"Manusia, selalu memiliki kegelapan dalam hatinya. Berupa kebencian, kesepian dan perasaan sedih. Kesedihan adalah kegelapan hati manusia, mengakar lalu tumbuh perasaan benci. Apa kamu pernah mengalaminya Itachi?"
Itachi mendongak, lalu menatap mata serupa miliknya. Jelaga hitam yang selalu memukau. Mata milik Uchiha Fugaku.
"Kau sedih karena kehilangan ibumu. Kau sedih setiap melihat 'dia'.."
Itachi memalingkan muka,
"Adikmu tidak bersalah. Jauh di lubuk batinmu mengetahui itu. Kau, melihat 'itu' kan?!"
Setitik air mata mengalir. Itachi menangis dalam diam.
"Ibumu mati melindungi dia. Kau hanya sedih hingga merasa membenci adikmu. Namun jauh di dalam hatimu kau juga mencintai Sasuke. Hanya saja, kau menyesal tak bisa melindunginya. Hingga kau merasa sedih, kenapa harus ibumu yang lemah yang harus melindungi Sasuke."
Keheningan merayap diam-diam. Seperti air yang merayap pada seutas benang, perlahan, tapi menumpulkan.
.
"Aku akan mati." Tegas Fugaku.
"Tou-sama.." suara Itachi serak.
"Dulu mereka menamai kita Iblis. Pemilik mata merah adalah keturunan iblis. Kita tak terikat ruang. Tapi kita selalu kesepian. Kau tahu Itachi-?"
Itachi menghapus air matanya dan memandang wajah pucat ayahnya.
"Takdir Uchiha itu kejam. Kami tak pernah bisa selamanya bersama orang yang kita sayangi."
"Tou-san."
"Aku akan pergi. Ke tempat aku bisa bersamanya. Dan mati di pelukannya. Kau tak perlu mencariku."
"Tou—"
BLAST.
.
Cahaya merah menyilaukan matanya.
.
"San—"
Air mata jatuh. Ayahnya pergi. Meninggalkan ia sendiri dengan tanggung jawab besar merawat sang adik.
…
Ia baru tiga belas tahun. Dan seluruh beban dunia di pundaknya.
Ia ingin menangis, tapi tak bisa.
Kepada siapa ia harus berbagi?!
..
Kegelapan di hati manusia—
Kesedihan, kebencian, kesepian—
Dia merasakan semuanya.
.
Mata merah, selalu memberi kutukan. Ia benci terhadap mata merah ini.
Kenapa ia harus terlahir serupa ayahnya?
.
G-Project
[Chapter 10: the lost memories]
By: PORORO90
Disclaimers : Masashi Kisimoto sensei.
Warning: Typo, gaje, abal, OOC, OC, AU dan mungkin segala ketidakjelasan lainnya.
Rate: T – semi M (for gore scene)
Sasu-Hina
Angst/action/sci-fi
.
.
Enjoy this, minna~
.
.
Mobil yang dikemudikan oleh Izuna-san sudah sangat jauh meninggalkan Uchiha Research Center. Menarik nafas berat, Itachi masih diam. Keheningan yang ada dalam mobil yang melaju cepat itu benar-benar memuakkan.
Itachi melihat ke luar jendela. Matahari baru saja terbenam, malam telah datang. Ia tidak pernah membayangkan berada dalam titik ini. Menjadi seorang pelarian, seperti ayahnya. Tentu saja mereka berbeda. Ayahnya seorang time traveler ulung. Ia berada di jaman Meiji, lalu melompat lagi ke perang dunia ke dua, dan terus begitu untuk mengamati sejarah.
Kadang, tidak semua sejarah yang tercatat itu benar adanya. "Kebenaran adalah kepercayaan banyak orang. Bukanlah milik satu orang. Kebenaran dan kenyataan itu berbeda anakku-" Begitu kata Fugaku.
Dan kini ia tahu makna dari kalimat itu.
"Ano—Uchiha-sama, sepertinya ada mobil yang membuntuti kita."
"Aku tahu. Bisakah kau lebih cepat lagi?"
Izuna-san mempercepat laju mobilnya. Membiarkan sang majikan tegang dengan menggenggam handel kopor stenlis yang setia dilindunginya.
…
..
.
"Apa ini?!" Itachi murka melihat isi dalam kopor.
"Plan B." ujar Shika datar.
"Kau-?"
"Hn." Potong Shika bosan.
"Kau takkan lolos. Kita semua tahu takdir itu."
"JANGAN SEMBARANGAN MEMBACA PIKIRANKU!"
Shika tersenyum penuh kegetiran, "Pahlawan tidak pernah bisa menghadapi karma dan takdirnya sendiri.."
Itachi memandang pria Nara. Mata emosinya menatap Shika yang terlihat sedih. "Aku akan merindukan klan kalian, Itachi.."
Itachi tersenyum kecut. "Akan kusampaikan salammu pada Asuma jika sudah sampai di akhirat nanti." Lelaki Uchiha itu justru tersenyum sambil menghembuskan nafas pelan.
Nara menarik nafas berat. Seolah ada batu yang menyumpal hidungnya. "Entah mengapa aku justru berharap kau tak sampai bertemu dengannya."
"Keh. Omong kosong apa lagi itu."
Nara tersenyum sendu. "Kau, biar bagaimana pun, adalah pintu dari masa depan. Dan Sasuke adalah kuncinya. Kalian terpisah, namun sejatinya satu kesatuan. Kunci takkan berguna tanpa pintu. Dan pintu adalah batas jika kau tak bisa membukanya.."
Mereka terdiam cukup lama.
"Hei Nara." panggil Itachi.
"Hmm."
"Terima kasih, meski aku membencimu."
Nara Shikamaru tersenyum lalu menggeleng pelan, "Tidak. Kami semua. Di muka bumi ini, berhutang pada kalian. Jadi.. Aku mewakili umat manusia, berterima kasih padamu."
..
.
Ssiiinnngggg~
DEBSP! DEBSP!
Satu lubang persis berada di samping kanan kepalanya.
Sial!
Itu tembakan yang teredam.
.
Izuna panik. Mobil oleng.
Dalam gerakan lambat Itachi bisa merasakan, mobil yang terlalu menggeser ke kanan. Lalu perlahan ia merasa akan jatuh. Salah satu sisi mobil naik ke atas. Lalu ia dapat merasakan mobil yang berputar di udara. Terbalik sebelum akirnya jatuh ke tanah. Terhempas dengan begitu kuat. Menimbuklan derit yang memekakkan telinga dan juga suara klakson dari sisi yang lain.
Justru saat itu ia teringat si pria Nanas.
..
.
"Untuk apa korek api?!"
"Untuk bunuh diri tentu saja" jawab Shika santai.
Dahi Itachi berkerut.
"Kalau mereka berhasil mendapatkan sesuatu dari tubuhmu. Maka, apa yang diperjuangkan Sasuke sama saja dengan kesia-siaan. Virus itu menular. Kau akan berkarat kurang dari tiga puluh enam jam. Kecuali kau seorang Uchiha."
"Kalau sampai menjangkiti yang lain?"
"Gampang. Bakar!"
"Kau tidak takut tertular?"
Nara terkekeh, "Kau bisa melihat masa depan tanpa mata merah itu kan?"
Itachi menyeringai, "Danzou yang pertama?"
"Dan Kakashi membereskan sisanya. Jadi tenang sajalah.."
"Jadi ini pertemuan terakhir kita?"
"Kuharap sih tidak." Ujar Shika dengan tampang malas.
Itachi menraih kembali kopor stenlisnya, lalu beranjak pergi. Ketika tangannya meraih handle pintu, Shika berkata,
"Aku serius, baka! Aku berharap kau selamat!"
"Tch! Aku tahu!"
…
..
Dan Itachi tahu, bahwa itu adalah kemustahilan.
[G-Project]
.
Akhirnya mereka berhadapan. Pemilik mata kelabu. Neji dan Hinata. Neji di sana, berdiri di seberang Hinata. Mungkin beberapa langkah. Tapi hati mereka telah terpisah oleh lautan. Neji dan kegelapan hatinya. Dan Hinata dengan penerang cintanya.
"Kenapa Hinata?"
Hinata tersenyum. Tapi justru membuat Neji sakit.
"Kau memilihnya lagi dan lagi.."
Hinata mundur satu langkah ke belakang. "Karena aku bosan." Jawabnya lirih.
Neji mengerutkan alis, bingung ke arah mana arus kehidupan membawanya pergi.
.
"Aku bosan, Kak.."
"Kau harusnya hanya mencintaiku! Tapi kau—" Neji menelan rasa sakit di dadanya.
Hinata menatap sedih wajah orang yang dianggapnya kakak. "Aku benci mengakui kalau kita bukanlah saudara kandung.."
"HINATA!" hardik Neji. "Hentikan dan kembalilah padaku."
Hinata menggeleng, "Aku memang terlahir dari tulang rusukmu. Aku hidup karena kau adalah sel induk dari 'penciptaanku'.."
"Hentikan!"
"Haruskah aku mengucapkan terima kasih,"
"Hinata!"
Hinata Hyuuga menitikan air mata. "Tahun 3089. Ketika manusia tidak lagi dibatasi oleh ruang. Manusia berekspansi ke luar angkasa. Hanya kita yang tertinggal di bumi. Salah. Harusnya ku bilang, hanya kau yang tertinggal di bumi."
"Kumohon. Jangan ucapkan lagi!"
"Kakaklah yang harus mendengarkan aku!"
"Lalu kau menciptakan aku.." ujar Hinata dalam sebuah tatapan kosong ke arah wajah Neji. Karena aku lemah dan tak bisa hidup selama dirimu, dengan keadaan atmosfir yang penuh debu. Kau merekayasa dirimu sendiri untuk menjadi lebih muda. Kau kembali ke umur tiga tahun. Tapi dengan pengetahuan umur tiga puluh lima tahun. Kau naik ke kapsul waktu dan membawaku ke masa itu. Di mana keluarga Hyuuga mengadopsi kita. Karena kita istimewa. Karena KAU istimewa yang membuat Hyuuga menjadi ilmuan nomor satu."
Neji membiarkan Hinata berceloteh,
"Aku adalah pasanganmu. Tapi kau lupa, bahwa manusia memiliki hati.."
"Harusnya kau hanya mematuhiku karena kau tercipta dari tulang rusukku (sel sumsum tulang belakang)"
"Hati tidak bisa memilih, Neji-niisan.."
"Kau—" Neji tercekat.
"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin benda ini."
[G-Project]
.
.
CCIIIIITTTTT.
Ban mobil yang dikemudikan Gaara berdecit nyaring. Kesal! Ia benar-benar kesal. Bagaimana mungkin jalan satu-satunya yang mengarah ke Uchiha Research Center ditutup?!
Sial!
Rupanya ia terlambat.
Matanya nyalang mencari jalur alternatif. Dan bagaimana mungkin ia dapat menghindari aparat keamanan yang sepertinya tumpah ruah ke disrik terpencil yang dulu ditinggalkan?
.
TOK. TOK. TOK
Pintu kaca di sampingnya di ketuk.
Dadanya bergemuruh. Apa secepat ini ia akan tertangkap?
.
Gaara, mengambil keberanian. Lalu menurunkan kaca di samping kaca kemudi.
"Anda adalah 'orang' Hyuuga-sama?"
Dan Gaara amat bersyukur karena 'mencuri' mobil anak buah Neji.
.
"Bagaimana Anda bisa mengenalinya?"
Si aparat tersenyum kikuk. "Karena hanya anak buah Hyuuga- sama yang memiliki simbol pusaran bertanduk yang di gantungkan di kaca dalam."
"Hn. Aku datang memberikan bantuan pada Hyuuga-sama."
"Kalau begitu, selamat jalan.." ujar orang itu ramah sambil membuka barikade pagar kawat.
Mereka tidak tahu. Gaaralah yang ingin segera menghabisi Neji. Tentu saja setelah menyelamatkan Hinata terlebih dahulu.
…
..
Gaara tidak pernah semarah ini. Tidak dalam rentang hidupnya yang dewasa. Ia pernah menjadi mesin pembunuh dengan kemampuannya. Akan tetapi kejadian itu sudah amat lama berlalu. Ketika ia sudah mengerti membedakan hal yang benar, ia memulai lagi lembaran hidupnya. Bagi mereka yang pernah menghilangkan nyawa, ia tentu tahu arti kata penyesalan. Penyesalan itu seperti lubang hitam yang menyedot hatinya. Menyakitkan, lebih sakit dari menderita seorang diri.
Matanya berkilat, jauh di dalam hatinya ia tidak pernah menginginkan 'mereka' mati. Orang-orang itu akan membayar mahal apa yang di perbuatnya ketika menghambat G-Project. Mereka hanya tidak tahu bencana apa yang terjadi jika virus itu tertular dan tanpa kepastian bisa dijinakkan.
Memang ada harga yang harus dibayar untuk segala hal. Tidak ada happily ever after di dunia nyata. Tidak ada cerita yang berakhir semua bahagia. Apalagi jika berhadapan dengan kekuasaan dan harga diri.
Mendung mulai menjalar. Aneh di tengan cuaca musim panas yang seharusnya menyenangkan. Gaara mulai memanggil badai. Matanya berkilat terus selama perjalanan. Ini bukan mendung biasa. Mendung ini membawa berkubik pasir halus. Yang datang memenuhi panggilan Gaara.
"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos. Siapa pun yang telah mengganggu.." desisnya murka.
-To be Continued—
.
.
A/n:
Hehehe, saya datang. Maaf jika chap ini kurang menyenangkan. Mendekati klimaks memang begini. *pembelaan.
Jujur saya berterima kasih terhadap sumabangan ide dan juga partisipasi minna-san sekalian dalam menyumbang review.
Saya terharu. T^T *mewek.
Saya dulu nggak mengira jika fict ini bakal bisa dinikmati. *ngliat genre.
Saya mungkin menjadikan ini sebagai fict panjang saya pertama dan terakhir yang saya buat.
11 chap dengan 1 prolog dan 1 epilog = 13 whole chap.
Berarti kurang 2 chap lagi tamat yah.
Nggak kerasa, fanfik ini bakal the end.
Tapi sebelum itu. Saya akan mengucapkan terima kasih kepada…
Yamanaka Emo: emang. Mereka kan pahlawan. Sasu-Shika-Gaara-Ita. Well mereka bermain dengan bagus kan? *kuharap engkau bisa menerima harapan mereka.
Yukori Kazaqi: yah aku belum ngetik T_T tapi janji deh. Gak sampe bulan tiga bisa di publish.
Ruki Scarffy:maaf jika Sasu dipastikan tewas, tapi jangan gegara itu males baca ya, soalnya di epilog itu isinya perjalanan Sasuke Mirai. Jadi pastikan baca sampai tandas. Hehehehehe.. ^^V
Arum Junnie: Ok, ini udah di lanjut. Semoga mengobati kangen yang kamu derita #Plak!
Altadinata: maaf jika ngaret ya neng. Saya ngedit sana-sini. Semoga ini berkenan di hati.
Shen Mei Leng: kyaaaa… shen… aku malu *pundung.
Akiyama Yuki: salam kenal Akiyama-san, terima kasih atas dukungannya dan semoga ini bisa menjadi perhatianmu.
Syuchi Yuu: makasih atas perhatiannya, iya, maaf demi plot Sasu bakal tiada *-_- akan tetapi meskipun begitu sampai detik akhir pun saya mengusahakan kenangannya tetap hidup.
SMAN1RHLOVMHPxUdztad: nyesek lagi deh sekarang mah.
Flowers lavender: aku juga sama, tapi semoga chap ini sedikit mengobati yang kemarin.
Aizi. Evilkyu: hinata pergi melindungi kopor stenlis. Semua anggota dapat bagian. Shika bawa 1, terus Hinata bawa 1, dan Itachi juga bawa 1. Kamu? Bawa hatiku aja yah, kyahahaha.. #plak!
Anita:iya bu. Tapi saya akan perbanyak scene Sasuhina.
Ajun. Cai. 1: saya aja dijuluki TyPoo-chan :P *curcol. Eniwei kalo chap ini gimana?
Sasazaki mami: iya nih, akhirnya saya update. Setelah sekian lama ngendon. Kok kamu ngerti sih?! Neji jahat gegara cinta. Emang cinta deritanya gak ada akhir *quotes from Pat kai
Eigar alinafiah: semoga chap ini masih memangkitkan gairahmu membaca ^^. Iya, sasuke loncat ke dua tahun mendatang. Semoga kamu masih setia review selama 2 th mendatang juga *plak!
Hinataholic: terima kasih sudah mau membaca. Daku terharu T^T karena engkau dengan setia mengamati perkembangan karakternya.
Kirei-neko: iya nih belakangan saya lelet. Makasih udah ngasi semangat ya, *peluk neko-chan. Belum kejawab ya sampai chap ini bagaimana merea bisa 'ada'. Jawabnya adalah di epilog. Hehehe tetep join di sini ya..
Terus saya ingin menyapa hel hazelnut, j. vickovie, kin hyuuci, hachi breze, Hinata Uchiha69, dan teman-teman yang tak bisa saya sebutkan satu per satu, dan belum ketulis soalnya enggak meninggalkan jejak di chap kemarin. Hehehe, thanks guys for your support.
Dan perjuangan belum berakhir.
Tetap semangat !
Dan salam hangat POOCHAN.
RnR
Ya..
Jaaaa~
