Gwangju Street adalah salah satu tempat yang disukai wisatawan yang berkunjung ke Gwangju. Bukan hanya karena di kanan kiri jalanan itu berjajar para pedagang tetapi juga karena tempat itu merupakan tempat khusus para seniman muda menunjukkan kebolehannya. Anggap saja jika kalian berkunjung ke Yogyakarta, maka kalian akan mendapatkan pemandangan yang sama di daerah Malioboro.
Seperti sekarang ini, Hyena dan kelima teman tampannya tengah menikmati pertunjukkan di depan sebuah toko bibimbab. Yah, memang menarik perhatian pembeli dengan menunjukkan keahlian seni tidak masalah kan?
Seorang namja yang tak lebih tinggi dari Junsu itu tengah melakukan tarian sederhana milik salah satu boyband yang baru debut di Korea ─yang author sendiri tidak tahu apa namanya─ saat ini. Hyena hanya terdiam mengamati gerakan namja itu yang tampak membosankan baginya. Tentu saja meski didukung suara music dari music player, tetap saja yeoja itu merasa bosan.
Saat pertunjukkan mulai habis dan para penikmat yang tadi berdiri mengelilingi pemuda itu memasuki kedai bibimbab di belakangnya, Hyena memilih meninggalkan tempat itu. Niat awalnya untuk makan di tempat itu lenyap seketika.
Between You and Him
-Chang Min Sa-
2013
YunJae and YunJae shipper
++CHAPTER 3++
"Yah! Hyena-ah, kenapa pergi? Bukankah kita akan makan di kedai itu tadi?" protes Chagmin sambil menjajarkan langkahnya dengan Hyena yang sudah jalan mendahului teman-temannya.
"Tidak nafsu!" ketus Hyena sambil terus berjalan melewati kedai-kedai lainnya di tepi jalan. Karena waktu sudah cukup petang, tentu saja jalanan itu kian ramai dan cukup sulit untuk berjalan.
Kini mereka berenam tengah berhenti di depan sebuah air mancur yang merupakan pusat Gwangju Street ─anggap aja ada. Kelima namja tampan itu menatap bingung satu sama lain dan saat salah satu ingin bertanya pada Hyena, yeoja manis itu justru berbalik dan menatap mereka tajam.
"Aku ingin kalian perform di sini!" perintahnya dengan nada tegas. Mata hitamnya berkilat tegas, menunjukkan bahwa perintahnya tidak main-main.
"Kau gila!" teriak Changmin tak percaya. Memangnya siapa yang mau membuka identitas asli mereka di tempat seramai ini? Itu sama saja dengan bunuh diri, pikirnya.
"Yang benar saja!" celetuk Junsu, menambah list orang-orang yang tidak menyetujui ide itu. "Menyamar seperti ini saja, sudah tidak ketahuan saja, kami sudah bersyukur. Sekarang? Kau meminta kami untuk pentas di sini. Hell_"
"NO!" sambung Yoochun singkat sambil buang muka karena tertangkap Junsu yang kesal karena kalimatnya terpotong.
"Oh my God! Justru karena Oppadeul sedang menyamar, mereka tidak akan menyadari jika kalian adalah makhluk aslinya." Rengek Hyena semakin menjadi, bahkan yeoja itu sudah menghentakkan kakinya tidak jelas.
Lagi-lagi mereka berlima menggeleng kompak.
"Apakah kalian tidak tahu bagaimana rasanya menjadi fans kalian saat kalian sudah pecah?" tukas Hyena yang cukup membuat kelima namja di depannya terdiam, "Kalian tidak tahu seberapa inginnya kami melihat perform kalian berlima lagi. Kalian pikir mudah menelan pil pahit seperti itu? Apalagi tidak ada tanda-tanda dari kalian kalau kalian memang sering bertemu." Hyena mengacak rambutnya frustasi. Mengingat masa-masa menyakitkan itu membuat kepalanya sakit. "Kami mencoba menguatkan diri…hiks… Kami..mencoba bertahan…"
"Hyena-ah?"
"Gurae! Jika kalian tidak mau," Hyena menatap kelima namja tampan di depannya dengan mata yang siap menumpahkan airnya. "aku akan pulang sendiri. Aku akan istrirahat saja di hotel."
Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Hyena memilih berlari dan meninggalkan kelima namja yang tengah saling menatap bingung.
Hyena adalah salah satu fans mereka yang 'terlambat' menjadi Cassiopeia dan menginginkan idola-nya kembali bersatu. Keinginan yang tidak muluk tetapi sulit dilakukan dengan kondisi mereka yang sekarang.
Sementara itu, Hyena masih terus berlari sambil menyeka air matanya yang membasahi pipi pucatnya. Yeoja itu bahkan tidak peduli dengan umpatan orang-orang yang bertabrakan dengannya. Ia hanya tidak mengerti, kenapa ia bisa berani berkata seperti itu pada idola-nya. Ia mereasa bersalah memang tapi ia sudah tidak sanggup menyimpan unek-uneknya.
Tak sampai lima meter ia berlari, sebuah alunan music yang cukup keras menyapa pendengarannya. Sebuah lagu yang tak mungkin ia hapus dari memorinya. Lagu yang membuatnya jatuh cinta pada kelima namja di belakangnya.
"MIROTIC!"
Teriakan beberapa remaja di kanan-kirinya berhasil menghentikan langkah Hyena. Yeoja manis itu menoleh ke belakang untuk memastikan kebenaran teriakan itu. Tapi, yeoja manis itu hanya mampu melihat gerombolan di tempatnya meninggalkan kelima namja tampan itu kian dipenuhi beberapa kalangan.
'Apakah mereka ketahuan?' terka Hyena dalam hati.
Dan Hyena tidak membuang waktu lama untuk diam menunggu jawaban. Ia hanya perlu berlari dan mencari kebenaran.
Sementara itu, di tengah gerombolan manusia yang semakin membludak itu, kelima namja itu hanya bisa pasrah dan terus menggerakkan tubuhnya mengikuti irama music yang mengalun dari ponsel canggih salah satu diantara mereka. Mereka hanya bisa berharap, semoga penyamaran mereka bisa membantu menyamarkan identitas asli mereka.
Di tengah music yang masih menghentak, salah satu diantara mereka ─seorang namja dengan wajah kekanak-kanakannya─ menatap focus pada salah satu penontonnya. Seorang yeoja manis yang tadi sempat menangis dan meninggalkan mereka berlima. Kini ia bisa melihat yeoja itu tengah menahan air mata harunya.
Sebelum music klimaks menggema, seorang dancer diantara mereka mendekati yeoja berwajah manis itu dan mengajaknya ikut serta untuk menari bersama. Teriakan para remaja kian terdengar menggila. Beberapa dari penonton mereka ─yang notabene mayoritas adalah yeoja─ berteriak iri pada Hyena.
Dua reff terakhir, kelima dancer itu menari bersama para fans-nya. Terlihat kompak meski beberapa gerakan terlihat tidak teratur. Tapi beruntung, hal itu tidak mengurangi keceriaan di tengah Gwangju Street.
Music berakhir dan kelima namja itu langsung kabur dari kerumunan itu tanpa memperdulikan teriakan histeris dari para fans-nya. Hyena yang merasa ditinggalkan justru tersenyum aneh, mungkin akan lebih tepat jika dikatakan menyeringai.
Merasa sudah cukup puas dengan acara bergemingnya, Hyena memutuskan untuk melangkah pulang. Ia mungkin akan ditinggal kelima namja itu tapi toh ia tidak peduli. Ia bisa pulang dengan kereta bawah tanah.
Hyena hanya bisa menyiapkan diri untuk menerima sikap dingin namja-namja tampan itu.
Semilir angin yang menerpa balkon itu tampaknya terasa nyaman, buktinya seorang namja berkulit putih itu sedari tadi hanya bergeming di tempatnya sambil menikmati pemandangan yang tempampang di depannya. Kolam dan lobi hotel tempatnya berlibur yang tampak lenggang karena hari sudah senja dan kebanyakan dari penghuni hotel sedang menikmati sore yang indah dengan berendam atau sekedar makan.
Namja berparas feminim itu tak sadar jika di belakangnya seorang namja tampan tengah memperhatikannya. Menatapnya lembut seolah namja feminim itu adalah nyawanya. Namja bermarga Jung itu mendekati kekasihnya, meraih pinggang ramping itu lembut dan menyandarkan dagunya di bahu sang kekasih. Memejamkan mata dan ikut menikmati suasana damai senja itu.
"Yunho-yah…"
"Hmmm…?"
"Menurutmu, apakah kita bisa mempercayai Hyena?" tanya Jaejoong sambil meraih tangan yang melingkar di pinggangnya. Ikut merasakan kehangatan yang perlahan merasuki hatinya. "Maksudku, kita baru mengenalnya beberapa jam dan kita langsung menyetujui tawarannya. Tidakkah kau takut kalau ternyata yeoja itu memiliki maksud tersembunyi seperti_"
"Yeoja itu menyukaiku?" tanya Yunho narsis tapi tetap dengan nada serius. Ia tahu bahwa kekasihnya itu tengah bimbang dengan keputusan yang mereka ambil.
Jaejoong tak langsung menjawa. Namja feminim itu hanya menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan, "Aku hanya takut, Hyena diam-diam menyukaimu dan lama-kelamaan kau juga menyukainya. Aku…tidak ingin kehilanganmu." Jaejoong mengeratkan kaitan tangannya di jemari Yunho. Entah mengapa kegundahannya mulai memuncak setiap mengingat rencana yang tengah mereka susun.
Yunho tersenyum tipis. "Aku mungkin akan bersimpati pada Hyena tapi aku yakin atas satu hal," Yunho membalik tubuh Jaejoong dan menaikkan dagunya, menatap tajam mata bulat hitam itu. "Aku hanya menyerahkan hatiku padamu, Jaejoong-ah. Hanya kau tambatan hatiku. Jika ragaku tak menjadi milikmu maka jiwakulah yang akan menyadarkannya."
Jaejoong mengerjabkan matanya, menahan genangan air yang menumpuk di sudut matanya. Belum sampai ia menghapus air mata itu, jemari panjang Yunho terulur dan menyeka lelehan air hangat itu.
"Kau percaya padaku?" tanya Yunho sambil terus menatap kekasihnya lembut.
Jaejoong menundukkan kepalanya dalam lalu berucap pelan, "Mian."
Yunho semakin melebarkan senyumnya. Ia paham mengapa kekasihnya bertanya seperti itu. Ia sudah cukup mengenal namja feminim itu bahkan sebelum mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Dipeluknya namja berbibir cherry itu, mencoba menyalurkan kehangatan disela kegelisahan kekasihnya.
"Gwenchana." Yunho mengelus pelan punggung Jaejoong sambil mengeratkan pelukannya yang tentu dibalas hangat oleh sang tambatan hati. "Lagipula Hyena pernah bilang padaku kalau biasnya bukan salah satu dari kita."
"Mwo? Jinjja?" pekik Jaejoong kaget sambil melepaskan pelukan mereka meski nyatanya tangan Yunho masih melingkar manis di pinggangnya.
"Hmm…" Namja bermata sipit itu merapikan poni Jaejoong dan melanjutkan ceritanya, "Hyena menyukai uri aegya."
"Mwo?" Jaejoong tambah syok. "Maksudmu food monster itu?" Yunho mengangguk samar. "Ini gila! Kenapa yeoja itu bisa suka dengan makluk pemakan segala itu. Bisa-bisa bukan kedamaian yang akan didapatnya, kesengsaraan mungkin?"
Yunho tersenyum lagi. "Kurasa tidak." Jaejoong balas menatap kekasihnya tajam karena namja tampan itu tidak setuju dengan pendapatnya. "Akan sangat ramai pasangan itu. Yang satu evil sedang yang satunya punya seribu satu cara dalam otaknya untuk masalah kriminal."
Jaejoong balas tersenyum, namja berkulit putih itu mengangguk setuju.
Keheningan menjalari keduanya. Hanya cukup saling berbagi lewat tatapan mereka. Tak ada yang berniat membuka suara, takut akan menghancurkan suasana romantis itu.
Tiba-tiba Yunho mengerutkan keningnya, membuat Jaejoong penasaran dengan apa yang tengah dipikirkan kekasihnya itu.
"Ada apa?"
"Aku hanya penasaran. Apa yang telah Hyena berikan padamu kemarin?"
Sontak rona kemerahan menjalari pipi putih Jaejoong. Namja feminim itu menundukkan kepalanya entah karena apa. Membuat Yunho curiga dan bermaksud mengintrogasi lebih.
"Katakan padaku," Yunho mengangkat dagu Jaejoong hingga ia mampu melihat dalam manic hitam Jaejoong. "Apa kadonya?"
"Aniya. Bukan sesuatu yang penting." elak Jaejoong sambil melepaskan diri dari kukungan Yunho. Namja bermata bulat itu berjalan memasuki kamar dan memilih mengemasi barang-barangnya karena memang ia akan kembali ke Seoul besok.
Sementara itu, Yunho mengikuti dari belakang sambil mengamati gerakan Jaejoong yang terkesan menghindar dari pertanyaannya. Membuatnya semakin penasaran. Yunho meraih lengan Jaejoong dan menariknya hingga keduanya kini saling berhadapan meski Jaejoong masih menundukkan kepalanya. Wajahnya masih merona menahan malu.
"Jawab aku, Jung Jaejoong!" titah Yunho tegas yang justru membuat Jaejoong semakin gelisah. Merasa tidak akan mendapatkan jawaban, Yunho beranjak dari duduknya dan membuka laci yang berada di samping tempat tidur. Mengambil sebuah kotak yang sempat singgah di tangannya selama beberapa jam sebelum akhirnya jatuh di tangan Jaejoong tanpa ia tahu isinya apa.
Dibukanya dengan cepat kotak itu dan memekik keras ketika mendapati isinya, "M-mwoya! Yah! Hyena benar-benar gila…"
Sementara itu, Jaejoong hanya menghela nafas pasrah. Ia memilih tidak menanggapi kekasihnya karena ia memang tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
Bruk!
Detik berikutnya, tubuh ramping itu serasa ringan dan terjatuh dengan manis di atas ranjang. Matanya mendelik imut pada sang pelaku yang tengah mendekati wajah imutnya. Jaejoong mengerucutkan bibirnya imut yang justru mendapat hadiah manis dari sang kekasih. Kini, keduanya tengah saling menatap dalm diam, hingga…
"Yeoja itu tidak perlu repot sih…" seru namja tampan itu sambil menyeringai, "Toh kalau aku ingin, kita bisa melakukannya tanpa pengaruh obat sekalipun."
Jaejoong tersenyum setuju. "Nde." Lalu mengalungkan lengannya di leher kokoh Yunho dan mendekatkan wajah mereka hingga hidung keduanya bersentuhan. "Pervent Bear…"
"Yes, Master…"
Sementara di sudut lain hotel itu, Hyena tak henti menggerutu. Menyumpahi ulah namja-namja yang tadi sempat dikerjainya. Kini ia harus terima diacuhkan dan dibiarkan jalan-jalan sendirian. Untung saja selama perjalanan menuju hotel, tidak ada sesuatu yang buruk.
Tanpa sadar, ia sudah sampai di lantai tempat kamarnya berada. Tapi lihat, yeoja duapuluh dua tahun itu belum berhenti mengomel tak jelas.
"Argh! Kenapa mereka sampai tega meninggalkanku sih? Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganku? Bagaimana kalau aku diculik? Memangnya mereka mau tanggungjawab, huh? Lihat saja, besok akan kuganggu pagi tenang kalian!"
"Pagi tenang siapa?"
"Eh?" Hyena terkejut bukan man. Ia mendongakkan kepalanya dan mendapati sang mertua tengah menunggunya di depan pintu kamarnya.'Kenapa Umma ada di sini?'
"U-umma…di sini?"
"Wae? Kau tidak suka Umma di sini?" tanya Mrs. Jung dengan raut sedih.
Hyena mendekati sang mertua lalu meraih kantong plastic yang ada di dekat pintu. "Bukan begitu, Umma." Hyena membuka pintu kamarnya dan mempersilakan yeoja anggung itu masuk. "Hanya saja, bukankah baru tadi pagi Umma ke Seoul dengan Appa?"
Yeoja paruh baya itu mengangguk ramah dan meletakkan barang bawaannya di atas meja. "Umma hanya merindukanmu sayang."
Mrs. Jung mendekati sang menantu dan memeluknya hangat. Sungguh ia berterimakasih pada Hyena karena sudah bersedia menjadi menantunya, ketakutannya kali ini tidak terbukti. Selama ini, banyak yeoja yang menolak dijodohkan dengan Yunho karena aegya tampannya itu sering diisukan memiliki hubungan tabu dengan sahabatnya ─yang notabene adalah Jaejoong. Atau kalau tidak, yeoja yang menerima perjodohan itu, saat mendekati hari pernikahan secara mendadak akan meminta pernikahan untuk dibatalkan yang justru menambah malu anggota keluarganya.
"Umma…" Hyena melepaskan pelukannya. Menatap lembut sang mertua dan membalas kerinduan Umma barunya itu, "Hyena juga rindu tapi bukankah perjalanan di malam hari cukup buruk untuk kesehatan Umma, hmm?"
Mrs. Jung mengelus pelan rambut hitam Hyena lalu mengajaknya duduk di sofa. "Tidak apa. Hmm, di mana Yunho? Umma belum melihat batang hidungnya."
Hyena tersentak kaget. Ia sedikit panic mendapati pertanyaan seperti itu tapi kemudian sebuah ide terbesit indah di otaknya. Sambil tersenyum manis, Hyena menjawab tenang.
"Yunho Oppa menginap di kamar teman-temannya ─Changmin, Yoochun, Junsu, dan Jaejoong Oppa. Mungkin Yunho oppa hanya ingin menghabiskan waktu liburannya bersama mereka, toh kemarin juga Yunho Oppa sudah menemaniku tidur."
TBC
Chapter tiga publish, rek!
First of all, MIANHAEYO~ sepertinya memang Hyena yang leading plot di ff ini dan memang seperti itulah ceritanya. Rencana dari awal memang seperti itu, menceritakan orang ketiga dalam hubungan YunJae. Salahkan pada temanku yang bilang kalo aku cuma bisa 'mendalami' perasaan pairing utama tanpa mempertimbangkan perasaaan orang ketiga
Jadi, sandainya ada yang nggak suka sama ff ini, it's ok gapapa. Nggak baca, nggak review, ok-lah. Bashing saya pun dihalalkan biar saya introspeksi diri.
Tenang aja, aku menghargai apapun pendapat kalian kok… namanya juga mnusia pasti punya pemikiran sendiri. (Eh, kok jadi nglantur gini? XD)
Finally, aku akan sangat berterimakasih jika masih ada yang bersedia review ff ini.
Vielen Dank!
