Shikamaru menemui Itachi lagi di ruangan utama laboratorium Uchiha. Dari analisanya, tak mungkin Itachi menolak proposal ini jikalau map kuning yang dibawanya bisa meyakinkan pria Uchiha itu.
Itachi menerima map yang di bawa Shika, lalu membacanya sekilas. Pimpinan G-Project itu terlihat gusar.
"Anda pasti tahu, bahwa dasar G-Project ini adalah penciptaan Uchiha baru. Masalahnya, tidak semua wanita bisa ditempeli dan menjadi the eve untuk sperma Sasuke. Apalagi.."
"Ya, aku memahami kalau sperma para Uchiha haya bisa membuahi dalam jumlah terbatas, bisa dikatakan semua pria Uchiha memiliki problem yang sama. Sulit menjadikan benih kami menjadi bibit. Apalagi dengan sperma Sasuke yang tersisa."
"Tapi selalu ada jalan keluar, aku telah meneliti dari mana mata geometri Uchiha berasal. Dan kau tak pernah bisa menyangkanya," ujar Shika. Ia memberikan amplop coklat yang tertutup. Lalu menyerahkannya pada Itachi.
Itachi membacanya dengan menahan nafas. Kuncinya hanya satu dan terasa dekat. Ini memang kebetulan yang aneh. Rupanya the eve dekat dan mudah terjangkau. Seolah Uchiha memang berjodoh dengan Hyuuga. Itachi tersenyum kecut, "Rinenggan adalah bentuk tersempurna dari Sharingan. Rinenggan terpecah menjadi sharingan dan byakugan. Jenis mata langka yang bisa di temui dalam klan Uchiha dan Hyuuga." Itachi membaca laporan Shikamaru.
"Ya, dan kau hanya perlu meminta Hinata untuk menyetujui.."
Itachi merasa kepalanya berdenyut, ya.. ini tak akan pernah mudah!
~PORORO90: G-Project~
Hinata menerima SMS dari hyuuga Neji jikalau Gaara menyusulnya ke Konoha. Sejenak pikirannya melayang. Apa yang harus dikatakannya pada Gaara nanti? Ia merasa takkan sanggup mengucapkan perpisahan pada pria merah itu.
Ia mengehela nafas berat, pikirannya bercabang. Ada amplop coklat yang di tinggalkan Shikamaru sebelum memasuki ruanga Uchihan Itachi. Amplop yang belum tersentuh jemarinya. Perlahan ia membuka benda itu.
Mata abu-abunya menelisik tulisan yang tercetak rapi di sana. Sejenak tenggorokannya tercekat,
"Ya Tuhan.." gumamnya kemudian.
.
.
G-Project
[Chapter 6: timer an apocalypse]
By: PORORO90
Disclaimers : Masashi Kisimoto sensei.
Warning: Typo, gaje, abal, OOC, AU dan mungkin segala ketidakjelasan lainnya.
.
.
Happy reading, minna..
.
.
Itachi Uchiha tahu, ia terjangkit virus ini sebelum Vinson Massif accident beberapa tahun silam, harga dirinya sebagai Uchiha menolak kenyataan ini. Ia tahu, bahwa mata geometri memiliki keterbatasan penggunaan. Dengan batas yang telah dilanggar oleh sulung Uchiha itu, maka konsekwensi dari itu hanyalah pembusukan mata. Itulah mengapa ia meminta Sasuke untuk menjalani misi ke puncak Vinson.
Itachi, yang saat itu melompati waktu dan berada di masa depan melihat tenggelamnya Tokyo akibat pemanasan global. Saat berada di masa depan itulah ia tahu, bahwa ia telah memiliki virus yang merusak imun di tubuhnya. Uchiha, memberinya naluri untuk menjadi pahlawan. Dan memaksakan takdir dengan kembali ke masanya. Ia tahu, pembusukan di matanya sudah akut.
Pembusukan itu ditambah lagi dengan efek radiasi nuklir akibat genjutsu terbuka saat pergi menyelamatkan Sasuke. Dengan kata lain, mata geometrinya menampung segala radiasi yang berada saat itu. Ia harusnya sudah mati, tapi ia mampu menciptakan dimensi tak bertuan untuk efek radiasi itu. Dengan kata lain, Itachi membawa virus itu dalam tubuhnya.
Ia tahu, dan ia tak bisa berbuat apapun, sampai Mirai datang..
.
Ia memahami, kalau proteksi ruang dalam genjutsunya bocor akibat dari pembusukan mata. Tak kan ada yang tersisa dari Uchiha. Memikirkan hal ini, membuat Itachi membulatkan tekat, untuk sekali lagi membangkitkan klan ini. Meski ia bertaruh dengan segala aturan dan norma.
Salahkah, jika manusia melindungi hal yang dicintainya?
.
Itachi menghela nafas, menekan tombol ruangan Nara.
~PORORO90: G-Project~
.
.
Ia ada di sana, dengan tatapannya yang selalu haus akan kerinduan terhadap Hinata. Menghela nafas berat, hatinya gundah, antara harus bertahan atau menyerah. Sementara Hinata sendiri merasa udara di sekitarnya menghilang. Ia tidak mengerti, kenapa ketika ia bisa melihat mata azure itu, ia hanya merasa sesak. Ia menjadi rapuh dan merasa bersalah yang sangat.
.
"Gaara-kun.."
Bagi Gaara, suara Hinata masih sama. Dan akan selalu menjadi alarm penyemangat untuknya.
.
Gaara, hanya bisa tersenyum simpul. Tanpa ada rentangan tangan yang biasa menjadi tempat Hinata dipeluk. Saat itu Hinata mengerti. Bahwa Gaara, terluka.
"Maafkan aku,"
Gaara, masih bertahan dengan keheningannya. Namun begitu, tangan kekarnya dengan lembut mengusap rambut Hinata, "Jangan pernah menyesal ketika memilih sesuatu. Apa yang kau pilih, percayailah jikalau itu benar.."
Hinata, tak bisa membendung air mata melawan gravitasi. Ia membiarkan cairan bening itu meluncur turun. "Aku—"
"Shhtthh.." Gaara menempelkan telunjuknya di bibir mungil Hinata, "Aku masih di tempat yang sama, menjadi orang terdepan yang akan melindungimu.. Tidak peduli kau memilih siapa." Suaranya masih sama, terkesan dalam dan menenangkan.
Untuk kali ini, apakah ia bisa melepas Gaara, untuk orang yang ia pikir dicintainya?
"Gaara-kun," Hinata tak bisa menolak dirinya sendiri untuk memeluk lelaki Sabaku itu.
"Aku akan di sini beberapa hari, sebelum kau mengusirku ke gurun lagi." Ujarnya dengan gaya bercanda yang Hinata rindukan.
Hinata tersenyum saat Gaara, dengan kebiasaannya mengecup lembut keningnya, "Kembalilah bekerja, aku tahu kau sibuk."
"Hei, kau mengusirku?" Hinata berkacak pinggang,
Gaara tak bisa menahan senyumnya yang kembali terbit, "Tidak, Hime.."
"Tapi kau baru saja—"
Satu kecupan ringan lembut di pipi membuat Hinata terkejut dan merona. Gaara memang selalu memberinya kejutan kecil, namun selalu berhasil membuatnya tersipu.
"Nah, calon Sabaku no Hinata, aku akan pergi. Namun begitu aku ingin melihatmu masuk ke dalam dulu."
Hinata tersenyum, selalu seperti itu. Seolah mengingatkan dirinya akan janji Gaara, yang dulu pernah diucapkan lelaki berambut merah itu. Bahwa ia takkan melepaskan tangan Hinata, sebelum Hinata sendiri yang melepaskan tangannya.
..
.
Dua pasang mata, mengamati kedua sejoli yang telah terikat dalam ikatan pertunangan itu dengan dua ekspresi berbeda. Satu mata kelam itu melihat peluang. Satu mata kelam yang bisa berubah merah, melihat suatu rasa sakit. Ingatan tentang cinta selalu membuat orang terlena. Entah itu terlena akan kisah sedih, ataupun bahagia.
~PORORO90: G-Project~
..
.
Shika memandang tabung-tabung reaksi itu dengan senyum kebahagiaan. Mata hitamnya berkilat, ada hal yang membuatnya tertarik,
"Saat pria nomor satu dan nomor dua berselisih, yang diuntungkan hanya pria ketiga. Karena saat mereka sibuk, pria ketiga sudah jauh meninggalkan mereka.." Shikamaru Nara, menarik nafas dan duduk kembali di kursi yang entah mengapa menjadi semakin empuk.
~PORORO90: G-Project~
…
..
Itachi tahu, ialah yang membunuh masa depan adiknya. Hatinya sakit, karena memahami, sesungguhnya ialah yang membunuh adiknya. Hanya saja logikanya menolak istilah itu. Telinganya lamat mendengar ketukan di pintu,
"Tok.. tok.. tok.."
"Masuk,"
Kepala Sasuke menyembul, ia terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Kau baik-baik saja?"
"Hn." Sasuke menjawab sekenanya, lalu segera duduk di depan meja kerja Itachi.
"Kau pasti sudah mengetahuinya," Itachi berujar lirih,
"Apa?"
"Soal Sabaku,"
"Hn"
"Gomenne.."
Sasuke tersenyum miring, ada kegetiran di sana. "Untuk waktu yang tak bisa di hapus, kadang kita harus mundur ke belakang untuk tahu semuanya dengan jelas.."
"Harusnya kau yang di sana bersama Hinata,"
Sasuke lagi-lagi cuma tersenyum pahit, yang justru menambah luka pada Itachi, "Lima tahun bukan waktu yang singkat. Gaara, telah membuktikan itu.."
Itachi memalingkan muka, merasa sedih melihat adiknya seperti ini. Semuanya salahnya, jika saja ia tak melibatkan Sasuke dalam misi Vinson Massif, maka Sasuke tak perlu menahan sakit hati seperti ini. "Aku akan mengembalikan Hinata ke sisimu." Janjinya.
Sasuke terkekeh, "Untuk apa?"
Itachi menatap mata Sasuke, bingung kemana muara pembicaraan ini.
"Meskipun kami saling mencintai, hanya akan ada kisah sedih untuk di dengar. Kau tahu, racun ini menggerogoti kita. Tidak diperbolehkan saling menyentuh, saling berinteraksi tanpa adanya pengaman. Aku, tidak pernah tahu. Bagaimana takdir mempermainkan kita,"
Sulung Uchiha merasa hatinya sakit. Rasa sakit yang diderita Sasuke menyakitinya juga. Seolah ia terdampar di dimensi kehampaan. Karma berlaku.
"Aku menyelamatkan banyak nyawa, tapi mengapa aku tak bisa menyelamatkanmu.." gumamnya getir.
Ya, kenapa?!
~PORORO90: G-Project~
.
.
Sasuke melangkah pelan menuju ruangan Hinata. Setiap kali mendekat ke arah wanita itu, ia selalu merasa ada kilasan kejadian yang menghujamnya. Segala hal itu menyangkut masa-masa indah Sasuke dan Hinata. Seolah jiwa Sasuke yang asli mengingatkan betapa mata ini adalah hal yang ia banggakan.
Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong pintu yang terbuat dari kaca yang diburamkan itu,
"Eve.."
Hinata mendongak, melepaskan diri dari jeratan laptop yang beberapa waktu lalu menguasai dirinya, senyum cerah hinggap di wajah sang jelita. "Sasuke-kun,"
Sasuke mendekat, mengulurkan tangan, "Kau harus melihat senja kali ini.."
Mata almethys hinata melebar, "Kau mengingatnya?" lirihnya,
"Aku pernah berjanji, untuk membawamu melihat senja setelah misi bersama Itachi,"
Hinata tak bisa menahan rasa haru, apakah Sasuke benar-benar kembali?
.
"Kau akan terus diam, atau ikut?" Sasuke tidak menyukai diacuhkan seperti ini.
Hinata bagkit dari kursinya, "Ya," Hinata tahu apa yang diinginkannya, menerima kembali uluran tangan Sasukenya. Sasuke yang selalu ia rindukan.
~PORORO90: G-Project~
.
.
Shika masih bergelut di dunianya sendiri. Ia kini tengah meneliti struktur kromosom Sasuke Uchiha. Tiba-tiba saja senyumnya mengembang. "Ckck.." dia berdecak,
"Hmm, rupanya ini yang membuat mereka bisa meregenerasi sel dan juga 'spesial'. Bahkan kalian tidak mengerti, bahwa di dunia ini bukan kromosom kalian saja yang spesial" ujar Nara Shikamaru dingin, "Kalian mungkin tidak menyangka, bahwa aku juga punya satu kromosom kelebihan. Apa ya jadinya jika anakku juga tumbuh di rahim Hinata?" lalu seringai maut menghiasi wajah malas Shikamaru.
~PORORO90: G-Project~
.
.
Tidak habis pikir. Hanya kata itu yang melintas di kepala Sabaku no Kankurou. Bagaimana bisa si bungsu itu terlihat sangat santai dan biasa saja. Yang ia ketahui, Gaara bukan orang yang bisa bersabar dan tenang jika itu menyangkut hubungannya dengan Heiress Hyuuga itu,
"Hhhaahh, aku masih tidak tahu Gaara. Kenapa kau membiarkan Uchiha mengahancurkan pengorbananmu. Seharusnya kau bunuh saja dia!"
Gaara bedengus, "Huh? Untuk apa Kanky? Aku tidak bisa melihat Hinata menagis,"
"Ck! Lagi-lagi perempuan itu!" Kankurou merasa sebal jika adiknya lembek seperti ini, "Kau tahu? Wanita lebih suka memilih lelaki yang membuatnya menangis daripada lelaki yang menangisinya. Kau harus memilih, meninggalkan dia kali ini.."
Gaara tersenyum, "Biarkan saja waktu yang membawanya kembali padaku.." ujarnya kalem.
.
Kankurou hanya menggeleng pelan. Cinta telah membutakan mata adiknya. Hei, bukankah ini namanya Hinata berselingkuh?
.
~PORORO90: G-Project~
..
.
Ruangan Itachi tepat di ujung laboratorium, dindingnya terbuat dari kayu mahoni. Sulung Uchiha itu tak menyukai warna putih yang cenderung terlihat dingin. Ia suka akan warna coklat dan bau kayu yang menghadirkan kesan hangat. Kesan yang membuat rasa kesepiannya tersamarkan.
Dari semua hal yang ingin ia lindungi, nama Sasuke pernah menjadi nomor satu dari semuanya. Ia menjadi yatim piatu dalam usia yang terlampau muda. Tiga belas tahun, dan Sasuke kala itu berusia enam tahun. Bayangan akan kewajibannya untuk menjadi orang tua tunggal untuk adiknya membuatnya matang sebelum waktunya. Dalam usia yang harusnya diisi oleh suka-duka remaja. Ia bergelut dengan berkas-berkas penelitian dan kewajiban sebagai wali adiknya.
Baginya kehidupannya cuma satu. Membahagiakan Sasuke. Nyatanya, saat ia menyelamatkan nyawa umat manusia, ia justru membunuh adiknya. Bukankah, ini terlalu kejam?
…
..
.
"Lepaskan tanganmu, dan segeralah kembali.."
Itachi menahan kesedihan di dadanya. Haruskah nyawa orang lain dia selamatkan sementara adiknya harus mati? Kenapa Tuhan tidak bisa memberikan keringanan.
"Untuk mendapatkan yang besar, memang harus mengorbankan yang kecil.."
"Kau bukan hal kecil Sasuke!" itachi membiarkan air matanya lolos, "Jangan pergi, aku akan menyelamatkanmu.."
"Tch!" Sasuke mencibir. Ia menggeleng, ia tahu Itachi sudah tidak bisa menggunakan Sharingannya lagi. Atau pria sulung Uchiha itu mati. Ia tersenyum sedih, "Trimakasih.. untuk menjadikanku pahlawan.."
Sasuke melepas ice gloves yang dipakainya, bersamaan dengan itu matanya aktif. Mengirimkan Itachi ke dunia lain, sedang ia terjatuh di jurang yang dalam. Tenggelam bersama jutaan kubik es yang runtuh. Dan dalam kaadan yang sudah sekarat. Tidak ada manusia yang akan selamat dalam bencana itu. Ia mati, sebagai pahlawan.
…
Kenangan itu begitu membekas di dingatannya. Ia mengehela nafas. Ya, Shikamaru benar, ia harus mempercepat program ini. Bagaimanapun caranya! Setidaknya sebelum Mirai menghilang, ia bisa memberikan kado terindah yang tak pernah di lupakan pengganti Sasuke itu.
*TBC*
.
.
a/n
Maaf, dan maaf lagi. Saya terlambat update. Hari-hari ini saya selalu disibukkan dengan kegiatan lembur di dunia nyata saya. (_ _)
Bukannya saya mau melarikan diri, tapi mau bagaimana lagi. Saya merasa mengecewakan semuanya. Hontouni gomennasai..(*)curcol.
Saya sedang melirik fandom lain. Masih dengan Hinata centris. Hehehe, mungkin bagi teman-teman yang ingin menyumbangkan ide pair saya menerima dengan senang hati. #Plak!
Oh iya, saya mau balas review dulu ya,
Nivelia Neil: saya suka kalau kamu gak lagi bingung. Hehehe,
Moofstar: cho-chotto, pertanyaan kamu banyak banget sih? Sebenernya saya berencana menamatkan ini dalam chapter 11. Dan mungkin chap itu adalah bagian juga dari prolog. #angkat bahu.
Yukori Kazaqi: pertanyaan kamu bakal terjawab besok, do'akan saya untuk update cepet ya, khekhekhe..
Hel Hazelnut: kyaaa, senangnya bisa direview sama kamu. Soal G-project yang kamu tanyakan bakal muncul di chap depan. Harap bersabar.. (^_^)
Arum Junnie: iya, ini saya sudah lanjut. Semoga kamu terhibur, dan maaf jika chap ini belum bisa memuat apa yang kamu inginkan.
Flowers lavender: cerita ini bagus? Kyaaa, senangnya. Aku lanjut kok.
Untuk semuanya, sankyuuuu..
…
BOLEH MINTA REVIEW?!
(^_^) onegai minna san..
(*) sign Pororo90
