Epilog
-Mirai-
.
.
24 jam pasca tagedy G-Project.
.
Danzo Shimura ditangkap sehari setelah rencana pemusnahan G-Project. Dewan menjatuhkan hukuman berat atas pelanggaran hak asasi manusia dan penyalah gunaan wewenang. Ia juga dituntut untuk tewasnya banyak orang dalam penyergapan malam itu.
Beberapa jam setelah ia masuk dalam sel, tiba-tiba Danzo mengalami kejang hebat. Darah seolah menyumbat dan membuat pria berumur itu mengalami pendarahan otak. Darah keluar dari mata, hidung, dan mulutnya. Darah berwarna coklat kemerahan. Yang membuat geger Dewan Garda Nasional. Di hari yang sama Hatake Kakashi mengusulkan kreamasi karena ada kemungkinan virus jenis baru yang mungkin diderita Danzo.
Hari yang sama juga, ketika Sasuke dikremasi.
Dan masalah teratasi dengan mudah selama 48 jam yang menyibukkan.
.
Setelah menjalani pengobatan dan pemulihan, Shikamaru mengungsi ke pulau terluar Jepang. Ia butuh waktu untuk menyempurnakan penelitiannya. Ia masih meneliti bagaimana bayi dengan perbedaan resus itu bisa tumbuh di rahim Hinata. Ia membuat permintaan pada Dewan Garda Nasiona untuk memulihkan nama Uchiha. Dan membangun kembali pusat penelitian mereka sebagai wujud permintaan maaf dan juga rasa terima kasih.
…
Dua tahun kemudian.
.
Hinata turun dari ranjang. Menengok sisi ranjang yang telah kosong. Ia lalu bangkit, dan berjalan dengan telanjang kaki ke luar kamarnya.
Di sana tampak Gaara dengan celemeknya menyiram tanaman di halaman. Kontras dengan serangkaian warna hijau. Tak dapat di tebak, bagaimana pria yang dulunya terkesan dingin dan terlalu perfeksionis itu menjelma menjadi suami yang super perhatian. Punggungnya yang terasa lebar dan hangat. Ah betapa imutnya pria Sabaku itu.
Hinata tanpa keraguan memeluk suaminya dari belakang, "Anata.."
"Hm." Gaara masih enggan untuk berbalik, justru menikmati pekerjaannya menyiram dan juga menikmati pelukan Hinata.
"Sepertinya ada yang aneh terjadi padaku."
Bahu Gaara menegang. Apakah istrinya terjangkit apocalypse?
"Berat badanku tiba-tiba naik.."
Gaara terkekeh, tapi tak dapat menyembunyikan suka citanya. Menaruh selang air dan mengendalikan pasir untuk mematikan air. Kemudian lelaki bermata hijau itu bebralik untuk memeluk kekasihnya, istrinya yang paling ia cintai sedunia.
"Gaara-kun." Keluh Hinata.
"Hm?"
"Kamu memang tidak mengerti perasaanku." Ujarnya cemberut.
Gaara tersenyum, lalu dengan jahil tangannya memencet hidung mungil Hinata, "Kalau ngambek, kamu jadi seperti ibu-ibu saja.." cibirnya.
Deg!
Mata Hinata melebar.
"Ada apa?!" Gaara jadi cemas sendiri.
"Aku telat."
"…"
"Gaara, aku telat seminggu."
"Kau—" Gaara bahkan tidak berani berharap banyak.
"Ya!" sambar Hinata. "Kau jadi ayah!"
Gaara tertawa, lalu berhenti mendadak. "Kita harus meneleponnya!" ujarnya terburu-buru masuk ke rumah.
…
..
Tentu saja Shikamaru sedang berada di kursi malasnya. Ruangan yang di bangun sama persis dengan Uchiha Research Center yang dulu dihancurkan oleh pemerintah. Ia sedang menunggu, seseorang yang mungkin ia rindukan.
Pintu terbuka, orang itu datang. Menyerahkan sesuatu dari masa lalu.
.
" Aku sudah datang." Ucap Sasuke getir.
Shika tersenyum, "Aku tahu kau akan berakhir seperti ini.." Shika bangkit dari kursinya untuk mendekati tubuh Sasuke Mirai.
"Aku hebat kan," ujar Sasuke memamerkan seringai pahit yang terasa menyedihkan.
"Selalu." ucap Shika sambil membantu pria itu untuk duduk.
Mereka di telan keheningan yang menyedihkan.
"Bagaimana cara aku mati?" tiba-tiba saja Sasuke ingin tahu.
"Kau akan mati dipelukan sang Hawa."
"Cara yang indah untuk mati, kan?" Mirai justru terkekeh,
Shika tersenyum. "Tentu."
"Dia akan tumbuh dengan baik. Aku sudah melihatnya." Perasaan sedih kemudian hadir kembali. Mengoyak jantungnya. Mengingat semuanya hanya membuatnya seolah mati berkali-kali.
Shika menepuk bahu Mirai. Orang yang dulu ia benci setengah mati. "Terimakasih." Bisiknya.
"Tcih! Aku harus segera pergi sebelum semua kekuatanku lenyap."
"Pergilah. Kami berhutang padamu,"
Sasuke Mirai berdiri, lalu dengan gontai menarik hendel pintu. Ia menghilang bersama pintu yang tertutup dan kilatan cahaya merah.
Di sana, Shikamaru terpekur. Sebutir air mata lolos dari pelupuknya.
"Dunia berhutang padamu, Sasuke—"
..
Setelah kenangan yang terasa menyedihkan itu, Shikamaru terhenyak. Sebuah dering telepon gengam mengintrupsinya. Layarnya berkedip. Sabaku Gaara calling..
"Hallo."
"Aku ingin mengabarkan, kalau—"
"Aku tahu." Potong Shikamaru. "Bawa Hinata ke URC. Sudah waktunya kita menempelkan embrio itu."
Gaara justru terkekeh, "Senangnya aku tak perlu menjelaskan apapun kepadamu.."
"Aku bertemu dia." Ujar Shika.
Mereka tertelan keheningan yang absurd. Hening yang menyesakkan dan juga menyedihkan.
"Kalau begitu akan kututup." Ujar Gaara kemudian.
..
.
Shika kini tahu, bagaimana cara menempelkan embrio yang paling aman. Tentu saja membiarkan Hinata matang secara alami. Dengan begitu akan mengurangi resiko tubuh hinata menolak benda asing.
Secara alamiah, tubuh Hinata akan mengalami pressing. Akan ada tiga janin yang berada dalam lahirnya. Bukan tidak mungkin Hinata akan menolak benda asing yang akan ditanamkan padanya. Dan itu bukanlah berita yang bisa diterima oleh siapapun.
Kalaupun hal yang itu terjadi, bukan itu yang paling ditakutkan oleh Shikamaru. Ia lebih takut bila rumor tentang Uchiha yang mendominasi itu benar adanya. Tentu saja itu bukanlah isapan jempol belaka. Karena dalam riwayat Uchiha belum ditemukan bayi dalam keadaan kembar. Itu semakin menguatkan dugaan bahwa semua bayi Uchiha itu esa. Besar sendiri. Superior. Tak bisa di sandingkan dengan yang lain.
Yang artinya ancaman untuk yang lain, bahkan ibunya sendiri.
Kalaupun itu sampai terjadi, maka hal yang berbahaya jika janin milik Gaara yang gugur. Itu bisa mengakibatkan semua hal yang mereka perjuangkan sia-sia. Karena yang lain tak bisa hidup jika janin aslinya mati.
Shikamaru berdecih. Kesedihan menggerogotinya. Tidakkah Tuhan memberikan keringanan?!
.
Berjalan menyusuri ruangan. Lalu terhenti di ruangan yang paling krusial dari laboratorium itu. Membuka pengamanan yang menggunakan sensor retina, Shikamaru masuk dan mencoba menarik napas. Melihat ke arah dua tabung yang bersebelahan. Sialnya ia justru tidak dapat menahan rasa sedihnya.
"Maafkan ayah, nak. Jika sudah waktunya. Kumohon kaulah yang menyingkir.."
[G-Project]
.
.
Hinata merapikan lagi pakaian berwarna biru muda itu. Lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Kali ini ia sudah bertekad. Ia akan melindungi semuanya. Ia akan selalu berusaha menjadi ibu yang baik. Dan berjuang bersama mereka kelak.
.
Sementara di depan pintu Shikamaru memperhatikan Hinata. Metanya tertutup sejenak. Seolah ia berdo'a agar semuanya lancar hari ini.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Shikamaru.
Hinata mengangguk mantap. Lalu ia naik ke atas ranjang. Memposisikan kenyamanannya sendiri di atas matras.
Shikamaru mulai memasuki ruangan yang sama. Menghampiri meja dorong stenlis yang berada tak jauh dari ranjang yang digunakan Hinata. Mengambil jarum suntik, membuka pembungkus jarumnya. Lalu dengan gerakan cekatan menusukkan jarumnya ke botol berisi cairan bening berisi anastesi.
Ia butuh membuat Hinata terbius dan tenang sementara waktu.
Karena tahapan dari bayi tabung itu baru akan memasuki tahap yang paling krusial. ET atau lebih dikenal dengan embryo transfer.
.
Shika merasa suhu tubuhnya meningkat. Ia tahu ia bukanlah dokter ahli di bidang ini. Namun ia telah bertekad untuk membuat semuanya berjalan lancar.
Tahapan ini dimulai dengan menyeleksi embrio yang akan ditempelkan pada rahim Hinata. Sebenarnya tak butuh seleksi lagi karena memang hanya itu yang mereka miliki. Proses ini dapat dilalui dengan mulus. Mengingat betapa terjalnya jalan yang mereka hadapi dalam kurun waktu dua tahun belakangan.
Setelah memilih embrio, Shika barusaha menyemprotkan secara perlahan embrio itu ke leher rahim dengan bantuan kateter dan USG. Dengan asumsi usia Hinata yang masih muda, Shika berharap semua akan berjalan sesuai rencana.
Setelah proses ET selesai dilalukan, Hinata akan menjalani terapi obat penunjang. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan rahim menerima implantasi dari embrio yang sudah ditanamkan sehingga embrio bisa berkembang dengan normal.
Pada tahap ini, Hinata akan diberi suntikan hCG pada hari ke empat dan ke tujuh setelah proses implantasi. Dosis yang digunakan berkisar antara 1500 hingga 5000 IU. Untuk kasus Hinata mungkin hanya berkisar antara 3000 IU.
Setelah itu tugas Shika bisa dikatakan selesai. Tinggal memberikan kapsul progesterone selama lima belas hari untuk memperlancar semuanya.
Hanya tinggal seberapa besar kemampuan Hinata melahirkan ketiga anak dengan mukjizat seperti itu..
[G-Project]
.
.
Tujuh setengah bulan kemudian.
.
BUGH!
Bruak.. bruak..!
Gaara baru saja memukul dokter bodoh itu. Tubuh ringkih yang dibalut jas putih itu tersungkur ke belakang dan menabrak dinding yang terasa dingin.
Gaara menggeram, "Ucapkan sekali lagi."
Orang di depannya mengkerut, "Maaf Tuan Sabaku. Tapi itulah yang terjadi. Anda harus memilih, siapakah yang diselamatkan. Anaknya atau ibunya?"
Sabaku no Gaara tambah kesal. Memilih katanya? Apakah dia Tuhan sehingga mentapkan kematian secepat itu! Ia lalu berjalan tergesa, menarik lagi kerah dokter yang terlihat ketakutan.
"Berhenti!"
Gaara patuh. Tapi dadanya masih bergemuruh.
"Berhentilah. Gaara.." ujar Shikamaru tenang. Tapi Gaara yakin, bahwa pria itulah yang paling sedih dan khawatir sekarang.
.
"Lihatlah Hinata." Shika memandang sendu ke arah pintu kaca tempat Hinata dirawat. Tubuh orang yang pernah dikasihinya itu tak sadarkan diri, dengan beberapa selang dan kabel yang menunjang hidupnya. "Apa kau sanggup kehilangan dia?"
Gaara bangkit, lalu menghempaskan tubuhnya sendiri ke kursi tunggu di depan tempat Hinata dirawat. Lelaki itu tampak kacau.
Kenapa semua tidak bisa berjalan dengan hal yang diimpikan?
Hinata terlihat menderita. Hinata yang kehilangan berat badan di trimester pertama kehamilannya. Hinata yang setiap saat pingsan karena energinya mudah terkuras. Dan semakin memburuk di enam bulan ia mengandung. Nutrisinya di serap habis oleh ketiga anak 'bandel' yang selalu membuat Gaara dan Shikamaru khawatir.
"Kita harus memilih Hinata, Gaara." Ujarnya dingin.
"Tidak!" tukas Gaara cepat. "Kau tak bisa membunuh mereka, jangan—" suara Gaara tercekat. "Jangan bunuh mereka Shika."
"Tapi,"
"Jangan!" potong Gaara lagi. "Percayalah, bahwa mereka sanggup menghadapi semua ini. Aku percaya Hinata sanggup bertahan. Aku percaya mereka juga begitu. Tak bisakah?! Tak bisakah kita mempercayai mereka?" hati Gaara sakit membayangkan kehilangan salah satu atau putra-putra mereka. Ia tak pernah sanggup bila hal itu terjadi.
Shika menarik napas lelah. Apakah sudah tiba waktunya?
"Jika salah satu diantara mereka menyerah dan membiarkan dua embrio yang tumbuh. Mungkin Hinata bisa selamat."
"…"
"Akan kubilang padanya untuk menyerah sekarang dan membiarkan kakak-kakaknya yang tetap hidup."
Mata Gaara membelalak, "Apa maksudmu?!"
"Aku baru saja berkomunikasi dengannya. Aku menyuruhnya untuk mati."
Gaara menggeram, lalu tangannya melayang menjangkau Shikamaru.
.
BUAGH!
.
Satu tinju mendarat di pipi pria Nanas. Membuat tubuh Shika tersungkur dan nyaris membentur bangku.
"Teganya kau!" ujar Gaara marah. "Aku juga ayahnya!"
"Kau—" ucapan Gaara berubah menjadi isakan, "Bagaimana mungkin menyuruh anakmu sendiri untuk mati, ha?!"
Shika tersenyum sedih. "Percuma saja. Aku sudah bilang padanya untuk segera menyingkir. Jadi, Sabaku san, persiapkan satu pemakaman dua bulan lagi."
…
..
.
Salahkah jika aku masih ingin percaya. Kepada Hinata. Kepada anak-anakku. Aku hanya ingin mereka tahu, bahwa setiap kehidupan itu berharga. Dan pantas untuk diperjuangkan. Aku tak ingin harapan kami tentang masa depan berakhir begitu saja.
.
"Selamat Tuan Sabaku. Anak dan istri anda selamat."
Gaara mengembuskan nafas lega.
"Namun putra bungsu anda.."
Gaara merasa ulu hatinya sakit, dan air mata merebak tanpa di undang. Apakah ini saatnya? Perpisaan ketika ia bahkan belum melihat anak itu?
.
"Dalam keadaan kritis."
Dan jantung Gaara serasa mau berhenti berdetak. Tolong Tuhan, sekali ini saja..
"Tolong dokter, upayakan apapun untuk anak saya. Tolong berikan yang terbaik untuk Kiseki." Ujar Gaara memelas.
.
Bisakah..
Bisakah, takdir dipihaknya sekali lagi?
[G-Project]
.
.
Delapan tahun kemudian.
.
.
Wanita jelita itu membuka ikatan seat belt yang melilit tubuh indahnya, ia menyunggingkan senyum hangat. Ia kemudian menoleh pada seorang lelaki cilik di samping kursi kemudinya, tersenyum pada putra sulungnya. Anak itu masih asik bermain dengan konsol gamenya. Salahkan Gaara yang menulakan virus otaku pada bocah berusia delapan tahun itu.
.
"A'chan.. kita sudah sampai… berhenti dulu main gamenya.."
"Hn.." jawab anak itu sekenanya. Tangannya masih sigap untuk meneruskan permainannya, pandangannya pun masih belum teralih pada benda elektronik itu.
.
"A'chan.." panggil Hinata lagi.
"Alright.. Alright.." anak itu menyerah, ia mematikan benda portable itu dan mengantonginya di saku jaket hoodienya.
"Aaa.. rupanya Kise chan masih tertidur. Mau membantu Mommy untuk membangunkan otou-otoumu?"
Ia merengut. "Tidak mau!"
"A'chan.." Hinata memasang pose puppy eyesnya.
"Arrggghhh, dia tuh tidak tidur, aku tahu! Kise, cepat bangun!" tangan kecilnya membuka pintu belakang.
.
Yang dipanggil tidak menyahut, dia justru mengeratkan pelukan pada bantal berbentuk anjing pemberian paman Kiba beberpa tahun lalu. "Kalau kau tidak lekas bangun, aku akan minta pada Dady untuk meninggalkanmu di Konoha." ucap sulung keluarga Sabaku itu datar.
Seketika anak kecil yang menjadi saudara kembar non-mathernal Sabaku Arashi itu membuka mata, masih dengan tampang malas ia menguap. "Berisik, baka aniki.." ia bangkit dari kursi lalu mengikuti langkah kaki dua orang di depannya.
.
Sabaku no Gaara sedang memejamkan matanya, ia lelah karena baru saja menempuh ribuan mil. Tapi senyumnya mengembang, mengingat tiga anak lelakinya yang sangat berbeda karakter. Lalu pikirannya melayang pada seorang wanita anggun yang sexy dan smart. Entah mengapa kerinduan mendobrak dalam relung hatinya. Hinata adalah wanita sempurna. Ia baik hati, pintar, cantik dan punya body oke. Dan lelaki beruntung yang bisa memilikinya adalah dirinya sendiri. Membayangkan Dokter cantik itu menantinya di ranjang. Sial! Ia merutuki jiwanya yang liar.
.
"Daddy.." suara panggilan putra tengahnya, Sabaku Keita, sukses mengintrupsinya.
Mata berwarna azure itu perlahan membuka, "Ya.. Kei-chan,"
Ia melihat replika dirinya itu tersenyum, "Mommy dan 'mereka' datang.."
.
Gaara tersenyum sekilas, lalu bagkit dari kursi malasnya. Matanya menangkap siluet tubuh kakasihnya. Hmmm.. ia bahkan bisa mencium aroma vanilla kesukaannya dari jarak beberapa meter. Hinata, berjalan mendekat sambil merentangkan tangan, tanda ia ingin dipeluk. Dalam jarak yang hanya berapa langkah itu, Garra sempat berbisik "Tandaima.."
Memeluk Hinata adalah kegiatan yang disukainya. Tubuh Hinata adalah puzzle yang membuat dirinya tampak utuh. Kebetulan yang sempurna, tinggi Hinata hanya mencapai lehernya. Ia mungil tapi memesona. "Okaeri, Anata.." gumam Hinata pelan.
Tiga bocah kecil itu saling berpandangan. Tersenyum penuh arti, ada sebuah simpul yang mengikat mereka. Meski mereka memahami. Ada hal yang berbeda dari mereka bertiga.
Arashi, si sulung, memiliki wajah yang lebih rupawan. Kulitnya cenderung lebih pucat dari yang lain. Ia lebih mewarisi gen pembawanya, daripada ibunya atau Daddy-nya. Rambutnya hitam dengan potongan berantakan yang keren. Matanya hitam pekat, jika ia dalam keadaan yang 'tidak baik', mata itu akan berubah menjadi merah. Mereka bilang ia bisa menyebarkan genjutsu. Ia bisa melihat masa depan dan masa lampau, juga memanipulasi ingatan 'mata' yang ditatapnya.
Keita, si tengah. Ia memiliki apa yang dimiliki ciri fisik Garra. Mata azure, rambut merah menyala, lingkar mata hitam dan kempuan telekinetic, yang menggerakkan benda dengan kemampuan berpikirnya. Yang membedakan ia dan Gaara hanya tanpa tattoo kanji 'ai' di dahinya. Sifat pembawanya pun berbeda. Keita terlahir dengan darah trah ibunya. Ia sangat mematuhi aturan, agak pendiam, dan pemalu.
Kiseki, si bungsu. Ia terlahir lemah diantara kedua kakaknya. Ia memang memiliki otak yang melebihi kedua kakkanya. Ialah yang menyadari perbedaan gen dari ketiganya. Dan ialah yang meemukan fakta bahwa ketiganya tidak berasal dari ayah yang sama. Kise, tahu ia brasal dari patner lab ibunya, Nara Shikamaru. Arashi merupakan bagian dari Uchiha. Dan Keita yang merupakan asli milik Daddy-nya. Namun begitu Kise adalah anak kesayangan Gaara.
Dan bagaimana mungkin mereka kembar kalau mereka dari ayah yang berbeda. Adalah G-Project yang dikembangkan perusahaan Hyuga-Uchiha. Sebuah progam penelitian yang bisa memecahkan problem regenerasi. Seorang perempuan bisa melahirkan tiga anak dari tiga gen pembawa yang berbeda. Dan ibunya yang merupakan kepala laboratorium memutuskan dirinya sendiri menjadi 'the eve' pertama yang siap menampung ketiganya. Dua tahun G-Project dimulai, pemeriantah membekukan izin dari poyek ini. Alasannya adalah prinsip keagamaan tentang penciptaan manusia.
Dan mereka akan berjuang sekali lagi.
Untuk melindungi mada depan, yang lebih baik lagi..
*END*
A/n:
Holla, huuffttt.. akhirnya chap ini selesai sudah.
Terimakasih telah menjadi bagian dari G-project. Terimakasih karena telah membaca, dan juga mereview cerita ini. Saya sungguh terharu.
Saya hanya bisa membungkuk sambil bilang. Terimakasih semuanya… T^T
Untuk,
Ajun. Chai. 1, Mbik si Kambing, Renita Nee-chan, Michiko Rei, J. Vicko, flowers lavender, Syuuchi Hyu, hinatauchiha69, Hinataholic, anita. Indah. 777, Shen Mei Leng. Altadinata, putchy-chan, kaggari ruu, aizy. Evilkyuu, eigar alinafiah, kirei-neko, Sasaki mami.
Terimakasih atas review di chap sebelumnya. Maaf saya belum bisa membahas satu persatu. Namun begitu semoga terhibur.
Untuk teman teman yang telah hadir mewarnai G-project. Dari chap 1 hingga chap 10,
Bagi teman-teman..
Yamanaka Emo, Yukori Kazaqi, Ruki Scarffy, Arum Junnie, Akiyama Yuki, SMAN1RHLOVMHPxUztad, anita, Hel hazelnut, J. vickovie, ininurananda, Hachi breeze, Leomi no kitsune, Kin hyuuchi, Isabella. Veronica. 39, kumbangbimbang, meong, Guest, Moofstar, AzuraCantlye, Gece, Topeng loli kura, handinamikaze, syura, nivelia neil, cecil Hime, Yomu-chan, louise, emma-nyaaan, theonixdevil, mitsuka sakurai, luluk minam Cullen, coro-chan, bip bip, yf, Guest (2), me yuki Hina, hirano Lawliet, Yafa mut, ana-chan, Chikuma Yafa, Guest (3), Olaf13, haniuda-hime,
Terimakasih atas semua hal yang kalian berikan kepadaku. Tentang semangat dan dukungan.
Untuk all readers sekalian yang tak bisa saya sebutkan namanya, dan mungkin juga kesalahan ketik, mohon dimaklumi.
Salam hangat POOCHAN ^^V
.
.
(SPECIAL FRAGMEN)
An Uchiha Sasuke 'mirai' short live's.
.
(2401-fallen season, New Tokyo)
Sasuke PO (Prototype One) sedang berlari, nafasnya memburu. Di belakangnya para 'pengadil humanoid' sedang memburunya. Setelah implant mata yang dilakukannya beberapa hari yang lalu, dewan keamanan New Tokyo telah menetapkan dirinya sebagai penjahat peradaban. Ia telah melanggar peraturan Humanoid nomor tujuh puluh delapan, tentang manusia Humanoid akan tunduk dan patuh terhadap manusia darah murni. Mereka diposisikan sebagai objek dan dilarang melakukan kegiatan yang 'menyamarkan' kasta. Termasuk implant dari organ manusia darah murni. Dan pelanggaran terbesar Sasuke PO adalah mencuri dan menggunakan implant organ dari Sasuke Uchiha. Yang merupakan moyang dari bibit antitoxin untuk melawan virus 'tsukuyomi'. Bisa dibilang, Sasuke yang ditemukan oleh ilmuan tahun 2431 adalah penawar apocalypse yang disebarkan oleh kakak kandung si penawar. Ya, Itachi apalah carier (pembawa) bibit virus mematikan itu.
"Berhenti P-O.." seorang pengadil dengan masker diwajahnya, menghadang pelariannya.
"Cih!" lelaki berambut raven dengan nick name P-O merasa tersudut.
"Sudah saatnya berhenti dari kucing-kucingan ini. Kau tahu apa tugasmu.."
"Kau tidak mengerti!" Sasuke Protptype One menggeram. "Kalian menciptakan kami karena darah kami bisa menjadi penghambat dan antitoxin untuk virus itu. Tapi kalian membuat kami seperti seekor anjing!"
"These world, who gets the power, his is the ruller.."
Sasuke paham betul makna kata itu, ya, siapapun yang berkuasa akan memegang kendali. Bahkan kendali akan manusia itu sendiri.
"Aku.. Adalah humanoid yang bisa memberikan kehidupan bagi kalian, harusnya bisa kalian hargai. Bagaimana jika aku menciptakan sejarah yang berbeda?" Sasuke PO memamerkan devil smirknya. Seketika itu mata geometrinya aktif.
Belum sempat sang pria bermasker menjawab, ia justru didera sinar kemerahan yang tiba-tiba membuatnya kaku di tempat. Seolah ada kekuatan dasyat yang menghipnotisnya dan membuatnya terkurung di dimensi berbeda. Sebuah dimensi yang hitam. Dirinya seolah berada di kegelapan. Tanpa siapapun.. tak menjadi apapun.. hampa!
"Slamat tinggal!" Sasuke PO membiarkan korban mata geometrinya tergeletak tak berdaya dengan tatapan hampa. Jiwa orang itu selamanya akan terperangkap dalam dimensi tak bertuan.
Sasuke PO, tersenyum evil. Selanjutnya ia mengaktifkan mata geometri warisan Sasuke yang asli. Dan sebuah dunia parallel menghubungkannya ke suatu waktu di tempat semuanya berasal. 2009, lima tahun setelah Sasuke asli melakukan penyelamatan gemilang tentang bumi.
[g-project]
-TOKYO
Tahun 2009-
5 tahun, setelah Vinson Massif Accident.
Itachi menatap pria yang terborgol itu. Pandangannya memindai pria yang ditemukan di dekat reruntuhan pusat komando penelitian di Antartika. Pria itu terlalu mirip atau bahkan serupa dengan almarhum adiknya. Jantungnya berdetak keras, apakah Sasuke masih hidup? Pikiran itu berkecamuk. Menjadi racun baru untuknya.
"Apa kabar Itachi.." suara sang tawanan terdengar dingin dan berat,
"Sasuke?" Itachi bahkan mulai meragukan pria di depannya adalah Sasuke sang adik. Pria ini terlalu pekat. Terlalu hitam aura yang dipancarkannya.
"Jika kau merasa tertarik, aku bukan datang pada zaman ini.."
"Maksudmu?"
"Aku Sasuke di tahun 2401"
Itachi tersenyum miring, seolah mengejek orang di hadapannya.
"Teruslah begitu, aku terlahir dari rekayasa genetic. Tidak ada Uchiha. Yang hanya Sasuke nomor zero satu hingga jumlah yang tidak terhitung. Oleh karena itu, dunia menjadi tidak terkendali.."
Itachi seolah tidak mendengarkan.
"Uchiha akan terhapus dalam sejarah, dan menjadi penjahat peradapan karena melepaskan apocalypse dari matamu.. kau akan membunuh umat manusia."
Bahu itachi menegang, menjadi cemas dan waspada.
"Kau akan mati Itachi.. dan memupuskan trah Uchiha. Sharingan milikmu akan menjadi racun untuk darahmu. Kau, takkan bisa memiliki keturunan. Kecuali, kau bisa membuat adikmu kembali dan meneruskan semuanya.."
Itachi melihat Sasuke di masa depan dengan tatapan hampa, "Tapi dia sudah mati.."
.
Sasuke dari tahun 2401 tekekeh, "Kau hanya terlalu takut untuk mengetahui, bahwa mata geometri adikmu lebih sempurna dari dirimu. Kakek buyutku hanya berpindah tempat. Dan kau bahkan tidak tahu?! Dia ada di kepalamu.."
.
Itachi menegang, antara harus percaya atau tidak.
[g-project]
.
.
Kyoto-Jepang
Waktu sekarang (akhir 2009)
Shikamaru Nara menatap pusara gurunya, Asuma Sarutobi. Dia menyulut sebatang rokok,
"Apa kabarmu guru.." ia tahu takkan ada jawaban, "Aku dating mengunjungimu lagi.."
Seolah bermonolog, pria berambut nanas itu mengoceh.
"Mereka merindukannmu.."
"Anakmu sudah besar, dan aku telah menjadi professor termuda dalam sejarah Jepang. Bagaimana? Apa kau juga tidak mau mengucapkan selamat?"
Angin berdesir menerbangkan daun-daun kering. Shikamaru tahu, ada seseorang asing yang berada di sana. Mengawasinya dengan mata merah menyala.
"Kau bisa ikut bergabung tanpa harus mengintip, gaijin*…"
Pria berambut hitam dan memakai jubah hitam itu berjalan perlahan. Matanya tak lagi berwarna merah. Shikamaru memutar matanya bosan. Ia tidak mempercayai dongeng semacam vampire atau kumpulan serigala. Tapi orang ini terlalu pucat untuk ukuran manusia. Tubuhnya jangkung, agak kurus untuk ukuran manusia dengan perbandingan normal, atau jangan-jangan..
"Jangan menahan asumsimu, Professor Nara.."
"Kau-," Shika bahkan belum sempat melanjutkan, tenggorokannya tercekat, apakah mugkin? Batinnya menolak untuk membayangkannya.
"Ya, aku rekayasa genetic, persis yang kau gambarkan dalam bukumu yang akan kau susun.." Sasuke tampak menyeringai, terlalu 'mewah dan tak terjangkau manusia'.
Shikamaru menggeleng, tak menaggapi gurauan kacangan macam ini..
"Aku membutuhkan tenagamu untuk proyek terbesar di alam semesta.."
Mata Shikamaru memincing,
"Membutuhkan kemampuanmu dalam perkembangan DNA, aku tahu kau yang terbaik.."
"Alasan apa yang harus memaksaku memihakmu?"
Sasuke menelengkan kepalanya, matanya berkilat menggoda, "Kau tak tertarik 'membangkitkan' lagi gurumu dari kematian?" seolah pertanyaannya hanya sebuah pertanyaan biasa.
Shikamaru tahu, bahwa penawaran ini terlalu sayang untuk ditolak,
"Gajimu akan diatas enam digit, kalau kau ingin tahu.."
"Dollar?" retoris, tapi ia benar-benar ingin tahu.
"Sesukamulah.."
Shikamaru tersenyum miring, "DEAL!"
0*0*0
Arnheim-Belanda.
(Zona waktu normal- akhir tahun 2009)
.
Seorang wanita muda yang terlihat terpesona mengamati hasil ujicobanya. Sebagai doctor untuk biology cellular*. Dia adalah yang termuda dan terbaik di bidangnya. Umurnya baru menginjak dua puluh satu tahun dan reputasinya begitu mengagumkan.
"Lady Hyuuga.."
Hinata menoleh dengan cepat ke arah suara. Seolah melihat hal yang ganjil, ia telonjak dari tempat duduknya. Ia gugup dan takut menyergapnya. Seingat gadis itu ia sudah mengunci pintu lab. Sangat aneh jika ada orang asing bisa masuk. Apa lagi ada alat pemindai sidik jari yang harus dilewati.
Obsidian bertemu lavender. Seolah mata mereka mampu berkomunikasi lebih baik dari otak dan bahasa tubuh mereka.
"For the time you never forgot, did you missing me?"
"Sasuke-san.." suara Hinata tercekat di kerongkongan, tidak mungkin!
Hinata tampak mundur beberapa langkah,
"You're the EVE.."
.
Air mata membentuk muara di ujung kelopaknya, terjatuh akibat tak kuasa menahan bendungan dan gerak jatuh bebas hukum gravitasi. Ada kerinduan dan rasa kehilangan yang terangkum dalam jarak dan waktu yang tinggal beberapa jengkal itu.
Eve, hawa. Adalah nama panggilan kesayangan Sasuke padanya. Kenapa? Kenapa pria itu harus kembali padanya, setelah sekian lama ia berusaha menata hidupnya kembali. Setelah ia bertunangan dengan Sabaku Gaara?
Sasuke merentangkan tangan, mengundang Hinata untuk memeluknya. Dan Hinata, memang tak mampu bisa menolak. Dalam dekapan hangat itu. Dalam detak jantung Sasuke. Ia tahu, sekali lagi ia jatuh cinta. Pada pria yang sama.
"Ikutlah ke Konoha. Ada proyek yang tak bisa kulakukan tanpamu.." suara Sasuke lirih,
Dan Hinata hanya bisa mengangguk dalam pelukan hangat kekasih hatinya.
Ada peraturan tak tertulis tentang penggunaan genjutsu yang tidak diketahui Sasuke di masa depan sekalipun. Bahwa pengguna mata, akan terus menyimpan segala kenangan dan perasaan yang tersimpan di dalam perangkap mata geometri. Mirai, telah terjebak oleh mata asli Sasuke. Yang mengakibatkan ia tak mampu mengendalikan dirinya sendiri untuk mencintai Hinata. There is a fate or curse?!
[g-project]
.
Sasuke Mirai membuka mata geometrinya. Jika perkiraannya tepat, sekarang adalah tahun 2401 pukul enam pagi, di daerah New Tokyo distrik Andromaeda. Tempat biasanya ia diambil darahnya.
Ia baru saja melalukan travel portal lagi menggunakan mata Sasuke Uchiha. Dan yang sekarang ia temui hanya kebisingan jalan yang padat. Ia telah tersesat diantara lalu-lalang manusia yang pergi bekerja. Untuk sejenak, ia merasakan lega dan rasa sakit yang aneh. Ia sekali lagi berhasil menyelamatkan masa depan. Dalam hal ini, misi yang sedang dijalani kedua orang itu akan menuai kesuksesan. Tapi.. ia tahu, jika dengan mengubah takdir masa depan, ia justru menghilangkan eksistensinya sendiri. Ia menciptakan masa depan yang tak pernah ada dirinya!
Ia menarik nafas lagi, rasa sakit itu masih ada. Ada perasaan sesak, ketika tahu, ia tak pernah ada. Ia takkan pernah menjadi bagian dari masa depan. Sejarah telah berubah, dan ia merasakan sakit yang sangat di dadanya.
Memegang dada kirinya, ia berjalan terhuyung melawan arus manusia yang hendak menuju kepada kegiatan mereka. Dari sudut pandang yang tersaji dalam pemandangan Sasuke Mirai, ia telah melawan arus kehidupannya sendiri.
Sasuke Mirai merasa tekanan di dadanya semakin besar hingga ia limbung dan terpaksa menepi. Ia membuka sedikit kancing kemeja yang digunakannya. Ada beberapa titik hitam yang terlihat di dadanya yang putih. Ia tersenyum getir,
"Ahh, rupanya, takdir lebih cepat menghampiriku.." ia bergumam.
[g-project]
When the red hair meet the red eyes
Sabaku no Gaara tidak akan pernah menduga ucapan Kankurou itu benar adanya. Ia hanya berharap, ketika menyambangi rumah induk Uchiha ia akan mendengar kata mati melalui pelayan-pelayan mereka. Sayangnya, harapan itu tersia ketika salah satu pelyan memintanya menunggu dan kini justru membawanya kepada rival abadinya.
Gaara, bisa melihat siluet orang itu berdiri tegak membelakanginya. Masih seperti dulu, para Uchiha selalu terlihat superior, angkuh dan tak terjangkau. Sehingga menimbulkan kesan ekslusif yang menurut Gaara memuakkan.
Gaara hanya berharap, ia bukan Uchiha Sasuke yang dikenalnya. Sayangnya kadang realita dan harapan tidak sama.
"Kau," Suara Gaara tercekat, terlalu sulit untuk dipercaya.
Mata Sasuke memincing. "Apa kabar, Sabaku."
Gaara berdengus, "Huh, tidak kusangka kau masih hidup. Legenda Uchiha memang nyata ya.." ejeknya.
"The cats has nine soul?" lanjut Sasuke, ia tertawa sumbang, hatinya menyangkal hal klenik macam itu, "Arkeologi, memang cocok untukmu. Kau tak pernah melompat ke masa depan.."
"Sebagai jenius seharusnya kau paham, kalau masa depan ada karena masa lalu.."
Mereka terdiam, mendalami, mengukur kemampuan.
"Aku ke sini hanya untuk menjemput Hinata kembali, tempatnya bukan di sisni.."
"Sayangnya Hinata bukan gadis berusia enam tahun, dan ia berhak memilih.."
Gaara menggeleng, "Uchiha Sasuke, hidup kadang bukan sekedar pilihan. Ada tanggung jawab dan hak. Aku bertanggung jawab atas Hinata sekarang ini. Dan aku berhak meminta ia kembali.."
"Dia tidak akan memilihmu, karena selama kau ada, dia akan tetap memilihku" Sasuke memberikan senyum maut, seolah mengejek pemuda beriris azure itu tentang betapa cintanya Hinata kepadanya.
Lagi-lagi Gaara berdengus, "Huh, di mana kau saat Hinata menangis? Di mana kau saat Hinata rapuh. Apakah kau ada, saat Hinata berada dalam kesulitan? Kau melupakan, bahwa lima tahun cukup untuk mengubah apapun. Aku akan memiliki Hinata, aku sudah bertunangan dengan dia. Dan harap kau catat baik-baik, jangan jadi pengganggu!"
Sasuke menggertakkan giginya, ia muak. Muak pada keberadaan mahluk merah ini.
"Aku akan merebutnya darimu," tangan Sasuke mengepal, lalu dengan sigap mengarahkan tinjunya menuju wajah Sabaku no Gaara.
Tapi Gaara lebih gesit. Alam mengajarkan semua padanya. Jangan lupakan bahwa dia seorang petualang tangguh. Dengan gerakan cermat ia berkelit. Memutar keadaan dengan balik melancarkan tinjunya, lalu..
Sialauan merah membuatnya terperangah, karena Sasuke telah berpindah tempat. Ia sempat melihat, siluet mata Sasuke yang sepersekian detik yang lalu berubah menjadi merah dengan pupil geometri yang unik. Tapi kini, ketika ia menatap tajam mata itu telah kembali pada keadaan semula. Hitam kelam. Hitam yang menenggelamkan, seperti black hole.
Gaara tahu tentang legenda mata itu,
"Kau bermain curang Uchiha, kalau begitu ayo kita buat permainan ini seimbang.." desisnya.
Sasuke memamerkan senyum evil, "Tch!"
Ada yang tidak Sasuke ingat dengan baik, atau memang Gaara memang sekarang yang telah berbeda. Ia tak pernah menyangka, kalau Gaara yang ditemuinya beberapa tahun lalu bakal jadi begini.
Tangan Sasuke terkunci, pergerakannya terkunci. Seolah ada yang mengikatnya. Genjutsukah? Bukan! Gaara bukan Uchiha dan matanya bahkan tak memiliki pupil geometri. Ia mendecih, "Tch! Rupanya kau juga special ya?"
Telekinetic, pengendalian pikiran. "Aku memanipulasi debu yang berada di udara, jika kau ingin tahu,"
Sasuke tersenyum lemah, terlalu sedih untuk tahu pikiran yang di dalam benaknya. Mungkin Hinata tepat memilih pria merah ini. Gaara kuat, dan lebih bisa membahagiakan Hinata kelak. Dan yang Sasuke dulu dan sekarang yang tak bisa raih adalah, masa depan.
Sejarah yang tak bisa terhapuskan, bahwa Sasuke tak memiliki masa depan. Hanya kematianlah masa depannya. Dan jelas tanpa Hinata.
Sasuke mengaktifkan sharingannya. Menjelaskan duduk persoalan melalui dunia lain yang tak terucapkan oleh kata. Mata merah itu menunjukkan semua pada Sabaku.
Kilasan kejadian bermula dari adegan Vinson Massif, Sasuke yang terkubur di es, lalu persolan implant matanya. Dari mana Mirai berasal, kenapa ia bisa sampai di sini. Kenapa Mirai mengambil Hinata. Semua terangkum apik semacam film pendek berdurasi tiga menit yang membuat Sabaku shock! Segala hal yang diperlihatkan Sasuke meracuni pikirannya. Sasuke jelas menyebarkan genjutsu!
Ketika potongan kejadian itu berakhir, Gaara tersungkur di tanah. Genjutsu Sasuke membuat tenaganya terkuras. Sementara Sasuke menjatuhkan diri pada kursi kayu di sampingnya. Matanya terpejam, tangannya memegangi dadanya. Ada rasa sakit yang sangat ketika mata geomertinya aktif. Kejadian ini berulag tiga kali. Pertama saat ia pergi ke tahun 2401, kedua saat ia kembali ke jaman ini lagi, dan kini rasa sakitnya membuat dia tak bisa menahan diri.
"Sasuke," Gaara berdiri, melihat Sasuke Mirai terkapar menghilangkan rivalitas diantara mereka.
Gaara dengan segala kerendahan hati dan kesabaran justru mengambil langkah berani. Ia menyelamatkan Sasuke. Ia memeriksa denyut nadi Sasuke yang melemah. Dan memperhatikan nafasnya yang juga terlalu lemah.
"Huh, ada apa sebenarnya?!" Gaara bergumam frustasi sambil menggendong tubuh Sasuke yang tak sadarkan diri.
[g-project]
.
Sasuke melangkah pelan menuju ruangan Hinata. Setiap kali mendekat ke arah wanita itu, ia selalu merasa ada kilasan kejadian yang menghujamnya. Segala hal itu menyangkut masa-masa indah Sasuke dan Hinata. Seolah jiwa Sasuke yang asli mengingatkan betapa mata ini adalah hal yang ia banggakan.
Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong pintu yang terbuat dari kaca yang diburamkan itu,
"Eve.."
Hinata mendongak, melepaskan diri dari jeratan laptop yang beberapa waktu lalu menguasai dirinya, senyum cerah hinggap di wajah sang jelita. "Sasuke kun,"
Sasuke mendekat, mengulurkan tangan, "Kau harus melihat senja kali ini.."
Mata almethys hinata melebar, "Kau mengingatnya?" lirihnya,
"Aku pernah berjanji, untuk membawamu melihat senja setelah misi bersama Itachi,"
Hinata tak bisa menahan rasa haru, apakah Sasuke benar-benar kembali?
"Kau akan terus diam, atau ikut?" Sasuke tidak menyukai diacuhkan seperti ini.
Hinata bagkit dari kursinya, "Ya," Hinata tahu apa yang diinginkannya, menerima kembali uluran tangan Sasukenya. Sasuke yang selalu ia rindukan.
[g-project]
.
Badai seolah mengadirkan kekejaman alam yang menghadirkan kesedihan. Tapi bagi Gaara, badai selalu menjadi hal yang membuat harapan muncul. Karena ketika semua rusak, maka manusia akan membuat hal baru yang lebih baik. Pemahaman itu selalu diingatnya. Twist isn't just destroy, but also make we learn to hope and do better than before..
"Aku tidak menyangka akan di datangi dua Uchiha dalam satu hari.." ujarnya sambil menyeruput sekaleng cola dingin yang dibawakan oleh Sasuke.
Uchiha bungsu itu memamerkan seringaian, "Tch! Kau itu sedang menyindir ya?"
Gaara juga menyeringai, "Hanya bertanya," ujarnya datar.
"Kau sudah membaca kertasnya?"
Gaara mengangguk,
"Bagaimana menurutmu?"
.
Gaara terdiam cukup lama, lalu memulai berbicara. "Aku tidak menggerti. Jika kakakmu membenciku, mengapa ia justru meminta ijinku untuk 'menggunakan' Hinata?"
Sasuke menyeruput cola di tangannya, "Karena kupikir, akan lebih bagus jika kau menikahinya dulu, karena itu aku meminta kakakku untuk meminta ijinmu,"
"Sasuke—"
"Dengarkan" potong pria berambut raven itu, " Kau akan menikahi Hinata sebelum proyek ini dilaksanakan. Ini akan menhindari tudingan pelanggaran kode etik. Selain itu, juga untuk menindungi Hinata.."
"Melindungi?" Sabaku Gaara masih kurang paham.
"Kelak, hanya kau yang bisa melindungi anak-anak itu. Aku merasa akan ada badai besar yang menerjang semuanya. Sebelum memastikan sendiri. Aku tidak tahu. Makanya itu, penting bagi Hinata untuk membuat tembok penghalang.."
"Kau ingin bilang, waktumu habis sebelum mereka lahir?"
Sasuke tersenyum kecut, "Begitulah.."
Gaara dan Sasuke terdiam, meresapi keheningan yang tiba-tiba menguar di udara. Perasaan asing saling berkecamuk. Ini terdengar aneh dan membingungkan. Apakah ini menjadi badai?
[g-project]
.
for the things I had miss,
.
.
Sasuke memandang rumah berjendela besar di hadapannya. Ia menyunggingkan senyum hangat. Tatapannya melembut seolah hidupnya berada di sana. Ia merasakan sesak di dadanya, namun ia hanya ingin, melihat masa depan yang dating dan tak pernah ia nikmati. Untuk hal itu, ia mencoba menyimpannya dalam ingatannya yang pendek.
Rumah itu terlihat sederhana untuk sekelas Profesor Hinata dan Profesor Sabaku no Gaara. Bangunannya didominasi oleh warna putih yang terlihat terang, tipikal Hinata. Rumah itu tampak hidup dengan taman kecil dan sebiuah kolam koi yang terlihat indah di pandang. Tanaman perdu yang seolah ada di sana memang dikhususkan memanjakan mata siapapun. Sangat Gaara, terkesan hidup dan penuh kedamaian. Dan dia bangga, pernah menyerahkan Hinata pada Gaara.
Sebuah mobil, berwarna putih memasuki halaman keluarga kecil Sabaku. Seorang wanita yang ia rindukan, wanita yang membutnya terus bertahan hidup sedang berjalan keluar dari mobil. Disusul oleh anak lelaki yang mengingatkannya pada masa kecilnya.
"A'chan.." sayup Sasuke dapat mendengar suara Hinata untuk memanggil anak yang serupa wajahnya.
Dahi Sasuke berkerut, anaknya bernama A'chan?
Sang anak sedang terlihat mengomel pada kursi belakang, lalu terlihat bocah lain yang mengingatkannya pada seseorang. Muka malas dan inosen itu membuatnya mendecih,
"Tch! Nara, eh—" gumamnya.
Ketiganya masuk dalam rumah. Yang membuat Sasuke terpaksa menyelinap untuk memastikan sesuatu. Sesutu yang terasa menganjal di hatinya.
Pertanyaan seperti, apakah setelah aku pergi Hinata bisa bahagia?
Atau, bagaimana cara anaknya tumbuh?
Apakah mereka bisa menjalani hidup dengan baik?
Apakah mereka sehat?
Pertanyaan kecil, yang baginya berarti.
Di sini, di jendela besar yang berlawanan dengan tatapan keluarga kecil itu ia mengetahui. Jika anaknya bernama Arashi, saudaranya yang berwajah malas bernama Kiseki, dan seorang anak berambut merah? Ini diluar prediksinya? Apakah..
Ia tersenyum penuh arti, rupanya dugaanya benar. Instingnya tidak salah. Hinata akan punya seorang anak yang lain dari Gaara. Seorang anak lelaki yang selau terlihat tulus dan penuh kasih sayang. Keita, sebuah nama yang berarti hutan. Sasuke menghembuskan nafas. Rasa sakit itu tidak begitu terasa ketika ia meminum obat dari Itachi. Yang obat pembunuh rasa sakit itu bekerja maksimal, namun.. apa yang di gariskan oleh Tuhan, tak bisa dilawan kan?
Sasuke Mirai membuka kancing bajunya. Lebam yang tadinya berupa titik-titik didadanya telah menyebar dengan cepat. Kini seluruh pembuluh darahnya berwarna kebiruan. Dadanya yang dulunya putih kini telah berubah warna menjadi ungu tua. Kulit jaringannya telah mati.
Ia mendesah, setidaknya ia tahu, selepas ia pergi nanti, ia bisa melihat kebahagiaan hadir..
Lalu Sasuke berjalan pelan menjauhi kediaman Sabaku. Senyuman hangat mampir di wajahnya yang selalu terlihat dingin. Ia bahagia, ada impian yang terkabul.
'Hinata bahagia'.
Itulah impiannya.
[g-project]
.
Tepat saat bunyi pistol yang memekakkan telinga, Sasuke terdampar lagi di ruangan Itachi. Tubuhnya limbung ketika mendarat di dunia ini lagi. Ia tahu, tenaganya kian menipis, menyisakan kelelahan yang mungkin akan bertahan lama.
Ketika ia membuaka pintu, ia justru diberondong dengan laser dari senapan yang disandang oleh para pasukan dari Garda nasional. Membuatnya terpaksa angkat tangan dan mengulang lagi sejarah pelariannya. Buronan, tetap saja buronan.
"Tch! Sial," dengusnya.
Namun suara ruangan di sampingnya merebut atensi para serdadu. Karena justru pria dengan jas putih yang terpercik darahlah yang keluar. Bukan wanita berambut emas, si kapten.
"Apa kabar, Mirai?"
Sasuke menyeringai. Dengan tenang justru menuju ke arah, si kepala nanas.
Si kepala nanas, membalas senyuman kaku Sasuke. Lalu mengulurkan kotak stenlis itu. Ia kemudian mendekati telinga si raven.
"Dua tahun lagi, temui aku di sana. Akan kubereskan yang di sini."
"Hn."
…
..
.
Setelah itu yang terlihat hanya para serdadu yang membeku, dan Sasuke melenggang dengan mudahnya. Namun begitu, perjuangan menuju ke luar dari ruangan ini ke pintu darurat tidaklah mudah. Apalagi dengan tenaga yang terkuras.
Ia bahkan beberapa kali hilang keseimbangan. Namun otaknya masih bekerja saat satu-persatu serdadu membunyikan petasan kematian pada diri mereka sendiri. Shikamaru, memang sungguh tidak main-main dalam mengurus bagiannya.
DOR!
DOR! DOR!
…
..
.
Sasuke berguling di lantai. Tubuhnya serasa remuk. Di mata kanannya telah mengeluarkan cairan merah yang kental. Sial! Racun itu lebih cepat menggerogoti hidupnya. Ia terbatuk, darah segar terciprat di tangannya, dan dadanya terasa nyeri yang sangat.
Ia tersengal, matanya berkunang-kunang.
"Jangan sekarang!" gerammnya. Ia berjalan terseok, menuju pintu darurat.
Ia tidak ingin mati sekarang. Tidak saat semuanya terasa begitu dekat. Tidak ketika masa depan yang ia perjuangkan akan menjadi kenyataan sebentar lagi. Ia marah, marah terhadap dirinya yang lemah. Dirinya yang bodoh, dirinya yang hanya manusia cloning. Ia adalah hal yang paling tidak abadi di sini.
Izanagi. Ia pernah membaca istilah itu di laboratorium New Tokyo distrik Andromaeda tahun 2401, tahun di mana ia mendapatkan transplantasi mata 'sang penyelamat' si Uchiha Sasuke yang asli. Izanagi adalah kemampuan mata geometrinya untuk mengubah masa depan. Tapi dengan itu ia mengorbankan matanya untuk teracuni menjadikan mata itu membusuk. Ia talah menggunakan izanagi. Ia telah mengubah masa depan yang sesuai harapannya. Masa depan yang terasa sempurna di matanya. Masa depan dengan Hinatanya. Di mana ada Hinata dan anaknya tumbuh bahagia. Melihat mereka bahagia. Sesederhana itu.
Ia menarik nafas. Menggugah semangatnya lagi dengan segala kenangan Hinata dan Arashi yang berkeliaran di kepalanya. Senyumnya merekah, jika ini adalah waktunya. Ia akan mati dengan cara yang dipilihnya sendiri.
Dengan mata sebelah yang masih bisa dipergunakan, ia justru mengaktifkan mata geometrinya sekali lagi. Melompati waktu dan bertemu dengan si 'ayah' di masa depan.
[G-Project]
.
Shikaru duduk di sana, menatap pintu seolah tahu, Sasuke Mirai akan datang. Ketika lelaki Uchiha itu datang dengan tubuh gontai setengah sekarat, dan mata sebelah yang terpejam dan mengelurkan darah.
"Aku sudah datang." Ucap Sasuke getir.
Shika tersenyum, "Aku tahu kau akan berakhir seperti ini.." Shika bangkit dari kursinya untuk mendekati tubuh Sasuke Mirai.
"Aku hebat kan," ujar Sasuke memamerkan seringai pahit yang terasa menyedihkan.
"Selalu." ucap Shika sambil membantu pria itu untuk duduk.
Mereka di telan keheningan yang menyedihkan.
"Bagaimana cara aku mati?" tiba-tiba saja Sasuke ingin tahu.
"Kau akan mati dipelukan sang Hawa."
"Cara yang indah untuk mati, kan?" Mirai justru terkekeh,
Shika tersenyum. "Tentu."
"Dia akan tumbuh dengan baik. Aku sudah melihatnya." Perasaan sedih kemudian hadir kembali. Mengoyak jantungnya. Mengingat semuanya hanya membuatnya seolah mati berkali-kali.
Shika menepuk bahu Mirai. Orang yang dulu ia benci setengah mati. "Terimakasih." Bisiknya.
"Tcih! Aku harus segera pergi sebelum semua kekuatanku lenyap."
"Pergilah. Kami berhutang padamu,"
Sasuke Mirai berdiri, lalu dengan gontai menarik hendel pintu. Ia menghilang bersama pintu yang tertutup dan kilatan cahaya merah.
Di sana, Shikamaru terpekur. Sebutir air mata lolos dari pelupuknya.
"Dunia berhutang padamu, Sasuke—"
[g-project]
BRUK!
Tubuh Sasuke menghatam lantai. Menimbulkan bunyi nyaring yang terasa menyakitkan. Ia tak pernah bermimpi menjadi selemah ini. Tapi waktu memang lebih kejam dari siapapun. Waktu merenggut kehidupan dan kekuatan seseorang. Begitu mudah dan begitu alami. Kali ini ia tak lagi punya tenaga untuk bangkit. Bahkan untuk mengulas senyum pahit yang getir. Rasanya wajahnya sudah kebas dan mati rasa.
Kepalanya berdenyut-denyut serasa mau pecah. Membuatnya merasakan nyeri yang sangat. Perlahan pandangan matanyapun mulai mengabur. Kepalanya menghantam lantai dan darah mengalir perlahan. Sial! Kepalanya tak berhenti mengeluarkan darah!
Seluruh tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan, efek penggunaan sharingan yang berlebihan. Ia hanya di sana, tertelungkup sambil menikmati sakitnya tubuh yang remuk. Dan darah yang menggenang. Kenapa ia tidak langsung mati saja angar tak merasakan sakit?
Ia tahu mungkin beberapa tulangnya telah remuk dan beberapa organ tubuhnya mungkin sudah membusuk. Beberapa saat lagi pasti nyawanya bakal melayang. Tinggal menunggu waktu sang pencabut nyawa datang menghampiri.
Ia tertawa dalam hati. Beginikah akhirnya?
Ia mati di sini, tanpa menyaksikan pertunjukan spektakulernya. Ckck.. sungguh menyebalkan. Hei, tubuh. Bergeraklah! Aku tidak ingin melewatkan acara utamanya!
Dan hasilnya adalah nol. Ia tak bergerak barang sesenti pun!
.
Ia tersenyum untuk dirinya sendiri, meski wajahnya sakit bukan main. Bukankah ini hebat?! Ia menyelamatkan dunia, dan menyelamatkan harga dirinya sendiri. Tapi takdir dengan kejam mengirimnya ke akhirat sengan cepat.
Tapi bukankah itu sebanding.
"For the precious one.." ya, untuk satu hal yang berharga. Bernama kehidupan.. yang bahkan nanti tidak pernah dinikmati olehnya sendiri.
Ia mengantuk. Mungkin jikalau ia tidur, malaikat itu akan segera datang menjemputnya dan ia tak akan merasakan sakit lagi. Misalnya membuat dia seakan melayang di udara. Melayang eh-?
.
Ia merasa tubuhnya meringan. Ia serasa melayang. Dan ia tahu, kalau ia masih terlalu sadar untuk sebuah ilusi bagaimana ia akan mati. Dengan separuh kesadaran ia serasa bangkit, tapi ia tahu itu bukanlah suatu keajaiban. Sebab, di ujung pandangannya yang kabur akibat rembesan darah dari kepalanya, seseorang dengan overcoat dari kulit berwarna coklat tua, tengah berdiri tegak dengan tangan yang terulur padanya. Berada di kejauh dan mengendalikan sesuatu yang rapuh namun mampu menjadi solid. Si sialan berambut merah itu menjelma menjadi siluman pasir pencabut nyawa rupanya.
Sasuke menyunggingkan seringai angkuhnya. Sementara di ujung sana Gaara, dengan mata yang menyiratkan amarah datang membawa segala emosi. Membawa badai yang siap melibas apapun.
"Kau terlambat, baka." Gumam Sasuke lirih, yang bahkan mungkin tak terdengar dari kejauhan di mana Gaara berdiri.
Tapi ia yakin pemuda itu bisa merasakan kesedihannya.
"Baiklah Uchiha, apa kau pernah menjadi storm rider?"
"Pengendara Badai?! Tch! Keren sekali bahasamu, untuk seorang yang hanya tahu soal prasejarah.."
.
.
"Apa kau baik-baik saja Uchiha.." suara Gaara terdengar begitu dekat.
"Jangan sentuh!" Sasuke meperingatkan. "Jika tubuhmu menyentuhku maka kau akan terkontaminasi. Apocalypse akan meracuni darahmu. Akan mucul parasit berbentuk logam. Ketika terjangkit, kesempatan hidupmu hanya tiga puluh enam jam. Kau akan berkarat. Dan tubuhnmu takkan ubahnya sebuah rongsokan tua.."
Pergerakan Gaara tidak terdengar lagi. Ia tahu kalau lelaki yang menjadi tunangan Hinata itu masih berada dekat dengannya. Ia bisa merasakan aura hangat yang menguasai udara, meski suara bising karena pasir yang berputar dan mengakibatkan pusaran badai yang terus menerjang.
"Aku tidak perlu menyentuhmu untuk membawamu pergi Uchiha.."
Sasuke justru terkekeh di saat sekaratnya.
"Berapa lama kau sanggup bertahan sebelum kau menemukan penawar untuk penyakitmu itu?"
"Tidak ada yang lolos dari penyakit ini Sabaku.."
"Omong kosong!" suara Gaara bergetar.
"Tolong. Jangan biarkan dirimu mati di sini. Jangan.." suara Gaara serak, "jangan biarkan kau mati dan aku HARUS menyimpan penyesalan karena melihat Hinata menderita!" jeritnya.
"Kau hanya perlu mengantarkan aku pada Hinata. Sebab, seluruh kopor stenlis yang dibawa Itachi dan Hinata bukanlah berisi embrio."
Dahi Gaara berkerut, lalu ia terkekeh juga. "Sial. Kita bahkan dikelabui."
Sasuke ikut tertawa. Plan B.
"Itachi hanya membawa kopor stenlis berisi uang. Dan ketika Danzo memburunya, maka kita akan membalikan keadaan dengan menuduh Danzo menginginkan kekuasaan. Hinata membawa serum untuk menetralisir rasa sakitku. Dan embrio aslinya telah aman berada di masa depan."
"Dan ketika Neji menghancurkan tabung yang dibawa Hinata. Sesungguhnya ia telah menyebarkan serum itu ke udara.."
"Baiklah Uchiha, apa kau pernah menjadi storm rider?"
"Pengendara Badai?! Tch! Keren sekali bahasamu, untuk seorang yang hanya tahu soal prasejarah.."
"Nah, kau cukup fokus dan bernafaslah dengan teratur.."
.
.
Hinata melihat tubuh Sasuke yang perlahan ambruk. Dengan cekatan segera menopangnya.
"Lepaskanlah. Kau akan tertular nantinya!" ujar Sasuke geram.
"Tidak!" ujar Hinata mantap. "Aku sama sepertimu, datang dari masa depan. Aku takkan bisa terjangkit appocalipse."
Sasuke tersenyum, meski perlahan tubuhnya mengejang. Rasa sakit menjalar perlahan. Pengaruh serum itu telah memudar. Hingga Sasuke jauh lebih merasakan sakit saat pengaruhnya menghilang. Sasuke kemudian mengatupkan giginya, rasa sakit menerjangnya. Membuat perutnya bergolak dan memuntahkan lagi cairan merah.
"Sasuke!" panggil Hinata.
Pria Uchiha itu berusaha menggerakkan bibirnya. Ia tahu saat itu telah tiba. "Menikahlah dengan Gaara. Aku tahu, hanya dia yang mampu membahagiakanmu.."
"Apa yang kau bicarakan?!" air mata Hinata menetes. "Aku hanya mencintaimu. Dan akan selalu begitu. Jadi tak bisakah kau berada di sisiku?!" Suara Hinata meninggi, ada nada tegas dan putus asa.
Sasuke meringis, menahan sakit di dadanya. Rasa sesak mencekiknya, sesak membayangkan kehilangan Hinata untuk yang kedua kalinya lebih menyakitkan dari paru-parunya yang mungkin telah mengalami mati jaringan.
Sasuke mengerang, tubuhnya membiru. Hinata memeluknya, menangis untuknya.
"Jangan pergi," lirih Hinata lagi, ini adalah sebuah permohonan.
Sasuke Mirai tersenyum, namun darah kental meleleh di sudut bibirnya.
"Sasuke-kun, kumohon.."
Sasuke Mirai mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Hinata yang justru kian deras.
"Sayang.." ujar lelaki Uchiha itu lirih. "Aku rupanya harus mengakui padamu,"
Hinata diam dan membiarkan butiran air matanya tetap lolos.
"Aku Sasuke prototype one, seorang penjahat peradapan di tahun 2401. Menginginkan sebuah kebebasan dan berlayar ke masamu. Karena aku adalah seorang humanoid bukan takdirku untuk hidup melebihi manusia. Bukan takdirku mencintai dan dicintai manusia.."
Hinata menggeleng, pelukannnya justru mengerat. Jangan pergi!
"Tapi aku telah melewati batasanku sendiri. Kau akan mewarisi segala hal yang perlu diajarkan pada keturunan Uchiha. Kau akan melahirkan Arashi, putraku, Kiseki putra Shikamaru dan.." Sasuke menelan kegetiran dan dingin yang tiba-tiba merambat, ia merasa sangat lelah dan mengantuk, "Keita putra Gaara.."
Hinata tak mampu menahan rasa terkejut yang menguasai hatinya, akan tetapi perasaan takut datang merajai hatinya. Membutakan fokusnya dan hanya atensi yang tertuju pada kekasih hatinya yang mampu ia pertahankan.
"Shika adalah ayah, Gaara adalah pelindung.."
Perlahan mata Sasuke tertutup, menimbulkan pekikan , "Bertahanlah! Jangan pergi.. kumohon, Hiks..hiks.. kau sudah janji padaku.."
Sasuke berusaha membuka mata, "Dan aku adalah seorang kekasih.." ujarnya lirih seperti bisikan.
Hinata terkesiap, matanya mencari kehidupan diantara mata cemerlang milik Sasuke. Mata hitam kelam milik Sasuke berkedip, sudut bibirnya basah. Bersamaan dengan sebutir air mata yang jatuh, nafas terakhir Sasuke dihembuskan. Begitu tenang.. dan tanpa penyesalan..
Dan Hinata tahu, air mata takkan pernah cukup untuk mencintai Sasuke Mirai. Karena bersamaan dengan perginya Sasuke. Maka hatinya ikut bersamanya.
..
Di ujung sana, Gaara yang membawa Shikamaru meneteskan air mata. Sengaja tak mengintrupsi waktu singkat yang dimiliki Hinata da Sasuke. Karena ia tahu diri, karena setelah ini ia akan punya banyak waktu untuk Hinata. Waktu yang bahkan ingin dimiliki oleh Sasuke.
Hinata the Eve juga berakhir..
Karena ada babak baru, dimana hanya ada Sabaku no Hinata..
-THE END-
