Di salah satu lorong hotel mewah itu masih tampak sepi. Mungkin para tamu masih menikmati istirahat paginya dan sedikit dari para office boy tengah berjalan ke sana kemari sekedar untuk membersihkan lorong itu. Hingga suara hentakan sepatu itu terdengar mengganggu suasana pagi itu.
Seorang yeoja berambut hitam sebahu tengah menenteng tas selempangnya dan berjalan cepat menuju kamar nomor 426. Kamar yang ditempati 'suami'-nya dan kekasih. Ia lantas mempercepat langkahnya kala manic mata hitamnya menangkap sesosok namja jangkung tengah berdiri di depan kamar yang sedang ia tuju. Dugaannya namja yang tengah menggesekkan kartu id kamar itu adalah…
"Changmin Oppa!" pekiknya yang jelas membuat sang namja jangkung terkejut.
Namja jangkung itu menatap sang yeoja dan mengelus dada pelan. "Huh, kau mengagetkanku, Hyena-ah."
Hyena, yeoja bermata hitam itu, memicingkan mata. "Aku mencurigaimu, Oppa. Gerak-gerikmu itu seperti seorang pencuri." Hyena melirik kartu id yang masih berada di tempat 'penggesekan'-nya. "Apa yang sedang kau lakukan dengan kartu itu? Oppa dapat dari mana kartu itu?"
Changmin menghela nafas panjang lalu nyengir lebar. "Aku meminta pada resepsionis."
"Nde? Bagaimana bisa?" tanya Hyena bingung. Pasalnya, setahunya tidak ada yang memiliki kartu kunci kamar selain sang penyewa.
"Hehehe…. Kau harus tahu, nan SHIM CHANGMIN imnida." Jawab namja jangkung itu bangga sambil menepuk dada bidangnya pelan.
Tapi Hyena hanya memutar bola matanya malas dan memilih segera masuk ke kamar yang sudah terbuka pintunya, meski sedikit. Didorongnya pintu itu tanpa mempedulikan namja jangkung yang tengah cemberut di belakangnya.
"Yunho Oppa! Jaejoong Oppa!" teriak Hyena sambil berjalan menyusuri kamar mewah itu. Hyena memang baru pertama kali masuk ke kamar yang disewa Jaejoong ini semenjak pernikahannya di Gwangju.
Sementara itu, Changmin memilih menutup pintu dan segera menuju tempat favoritnya ─dapur.
Hyena masih terus berjalan menjelajahi kamar itu sampai tak sengaja telinganya yang notabene cukup tajam itu menangkap suara-suara aneh dari salah satu pintu di dekatnya. Segera saja ia mendekati pintu berwarna coklat itu dan sedikit mencuri dengar suara di dalamnya. Jelas saja ia tak mau salah masuk tempat.
"Uuungghhh….. Boojae… berhenti menarikku!"
"Tapi Yunnie harus segera banguuunn… Joongie lapaaaar…"
"Aaaahhh…. Sebentar lagi, Boo…"
"Ugh! Cepat keluar eoh! Yah Yunnie!"
BRUK!
Kriiet!
Cpret!
Hening.
Satu detik.
Yunho dan Jaejoong masih saling menatap di posisinya ─Jaejoong di berbaring di atas tubuh Yunho.
Dua detik.
Kedua namja itu menatap pintu kamar mereka yang terbuka lebar dengan seorang yeoja dengan kamera digital di depan wajahnya.
Tiga detik.
Teriakan super tinggi yang tidak bisa ditulis dengan huruf itu menggema di seluruh sudut ruangan itu. Membuat sang namja jangkung yang tengah menikmati dunianya itu, menghentikan ritual paginya.
Namja bermarga Shim itu memilih menghampiri kamar kedua hyung-nya. Tak tahunya, di tempat kejadian perkara tengah terjadi 'perebutan kamera' yang melibatkan seorang namja berkulit kcoklatan dengan seorang yeoja bertubuh pendek. Sementara bisa Changmin lihat, si hyung cantiknya tengah menutupi tubuh putihnya ─yang mungkin kini sudah penuh bercak kemerahan. Namja berusia dua puluhan itu menghela nafas kasar.
"Yah! Yah! Yunho Oppa! Berikan kameranya padaku! Yah! Jebaal, Oppa!"
"Never! Jika aku berikan padamu, tamatlah riwayat kami!"
"Yah, Oppa! Kenapa tidak percaya padaku, sih?"
"Wajahmu tidak bisa dipercaya!"
"YAH!"
Kali ini teriakan Hyena berhasil membuat Changmin sadar dan bergegas menyelesaikan masalah pagi itu. Namja jangkung itu mendekati Yunho dari belakang dan dengan cepat mengambil kamera Hyena yang tadi sempat diangkat tinggi-tinggi oleh Yunho. Beruntung Changmin memiliki tinggi di atas namja bermarga Jung itu, kalau tidak bisa dipastikan Hyena akan mati kelelahan ─karena berteriak dan meloncat-loncat.
"Hey! Changmin-ah?" heran Yunho begitu ia melihat dongsaeng mudanya itu sudah ada di belakangnya sambil menatapnya dingin ─plus kamera Hyena yang tadi sempat memotret posisi 'panas' dirinya dan kekasihnya.
"Hyung, benahi dulu dirimu! Jangan bermain dengan fans sebelum kau 'rapi'." Kata Changmin santai.
Yunho segera melirik tubuhnya yang hanya berbalut bokser hitamnya dan topless. Setidaknya masih lebih baik daripada keadaaan Jaejoong. Diliriknya namja bermarga Kim yang tengah menatapnya bingung.
Yunho menghela nafas kasar dan menatap Changmin, "Bawa yeoja ini keluar dan urusi dia!"
"Yah! Aku punya nama, tahu! Eh-eh… Changmin Oppa…" protesan Hyena terpotong begitu ia merasa tangannya ditarik paksa oleh magnae DBSK itu.
Blam!
Pintu yang ditutup kasar itu sukses menghentikan problema pagi yang cukup membosankan.
Between You and Him
-Chang Min Sa-
2013
YunJae and YunJae shipper
++CHAPTER 4++
Keheningan menjadi latar belakang sarapan pagi di kamar nomor 426 itu. Tiga namja dan satu yeoja itu seolah memiliki dunia masing-masing yang tidak bisa ditembus siapapun. Hyena yang cekikikan dengan kamera di tangannya, Yunho dan Jaejoong yang saling melirik khawatir sambil tetap memakan sarapannya, dan jangan lupa monster food kita yang masih setia dengan makanannya yang tidak sedikit.
"Ehem!" Yunho berdeham kecil untuk sekedar mencairkan suasana tegang itu. Namja berkulit kecoklatan itu menatap Jaejoong seolah meminta bantuaannya untuk mencairkan suasana.
Beruntung Jaejoong segerapaham maksud kekasihnya itu dan kini menatap Hyena yang masih belum melepas pandangannya dari kameranya, "Kalian berdua…kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?"
Changmin tidak menjawab. Ia terus melanjutkan acaranya tanpa melihat sekitarnya. Ah, bahkan mungkin Changmin lupa kalau sekarang ia tidak sendirian di ruang makan.
Yunho mengangkat bahu sebelum akhirnya terdengar suara dari Hyena.
"Oh, aku baru ingat." Hyena menyudahi acaranya ─menatap kamera lama-lama─ dan berpaling menatap Yunho dan Jaejoong. "Tadi malam Umma Jung ke kamarku."
"Mwo?" Yunho berteriak lantang sedangkan Jaejoong hanya sempat membulatkan mata dan mulutnya tanda terkejut. "Lalu apa yang Umma katakana?" tanya Yunho harap-harap cemas. Pasalnya ia sungguh tidak mau orangtuanya tahu tentang rencana busuknya dengan sang istri.
Hyena menopang dagu, tampak mengingat-ingat. "Awalnya Umma Jung mencari Oppa." Hyena menatap Yunho santai, "Tapi aku sudah bilang padanya kalau Oppa sedang menginap dengan teman-temannya yang tak lain adalah Jaejoong Oppa, Changmin Oppa, Yoochun Oppa, dan Junsu Oppa."
"D-dan Umma percaya padamu?" tanya Yunho was-was.
Hyena mengangguk mantap. "Aku bilang pada Umma kalau kalian butuh waktu bersama setelah semalaman aku memonopolimu."
"Cih, kau pandai bersilat lidah rupanya." Ledek Changmin disela-sela kegiatannya.
"Yah! Kalau nggak ada aku, uri appa dan umma tidak bisa terus bersama, eoh?" teriak Hyena tak terima.
"Oh, jadi kau mau jadi sok pahlawan begitu?" balas Changmin sarkartis sambil menatap Hyena tajam.
Sementara itu, Yunho dan Jaejoong memujat pelipisnya. Pusing. Hei, ini masih pagi, eoh?
"Sudahlah, Changmin-ah. Hyena ada benarnya kok." Kata Jaejoong mencoba menengahi.
"Tapi, Umma…" rengek Changmin sambil mengeluarkan puppy eyes-nya.
"Sudah, diam!" titah Yunho tegas. Sontak semuanya terdiam mendengar nada dingin baritone itu. Yunho menatap Hyena lagi, kembali focus pada masalahnya. "Lalu, kenapa Umma ke kembali? Bukankah kemarin pagi dia bilang akan ke Seoul untuk mnjenguk kerabat?"
Hyena menggeleng lalu melanjutkan penjelasannya. "Aku juga tidak tahu. Umma hanya bilang kalau dia merindukanku."
"Ohh," Yunho menganguk mengerti. "Umma bilang apa lagi padamu?"
Hyena menatap serius dua namja di depannya ─Yunho dan Jaejoong, sedangkan Changmin duduk di sebelahnya. "Umma memintaku untuk tinggal dengan Umma dan Appa."
Mata musang Yunho membesar. Jika Hyena tinggal dengan keluarganya, kepura-puraan mereka akan terancam karena ia tahu Umma bisa saja mengawasi yeoja yang berusia lima tahun di bawahnya itu.
Melihat raut syok dari Yunho, Hyena melanjutkan. "Tapi tenang saja. Aku menolak permintaan Umma kok."
"Nde?" baik Yunho mauun Jaejoong dibuat tidak percaya dengan yeoja di depannya itu. Berani sekali ia menentang permintaan mertuanya.
Hyena mengangguk sambil tersenyum kecil. "Aku bilang pada Umma kalau aku harus menyelesaikan skripsiku dan jika aku tinggal dengan mereka aku takut merepotkan mereka atau jadi tidak focus mengurus orangtuamu, Yunho Oppa." Hyena menarik nafas sebentar, "Bukannya aku tidak mau merawat mereka, hanya saja jika fokusku terpecah, aku akan lebih lama lagi di bangku kuliah. Aku tidak mau itu terjadi. Hanya satu semester lagi kok."
Penjelasan panjang Hyena cukup membuat Yunho dan Jaejoong syok sekaligus bingung. Dari mana yeoja licik itu belajar mengelabuhi orangtua?
Tiba-tiba raut wajah Hyena berubah masam. Ia menunduk dan kemabali berbicara, "Tapi saat di Seoul nanti, aku disuruh tinggal dengan Yunho Oppa. Katanya biar ada yang mengurus Oppa. Eotteokae? Umma pasti akan mengawasiku."
Yunho dan Jaejoong saling berpandangan sebentar lalu kembali menatap Hyena intens. "Kau bisa tinggal di kamar tamuku." Kata Yunho ragu.
"Jinjja?" Hyena menatap ragu Yunho dan Jaejoong. Sungguh, tinggal dengan Yunho bukanlah salah satu dari rencananya. Ia tidak bisa menjamin jika nanti ia tiba-tiba menyukai namja Jung itu. Hei, enyahkan pikiran buruk itu, Cho Hyena.
Jaejoong tersenyum tulus. "Aku mengerti keadaanmu. Lagipula tidak setiap waktu aku bisa menemani Yunho. Kau tahu sendiri kan bahwa aku memiliki kesibukan selain mengurus beruang maduku."
"Yah!" protes Yunho yang justru mengundang kekehan dari Jaejoong dan Hyena.
"Tenang saja, Jaejoong Oppa! Akan kupastikan kami tidak pernah tidur bersama. Kalau perlu aku akan menendang kepalanya setiap malam biar dia tidur di apartemen Oppa."
Gelak tawa terdengar nyaring setelah itu. Dan mereka berhenti begitu sadar bahwa sedari tadi ada sat makhluk yang mereka lupakan. Dilihatnya namja jangkung di samping Hyena dengan tatapan ngeri.
Jaejoong memutuskan untuk membuka suara, "Changmin-ah?"
"Hm?" gumam Changmin sambil menegak jus jeruknya. Di depannya piring kosong yang sudah tiga kali tambah itu tampak bersih.
"Err, lalu kenapa kau di sini?"
"Oh, itu." Changmin menatap satu per satu orang di ruangan itu lalu tersenyum konyol. "Seperti biasa, Hyung, aku sedang dalam misi mencari makan gratis."
Dan oh, sepertinya keheningan selanjutnya cukup membuktikan bahwa ketiganya sudah bosan dengan alasan ─yang dibuat-buat─ Changmin.
Tak terasa langit gelap telah menjadi atap yang menenangkan hari ini. Meski ketenangan itu tetap harus mengalah pada bunyi mesin kendaraan yang terus berjala menembus waktu. Kereta bawah tanah masih terus beroperasi mengantar penumpangnya ke tempat tujuan. Sedangkan mobil-mobil masih terus hilir mudik entah kemana.
Tampak sebuah mobil Audy memasuki kawasan apartemen sederhana yang menjadi tempat tinggal penumpangnya selama kurang lebih tiga tahun. Setelah memarkir mobil hitam itu, seorang namja jangkung dan seorang yeoja manis keluar dari mobil. Mereka tampak bercakap-cakap sebentar.
"Kamsahamnida, Changmin Oppa." Kata Hyena sambil membungkukkan badannya.
"Hmm, cheonma." Balas Changmin sambil tersenyum tipis.
"Mampirlah sebentar, Oppa." Tawar Hyena.
Changmin melirik jam tangannya lalu menjawab, "Ah, tidak. Aku harus cepat pulang."
"Aku bisa memasakkanmu sesuatu." Kata Hyena tak menyerah.
Changmin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aish, kau tahu saja kalau aku sedang lapar."
Hyena tertawa kecil. "Kapan sih Oppa tidak lapar?" Hyena berbalik dan melangkah mendahului Changmin menuju gedung itu. "Kajja!"
Namja jangkung itu sedikit berlari kecil untuk menyamai langkah Hyena yang sudah duluan. Mereka tak mengobrol banyak dalam perjalanan ke apartemen Hyena, mungkin karena kelelahan. Perjalanan dari Gwangju ke Seoul, cukup memakan waktu dan tenaga rupanya.
Tadi pagi, Hyena dan Changmin berkunjung ke kamar Yunho dan Jaejoong untuk pamit kembali ke Seoul. Hyena sempat menanyakan kapan Yunho pulang dan katanya, namja tampan itu akan pulang esok harinya dengan sang kekasih. Mungkin keduanya sedang ingin menikmati liburan berdua.
Lagipula Hyena masih harus menegmasi barang-barangnya sebelum pindah ke apartemen Yunho. Mereka memang sepakat untuk satu apartemen tapi mereka tidak tidur dalam satu kamar. Bisa-bisa esok paginya Hyena ditemukan tewas karena dimutilasi para YunJae-shipper.
Cklek!
Pintu apartemen itu terbuka. Setelah Hyena menyalakan lampu, apartemen sederhana itu tampak terang dan terkesan rapi. Meski tak banyak barang di sana, tapi kesan nyaman dan rapi masih kental di dalamnya. Hyena meminta Changmin untuk duduk di salah satu sofa di ruang tamu sementara yeoja manis itu harus ke dapur untuk mengambil cemilan.
Sementara Hyena berkutat dengan gelas dan bubuk kopi, Changmin memilih melihat-lihat beberapa barang yang ia temui di ruang minimalis itu. Beberapa foto di atas laci dan pernak-pernik hiasan dinding menyapa penglihatannya. Changmin terlonjak kaget saat suara Hyena memecahkan kesunyiannya.
"Changmin Oppa!"
"HYAAH!" Changmin berbalik dan terkejut dengan keberadaan yeoja manis itu. Namja jangkung itu mengelus dada sebentar lalu membentak yeoja yang tengah menatapnya bingung. "KAU MAU AKU JANTUNGAN LALU MATI, EOH?"
Hyena makin mengernyitkan keningnya, "Memangnya kenapa, Oppa?"
"Aish!" Changmin mengacak rambutnya kasar lalu menyambar kopi di atas nampan yang dibawa Hyena. Namja jangkung itu bergegas duduk di sofa terdekat.
Hyena beralih menempati sofa yang lebih kecil di dekat Changmin. Meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja lalu kembali bertanya pada magnae DBSK itu. "Apa salahku memang?"
Changmin meletakkan gelas yang hanya terisi setengahnya lalu menatap Hyena tajam. "Tidak ada."
Keheningan menjalari keduanya selama beberapa waktu. Changmin memilih menikmati cemilannya sedangkan Hyena sudah beranjak untuk mengemasi beberapa barang yang akan ia gunakan di apartemen pindahannya.
"Kau yakin dengan keputusanmu, Hyena-ah?" tanya Changmin memecah keheningan.
"Hmm, aku sudah terlanjur masuk dalam rencana ini, jadi aku harus mengikuti bagaimana alurnya." Hyena menghentikan kegiatannya sebentar lalu menatap Changmin dari balik pintu kamarnya. Meski tersekat oleh dinding tapi ia masih bisa mendengar suara tenor Changmin.
Changmin menghela nafas sebentar, mengandarkan punggungnya ke sandaran sofa. "Kau aneh."
"Eh? Kau baru tahu?" Hyena melanjutkan kegiatan kemas-kemasnya.
Changmin menepuk keningnya. 'Kenapa yeoja itu mau-mau saja dikatai aneh?' batinnya bingung. "Kau manusia bukan, sih? Otakmu terbuat dari apa, eoh?"
Hyena keluar dari kamarnya dengan santai, "Aku manusia. Wae? Ada masalah?"
Changmin mengehla nafas sebentar lalu menegakkan posisi duduknya. "Kau, seorang YunJae-shipper, kan?" Hyena mengangguk. "Lalu kenapa kau mau menjadi istri Yunho Hyung? Bukankah seharusnya kau mendukung mereka? Bukan justru menjadi orang ketiga diantara mereka."
"Hmm, aku hanya berpikir. Jika aku menjadi istri Yunho Oppa, isu mereka gay akan hilang dan sekalipun kami menikah, aku tetap mengijinkan mereka berhubungan." Kata Hyena sambil mengusap dagu.
"Tidakkah kau berpikir bahwa kau bisa saja menyukai Yunho Hyung?" selidik Changmin lagi sambil menaikkan salah satu alisnya.
Hyena menggeleng keras. "Tidak. Aku menyukaimu."
"MWO?"
"Ya, aku menyukaimu sebagai idolaku. Hahaha…" tawa Hyena meledak karena ia bisa mengelabuhi Changmin yang notabene selalu usil itu.
Changmin mendengus kesal lalu buru-buru menegak kopinya. Ia melirik camilan di depannya, mengambil beberapa, lalu memakannya lahap. Hyena tersenyum karena itu.
"Ngomong-ngomong, kau kuliah di mana?" tanya Changmin membuka pembicaraan lagi.
Hyena balas menatap Changmin lalu menjawab, "Bukan universitas yang besar seperti kampusmu."
"Kau bilang, kau sedang skripsi?"
"Oh, yeah." Jawab Hyena malas. Mengingat tugas akhirnya itu, Hyena cukup frustasi karena harus benar-benar menciptakan gebrakan baru. Huft, menjalani tugas-tugas seorang mahasiswa bukanlah soal gampang, ani?
"Hmm, baiklah." Changmin menghembuskan nafas pelan lalu berdiri. Namja jangkung itu melirik pemandangan jalan dan gedung lewat kaca berukuran sedang di apartemen itu. "Sepertinya aku harus segera pulang."
"Oh, yee." Hyena menggumam lalu ikut berdiri. Mengikuti Changmin yang sudah berjalan ke arah pintu. Hyena membukakan pintu dan membungkuk pada namja jangkung yang berdiri menghadap pintu apartemennya. "Jeomal gumawo, Changmin Oppa."
"Oh, not a big deal." Jawabnya santai.
Changmin berbalik dan melangkah menyusuri lorong. Membiarkan Hyena masih bergeming di tempatnya. Pelan-pelan, yeoja manis itu mengehmbuskan nafasnya keras-keras.
"Semoga saja memang sesuai rencana."
Setelah itu, Hyena menutup pintu apartemen dan bergegas istirahat untuk hari panjangnya besok.
=TBC=
Annyeong~
Jeosonghamnida, chapter ini telat post soalnya aku lagi banyak-banyaknya tugas dan pas jaringan internet di sekolah lagi susah ─resiko pencari wifi. Tapi sepertinya chapter ini lumayan panjang dan banya basa-basinya.
Well, the true problem will show in the next chapter. Yah, meskipun harus dijeda berbulan-bulan kemudian. Hehehehe….
Really, thanksful for my reader. Terimakasih atas kesetiaannya dan aku harap ff-ku ini bisa dibaca banyak orang
The last one, YunJae is REAL!
