author: ruccrys
I'm Sorry
Main Cast:
Kyungsoo, Kai
.
Boys Love don't like don't read!
no plagiarism, no siders
[isyarat tangan Kyungsoo di italic]
Kyungsoo mengangguk pasrah lalu mencium batu nisan itu lalu pergi bersama Kai. Wajah Kyungsoo sudah tak karuan sekarang. Matanya membengkak, bibirnya menebal, hidung dan pipinya memerah. Seluruh wajahnya terlihat penuh dengan air mata yang mengering. Melihat keadaan Kyungsoo yang tak memungkinkan, Kai menelpon anak buahnya untuk mengambilmotornya di makam selama ia mengantarkan Kyungsoo pulang dengan mobil Kyungsoo.
"Kyungie mianhae"
terdengar sebuah bisikan yang sangat pelan hampir bersatu dengan suara angin yang lembut di telinga Kyungsoo
'Myungie hyung?'
.
.
.
Kai mengantarkan Kyungsoo kerumahnya dengan selamat. Sampai disana, Kris menyambut mereka dengan tatapan khawatir lalu berterimakasih pada Kai berulang- ulang kali bahkan namja yang berstatus kakak angkat Kyungsoo itu menawarkan jasa supir mereka untuk mengantarkan Kai pulang namun Kai menolaknya. Terdapat sedikit rasa lega di hatinya karena ternyata Kris sudah memaafkan dan menerimanya. Jika ia mengingat dimana Kris terlihat sangat murka dan seolah- olah ingin menerkam Kai yang muncul dihadapannya, ia merasa sangat beruntung telah menemukan Kyungsoo di lotte world saat itu.
"Hyung, bolehkah aku berbicara dengan Kyungsoo sebentar saja?" tanya Kai tiba- tiba. Kyungsoo yang berjalan masuk ke rumahnya pun berhenti lalu membalikkan badannya.
"Hmm boleh saja. Tapi,jangan bicarakan tentang Myungsoo" Kris berbisik di pesannya. Kai mengangguk mengerti lalu menarik Kyungsoo dan membawanya ke kursi yang tersedia di halaman rumah Kyungsoo.
"Ehmm selamat malam hyung?" ucap Kai canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Kyungsoo mengangguk lalu membalas Kai dengan senyuman canggung dan kekehan aneh. Setelah itu Kyungsoo menatap Kai dengan tatapan penasaran namun wajahnya memancarkan sebuah kelelahan yang sangat besar. "Aku tahu Kris hyung melarangku membicarakan ini. Tapi aku ingin bertanya mengenai.." Kai memberi jeda "Myungsoo?" lanjutnya.
Punggung Kyungsoo menegak mendengar nama Myungsoo tersebut. Tatapannya langsung berubah menjadi sebuah tatapan miris namun ia masih mempertahankan senyumannya.
"Kalau kau tak mampu tak apa. Aku tak akan memaksa" ucap Kai dengan wajah khawatir
'TAK APA. LANJUTKAN SAJA' eja Kyungsoo
"Kau yakin?" tanya Kai lagi dan dibalas anggukan mantap dari Kyungsoo. Kai pun ikut mengangguk. "Seberap besar kau mencintainya?" tanya Kai
'SANGAT BESAR. LEBIH DARI AKU MENCINTAI DIRIKU SENDIRI'
"Benarkah? Masih bisakah ada seseorang lagi masuk kedalam hatimu?"
'TAK ADA YANG TAK MUNGKIN KAI. KAU TAHU? ORANG TUAKU SELALU BERKATA BAHWA SEMUA YANG DILAKUKAN DENGAN GIGIH PASTI BERHASIL'
"Benarkah? Jika begitu, apakah aku bisa masuk kedalam hatimu"
Kyungsoo diam. Ia mencerna apa yang Jongin maksudkan.
'JIKA KAU BERUSAHA, KENAPA TIDAK?' jawab Kyungsoo tak lama setelahnya. Kai tersenyum tipis. Ia seolah baru saja mendapat lampu hijau untuk mendekati namja mungil ini. Kyungsoo tersenyum kecil membalas senyuman Kai lalu berdiri dan masuk kedalam rumahnya tanpa memberikan salam perpisahan sedikitpun pada Kai.
Kai berdiri dari kursi dingin itu lalu melangkahkan kakinya keluar pagar rumah Kyungsoo. Kaki jenjangnya ia biarkan berdiri di sebuah halte bus yang mungil dan sepi yang terletak tak jauh dari rumah Kyungsoo. Halte yang sama dengan yang ia lewati bersama Kyungsoo setelah pulang dari Lotte World saat itu.
Kai menggosokkan lengannya dengan telapak tangannya untuk memberikan kehangatan sendiri pada dirinya ditengah- tengah angin malam yang menusuk rusuknya itu. Sesekali ia mengedarkan pandangannya ke kiri dimana seharusnya cahaya lampu bus malam akan menusuk matanya. Namun bus itu tak kunjung datang.
Disana sangat sepi. Hanya suara gesekan sayap jangkrik yang mengalun menemani Kai yang sendirian disana. Namja tampan itu sangat bosan, ia mengeluarkan ponselnya berniat menghilangkan rasa jenuh namun ia terlebih dahulu menyadari betapa bodohnya ia tak menyadari nama 'Xiumin' di contactnya.
"Kenapa aku tak minta dijemput saja?"
Ia menelpon namja yang berstatus hyung tampannya itu lalu meminta hyungnya untuk menjemputnya sekarang juga sebelum udara dingin yang menghantuinya segera membunuhnya sekarang juga.
"Kakiku patah mendadak" namun itulah balasan Xiumin atas susunan kalimat puitis yang Kai susun secara susah payah agar Xiumin mau menjemputnya dengan senang hati
"Tapi aku adikmu"
"Tapi kakiku patah"
"Hyung!"
"Ne?"
"Terserah kau lah"
"Baiklah. Kau ada dimana?"
"Bus station didekat rumah Kyungsoo"
"Baiklah. Tunggu disana, jangan pergi kemanapun. Tolak siapapun yang akan memberimu permen atau mengantarmu pulang jika kau tak mengenal mereka"
"Kurasa aku bukan anak kecil lagi hyung"
"Benarkah? Aku lupa. Tunggu disana adik kecil manisku"
"Sialan. Bahkan aku jauh lebih tinggi darimu hyung"
"Oh tidak. Sekarang tanganku yang patah"
"Hyung cepatlah"
"Ne, ne arasseo"
Kai pun mematikan sambungannya dengan hyungnya yang menyebalkan itu lalu memilih mendengarkan lagu melewati earphonenya. Tak terlalu keras, hanya untuk mengusir kesunyian saja. Beberapa suara masih dapat menginterupsi pendengaran namja tampan yang terduduk sendirian di halte tersebut.
Kai menajamkan pendengarannya ketika sebuah suara khas orang dipukuli dan jeritan kesakitan. Namun suara itu terdengar sangat pelan. Kai sendiri pun tak yakin apakah itu benar- benar suara nyata atau sekadar halusinasinya, Kai membuka kedua headsetnya lalu mematikan lagunya. Matanya memincing mencari- cari sumber suara aneh tersebut. Walaupun tak melihatnya, namun suara aneh itu masih ada. Itu meyakinkan Kai bahwa tak jauh darinya pasti ada seseorang yang sedang dikeroyok atau sebagainya.
.
DIN DIN
.
.
Suara mesin dan klakson mobil Xiumin mengagetkan Kai yang sedang sibuk mencari- cari asal suara aneh yang ia dengar barusan itu.
"Hey anak muda apa yang kau lakukan?!" teriak Xiumin dengan kepala yang menyembul dari kaca jendela mobil. "Ayo masuk! Aku mau pulang dan segera tidur!"
"Ssstt coba kau diam dan matikan mobilmu sejenak hyung" ucap Kai serius
"Apa maksudmu Kai?! Cepatlah aku mengantuk!" jawab Xiumin
"Aku serius! Matikan mobilmu lalu keluarlah dari mobil!" balas Kai
"Arrghh terserah kau lah" akhirnya Xiumin menuruti adiknya. Ia mematikan mobilnya dan mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil. "Ada apa? Tak ada apa- apa bukan?! Ayo ma-"
"Ssstttt tak bisakah kau dengar itu?"
Xiumin mulai merasa adiknya serius kali ini. Ia benar- benar menajamkan pendengarannya dan akhirnya ia mengerti maksud Jongin. Ia mendengar sebuah suara jeritan- jeritan dan pekikan aneh.
"Suara apa itu?"
"Aku tak tahu hyung"
"Sepertinya seseorang butuh bantuan Kai"
"Kau yakin?"
Xiumin mengangguk. Kai langsung masuk kedalam mobil dan Xiumin menjalankan mobilnya mencari darimana asal suara aneh tersebut.
"Hyung suaranya makin jelas. Sepertinya dari dalam gang itu" ucap Kai sambil menunjuk sebuah gang sempit yang gelap. Xiumin mengangguk lalu menghentikan mobilnya. Kim bersaudara itu melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan berjalan perlahan kedalam gang yang mereka yakini sebagai sumber suara aneh tersebut.
Dan ternyata,
.
BUGH
BUGH
.
Mereka dapat melihat dua orang namja yang sedang memukul dan menendang- nendang seseorang dibawah mereka
"Menurutmu, kita harus membantunya?" bisik Xiumin. Kai mengangguk. Ia mengambil ponselnya lalu melangkah maju. Xiumin sempat menahan baju Kai karena Kai mengambil tindakan tanpa berpikir dahulu, namun Kai tak peduli. Ia tetap berjalan mendekati tiga orang di sudut gang tersebut
"HENTIKAN!" teriak Kai lantang. Awalnya kedua namja itu tak berhenti menyerang namja di bawahnya. "HENTIKAN KUBILANG!" teriak Kai lagi. Kedua namja itupun berhenti
"Cih siapa kau? Mengganggu saja" ucap salah satu namja yang sedang menyerang tersebut
"Apa kau ingin bernasib seperti dia?" namja yang satunya ikut buka mulut sambil menunjuk namja yang dikeroyok. Mata Kai membulat melihat siapa orang itu
"Jongdae hyung?!" ucapnya tak percaya. Namja yang dikeroyok tersebut adalah Kim Jongdae, salah satu temannya yang terkenal rajin dan alim di sekolah. Bagaimana bisa ia dikeroyok seperti ini?
"Kau mengenalnya? Woaa penyelamatmu sudah datang Jongdae" ucap namja yang pertama
"Jadi, kalian satu kelompok? Kalau begitu kalian sama- sama mengerti tentang rencana pembunuhan boss kami eoh?" lanjut namja kedua. Kai menatap mereka tak mengerti. Yang ia tahu, Jongdae itu adalah namja periang dan rajin. Adalah mustahil bahwa ia terlibat dalam rencana pembunuhan.
"Apa maksud kalian?!" bentak Kai
"Tak usah pura- pura bodoh"
"K-kaii pee-rgih" ucap Jongdae terbata. Tenaganya sudah benar- benar habis saat ini.
.
DUK
.
Namja yang pertama justru menendang Jongdae yang sudah babak belur itu ke belakang mereka
"Diam kau!" ucapnya
"Lepaskan Jongdae hyung! Atau-"
"Atau apa?!" potong namja yang kedua
"Atau aku akan menelpon polisi!" tiba- tiba Xiumin muncul dengan ponsel ditangannya. Ia bertingkah seolah sedang menelpon seseorang
"Sialan! Tak usah sok pahlawan kau gendut!"
.
BUAGGHH
.
Kedua namja itu jatuh.
Kai dan Xiumin terdiam di tempat mereka, Jongdae memegang sebuah balok kayu besar dan menyambar kedua namja itu tepat di leher mereka.
"Aku terima kau menyiksaku, tapi tak untuk menghina Xiumin sunbae" ucap Jongdae sedikit berbisik mungkin karena tenaganya yang hampir habis.
Xiumin tercekat, apa yang Jongdae maksudkan tadi? Jongdae membelanya?
.
BRUKK
.
Namja tampan itu langsung ambruk dan pingsan. Kai dan Xiumin sontak berlari kearah Jongdae dan membawa Jongdae yang sudah babak belur itu ke rumah sakit.
.
.
Skip Time
.
.
"Kudengar semalam terjadi sesuatu dengan Jongdae" ucap Luhan
"Sesuatu? Apa itu?" tanya Tao. Luhan mengendikkan bahunya.
"Tak tahu juga, Xiumin menelpon dengan suara bergetar aneh, suaranya juga tidak jelas. Jaringan dirumahku sangat buruk semalam. Yang dapat kutangkap dengan jelas hanya nama Jongdae dan beberapa kata- kata dari Xiumin" jelas Luhan sambil meminum juicenya
"Aneh, Xiumin hyung tidak mengatakan apapun padaku. Tapi pagi ini memang tak ada tanda- tanda dari Kim bersaudara" jawab Baekhyun. "Tapi jika sesuatu terjadi pada Jongdae, kenapa Kim bersaudara juga tidak muncul?" tanyanya. Namja yang lainnya hanya mengendikkan bahunya
"Aku muncul" tiba- tiba seorang namja berkulit tan datang dan ikut bergabung dengan segerombol namja tampan tersebut.
"Kemana saja kau? Tak biasanya datang sesiang ini" tanya Chanyeol. "Dan dimana hyung bakpaumu itu?" lanjutnya
"Dia menemani Jongdae," ucap Kai sambil menghela nafasnya. "Dirumah sakit" lanjutnya
Namja lainnya menatap Kai dengan tatapan kaget.
"Apa maksudmu? Apa yang terjadi pada Jongdae?" selidik Suho
"Dia dikeroyok dua orang namja aneh, aku dan Xiumin hyung menemukannya setelah pulang dari rumah Kyungsoo hyung" jawab Kai
"Mwo?! Apa yang Jongdae lakukan sampai- sampai ia dikeroyok?" tanya Luhan
"Aku tak tahu, ia belum sadarkan diri sejak semalam, jadi aku dan Xiumin hyung tak bisa menanyakan apa yang terjadi padanya" jawab Kai lagi
"Kami bingung" ucap Suho
"Kau saja yang bingung. Yang lainnya tidak" balas Luhan
"Tapi kau bertanya"
"Aku ingin tahu dan aku tidak bingung"
"Jika kau tidak bingung kenapa kau bertanya"
"Karena aku ingin tahu"
"Jika kau in-"
"DIAMLAAHH!" teriak Tao frustasi mendengar perdebatan Luhan dan Suho yang hampir tak pernah berhenti. "Bagaimana jika nanti setelah pulang sekolah kita sama- sama menjenguk Jongdae hyung?" usul Tao, sangat jarang panda manja yang satu ini bertindak bijak seperti sekarang.
"Setuju!" jawab namja lainnya bersamaan
.
.
Kyungsoo sedang berjalan- jalan di tepi danau sekolah, tempat favoritnya. Tempat dimana ia selalu menenangkan diri dan melepaskan bebannya. Namja mungil itu mengedarkan pandangannya ke sekitar danau. Ia baru menyadari banyaknya pasangan yang terdapat di sekolahnya ini. Terkadang ia berpikir, kapankah ia akan menjadi salah satu dari mereka, memiliki pasangan. Kyungsoo tersenyum, ia merasakan aura disekitarnya menjadi sangat indah dan manis. Namun senyumannya perlahan berubah menjadi senyuman sendu yang sulit diartikan.
'Mana mungkin ada yang mau mencintai namja cacat sepertiku?' Kyungsoo duduk di pinggir danau, seperti biasanya. 'Masih banyak namja sempurna di dunia ini' batinnya miris. 'Pasti semua orang mencari pasangan yang dapat membalas perasaan cintanya, yang bisa membisikkan mereka kata- kata cinta romantis dan menyanyikan lagu disaat anniversary. -
-Sedangkan aku?' Kyungsoo tersenyum miris. Entah sejak kapan sudah mengalir sungai kecil dari matanya. Kyungsoo menunduk dan meremas blazer coklatnya.
'Tuhan, apa salahku? Kenapa Kau begitu jahat padaku?' batinnya masih dengan air mata mengalir, tidak deras, hanya setetes demi setetes. 'Kau mengambil cinta pertamaku, juga mengambil suaraku' Kyungsoo menggerakkan tangannya untuk menghapus air matanya. Ia ingin mendengar suara isakannya sendiri. Menangis tanpa suara membuatnya tak bisa melepas semua bebannya.
.
PUK
.
Sebuah sapu tangan muncul dari seseorang yang sudah duduk disamping Kyungsoo entah sejak kapan. Kyungsoo memalingkan pandangannya
"Kenapa menangis?" tanya namja itu. Kyugsoo hanya menggeleng sambil menggunakan saputangan itu untuk menghapus air matanya. "Kau sahabatku hyung, aku tak suka melihatmu menangis" lanjutnya. "Aku tahu, kau pasti sedang memikirkan kenapa kau berbeda bukan?" lanjutnya. Kyungsoo membalasnya dengan senyuman miris seperti biasanya. "Kau memang berbeda hyung, kau aneh dan istimewa" ucapnya. Mata Kyungsoo membulat mendengar kata- kata namja disebelahnya. "Bagaimana tidak, Kau bisa membuat tiga namja menyukaimu sekaligus tanpa melakukan apapun" lanjutnya sambil tertawa renyah. "Tapi aku bingung, kenapa kau masih sering menganggap nasibmu sangat buruk hyung?" lanjutnya. "Aku percaya padamu, jadi jangan katakan hal ini ke siapapun" ucapnya sambil menatap Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk. "Aku sedikit merasa iri denganmu~"
Mata Kyungsoo membulat tak mengerti.
"Maksudku, kau itu sempurna. Harta yang berlimpah, fisik yang sempurna, otak yang bekerja dengan sangat baik, dan orang- orang yang menerimamu dengan penuh hati" ucapnya. Kyungsoo menatao namja itu dengan tatapan bingung. "Hnn kau tak mengerti? Maksudku, apakah kau tak pernah menyadari semuanya hyung? Inner beauty yang kau miliki sangat kuat. Dan kau tak bisa berbicara bukanlah sebuah perkara besar. Itu telah tertutupi oleh kesempurnaan lain yang bersarang di dirimu. Aku jujur, aku mulai merasa tertarik pada Luhan hyung. Tapi, aku harus berusaha keras untuk membuatnya tertarik padaku. Tidak seperti kau yang bisa dengan mudah menarik siapapun kedalam dunia sorotan mata bulatmu yang polos dan mempesona itu hyung?" ucapnya. Kyungsoo tercekat. Kata- kata namja itu seolah mencambuknya agar ia bangun dan sadar siapakah ia sebenarnya. Kyungsoo tersenyum tipis. Ia merasakan sesuatu perasaan aneh tumbuh dalam dirinya. Seperti rasa percaya diri dan juga rasa bangga dalam dirinya.
'GOMAWO SEHUNA, FIGHTING' ejanya lalu tangannya ia kepalkan di samping kepalanya menyemangati namja yang bernama Sehun dihadapannya
"Fighting!" Sehun ikut tersenyum lalu mengikuti gaya Kyungsoo dengan mengepalkan tangannya dan mengangkatnya sebatas kepala. "Jangan katakan pada siapapun ne? Hanya kau dan aku yang tahu. Dan satu lagi, jangan pernah merasa rendah lagi, aku tak suka. Sangat tak suka" ucapnya setulus mungkin. Kyungsoo mengangguk namun terlihat agak ragu.
Sehun senang, ia berhasil membuat sahabatnya tersenyum.
.
.
Skip Time
.
.
"Kai, belakangan ini kau terlihat lebih bersemangat" ucap Baekhyun dengan ice cream ditangannya. Mereka sedang berada di taman rumah sakit sekarang, Jongdae sedang waktu istirahat sekarang dan tidak semuanya diperbolehkan masuk bersamaan. Jadi mereka mengunjungi Jongdae dengan cara bergilir.
"Memangnya salah jika aku bersemangat?" tanya Kai
"Aniya, hanya saja kau terlihat berbeda"
"Jika berbeda maksudmu adalah warna kulitku menjadi lebih terang, jawabannya adalah iya"
"Aku harus memeriksakan pendengaranku dulu Kai. Sampai jumpa" Baekhyun berdiri dari kursinya dengan pokerfacenya meninggalkan Kai yang tertawa tidak jelas sendirian. Tak lama kemudian seseorang namja duduk disebelahnya, Kai melihatnya dan ia sangat senang saat mengetahui bahwa namja itu adalah Kyungsoo.
"Eh hyung?" ucap Kai, Kyungsoo menatapnya dengan tatapan 'ada apa' namun Kai hanya menggeleng. "Kau sudah menjenguk Jongdae hyung?" tanyanya. Kyungsoo menggeleng
'AKU TAK BEGITU MENGENALNYA. JADI RASANYA ANEH' eja Kyungsoo. Setelah itu Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke seluruh taman rumah sakit.
"Kau tahu betapa sempurnanya dirimu sekarang hyung?" ucap Kai tiba- tiba, disekeliling mereka banyak orang- orang yang kurang beruntung seperti kehilangan kaki atau tangannya, buta, tuli dan ada yang tak bisa bicara seperti Kyungsoo. "Kau sehat hyung, hanya kau lupa cara mengeluarkan suaramu" ucapnya selembut mungkin tak ingin menggores Kyungsoo sedikitpun.
.
Setelah Sehun, Kai juga memotivasinya, menyemangatinya. Kyungsoo mulai paham, ia tahu bahwa banyak yang menganggapnya berharga sekarang. Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke taman rumah sakit yang hijau dan luas. Ia tersenyum puas karena merasa sudah mulai bisa menghargai dirinya sendiri.
Entah keberanian atau entah apa yang menggerakkan tangan Kyungsoo, Kyungsoo meraih tangan Kai lalu menggenggam tangan Kai yang lebih besar itu. Ia merasa nyaman dan aman sekarang. Tak lama setelah tangannya dan tangan Kai bersatu, ia merasakan tangan Kai bereaksi menggenggam tangannya dengan sangat erat. Kyungsoo menoleh lalu menatap Kai. Namja tampan disebelahnya itu sedang menikmati angin lembut rumah sakit yang membelai wajahnya sambil menutup matanya.
Indah.
Rambut Kai berdiri dan menari dengan lincah dengan kepala Kai sebagai panggungnya. Perlahan tapi pasti, sudut bibir Kai terangkat. Ia tersenyum, senyuman yang sangat manis dan tulus seolah mengiaskan betapa manisnya Kyungsoo yang tangannya ia genggam. Seolah- olah permukaan kulitnya bisa merasakan betapa manis dan hangatnya tangan putih bersih Kyungsoo itu.
Kai menikmati kerja jantungnya yang sangat cepat tak beraturan berkolaborasi dengan belaian angin halus di epidermis wajahnya juga kehangatan tangan mungil Kyungsoo disebelahnya. Sudah sangat lama ia tak merasa benar- benar nyaman seperti saat ini. Bahkan ia tak ingat sama sekali kapan atau bahkan apakah pernah ia merasakan hal seperti ini?
Kai hanya tak ingin rasa nyaman ini berakhir terlalu cepat. Tak memakan waktu lebih dari sepuluh menit dalam seumur hidupnya. Itulah yang mendasari mengapa tangannya menggenggam tangan pemuda yang lebih tua setahun darinya itu dengan sangat erat dan posesif. Ia hanya menyampaikan bahwa ia tak ingin Kyungsoo pergi. Ia sangat menyukai sebuah sensasi aneh menggelitik yang hadir mengetuk hatinya saat merasakan jari- jari mungil Kyungsoo berusaha menyematkan diri di antara jari- jari panjang dan lentik Kai. Genggaman itu sangat indah, seolah saling melengkapi, dilindungi dan melindungi satu akan yang lain. Bisakah genggaman itu diwujudkan dengan sebuah pengalaman hidup asli mereka?
"Biarkan seperti ini hyung. Sebentar saja" bisik Kai saat merasakan tangan mungil Kyungsoo digenggamannya mulai bergerak- gerak tidak nyaman. Sepertinya Kyungsoo mencoba melepaskan tangannya. Namun pergerakan tangan Kyungsoo lenyap begitu saja setelah Kai selesai mengucapkan kalimat permohonannya.
Tak ada penolakan
.
.
.
Di kamar rawat Jongdae,
Jongdae sedang berbincang dengan Xiumin, Luhan, Tao dan Chanyeol yang terlihat sangat antusias mengenai tragedi penyerangan yang terjadi pada Jongdae semalam. Jongdae menceritakan semua tentang ganknya, tentang dia yang membawa surat rencana pembunuhan member gank lain. Namun ternyata ia sudah menyerahkan surat itu ke member lain namun ia tetap jadi sasaran hajarnya.
Xiumin menyarankan (bahkan memaksa) Jongdae untuk berhenti dan keluar dari gank yang membahayakan nyawanya seperti itu, dan bagaikan anak yang patuh pada orang tuanya, Jongdae langsung mengiyakan dengan sangat mudah dan cepat paksaan Xiumin itu. Sebuah perubahan yang aneh dimana Jongdae dengan mudahnya menurut pada seseorang dan Xiumin yang sangat peduli dengan hidup orang lain.
Selama itu, Suho sedang terduduk di sofa rumah sakit sambil sibuk memainkan ponselnya dan mendengarkan lagu karena tidak merasa tertarik sama sekali dengan topik pembicaraan keempat namja tersebut.
.
To: Yixing
Hai, Yixing benar?
.
From: Yixing
Benar. Ini siapa?
.
To: Yixing
Suho. Aku mendapat nomormu dari Luhan
.
From: Yixing
Ah nde arraseo, ada apa hyung?
.
To: Yixing
Kata Luhan kau ingin berkeliling Seoul tapi Luhan tak bisa menemanimu
.
From: Yixing
Ne itu benar. Apakah hyung mau menemaniku?
.
To: Yixing
Tentu saja
.
From: Yixing
Jinjjayo?! Woa aku sangat senang hyung! Gomawo nee!^^
.
To: Yixing
Tak usah berlebihan Xing-ah. Besok aku akan menjemputmu sepulang sekolah. Ottokhae?
.
From: Yixing
Baiklah! Aku menunggumu hyung~
.
To: Yixing
Sampai bertemu besok
.
From: Yixing
Sampai bertemu besok hyung! Jangan terlambat ne!
.
Suho mematikan ponselnya. Entah kenapa ia merasa sangat senang saat membalas pesan Yixing yang kadang terlalu berlebihan menyampaikan rasa senangnya. Pandangan Suho untuk Yixing masih sama, namja itu sangat lucu walaupun kadang berlebihan. Sangat berbeda dengan Kyungsoo yang kadang justru menyembunyikan segalanya.
.
CKLEK
.
Pintu kamar Jongdae terbuka dan dua orang namja masuk kedalam, itu Sehun dan Baekhyun.
Sehun dengan pokerfacenya
dan Baekhyun dengan baju yang lengket karena ice cream di seluruh seragamnya
"Aku menemukan Baekhyun hyung sedang bertengkar dengan anak kecil karena seorang anak kecil menumpahkan ice creamnya ke Baekhyun hyung. Dan Baekhyun berteriak keras pada anak itu sampai anak itu menangis dan eommanya datang. Penjaga rumah sakit memarahi Baekhyun hyung dan aku terpaksa berkata padanya bahwa Baekhyun memiriki keterbelakangan mental hingga ia bisa berulah seperti itu" tutur Sehun dengan wajah datarnya. Seluruh orang yang berada dalam kamar rawat itu tertawa keras mendengar penjelasan Sehun yang konyol dan wajah Baekhyun yang sangat kusut
Baekhyun? Ia sedang mengumpatkan kata- kata tidak jelas karena ia merasa sebal terhadap anak kecil tadi dan ibunya, penjaga rumah sakit dan juga Sehun -koreksi- semua temannya disana.
"Aku hanya sebal. Lihat! Seragamku kotor!" ucapnya
"Hahahaaa! Tapi apakah itu benar Baekki? Kau berteriak pada seorang anak kecil" Xiumin berusaha menahan tawanya. Baekhyun mempoutkan bibirnya tak menjawab dan mengambil posisi duduk disebelah Suho
"Hahahaa, kurasa kau benar- benar memiliki keterbelakangan mental hyung! Tidak mungkin seorang namja SMA memarahi anak kecil yang polos hanya karena ice cream yang tumpah?!" ucap Tao sambil memegangi perutnya. Bibir Baekhyun semakin maju mendengarnya
"Sudahlahh aku seball!" rengeknya, yang lainnya sedang mencoba menghentikan tawa mereka masing- masing
"Ssstt ini rumah sakit. Sudah- sudah kasihan Baekki lagipula" Chanyeol menengahi
Suara tawa pun memelan dan akhirnya hilang digantikan dengan namja- namja itu yang sibuk dengan kegiatan mereka masing- masing.
"Gomawo Channie" bisik Baekhyun pada Chanyeol yang baru saja pindah menjadi duduk disebelahnya. Chanyeol agak kaget
"Channie? Kau tak sedang mabuk kan marmut blonde?"
.
.
"Sehun" panggil Luhan pada Sehun yang duduk di tepi tempat tidur Jongdae sambil memainkan ponselnya
"Ne? Ada apa hyung?" tanyanya
"Err, aku lapar" ucapnya agak gugup. Semenjak ia dan Sehun bermain di lotte world hanya berdua itu, Luhan benar- benar merasakan sesuatu yang aneh menggelitik perutnya saat ia bersama Sehun
"Lalu?" Sehun menggoda Luhan dengan berpura- pura tak mengerti maksud Luhan
"Eh? T-t-tidak apa- apa aku hanya me-"
"Kajja" Sehun segera menarik tangan Luhan yang berdiri didepannya keluar dari kamar rawat Jongdae. Wajah Luhan sudah mulai memerah karena perlakuan manis Sehun. Selama namja lainnya hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan bingung
.
"Kemana mereka pergi?" -Suho
"Kudengar Luhan lapar" -Xiumin
"Makan siang berdua?!" -Chanyeol
"Berlebihan. Aku sering makan siang berdua dengan Xiumin hyung" -Baekhyun
"Apa mereka sudah berpacaran?" -Jongdae
"Cepat sekali. Eh dimana Kai dan Kyungsoo?" -Tao
"EEHH! Dimana mereka berdua?"
.
.
"Sssehunn, kita belum pamit dengan yang lain" ucap Luhan. Mereka berada didalam lift sekarang
"Aku rasa itu tak penting hyung" jawab Sehun santai namun sambil tersenyum aneh
"Mereka bisa berpikiran yang tidak- tidak"
"Daripada yang iya- iya?" Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan. Hal itu membuat wajah Luhan semakin memerah. Luhan memundurkan sedikit kepalanya lalu menunduk menyembunyikan wajah merah strawberrynya. "Jangan menunduk hyung. Aku seperti sedang memarahi hoobaeku" Sehun terkekeh lalu memundurkan kepalanya. Ia senang karena belakangan ini selalu berhasil membuat Luhan blushing. "Tak usah merasa canggung. Santai saja" ucap Sehun karena tidak mendengar suara Luhan sama sekali
"N-n-nde!" Luhan menjawab dengan semangat menutupi rasa gugup yang menghantuinya. "Oh iya apa kau tak melihat Kai dan Kyungsoo? Kurasa ia tak ada dikamar rawat Jongdae tadi" tanya Luhan. Sehun terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya memasang senyuman yang sulit diartikan
"Kau mau makan dimana hyung?"
"Ya! Aku sedang bertanya Oh Sehun!"
.
.
.
.
"Hyung?" Kai memecah keheningan yang terjadi diantara mereka. Sudah sangat lama mereka menikmati suasana ini dengan berpegangan tangan namun tak ada sedikitpun suara. Kyungsoo menutup matanya dan Kai takut Kyungsoo tertidur.
Kyungsoo membuka matanya perlahan, terlihat sangat indah dimata Kai, mungkin dimata semua orang yang melihatnya. Kai tersenyum penuh arti pada namja yang berusia setahun lebih tua disebelahnya ini. Kyungsoo menatap Kai dengan tatapan penasaran.
"Hmm aku lagi- lagi ingin bertanya seberapa besar perasaanmu terhadap Myungsoo hyung?" tanya Kai agak ragu. Ia juga melonggarkan genggamannya. Tangan mereka mulai basah karena keringat.
'AKU TAK TAHU' jawab Kyungsoo. Jawaban yang berbeda dengan yang ia berikan semalam
"Kenapa kau tak tahu?"
'KARENA AKU SEDANG BERUSAHA MENCINTAI SESEORANG'
Kai terdiam. Semua yang ingin ia tanyakan mendadak lenyap entah kemana. Ia merasa susah bernafas. Kebahagiaannya langsung hilang seolah tak pernah terjadi. Jalan untuk menggandeng Kyungsoo yang baru saja terbuka sudah tertutup lagi dalam sekejap.
"S-siapa itu?"
Kyungsoo mengendikkan bahunya menjawab pertanyaan Kai. Kyungsoo mengalihkan pandangannya kedepan. Hari sudah mulai gelap dan Kyungsoo harus segera pulang. 'KAI AYO KE KAMAR JONGDAE HYUNG' eja Kyungsoo
"Eh?"
'AKU MAU PAMIT PULANG'
"Ohh arra. Kajja" Kai menarik tangan Kyungsoo yang masih berada di genggamannya. Mereka berjalan pelan kedalam rumah sakit. Beberapa orang menatap mereka dengan tatapan sedikit kagum. Mereka memang terlihat seperti pasangan yang sangat sempurna.
Setidaknya mereka tidak tahu cerita dibalik Kai dan Kyungsoo
.
.
"Annyeong" Kai menyapa semua orang yang ada di dalam kamar rawat Jongdae itu.
"Kemana saja kalian?" tanya Suho
"Ditaman. Sehun dan Luhan?" ucap Kai
"Entahlah tadi mereka pergi untuk makan siang namun belum juga kembali" jawab Baekhyun
"Wow, awalnya kukira Baekhyun dan Chanyeol hyunglah yang akan terlebih dahulu menjalin hubungan" ucap Kai santai. Tak memperhatikan perubahan ekspresi Baekhyun dan Chanyeol
"Kukira kau dan Kyungsoo" ucap Baekhyun pelan. Semuanya menoleh ke Baekhyun, termasuk Kyungsoo. Kyungsoo menatap Baekhyun dengan ekspresi khas doe eyes nya. Sungguh, ia terlihat sangat imut saat ini
"Jangan berkata yang aneh- aneh tuan Byun" ucap Kai malas
"Kau duluan" Baekhyun tak mau kalah
"Sudah- sudah, kalian tidak makan malam?" ucap Jongdae tiba- tiba
"Ah aniya. Oh iya aku hampir lupa. Kami kesini karena Kyungsoo ingin pamit pulang" ucap Kai
"Cepat sekali. Kau pulang sendirian?" tanya Xiumin
'NE. AKU TAK MAU MEMBUAT KRIS HYUNG KHAWATIR'
"Dia tak mau membuat hyungnya khawatir katanya" Kai menerjemah gerakan tangan Kyungsoo. Xiumin mengangguk mengerti. "Lebih baik kau mengantarnya kebawah" saran Xiumin.
"Saran yang baik" timpal Baekhyun
"Eh, biar aku sa-"
"Benar juga! Ayo hyung!" Kai segera menarik tangan Kyungsoo sebelum Tao menyelesaikan kata- katanya. Mereka membungkuk pamit lalu berjalan keluar kamar rawat Jongdae
"Kenapa Kai sangat aneh" rutuk Tao
.
"Hyung, bisakah kau mengirim pesan untuk Kris hyungmu dan memberitahunya bahwa kau akan pulang terlambat?" Tanya Kai. Mata Kyungsoo membulat tak mengerti. Ia tak tahu apa maksud Kai. Dan ia juga merasa sedikit takut. "Tak usah takut hyung. Aku tak akan melakukan hal aneh padamu. Tenang saja. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam. Eh menurutku, err, apa kau lapar?" ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jika tidak kau-"
'KENAPA TIDAK?' eja Kyungsoo memotong kata- kata Kai. Kai sangat senang. Ia melangkah pelan keluar dari lift bersama Kyungsoo disebelahnya
"Kau mau makan apa hyung?" Tanya Kai saat tiba di parkiran. "Eh, naik mobil siapa? Rasanya pasti sangat aneh jika menggunakan dua mobil. Kita akan terlihat seperti bermusuhan" ucap Kai
'MOBILMU SAJA, AKU BISA MENYURUH ORANG UNTUK MENGAMBIL MOBILKU' jawab Kyungsoo. Kai mengangguk lalu berjalan masuk dan duduk di kursi pengemudi mobilnya bersama Kyungsoo di kursi sebelahnya
"Aku tahu sebuah restaurant dengan rasa makanan yang lezat dan memiliki pemandangan yang indah. Jadi, kuharap kau suka makan sambil memperhatikan indahnya perpaduan kerlap- kerlip lampu gedung- gedung di Seoul?"
Kyungsoo tersenyum sebagai jawabannya. Seperti biasanya, terlalu malas hanya untuk mengeja kata 'i-y-a'
Kai mengarahkan mobilnya kesebuah restaurant yang bergedung cukup tinggi dan tanpa basa- basi namja berkulit tan itu menarik tangan Kyungsoo dan membawa Kyungsoo ke lantai teratas. Kai mengangkat tangannya memanggil waitress dan menanyakan juga menyarankan Kyungsoo untuk makan malamnya. Setelah waitress itu menulis dan mengulang pesanan mereka, ia segela pergi meninggalkan kedua namja itu dalam keheningan.
"Hyung" panggil Kai. Kyungsoo menoleh. "Aku tahu kau sedang mencoba mencintai seseorang" ucapnya ragu. "Dan, bolehkah aku lancang bertanya siapa orang itu?" tanyanya. Lagi- lagi Kyungsoo hanya tersenyum tulus penuh arti lalu memandang keluar jendela. Betapa sempurnanya moment ini jikalau Kyungsoo bisa menjawab Kai dengan suaranya.
Kyungsoo menghelakan nafasnya lalu mengalihkan sorot matanya ke namja bertubuh tegap yang duduk didepannya.
'JONGIN' ejanya. 'KIM JONGIN'
Kai tercekat. Kyungsoo mengeja nama aslinya?
'TAKUT' lanjutnya ekspresinya berubah. Menjadi wajah khawatir dan takut. 'SAKIT JONGIN, SAKIT' ejanya lagi. Kai menatap Kyungsoo lekat. Ia merasakan debaran sialan itu lagi saat Kyungsoo memanggilnya Jongin
"Hyung," panggil Jongin. Tangannya bergerak meraih tangan Kyungsoo yang bergetar. "Disini. Selalu terjadi gempa disini saat aku bersamamu" Kai menuntun tangan Kyungsoo ke dadanya. Memberitahu Kyungsoo bahwa detak jantungnya selalu berpicu lebih cepat. "Dan saat kau pergi, ia berdetak sangat pelan dan seolah ingin berhenti" Kai melepas tangan Kyungsoo dari dadanya lalu menggenggam erat tangan namja mungil berkulit putih dihadapannya itu.
Kyungsoo menatap Kai tak yakin. Walaupun ia yakin wajahnya sudah memerah sekarang.
"Dan aku ingin, kau membuat jantung ini tetap berpicu dengan cepat. Aku ingin kau selalu ada didekatku, menjadi sumber tenagaku untuk menghadapi hari- hari yang jahat" ucap Kai. "Aku ingin tangan mungil ini, berada diantara jari- jariku. Aku ingin jariku menjadi tempurung bagi jari mungil ini. Aku ingin melindungi tangan mungil ini bersama pemiliknya. Karena aku tahu, ia begitu..
-Rapuh"
"Bisakah aku menjadi orang itu hyung? Orang yang akan kau cintai kelak?"
.
.
.
.
TBC
KYUNGSOOO JANGAN TERIMA JONGINN!
KAU MILIKKUUU! /histeris/ga/apa-_-
jongin nembak kyungsoo?! diterima ga kira-kira O_O
RnR juseyooh^_~
