CHAPTER 2

Guardians. Kalau kalian masih ingat, waktu kecil kalian pasti pernah menyimpan gigi di bawah bantal sambil berharap diambil oleh peri gigi. Lalu berlomba mengumpulkan telur di hari paskah, serta pura-pura tidur agar bisa memergoki Santa Claus datang kerumahmu pada malam natal, namun kau justru ketiduran dan bermimpi indah.

Semua itu bukan cuma mitos belaka. Ada sekumpulan orang yang dikenal dengan Guardians. Mereka adalah North si Santa, Tooth si peri gigi, Bunny si kelinci paskah, Sandy si pembawa mimpi indah, dan juga Jack Frost. Yeah, kau pikir siapa yang membawa salju selama musim dingin?

Tugas Guardians adalah menjaga anak-anak, terutama dari Pitch Black, pembuat mimpi buruk. Pitch Black menyerang Burgess lima tahun yang lalu, dan Jack beserta Guardians dengan sukses menggulingkan Pitch, jatuh ke dalam lubang kegelapan yang ia buat sendiri.

Kini setelah Pitch dikalahkan, Guardians melewati hari-harinya dengan normal. Tooth sibuk dengan bayi-bayi perinya di istana, Sandy tetap terus bekerja 24 jam untuk memberi mimpi indah kepada anak-anak diseluruh dunia. Sedangkan Bunny, walaupun paskah baru saja usai dua bulan yang lalu, ia tetap menghiasi telur-telur di sarangnya. Lalu North, karena sekarang sedang musim panas, tentu tugasnya tidak sesibuk bila dibandingkan dengan musim dingin. Ia memilih bersantai di ruang kerjanya sambil mengukir es.

Sedangkan Jack ... Guardian termuda ini juga tampaknya sedang menganggur. Ia hanya bisa membuat hujan salju di beberapa negara saja. Jikalau ia nekad menurunkan salju di Burgess dan sekitar Eropa, ia yakin Bunny akan melotot kepadanya. Jack sudah cukup bermasalah dengan Bunny karena insiden badai salju tahun 1968, ia sungguh tak mau kelinci Australia raksasa dengan bumerang itu murka lagi kepadanya. Lagipula, Jack sangat tidak ingin berkeliaran di negara yang sedang musim panas. Jack, layaknya manusia salju, sangat sensitif terhadap panas.

Setelah mengunjungi Jamie sebentar—yang telah membuatnya cukup kepanasan dengan berada di Burgess—kini Jack sedang termenung sambil melayang, ia membiarkan angin membawanya kemanapun. Ia sangat bosan berada di North Pole. Workshop North tidak sesibuk biasanya, para elf dan yeti sedang ambil cuti untuk berlibur. Jack tidak bisa bermain dengan Phill.

Sadar karena telah termenung cukup lama, Jack melihat keadaan sekitar. Hutan pinus dan cemara mendominasi bukit-bukit salju. Suasananya sangat familier dengan Burgess. Namun tidak mungkin, karena Jack yakin ini sudah beberapa mil lawan arah dari Burgess. Merasa belum pernah berada di tempat tersebut, Jack memandang dengan saksama. Ia terbang sedikit lebih tinggi.

Matanya pun terbelalak ketika melihat sebuah kota. Tidak, itu bukan kota. Itu adalah kerajaan. Sebuah istana megah berada di pusatnya. Sekeliling tempat itu sepertinya merupakan sungai, atau danau, atau entah apa, karena banyak kapal yang terjebak di air yang membeku. Beku? Tunggu. Seharusnya daerah sekitar Burgess kan sedang musim panas! Lagipula, Jack tidak pernah tahu bahwa masih ada kerajaan di era modern ini.

"Hey, kemana sih kalian membawaku?" Jack tampak menggerutu kepada para angin.

Jack mencoba untuk mendatangi kerajaan itu, namun sesosok manusia menarik perhatiannya. Tampaknya itu adalah seorang gadis yang sedang menaiki kudanya. Jack menghampiri gadis berambut ginger itu.

Ia tampaknya tersesat, dan si kuda terlihat panik. Si gadis berusaha menenangkannya, namun malah terjatuh dari kudanya. Ditambah lagi, si kuda pergi meninggalkan perempuan itu.

"Kuda sial!" gerutunya.

Jack terkekeh melihat kesialan gadis itu. Sifat jahilnya pun muncul, ia membuat bola salju yang cukup besar dan melemparkannya tepat ke wajah gadis itu. Si gadis terkejut, dan Jack terus melemparkan bola salju sambil terbahak-bahak. Namun ekspresi gadis itu membuat Jack berhenti tertawa.

Si gadis tampak begitu ketakutan, "Si-siapa i-itu? T-tunjukan dirimu!"

Jack terdiam. Gadis itu ... tidak bisa melihatnya.

Jack berdiri di hadapan gadis itu, memastikan bahwa si gadis memang tidak bisa melihatnya. Masih penasaran, Jack melemparkan bola salju lagi tepat di wajahnya.

"Gyaaa! Roh jahaaat!" gadis itu spontan berlari menuruni bukit, tergelincir dan berguling-guling hingga akhirnya tercebur kedalam sungai.

Jack masih melongo karena tingkahnya. Barulah kemudian Jack sadar kalau gadis itu menggigil kedinginan. Ia berjalan menjauh dari Jack, dan Jack pun membiarkannya pergi. Tidak jauh darisana, Jack sempat melihat asap, yang berarti ada suatu rumah atau bahkan penginapan.

Setidaknya ia bisa berhenti menggigil disana, gumam Jack.

Setelah meninggalkan si gadis, Jack kembali terbang menelusuri daerah asing itu. Apa yang ia temukan berikutnya jauh lebih mengejutkan. Sebuah istana yang terbuat dari es menjulang tinggi di sebuah bukit. Dibawahnya terdapat jurang, dan jembatan es menjadi satu-satunya akses untuk mencapai istana tersebut.

Tanpa ragu-ragu, Jack mendaratkan dirinya di sebuah balkon. Guardian muda itu mengagumi keindahan bangunan yang dipijaknya. Betapa mengagumkan, seluruh bangunan itu terbuat dari es, tak ada material lain. Esnya pun begitu kokoh.

"Tidak mungkin manusia dapat membuat yang seperti ini," kata Jack dengan tangannya yang masih meraba tekstur dinding istana.

Lalu dengan tiba-tiba, pintu istana terbuka, seorang gadis muncul di ambang pintu. Gadis itu berambut blonde, yang bahkan hampir putih seperti Jack, dan ia tampak sangat terkejut melihat pengunjung gelap di rumahnya.

"Haaaah!" Tanpa aba-aba, gadis itu menjerit, dan jeritannya cukup membuat Jack ikut terkejut.

Jack mundur dan tergelincir, ia terjatuh dari balkon istana. Si gadis makin bertambah panik dan mengintip ke bawah dari balkon. Namun Jack kembali melayang ke balkon itu, "Hey, jangan panik. Aku bisa terbang."

Mata gadis itu membulat, justru terlihat semakin panik, "Oh Tuhan, maafkan aku! Aku baru saja membunuh seseorang, tolong ambil kembali hantunya, jangan biarkan ia menggentayangiku, Tuhan!" gadis itu memohon sambil berdoa.

"Heh? Aku ini bukan hantu! Yeah, walaupun aku memang sudah pernah mati," ucap Jack sambil menyenderkan tongkatnya.

"Hah?! Berarti kau memang benar hantu, kan!" gadis itu tampak semakin ingin menjerit.

Sebelum si gadis menjerit, Jack menahannya, "Bukan! Aku, hmm ... bisa dibilang aku ini merupakan roh. Roh musim dingin. Pembawa musim dingin, dan juga Guardian, dan kau?"

"Elsa..." si gadis masih terpukau melihat mahluk yang mengaku sebagai roh di hadapannya itu.

Jack tersenyum, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Elsa berdiri. Mantan Ratu Arendelle itu meraih uluran tangan Jack dan berdiri. Ia lalu merapikan gaunnya yang kusut.

Seketika Jack sadar, kalau gadis ini bisa melihatnya! Ia bahkan bisa menyentuhnya. Gadis itu terlihat begitu nyata. Jack memperhatikan Elsa yang masih sibuk merapikan lipatan gaunnya. Kepingan es di gaun Elsa tampak bersinar-sinar, begitu pula wajahnya. Jack merasa gadis ini terlalu cantik...

"Hey! Jangan melihat seorang gadis seperti itu!" Elsa sedikit cemberut, dan justru makin membuat Jack terpaku melihatnya.

"Hey?!"

"Ah! Oh, oh ya. Ya. Aku Jack, jika kau penasaran akan namaku," Jack melemparkan senyum nakalnya.

Elsa mendesah dan bersedekap, "Wahai roh musim dingin yang agung, kuperintahkan kau—"

"Hey, hey, kau tak perlu mengusirku. Aku bukan roh jahat. Aku kemari karena tertarik dengan tempat ini, kau tahu?" Jack menyela, sambil kembali memperhatikan detail istana Elsa, "bagaimana caramu membuatnya?"

Elsa mengepalkan tangan dan mulai membuat pusaran salju diatasnya, yang kemudian membeku menjadi bola es.

"Kau! Bagaimana kau melakukan hal itu? Apa kau juga roh?!" kini Jack yang terkejut setengah mati.

"Entahlah. Semoga saja aku ini memang manusia," desah Elsa.

"Kalau kau manusia, bagaimana kau bisa melakukannya? Maksudku, semua ini, lihatlah! Ini menakjubkan, Elsa!" mata Jack terbelalak memandang istana Elsa.

"Aku terlahir dengan semacam kemampuan sihir. Awalnya, sihir ini memang menyenangkan. Namun seiring aku bertambah dewasa, kekuatannya semakin tidak terkendali. Aku bahkan terpaksa pergi dari rumah lamaku dan mengisolasi diri disini," Elsa bercerita dengan tatapan menerawang.

"Sihir, ya. Jadi itu menjelaskan mengapa kau bisa melihatku. Mungkin karena kau dan aku punya kemampuan yang sama," ujar Jack.

"Melihatmu? Tentu aku bisa melihatmu. Memangnya ada apa denganmu?" Tanya Elsa sambil berjalan masuk ke istana. Jack mengikuti Elsa dengan hati-hati karena permukaan lantainya cukup licin. Sebenarnya Jack malas membicarakan tentang betapa dirinya dulu tak terlihat, tetapi pada akhirnya ia membuka mulutnya.

"Tidak semua orang bisa melihatku. Hanya yang percaya bahwa seorang Jack Frost nyata saja yang dapat melihatku. Kebanyakan yang percaya padaku merupan anak-anak. Itu karena aku seorang Guardian," ujar Jack sambil melemparkan seyuman ke Elsa, "apa kau masih ingat dengan kisah Santa Claus, peri gigi, sandman, dan kelinci paskah? Nah, mereka semua nyata. Mereka adalah Guardians yang bertugas melindungi anak-anak."

"Kalau begitu, kau ini Guardian apa?" alis mata Elsa refleks naik dengan sendirinya ketika ia melemparkan pertanyaan.

"Kau pikir selama ini musim dingin datang begitu saja, eh?" Jack menyunggingkan senyum sambil membuat pusaran salju seperti yang baru saja Elsa lakukan.

"Aha, rupanya bukan hanya aku yang terkutuk oleh sihir salju ini," Elsa mengangguk-angguk menunjukan kekesalannya.

Jack nyaris tertawa, heran mengapa gadis dihadapannya itu merasa begitu benci dengan kekuatannya, "Kutukan? Lihatlah apa yang bisa kau perbuat dengan kekuatanmu. Kau menciptakan tempat menakjubkan ini, Elsa!"

"Ya, Jack, aku menciptakan—dan juga menghancurkan!" kini Elsa tampak marah. Tangannya terkepal dengan erat, cuaca di sekitar mereka menjadi lebih dingin dan berangin, "aku nyaris membunuh adikku!"

Jack terdiam mendengar suara Elsa yang tercekat. Tangan gadis itu dikepalkannya, dan ditariknya kedua tangan itu ke dadanya, seolah-olah berusaha menyembunyikan barang berbahaya.

"Nyaris. Setidaknya kau tidak membunuhnya. Kau masih bisa melihatnya lagi."

"Tidak, aku tidak ingin bertemu dengannya lagi! Aku tidak ingin mencelakainya lagi, kau tidak mengerti akan hal ini," Elsa mendesah, memegang kepalanya dengan gelisah.

"Yeah, mungkin aku memang tidak mengerti apa masalahmu dengan adikmu, tapi aku yakin berpisah dengan seorang adik sangatlah tidak menyenangkan. Pulanglah Elsa, ia pasti mengkhawatirkanmu," Jack mendekati Elsa, menepuk punggungnya dan membelainya—mencoba menenangkan gadis itu.

"Jangan dekat-dekat. Kumohon, aku ini berbahaya, sebaiknya kau—"

Ucapan Elsa terhenti ketika pergelangan tangan kirinya digenggam oleh roh musim dingin dihadapannya itu.

"Kau hanya tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya," Jack memberi senyum seramah mungkin, mencoba untuk menghilangkan rasa panik Elsa.

Elsa menatap tangannya yang digenggam Jack. Ia mendesah, masih sulit menerima kenyataan, "Aku ini monster, Jack."

"Kau bukan—"

Elsa menarik tangannya dari genggaman Jack, ekspresinya berubah menjadi sedikit keras, "Kumohon Jack, pergilah. Jangan kembali ke tempat ini. Aku sudah terbiasa menyendiri, kau tahu? Dan aku yakin seorang Guardian pasti punya pekerjaan yang harus dilakukan."

Sejenak, Elsa bisa melihat kekecewaan yang tersirat di wajah Jack. Pemuda itu menatap keluar balkon, langit sudah memperlihatkan semburat keemasan, pertanda fajar sudah akan datang. Jack memainkan tongkatnya, menjauh dari Elsa.

"Oke, aku akan pergi sekarang," Jack memberi senyum simpul, "tapi ingat—kau bukan monster, dan sihirmu itu bukan bencana, tetapi kesenangan. Kau akan terbiasa memakainya lama kelamaan. Bisa kujamin kau akan ketagihan menggunakannya, heheh..."

Elsa terus memandangi pemuda berambut putih itu. Ia tidak mengerti mengapa Jack bisa begitu senang dengan kekuatannya itu, "Ya, ya, ya. Pergi sana."

"Bye-bye, Ratu Elsa!" Jack memunculkan cengiran di wajahnya, dan dengan secepat angin, ia terbang menjauh dari balkon. Menjauh dari Elsa.

Menjauhlah dariku, dan kau akan aman, gumam Elsa.

Kini, Ratu Es tersebut memilih untuk sendiri lagi, tanpa seorang pun teman di istananya.

TBC


Hemm kan, romancenya kriuk2. Maklum, kebanyakan baca romance BL *plakk XD

Bad? Good? Reviewnya dong :3