Gereja Putih adalah salah satu gereja yang berada di kota Gwangju, kota kelahiran Jung Yunho. Dan di gereja itu pula, namja yang kini memiliki ribuan penggemar itu akan mengucap janji dengan sang pendamping hidupnya. Suasana di gereja itu cukup sepi karena memang keluarga Jung dan pihak management tidak memberitahukan rencana ini pada media. Mereka hanya ingin acara sacral ini berlangsung tenang dan tanpa gangguan dari pihak luar.
Sejak pukul tujuh pagi, pihak keluarga dan beberapa pengurus acara sudah bersiap-siap di lokasi. Mulai dari kebersihan gereja sampai sekedar mengecek makanan catering untuk pesta pada malam harinya. Satu jam sebelum acara, para tamu undangan mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah teman dekat mempelai atau sanak saudara. Terlihat pula Shim Changmin dan ketiga Hyung-nya yang dulu pernah bernaung di agensi yang sama dengannya. Ya, Jaejoong, Yoochun, dan Junsu diundang di acara itu. Mereka memang sudah berbaikan sejak awal dan pihak agensi memperbolehkan asal tidak boleh sampai tercium public.
Tepat lima menit menjelang pengucapan janji, para undangan memenuhi kursi di gereja itu. Sang mempelai pria telah datang sepuluh menit yang lalu dan sudah siap di depan sang pastur. Lonceng berbunyi tapat waktu dan menandakan bahwa sang mempelai wanita akan masuk ke gereja.
Yeoja itu tampak anggun dengan gaun putih yang melilit tubuhnya. Membingkai kulit putihnya yang tampak bersinar. Tudung yang menutupi wajahnya seolah menjadi benteng untuk melindungi apa yang seharusnya menjadi milik mempelai pria. Yeoja itu memang tidak terlalu tinggi dan cantik tapi aura keanggunananya sangat terasa di dalam ruangan itu.
Kini, ia sudah berdiri di depan podium dan hanya menunggu waktu memulai rencana. Rencana yang akan membuatnya merasa senang sekaligus banggu pada dirinya sendiri. Saat kedua mempelai itu menyatukan jemarinya dan mendengar kata-kata pembukaan dari sang pastur, suasana sangat khidmat. Dan kala pengucapan janji itu berlangsung, maka babak baru akan dimulai.
"Bersediakah kau, Jung Yunho, menerima Cho Hyena sebagai istrimu dan akan setia padanya dikala sehat dan sakit, kaya dan miskin, hingga ajal memisahkan kalian?"
"Saya bersedia."
"Dan bersediakah kau, Cho Hyena, menerima Jung Yunho sebagai suamimu dan akan setia padanya dikala sehat dan sakit, kaya dan miskin, hingga ajal memisahkan kalian?"
"Saya bersedia."
Between You and Him
-Chang Min Sa-
2013
YunJae and YunJae shipper
++CHAPTER 2++
(Author POV)
22.50
BRUK!
Suara hempasan tubuh yang kasar itu menadi bunyi pertama yang didengar namja tampan bermarga Jung itu. Ia baru saja menyelesaikan serangkaian acara pesta pernikahannya yang cukup melelahkan. Yunho melirik 'istri'-nya yang kini tengah bergelung nyaman di atas kasur, masih menggunakan gaun putihnya yang sebatas lutut.
"Kau tidak mandi?" tanya Yunho membuka percakapan. Ya, setidaknya setelah mengetahui rentetan rencana ─busuk─ sang istri, Yunho memutuskan untuk mencoba akrab dengan yeoja itu. Setidaknya ia menyadari satu hal bahwa yeoja itu tidak akan mengganggu hubungannya dengan sang kekasih, Jaejoong.
Sambil bergelung ke kanan ke kiri, Hyena menjawab dengan suara parau. "Ya, nanti. Setelah Oppa menyelesaikan mandi satu decade." Sepertinya yeoja itu sangat lelah. Buktinya ia tidak menatap sang lawan bicara dan malah asyik berciuman dengan bantal.
Yunho tersenyum kecil melihat yeoja muda itu. Bagaimana pun, Hyena masih perlu waktu untuk bermain di masa-masa mudanya.
Namja bermata musang itu memutuskan untuk cepat mandi. Badannya sudah sangat lengket dan lagi, ia ada janji dengan Jaejoong malam ini untuk tidur dengan kekasihnya itu. Jaejoong merasa tidak dapat membayangkan bagaimana namja tampannya itu akan melewati malam pertama dengan sang istri walaupun Hyena sudah mewanti-wanti bahwa ia tidak akan melalukan apapun pada beruang madu itu.
Bersyukurnya lagi, Hyena punya seribu satu cara untuk membebaskan Yunho dari pengawasan orangtua mereka ─jika ada.
Tiga puluh menit kemudian, Yunho keluar dari kamar mandi dan langsung disuguhi pemandangan tak sedap di atas tempat tidur. Hyena tidur dengan posisi yang serba salah, kaki di kepala ranjang dan kepalanya yang berada di sisi lainnya.
"Huh? Apa iya dia itu yeoja?" gerutunya pelan.
"Apa maksudmu?" pertanyaan singkat itu membuat Yunho terkejut. Dikiranya yeoja itu sudah tertidur. "Aku belum tidur. Aku hanya ingin menyembuhkan kakiku yang capek." Jelas Hyena sambil menatap Yunho yang hanya memakai celana panjang di ambang pintu kamar mandi.
Beruntung yeoja itu bukanlah fans yang mudah heboh karena melihat idolanya topless. Mungkin yeoja itu sudah kebal pada pemandangan seperti itu.
Yunho mulai beranjak dari tempatnya. Membuka lemari dan mengambil kemeja untuk outfit-nya sentuhan terakhir adalah dengan kacamata dan jaket hitam.
"Oppa akan pergi sekarang?" pertanyaan Hyena berhasil menghentikan aktiftas Yunho yang sedang menyempurnakan penyamarannya, meski hanya sebentar.
"Memangnya kenapa? Kau merindukanku? Kau menyesal menikah denganku?" tanya Yunho dingin. Setngah bercanda.
"Ish! Yang benar saja." Hyena mengubah posisinya menjadi duduk. Ditatapnya sang 'suami' tengah membenahi kacamatanya. "Aku hanya ingin menitipkan sesuatu."
"Eh? Menitipkan apa maksudmu?" tanya Yunho sambil menatap Hyena.
Bukannya menjawab, yeoja duapuluh tahun itu beranjak dari duduknya. Mengambil sebuah kotak kado berwarna merah yang dihias pita. Hyena mendekati Yunho dan menyerahkan benda itu.
"Apa ini?"
"Kado untuk Jaejoong Oppa." Jawabnya sambil tersenyum.
"Apa isinya?" Yunho membolak-balik ─bahkan mengocok─ kotak itu untuk sekedar menebak isinya. "Jangan bilang ini bom!"
Air muka Hyena berubah suram. Dipukulnya bahu Yunho dengan keras "Yah! Kau pikir aku teroris? Aku hanya ingin memberikan hadiah untuk Umma karena sudah bersedia menyetujui rencana ini."
Alis Yunho menyatu bingung, "Umma?"
Hyena tersenyum setan, "Nde. Umma… Jaejoong umma dan Yunho appa." Katanya sambil menyeringai, "Kau lupa kalau aku ini pendukung kalian, YunJae shipper, huh?"
Yunho tersentak. Dibalikkannya tubuh tegap itu lalu beranjak menuju pintu, "Ya, ya, ya… Aku akan pergi sekarang."
"Nde. Jangan lupa salamku untuk Umma dan YunJae is Real, ok?"
BRAK!
Pintu tertutup dengan kasar setelah yeoja itu menyelesaikan kaliamatnya. Hyena menghembuskan nafas pelan lalu pindah ke tempat tidur. Yeoja yang berstatus menantu keluarga Jung itu membaringkan tubuhnya di sana dan bersiap istirahat.
Nuga mwora haedo You're my crazy love
Michyeottadago haedo Just can't get enough
Ireon naui mareul geudaen arujugettjo
Baby my heart beats for you
Dering ponsel yang nyaring adalah hal pertama yang didengar yeoja itu kala kesadaran mulai menyapanya. Dirabanya meja di sebelahnya untuk mengambil ponsel ─yang seingatnya─ ia letakkan di atas meja. Tak berapa lama ia mendapatkan benda canggih itu dan menjawab panggilan itu meski indra penglihatannya masih tertutup rapat.
"Yeoboseo…"
"Yeoboseo, Chagi…"
"Nde? Nuguseo?"
"Ah, baru semalam kau tidak bertemu Umma kau sudah lupa. Apa kalian bermain sampai pagi eoh? Kenapa suaramu serak begitu, hihihi…"
Hyena yang mendapati ada yang aneh dari penelponnya segera membuka mata dan melihat nama pemanggilnya. Di layarnya tertera 'Umma Jung'. Segera didudukkannya tubuh yang masih lelah itu sambil sesekali mengucek matanya pelan.
"Nde, Umma… jeosonghamnida… Hyena baru bangun tidur."
"Hehehe… araaseo… pasti semalam capek sekali, hm?"
"Nde." Hyena menjawab dengan lemas. Memang pesta pernikahannya kemarin sangat menguras tenaga dan ia perlu waktu yang lama untuk memulihkan keadaannya.
"Hehehehe… apakah kalian benar-benar bermain sampai pagi?"
"Nde?" Alis Hyena menyatu bingung. Sepertinya ada yang salah paham di sini dan yeoja itu masih terus berpikir mengenai di mana letak kesalahpahaman itu.
"Ah, tidak perlu malu begitu. Umma tahu, pasti sulit menghadapi beruang yang sedang mengamuk."
Hyena memberanikan diri untuk bertanya, "Jeosonghamnida, tapi sebenarnya Hyena tidak mengerti maksud Umma."
"Hahaha… sudahlah Umma yakin mukamu pasti sudah seperti kepiting rebus."
'Memangnya ada apa?' batin Hyena masih bingung. Rupanya, roh yeoja manis itu masih menempel di langit-langit.
"Geurae, Umma hanya ingin mengajak kalian berdua untuk sarapan bersama. Karena siang ini Umma dan Appa akan kembali ke Incheon karena kerabat kami ada yang baru melahirkan. Kami akan menjenguknya." Tutur sang mertua dari line seberang, "Umm, apakah Yunho belum bangun? Umma tidak mendengar suaranya."
"Yunho Oppa, emm, Oppa…" Hyena celingak-celinguk ke seluruh sudut kamar. Ia tidak menemukan 'suami'-nya karena semalam….
'Astaga!' Hyena mengerti sekarang. Apa maksud 'capek' dan 'bermain' dalam kamus mertuanya. Ia juga baru sadar bahwa 'suami'-nya itu belum kembali karena akan sulit rasanya berpisah dengan sang kekasih cantiknya.
"Hyena-ah?"
"Ah, ye, Umma."
"Kamu masih di sana, Chagi? Tidak perlu membangunkan Yunho kalau memang dia masih tidur. Gurae, sampai bertemu di ruang makan. Anyyeong, Chagi."
"Annyeong, Umma."
Pip!
Hyena menghembuskan nafasnya panjang. Diletakkannya ponsel berwarna merahnya sambil otaknya berpikir, 'bagaimana cara membawa Yunho Oppa masuk ke hotel?' Mengingat namja bermata musang itu pasti akan datang terlambat di acara sarapan paginya bersama keluarga.
Selang sepuluh menit kemudian, Hyena mengambil ponselnya dan menekan angka lima cukup lama. Menempelkan ponselnya ke telinga dan menunggu jawaban dari seberang.
(YunJae Side)
Neon nae-mal deuro hae shigineun daero hae keobwah jal majjanha
Ttannamjawahn sarang-hajima shilmang-hal-keoya, Baby
Oneuldo jeongwanhae narang tto saranghae neodo wonhajanha
Uri yaegin bimillohaejwo neoye namjae-ge
Kedua namja itu menggeliat pelan. Sang namja berparas cantik itu mengeratkan pelukannya pada sang kekasih. Sedang sang namja tampan tengah berusaha menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dielusnya pelan surai hitam namja yang tengah memeluknya itu lalu mengecup puncak kepalanya. Tubuhnya masih terasa pegal, mungkin karena semalam ia 'overdosis'.
Tak ingin membuat sang penelpon marah, diambilnya ponsel putih miliknya lalu melihat nama penelpon. Detik selanjutnya, namja bermarga Jung itu mengeluarkan suara seraknya.
"Yeoboseo."
"…."
Tak ada jawaban dari seberang membuatnya sedikit khawatir. "Hyena-ah?"
"YAH! APA KALIAN BERDUA BERMAIN KASAR SAMPAI PAGI, EOH?" teriak suara dari seberang yang berhasil mengusik sang namja berkulit putih yang masih tidur.
Yunho yang sempat menyelamatkan telinganya segera balas menggertak penelponnya. "Bisa kau pelankan suaramu? Jiji sedang tidur."
"Maksudmu gajah tidak suci itu?"
Yunho memijat pelipisnya. Sepertinya akan panjang jika harus meladeni yeoja labil itu. "Gurae, sekarang katakan saja padaku. Ada apa kau menelponku?"
"Ah, ye. Kau benar. Tadi Umma-mu menelpon. Dia mengajak kita sarapan bersama."
"Mwo?"
"Tidak perlu syok begitu. Aku sudah memikirkan bagaimana caranya membawamu masuk tanpa menimbulkan kecurigaan bagi keluargamu."
"Kau ajaib." Yunho melirik sang kekasih yang sudah setengah sadar. "Mendapat masalah, mengatakan masalah, dan langsung mengutarakan solusinya. Kau itu titisan Changmin ya?"
"Oh, menurutmu begitu. Yah, kuharap memang begitu."
Hening beberapa saat karena entah mereka tengah memikirkan apa. Hingga Yunho kembali berucap, "Jadi…"
"Jadi, begini caranya…"
Suasana ruang makan hotel yang ditempati pasangan pengantin baru itu tampak ramai. Hyena kini sudah duduk bersama sang mertua dan tinggal menunggu sang namja tampan bermarga Jung.
"Hyena, sebenarnya Yunho ke mana?"
Hyena menggeleng pelan sambil menatap cemas ke arah pintu masuk, "Aku tidak tahu, Umma. Semalam kami masih bersama. Tapi tadi pagi-pagi sekali, Yunho Oppa sudah tidak ada di kamar."
Pasangan paruh baya itu saling menatap sendu. Sang istri berspekulasi pelan hingga hamper tak mampu didengar Hyena, "Apa mungkin Yunho sedang bersama…"
"Itu Yunho Oppa!" pekik Hyena senang sambil menunjuk pintu masuk. Sontak pasangan Jung itu menghentikan acara spekulasinya dan menatap anak pertamanya yang tengah tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Jeosonghamnida, aku terlambat, Umma, Appa." Yunho membungkuk sopan pada orangtuanya lalu beralih menatap sang istri, "Hyena, ini untukmu." Katanya sambil memberikan lima tangkai mawar putih yang tertata rapi.
Yeoja muda itu hanya mampu terdiam sambil meraih bunga favoritnya itu. "G-gumawo, Oppa."
"Nde. Apapun untukmu." Yunho mengacak rambut Hyena pelan ─yang dibalas cebilan manja dari yeoja itu─ lalu segera duduk di sebelah Hyena. "Kalian sudah memesan makanan?"
Hyena menjawab riang, "Sudah. Aku sudah memesankan bibimbab untuk Oppa dan aku tidak tahu Oppa akan suka atau tidak."
Yunho menatap Hyena dengan lembut lalu meraih tangan yeoja itu, "Gurae, apapun darimu, aku akan memakannya."
Hyena tersipu malu. Yeoja itu menggunakan bunga yang dibawanya untuk menutupi rona yang menutupi pipinya.
Sedangkan pasangan Jung paruh baya itu hanya bisa tertegun melihat pemandangan di depannya. Sungguh, mereka tidak menyangka bahwa Yunho yang awalnya tidak mau dijodohkan kini tiba-tiba sudah akrab dengan sang istri.
"Umm, dari mana saja kamu, Yunho-ah?" selidik Umma Jung hati-hati, "Hyena bilang, pagi-pagi sekali kau sudah tidak di kamar."
Yunho menatap yeoja yang pernah melahirkannya itu dengan tatapan lembut, "Nde. Pagi-pagi sekali aku sudah keluar untuk jogging."
"Kenapa tidak mengajak Hyena? Aw!" Umma Jung melotot pada suaminya yang ternyata baru saja menginjak kakinya.
"Menantu kita pasti lelah karena aktifitas semalam mereka." Bisik Appa Jung yang masih terdengar oleh Hyena dan Yunho.
Umma Jung tersenyum senang. "Nde. Kau benar, Yeobo." Yeoja baruh baya itu kembali menatap pengantin baru di depannya. "Apakah tempat ini menyenangkan?"
"Nde, Umma. Sayang sekali aku belum sempat jalan-jalan di sekitar sini." Hyena tiba-tiba berubah muram, "Padahal aku masih ingin pergi ke Gwangju Street atau ke Mudeungsan Provincial Park."
Umma Jung tersenyum, "Kau tetap bisa menikmatinya sayang."
"Jinjja?"
Umma Jung tersenyum ramah. "Kalian tinggallah di sini lebih lama. Nikmati saja tempat-tempat di sini. Kalau sudah puas, kalian bisa ke pulang ke rumah."
Dan, ucapan dari Umma Jung itu berhasil membuat Hyena dan Yunho saling menatap penuh arti.
'Mission Complete!'
Gwangju Street, tempat di mana para musisi akan berkumpul dan beratraksi di sepanjang jalan. Melihat perform salah satu pemuda di depan sebuah kedai bibimbab membuat Hyena merasa sesak. Ia ingin melihat kelima namja yang mengikutinya itu menari dan menyanyi bersama, meski hanya sebentar dan tidak disorot kamera.
Hyena menghentikan langkahnya di depan sebuah air mancur di tengah kawasan itu dan berkata dengan tegas, "Aku ingin melihat kalian perform di sini!"
TBC
Merasa kepanjangan?
Oke, maaf. Aku tidak bisa memotongnya di tengah karena memang rencananya chapter ini sampai bagian terakhir di atas. Tapi yah, semoga saja bagian akhir tadi tidak membuat readerdeul sedih atau apalah. Namanya juga imajinasi, kan sah-sah saja…
Last word, review please….
