Keesokan harinya, yang ia dengar pertama kali adalah isakan yang jarang didengarnya. Mengerjabkan mata dan mencoba meraih kesadarannya yang masih mengambang di atas awan pagi. Namja tampan itu merentangkan tangannya, meraba bagian tempat tidur di sampingnya yang kosong. Ia merasa semalam ia tidur dengan seseorang tapi seingatnya itu bukan Jaejoong. Dan ia seolah tersadar dengan apa yang terjadi semalam.

Yunho mendudukkan dan memeriksa tubuhnya yang masih belum di lapisi sehelai benang pun. Ia merasa sedikit lengket di atas tempat tidur dan ia juga melihat pakaiannya yang tergeletak tak bernyawa di atas lantai. Ia merasa pusing.

Namja tampan itu merasakan perasaan bersalah yang tidak ia mengerti dan ketahui apa penyebabnya. Samar-samar ia mendengar suara tangisan yang memilukan dari salah satu ruangan di kamar itu, kamar mandi. Memutar otak untuk menebak siapa gerangan yang berada di dalam kamar mandi itu. Dan mata sipitnya terbelalak begitu menyadari siapa korbannya.

Yunho segera menyambar celana pendeknya yang masih tegeletak di lantai dan segera berlari ke depan pintu kamar mandi. Menggedornya dengan tidak sabar sambil berteriak-teriak.

"Hyena-ah! Hyena! Buka pintunya!"

"AAAGGGHHH! ANDWAEEEE! Hiks…hiks…. Andwae Oppa! Andwae!"

Teriakan dari Hyena benar-benar menampar Yunho. Ia merasa bersalah telah melakukan hal keji semalam. Ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Dan kini ia tidak tahu harus berlaku seperti apa. Di depan Jaejoong, teman-temannya, dan….Hyena. Yeoja itulah yang menjadi korbannya. Ia merasa bersalah.

Digedornya lagi pintu kaca berwarna bening itu, ia tak bisa masuk karena pintu terkunci dari dalam. Ia semakin khawatir saat mendengar teriakan memilukan dari dalam. Tak tahan diabaikan seperti itu, Yunho berinisiatif mendobrak pintu kaca itu. biarlah pintu itu rusak toh masih bisa diperbaiki.

Yunho mundur beberapa langkah dan bersiap di posisi kuda-kuda dan detik berikutnya, ia menendang pintu di depannya dengan salah satu jurus aikido yang diingatnya. Ia terpranjat kaget melihat keadaan di dalamnya. Tisu kamar mandi yang tercecer, sabun dan sikat gigi yang tergeletak di lantai kamar mandi, juga cairan-cairan berbau khas yang sempat tertangkap matanya.

"Andwae! Andwae! Jangan Oppa! Jebaaal…jangan.. hiks…hiks…"

Lagi-lagi terdengar suara tangisan yang semakin membuat Yunho merasa bersalah. Diraihnya tirai putih yang menutupi bath up di seberangnya. Menariknya kasar dan ia tercengang melihat keadaan yeoja itu kacau. Segera diraihnya tubuh mungil yang masih polos itu di bawah guyuran air dari shower. Ditambah lagi dengan wajahnya yang membengkak karena terlalu lama menangis juga bercak-bercak darah di dalam bath up. Yunho meringis.

"Andwae! Jangan sentuh aku! Jebal, Oppa…" lirih Hyena masih dengan menutupi wajahnya di antara tekukan lutu dan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar keras karena ketakutan, apalagi setelah ia mendengar suara Yunho dan sentuhan namja tampan itu.

Yunho berusaha meraih tubuh polos istrinya yang masih memberontak. Meski sulit, namja bermarga Jung itu terus mencoba bahkan ia terpaksa mencengkeram kedua lengan Hyena agar ia bisa melihat wajah yang biasanya tersenyum ceria. Tak tahunya, hal itu justru membuat perasaan bersalah semakin menggerogoti relung hatinya.

Ia menyakiti istrinya, orang yang memberinya kesempatan untuk tetap bersama kekasihnya sekalipun seluruh dunia tidak menerima kedua namja itu.

"Mianhae, Hyena-ah.. Mianhae…"

Dan sepanjang pagi itu hanya ia habiskan untuk menenangkan Hyena. Sekali lagi, ia merasa bersalah dan bertanggungjawab atas kejadian semalam.

Between You and Him

-Chang Min Sa-

2014

YunJae and YunJae shipper

++CHAPTER 6++

Pagi itu, tak secerah malam sebelumnya. Hanya dentingan alat makan dan decakan orang-orang yang sedang menikmati sarapan mereka. Entah karena terlalu lelah dengan kegiatan semalam atau karena ada kejadian lainnya. Begitu pun Yunho dan Hyena. Setelah kejadian pagi tadi, tak ada dari keduanya yang berkeinginan untuk memuka perbincangan. Sesekali Yunho melirik khawatir pada yeoja yang tampak tak bersemangat hari ini, bahkan wajah yeoja itu tampak sangat pucat.

Tak berselang lama, makan pagi yang sunyi itu selesai, seluruh anggota keluarga masih di sana dan menunggu entah apa. Sampai sebuah suara memecahkan kesunyian itu.

"Hyena-yah, gwenchanayo?" tanya Umma Jung menatap khawatir menantunya.

Hyena tersentak mendapat pertanyaan seperti itu. tubuhnya bergetar entah karena apa. Kilasan kejadian semalam membuatnya pusing dan takut. Ia bahkan tak sadar tengah meremas jari-jarinya di bawah meja. Wajahnya makin pucat.

"Apakah kamu sakit? Wajahmu pucat." Umma Jung memicingkan mata dan mendekatkan tubuhnya ke arah Hyena dan berbisik pelan, "Apa…semalam…Yunho bermain kasar padamu?"

DEG!

Tubuh Hyena membeku, diam tak bergerak. Dadanya berdegup cepat dan otaknya menyusun apa maksud mertuanya mengatakan hal itu. Hyena mengeratkan cengkeramannya dan_

Sreekk!

"Jeosonghamnida, saya harus kembali ke kamar. Saya kurang enak badan." Tutur Hyena halus tanpa mengangkat kepalanya. Ia membungkuk dan segera berjalan menjauh dengan wajah menunduk dalam.

Meninggalkan sejuta pertanyaan di benak seluruh anggota keluarga Jung.

Terdengar lagi suara yang sama, kali ini berasal dari kursi yang ditempati anak pertama keluarga Jung itu. "Jeosonghamnida, aku kembali dulu. Aku_ akan menenangkan_ istriku dulu."

Yunho berbalik dan hendak melangkah jika saja suara sang Ibu terdengar di telinganya.

"Yunho-ah, apa terjadi sesuatu di antara kalian?" suara itu mengambang. Antara khawatir dan senang yang menyatu.

Yunho menghela nafas panjang lalu berkata, "Tak ada. Kami akan kembali ke Seoul secepatnya, mungkin siang ini."

Dan Yunho kembali melangkah menuju kamarnya ─dan Hyena. Mungkin ia memang harus pergi dari tempat itu, segera.

.

.

.

Yunho's Apartment

Cklek!

Pintu kayu itu terbuka, menampakkan dua wajah lelah yang mengganggu namja jangkung itu.

"Hyung? Hyena-ah? Kalian sudah pulang?"

"Changmin-ah?"

Yunho, Hyena, dan Changmin berdiri berhadapan. Kaku. Hingga tak sampai menit selanjutnya, Hyena memutuskan untuk melangkah pergi ke kamarnya. Membawa tas ranselnya tanpa menatap atau sekedar mengucapkan sepatah kata pada kedua namja jangkung itu.

Changmin menatap Hyena khawatir. Tak biasanya yeoja manis itu diam kecuali kalau ada suatu masalah. Namja jangkung itu menatap Yunho yang ternyata baru saja mengunci pintu apartemennya. "Hyung, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

Bukannya menjawab, Yunho justru mengusap wajah dan rambutnya kasar. Namja bermarga Jung itu tampak stress berat. "Tidak ada." Yunho melangkah menyerat tasnya, menuju kamarnya. "Lebih baik kau hibur Hyena. Aku yakin, dia akan kembali seperti semula jika itu kau."

Blam!

Bunyi debuman pintu itu menjadi pertanda bagi Changmin, ada suatu hal yang tidak beres di antara kedua orang yang disayanginya itu. Yah, disayangi Changmin.

Changmin terdiam beberapa saat sebelum kemudian ia melangkah ke kamar Hyena. Mungkin yeoja itu bisa sedikit berbagi dengannya. Diketuknya pintu berwarna cokelat itu lalu memanggil sang penghuni. Tapi hingga tiga kali ia memanggil, tak ada jawaban dari dalam. Perasaan khawatir mulai menelusup dalam benaknya. Ia mencoba membuka pintu dan tak taunya, pintu tu tak terkunci.

Namja jangkung itu bergegas masuk dan menemukan hal aneh di dalamnya. Dilihatnya Hyena sedang memindahkan pakaiannya dari lemari ke dalam koper besar. Changmin menghampiri yeoja itu dan menahan lengannya yang hendak memasukkan sebuah kaos berwarna krem.

"Apa yang kau lakukan, huh?"

Hyena terdiam, menunduk.

Changmin berdecak sebal lalu membalik tubuh Hyena agar yeoja itu berhadapan dengannya. Diletakkannya kedua tangan besarnya di bahu yeoja itu. "Katakan padaku, apa yang terjadi pada kalian berdua selama di Gwangju? Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu tapi tolong beritahu aku."

Bukannya menjawab Hyena justru terisak. Bahunya bergetar keras sementara mulutnya mengeluarkan isakan yang cukup menyayat hari Changmin.

Changmin yang sudah tak sabar dengan kebisuan Hyena memilih menarik dagu yeoja itu hingga Hyena sempat meringis ketakutan. Air mata telah menutupi mata bulat yang biasanya memancarkan kehangatan. "Hyena-ah! Jangan buat aku kehilangan kesabaran, eoh! Katakana padaku apa yang sebenarnya terjadi."

Hyena menggigit bibirnya, berusaha tidak menjawab pertanyaan Changmin. Ia menggelengkan kepalanya, menolak untuk menjawab.

Changmin geram sendiri hingga ia mengguncang bahu yeoja yang sesunggunhnya ia sayangi itu. Hingga matanya tak sengaja menangkap satu hal yang membuatnya membeku. Diraihnya dagu yeoja itu, diangkatnya hingga memperlihatkan leher Hyena yang berhiaskan warna keunguan. Entah apa itu?

Pikiran Changmin semakin keruh. Ia tahu apa tanda itu tapi ia mengelak jika tebakannya benar. Semakin diguncangnya tubuh Hyena hingga yeoja itu menjerit kesakitan.

"CHO HYENA! KATAKAN PADAKU APA YANG SEBENARNYA TERJADI? KATAKAN BAHWA YANG KULIHAT INI TIDAK BENAR! KATAKAN PADAKU!"

Hyena menelan ludahnya susah payah. Changmin sudah tahu, ia tak mungkin bisa berbohong. Masih dengan menyembunyikan wajahnya, Hyena menjawab pelan dan lirih.

"Nee… aku… aku… dan Yunho Oppa… melakukannya."

Dunia Changmin runtuh seketika. Changmin melepaskan cengkeramannya di bahu Hyena. Matanya memandang lurus, kosong. Bibirnya terkatup rapat. Membeku dan tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Bruuk!

"Hyena!" teriak Changmin panik saat dilihatnya Hyena sudah jatuh terduduk di depannya.

Changmin meraih tubuh rapuh itu dalam dekapannya sambil menggumamkan nama Hyena.

"Aku kotor, Oppa… Aku bodoh! Aku tidak berguna! Aku benci dengan diriku sendiri! Aku tidak menghendaki ini terjadi, Oppa! Wae? Waeyo? Hikss… hikss… aaarggghhhh!"

Changmin meringis. Menahan sakit hatinya. Yeoja yang disayanginya kini telah ditandai orang lain. Meski orang itu adalah suami sang yeoja tapi ia tahu Hyena tak pernah menginginkan hal ini terjadi. Ia bisa merasakan betapa sakitnya yeoja itu.

Makin dieratkannya pelukan pada tubuh rapuh itu sambil sesekali menggumamkan kata-kata penyemangat.

.

.

.

Tak terasa matahari telah kembali ke peraduannya. Langit kini hanya berisi jutaan bintang dan cahaya bulan yang menyinari bangunan-bangunan di Bumi. Sunyi masih belum nampak di jalanan tapi di apartemen itu, kini tak ada lagi keceriaan yang biasanya menyapa kala kita masuk ke dalam. Ruangan minimalis itu kini tampak gelap dan sepi. Hanya suara dentingan kaca dan aluminium yang beradu.

Seorang namja jangkung baru saja keluar dari dapur sambil mengaduk segelas coklat hangat di tangannya. Tatapannya mengarah pada ubin di bawah kakinya tapi pikirannya entah ada di mana. Sampai sebuah suara yang familiar terdengar di telinganya.

"Changmin-ah? Kau di sini?"

Changmin mendongak dan mendapati seorang namja yang memakai jaket, jeans, topi, dan kacamata hitam. Persis seorang mata-mata tapi Changmin tahu siapa yang kini berada di hadapannya.

"Jae Hyung? H-hyung.. sudah pulang?" tanya Changmin tergagap. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan hyung cantiknya yang notabene kemarin masih berada di luar kota untuk melakukan tur konser solonya.

Jaejoong mengerutkan keningnya, bingung. Ia melepas penyamarannya dan meletakkan bawaannya di sofa di ruang tamu. "Ya, aku pulang. Tapi kenapa ekspresimu begitu? kau tak suka hyung tampanmu ini pulang? Huh?" Jaejoong menatap Changmin dari atas ke bawah. "Lagipula sedang apa kau di sini? Rumahmu kan bukan di sini?"

Changmin mengerjabkan matanya, sekedar mengembalikan kesadarannya yang sempat menghilang.

Jaejoong melirik susu coklat yang dibawa Changmin lalu tersenyum, "Itu untuk siapa? Untukku kah?"

Changmin segera menggeleng. "Bukan. Ini punya Hyena. Aku akan ke kamarnya." Changmin beranjak sebelum Jaejoong sempat membuka mulutnya lagi. "Lebih baik Hyung segera ke kamar Yunho Hyung sepertinya Yunho Hyung sedang membutuhkanmu."

Blam!

Dan Jaejoong hanya bisa mengerutkan keningnya mendapati sikap yang tak biasa dari magnae-nya. Tapi ia berusaha tak peduli dan mengingat tujuannya ke sana setelah pulang konser. Mengobati kerinduannya pada sang kekasih.

.

.

.

"Makanlah, Hyena-ah… kau belum makan sejak siang tadi. Kau bisa sakit." Bujuk Changmin entah sudah yang keberapa kalinya. Ia lelah dan sakit.

Ia lelah karena perjuangannya tak membuahkan hasil dan ia sakit melihat orang yang disayanginya terpukul seperti itu. Padahal baginya, belum tentu kejadian kemarin malam akan menumbuhkan 'bibit' di rahm yeoja itu.

Entahlah, Changmin tidak mengerti apa yang dikhawatirkan yeoja itu.

Sedari tadi, Hyena mendiamkannya. Setelah selesai beres-beres, Changmin meminta Hyena untuk istirahat dengan harapan ketika bangun yeoja itu bersedia mengisi perutnya. Tapi nyatanya…

"Haahh…." Changmin mengehela nafas panjang. Dirilekskannya punggung tegapnya yang sedari tadi terasa tegang. "Aku akan sakit melihatmu seperti ini. jebal, makanlah sedikit saja Hyena-ah…"

Hyena diam. Mengabaikan kicauan Changmin yang sma sekali tidak masuk ke gendang telinganya. "Mianhae…" katanya lirih, entah untuk siapa kata itu.

Belum sempat Changmin membalas, terdengar suara bedebum benda-benda pecah dari luar ruangan. Disusul dengan teriakan-teriakan dari kedua hyung Changmin yang sepertinya sedang bertengkar itu. Changmin menatap Hyena sebentar, yeoja itu masih menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Namja jangkung itu meletakan bubur yang sudah dingin itu di atas meja lalu beranjak menuju pintu. Mencari tahu apa penyebab kegaduhan di luar sana.

"Pengkhianat! Kau selingkuh di belakangku! JUNG YUNHO! KAU BRENGSEK!"

"Oh, Jae… aku kan sudah menjelaskan padamu kalau semua itu bukan keinginanku. Aku tidak sengaja, Jae… Jebal, jangan begini, Jae…"

"Oh, shit! Terserah apa katamu! Aku tidak peduli. Kita break untuk sementara! Aku tidak akan mengampunimu dengan mudah, Yun. Camkan itu!"

"Jae…"

"Oh, God! STOP!" teriak Changmin dengan suara tingginya yang ternyata sanggup membekukan suasana panas diantara kedua hyung-nya itu. Saat kedua namja yang lebih tua darinya itu menatapnya, Changmin berujar, "Bisa kecilkan suara kalian? Ada yang lebih kacau dari kalian dan dia butuh ketenangan."

Jaejoong menyeringai, "Maksudmu yeoja itu?" namja bermata bulat itu menatap tajam magnae-nya. "Yeoja yang sudah mengingkari janji yang ia buat sendiri? Kau pikir aku peduli padanya, hah?"

Changmin hendak menjawab tapi Jaejoong memotong kalimatnya, "Kau pikir siapa yang dikhianati di sini, HAH?"

"Jae/Hyung…" baik Changmin maupun Yunho mencoba memanggil namja menawan itu dengan nada yang halus.

"Yeoja itu…menikah dengan orang yang kucintai…bersedia mendukung hubunganku dengan Yunho…tapi…kenapa sekarang yeoja itu kini menjilat ludahnya sendiri, hah? Dia mencintai Yunho-ku?"

Yunho dan Changmin diam. Lebih tepatnya tak tahu harus menjawab apa.

"Lebih baik, dari awal aku tidak mengijinkannya masuk dalam hubunganku dan Yunho. Bitch!" ucap Jaejoong sarkartis.

Tanpa membuang waktu, Jaejoong memilih beranjak dari tempatnya. Mengambil jaket dan barang-barangnya di sofa ruang tamu dan segera memakainya. Tapi belum sampai ia selesai, sebuah suara yang tidak ingin didengarnya justru terdengar sampai gendang telinganya.

"Jae Oppa…." Hyena berdiri di ambang pintu kamarnya, di belakang Changmin. Melangkah perlahan ke arah Jaejoong lalu meraih lengan namja itu yang justru ditampik kasar. "Mianhae, Oppa… aku…"

"Kau pikir dengan mengucapkan maaf semuanya kan kembali seperti semula, huh?" potong Jaejoong tanpa menatap balik Hyena yang tepat berada di sampingnya.

Hyena diam, membisu. Otaknya menyusun kata-kata yang terasa menyangkut di tenggorokannya.

Bruk!

"Hyena-ah!"

"Jae Oppa… Jebal, jangan salahkan Yunho Oppa." Mohon yeoja itu sambil memeluk kaki jenjang Jaejoong yang masih berdiro di depannya. "Ini semua salahku. Benar bahwa seharusnya dari awal aku tidak berada di antara kalian. Aku yang salah, aku yang bodoh."

Yunho dan Changmin hanya diam. Mereka tak bisa mengganggu Hyena karena mereka tau ini adalah kemauan yeoja itu. Atau kalau mereka menghentikannya, yeoja itu akan terus terpuruk.

"Jae Oppa… jebal, katakana padaku…apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku? Jebal Oppa…" lagi-lagi Hyena tak mampu menahan air mata yang kini telah jatuh lagi dari pelupuk amtanya

"Pergilah dari sini dan jangan muncul lagi di hadapan kami." Titah Jaejoong dingin.

"Jae!/Hyung!" pekik Yunho dan Changmin yang tak menyangka bahwa Jaejoong akan dengan lancar mengatakan hal itu.

"Jae, jangan begini. Kita bisa menyelesaikan ini dengan baik. Jangan gegabah, Jae." Kali inni Yunho menyuarakan pendapatnya. Ia tak peduli jika nanti kekasihnya itu marah padanya. Ia hanya kasihan pada Hyena.

"Cih! Kau masih berani membela yeoja ini, Yunho-yah? Sedangkal itukah rasamu padaku?" sindir Jaejoong masih kekeh di tempatnya. Tanpa menatap lawan bicaranya.

Baik Yunho dan Changmin diam lagi.

"B-baiklah, Oppa. J-jika itu bisa membuat Oppa mau memaafkanku, aku…akan pergi…" ucap Hyena terbata.

"Kka! Sekarang lepaskan tanganmu dari kakiku! Dan segeralah pergi dari sini!"

Hyena mengiyakan dalam hati. Ia berdiri dari posisinya dan segera berjalan pelan ke arah kamar. Bermaksud mengemasi barangnya dan segera pergi dari tempat yang tidak menginginkan keberadaannya lagi.

Changmin terdiam saat Hyena melewatinya namun dengan cepat tangannya menahan lengan Hyena. "Kau…akan tinggal di mana?" tanya namja jangkung itu yang masih bisa didengan oleh Yunho dan Jaejoong.

Hyena diam. Tak ada tanda-tanda niatan untuk menjawab.

Changmin menghela nafas berat, "Tinggallah denganku."

"Changmin?" Yunho terkejut. Sejak kapan Changmin membiarkan orang asing tinggal di rumahnya? Bahkan ia sendiri sangat jarang menginap di rumah sang magnae sekalipun namja jangkung itu tinggal sendiri.

Sedangkan Jaejoong, entah apa yang sedang dipikirkan namja cantik itu.

"Jika kau sudah tidak dibutuhkan di sini, tinggallah denganku. Aku…membutuhkanmu."

Hyena masih terdiam di tempat bahkan kini yeoja itu tak kuasa mengangkat wajahnya.

"Cih! Yeoja seperti itu tidak pantas tinggal denganmu, Changmin-ah!" tegur Jaejoong lagi-lagi dengan kata-kata yang tak biasanya ia gunakan.

Changmin bisa merasakan tangan yang digenggamnya tengah bergetar menahan tangisan yang bisa keluar kapan saja. Changmin menatap hyung tertuanya tajam, "Kau…bahkan lebih buruk lagi." Changmin menghela nafas sebentar. "Kau…bukan KIM JAEJOONG yang kukenal. Annyeong!"

Buru-buru Changmin menarik Hyena masuk ke kamar yeoja itu dan menutup pintu dengan keras.

.

.

.

"Yunho-yah… apakah benar…ini bukanlah aku yang sesungguhnya?"

"….."

TBC

Akhirnya, bisa nerusin sampai sini.

Hohoho, thanks buat dukungan dari readerdeul yang bisa dihitung dengan jari /(^_^)\\

Yah, aku tahu banyak yang nggak suka sama ini ff tapi yah…aku masih mau mempertahankan ff dengan konflik terberat yang pernah aku buat. Hehehhe….

Jangan ada yang marah sama Jaejoong atau Yunho apalagi Hyena ya?

Bagaimanapun juga yang bikin skrip-nya kan aku jadi ya bash aku saja…

.

.

Last word, mind to review?