Shika masih bergelut di dunianya sendiri. Ia kini tengah meneliti struktur kromosom Sasuke Uchiha. Tiba-tiba saja senyumnya mengembang. "Ckck.." dia berdecak,
"Hmm, rupanya ini yang membuat mereka bisa meregenerasi sel dan juga 'spesial'. Bahkan kalian tidak mengerti, bahwa di dunia ini bukan kromosom kalian saja yang spesial" ujar Nara Shikamaru dingin, "Kalian mungkin tidak menyangka, bahwa aku juga punya satu kromosom kelebihan. Apa ya jadinya jika anakku juga tumbuh di rahim Hinata?" lalu seringai maut menghiasi wajah malas Shikamaru.
.
.
G-Project
[Chapter 7: TWIST]
By: PORORO90
Disclaimers : Masashi Kisimoto sensei.
Warning: Typo, gaje, abal, OOC, AU dan mungkin segala ketidakjelasan lainnya.
An italic words are meaning of past
.
.
"Jika waktu bisa kubeli, maka aku ingin membeli semuanya." Batin Sasuke, ia membelai lagi surai indigo milik kekasih hatinya. Hinata yang tertidur dalam pangkuannya. Meringkuk dan bersandarkan dada bidang Sasuke. Ingatan tentang Hinata membuat cairan beningnya meleleh,
"Tch! Sial, mata ini membuatku cengeng!" Sasuke bergumam lirih, tersenyum getir.
Bayangan masa lalu mendera ingatannya, rupanya mata Sasuke selalu bereaksi terhadap Hinata. Seolah memang benar, bahwa ingatan mata menjebaknnya. Siapapun pemilik mata ini, maka akan terkena genjutsu untuk mencintai Hinata.
..
.
Di rindang pohon momiji di kebun belakang Sekolah Konoha International High School, Sasuke Uchiha sedang mengamati gadis pujaannya. Siapa lagi kalau bukan adiknya Hyuuga Neji. Bukannya ia tidak kenal atau bagaimana, justru karena intensitas bertemu keduanya terlalu sering hingga menyebabkan bermekarnya perasaan Sasuke. Tadinya ia berpikir, mungkin ia mengagumi Hyuuga yang satu itu. Karena hanya cewek bertubuh mungil itu yang mampu menyamai rekornya, lompat dua kelas sekaligus.
"Teme, kamu ngliatin apa sih?!" Naruto, si berisik sukses besar menarik perhatian,
"Berisik!"
"Ooo, aku tahu. Kamu lagi ngintipin Hinata di kelas berkebun ya?!"
Muka Sasuke sekejap memerah, tapi Uchiha memang ahli poker face. "Nggak tuh," jawabnya enteng. Tch! Lain dimulut lain di hati.
"Jangan dia deh," Naruto sok ngasih nasehat.
"Hn?"
"Soalnya ketika dia bisa naik kasta ke kelas satu SMA, yang jelas kamu udah terbang ke Amsterdam buat nerusin study,"
Sasuke tersenyum pahit, benar apa yang dikatakan Naruto. Perbedaan umur tiga tahun pasti membuat jarak yang signifikan."Hn.."
"Kamu udah pasti ketrima di sana kan? Apa bakal bisa jika kamu hubungan LDR ama dia?"
.
Bletak!
.
"Au! Sakit Teme!" Naruto memegangi kepalanya yang terkena jitakan sahabat ravennya,
"Jangan ngelantur, siapa yang berminat menjadikannya pacar?!"
"Ckckck," Naruto berdecak, "Mulutmu bisa bohong, tapi matamu tidak! Seluruh sekolah sudah pada tahu. Aku aja yang bego tahu kamu naksir Hinata.."
"Hn?!" Sasuke pasang tampang tertarik,
"Mana ada cowok SMA yang gak naksir naruh ubawaki berdekatan sama punya cewek SMP. Apa namanya nggak cari jalan buat dekat? Apa namanya nggak cinta, tiap kali dia gak bawa panyung kamu rela naroh payung kamu di loker dia? Hei, padahal jelas-jelas kalau gedung kalian beda. Meski kita berada di sekolah yang sama.."
Sasuke menatap Naruto hampir tanpa berkedip, terkesima oleh ucapan sahabat kuningnya. Apa benar dia, segila itu terhadap Hinata? Padahal, ketika melakukannya ia bahkan tidak menyadari kalau hal yang di lakukannya masuk kategori 'mencurigakan'.
"Kau baru sadar kebodohanmu, eh?" Naruto pasang wajah sok jenius. "Hinata juga tahu kau naksir dia,"
Nah? Mati kau Sasuke. Alasan apa yang harus dikeluarkannya untuk menghadapi Hinata nantinya,
.
"Ehem, Uchiha-san," tahu-tahu Hinata sudah berada di dekatnya,
Sasuke terhenyak, tapi wajah stoic itu masih menempel erat pada kepribadian Uchiha raven itu, dengan cepat ia mengambil reaksi, "Ya?"
"Ano-, saya ingin mengembalikan payung Anda.. "
Sasuke menarik ujung bibirnya, "Maaf, Hyuuga, tapi itu bukkan milikku.."
Hinata tersenyum manis, terlalu manis sehingga membuat Sasuke terpana, "Ano,- tapi ada inisial U.S di ujung kainnya. Lagipula huruf kanji Uchiha terukir manis pada gagangnya.." jelas Hinata,
Mati kau Sasuke, jangan abaikan kalau gadis di depanmu ini juga jenius..
"Uchiha-san~"
Sasuke mengerjap, "Hn, aku tidak membutuhkannya. Kalau kau tidak suka, buang saja." Ujarnya dingin, lalu menyeret si kuning Naruto menjauh.
Sebelum jauh, suara Hinata terdengar, "Ano-, Uchiha-san.." suaranya terdengar manis dan gugup di telinga Sasuke, "Jika tidak keberatan, bisakah menemuiku di perpustakaan kota sepulang sekolah? Ada yang ingin kusampaikan.."
Sasuke mati-matian menahan dirinya untuk bersorak dan tertawa. Sebagai gantinya ia mengangkat ujung bibirnya. "Hn,"
.
Sasuke tahu, ia tak punya pilihan untuk selalu menghindar. Hyuuga dan Uchiha baru saja mengumumkan persetujuan penyatuan project. Kali ini bukan hal yang remeh. Itachi telah mengusung tema environtment sebagai dasar pembentukan relasi ini.
Cahaya senja menerobos melalui rak buku, menuju tepat ke arah punggung ringkih milik Hyuuga Hinata, Sasuke merasakan kesedihan yang tak bisa di lukiskan. Punggung itu, ingin ia peluk, tapi terlalu jauh, terlalu rapuh. Tanggannya mungkin tidak terlalu kuat untuk bisa melindunginya, karena ia bukan Itachi. Ia bukan kesatria. Ia hanya pion Uchiha..
Hinata berbalik, "Uchiha-san.." gumamnya lirih,
Keduanya tersenyum,
Sebuah keberanian memecah keheningan,
"Aishiteru," singkat, namun terlalu kaya makna,
Hinata menitikan air mata bahagia, "Aishiteru mo,"
"Hinata," tanpa sadar kata itu menjadi kunci semuanya. Hinata, entah mengapa kata itu membuka segala luka dan harapan.
.
.
Ingatan Sasuke asli meracuni otak Mirai, membuatnya sesak nafas dan sakit di dadanya. Ia ingin mengubur harapan Sasuke asli. Ia berharap, dengan menyerah terhadap Hyuuga yang dipeluknya saat ini, setidaknya, ia bisa memenuhi harapan Sasuke yang asli.
.
.
.
Di tempat lain
[Pusat Dewan Pertahanan Garda Nasional]
.
Shimura Danzo memulai rapat darurat dengan mengumpulkan ketua-ketua organisasi ilmuwan. Misi mereka hanya satu. Menggalang koalisi untuk menjatuhkan dua klan ilmuwan terkemuka dalam sejarah peradaban dunia, Uchiha-Hyuuga.
"Kita berkumpul di sini, untuk menolak keabsahan G-Project" bahkan kalimat pertamanya langsung to the point,
Para ilmuwan hanya diam dan menebak, kemana arah pembicaraan pemimpin organisasi pemerintah ini.
"Mereka telah melampaui hak sebagai manusia. Saya harap, pemerintah menindak tegas ilmuwan yang dianggap telah mencemarkan kode etik ilmuan.."
Mereka berbisik, Danzo tahu, kali ini, ia tidak akan gagal membuat dua klan itu tumbang.
.
.
"Shimura-san, bukankah ilmu pengetahuan mengajarkan kita untuk terus bereksplorasi dan mengembangkan segala hal untuk dicapai manusia.." sanggah salah satu peserta rapat. Klan Hatake, diwakili oleh pria bermasker.
"Hatake-san. Saya tidak membahas konteks tentang pengembangan ilmu pengetahuan, tapi membahas hukum tentang penciptaan manusia. Di Negara majupun praktek kloning dan sejenisnya membuat keberadaan Tuhan menjadi kabur dan tidak terakui. Lalu, apakah kita akan bertahan dengan manusia yang menganggap dirinya Tuhan?!"
Kakashi memincingkan mata, antara bingung dan emosi menghadapi provokasi Tuan Shimura.
"Saya harap, dewan segera memberikan eksekusi terhadap G-Project. Mereka, telah melampaui batas dengan menjadi Tuhan yang berikutnya!
.
.
Shikamaru Nara memandangi lagi layar laptopnya yang menyala. Matanya menyapu informasi tanpa kecuali. Tch! Sial! Rupanya ia telah kecolongan. Pihak dewan sudah merilis jika organisasi yang tergabung dalam G-Project resmi dibekukan. Padahal tinggal sedikit lagi, ia bisa memanipulasi data. Haruskah ia menunda dulu rencananya? Mungkin tidak, ia justru melihat peluang yang terbuka lebar untuknya.
Pria berambut hitam itu tersenyum simpul, "Nah, Hinata. Come to me.."
…
..
.
Gaara memandang kota Konoha yang mulai diselimuti malam. Hatinya gundah, ia tahu ada yang tidak benar di sini. Seolah intuisi menuntunnya untuk selalu waspada. Alam mengajarkan dia untuk memahami situasi.
Ia menghela nafas, antara kasihan kepada dirinya sendiri juga kasihan terhadap dua sejoli. Biar bagaimana pun, rasionya menolak untuk menyerahkan tunangannya pada Sasuke. Namun begitu, nuraninya membimbing dia untuk selalu bertahan dan mengalah.
Kamar tempatnya menginap terdengar diketuk. Dengan langkah yang tenang ia membuka pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Selamat malam, Sabaku-san" pria itu berdiri tegak diambang pintu.
Gaara menyunggingkan senyum kecut, "Tch! The One of Uchiha, eh—" sindirnya.
Itachi tanpa diundang justru memasuki ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ia langsung duduk di salah satu kursi tanpa dipersilahkan. Seolah menganggap sarang musuhnya itu adalah markasnya sendiri.
Gaara masih berdiri, memandang heran ke arah Itachi.
"Aku tidak akan lama. Hanya menawarkan kesepakatan denganmu.."
Mata Gaara menyipit,
"Bergabunglah dengan G-Project," Itachi mengeluarkan amplop putih di saku sebelah dalam mantel yang dipakainya.
"Apa itu?"
"Bacalah, maka kau akan mengerti.." kata Itachi sambil bangkit berdiri.
Gaara melihat Itachi yang hendak meninggalkan tempat duduknya. Sebelum ia melangkah ke luar ruangan tempat Gaara menginap, selanjutnya pria itu berhenti, memandang lekat ke arah manik azure milik pria bersurai merah.
"Jika aku dapat membeli waktu. Aku akan membeli waktumu dan menyingkirkanku sejauh mungkin. Karena aku hanya ingin melihat adikku bahagia.."
Selanjutnya pria berambut panjang itu pergi, meninggalkan gaara yang justru tersenyum sendu rivalnya, membayangkan betapa menderitanya Itachi jika tahu Sasuke akan mati.
..
.
Ketika Hinata membuka mata, pemandangannya telah berganti. Tiada lagi surya keemasan. Hanya cahaya neon yang berpendar putih dan menyilaukan matanya.
"Kau sudah bangun," sapa Nara Shikamaru terdengar antusias.
Hinata buru-buru bangkit. Rupanya ia berada di ruangan kerjanya. Lalu mengapa pria Nara itu berada di sini?!
"Maaf, ketika Uchiha-san tadi menggendongmu ke sini, ia berpesan untuk menjagamu sebentar. Ia ada urusan mendesak."
Apa Shikamaru mempunyai kelebihan untuk membaca pikiran orang? Ia seolah tahu apa yang hendak dilakukan oleh orang lain.
"Ano, apakah Sasuke-kun tidak akan kembali?"
Shika angkat bahu, "Aku tidak tahu,"
Raut wajah Hinata terlihat muram,
"Kau tahu, sepertinya program ini akan di batalkan. Aku juga berniat mengundurkan diri. Dewan telah mengeluarkan surat resmi pencekalan program ini."
Mata Hinata membulat, bingung dan juga resah.
Shika dapat melihat seulas rasa putus asa yang membayangi pikiran gadis itu. "Nara-san, apakah Anda berniat meninggalkan kami?"
Nara Shikamaru memberikan senyum sendu, "Live must go on.. aku, tidak bisa mengorbankan masa depanku untuk masa depan orang lain."
Hinata berdiri sejajar dengan pria yang dulu pernah dikenalnya, apakah Nara Shikamaru masih pria yang dikenalnya bertahun lalu? Kemana perginya pria pemalas yang suka mengejutkan orang lain itu? Apakah waktu mengubah segalanya?
"Hinata-san." panggilnya,
"Ya," jawab Hinata sambil menatap ke mata hitam yang biasanya terlihat berbinar,
"Aku tidak bisa bertahan tanpa sesuatu yang mengikatku, oleh karena itu, aku pernah mengajukan penawaran terhadap Itachi-sama."
Apa maksud perkataan Shikamaru belum dapat dimengerti Hinata sepenuhnya,
"Aku tidak mengerti," gumam Hinata.
"Jika kau menyetujui menjadi inang untuk G-Project mungkin cerita tak kan rumit seperti ini."
"Aku.." Hinata berhenti, ada rasa gamang di hatinya. "Aku bersedia.." lirihnya,
Sekilas, Shikamaru tersenyum kecil. "Apakah kamu tahu artinya ini?"
Hinata memalingkan muka, antara kesal dan bingung, " Aku akan menjadi ibu untuk anak Uchiha dan juga.." suara Hinata tercekat, "Nara." Imbuhnya.
Nara Shikamaru tersenyum lagi, kali ini terlihat lega dan puas. "Ya, itu berarti juga kau akan mengandung anakku."
Hinata menatap mata Shika,
"Mungkin, aku akan mempertimbangkan untuk terus bergabung. Karena, masa depanku ada di sini.."
Kini Hinata tahu apa maksud perkataan Nara tadi. Jika pria itu akan menetap dengan masa depannya. Ya menetap untuk anak yang kelak dilahirkan Hinata.
Secuil perasaan bersalah menerjang Hinata tanpa ampun. Ia tak hanya menghianati Gaara untuk Sasuke, tapi juga untuk Nara. Hatinya mencelos, bagaimana ia harus menjelaskan semuanya kepada Gaara?
..
.
Badai seolah mengadirkan kekejaman alam yang menghadirkan kesedihan. Tapi bagi Gaara, badai selalu menjadi hal yang membuat harapan muncul. Karena ketika semua rusak, maka manusia akan membuat hal baru yang lebih baik. Pemahaman itu selalu diingatnya. Twist isn't just destroy, but also make we learn to hope and do better than before..
.
"Aku tidak menyangka akan di datangi dua Uchiha dalam satu hari.." ujarnya sambil menyeruput sekaleng cola dingin yang dibawakan oleh Sasuke.
Uchiha bungsu itu memamerkan seringaian, "Tch! Kau itu sedang menyindir ya?"
Gaara juga menyeringai, "Hanya bertanya," ujarnya datar.
"Kau sudah membaca kertasnya?"
Gaara mengangguk,
"Bagaimana menurutmu?"
.
Gaara terdiam cukup lama, lalu memulai berbicara. "Aku tidak menggerti. Jika kakakmu membenciku, mengapa ia justru meminta ijinku untuk 'menggunakan' Hinata?"
Sasuke menyeruput cola di tangannya, "Karena kupikir, akan lebih bagus jika kau menikahinya dulu, karena itu aku meminta kakakku untuk meminta ijinmu,"
"Sasuke—"
.
"Dengarkan" potong pria berambut raven itu, " Kau akan menikahi Hinata sebelum proyek ini dilaksanakan. Ini akan menhindari tudingan pelanggaran kode etik. Selain itu, juga untuk menindungi Hinata.."
"Melindungi?" Sabaku Gaara masih kurang paham.
"Kelak, hanya kau yang bisa melindungi anak-anak itu. Aku merasa akan ada badai besar yang menerjang semuanya. Sebelum memastikan sendiri. Aku tidak tahu. Makanya itu, penting bagi Hinata untuk membuat tembok penghalang.."
"Kau ingin bilang, waktumu habis sebelum mereka lahir?"
Sasuke tersenyum kecut, "Begitulah.."
Gaara dan Sasuke terdiam, meresapi keheningan yang tiba-tiba menguar di udara. Perasaan asing saling berkecamuk. Ini terdengar aneh dan membingungkan. Apakah ini menjadi badai?
_TBC_
.
.
A/n:
Maaf update lama. Sebenarnya saya type orang yang gaptek. Selain kena virus WB, saya juga tiba-tiba gak bisa login. Kerena saya bodoh, lalu saya menyerah. Entah mengapa tapi saya masih kepengen nulis lagi, untunglah banyak teman-teman menyemangati saya, sankyuuu semuanya,
Saya menginterpretasikan chapter ini sebuah badai. Karena Hinata, Shika, Ita, Sasuke, dan Gaara terlibat semua dalam satu masalah.
Yukori Kazaqi: ya, saya masih semangat kok
Moofstar: aku kangen pertanyaanmu T.T
Cecil Hime: random? Hehehe, saya juga baru nyadar lok cerita ini agak random.
Nivelia Neil: kesedihan Itachi itu karena dia gak bisa ngelindungi keluarganya, padahal dia belum tahu kalau ajal adiknya sudah dekat.
Flowers lavender: makasih atas usulannya. (^_^)
Arum Junnie: Shika ini menglalalkan segala cara untuk bisa menjadi bagian dari Hinata.
Syura: saya tahu mungkin agak rancu antara time nya. Tapi karena si Mirai ini bisa lompatin waktu, bayangin aja lok di sini, waktu menjadi tidak penting.
Gece: maafkan saya karena justru menghilang. (_ _) Hountoni gomennasai.
Handinamikaze: iya, maaf sudah menunggu terlalu lama.
Topeng Lolli Kura: saya tersanjung kalau anda menjadikan ini favorit juga, masalahnya Hinatanya Cuma satu yang pengen banyak #Plak!
Hel Hazelnut: saya memang sengaja mengahdirkan dua sosok Uchiha yang melankolis. Saya sekedar membayangkan pemikiran dua orang itu, mereka hanya berdua, tapi kemudian mereka mati satu persatu, saya ingin menhadirkan, bahwa kedua pria stoic itu sebenarnya penuh dengan rasa kasih sayang.
Ajun. chai. 1 : terimakasih atas dukungannya.
.
Untuk semuanya SANKYUUUU..
Bolehkah saya meminta REVIEW?
(^_^)
Salam hangat selalu, PORORO90
