Gaara tidak mengerti kenapa orang itu ada di sana. Menatapnya dengan pandangan benci yang menusuk. Ia masih juga tidak mengerti, semua yang dulu pernah terlewati begitu hangat menjadi sedingin itu. Bingung? Tentu saja. Ketika tanganmu terikat ke belakang. Dan kau disuruh untuk duduk berlutut. Sementara sejam yang lalu kau tiba-tiba didatangi beberapa pria kekar yang tiba-tiba saja menghajarmu membabi buta, lalu menyeretmu ke tempat asing seperti ini.

Dan yang lebih mengherankan lagi, sahabatnya berada di sana. Duduk dan menyilangkan tangan di dada, sambil memandangnya dengan tatapan kasihan.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Neji?" mengabaikan rasa nyeri di bahu dan tulang rusuknya, Gaara berusaha menjaga suaranya tidak serak. Ia membutuhkan ketenangan.

Neji Hyuuga, kakak Hinata berdiri dari kursinya, senyumnya mengejek. "Kau bertanya seolah kau yang jadi korban,eh—"

Gaara tidak menyukai nada dingin dari Neji. Dia diam dan melanjutkan Neji mengumbar perasaannya.

"Sudah kubilang kan, jangan dekati Hinata.."

Gaara berdengus, "Kupikir kau hanya ingin adikmu bahagia. Dan aku sanggup membahagiakannya!"

"Aku menginginkannya!"

"Kau gila!" desis Gaara.

.

BUAGH!

.

Satu tendangan bersarang di dadanya. Rasanya terlalu nyeri dan menyakitkan. Tangan kekar tukang pukul di belakangnya menjambak rambut merah Gaara.

Seringai jahat muncul di wajah Neji. "Kau juga berkomplot dengan para Uchiha.."

"Kau—"

"Ya!" potong Neji dingin. "Akulah yang berhianat.." Neji terkekeh. "Sudah berapa kali ya? Harus-nya Uchiha bungsu sudah mati saat aku menyabotase nuklirnya.."

Gaara menggeram. Jadi semuanya ulah Neji? Sial!

.

"Sebelum mereka mengantarmu ke surga, aku harus pergi. Danzo memerlukan bantuanku. Dan satu hal, aku tak sempat mengahadiri pemakamanmu, Sabaku.."

Neji menghilang dari pandangan Gaara dengan memasuki mobil berwarna hitam.

.

Gaara menyeringai. Sudah saatnya sesuatu dalam dirinya terbangun. Matanya berkilat saat para tukang pukul mulai mendekati tubuhnya. Mereka tidak menyadari kalau pasir-pasir mulai terangkat dan menari membentuk pusaran. Beberapa batu runcing tiba-tiba saja juga terangkat dari tanah. Dengan kecepatan tinggi apa yang sudah diciptakan oleh Gaara menerjang para preman yang di sewa Neji. Satuhal yang tidak pernah Neji tahu. Bahwa Gaara, juga memiliki satu bakat yang tak pernah dipublikasikan.

Beberapa saat kemudian, beberapa orang tergeletak di tanah. Mereka tampak diam, tidak bergerak. Terutama saat paru-patu mereka telah terisi oleh pasir.

Gaara bangkit. Hinata dalam bahaya. Ia ahrus menyelamatkan Hinata. Segera!

.

.

G-Project

[Chapter 9: Ultimate Wars]

By: PORORO90

Disclaimers : Masashi Kisimoto sensei.

Warning: Typo, gaje, abal, OOC, OC, AU dan mungkin segala ketidakjelasan lainnya.

Rate: T – semi M (for gore scene)

.

.

Happy reading, minna~

.

.

Shikamaru dengan cekatan membereskan perlengkapan laboratoriumnya. Memasukkan beberapa peralatan dalam koper stenlis yang di dalamnya memiliki pelindung yang anti getaran. Musuh kian mendekat, ia bahkan bisa merasakan gelombang otak mereka yang berada dalam radius yang cukup jauh dari pusat gedung pengembangan G-Project.

Mengambil nafas berat pria itu menoleh, ketika Hinata dengan pakaian putih ala pasien rumah sakit menatap ke dalam mata hitamnya. Seolah tahu apa yang ingin ditanyakan wanita yang dicintainya itu, Shikamaru tersenyum. Senyum tulus dan hangat.

"Daijobu." Ujarnya lalu menutup koper stenlis itu dan cekatan memutar beberapa digit angka untuk memberikan proteksi pada asset G-Project. Setelah itu ia membawa koper berwarna perak itu hingga mendekati tubuh ringkih Hinata.

"Katakanlah, senpai.. Ada apa? Kenapa kalian tampak sangat sibuk. Dan kenapa kau mengamankan folikel telurnya?" mata Hinata bergerak gelisah, saat matanya mendapati beberapa koper berwarna serupa telah tertata rapi di atas meja kayu favorit Shikamaru.

Shikamaru maju beberapa langkah, menjangkau tabuh Hinata tapi urung. Tangannya justru terulur merengkuh wajah yang ia sayangi, membuat keduanya bertatapan.

'Semuanya baik-baik saja..'

Hinata terkesiap, bibir mungilnya tak bisa menahan diri untuk bergumam, "Senpai.."

'I can read it, in your mind..'

Hinata menatap mata kelam milik kakak kelasnya dulu. Berusaha membaca perubahan raut wajah milik Shikamaru. Nihil. Lelaki itu masih terlihat setengah malas, namun senyuman pahitnya tak mampu menyembunyikan perasaannya.

Dua telapak tangan Shikamaru masih membingkai wajah Hinata seolah menyampaikan perpisahan yang tak terucapkan.

'Aku tidak akan cepat mati atau tertangkap. Percayalah.. ini bukan terakhir kalinya kita akan bertemu.'

"Aku percaya padamu."

'Aku juga percaya padamu. Kau hanya perlu menjaga dirimu. Kau adalah eve. Berikutnya kau hanya perlu menjalankan instruksiku..'

Hinata mengangguk. Dan senyum tulus terukir kecil di sudut bibir Shikamaru. Ketika telapak tangan Shikamaru terlepas dari wajahnya, berganti dengan tepukan pelan di atas kepalanya yang secara tiba-tiba hatinya merasa hangat. Ia begitu bersyukur bertemu dengan orang-orang yang mencintainya.

"Kau akan menjadi ayah yang baik.." puji Hinata tulus.

Shika justru terkekeh, ia kemudian menggeleng keras. "Aku tidak bisa melibatkan diri dengan hal yang merepotkan macam itu." Gerutunya, "Tapi karena kelak kau akan melahirkan 'anakku' maka kita akan terhubung. Tentu saja bukan secara fisik. Kau tahu kan.." Shika juga kikuk melanjutkan kalimatnya sendiri.

Hinata tersenyum.

Lalu melenggang pergi sesuai yang Shikamaru pesankan. Membawa ebuah kotak yang Shika persiapkan sebelumnya.

..

.

Shika menarik nafas. Di depannya ada tiga koper stenlis. Saatnya sudah tiba. Ia tahu tidak ada jalan untuk kembali. Kepalanya mendongak ketika pintu kerjanya diketuk. Sang pewaris Uchiha berambut panjang masuk ke dalam ruangannya.

Kedua orang jenius itu duduk dalam keheningan yang mencekam.

"Kau suruh Hinata ke mana?"

'Ke tempat teraman di dunia.'

"Kenapa kita tidak bisa berinteraksi secara normal?!" Itachi berdesis, geram melihat kelakuan Shikamaru yang demen memasuki pikirannya seolah ia tidak memiliki privasi lagi.

'Jangan mementingkan privasi jika kau tahu tembok memiliki telinga Itachi-sama.'

"Tcih!" Itachi berdecih. Tahu arti kalimat itu.

'Hinata berada di tempat yang aman. Penting bagiku untuk memstikan dirimu juga aman, dan membawa embrio milikku dan milik adikmu.'

"Kenapa harus aku?" Itachi menatap getir mata Shikamaru.

'Kau tidak akan dibunuh. Mereka membutuhkan pengetahuanmu. Karena itu, penting untuk kita kalau kau mengamankan dulu asset yang kita miliki. Aku kan di sini memyempurnakan apa yang telah kita rintis.'

"Kau tidak akan bunuh diri kan?!"

Shika terkekeh, 'Dengan kemampuanku ini aku bahkan membuat orang lain bunuh diri. Mau mencoba uh-?'

"Sialan."

'Baiklah. Pergilah, jagoan. Aku akan di sini. Menunggu adikmu dan si kepala merah. Aku tahu mereka akan datang. Kami akan bertarung melawan mereka. Dan jika kau tertangkap, kau harus sebisa mungkin mengirimkan signal..'

Itachi tersenyum, lalu bangkit dari kursi. Mengambil sebuah dari dua buah koper stenlis. Lalu matanya menangkap sebuah koper satu lagi. Dahinya berkerut, apa maksud dari semua ini.

"Kau tidak ingin menjelaskan padaku, eh?!"

Seringai Shikamaru terkembang, "Plan B." jawabnya mantap.

[G-Project]

.

Gaara memacu mobil berwarna hitam itu dengan gila-gilaan. Dia sedang memburu waktu. Ia tahu semuanya dalam bahaya. Ia butuh jalan pintas. Dan ia tidak ingi terlambat satu detikpun! Baginya tidak ada jalan untuk kembali ketika ia terlibat dalam G-Project. Ia telah berjanji pada Uchiha itu dan Hinata. Ia akan berusaha mewujudkan harapan dan masa depan mereka.

[G-Project]

.

Para pasukan Garda telah memasuki kawasan Pusat Laboratotium Uchiha, atau yang dikenal sebagai Uchiha Research Center. Shikamaru menarik nafas ketika mendapati suara pikiran yang amat dia kenal. Seseorang yang berada di masa lalunya…

..

.

Gadis itu bersurai kuning. Tubuhnya memukau. Siapapun bertekuk lutut di kakinya. Suaranya manja. Dan gayanya yang centil selalu mengundang para pria. Tidak terkecuali si jenius Shikamaru. Bagi siapapun gadis itu bagai penjelmaan dewi aprodite. Cantik yang mematikan..

Shika dan si kuning memiliki sebuah benang merah yang saling bertaut. Benang merah itu terlepas ketika seseorang yang menautkan benang itu mati. Shika lebih memilih untuk pergi dari sisi 'abu-abu'.

Shika pernah berada dalam squad khusus Garda Nasional. Tentu saja ia adalah senjata yang ampuh. Namun begitu semuanya berubah semenjak kematian pria itu. Ia akhirnya tahu apa yang ia inginkan di dunia ini. Kebebasan. Hanya itu.

Karena itu, bertemu dengan Sasuke Mirai adalah jawaban atas kesabarannya.

Shika baru saja menghancurkan kertas-kertas penelitiannya ketika para pasukan penyerbu mendobrak pintu ruangan kerjanya. Seolah mengalami de ja vu, Shika justru tersenyum kecut. Sinar laser merah mengghiasi tubuhnya. Titik-titik merah itu mejadi motif pada jas labnya yang berwarna putih.

Suara langkah seseorang mengintrupsi mereka. Seseorang dalam masa lalunya telah muncul kembali. Tepat dihadapan Shikamaru. Membuat lelaki berambut nanas itu menarik nafas lelah.

"Akan ku urus Dia. Kalian cari saja embrionya di tempat lain. Biarkan kami bernostalgia sedikit." Ujarnya dengan gaya centil yang justru membuat Shikamaru muak.

Kali ini.. ia tak bisa lari lagi.

..

.

"Hallo, Shikamaru.."

"Hallo yellow," Shika menjawab dengan tenang 'mantan tunangannya' yang mengacungkan pistol ke batok kepalanya.

"Kau tahu kan, inilah akibatnya jika kau mengejar sesuatu yang semu.." tukas Ino ketus.

Shika justru terkekeh, "Aku mengejar masa depan, manis.."

Ino mencemooh, "Cih, maksudmu mati di tanganku?!"

"Bagaimana kalau kita balik, kalau kau mati di tanganmu sendiri.."

Yamanaka Ino, tertawa sarkastis, "Kau tahu kan, aku juga yang menaruh arsenic di kopi milik guru kita,"

"Aku tahu, karena itu. Aku akan membangkitkan ia kembali.."

Dahi Ino bertaut.

"Kemampuan berpikir absolute. Dia bukan jenius melaui proyek penciptaan seperti kita, Ino. Ia akan memiliki kemampuan membaca masa depan dan mendengarkan pikiran sepertiku. Ia juga akan menjadi orang yang mewarisi ketulusan hati, seperti guru kita."

"Hentikan bualanmu! Asuma mati, ia hanya menyisakan dua manusia super yang diciptakan olehnya. Kita akan menjadi master piece jika bersama. Tapi kenapa? Kenapa kau justru lari dariku?!"

'Karena aku tidak sudi menjadi bonekamu!'

Ino terkesiap, saat kesadarannya pulih, ia justru terkejut saat otaknya telah diambil alih oleh Shikamaru. Pria itu telah menembus perisai yang selama ini ia asah. Pria itu telah memasuki alam pikirannya.

Ia merasakan tangannya bergerak sendiri. Pistol itu perlahan menjauhi kepala Shikamaru dan bergerak sendiri menuju kepalanya. Rasa takut membelenggunya,

"Shika.." rengeknya.

'Hasta la viesta, beibe..'

DOR!

[G-Project]

.

Tepat saat bunyi pistol yang memekakkan telinga, Sasuke terdampar lagi di ruangan Itachi. Tubuhnya limbung ketika mendarat di dunia ini lagi. Ia tahu, tenaganya kian menipis, menyisakan kelelahan yang mungkin akan bertahan lama.

Ketika ia membuaka pintu, ia justru diberondong dengan laser dari senapan yang disandang oleh para pasukan dari Garda nasional. Membuatnya terpaksa angkat tangan dan mengulang lagi sejarah pelariannya. Buronan, tetap saja buronan.

"Tch! Sial," dengusnya.

Namun suara ruangan di sampingnya merebut atensi para serdadu. Karena justru pria dengan jas putih yang terpercik darahlah yang keluar. Bukan wanita berambut emas, si kapten.

"Apa kabar, Mirai?"

Sasuke menyeringai. Dengan tenang justru menuju ke arah, si kepala nanas.

Si kepala nanas, membalas senyuman kaku Sasuke. Lalu mengulurkan kotak stenlis itu. Ia kemudian mendekati telinga si raven.

"Dua tahun lagi, temui aku di sana. Akan kubereskan yang di sini."

"Hn."

..

.

Setelah itu yang terlihat hanya para serdadu yang membeku, dan Sasuke melenggang dengan mudahnya. Namun begitu, perjuangan menuju ke luar dari ruangan ini ke pintu darurat tidaklah mudah. Apalagi dengan tenaga yang terkuras.

Ia bahkan beberapa kali hilang keseimbangan. Namun otaknya masih bekerja saat satu-persatu serdadu membunyikan petasan kematian pada diri mereka sendiri. Shikamaru, memang sungguh tidak main-main dalam mengurus bagiannya.

DOR!

DOR! DOR!

..

.

Sasuke berguling di lantai. Tubuhnya serasa remuk. Di mata kanannya telah mengeluarkan cairan merah yang kental. Sial! Racun itu lebih cepat menggerogoti hidupnya. Ia terbatuk, darah segar terciprat di tangannya, dan dadanya terasa nyeri yang sangat.

Ia tersengal, matanya berkunang-kunang.

"Jangan sekarang!" gerammnya. Ia berjalan terseok, menuju pintu darurat.

Ia tidak ingin mati sekarang. Tidak saat semuanya terasa begitu dekat. Tidak ketika masa depan yang ia perjuangkan akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Ia marah, marah terhadap dirinya yang lemah. Dirinya yang bodoh, dirinya yang hanya manusia cloning. Ia adalah hal yang paling tidak abadi di sini.

Izanagi. Ia pernah membaca istilah itu di laboratorium New Tokyo distrik Andromaeda tahun 2401, tahun di mana ia mendapatkan transplantasi mata 'sang penyelamat' si Uchiha Sasuke yang asli. Izanagi adalah kemampuan mata geometrinya untuk mengubah masa depan. Tapi dengan itu ia mengorbankan matanya untuk teracuni menjadikan mata itu membusuk. Ia talah menggunakan izanagi. Ia telah mengubah masa depan yang sesuai harapannya. Masa depan yang terasa sempurna di matanya. Masa depan dengan Hinatanya. Di mana ada Hinata dan anaknya tumbuh bahagia. Melihat mereka bahagia. Sesederhana itu.

Ia menarik nafas. Menggugah semangatnya lagi dengan segala kenangan Hinata dan Arashi yang berkeliaran di kepalanya. Senyumnya merekah, jika ini adalah waktunya. Ia akan mati dengan cara yang dipilihnya sendiri.

Dengan mata sebelah yang masih bisa dipergunakan, ia justru mengaktifkan mata geometrinya sekali lagi. Melompati waktu dan bertemu dengan si 'ayah' di masa depan.

[G-Project]

.

Shikaru duduk di sana, menatap pintu seolah tahu, Sasuke Mirai akan datang. Ketika lelaki Uchiha itu datang dengan tubuh gontai setengah sekarat, dan mata sebelah yang terpejam dan mengelurkan darah.

"Aku sudah datang." Ucap Sasuke getir.

Shika tersenyum, "Aku tahu kau akan berakhir seperti ini.." Shika bangkit dari kursinya untuk mendekati tubuh Sasuke Mirai.

"Aku hebat kan," ujar Sasuke memamerkan seringai pahit yang terasa menyedihkan.

"Selalu." ucap Shika sambil membantu pria itu untuk duduk.

Mereka di telan keheningan yang menyedihkan.

"Bagaimana cara aku mati?" tiba-tiba saja Sasuke ingin tahu.

"Kau akan mati dipelukan sang Hawa."

"Cara yang indah untuk mati, kan?" Mirai justru terkekeh,

Shika tersenyum. "Tentu."

"Dia akan tumbuh dengan baik. Aku sudah melihatnya." Perasaan sedih kemudian hadir kembali. Mengoyak jantungnya. Mengingat semuanya hanya membuatnya seolah mati berkali-kali.

Shika menepuk bahu Mirai. Orang yang dulu ia benci setengah mati. "Terimakasih." Bisiknya.

"Tcih! Aku harus segera pergi sebelum semua kekuatanku lenyap."

"Pergilah. Kami berhutang padamu,"

Sasuke Mirai berdiri, lalu dengan gontai menarik hendel pintu. Ia menghilang bersama pintu yang tertutup dan kilatan cahaya merah.

Di sana, Shikamaru terpekur. Sebutir air mata lolos dari pelupuknya.

"Dunia berhutang padamu, Sasuke—"

_to be continue_

a/n:

holaaaa.. amigos.

Khekhekhe..

Adegan ini memang sangat familiar kan. Oke, sejujurnya saya hanya membuat adegan terbalik dari kematian Itachi ET yang ada di anime. Ketika Itachi sekali lagi menyelamatkan Konoha dan mati. Maka saya membuat Sasuke menyelamatkan dunia sekali lagi dan mati juga. Gak adil ya? This is just story *plak!

Trus, saya sudah bilang kalau fict ini akan berakhir di chap 11. Saya konsisten kok. Berarti masih ada 3 chapter lagi. Lho kok gitu? Iya dua chapter untuk whole story, dan satu chapter epilog. Jadi total emang akan jadi 13 chapter. Saya sudah buat keseluruhan cerita, dan tinggal publish. Karena itu, kali ini saya nggak akan bohong. Karena saya berencana long hiatus ketika fict-fict multy chapter yang saya buat rampung.

Berturut-turut ini jadwal saya publis.

Senin. G-Project

Selasa. HBT

Rabu. A/B

Kamis. Romeo trilogy

Jum'at. GID

Sabtu. Fict collab

Minggu. Baca review(?)

.

Yuk, balas review dulu.

Sasazaki mami: haha.. akhirnya update kan. Maaf ya, lama. Saya seneng deh, kalau ada yang 'ngeh' sama cerita ini.

Hel hazelnut: yeyeye, kangen ama komenmu. *tebar konfeti. Yosh, baiklah, saya akan membuat pengakuan. Saya sebenarnya bukan penganut prinsip agama ato ilmu pengetahuan #plak!. Itu semua hanya demi plot. (^_^)v Dan saya ini memang bukan orang yang berkecimpung dalam dunia medis. Saya anak sosial kok. Pekerjaan saya masih ada hubungannya dengan keuangan, khususnya dalam bidang perdagangan. Hehehe.. Pocchan typonya makin banyak ya, huaaaa.. aku maluuu *krik.. krik.. kaboooorrr.

Ruki Scarffy: OK, ini dah di lanjut. Makasih atas dukungannya ya ^_^

(j. vickovie) : jangan nyesek yah, di chap ini malah Sasukenya agak kesiksa. Plotnya emang gitu #ditabokreader. Bisa dibilang ini fict beraliran happy angst *eh?!

Eigar alinafiah: hohoho.. saya udah apdet loh. Maaf lama. Soalnya saya lagi kena virus WB. Dan saya lagi galau sehingga berencana long hiatus. (-_-)

Flower lavender: nih, udah dilanjut. Makasih dukungan dan partisipasinya yah.. ^_^

Arum Junnie: belum nyrempet si kembar ya? Habisnya ini waktunya para ayah bertarung. Hehehe.. Mungkin next chap. Sabar ya..

Hachi Breeze: holla senyorita.. (^_^)/ makasih udah dibaca dan direview. Betewe aku sempat speechles baca tulisan kamu. Eniwei, colek dulu ah~ #kabooorrr.

Leomi no Kitsune: ya, apakah ini juga termasuk nanggung? Gomen ya.. *ojigi. Tapi saya harap semoga chap ini memuaskan. *smirk. Salam kenal dari Pocchan untuk Omi-chan *eh?!

Yukori Kazaqi: Yukooo~ aduh maaf ya.. aku merasa bersalah karena menelantarkan fict kita. Huhuhu.. T_T

Kin Hyuuchi: masihkah dikau bingung, kisanak? *plak! Kalau kemarin bacaan berat, semoga action di scene ini tidak bikin kamu pusing.

(Isabella. veronica. 39) : eh?! Nanti jika bingung, saya akan jelaskan lagi. #gomen kalau membuat kamu bingung.

Kumbangbimbang: huhuhu.. T_T maaf kalau bikin kamu pusing. Tapi saya udah nebus ini loh. Semoga kamu terhibur.

Kirei-neko: Iya, beruntung banget nih Hinata dikelilingi semua idola saya.

Akhir kata,

Bolehkah saya meminta review.

Salam hangat,

POCCHAN (^_^)V