan basah karena air mata sekarang. "Oh iya, Kyungsoo dimana ya? Kenapa ia tak juga kembali?" Suara Jinri bergetar. Ia menggunakan jempolnya untuk mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya. "Apakah aku terlihat seperti habis menangis?" tanyanya pada Kai. Kai mengangguk dan Jinri semakin mengusap wajahnya keras. Mungkin ia kira, ia bisa terlihat tak habis menangis jika ia melakukan itu.
"Percuma Jinri-ssi. Mukamu makin terlihat merah"
"Eoh? Jinjjayo? Wa ottokhae? Kau punya tissue basah?" tanyanya panik
Kai menggeleng.
"Err, kau masuk saja ne lalu jika Kyungsoo menanyakanku, bilang saja aku sedang di toilet" Jinri berkata pada Kai lalu pergi masuk kedalam rumah. "Oiya Kai-ss-, Aku berharap banyak padamu! Buka hati Kyungsoo ne!" teriaknya dari dekat pintu sambil mengepalkan kedua tangannya disebelah kepala bermaksud menyemangati Kai. Kai mengikuti gerakan tangan Jinri sambil tersenyum simpul.
"Kyungsoo" gumam Kai. "Seberapa besar rasa sayangmu pada Myungsoo? Apa aku masih punya kesempatan?" tanyanya.
.
.
Kai memasuki rumah Kyungsoo dan pergi ke lantai tiga dimana tadi teman- temannya sedang bermain. Sekarang ruangan itu gelap dan sunyi tak seperti tadi saat Kai dan Kyungsoo pergi ke taman. Ternyata mereka sedang menonton home teathre. Kai bergabung dan melihat Kyungsoo ternyata sudah duduk disebelah Luhan sambil memakan nachos dan menonton dengan serius
'Apakah ia lupa ia ingin mengambilkan minum untuk Jinri?' tanya Kai dalam hati sambil tertawa kecil melihat Kyungsoo.
Mereka menonton dengan serius. Tak ada satupun yang mengeluarkan suaranya sampai film benar- benar selesai. Bahkan mereka tak menyadari bahwa Jinri sudah bergabung bersama mereka di pertengahan film.
Kris menyalakan lampunya selama yang lainnya membereskan sisa- sisa makanan dan semuanya (kecuali Kyungsoo- Kris- Kai) terkejut saat melihat seorang yeoja bersama mereka.
"Kau siapa?" tanya Luhan
"Oh iya, Aku Jinri, teman dari Kyungsoo. Kalian pasti teman- teman Kyungsoo kan?" ucap Jinri sopan sambil membungkukkan badannya
"Ne. Untuk apa kau disini?" Xiumin bertanya ketus
"Bertemu dengan Kyungsoo" jawab Jinri
"Kau kekasihnya?" Suho bersuara
"Aniya. Aku temannya" suara Jinri mulai memelan
"Kau menyukainya?" kali ini Chen yang bertanya
"Hey! Pertanyaanmu aneh!"
"Kau pasti penggemar rahasiaku yang ingin bertemu denganku dengan cara mendekati Kyungsoo kan?" ucap Chanyeol
Hening.
"Kau terlalu percaya diri tuan telinga layar" ucap Baekhyun datar yang berhasil mengundang tawa semua namja didalam ruangan itu
.
.
Skip Time
.
.
Tak terasa sekarang sudah waktunya keduabelas namja itu kembali ke aktivitas sehari- hari mereka di weekdays.
Ada yang bersekolah, dan ada yang bekerja.
Pagi ini Kai berangkat pagi- pagi sekali ke sekolahnya. Ia berniat benar- benar berubah bukan hanya untuk Kyungsoo. Ia berniat meningkatkan nilai pelajarannya di sekolah juga. Mungkin, Kyungsoo menyukai murid berprestasi mengingat ia termasuk satu dari beberapa muri unggulan disekolah mereka.
Penjaga perpustakaan menatap Kai heran. Tak biasanya anak berkulit gelap ini membaca buku dan belajar sepagi ini di perpustakaan. Bahkan Kai hampir tidak pernah menapakkan kakinya di gudang harta ilmu pengetahuan itu.
"Selamat pagi Luna-ssi" ucap Kai pada penjaga perpustakaan bernama Luna itu
"K-kau? Untuk apa kau-?"
"Belajar tentnya" Kai berjalan dengan sebuah senyuman aneh yang tak bisa diartikan.
"Dia benar- benar Kai kan?" tanya Luna pada dirinya sendiri.
.
.
Kai menapakkan kakinya ke bagian buku pengetahuan alam. Hari ini dia ada test dan ia memiliki target menjadikan test ini adalah test pertama di hidupnya yang mendapatkan nilai memuaskan. Kai mengambil beberapa buku yang menurutnya bisa membantunya lalu membawanya ke membuka satu persatu buku itu dan membacanya dengan teliti sebelum akhirnya ia tertidur dibalik sebuah buku setebal kamus yang hanya berisi jutaan angka dan huruf.
Kai yang tertidur karena merasa sangat bosan memandangi buku- buku di depannya terbangun saat ada yang menggoncangkan tubuhnya. Ia melihat kebelakang dan betapa kaget dan malunya Kai saat ternyata Kyungsoo memergokinya sedang tidur dan disebelah Kai sudah ada hasil rangkuman dari buku- buku pengetahuan alam yang ia ambil.
Tulisan dari rangkuman itu sangat rapi. Tulisannya kecil namun mudah dibaca. Kai menatap Kyungsoo yang sedang tersenyum padanya
'KAU PASTI LELAH BELAJAR SEMALAMAN HINGGA TERTIDUR. AKU SUDAH MERANGKUM ISI BUKU ITU. BELAJARLAH SEBENTAR LAGI PELAJARAN AKAN DIMULAI' ejanya masih dengan senyuman manisnya
Kai tercengang. Kyungsoo memperhatikannya? Rasanya Kai ingin melompat dari lantai 7 sekolah mereka sambil berteriak
"KYUNGSOO MEMBANTUKU MERANGKUM!"
Abaikan itu semua, Kai terlalu senang hingga pikirannya kacau.
"T-t-terimakasih hyung" gugupnya lalu membaca rangkuman yang dibuat oleh Kyungsoo itu. Kai membaca semuanya dengan teliti. Ia memahaminya dan menghafalnya dengan baik dan cepat. Sebegitu besarkah pengaruh tulisan Kyungsoo baginya? Entah kerasukan hantu jenis apa, Kai merasa betah berada di perpustakaan kali ini sambil membaca secarik kertas berisi tulisan tangan yang mungil dan rapi. Disebelahnya terdapat seorang namja mungil yang sedang membaca novel.
Mungkin Kai terlalu percaya, namun ia merasa
Kyungsoo sengaja menungguinya belajar.
Belum lama Kai belajar dengan serius, bel masuk berbunyi. Guratan wajah panik dapat terlihat jelas di wajah Kai sekarang. Ia belum- benar- benar siap untuk menghadapi test dari Choi sonsae. Bagaimana jika targetnya tak tercapai kali ini? Dia merasa bingung dan takut. Belum pernah ia merasa sepanik ini sebelumnya saat menghadapi test. Biasanya ia tak pernah siap sama sekali menghadapi test dan ia akan terlihat santai bahkan tak jarang tertidur saat test berlangsung. Tapi Kai yang ini berbeda. Kai yang ini sangat mementingkan sesuatu yang disebut test itu.
'TENANGLAH. LAKUKAN SESUAI KEMAMPUANMU' eja Kyungsoo sambil tersenyum menenangkan. Dan satu lagi hal yang Kai ketahui dari Kyungsoo,
Ia sama seperti Baekhyun,
Seseorang yang bisa menenangkan perasaan Kai dengan sangat mudah.
.
.
Kai masuk kedalam kelasnya dengan langkah gemetar. Ia duduk disebelah Sehun yang terlihat santai menunggu Choi sonsae masuk.
"Selamat pagi" seorang namja tampan yang sudah cukup berumur masuk kedalam kelas itu dengan senyuman dan kharismanya yang membara disekitarnya. Namun entah kenapa itu justru membuat Kai ngeri
"Selamat pagi sonsae" jawab semua penghuni kelas bersamaan (kecuali Kai)
"Apa kalian sudah siap untuk test hari ini?" tanyanya
"Siap sonsae" seluruh kelas menjawab serentak kecuali Kai yang sekarang sedang membaca kertas rangkuman yang Kyungsoo berikan dan sedikit menghafal lagi.
.
"Hey, itu mirip tulisan Kyungsoo" bisik Sehun
"Ini memang tulisannya" balas Kai
"Ooh, dia membantumu?"
"Tentu saja. Kemajuan pesat bukan?"
"Ah aniya biasa saja"
"..."
"Luhan hyung mengajariku semalaman penuh kemarin"
"Aku tak tanya. Eh apa kau tak takut?"
"Untuk apa takut? Aku siap dan aku pintar. Tak seperti kau yang tidak bisa apa- apa"
"Enak saja kau Oh Sehun. Lihat saja hasil test nanti"
"Yang nilainya lebih rendah traktir bubble tea. Setuju?"
"Setuju setuju saja"
"Bukan mentraktirku Kim Jongin, mentraktir semuanya ber sebelas"
"MWO?!"
"KIM JONGIN DIAM!"
Dan Kai pun menutup mulutnya mendengar teguran Choi sonsae
.
.
Kai mengerjakan soal dengan sedikit hambatan. Entah kenapa prediksi Kyungsoo tentang soal yang akan dikeluarkan itu banyak yang tepat pada sasaran. Hampir semua soal yang diujikan ada di rangkuman yang Kyungsoo buatkan untuknya. Walaupun tak terlalu ingat, Tapi Kai yakin setidaknya kali ini ia tak harus mengulang test seperti biasanya.
.
.
"Kumpulkan test kalian!" ucap Choi sonsae. Semuanya berjalan kedepan kelas membawa kertas test tersebut. Ada yang memasang wajah berbinar, bingung, stress, senang dan datar. Kai bingung harus berekspresi apa sekarang karena ia merasa senang bisa mengerjakan setidak nya 70& dari soal tapi ia takut nilai Sehun melampauinya dan ia harus mentraktir 11 temannya bubble tea.
"Bagaimana Kim Jongin? Kusarankan kau mulai menabung untuk membeli 11 gelas bubble tea" goda Sehun
"Berkacalah Oh Sehun! Aku yakin aku berhasil kali ini!" ucapnya yakin sambil mengepalkan tangannya
"Berhasil mentraktir kami?"
"Ya! Diam kau albino!"
"Dasar gosong!"
"OH SEHUN, KIM JONGIN! DIAM ATAU KELUAR?!"
Hening
.
.
Kyungsoo diam di mejanya. Matanya menatap lurus kedepan namun dengan tatapan kosong dan tak memperhatikan Hwang sonsae yang sedang menerangkan pelajaran. Hari ini tepat 3 tahun dimana Myungsoo terbunuh dihadapannya. Mengingat- ingat hal itu, Kyungsoo merasa sangat sakit menghantam dadanya dan rasa sesak seolah pasokan oksigen disekitarnya menipis. Ia menghela nafasnya lalu membiarkan setitik air mata jatuh meluncur ke pipinya
"Selamatkan dirimu Kyungie. Pergi dari sini, S-s-sarang-
.
.
hae"
Suara serak Myungsoo yang terakhir ia ucapkan sebelum jiwa dan raganya benar- benar meninggalkan Kyungsoo pergi masih terngiang di telinganya. Ia tak pernah tahu kalau Myungsoo membalas perasaannya selama itu.
'Kenapa harus begini Myungie hyung? Aku merindukanmu' batin Kyungsoo. Buku tulisnya sudah basah dan beberapa tulisannya ikut menangis karena luntur dihanyutkan air matanya
"Kyungie, gwenchana?" Tao menyenggol Kyungsoo yang sedang melamun. Kyungsoo menolehkan wajahnya menatap Tao yang menatapnya khawatir. Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum manis mengatakan bahwa ia tak apa- apa. Tapi Tao yakin, Kyungsoo pasti kenapa- kenapa. "Sonsaenim! Kyungsoo ingin ke toilet" ucap Tao tiba- tiba sambil mengangkat tangannya. Hwang sonsae menoleh melihat Tao dan Kyungsoo bergantian lalu mengangguk. Tao menyenggol Kyungsoo lagi hingga Kyungsoo pergi keluar kelas menuju ke toilet.
.
Kyungsoo menumpukan tangannya didepan wastafel sambil memandang wajahnya yang mengerikan sekarang. Ia terlihat hancur karena ia baru saja menangis. Kyungsoo tiba- tiba mengingat Myungsoo. Tubuh Myungsoo yang bersimbah darah demi menyelamatkan nyawanya dan Jinri masih tergambar jelas di ingatannya. Apalagi disaat Myungsoo mengatakan bahwa ia menyayangi Kyungsoo dan menyuruh Kyungsoo pergi menyelamatkan diri. Kyungsoo merasa bodoh baru menyadari bahwa Myungsoo menyayanginya lebih dari yang ia tahu.
'Myungie hyung. Kau sedang apa disana? Aku ingin bertemu denganmu' ucapnya dalam hati. Air mata kembali meleleh dari matanya. Ia terlalu menyayangi Myungsoo. 'Myungie hyung' hanya nama itu yang ada di pikiran dan hatinya sekarang. 3 Tahun setelah kejadian itu, bayang- bayang Myungsoo tak pernah pergi sepenuhnya dari kehidupan Kyungsoo. Sekali lagi,
Kyungsoo terlalu menyayangi Myungsoo.
Kyungsoo akhirnya membasuh wajahnya lalu mengeringkannya dan memutuskan kembali kedalam kelas. Walaupun ia masih terlihat hancur, setidaknya penampilannya sudah sedikit membaik walaupun batin dan pikirannya sedang hancur berantakan.
"Merasa baikan?'" bisik Tao. Kyungsoo tersenyum kecil sambil mengangguk lalu mulutnya melakukan lipsync kata 'Gomawo'. Tao tersenyum sambil mengangguk juga lalu mereka berdua kembali memperhatikan Hwang sonsae yang sedang menyampaikan ilmu pada mereka.
.
Skip Time
.
Break Time
.
"Nanti ayo pulang bersama! Aku ingin mengajak kalian dan Yixng menonton pertunjukan ice skating!" saran Luhan pada teman- teman (baru dan lama)nya. Disana ada Luhan, Sehun, Suho, Kyungsoo, Tao, Baekhyun, Kai dan Chanyeol.
"Boleh saja! Aku ikut hyung!" sambut Baekhyun
"Lebih baik kau menontonku Baekki" ucap Chanyeol
"Jika menontonmu sedang naked, Baekhyun hyung pasti mau" timpal Sehun santai.
"Hey! Enak saja!" elak Baekhyun namun pipinya yang bersemu merah tak dapat berbohong.
"Kyungie, kau ikut?" tanya Luhan pada Kyungsoo. Kyungsoo menunduk sambil menggeleng. "Eh waeyo? Bukankah kau suka pertunjukan- pertunjukan seperti ini?" tanyanya lagi
'AKU AKAN KE MAKAM MYUNGSOO HYUNG' ejanya. Beberapa dari mereka mengangguk mengerti dan beberapa dari mereka menatap Kyungsoo bingung.
"Biar kutemani ne?" tawar Kai
'KAU TAK MENONTON PERTUNUKAN?' tanya Kyungsoo. Kai menggeleng.
"Aku tak terlalu tertarik dengannya. Lebih baik aku ikut denganmu kan?" tanya Kai
'APA KAU YAKIN?'
"Sangat yakin. Percayalah padaku"
Kyungsoo mengangguk mengiyakan lalu segera berdiri dari tempat duduknya entah mau pergi kemana. Suho segera berdiri mencoba mengejar Kyungsoo namun tangan Luhan melarangnya
"Ia butuh waktu sendirian"
.
.
Sekarang sebuah mobil McLaren F1 berwarna hitam milik Kyungsoo sudah terparkir di sebuah pemakaman elit yang sangat rapi. Dibelakangnya terdapat Vyrus 987 C3 4V dengan seorang namja berkulit tan duduk diatasnya, Kyungsoo keluar dari dalam mobilnya sambil membawa sebuket bunga berwarna putih dan sebuah pot berisikan white chrysanthemum yang masih sangat kecil bahkan bunganya belum mekar sempurna.
Kyungsoo dan Kai berjalan ke sebuah makam yang terletak tepat dibawah pohon ume yang sengaja ditanam disana. Bunga- bunga berwarna soft pink terlihat menghiasi atas dari makam yang terlihat paling mewah itu. Kyungsoo berjongkok di tepi makam itu lalu meletakkan pot bunga white chrysanthemum itu didepan batu nisan yang bertuliskan nama Kim Myungsoo itu dan meletakkan buket bunganya tepat diatas makam.
Kyungsoo mengelus- elus batu nisan yang terbuat dari marmer itu dengan sayang lalu air matanya meleleh lagi. Lalu ia memeluk batu nisan itu dan menciumnya dengan wajah yang sudah sangat merah dan basah. Kai yang berdiri di tepat belakangnya hanya bisa memandang Kyungsoo miris. Ia tak menyangka bahwa rasa sayang Kyungsoo terhadap Myungsoo sebesar dan setulus ini. Hati Kai tersentuh saat melihat tangan mungil Kyungsoo menelusuri gundukan tanah yang disebut makam tersebut. Ia kadang tersenyum namun meneteskan air mata. Kai dapat menyimpulkan seberapa hancur Kyungsoo saat ini dan seberapa Kyungsoo merindukan sosok Myungsoo yang sudah membusuk didalam gundukan tanah itu.
'Biarkan aku melihatmu lagi sekali saja Myungie hyung' tangan mungil Kyungsoo mengelus- elus gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput itu. 'Apakah kau tega melihatku hancur? Padahal kau sendiri yang mengatakan kau mencintaiku' batinnya. Air matanya yang belum lama berhenti turun lagi. Bayangan wajah Myungsoo yang tersenyum jahil saat mengerjainya masih terbayang jelas. Apalagi ekspresinya disaat ia mengatakan 'Saranghae' untuk pertama dan terakhir kalinya pada Kyungsoo.
Disaat mata sipitnya itu hampir menutup dan bibir tipisnya mengeluarkan darah.
Kyungsoo selalu tersakiti mengingat- ingat ekspresi itu. Ia merasa bodoh, kenapa ia tak juga bertindak saat itu. Ia terlalu penakut dan pengecut hingga harus kehilangan Myungsoo.
Kyungsoo benar- benar menangis sekarang. Ia memeluk batu nisan Myungsoo erat seolah- olah itu adalah Myungsoo. Ia meneteskan ribuan air mata di hari itu karena seorang Myungsoo.
Kai merasa sangat sakit. Selain sakit karena Kyungsoo yang tak dapat melepaskan Myungsoo, ia juga merasa sakit melihat orang yang sangat ia sayangi menangis. Namun, Apa yang bisa Kai lakukan? Ia tak berhak melarang Kyungsoo menangis apalagi menyuruhnya melupakan Myungsoo.
"Hyung, ayo pulang. Hari sudah mulai gelap" bujuk Kai. Ia semakin tak kuat melihat Kyungsoo yang tak berhenti menangis selama hampir satu jam sambil memeluk nisan Myungsoo.
Kyungsoo mengangguk pasrah lalu mencium batu nisan itu lalu pergi bersama Kai. Wajah Kyungsoo sudah tak karuan sekarang. Matanya membengkak, bibirnya menebal, hidung dan pipinya memerah. Seluruh wajahnya terlihat penuh dengan air mata yang mengering. Melihat keadaan Kyungsoo yang tak memungkinkan, Kai menelpon anak buahnya untuk mengambil motornya di makam selama ia mengantarkan Kyungsoo pulang dengan mobil Kyungsoo.
"Kyungie mianhae"
terdengar sebuah bisikan yang sangat pelan hampir bersatu dengan suara angin yang lembut di telinga Kyungsoo
'Myungie hyung?'
.
.
.
.
TBC
Sedih gaaa? Ada yang nangiiss? Aku hampir nangis='3
Akhirnya masa lalu Kyungsoo terungkap OuO
RnR juseyoong^_~
