PASTA;
02: His Personal Taste.
miyuqi, Feb 20th 2014
"…bagaimana?"
Pemuda itu menimbang saat si gadis bertanya padanya. Tangannya masih memegang piring dan garpu, sementara rahangnya masih bergerak mengunyah makanan yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya. Ia telengkan kepalanya, disusul dengan kerutan pada alis. Pemuda itu berpikir, apa yang harus ia katakana pada gadis ini. Makanannya kali ini mengandung sedikit lebih banyak krim dari kemarin—bukan berarti penambahan bahan itu membuat perutnya mual karena rasa pekat itu.
Sekali lagi ia menimbang, lalu memilih asin sebagai kata yang menurutnya cukup mewakili dominan rasa yang baru saja ia kecap. Krim terasa gurih, dan asin termasuk salah satu unsur pembentuk rasa tersebut, benar? Benar.
Dengan satu kata tersebut terlontar dari bibirnya, ia bisa melihat si gadis menunduk sedih. Dia tidak bereaksi lebih lanjut, tangannya kembali bergerak mengambil suapan lain. Ia tidak pernah terang mengatakan mie Eropa yang dibuatkan si gadis untuknya tidak enak. Sama sekali. Si gadis bertanya mengenai bagaimana rasa masakannya, dan pria itu hanya menjawab sesuai dengan pertanyaannya.
Gadis itu sendiri yang berkesimpulan bahwa komentar yang diberikan si pemuda berarti masakannya tidak enak. Hey—ia berkomentar demikian agar si gadis tahu kesan yang didapatkan orang saat memakan masakannya, tidak salah, kan. Tidak.
Sudah dua puluh tujh kali gadis itu memberikan pasta kepadanya, sejak pertama kali ia iseng mencicip masakan si gadis. Sebanyak itu pula ia memberikan komentar yang disalahartikan sebagai 'tidak enak' oleh si gadis. Lalu saat si gadis menatapnya dengan pandangan kesal sekaligus penuh tanya seperti sekarang, pemuda itu hanya bisa menahan geli sembari membalas tatapan si gadis dengan raut wajah menyebalkan.
Pasta buatan si gadis enak, kalau ia mau jujur. Apapun rasa yang mendominasi—apakah manis, asam, asin, hingga pedas daun oregano kering—justru menjadi daya tarik masakannya. Pada pemberian keduapuluh si gadis, proporsi rasa itu seimbang dan ia tidak bisa menentukan rasa apa yang dominan di sana. Maka ia memilih untuk mengomentari kacang polingnya yang hijau, karena hanya kacang itu yang terlihat menonjol di antara krim, daging ayam, dan pasta yang warnanya serupa. Salah? Tidak. Piring berikutnya, tinggallah ia yang mengeryit saat kacang polongnya tidak lagi bulat-bulat.
Ah, dan tolong jangan tanya mengapa pemuda itu mengingat tiap porsi yang diberikan kepadanya.
Pemuda itu menyukai pasta-pasta buatan si gadis, tentu saja. Bukankah sudah terlihat jelas. Berapa kalipun gadis itu memberikan pasta padanya, ia akan dengan senang hati menerima dan memakannya. Namun ada satu hal yang perlu diketahui, tolong jangan minta pemuda itu untuk memuji. Ia tidak bisa—egonya terlalu besar untuk membuatnya mengungkapkan pujian untuk orang lain, sekalipun dalam hati ia terus mengulang pujiannya.
Apalagi dengan keadaan seperti ini, di mana si gadis mengatakan bahwa tidak akan berhenti memberinya pasta hingga ia berkomentar 'enak'. Ia tersenyum tipis, merespons si gadis yang menunjuk ke arah hidungnya.
"Terserah, Sakura."
Karena dengan berkomentar 'enak', maka mata hitamnya akan berhenti melihat wajah khawatir setiap kali garpunya bergerak di atas piring. Karena dengan komentar itu si gadis akan berhenti mendatanginya. Pemuda itu tidak akan mengatakannya.
Tidak sampai si gadis berjanji untuk setiap hari memasakkan pasta untuknya, di dapur rumah mereka nanti.
~ selesai ~
Modus level: makan pasta. / wordcount: 500 words each (story only)
Terima kasih : D
