"Cinta adalah gumpalan harapan."

Gaara kecil memandangi pamannya Yashamaru. "Karena ibumu mencintaimu, maka ia berharap padamu.." lanjut pria yang merupakan adik Karura.

"Jika ia mencintaiku mengapa ia meninggalkan aku?!" gigi Gaara terkatup rapat. Menahan rasa sedih dan kemarahan.

Yashamaru menatap putra kecil kakaknya, lalu mengelus surai merahnya yang terlihat berantakan. "Karena harapan bukanlah kenyataan. Kenyataan adalah hasil akhir dari harapan itu. Ketika saling mencintai, dua harapan saling bertemu. Pertama mungkin bersebrangan dan saling menghancurkan. Dan akhirnya menjadi duka dan kecewa. Kedua, karena saling memahami dan menyokong, maka akan menjadi kebahagiaan.."

"Apakah ayah dan ibu adalah harapan yang bertolak belakang?"

Yashamaru tersenyum tulus. "Tidak." Jawabnya mantap. "Justru mereka adalah pasangan yang saling menyokong dan memahami. Tapi kadang ada takdir yang tidak bisa dilawan Gaara."

Gaara mendongak melihat mata hazel milik pamannya.

"Kelahiran dan kematian adalah takdir yang tidak bisa dilawan. Karena itu berusahalan menjadi orang yang sanggup menyokong dan memahami orang lain. Karena itulah, kau lahir. Membawa hal yang bisa dibanggakan oleh ibumu. Sebarkan banyak cinta untuk orang lain.."

"Aku tidak mengerti," mata bulat berwarna hijau milik Gaara terlihat berkedip.

Yashamaru tertawa, "Hahaha.." lalu mencium kening hal yang paling Karura lindungi. "Kelak, kelak kau akan mengerti.."

..

Saat itu aku tidak mengerti. Jika konsep kebahagiaan bisa sesederhana itu. Tapi akhirnya aku paham. Ketika melihat Hinata mengangis untuk orang lain. Bahwa aku akan berusaha menghapusnya. Aku ingin cintaku hadir untuk menokongnya. Cintaku, adalah harapanku. Cintaku pada Hinata juga sesederhana milik ibuku. Bahwa aku akan bahagia dengan melihatnya bahagia. Aku akan di sampingnya jika ia membutuhkan aku. Dan aku akan menjauh jika ia memang menginginkan itu.

Cintaku, adalah harapan yang saling memahami dan menyokong. Aku tidak ingin hanyut dalam kegelapan. Aku tidak ingin membenci apa dan bagaimana aku lahir. Aki tidak ingin mengingat bagaimana ayah ingin melenyapkanku. Aku ingin menjadi pasir. Yang berada di manapun. Sanggup menjadi tempat untuk bibit-bibit harapan tumbuh. Dan aku yakin, kehidupan akan lebih menarik jika aku bisa menjadi peranku sendiri..

..

.

Ciiittt…

Derit ban memekakkan telinga. Gaara menggeram. Mereka memang sudah bosan hidup. Beberapa orang dengan barikade menghadang mobilnya.

"Berhenti!"

Cih! Gaara berdecih, muak dengan segala keramahan palsu yang diberikan mantan sahabatnya, Neji Hyuuga.

Bergerak dengan cepat Gaara langsung keluar dari dalam mobil yang dipinjam paksa dari anak buah Neji. Menutup mobil dengan kasar hingga menyebabkan suara yang mengganggu. Gaara berdiri di sana, dengan hati yang telah terbakar amarah.

Siiinggggg!

Satu anak panah melesat, membelah udara dengan kecepatan tinggi dan berada tepat untuk menembus kepala merah Gaara. Sang pembidik tersenyum angkuh. Anak panah adalah senjata yang ampuh di dunia. Karena rompi anti pelurupun bisa tembus olehnya. Jenius eh? Tentu saja itu adalah kecerobohan. Kepata Gaara bukanlah sebuah semangka. Seluruh tubuh Gaara adalah sensor. Ia peka, dan bisa mendeteksi gerakan lawan. Justru anak panah tajam itu berhenti tepat di depan mata hijau anak bungsu keluarga Sabaku. Menimbulkan aura mencekam. Adalah sebuah kesalahan dengan terang-terangan mengancam Gaara.

Anak panah itu masih berdiri tegak, sebelum kehilangan energi dan jatuh akibat gravitasi. Para pion-pion itu terhenyak. Belum sadar apa yang sedang mereka hadapi. Adalah keputus asaan ketika senjata-senjata menjadi lumpuh karena tariannya.

Dor!

Satu tembakan yang dihindari dengan mulus oleh Gaara. Dan menghasilkan seringaian yang tidak pernah diperlihatkan oleh si mata hijau.

Dor.. dor.. dor.. dor..

Rentetan senjata itu seolah menjadi ritme kematian yang riang. Tapi tangan Gaara sudah lebih dulu bereaksi. Dengan gerakan pelan seperti sapuan angin, tangan kanannya terangkat seolah bergerak, menghalau peluru. Semacam tangan yang mengibas ngibaskan asap. Terlihat lemah dan tanpa perlindungan.

Justru Gaara sedang menyerang. Jika mereka jeli dalam mengamati. Karena dengan kecepatan jang sama, peluru peluru yang menghujaninya itu terblokir dengan pasir-pasir yang datang dari segala penjuru. Mebentuk gumapalan tipis dengan bentuk menyerupai piring. Bukan cuma satu tapi ribuan.

Menari di udara, berutar dengan kecepatan konstan, bulatan tipis dengan diameter dua puluh senti. Seperti piring terbang yang berwarna kecoklatan, membentuk perisai melindungi tubuh jengkung milik Gaara si surai merah.

Ketika semua peluru terlepas dari popor senapan, piring pasir itu bergerak mengikuti ritme jari jari Gaara. Seperti gerakan mengetik, jari-jari Gaara membuat piring pasir itu bergerak dan terus melindunginya. Butuh konsentrasi tinggi saat mengendaikan pasir dengan jumlah yang banyak dan berada dalam jarak yang tak bisa dibilang dekat. Karena tanpa terlihat oleh mata, sejatinya piring pasir itu dikendalikan oleh benang chakra yang tembus cahaya.

Tanpa Gaara sadari seseorang telah menyelinap keluar dari barikade. Menyusup diantara keriuhan, berdiri tepat di belakang Gaara lalu mengeluarkan pisau pendek yang tajam berkilat. Berusaha sukuat tenanga menghujamkan sangkur yang tampak tajam dan mampu menggores apapun.

Meski agak terlambat Gaara berhasil menghindari serangan mendadak di belakangnya, ia berhasil menghindar. Dinding pertahanan piring pasirnya roboh, dan dengan gerakan cepat dan cerdik ia berguling. Lalu dengan sigap ia menggunakan kakinya yang bebas untuk menjegal pria yang berusaha melukainya. Pria itu roboh, keadaan berbalik. Dengan kecepatan yang diasahnya dengan baik, Gaara menendang pisau sangkur yang tergeletak lalu menghadiahkan tonjokan menyakitkan ke laki-laki yang berusaha membunuhnya. Namun beberapa tembakan terdengar lagi. Kali ini, bisakah ia menghindar?

Dor.. dor.. dor..

Gaara berguling lagi. Dengan tubuh berjongkok ia memulai membentuk pertahanan Kedua tangannya terangkat ke depan dada membuat gerakan seperti dorongan.

"Aaaarrrggggg…!" Gaara menggeram. Sebuah mangkok raksasa dari pasir terbalik. Melindungi Gaara lagi. Kali ini ia takkan kecolongan. Matanya beralih pada seorang pria yang masih tersungkur di tanah.

"Akan kuselesaikan kau lebih dulu," gumamnya.

Karena yang terjadi berikutnya adalah..

GLEGUUURRRRR…

.

Tanah terbelah, bergoyang.

Mereka panik. Terlihat bingung dengan apa yang terjadi.

.

KRUSUK.. KROSAK.. KRUSUK..

Daun mulai nerguguran, angin turut menerjang.

Wuuuussssshhhh..

Mereka melindungi wajah. Dan juga melindungi diri dari ganasnya angin topan yang datang. Debu-debu berterbangan, bahkan batu-batu kecil terangkat. Tanah yang retak semakin melebar. Seolah menjadi kuburan tanpa nama.

Gaara menyeringai.

"Selamat datang, badaiku.."

.

G-Project

[Chapter 11: Farewell to Mirai]

By: PORORO90

Disclaimers : Masashi Kisimoto sensei.

Warning: Typo, gaje, abal, OOC, OC, AU dan mungkin segala ketidakjelasan lainnya.

Rate: T – semi M (for gore scene)

Sasu-Hina

Angst/action/sci-fi

.

Diperingatkan.

Ini mungkin menjadi chapter yang panjang.

Sediakan tisu jika berkenan.

Tekan tombol BACK jika tidak ingin melihat kematian.

.

Kita tidak pernah bisa menebak, kapan semua akan berakhir. Yang kita tahu, bahwa saat itu telah tiba. Di suatu titik yang mengakhiri sebuah cerita. Ini tentang sebuah kemenangan yang selalu saja meminta sebuah pengorbanan. Setiap cerita heroik apapun, tidak pernah bertahan selamanya. Selalu diakhiri dengan sebuah titik.

Titik itu mengantarkan pada babak baru. Dan mengakhiri yang lama. Mengakhiri Sasuke Mirai, dan membawa Uchiha Arashi, atau mungkin dikenal sebagai Sabaku Arashi..

[G-Project]

.

.

Ketika gerbang merah itu terbuka. Aku bisa melewati setiap waktu yang kutinggalkan. Setiap potongannya seperti kertas yang berserakan di udara. Manusia mengingatnya dengan kepingan kenangan. Tapi bagi kami yang menjadi seorang pengembara waktu, itu adalah racun. Waktu adalah pembunuh yang kejam.

Datang tak pernah terduga, dan wujudnya pun beraneka rupa. Malaikat maut bisa berarti siapapun, berdiri dimanapun, dan mengincar siapapun. Dan kadang, malaikat maut bisa serupa orang yang kau sayangi, berupa seorang yang kau benci, atau menjadi virus, dan hal yang mungkin sesuatu yang tak kau sadari. Tapi satu yang pasti. Kematian itu takdir.

Pusaran cahaya merah serasa menyedot seluruh kekuatan dan energi, seolah ada sebuah vacuum cleaner yang menyerot habis teangamu. Lalu menghempaskanmu ke bumi ketika sampai. Rasanya menyakitkan.

.

BRUK!

Tubuh Sasuke menghatam lantai. Menimbulkan bunyi nyaring yang terasa menyakitkan. Ia tak pernah bermimpi menjadi selemah ini. Tapi waktu memang lebih kejam dari siapapun. Waktu merenggut kehidupan dan kekuatan seseorang. Begitu mudah dan begitu alami. Kali ini ia tak lagi punya tenaga untuk bangkit. Bahkan untuk mengulas senyum pahit yang getir. Rasanya wajahnya sudah kebas dan mati rasa.

Kepalanya berdenyut-denyut serasa mau pecah. Membuatnya merasakan nyeri yang sangat. Perlahan pandangan matanyapun mulai mengabur. Kepalanya menghantam lantai dan darah mengalir perlahan. Sial! Kepalanya tak berhenti mengeluarkan darah!

Seluruh tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan, efek penggunaan sharingan yang berlebihan. Ia hanya di sana, tertelungkup sambil menikmati sakitnya tubuh yang remuk. Dan darah yang menggenang. Kenapa ia tidak langsung mati saja angar tak merasakan sakit?

Ia tahu mungkin beberapa tulangnya telah remuk dan beberapa organ tubuhnya mungkin sudah membusuk. Beberapa saat lagi pasti nyawanya bakal melayang. Tinggal menunggu waktu sang pencabut nyawa datang menghampiri.

Ia tertawa dalam hati. Beginikah akhirnya?

Ia mati di sini, tanpa menyaksikan pertunjukan spektakulernya. Ckck.. sungguh menyebalkan. Hei, tubuh. Bergeraklah! Aku tidak ingin melewatkan acara utamanya!

Dan hasilnya adalah nol. Ia tak bergerak barang sesenti pun!

.

Ia tersenyum untuk dirinya sendiri, meski wajahnya sakit bukan main. Bukankah ini hebat?! Ia menyelamatkan dunia, dan menyelamatkan harga dirinya sendiri. Tapi takdir dengan kejam mengirimnya ke akhirat sengan cepat.

Tapi bukankah itu sebanding.

"For the precious one.." ya, untuk satu hal yang berharga. Bernama kehidupan.. yang bahkan nanti tidak pernah dinikmati olehnya sendiri.

Ia mengantuk. Mungkin jikalau ia tidur, malaikat itu akan segera datang menjemputnya dan ia tak akan merasakan sakit lagi. Misalnya membuat dia seakan melayang di udara. Melayang eh—?

.

Ia merasa tubuhnya meringan. Ia serasa melayang. Dan ia tahu, kalau ia masih terlalu sadar untuk sebuah ilusi bagaimana ia akan mati. Dengan separuh kesadaran ia serasa bangkit, tapi ia tahu itu bukanlah suatu keajaiban. Sebab, di ujung pandangannya yang kabur akibat rembesan darah dari kepalanya, seseorang dengan overcoat dari kulit berwarna coklat tua, tengah berdiri tegak dengan tangan yang terulur padanya. Berada di kejauh dan mengendalikan sesuatu yang rapuh namun mampu menjadi solid. Si sialan berambut merah itu menjelma menjadi siluman pasir pencabut nyawa rupanya.

Sasuke menyunggingkan seringai angkuhnya. Sementara di ujung sana Gaara, dengan mata yang menyiratkan amarah datang membawa segala emosi. Membawa badai yang siap melibas apapun.

"Kau terlambat, baka." Gumam Sasuke lirih, yang bahkan mungkin tak terdengar dari kejauhan di mana Gaara berdiri.

Tapi ia yakin pemuda itu bisa merasakan kesedihannya.

..

.

Dalam abad dua puluh satu seperti sekarang ini. Mustahil segala cuaca tak bisa diramalkan. Bahkan di pusat Garda Nasional pun tidak tahu bagaimana cara badai pasir tiba-tiba menyerang secara membabi buta area lokal di Uchiha Research Center. Memutuskan jaringan komunikasi, jaringan listrik dan membuat suasana perang makin mencekam.

.

Pst! Petsh!

Mati perlahan-lahan.

Seperti sebuah lilin yang padam satu persatu. Keinginan untuk menghancurkan G-Project justru pupus perlahan. Mereka mulai sadar siapa yang mereka hadapi.

Kegelapan menyelimuti. Ketika suara komando yang biasa di dengarkan melalui earphone para serdadu hanya diisi suara berisik karena kehilangan sinyal. Ketika keheningan tiba-tiba menguar dan mereka hanya bisa mendengar degup jantung mereka sendiri. Bertahan dengan keadaan saling mencurigai. Apakah si samping mereka lawan atau justru kawan.

Dan Shikamaru tahu, di luar sana. Ada orang lain selain Uchiha dan dirinya yang mampu menggunakan setidaknya dua puluh lima kemampuan otak yang di berikan Tuhan, yang dipercayai sebagai mukjizat atau kemampuan supranatural.

Kepala nanas tahu, bahwa bantuan itu berasal dari pria yang memiliki ketulusan hati bernama Sabaku no Gaara.

..

Shikamaru, dengan cerdik memanipulasi seluruh pikiran yang bisa ia jangkau. Menghadirkan suara-suara yang berisikan provokasi.

'Mereka membohongimu..'

'Pusat Garda Nasional hanya mengirimkan kamu untuk uji coba..'

'Mereka ingin menjadikanmu tumbal'

'Di antara kalian adalah mata-mata'

'Bunuhlah.. sebelum mereka membunuhmu..'

Dor.. dor.. dorr—

Dan suara mesiu yang meletus berulang- ulang merupakan requem kematian yang memilukan. Bagaimana cara manusia mati hanya karena manipulasi pikiran seperti yang dicontohkan Shikamaru. Selain tragis, juga mengerikan. Kadang Shika juga merasa jahat. Bagaimana ia bisa menjadi mesin pembunuh yang ulung. Karena itu ia membenci dirinya sendiri. Kelak, ia berharap, ada orang yang bisa membunuhnya. Menjadi musuh alaminya hingga ia bisa memiliki rasa takut. Mungkin dengan hadirnya anak super selain dirinya ia akan lebih mawas diri dalam bertindak. Dan dapat mengontrol emosinya.

"Kalian ingin sebuah keputus-asaan? Akan kuajarkan.." desis Shikamaru.

Bahwa keputus-asaan mutlak seorang manusia adalah ketika mereka tidak bisa membedakan mana kawan dan lawan. Mereka terperangkap oleh bayangannya sendiri. Kesepian, tanpa kawan. Tanpa bantuan. Hanya kematian.

Dor.. Dor.. Dor..

[G-Project]

.

.

"Apa kau baik-baik saja Uchiha.." suara Gaara terdengar begitu dekat.

"Jangan sentuh!" Sasuke meperingatkan. "Jika tubuhmu menyentuhku maka kau akan terkontaminasi. Apocalypse akan meracuni darahmu. Akan mucul parasit berbentuk logam. Ketika terjangkit, kesempatan hidupmu hanya tiga puluh enam jam. Kau akan berkarat. Dan tubuhnmu takkan ubahnya sebuah rongsokan tua.."

Pergerakan Gaara tidak terdengar lagi. Ia tahu kalau lelaki yang menjadi tunangan Hinata itu masih berada dekat dengannya. Ia bisa merasakan aura hangat yang menguasai udara, meski suara bising karena pasir yang berputar dan mengakibatkan pusaran badai yang terus menerjang.

"Aku tidak perlu menyentuhmu untuk membawamu pergi Uchiha.."

Sasuke justru terkekeh di saat sekaratnya.

"Berapa lama kau sanggup bertahan sebelum kau menemukan penawar untuk penyakitmu itu?"

"Tidak ada yang lolos dari penyakit ini Sabaku.."

"Omong kosong!" suara Gaara bergetar.

"Tolong. Jangan biarkan dirimu mati di sini. Jangan.." suara Gaara serak, "jangan biarkan kau mati dan aku HARUS menyimpan penyesalan karena melihat Hinata menderita!" jeritnya.

"Kau hanya perlu mengantarkan aku pada Hinata. Sebab, seluruh kopor stenlis yang dibawa Itachi dan Hinata bukanlah berisi embrio."

Dahi Gaara berkerut, lalu ia terkekeh juga. "Sial. Kita bahkan dikelabui."

Sasuke ikut tertawa. Plan B.

"Itachi hanya membawa kopor stenlis berisi uang. Dan ketika Danzo memburunya, maka kita akan membalikan keadaan dengan menuduh Danzo menginginkan kekuasaan. Hinata membawa serum untuk menetralisir rasa sakitku. Dan embrio aslinya telah aman berada di masa depan."

"Dan ketika Neji menghancurkan tabung yang dibawa Hinata. Sesungguhnya ia telah menyebarkan serum itu ke udara.."

"Baiklah Uchiha, apa kau pernah menjadi storm rider?"

"Pengendara Badai?! Tch! Keren sekali bahasamu, untuk seorang yang hanya tahu soal prasejarah.."

"Nah, kau cukup fokus dan bernafaslah dengan teratur.."

[G-Project]

.

.

Ciiiiittttt..

Sontak tubuh Itachi terlempar ke depan. Mengantam kursi kemudi di depannya dan seketika ia merasa guncangan hebat membuat mobil yang dikendarainya limbung, berputar lalu menghantam bahu jalan. Membuat sedan berwarna hitam mengkilat itu terbalik dan mengakibatkan tubuhnya remuk.

BRUAK! BRUAK..!

Dan Itachi merasa tubuhnya baru saja dihempaskan ke beton. Kepalanya berkunang-kunang. Bau bensin menyeruak ke udara. Kakinya mati rasa karena terhimpit oleh mobil yang ringsek. Dua orang yang menemaninya kelihatan mengalami luka yang serius dan tak sadarkan diri.

Darah segar merembes dari perutnya. Sial, kenapa di saat genting seperti ini maut justru datang mendekat ke arahnya. Kepalanya juga terasa basah dan lengket. Kepalanya terlalu pening dan serasa panas bersamaan. Itachi meraba pelipisnya. Anyir menyapa indra penciumannya, bau karat merebak. Sial, apocalypse terlepas. Ia tahu betul bahwa umat manusia justru diambang bahaya.

Di sana, dengan sisa pandangannya yang mengabur dan kesadaran yang menurun ia sempat melihat sepatu pantofel hitam mendekat ke arahnya. Mengabaikan betapa tersiksanya ia yang hampir meregang nyawa terhimpit di dalam mobil tanpa mampu keluar dalam keadaan mobil yang terbalik. Demi Tuhan! Itachi ingin secepatnya keluar dari sana dan melawan orang itu.

Suara kekehan yang ia kenal. Membuat perutnya bergejolak hebat. Serasa ada yang merambat naik dan membuatnya mual. Tanpa tertahan, Itachi Uchiha memuntahkan cairan kental berwarna merah kehitaman. Tubuhnya mendadak menggigil. Apakah sudah tiba waktunya?!

Pria itu berjongkok. Menikmati tiap detik yang terbuang melihat kematian sulung Uchiha bersaudara. Pria itu kemudian mengulurkan tangan. Mengambil sesuatu yang dilindungi oleh Itachi. Mengabaikan tangannya yang terlumur darah Itachi Uchiha. Tanpa tahu, bahwa virus itu masuk perlahan melalui pori-pori kulitnya dan berbaur dalam aliran darahnya..

.

Pria itu lalu berdiri, mengeluarkan handphone yang disimpannya di balik saku jas. Lalu membuka flip, lalu menekan serentetan angka yang tak dapat dilihat oleh mata Itachi.

"Ya. Ratakan saja tempat itu dengan tanah."

"…" tak dapat di dengar oleh Itachi

"Tak dapat di akses ya? Hmm.. apa boleh buat. Torpedo saja!" ujar lelaki itu tegas. Lelaki itu telah masuk dalam mobilnya dan segera meninggalkan Itachi yang mungin sebentar lagi akan mati.

..

.

"Tak dapat di akses ya? Hmm.. apa boleh buat. Torpedo saja!"

Sontak mata Itachi melebar. Sial! Kenapa saat begini ia malah tidak dapat berbuat apa-apa. Ia menggeram. Bagaimana ini? Sasuke dan Shikamaru masih di sana. Tentu saja korbannya tidak sedikit. Danzo tidak main-main dalam mengahabisi targetnya. Meski mengorbankan ribuan nyawa sekutunya sendiri. Kengannya menyeruak seperti film pendek di otaknya. Berenang dan meracuni pikirannya.

..

"Untuk apa korek api?!"

"Untuk bunuh diri tentu saja" jawab Shika santai.

Dahi Itachi berkerut.

"Kalau mereka berhasil mendapatkan sesuatu dari tubuhmu. Maka, apa yang diperjuangkan Sasuke sama saja dengan kesia-siaan. Virus itu menular. Kau akan berkarat kurang dari tiga puluh enam jam. Kecuali kau seorang Uchiha."

"Kalau sampai menjangkiti yang lain?"

"Gampang. Bakar!"

"Kau tidak takut tertular?"

Nara terkekeh, "Kau bisa melihat masa depan tanpa mata merah itu kan?"

Itachi menyeringai, "Danzou yang pertama?"

"Dan Kakashi membereskan sisanya. Jadi tenang sajalah.."

"Jadi ini pertemuan terakhir kita?"

"Kuharap sih tidak." Ujar Shika dengan tampang malas.

.

"Gommen, Shika—" ujarnya lirih, sambil sekuat tenanga menggerakkan tangannya.

Gerakan tangangannya menuju dada kirinya. Mengambil pematik api stenlis yang dihadiahkan oleh Shikamaru.

Ketika api menyala, seketika langsung menimbulkan bunyi,

Wuuugggg..

.

Menyambar bensin yang sudah menggenang di samping mobil.

Merambat…

Dan masuk dalam tempat tangki mobil.

.

Satu,

Dua,

Tiga,

Dan Itachi telah menghitung kematiannya sendiri. Kali ini dengan senyum penuh kemenangan.

.

BBBLLLUUUUUAAAARRRRR!

.

Seperti kembang api perpisahan. Begitu terang, merah menyala.

[G-Project]

.

.

BBBLLLUUUUUAAAARRRRR!

Gerakan Gaara terhenti. Ia justru turun dari badai tunggangannya.

"Apa yang terjadi?!" desisnya.

Sasuke menahan sakit yang sangat di ulu hatinya, satu air mata lolos. "Itachi." Batinnya sendu.

.

Setelah Gaara memastikan tempat itu dirasa cukup aman, lalu mereka turun dari badai buatan yang datang memenuhi panggilannya. Melayangkan Sasuke dan membuatnya terduduk dengan hati-hati di bawah pohon.

Mata Sasuke yang seolah berbicara, membuat Gaara serta-merta membelakkan mata. Langsung melihat 12ke arah langit kelam. Benda berkedip serupa bintang melesat dengan kecepatan tak terduga.

Gaara menggeram frustasi.

"Aarrggghhh, sial! Kita kecolongan." Ujarnya marah.

"Shi.." ucap Sasuke terbata. Ada gejolak yang amat kuat di perutnya. Darah kental lolos dari sela mulutnya yang tipis. Tak ada waktu lagi.

"Shi?" Tanya Gaara. Jangan.. jangan…

Sial!

"Tunggulah di sini Sasu. Aku akan menjemput Shika dulu!"

Sasuke terdiam, berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar dan hidup. Setidaknya, tidak saat ia belum bertemu dengan Hinatanya.

[G-Project]

.

.

Bet!

Gelombang pikiran itu terputus!

Membuat Shika terhenyak. Si bangsat itu justru telah mati lebih dulu ketimbang dirinya. Sial! Sial! Sial!

Kepalan tangan Shika menghantam meja. Emosinya berkecamuk. Meraih senter kecil di saku jas lab-nya, ia segera mengambil tas kopor stenlis kecil yang ia siapkan untuk dirinya sendiri. Tentu saja butuh banyak cadangan rencana jika menghadapi si jenius dari Hyuuga itu.

Jika Itachi mati, maka plan B dipastikan berjalan. Tapi itu juga artinya plan C juga harus berjalan. Tapi, apakah Hinata sendirian mampu mengatasi Neji? One on one tentu bukan pilihan gampang.

Sial! Ia harus percaya pada Hinata sekarang. Tidak perduli bagaimana nantinya. Ia harus menghilang semantara. Ia harus menyelamatkan asset beharga yang lain. Penelitiannya tentang rahim Hinata baru saja memasuki fase delapan puluh lima persen. Sangat riskan jika ia justru kehilangan semuanya.

Ia menghidupkan laptop, lalu tangannya sibuk membuka-membuka file. Ia lalu memasukkan flashdisk di lubang USB. Berusaha secepat mungkin cepat membuat kopian datanya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya setidaknya ada beberapa hal yang bisa di selamatkan. Lagipula jikalaupun computer jinjingnya bisa dimasukkan ke dalam kopor, bukan berarti bahaya yang lain tidak akan datang, dan datanya bakal selamat.

Ia perlu banyak rencana cadangan.

DEG!

Sial!

Torpedonya keburu datang!

Ayolah… dasar benda keparat! Kenapa lemot sekali.

15% anymore.. 8 menit remaining..

Entah mengapa membaca pemberitahuan di layar membuat darahnya mendidih.

.

Dan di sana, memembus kegelapan malam. Benda dengan kecepatan tinggi membelah udara. Meredupkan kehidupan. Dan Shika tahu, helaan nafasnya sedang dihitung mundur dari sekarang. Ada cahaya kecil berkerlip merah di salah sayu sisinya. Menunjukkan, bahwa bahaya memang sudah datang.

.

Gaara berharap, ia punya cukup waktu untuk menyelamatkan orang 'itu'. Ia dengan kemampuannya memecah badai pasirnya lalu menggunakan sisanya untuk menghantam k14e arah torpedo. Setidaknya, jika ia tak bisa menghancurkan benda itu, ia bisa menghambatnya.

[G-Project]

.

"Kumohon. Jangan ucapkan lagi!" teriak Neji.

"Kakaklah yang harus mendengarkan aku!"

"Lalu kau menciptakan aku.." ujar Hinata dalam sebuah tatapan kosong ke arah wajah Neji. Karena aku lemah dan tak bisa hidup selama kau, dengan keadaan atmosfir yang penuh debu. Kau merekayasa dirimu sendiri untuk menjadi lebih muda. Kau kembali ke umur tiga tahun. Tapi dengan pengetahuan umur tiga puluh lima tahun. Kau naik ke kapsul waktu dan membawaku ke masa itu. Di mana keluarga Hyuuga mengadopsi kita. Karena kita istimewa. Karena KAU istimewa yang membuat Hyuuga menjadi ilmuwan nomor satu."

Neji membiarkan Hinata berceloteh,

"Aku adalah pasanganmu. Tapi kau lupa, bahwa manusia memiliki hati.."

"Harusnya kau hanya mematuhiku karena kau tercipta dari tulang rusukku (sel sumsum tulang belakang)"

"Hati tidak bisa memilih, Neji-niisan.."

"Kau—" Neji tercekat.

"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin benda ini..

.

Neji tertawa, tawa sarkastis yang membuat Hinata jengah. "Hahaha.."

Bebsss!

Satu peluru lolos dari pistol yang diacungkan Hinata. Tapi Neji begitu cerdik, hingga dapat menghindarinya. Meski meninggalkan goresan di pipi kirinya.

"Meleset, uh—" Neji menyeringai, menyeka pipinya yang ternoda darah.

Hinata tersenyum, "Tidak juga.."

Neji dengan tiba-tiba menyerang Hinata. Dengan gerakan taktis, meraih pistol. Menekuk tangan ramping Hinata lalu dengan kecepatan yang sama menelisik ke sela paha hinata. Mencapit salah satu paha ramping yang terbalut denim panjang dan seketika Hinata roboh.

Terjadi dalam beberapa kedipan mata. Tch! Sial, Hinata ceroboh. Kedua tangannya dicekal oleh satu tangan Neji. Dan tangan sebelahnya yang bebas kini justru mengacungkan senjata ke dahi orang yang dicintainya. Hinata memejamkan mata.

Dor.. dor.. dor..

Hinata membuka mata dengan cepat.

Di sana Neji mengarahkan peluru. Mengoyak segel perlindungan kopor. Tiga tembakan cukup membuat benda kotak sialan itu akhirnya terbuka.

Benda yang terbungkus dengan aluminium foil. Dua buah tabung kaca yang tak dapat ia lihat.

Neji menyeringai..

"Good bye, mirai.." (selamat tinggal masa depan).

Hinata membelalakkan mata, "Tidakkkk!" jeritnya putus asa.

Dor.. Dor..

Dan tabung berisi cairan merah itu berantakan seketika.

Tanpa mereka sadari. Serum itu menguap tertiup angin.

Seperti bunga dandelion.

Ketika saatnya tiba, ia akan bersemi..

.

Hinata berontak, namun Neji lebih kuat. Hinata tidak mau menyerah. Mendorong Neji dengan kekuatan penuh, hingga membuat lelaki yang ia sebut sebagai kakak itu terjungkal. Pistol terlepas. Hinata dengan cepat ingin merebutnya, tapi gerakan keki Neji tidak diperhatikan oleh Hinata. Dengan satu tendangan, Neji membuat pistol itu menjauh.

"Hei, Hina-chan, kau makin menggairahkan jika nakal bigini."

Plak!

"Jaga ucapanmu, Neji!"

"Tcih!" Neji meludahkan darah yang keluar dari sudut bibirnya karena tamparan Hinata. "Mungkin Sasuke adalah pria yang pertama yang mencicipi tubuhmu. Maka dari itu aku menghadiahkan kematian kepadanya. Yang sayangnya, bagaimana ia bisa kembali lagi." Neji mengernyit.

"Sudah bereaksi rupanya.." Hinata tersenyum manis, terlalu manis hingga sanggup mengentalkan tempo permainan.

"Itu adalah cairan anestesi yang baru saja dikembangkan Shikamaru. Begitu serumnya terlepas dari tempatnya ia akan menguap dan lebur bersama angin. Sejatinya itu adalah virus jenis baru. Dimana kemampuan saraf yang merasakan sakit akan tumpul."

Neji tersenyum sumbing, "Akan kupastikan kalau aku adalah lelaki terakhir dan satu-satunya yang bisa memilikimu." Ujarnya penuh percaya diri.

Senyuman maut datang dari tempat lain.

Dor!

Sebuah peluru melesat dan menghantam batok kepala Neji. Tepat di pelipis. Dan darah merah yang segar perlahan meluncur turun dengan deras. Neji masih sempat menengok ke arah datangnya peluru.

Di sana, orang yang paling ia benci berdiri. Dengan mata merah dan kepala yang juga terluka. Lelaki bernama Sasuke Uchiha itu menyeringai, "Bye, Neji." Ujarnya kalem.

Seketika tubuh Neji ambruk. Matanya terbuka, menatap Hinata. Ada setitik air mengalir di sudut matanya.

"Ai..shite—ru." dan bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, nafas neji juga terputus.

[G-Project]

.

.

Wuuuunngggg..

Wuuuusssshhh..

BBBBLLLUUUUUUAAAARRRR!

.

Terlambat.

Gaara hanya bisa melihat gumpalan api membumbung ke langit. Dan sapuan dasyat yang menerjang tubuhnya, hingga ia terlempar ke belakang. Sapuan udara panas menerjangnya, membuat matanya pedih dan kulitnya terasa terbakar.

Matanya pedih. Ia tak bisa membayangkan G-Project tanpa pria itu. Sayangnya ia tidak cukup cepat dan mampu untuk manghalau torpedo itu. Air mata merebak di matanya. Kesedihan datang tanpa diundang.

Tapi Gaara masih ingin percaya. Mungkin ada yang akan ia temukan di reruntuhan Uchiha Research Center. Entah kalaupun itu hanya sabuah kertas sekalipun. Ia tak ingin membuat Hinatanya bersedih. Cintanya bukan cinta semacam itu.

Gaara datang ke reruntuhan yang masih terlihat membara. Api masih terliahat di mana-mana. Bau hangus menyengat indra pencumannya. Tubuh-tubuh teronggok begitu saja. Hampir separuh bangunan musnah dan rata dengan tanah. Terutama yang diyakini gaara dengan laboratorium penelitian. Selain itu hanya tinggal puing bangunan yang berserakan.

Kratak..

Dan Gaara segera menoleh ke arah suara. Di ujung sana, seorang pria dengan jas putih terlihat samar karena tertimbun bongkahan puing bangunan. Gaara dengan cekatan menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan pasir. Pasir-pasir halus terbang, membentus seluet dan berusaha menelisip diantara celah reruntuhan. Perlahan, mengangkat jasad Shikamaru Nara yang tampak menyedihkan. Jas labnya tampak koyak dan campang-camping. Rambutnya tak lagi rapi terkuncir. Helaiannya tampak berantakan dan beberapa bagian tampak pendek karena terbakar. Tubuhnya terdapat banyak luka. Terlebih dari itu, dari balik kemejanya yang juga terkoyak sepertinya ada yang menyembul.

Shika tampak memegang erat tubuh depannya. Tampaknya ia melindungi sesuatu. Dan Gaara mengerahkan kemampuannya untuk membuat tubuh mati itu mendekat ke arahnya.

Shikamaru Nara, terlihat menyedihkan. Tapi yang membuat Gaara terperanjat adalah, sapuan nafas lemah yang di hembuskan oleh Shikamaru.

Cih! Orang jahat memang selalu bisa bertahan hidup! Pikir Gaara.

..

Ketika laptopnya masih menyala, ia tahu bahwa mungkin semuanya tidak pernah bisa tepat waktu. Seketika otak jeniusnya menyala. Ia segera membasahi seluruh tubuhnya. Setidaknya ketika kobaran api datang ia mungkin akan selamat. Tepat saat laptop sialnya berbunyi nyaring "Ting!"

Ia tanpa pikir panjang segera mengalungkan Flashdisk, meraih kopor dan membukanya. Dengan kesal memasukkan laptop berwarna hitam itu ke dalam kopor stenlis.

Wuuuunngggg..

Ketika desingan torpedo mendekat, Shika memasukkan kopor itu ke dalam balik kemejanya, lalu menghadap pintu agar ia mendapat momentum ketika bomnya meledak, ia akan terlempar ke belakang. Meski hasilnya punggungnya akan menabrak dinding dan itu akan terasa menyakitkan. Setidaknya peluang hidupnya akan lebih tinggi dan keluar dengan mudah dari Uchiha Research Center.

Dan tepat sekali. Ketika torpedo menghantam bangunan. Tepat di tengah, maka serta merta tubuhnya terpental ke belakang. Menerjang dinding beton, lalu terkapar talk berdaya di luar gedung. Perfect!

.

Dan Gaara sadar, kalau koala itu hanya sedang tak sadarkan diri. Pria yang terlihat malas itu pingsan. Tapi ia masih hidup.

Menghela napas yang mulai sesak akibat terlalu banyak karbon yang dihirupnya, Gaara segera pergi dari tempat itu. Tujuannya hanya satu. Menuju Sasuke dan Hinata.

[G-Project]

.

.

Hinata melihat tubuh Sasuke yang perlahan ambruk. Dengan cekatan segera menopangnya.

"Lepaskanlah. Kau akan tertular nantinya!" ujar Sasuke geram.

"Tidak!" ujar Hinata mantap. "Aku sama sepertimu, datang dari masa depan. Aku takkan bisa terjangkit appocalipse."

Sasuke tersenyum, meski perlahan tubuhnya mengejang. Rasa sakit menjalar perlahan. Pengaruh serum itu telah memudar. Hingga Sasuke jauh lebih merasakan sakit saat pengaruhnya menghilang. Sasuke kemudian mengatupkan giginya, rasa sakit menerjangnya. Membuat perutnya bergolak dan memuntahkan lagi cairan merah.

"Sasuke!" panggil Hinata.

Pria Uchiha itu berusaha menggerakkan bibirnya. Ia tahu saat itu telah tiba. "Menikahlah dengan Gaara. Aku tahu, hanya dia yang mampu membahagiakanmu.."

"Apa yang kau bicarakan?!" air mata Hinata menetes. "Aku hanya mencintaimu. Dan akan selalu begitu. Jadi tak bisakah kau berada di sisiku?!" Suara Hinata meninggi, ada nada tegas dan putus asa.

Sasuke meringis, menahan sakit di dadanya. Rasa sesak mencekiknya, sesak membayangkan kehilangan Hinata untuk yang kedua kalinya lebih menyakitkan dari paru-parunya yang mungkin telah mengalami mati jaringan.

Sasuke mengerang, tubuhnya membiru. Hinata memeluknya, menangis untuknya.

"Jangan pergi," lirih Hinata lagi, ini adalah sebuah permohonan.

Sasuke Mirai tersenyum, namun darah kental meleleh di sudut bibirnya.

"Sasuke-kun, kumohon.."

Sasuke Mirai mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Hinata yang justru kian deras.

"Sayang.." ujar lelaki Uchiha itu lirih. "Aku rupanya harus mengakui padamu,"

Hinata diam dan membiarkan butiran air matanya tetap lolos.

"Aku Sasuke prototype one, seorang penjahat peradaban di tahun 2401. Menginginkan sebuah kebebasan dan berlayar ke masamu. Karena aku adalah seorang humanoid bukan takdirku untuk hidup melebihi manusia. Bukan takdirku mencintai dan dicintai manusia.."

Hinata menggeleng, pelukannnya justru mengerat. Jangan pergi!

"Tapi aku telah melewati batasanku sendiri. Kau akan mewarisi segala hal yang perlu diajarkan pada keturunan Uchiha. Kau akan melahirkan Arashi, putraku, Kiseki putra Shikamaru dan.." Sasuke menelan kegetiran dan dingin yang tiba-tiba merambat, ia merasa sangat lelah dan mengantuk, "Keita putra Gaara.."

Hinata tak mampu menahan rasa terkejut yang menguasai hatinya, akan tetapi perasaan takut datang merajai hatinya. Membutakan fokusnya dan hanya atensi yang tertuju pada kekasih hatinya yang mampu ia pertahankan.

"Shika adalah ayah, Gaara adalah pelindung.."

Perlahan mata Sasuke tertutup, menimbulkan pekikan , "Bertahanlah! Jangan pergi.. kumohon, Hiks..hiks.. kau sudah janji padaku.."

Sasuke berusaha membuka mata, "Dan aku adalah seorang kekasih.." ujarnya lirih seperti bisikan.

Hinata terkesiap, matanya mencari kehidupan diantara mata cemerlang milik Sasuke. Mata hitam kelam milik Sasuke berkedip, sudut bibirnya basah. Bersamaan dengan sebutir air mata yang jatuh, nafas terakhir Sasuke dihembuskan. Begitu tenang.. dan tanpa penyesalan..

Dan Hinata tahu, air mata takkan pernah cukup untuk mencintai Sasuke Mirai. Karena bersamaan dengan perginya Sasuke. Maka hatinya ikut bersamanya.

..

Di ujung sana, Gaara yang membawa Shikamaru meneteskan air mata. Sengaja tak mengintrupsi waktu singkat yang dimiliki Hinata da Sasuke. Karena ia tahu diri, karena setelah ini ia akan punya banyak waktu untuk Hinata. Waktu yang bahkan ingin dimiliki oleh Sasuke.

Hinata the Eve juga berakhir..

Karena ada babak baru, dimana hanya ada Sabaku no Hinata..

~XoXo~

a/n;

Dan berakhir juga~

Huaaaahh.. ini adalah bab terpanjang dalam kegemaran saya menulis. 19 halaman! Rekor! Dan mungkin saya berniat menjadikan hari ini sebagai hari special. Yeyeye.. *lebe!

Saya tahu, bab ini terlalu banyak aksi. Dan masih banyak pertanyaan. Itulah guna epilog. Saya akan menjelaskan yang bolong dari cerita ini.

Yossshhhh!

Mari kita berbalas review terlebih dahulu.

Eh, sepertinya balasan review ada di kolom sebelah. (next chapter)

Kalau begitu,

RnR ya..

Salam hangat

Pocchan