G-Project
[Chapter 4: G-Project Released fragment 2]
By: PORORO90
Disclaimers : Masashi Kisimoto sensei.
Warning: Typo, gaje, abal, OOC, AU dan mungkin segala ketidakjelasan lainnya.
For the reader, it's present to you..
Preview:
"Ngomong-ngomong kenapa Uchiha ngotot sekali ingin mensukseskan progam ini?" tiba-tiba alur menjadi serius,
Hinata menopang dagunya di atas meja, "Karena Itachi dan Sasuke adalah keturunan terakhir, mungkin mereka ingin menciptakan generasi-generasi Uchiha yang lain."
"Kupikir tidak sesederhana itu, ketika proyek ini resmi di luncurkan maka 1akan ada banyak kontroversi. Uchiha bukan orang bodoh yang bertindak seceroboh itu, kecuali—" Shika tak mampu melanjutkan, analisanya lebih jauh menggambarkan keadaan yang dinilainya mungkin tidak akan baik.
Hinata terdiam,
"Ketika Itachi mengatakan gambar kasarnya kepadaku kemarin, ada indikasi ini berhubungan dengan radiasi nuklir atau apalah. Intinya, mereka ingin membuat 'anak' hasil rekayasa genetika untuk memperoleh kemampuan super dari tiap individu. Semacam program stek untuk tanaman."
"Yang aku tidak mengerti, kenapa Itachi-sama susah-susah mencoba menyelamatkan dunia lagi?" Hinata bergumam,
"Ini bukan soal Itachi, ada seseorang yang menggerakan Itachi. Seseorang yang juga merekrutku.."
Bahu Hinata menegang, ada apa semua ini?
.
~PORORO90: G-Project~
Di jarak setengah lingkar bumi.
Capetown-Afrika Selatan.
.
Sabaku Gaara, adalah arkeolog termuda yang sudah menyabet gelar prestisius British Archhaelogical Award. Di usianya yang belum genap menginjak dua puluh delapan tahun dia telah membawahi proyek rekrontruksi untuk pusat kebudayaan di Afrika selatan. Bagi sebagian orang, Gaara hanya dipandang sebagai pria yang suka berpetualang dan tidak punya hal yang membuatnya menetap. Tapi, pandangan itu terasa salah saat dihadapkan kepada sosok cinta abadinya. Ya, Hinata Hyuuga sang tunangan.
Menilik berapa besar perjuangannya mendapatkan hati si ahli biologi itu, ia terpaksa bolak-balik Afrika-Belanda setidaknya dua bulan sekali selama lima tahun. Bukan waktu yang singkat dan tanpa pengorbanan. Gaara, yang terlihat selengehan dan tak bisa diatur justru terikat pada romansa usang jaman baheula, dimana hatinya hanya milik cinta pertamanya.
Cinta pertama yang membuatnya buta pada yang lain.
.
-Cintamu yang terlalu akan membutakan mata dan telingamu, pepatah Arab-
.
Mengabaikan segala waktu yang tersia karena Hinata yang terus-menerus tenggelam dalam kesedihan tewasnya sang kekasih di Vinson Massif, Gaara yang duduk sebagai seorang sahabat dekat, hanya mampu meminjamkan bahu dan telinganya untuk menjadi pendengar. Kesabaran, sepahit apapun akan membuahkan hasil yang manis, hal itulah yang terus dipercayai lelaki berambut merah itu hingga berhasil meyakinkan Hinata untuk menaikkan status hubungan mereka menjadi relationship dan akhirnya engagement.
Suara bunyi lagu kokoronotomo mengalun melalui benda berbentuk balok berwarna dark silver yang dikantonginya di balik jaket hoodie lusuh berwarna kecoklatan. Gaara, berdiri di bawah terik sinar matahari gurun kecil di tempat penggalian kota tua, sambil menempelkan benda logam itu ke telinganya.
"Gaara.." Suara Kankurou di seberang sangat tidak mencerminkan kebribadiannya. Terdengar berat, dan serius. Gaara tahu ada suatu hal yang penting.
"Hm?" suaranya hampir tersapu angin yang besar khas gurun.
"Kuatkan hatimu,"
"Apa maksudmu?!" Gaara mengernyit, tidak tahu apa latar belakang kakaknya yang bekerja sebagai Master of Pupet di Irlandia itu menelepon,
"Hinata pergi.."
"…"
Keheningan ini membuat Kankurou dengan cepat menambahkan, "Hinata meninggalkan Arnheim menuju Konoha tiga hari lalu. Dan kau takkan percaya ini,"
"…"
"Dia bersama pergi bersama pria Uchiha!"
"Maksudmu Uchiha Itachi?" Gaara teringat korelasi antara perusahaan Uchiha dan Hyuuga.
"Bukan!" Ralat kankurou, "Uchiha Sasuke, ya Tuhan.. anak itu masih hidup!"
Gaara merasakan serangan badai gurun yang menampar wajahnya telak, ia tidak pernah menduga hal yang semacam ini muncul. Dalam bayangannya yang kelabu, hanya orang itu yang bisa membuat Hinatanya berpaling. Ia menggeram,
.
"Bagiku, yang kuperlukan cuma satu,"
"Jangan katakan kalau—"
"Ya! Aku akan ke sana dan memastikan sendiri!"
Bersamaan dengan kemurkaan Gaara, ia menekan tombol merah di panggilan itu. Mengakhiri dan segera bergegas meninggalkan lokasi penggalian.
.
"Sir, how about this project?" asisten pribadinya berkebangsaan asli Afrika Selatan menghalangi kepergiannya,
"I don't care!" desis Gaara, "I just want my whole live, back!"
"What?!" Pria negro itu menatap mata jade Gaara,
"I hope, you can find the new boss soon.." Gaara, tanpa berbalik badan ia melambaikan tangannya.
Dan pria itu mematung, memandangi punggung Gaara yang menjauh. Panas siang itu, membawa Gaara pergi bersama fatamorgana yang meliuk di hembus angin.
Ya, bagi Gaara, Hinata adalah seluruh hidupnya!
~PORORO90: G-Project~
..
.
Di gedung Uchiha Researced Center.
Wilayah Barat Konoha.
..
.
Hinata tertidur di atas meja kerjanya, di hadapannya terserak beberapa berkas dan computer yang masih menyala. Pikirannya lelah, diforsir untuk mematangkan proyek gennome ini. Dan akhirnya di malam selarut ini ia masih berada di pusat laboratorium Uchiha.
Shika mendorong pelan pintu kaca bening yang menghubungkan antar ruangan. Ada beberapa berkas yang tertinggal yang memaksanya kembali ke laboratorium. Ketika penglihatannya tertuju pada ruangan kerja Hinata yang menyala, timbul niatan di hatinya untuk sekedar menyapa. Yang di dapatinya ketika mendorong pintu kaca bening yang dihiasi ukiran symbol klan Uchiha itu justru Hinata yang terkulai tak berdaya dengan bantalan sebelah tangannya.
Untuk sejenak saja, pria berambut nanas itu terdiam. Ada gelenyar aneh memenuhi rongga dadanya. Jikalau saja, ia punya kemampuan untuk sekedar menghentikan waktu. Ia, menarik nafas dalam. Ada banyak hal yang kadang tidak bisa diungkapkan dalam rangkaian kata. Cukup mata dan biarkan hati yang menerjemahkan. Seperti tatapan Shikamaru Nara kepada Hinata saat ini. Mata itu seolah menjelaskan, bahwa sedekat apapun Hinata Hyuuga, akan ada jarak yang tak pernah tergapai. Shika, tahu akan hal itu.
Maju beberapa langkah hingga ia menjangkau wanita Hyuuga yang mencuri hatinya, ia melepas jas lab yang biasa membalut tubuhnya, memakaikannya pada bahu ringkih yang terlalu lemah untuk sekedar tahu, yang dia percayai sebagai Uchiha Sasuke kini bukanlah Uchiha Sasuke yang sesungguhnya. Hinata menggeliat pelan, tapi tak terusik oleh kehadiran Nara.
Sementara itu Shika lebih memilih untuk duduk di seberang tempat duduk Hinata. Mengamati sang bidadari yang terlelelap, Shika bergumam lirih.
"Untuk hal yang tak pernah terhapuskan.. kadang, kita membiarkan rasa sakit tetap bertahan,"
Shikamaru Nara, memejamkan matanya sambil menyender pada kursi lainnya di ruangan itu, "Harapan? Adalah rasa sakit yang terakumulasi, menjadi titik penolakan akan keberadaan yang tidak kita inginkan. Kau, terlalu banyak berharap, Hinata.." gumamnya lalu diam dan menuju alam bawah sadar.
~PORORO90: G-Project~
.
.
Sasuke Mirai membuka mata geometrinya. Jika perkiraannya tepat, sekarang adalah tahun 2401 pukul enam pagi, di daerah New Tokyo distrik Andromaeda. Tempat biasanya ia diambil darahnya.
Ia baru saja melalukan travel portal lagi menggunakan mata Sasuke Uchiha. Dan yang sekarang ia temui hanya kebisingan jalan yang padat. Ia telah tersesat diantara lalu-lalang manusia yang pergi bekerja. Untuk sejenak, ia merasakan lega dan rasa sakit yang aneh. Ia sekali lagi berhasil menyelamatkan masa depan. Dalam hal ini, misi yang sedang dijalani kedua orang itu akan menuai kesuksesan. Tapi.. ia tahu, jika dengan mengubah takdir masa depan, ia justru menghilangkan eksistensinya sendiri. Ia menciptakan masa depan yang tak pernah ada dirinya!
Ia menarik nafas lagi, rasa sakit itu masih ada. Ada perasaan sesak, ketika tahu, ia tak pernah ada. Ia takkan pernah menjadi bagian dari masa depan. Sejarah telah berubah, dan ia merasakan sakit yang sangat di dadanya.
Memegang dada kirinya, ia berjalan terhuyung melawan arus manusia yang hendak menuju kepada kegiatan mereka. Dari sudut pandang yang tersaji dalam pemandangan Sasuke Mirai, ia telah melawan arus kehidupannya sendiri.
Sasuke Mirai merasa tekanan di dadanya semakin besar hingga ia limbung dan terpaksa menepi. Ia membuka sedikit kancing kemeja yang digunakannya. Ada beberapa titik hitam yang terlihat di dadanya yang putih. Ia tersenyum getir,
"Ahh, rupanya, takdir lebih cepat menghampiriku.." ia bergumam.
~PORORO90: G-Project~
.
.
Ketika kesadaran Hinata terkumpul, ia segera membuka menegakkan punggungnya. Seketika ia terkesiap, mendapati jas lab berwarna putih yang lain melorot ke lantai. Matanya kian melebar, ketika ia juga melihat sosok Shikamaru Nara tertidur di kursi yang lain sambil menyilangkan tangan di dada. Sejenak wanita Hyuuga itu tersenyum, lalu menarik nafas pelan.
Ia bukannya tidak tahu perhatian pria nanas itu. Namun, hatinya terlanjur memilih. Untuk siapa ia harus berlabuh dan setia. Meski kadang hatinya juga sakit, memikirkan bagaimana Gaara akan menjalani hidup. Ia terombang-ambing dalam pusaran perasaan yang tak ia mengerti. Bagaimana mungkin ia mencintai dua orang sekaligus? Ia mencintai Sasuke, selalu. Namun sisi hatinya yang lain berkata ini keliru. Ia telah menautkan janji pada lelaki berambut merah itu. Bahwa ia menyayangi Gaara, ia memikirkan pemuda Sabaku itu dan takkan bisa menyakitinya. Bisakah ia egois dengan memiliki semuanya? Ia menarik nafas lagi.
"Konyol." Gumamnya lirih.
.
Ia tahu, kekonyolan ini terus berlangsung saat ini. Ketika rasionya menolak kenyataan Sasukenya telah mati. Meski ia sendiri menyadari, ada perbedaan mendasar tentang Sasuke yang datang dan Sasuke yang pergi. Tapi, cintanya menghalangi ia untuk ingin tahu.
~PORORO90: G-Project~
.
.
BRUKK!
.
Itachi terlonjak dari tempat duduknya saat mendengar suara benda terjatuh dari kamar Sasuke. Pria Uchiha berambut panjang itu segera bangkit dari meja kerjanya dan langsung bergegas pergi.
Ia mengetuk pintu yang berada tepat di depan ruangan kerjanya,
.
"Sasuke?"
.
Ia mencoba mengetuk lagi, namun tangannya terhenti ketika tak mendengar suara apapun. Ia merasa sesuatu yang ganjil sedang terjadi. Dan tangannya dengan cekatan memutar handel pintu yang tengah tak terkunci.
Pandangan matanya melebar sesaat mengetahui, jikalau Sasuke tengah terkapar di lantai. Tangannya memegangi dada kirinya. Ia dengan cepat menghampiri replika adiknya,
"Sasuke, sadarlah!" ia menggoyangkan tubuh adiknya,
"Sasuke?!" ia mencoba meneliti denyut jantung si pria raven. Denyutnya begitu lemah dan Itachi merasa sesuatu sedang terjadi sekarang,
"Sasu.. kau bisa mendengarku?" ia mengguncang lagi tubuh adiknya, kepanikan merajai pikirannya. Rasa sakit menghujamnya tanpa ampun, apakah sasuke akan pergi lagi?
"Berisik aniki!" lirih pria raven itu.
.
Itachi tersenyum, meski kata-kata kasar itu terdengar ditelinganya. Setidaknya itu cukup mengobati rasa khawatir yang menggerogoti jiwanya.
.
"Kau kenapa?"
"Efek masa depan," Kilah Sasuke dengan mata yang masih terpejam. "Racun Appocalypse yang kubawa dari masa depan menghancurkan system imunku.."
"Kau juga terjangkit?!" Itachi tak bisa menahan keterkejutannya.
"Aku terjangkit saat melakukan 'genjutsu' pertama menggunakan mata Sasuke ini."
Itachi memandang Sasuke Mirai dengan muka yang menyiratkan rasa sakit. Biar bagaimanapun, ia tak ingin kehilangan apapun sekarang.
"Kita akan membuat penawar racunnya.." kata Itachi serak, "Kau dan aku akan bertahan.."
"Hei, jangan bicara aku seolah akan mati!" ketus Sasuke Mirai. "Aku akan baik-baik saja selama masa inkubasi, untuk sementara apakah kau memiliki persediaan darah adikmu?"
Itachi meneliti raut wajah Sasuke Mirai,
"Apakah Sasuke tak pernah melalukan pemeriksaan darah atau donor darah?"
Itachi memegangi dagunya, ia sedang menggali ingatannya. "Mungkin.."
"Cari. Itu adalah jalan termudah menangkal virus ini."
"Hanya darah Sasuke saja? Hanya itu yang kau butuhkan?"
"Tidak." Sasuke Mirai mulai membuka mata dan burusaha untuk duduk. "Kita juga memerlukan sampel sperma Sasuke Uchiha.."
Itachi tahu, saat ini akan terjadi.
"Kita akan meneruskan generasi Uchiha melalui sperma adikmu."
"Tapi, adalah jalan yang lebih manusiawi dari penciptaan ini?" sisi religious Itachi melakukan penolakan.
"Tidak!" sasuke Mirai menatap manik kelam Itachi, "Kau telah terjangkit, spermamu mati. Aku tak bisa melalukan itu, karena kau juga tahu, aku terjangkit. Namun begitu, kita tidak bisa akan menularkan virus itu jika kita menghindari kontak langsung dengan manusia. Apocalypse akan menyebar dengan perantara logam pada tanah. Karena itu jika aku mati, maka bakar mayatku."
"Apakah itu berlaku juga untukku?"
"Ya." Sasuke telah kembali pulih, ia bangkit dari posisi duduknya di lantai dan mulai meraih apapun untuk dijadikan pegangan. Ia menuju ke ranjang yang tampak nyaman untuk dihuni ketimbang lantai marmer dingin.
"Kau menyebarkan apocalypse ketika di kubur. Karena kau orang penting banyak yang mengunjungi makammu. Tanpa tersadari logam-logam itu terus meradiasi dan juga meracuni air. Di sanalah bibit berasal. Dimulai tahun 2049 kau mati, dan enam puluh tahun kemudian gejala apocalypse pertama ditunjukkan. Seratus tahun kemudian, virus ini terbawa hingga separuh benua. Saat itu mungkin Sasuke-mu ditemukan. Mereka melakukan penelitian. Tiga ratus tahun kemudian aku dan teman-temanku diciptakan."
"…"
"Jika mata rantai terputus dari kau yang memiliki penerus baru maka keadaan akan seperti ini; kau akan tetap mati di tahun 2049. Tapi kau punya penerus untuk sekedar tahu kalau kau harus dikremasi dan dikristalkan. Penerus selanjutnya akan hidup tanpa apocalypse. Tak ada virus, maka aku juga tidak ada."
"Jadi kau ingin berkata. Kau membunuh bibitnya, meski kau sadar resikonya adalah kematian?"
"Hei—lagi pula, aku sudah pernah mati. Apa yang harus kutakutkan?!"
Itachi menelan ludahnya getir, ya Sasuke pernah mati.
.
"For the time can not erase, we have a hope, uh?!" Sasuke memberikan devil smirk.
_TBC_
.
.
A/n
Maafkan keterlambatan update saya. Karena pekerjaan yang mengharuskan saya mengejar target. Sementara waktu yang saya miliki tak tersisa. Saya tidak ingin menganak tirikan fict ini. Setidaknya janji saya untuk segera apdet sudah terpenuhi.
Yukori Kazaki: hehehe, yang ini nggak kerasa ilmiahnya ya? Udah saya usahain panjang kok.
Coro-chan: Olala.. aku nemu anak yang manggil aku kaya gini (lagi!) whhaaa.. terharu T^T
Moofstar: jujur aku agak kesulitan mengembangkan ide. Coz, literature yang kubaca sedikit banget. Aku ngrasa banyak yang kliru, eniwai semoga readers yang lain gak ngrasa, hahaha XD
Nivellia Neil: jujur, saya juga mantan anak IPS, dan pekerjaan saya juga bukan analis kesehatan atau semacamnya. Saya justru terjebak antara angka keuangan! Dan ini irony! Saya sudah menurunkan kapasitas kata-kata ilmiah demi menjangkau pembaca. Hehehe.. :3 Dari sini kira-kira udah ngeh belum? Kenapa Uchiha yang asli punah? Ni udah diperpanjang.
Flowers lavender: gya, makasih udah review, saya makin senag kalau ada yang masih menhgarap fict abal ini lanjut.
Cecil hime: saya udah gak pake bahasa tigkat tinggi lagi, kalau gini mudah dimengerti kan? Preview yang itu (nunjuk atas) udah bikin ngerti kan, apa perlu dibikin preview chap sebelumnya? Missal dari prolog lagi? Takutnya pembaca bosan.
Mitsuka sakurai: alur ya? Saya merasa ini mundur, coz prolognya kan delapan tahun setelah G-Project dihentikan. Meski ada catatan Mirai di 2401 tapi kan itu cuma alasan untuk bikin G-project.
Gece: hehehe, kalau dipercepat, akan jadi romance/sci-fi bukan sci-fi/romance. Karna yang ditonjolkan konflik pencitaan manusianya.
Arum Junie: Gaara akan muncul lengkap di chap depan. Harap bersabar
.
Mohon review, minna-san~
Onegaishimasu..
(*)Pororo90
