author: ruccrys
I'm Sorry
Main Cast:
Kyungsoo, Kai
.
Boys Love don't like don't read!
no plagiarism, no siders
[isyarat tangan Kyungsoo di italic]
"Dan aku ingin, kau membuat jantung ini tetap berpicu dengan cepat. Aku ingin kau selalu ada didekatku, menjadi sumber tenagaku untuk menghadapi hari- hari yang jahat" ucap Kai. "Aku ingin tangan mungil ini, berada diantara jari- jariku. Aku ingin jariku menjadi tempurung bagi jari mungil ini. Aku ingin melindungi tangan mungil ini bersama pemiliknya. Karena aku tahu, ia begitu..
-Rapuh"
"Bisakah aku menjadi orang itu hyung? Orang yang akan kau cintai kelak?"
.
.
.
Kyungsoo menegakkan tubuhnya dan membenarkan posisi duduknya yang agak tak nyaman. Ia menatap Kai lekat, ia masih tak percaya apa yang namja berkulit tan itu katakan. Satu- satunya yang berada dipikiran Kyungsoo sekarang adalah,
Apa Kai sudah gila?
Maksud Kyungsoo adalah, Oh Tuhan! Kalian tahu Kai kan? Kim Jongin yang sempurna yang dipuja banyak namja dan juga yeoja? Ayolah, Kai bisa mendapatkan siapapun yang jauh lebih sempurna dari Kyungsoo. Setidaknya seseorang yang bisa membalas pernyataan cintanya dengan sebuah rangkaian kalimat manis.
'MAAF'
Kai menahan nafasnya. Apakah ia tak salah membaca apa yang Kyungsoo eja? Kyungsoo meminta maaf? Apa maksudnya?
Kyungsoo menolaknya?
"Hyung,-" Kyungsoo segera memotong ucapan Kai dengan telapak tangannya.
'AKU MASIH BELAJAR KAI. AKU BELUM SIAP' ejanya pelan. Seolah dihantam sebuah truk bermuatan es yang sangat banyak, Kai hanya bisa membeku. Ejaan pendek Kyungsoo berperan sebagai truk es tersebut. 'AKU TAK PERNAH BERHARAP KAU MENCINTAIKU KAI' Kyungsoo menghelakan nafasnya berat. 'TAPI, TERIMAKASIH' namja bermata bulat itu menampilkan senyuman tulusnya sebelum makanan datang dan mereka makan ditengah- tengah keheningan yang mencekam.
.
.
.
"MWO?! Kyungsoo tidak bilang dengan siapa ia akan makan. Dan sekarang kau bilang mobilnya berada di rumah sakit?" ucap Kris kaget setelah mendapatkan informasi dari Tao
"Ya! Tenanglah gege! Akupun tidak tahu! Kami sedang mencoba menghubungi Kai yang terakhir kali mengantar Kyungsoo"
"Kai?! Yaampun Tuhan! Batin Kyungsoo belum sembuh benar! Anak itu! Issh"
"Kenapa kau begitu berlebihan eoh? Aku ingin tertawa mendengarnya"
"Ya! Aku serius Huang Zitao"
"Kau benar- benar menyebalkan ge"
"Eoh?"
"Gigimu besar"
"Ya! Matamu berkantung seperti panda"
"Kau bilang itu lucu"
"Kau bilang gigiku sexy"
"Kapan aku mengatakannya?!"
"Disaat itu"
"Kapan?!"
"Saat itu"
"Kapaan?!"
"Disaat kau hidup, berdiri diatas tanah dan bernafas lewat hidungmu"
"Ya! Aku serius Do Yifan! Kapan aku mengatakannya?!"
"Eumm"
"Jawab aku!"
"Hmm"
"Cepatlah!"
"Disaat itu, aku se-"
"Jangan bercanda!"
"Hey! Kau memotong ucapanku!"
"Eo? Baiklah"
"Hmm aku lupa aku ingin mengatakan apa"
"Ya! Gege!"
"Baiklah aku ingat. Disaat itu aku sedang tidur dan kau berada dalam mimpiku hanya menggunakan celana dalam panda dan bando bertelinga panda lalu mengatakan gigiku sexy lalu kau pergi begitu saja dengan cara meloncat- loncat layaknya kangguru"
"..."
"Huang Zitao kau masih disana?"
"..."
"Baiklah mungkin lain kali. Kabari aku jika bertemu Kyungsoo"
"..."
"Hey?"
"..."
"Aku akan menutup telponnya?"
"Original Cafe pukul tiga! Jangan terlambat!"
.
PIP
.
Telpon diputuskan secara sepihak oleh Tao setelah namja bermata panda itu mengucapkan ajakan err -kencan?
"Eh?" ucap Kris bingung sambil menatap smartphonenya lalu tersenyum. "Namja yang lucu" gumamnya. 'Eh, Kyungsoo?' pikirnya setelah menyadari tujuan utama ia menelpon Tao tadi. 'Dia sudah besar kan? Aku tak boleh terlalu mengkhawatirkannya' batin Kris.
Kris memutuskan untuk membawa laptopnya kehalaman dan bekerja disana. Sembari menunggu adiknya dan menikmati angin malam yang sebenarnya menusuk tulang rusuknya. Namun Kris adalah pria yang kuat, angin malam tak akan membuatnya sakit. Kris membuka emailnya dan melihat jadwal- jadwal rapatnya lalu mengacak rambutnya frustasi. Terkadang serbersit rasa lelah dan ingin mundur muncul di kepalanya. Namun ia memikirkan betapa keluarga Do menyayanginya. Tuan dan Nyonya Do tak membedakan dirinya dan Kyungsoo. Walaupun ia hanya anak angkat, namun kasih sayang yang mereka limpahkan sama banyaknya.
Dari segi umur, seharusnya Kris masih bersekolah di sekolah menengah atas sekarang. Namun ia memiliki otak yang sangat pintar yang membuatnya dapat menyanggupi permintaan Tuan Do untuk ikut duduk didalam perusahaan besar miliknya. Kris melihat daftar contactnya dan ingin melakukan chat dengan siapapun setidaknya untuk bersosialisasi dengan teman- temannya. Kris bisa gila jika terus menerus bekerja.
.
DIN DIN
.
Terdengar suara klakson mobil. Kris mengangkat kepalanya dan mendapati mobil Kai disana. Bersama Kyungsoo didalamnya tentunya. Kris tersenyum kecil melihat adiknya yang tertidur pulas di kursi penumpang. Kris melirik kearah jam tangannya dan bahkan jam tangan milik Kris masih menunjukkan pukul 21.14. Kyungsoo benar- benar seperti anak kecil.
Kai keluar dari mobilnya lalu berjalan kearah pintu Kyungsoo dan membukakannya. Tubuh kekarnya mengangkat tubuh mungil Kyungsoo dari kursi penumpang. Kai hendak menggendongnya sebelum Yongguk datang dan mengambil alih Kyungsoo yang sedang tertidur tersebut. Kai segera memasang wajah sedikit kecewa namun ia tetap tersenyum pada Yongguk setelahnya. Kris bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan kearah Kai. Ia harus berterima kasih lagi pada Kai kali ini.
"Terima kasih" ucapnya pendek.
"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau mengijinkan Kyungsoo pergi bersamaku" jawab Kai.
"Mengijinkan? Aku pun tak tahu bahwa Kyungsoo pergi bersamamu. Dari pada meminjam Kyungsoo, kau lebih pantas disebut menculik Kyungsoo untuk makan malam" ucap Kris sambil tertawa kecil.
"Ahahaha. Mianhae hyung. Aku sudah meminta Kyungsoo memberimu kabar. Tapi mungkin ia lupa"
"Hmm ne arasseo"
"Eumm, aku pulang dulu ne hyung? Salam untuk Kyungsoo hyung"
Kris mengangguk. "Annyeong" ucapnya
"Annyeong" balas Kai semangat sambil tersenyum lebar. Ia sangat senang melihat tingkah laku Kris saat ini.
.
.
Skip Time
.
.
"Selamat pagi Kyungsoo!" teriak Tao yang baru saja hadir sambil berjalan senang ke tempat duduknya dan Kyungsoo. Tao terlihat sangat bahagia pagi ini. Entah apa sebabnya, Kyungsoo tidak tahu. Kyungsoo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menjawab salam Tao. Tao meletakkan tasnya di kursi lalu segera menarik tangan Kyungsoo. "Ayo ke kantin! Kudengar Sehun dan Luhan ge sudah berpacaran!" pekik Tao. Kyungsoo membulatkan matanya selama seluruh penghuni kelas menatap mereka berdua tak percaya. Selama ini, yang mereja ketahui adalah Luhan yang menyikai Kyungsoo dan bukan Sehun.
Kyungsoo menatap Tao dengan wajah 'apa- kau serius?' dan Tao hanya mengangguk mantap.
"Oleh karena itu, Ayo kita tanyakan!" Tao benar- benar menarik tangan Kyungsoo kali ini dan berlari menuju kantin meninggalkan banyak pasang mata yang menatap mereka penasaran.
.
.
Tao duduk di kursi kantin tepat dihadapan Suho yang sedang memakan sebuah roti bakar sambil memainkan ponselnya.
"Annyeong!" sapa Tao
"Hmm" hanya itu yang Suho katakan
"Kemana yang lainnya?" tanyanya
"Sibuk"
"Eoh?"
"Dengan pasangan masing- masing. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi ternyata sebagian besar dari mereka sudah berpacaran!" ucap Suho kesal lalu menghempaskan garpunya dengan kasar.
"Eoh? Bukan hanya Luhan ge dan Sehun?" tanya Tao
"Tidak. Xiumin dan Jongdae, Baekhyun dan Chanyeol pun juga! Kenapa aku seolah tak mengetahui segalanya?!" Suho mengacak rambutnya. Kyungsoo terkekeh melihat Suho yang frustasi.
"Eum, jika begitu, tinggal kita bertiga yang belum mendapatkan pasangan?" ucap Tao
"Nee, tapi sepertinya uri Kyungsoo sudah semakin dekat dengan Kai ne?" goda Suho. Entah kenapa ia tak merasa aneh menggoda Kyungsoo. Tak seperti biasanya. Kyungsoo membulatkan matanya tak percaya. Ia menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap Suho dan Tao dan memulai gerakan tangannya.
'JONGIN MENYATAKAN PERASAANNYA PADAKU SEMALAM' ejanya. Suho dan Tao membulatkan matanya
"L-lalu, Kau-"
Kyungsoo menggeleng
'AKU MENOLAKNYA. AKU TAK SIAP HYUNG' eja Kyungsoo
"Tapi sepertinya ia tulus Kyung. Buktinya saja ia benar- benar berubah hanya untukmu" ucap Tao tak percaya
"Ya, aku dapat melihatnya Kyung" timpal Suho. Kyungsoo mengendikkan bahunya
'AKU HANYA BELUM SIAP' ejanya lagi
"Lalu, apa yang ia katakan?" tanya Tao lagi
'TIDAK ADA. KAMI MAKAN DALAM DIAM' eja Kyungsoo menjelaskan. Suho dan Tao hanya bisa diam dan menatap Kyungsoo dengan tatapan tak percaya. Mereka tak percaya Kyungsoo menolak Kai yang sudah benar- benar tulus padanya. Tapi Suho mengerti, membuka hati seorang Do Kyungsoo tak semudah kelihatannya.
"Selamat pagi!" seoran namja bersuara cempreng datang dan langsung menyapa bahkan lebih tepatnya berteriak pada mereka.
"Pagi hyu- Woaaa! Kau dan Chanyeol hyung benar- benar berpacaran?!" Pekik Tao tak percaya melihat tangan Chanyeol dan Baekhyun bertaut
"Eumm, itu a-"
"Tentu saja. Tak mungkin Baekki menolak pesonaku" potong Chanyeol sambil menempelkan pipinya dengan Baekhyun. Baekhyun segera tersipu dibuatnya. Kyungsoo dan Tao terkekeh melihat wajah Baekhyun yang berwarna merah manis sekarang. Selama Suho sedang sibuk dengan ponselnya. Sedang mengirim pesan dengan ehm
- Zhang Yixing.
Tak lama setelah basa- basi pagi mereka lakukan, Suho pamit untuk menelpon seseorang. Namja berwajah angelic itu berjalan pelan keluar kantin dengan smartphone menempel ditelinganya.
Salahkan sifat ingin tahu yang dimiliki oleh keempat namja temannya itu, sehingga semua yang Suho bicarakan terdengar jelas karena Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo dan Tao sengaja mengikuti Suho hanya untuk menguping.
"Kau bosan? Aku juga. Ish semuanya sudah memiliki pasangan masing- masing. Selama aku? Hanya menjadi obat nyamuk saja"
"..."
"Mwo? Hahahaa berpacaranlah dengan guling kalau begitu"
"..."
"Hey hey, aku tidak gila Yixing!"
"..."
"Hmm, terserah kau sajalah. Tapi, menurut pendapatku, aku gila karena kau"
"..."
"Aku serius! Heey hey jangan tertawa seperti itu! Aku tidak sedang menggombal, Ya! Zhang Yixing!"
"..."
"Berhentilah tertawa atau kau yang akan gila karenaku"
"..."
"Hahahaaahahahaaahaaaa"
"..."
"Baiklah, baiklah. Setidaknya suara tawaku lebih merdu dari milikmu bukan?"
"..."
"Kataku tentunya. Kata eomma dan appaku juga"
"..."
"Tidak pernah. Tentu saja mereka tak pernah bertemu denganmu"
"..."
"Karena aku tampan makanya aku menyebalkan"
"..."
"Terimakasih"
"..."
"Apa? Kau bilang aku jelek? Kukira kau terlalu sungkan untuk mengatakan aku tampan"
"..."
"Kan aku sudah bilang, aku gila karenamu"
"..."
"Ya! Jangan berteriak seperti itu! Baiklah- baiklah. Jadi, nanti aku yang menjemputmu?"
"..."
"Nee, Annyeong. Sampai berjumpa nanti Yixing. Berpenampilanlah dengan sebaik mungkin ne?"
"..."
"Hahahaa ne, ne arraseo. Sampai jumpa"
.
PIP
.
Itulah yang berhasil didengar oleh keempat namja iseng tersebut. Mereka tersenyum lebar melihat ekspresi Suho yang terlihat sangat bahagia dan beragam saat berbicara dengan Yixing. Mereka berempat memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya lalu berjalan santai melewati Suho.
"Hey Baekki, aku ingin mengajak Yixing berkencan loh!" sindir Chanyeol
"Mwoya? Huaa Yixing harus berpenampilan sebaik mungkin kalau begitu!" balas Baekhyun histeris
"Tentu saja! Dan aku yang akan menjemput Yixing nanti. Aku gila karenanya!" goda Chanyeol lagi
"Jinjjayo? Apa reaksi Yixing jika mengetahuinyaa? Apa ia akan tertawa keras keras?"
"Tentu saja! Aku akan membalik menggodanya lalu aku tertawa dan mengatakan bahwa suaraku lebih merdu darinya!"
"Woaah kalian itu ben-"
"Yaa! Apa maksud kalian eooh? Kalian menguping?!" teriak Suho dengan wajah memerah. Ia sadar bahwa Chanyeol dan Baekhyun sedang menggodanya
"Menguping apanya? Chanyeol ge hanya ingin mengajak Yixing hyung berkencan. Benar kan hyung?" tanya Tao sambil menaikkan alisnya.
"Aishh! Dasar gila!" Suho mengacak rambutnya frustasi lalu meninggalkan keempat namja yang sedang tertawa terbahak- bahak tersebut.
.
.
Suho sekarang sedang berada diatap sekolah sambil memainkan smartphonenya. Seperti biasa, menghindar dari rapat organisasi siswanya.
"Suho hyung?" sebuah suara berat memanggil Suho. Suho menolehkan kepalanya dan menemukan seorang namja tampan berkulit tan dengan pakaian berantakan disana.
"Kai? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Suho heran
"Entahlah. Tak ada yang bisa kulakukan dibawah" Kai mengendikkan bahunya lalu duduk disebelah Suho. Suho mengangguk mengerti.
"Kau sendiri hyung?" tanya Kai balik
"Menghindari rapat dan juga menghindari empat namja idiot yang sedang tertawa terbahak- bahak setelah menguping pembicaraanku bersama Yixing ditelepon" balas Suho malas
"Maksudmu hyung?" tanya Kai bingung
"Tanyakan saja pada kekasihmu" jawab Suho pendek
"Ehh?" Kai memasang wajah kagetnya
"Ya, kau sudah menyatakan perasaanmu pada Kyungsoo kan? Ck namun sayang sekali Kyungsoo belum menerimamu"
"Belum menerima?"
"Ya. Siapa bilang kau ditolak?"
"Kyungsoo hyung kan-"
"Dia bilang ia belum siap. Bukannya ia tidak siap Kai. Tidak bisakah kau pintar sedikit? Ia ingin kau menunjukkan kesungguhanmu padanya. Bukannya terdiam diatap sekolah menghindarinya seperti ini"
"Aku tidak menghindari Kyungsoo hyung. Aku han-"
"Hanya apa? Takut bertemu dengannya? Kapan ia akan siap kalau begitu Kim Jongin?"
"Aku-"
"Kukira, kau benar- benar seorang gentleman Kai. Namun," Suho memberdirikan ibu jarinya lalu memutar pergelangan tangannya hingga ibu jarinya mengarah kebawah. "Kau tak sehebat saat kau menyiksanya"
"..."
"Kenapa terdiam? Kau tahu bukan mendapatkan Kyungsoo itu tidak mudah? Jika mudah, mungkin aku atau Luhan sudah menjadi kekasihnya saat ini"
"..."
"Hati Kyungsoo itu seperti es batu Kai, Es batu yang terus didiamkan didalam freezer. Ia sangat sulit mencair karena ia memang sengaja berlindung di dalam freezer tersebut. Sebut saja freezer itu adalah cinta dimasa kecilnya yang bernama Myungsoo tersebut. Ia tak mau menghianati Myungsoo-nya. Ia tidak mau membuka hatinya karena bayang- bayang Myungsoo-nya masih tinggal di hatinya"
"..."
"Aku tak begitu tahu mengenai Myungsoo, hanya tahu sedikit karena Victoria ahjumma menceritakannya padaku. Menurutnya, Kyungsoo dan Myungsoo adalah pribadi yang sangat berbeda. Myungsoo yang pemberani dan Kyungsoo yang cengeng tetapi ceria. Disitu aku langsung teringat akan dirimu"
"..."
"Kau pemberani layaknya Myungsoo. Bedanya, Myungsoo adalah orang yang lemah lembut. Ia yang berhasil membekukan hati Kyungsoo begitu hebat hingga tak bisa berpaling darinya sampai sekarang. Jadilah lembut Kai, jadilah hangat. Cairkanlah hati Kyungsoo. Entah kenapa aku mengatakan ini. Tapi,"
"..."
"Aku percaya padamu Kai."
Nafas Kai tertahan. Suho mempercayainya? Apa ia sedang tak bermimpi? Ia ingat benar bahwa Suho sangat membencinya sejak ia masuk kedalam sekolah ini.
"Hyung-"
"Aku kembali dulu Kai. Fighting!" Suho menepuk bahu Kai pelan lalu tubuhnya hilang dibalik pintu atap sekolah.
.
.
.
Kai terdiam seribu bahasa selama jam pelajaran berlangsung. Ia masih memirkan apa yang Suho katakan padanya.
'Jadilah hangat? Mencairkan hati Kyungsoo hyung?'
Kai tak terlalu mengerti. Bahasa yang Suho gunakan terlalu berat karena menggunakan perumpamaan Kyungsoo- es batu dan Myungsoo- freezer.
Apakah Kai harus mematikan freezernya agar Kyungsoo mencair?
Oh ayolah, Kim Myungsoo telah tiada.
Atau, apakah Kai harus mengendap- endap dan mengeluarkan Kyungsoo dari dalam freezer lalu memeluknya hingga Kyungsoo mencair?
Tolong, Kai itu bukan penculik.
"Masuk kedalamnya Kai, masuk kedalam es batu itu dan menjadi hangatlah didalamnya. Maka ia akan mencair" bisik Sehun tiba- tiba. Kai sedikit terlonjak kaget karena Sehun bisa mengerti apa yang ia pikirkan
Apakah kalian menyadari bahwa Sehun dapat membaca pikiran orang?
"Maksudmu?" tanya Kai berbisik. Tak mau kena hukum lagi untuk yang kesekian kalinya. Sehun mengendikkan bahunya lalu kembali memfokuskan pandangannya ke papan tulis.
'Masuk kedalamnya Kai, masuk kedalam es batu itu dan menjadi hangatlah didalamnya. Maka ia akan mencair'
'Masuk kedalamnya dan menghangat disana'
'Jika begitu, setidaknya Kyungsoo hyung harus memiliki tempat untukku dulu bukan? Barulah aku akan mencairkannya sepenuhnya'
.
.
Skip Time
.
Kai terus memperhatikan Kyungsoo. Mencari- cari kesempatan untuk bisa berduaan dengannya. Ia sempat putus asa karena Tao selalu berada disisinya. Tetapi harapannya terbit lagi saat melihat Kyungsoo melangkahkan kakinya sendirian ke ruang perpustakaan. Sekali lagi,
SENDIRIAN.
Kemana Tao? Ia langsung melesatkan mobilnya keluar sekolah. Ada janji katanya, -ehm-
Suho? Sama seperti Tao. Ia langsung membawa mobilnya ke suatu tempat dimana seseorang tinggal.
"Hyung?"
.
DEG
.
Jantung Kyungsoo berhenti berdetak untuk sementara. Suara yang ia kenali Kyungsoo melihat Kai yang sudah duduk dihadapannya dengan membawa sebuah buku. Kyungsoo memberikan Kai senyuman canggung dan Kai membalas Kyungsoo dengan senyuman manis.
'Jadilah hangat'
"Kau belum pulang?" bisik Kai, mereka diperpustakaan sekarang dan Kai tidak mau membuat Kyungsoo ditendang dari perpustakaan. Kyungsoo menggeleng sambil mengerjakan tugasnya dan berpedoman dengan buku yang ia pinjam dari perpustakaan.
"Apa aku mengganggu?"
Kyungsoo segera menghentikan aktivitasnya lalu mengangkat kepalanya dan menatap Kai lekat sebelum ia berakhir dengan gelengan dan senyuman hangat.
'TIDAK. TENTU SAJA TIDAK' ejanya. Kai tersenyum puas setelahnya sebelum Kyungsoo kembali fokus ke tugasnya dan Kai hanya memandanginya. Menyerap bagian- bagian indah di wajah Kyungsoo dan mencoba mencari kekurangan yang terdapat dalam dirinya untuk membuktikan bahwa pepatah 'Tidak ada yang sempurna' itu benar. Namun nihil, Kai tak menemukan sedikitpun cacat dalam diri Kyungsoo. Hanya masa lalunya sajalah yang sedikit tergores.
Kai menutup matanya erat. Membayangkan wajah Kyungsoo yang sangat cantik dan sempurna. Membayangkan kelopak mata Kyungsoo yang terlihat lembut dan indah. Bibir tebalnya yang ranum dan mata bulatnya yang jernih.
Kai mulai menyadari, Kyungsoo jauh lebih indah dari khayalannya.
Kai tersenyum kecil. Ia mengingat dimana Kyungsoo baru bangun tidur dan menggunakan piyama pororo dan menatap Kai dan Kris takut sampai bersembunyi dibelakang Sehun.
Kai mulai menyadari, Kyungsoo sangat polos dan lembut.
Kai mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat- ingat ekspresi Kyungsoo yang terlihat begitu hancur saat bersimpuh didepan makam Myungsoo. Disaat lengan pendeknya ia gunakan untuk memeluk batu nisan Myungsoo dan mengecupnya berkali kali.
Lagi- lagi Kai menyadari, Kyungsoo sangat amat rapuh dan ia harus melindungi Kyungsoo.
Kai mengembangkan senyumannya masih dengan mata tertutup. Namja tampan itu masih membayangkan betapa cantiknya namja yang berada di hadapannya. Hanya dengan membayangkan wajah Kyungsoo saja, Kai merasakan nyaman diseluruh tubuhnya. Mungkin, itulah cinta
Ya, cinta.
Kyungsoo menatap Kai bingung. Ia tidak tahu apakah Kai sedang tidur atau tidak. Namja bermata bulat itu bahkan sudah menyelesaikan tugasnya tetapi Kai masih tersenyum sambil menutup matanya. Kyungsoo mendekatkan wajahnya dengan wajah Kai. Ingin memastikan apakah Kai tertidur atau tidak. Namun, diluar perkiraannya, Kai malah membuka matanya disaat wajah mereka sudah sangat dekat.
Kyungsoo segera memundurkan kepalanya. Kai juga melakukan hal yang sama. Mereka sama- sama merasa kaget. Wajah Kyungsoo sudah memerah selama Kai sedang menatap Kyungsoo yang sedang panik. Ia sangat lucu.
"Hyung, kau-"
'MIANHAE KAI MIANHAE. AKU TAK-'
Kai segera menggenggam tangan Kyungsoo yang hendak mengelakkan kata- kata. Kai menggeleng lembut
"Aku tahu hyung. Tak usah panik seperti itu" ucap Kai pelan sambil tersenyum lembut. Jangan lupakan tangannya yang menggenggam tangan Kyungsoo hingga berhasil membuat pipi Kyungsoo memerah. Kai tersenyum melihat reaksi Kyungsoo. Pipi merahnya membuat Kyungsoo terlihat beribu kali lebih cantik dan Kai suka itu. "Sudah selesai?" tanyanya. Kyungsoo mengangguk lucu. "Ayo pulang" Kai menarik tangan Kyungsoo. Kyungsoo mempertahankan posisinya dan menatap Kyungsoo bingung. "Waeyo? Aku sengaja menunggumu hyung" Kai tersenyum lembut. Kyungsoo hanya bisa menurut dan mengikuti langkah Kai. Entah kenapa, langkah Kai kali ini begitu pelan dan terkesan menunggu Kyungsoo. Tak seperti biasanya dimana ia selalu tergesa- gesa sambil menarik tangan Kungsoo.
Kyungsoo merasa, Kai lebih lembut dari yang sebelumnya. Cara Kai menatapnya, berbicara padanya, menggenggam tangannya dan juga cara Kai menarik tangannya. Kyungsoo suka cara Kai, caranya mengingatkan Kyungsoo terhadap Myungsoo.
Ya, Myungsoo.
Kyungsoo menunduk lalu tersenyum manis sambil memperhatikan tangan kekar Kai yang menggenggam tangannya dengan erat. Ia merasa hangat, nyaman dan aman. Kyungsoo merasa, ia mulai siap menganggukkan kepalanya untuk menjawab Kai nantinya.
Mulai siap.
.
.
.
Kai sudah berada didalam mobil Kyungsoo dan ia duduk di kursi pengemudi. Mereka berkendara dalam diam, tak ada yang memulai berinteraksi. Kyungsoo tak mau mengganggu Kai yang sedang menyetir karena Kai pasti selalu melirik kepadanya untuk melihat apa yang Kyungsoo ingin ucapkan.
.
KRUYUUKK
.
Suara aneh itu memecah keheningan. Kai segera melirik ke Kyungsoo yang sedang menunduk dan menutup matanya erat sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kau lapar hyung?" tanya Kai sambil tersenyum lembut.
Kyungsoo mengangguk kecil sambil masih menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu. Kai menggerakkan satu tangannya untuk mengacak rambut namja imut yang sedang tertunduk disebelahnya ini.
"Jangan begitu hyung, kau terlihat sangat manis. Hahaha" ucap Jongin sehingga Kyungsoo makin menundukkan kepalanya karena wajahnya semakin memerah.
Kai terus tersenyum mengingat bahwa ia berhasil membuat Kyungsoo memerah bahkan sampai seperti kepiting rebus. Ia merasa sangat bangga karena Kyungsoo sudah terlihat mulai membuka hatinya walaupun sangat sedikit. Setidaknya Kai bisa masuk kesana dan mencairkan hati Kyungsoo yang beku.
'Masuk kedalamnya Kai, masuk kedalam es batu itu dan menjadi hangatlah didalamnya. Maka ia akan mencair'
.
.
"Tao!" panggil Kris yang duduk di sudut cafe saat melihat Tao sedang kebingungan mencari sesosok manusia yang ia yakini adalah dirinya sendiri. Tao menoleh lalu berjalan kecil kearah Kris
"Gege? Sudah lama menunggu?" tanya Tao sambil duduk didepan Kris.
Kris melirik ke jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya lalu menggeleng "Tidak terlalu, bahkan tadinya kukira aku sudah terlambat" ucapnya
Tao mengangguk mengerti "Ohh arraseo. Kau sudah memesan makanan?" tanya Tao.
"Belum. Aku menunggumu biar tidak terlalu repot" balas Kris sambil melambaikan tangannya memanggil waitress.
Belum ada waitress yang mendatangi meja mereka, Kris sudah menurunkan lambaian tangannya lalu memincingkan matanya ke suatu titik.
"Suho? Yixing?" gumam Kris
"Eoh?" Tao menolehkan kepalanya melihat siapa yang sedang Kris pandangi tersebut
"Untuk apa mereka disini?" tanya Kris. Tao mengendikkan bahunya gugup
"Err bagaimana ini ge?" ucapnya panik
"Kenapa panik begitu? Itu hanya Suho dan Yixing" Kris terus menatap mereka yang baru menginjakkan kakinya kedalam cafe.
"Err tidak apa- apa, itu aku err-"
"Tao? Kris? Sedang apa kalian berdua disini?" seorang namja bersuara lembut dengan wajah angelic mengagetkan mereka
"Berkencan?" sambung namja cantik dibelakangnya
"Ehh? Aniyo, kami hanya-"
"Kalian sendiri?" Kris segera memotong kata- kata Tao
"Kami hanya ingin saling berkenalan lebih dalam la-"
"Jadi, double date eum?" ucap Kris memotong penjelasan Suho. Kris mengatakannya dengan sangat santai sehingga Tao, Suho dan Yixing memandang Kris horror
"MWO?!" teriak mereka bersamaan. Tak sedikit orang yang menoleh kearah mereka
"Double Date! What else?"
.
.
"Pesan apa?" tanya Kai pada Kyungsoo yang sedang membaca buku menu dihadapannya. Kyungsoo menurunkan buku menu tersebut dan menunjuk tulisan fettuccine alfredo. "Dan minumnya?" tanya Kai lagi. Kyungsoo terlihat sedikit berpikir sebelum menunjuk tulisan apple tea. Beberapa kali makan bersama Kyungsoo, membuat Kai hafal bahwa Kyungsoo mencintai makanan yang memiliki saus dan Kyungsoo selalu memilih minuman dengan unsur buah- buahan. "Baiklah, Satu fettuccine alfredo, Lasagna rolls, apple tea dan .. Hmm, menurutmu strawberry blast atau strawberry black tea?" Kai menanyakan saran pada Kyungsoo.
'BLACK TEA ENAK' eja Kyungsoo menjawab. Kai mengangguk
"Dan strawberry black tea"
"Baiklah tuan, jadi satu fettuccine alfredo, Lasagna rolls, apple tea dan strawberry black tea?"
Kai dan Kyungsoo mengangguk
"Ada tambahan?"
Kai dan Kyungsoo bertatapan cukup lama sebelum menggeleng ke waitress.
"Baiklah. Ditunggu pesanannya" waitress itu tersenyum lalu melangkah pergi
.
"Hyung?" panggil Kai agar tidak terjadi kecanggungan antara mereka berdua. Kyungsoo menoleh lalu menatap Kai. "Emm, kau tahu, Luhan dan Sehun, Baekhyun dan Chanyeol juga Xiumin hyung dan Jongdae telah berpacaran bukan?" tanyanya.
Kyungsoo mengangguk.
'DAN SEPERTINYA SEBENTAR LAGI KRIS HYUNG DAN TAO PUN BEGITU' Kyungsoo terkekeh
"Mwo? Kris hyung dan Tao? Apa yang mereka-"
'MEREKA BERKENCAN HARI INI' ejanya
"J-jadi, alasan Tao tidak-"
Kyungsoo langsung mengangguk sambil tersenyum puas sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya
"Wow. Dan Suho hyung?"
'YIXING. KAU INGAT? SAUDARA LUHAN HYUNG'
Mata Kai membukat tidak percaya. "M-maksudmu, mereka juga-"
'TADI PAGI MEREKA BERTELEPON. SANGAT ROMANTIS DAN JUGA LUCU. MEREKA JUGA BERKENCAN HARI INI'
'Jadi yang Suho hyung maksud tadi pagi itu ini'. "Woaaw. Kalau begitu tinggal kau dan aku hyung" ucap Kai lembut. Ekspresi Kyungsoo langsung berubah menjadi sulit diartikan.
"Aku akan menunggu hyung" bisik Kai melihat perubahan diwajah Kyungsoo. "Aku akan menunggu es itu mencair" Kai tersenyum luar biasa manis sehingga pipi Kyungsoo lagi- lagi memerah. Kyungsoo lalu menatap Kai dengan tatapan bingung. Maksudnya,
Es apa?
Mencair?
Kai hanya menggeleng lalu mengacak rambut Kyungsoo dan lagi- lagi tersenyum.
Jantung Kyungsoo berdebar keras. Tiap sentuhan yang Kai berikan padanya sangat lembut dan indah. Kyungsoo menyukai itu. Sangat menyukainya. Ia merasa hangat saat Kai berbicara padanya. Ia merasa tenang saat Kai tersenyum lembut padanya. Dan ia merasa aman saat Kai berjalan menuntun Kyungsoo didepannya sambil menggenggam tangan Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum dengan pipinya yang memerah lalu menunduk dan memainkan jarinya. Pikiran tentang Kai sekarang mengapung- apung di otaknya dan menggema di hatinya.
"Jangan menunduk terus hyung. Aku ingin melihat wajah manismu"
Pipi Kyungsoo memanas.
Baiklah, cukup Kim Jongin. Atau Kyungsoo akan meledak.
Kyungsoo mengangkat wajahnya memperlihatkan pipinya yang merona dan terlihat sangat manis. Kai tersenyum. Ia senang sekali melihat wajah merah Kyungsoo. Ia terlihat manis seperti strawberry.
Pesanan datang. Mereka memandang pesanan mereka masing- masing dengan tatapan seorang singa lapar sebelum mengambil garpu dan sendok untuk memakan makkanan yang tersaji dihadapan mereka masing- masing.
Berbeda dengan acara makan yang sebelumnya, kali ini mereka tidak makan dalam diam. Mereka beberapa kali tertawa renyah karena lelucon yang diucapkan si lawan main dan tak jarang menyuapkan makanannya ke namja yang ada didepannya.
"Hmm sangat enak hyung! Sausnya meleleh dimulut dan fettuccinenya sangat lembut dan kenyal" Kai menutup matanya menikmati fettucine yang Kyungsoo suapkan padanya. "Cobalah lasagna ku" Kai mengambil sesendok lasagna lalu menyuapkannya pada Kyungsoo. Tak Kai duga, Kyungsoo menerima suapannya!
'ENAK. RASANYA SANGAT PAS' eja Kyungsoo dengan wajah berbinar
"Kurasa fettuccine yang kau suapkan padaku rasanya beribu kali lebih nikmat hyung"
Kyungsoo memiringkan kepalanya dan menatap Kai bingung.
"Karena garpu itu, adalah garpu milikmu. Dan kau menyuapkannya padaku. Kau tahu? Indirect kiss dengan rasa fettuccine alfredo" goda Kai.
Kyungsoo membulatkan matanya dan membuka sedikit mulutnya. Tanpa ia sadari, pipinya berubah warna lagi menjadi lebih merah.
Kai terkekeh melihat reaksi Kyungsoo.
"Ayo makan lagi" ucapnya yang dibalas anggukan dari Kyungsoo.
.
.
"Mau kemana lagi hyung? Pulang?" tanya Kai. Mereka sudah selesai makan dan berada didalam mobil Kyungsoo sekarang. Kyungsoo menggeleng
'AKU INGIN BERMAIN' ejanya dengan wajah memohon pada Kai
"Kemana?" tanya Kai. Kyungsoo terlihat berpikir sebentar sebelum menjentikkan jarinya
'SUNGAI HAN'
Kai mengangguk lalu membawa mobil Kyungsoo ke Sungai Han.
"Kenapa Sungai Han?" tanya Jongin
Kyungsoo mengendikkan bahunya 'INDAH' ejanya setelah itu. Kai mengangguk mengerti dan fokus pada menyetirnya.
.
"Sudah sampai!" ucap Kai. Kyungsoo keluar dari mobilnya dan berlari ke tepi Sungai Han yang terlihat sangat cantik dan jernih. Kyungsoo duduk disana lalu menutup matanya menikmati angin yang mengelus wajahnya dengan lembut.
Kai tersenyum melihat Kyungsoo. Ia ikut berjalan pelan lalu duduk disebelah Kyungsoo.
"Kau senang hyung?" tanya Kai. Kyungsoo mengangguk dengan mata tertutupnya. "Kalau begitu aku juga senang" ucap Kai sambil tersenyum lembut. Kai kembali menyibukkan diri dengan menatap dan mengagumi wajah Kyungsoo. Entah kenapa namja berkulit tan eksotis itu tidak pernah bosan melakukannya.
Kai berdiri dari posisinya lalu berjalan lebih dekat ke tepi Sungai Han. Mengambil satu batu dari sana dan melemparnya kedalam sungai. Kai tersenyum melihat hasil lemparannya yang cukup jauh dan Kyungsoo membuka matanya dan langsung melihat Kai yang sedang melempar batu ke Sungai.
Kyungsoo bangkit dan berjalan menghampiri Kai. Ia mengambil batu dan melakukan hal yang sama dengan Kai. Melempar batu kedalam sungai. Namun sayangnya, lemparan Kyungsoo sangatlah dekat. Kyungsoo mempoutkan bibirnya saat melihat lemparan batu Kai yang sangat jauh.
'BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKANNYA?' tanya Kyungsoo pada Kai
"Sangat mudah!" Kai mengambil batu lalu berjalan kebelakang Kyungsoo. Kai memegang tangan Kyungsoo dan menyelipkan batu itu disana. "Tarik tanganmu seperti ini" Kai menarik tangan Kyungsoo kebelakang. "Dan hempaskan batunya dengan sekuat tenaga" Ia menggerakkan tangannya yang menggenggam tangan Kyungsoo mengayun kedepan. Batu itu terlempar cukup jauh dan Kyungsoo berbinar melihatnya. Tanpa ia sadari, lagi- lagi pipinya sudah berwarna merah karena jarak tubuhnya dan Kai yang sangat dekat tadi.
Kyungsoo mencoba melempar batu lagi. Tapi sayang, lemparannya sangat pendek. Kyungsoo lagi- lagi mempoutkan bibirnya dan berjalan menghentak- hentakkan kakinya menuju mobil mengajak Kai pulang. Kai menatap Kyungsoo dan tertawa kecil melihat tingkah Kyungsoo yang layaknya anak kecil yang tidak dibelikan eskrim.
.
.
Mungkin karena lelah, Kyungsoo tertidur selama perjalanan kerumahnya. Kai tak henti- hentinya menatap wajah Kyungsoo disaat lampu sedang merah. Wajah damai Kyungsoo membuat Kai tenang.
Setelah sampai, Kai menggendong Kyungsoo. Kali ini ia benar- benar membawa Kyungsoo sampai ke kamarnya. Entah kenapa Yongguk tidak mengambil alih menggendong Kyungsoo seperti sebelumnya.
Kai merebahkan Kyungsoo di tempat tidurnya lalu tersenyum dan mengelus rambut Kyungsoo. Maid Kyungsoo segera bekerja melepas kaus kaki dan sepatu Kyungsoo.
"Terima kasih tuan muda" ucap Victoria sambil membungkuk. Kai ikut membungkuk
"Katakan salam dari Kai pada Kyungsoo" ucapnya sambil tersenyum lalu mengikuti maid Kyungsoo yang mengantarnya ke pintu keluar.
.
Kyungsoo membuka matanya merasakan sentuhan sentuhan aneh di kakinya saat pada maid menelanjangi kakinya tersebut. Ia duduk dikasurnya lalu tersenyum pada maid- maidnya
'KENAPA AKU BISA DISINI?' tanyanya
"Ooh, tadi teman lelaki tuan muda yang berkulit agak gelap yang menggendong tuan kesini"
'DIMANA DIA?'
"Sudah pulang. Ia menitipkan salam untuk tuan muda"
Kyungsoo terdiam. Entah kenapa ia langsung memikirkan Kai. Kyungsoo mengangguk mengerti lalu turun dari kasurnya, menggunakan sandal rumah pororonya dan berlari keluar rumah.
Kyungsoo tak mempedulikan teriakan dari Victoria dan Yongguk yang memanggilnya dan Yongguk tengah mengejarnya bersama beberapa penjaga lain. Kyungsoo berlari ke arah halte. Ia yakin Kai masih disana. Dugaannya benar dan ia tidak terlambat, ia melihat Kai yang sedang mengantri untuk masuk ke dalam bus. Kyungsoo mempercepat larinya dan berhasil meraih tangan Kai sehingga Kai tak jadi masuk kedalam bus.
"Eh? Ada apa hyung?" tanyanya. Kyungsoo masih terdiam sambil membungkuk mengatur nafasnya dan menumpu tubuhnya menggunakan kedua tangannya di lutut.
'AKU SIAP KAI. AKU SIAP' ejanya masih dengan nafas terengah. Senyuman mengembang di wajah Kai. Ia segera menarik tubuh mungil Kyungsoo kedalam dekapannya
"Saranghae hyung saranghae!"
.
.
.
END!
.
.
.
TBC sih._.
Sudah jadian ulalaaa
Author potek suami author direbut Kai /nangis kejer/
Viewer sudah ada 30k gomaweooo/bow
RnR juseyoong^_~
