Di ruangan itu, suasana masih mencekam. Keheningan semakin mencekik suasana di antara kedua namja di sana. Seorang namja berkuli putih pucat masih berdiri menghadap pintu tanpa bergerak barang sesenti pun. Entah memikirkan apa. Sementara namja tampan yang lain tengah menatap namja bermarga Kim yang masih bergeming di tempatnya.

Tak kuasa dengan keheningan yang menyelimuti keduanya, seorang diantara mereka mencoba membuka suara. "Yunn…"

Tap

Namja tampan itu berdiri, berjalan pelan menghampiri lawan bicaranya.

Grep!

Jaejoong tersentak. Yunho melingkarkan lengan kekarnya di sekitar pinggang ramping Jaejoong. Menyerukkan hidungnya di perpotongan leher Jaejoong, menyalurkan kekuatan untuk bertahan dan percaya. Jaejoong bergeming.

"Jae… " Yunho mulai membuka suara. "Terkadang ada hal yang tidak sesuai rencana. Lepas kendali dan berada di luar jangkauan manusia. Begitupun hubungan kita." Yunho menghembuskan nafasnya perlahan. "Tidak semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita. Manusia ditakdirkan untuk menjalankan scenario yang telah dibuat Tuhan dan kita…tidak bisa menghindarinya."

Perlahan, Jaejoong menundukkan kepalanya dan Yunho tahu, tubuh yang tengah dipeluknya itu tengah gemetar. Menangis mungkin?

Yunho mengeratkan pelukannya, sekali lagi memberi kekuatan untuk kekasih hatinya. "Kita…tengah diuji Tuhan, Jae… Percayalah, Jae, suatu saat nanti kita akan memetik kebahagiaan yang kita inginkan. Dengan atau tanpa kebersamaan kita."

Jaejoong menutup mukanya. Menyembunyikan isakan yang hendak lolos dari bibir cherry-nya. Dan bibirnya hanya bisa bergumam, "Mianhae…" entah pada siapa.

Between You and Him

-Chang Min Sa-

2014

YunJae and YunJae shipper

++CHAPTER 7++

Keesokkan harinya….

Kala Hyena membuka mata, ia merasa tidak mengenal ruangan itu. Ia tidak mengerti mengapa ia berada di tempat yang bukan miliknya. Dan ketika kejadian semalam menghampiri ingatannya, ia ingin mnampar dirinya sendiri.

Cklek!

Suara pintu yang dibuka terdengar di telinganya. Hyena menoleh dan mendapati seorang namja jangkung yang semalam telah berusaha menenangkannya. Changmin yang telah membawanya dari perseteruan yang cukup menguras pikirannya.

Changmin meletakkan nampan yang berisi sarapan di atas meja lalu duduk di tepi tempat tidur Hyena. Mengusap rambut Hyena perlahan lalu berhenti saat tangannya menyentuh pipi lembut yeoja itu. "Good morning, Baby~"

Hyena menatap Changmin sendu. Ia merasa bersalah pada namja jangkung itu. Setelah mereka sama-sama mengakui perasaan mereka, kejadian buruk yang menimpanya tempo hari seakan menamparnya. Memperingatkannya bahwa ia tak pantas untuk Changmin.

Matanya mulai panas dan ia yakin jika sekali ia mengerjabkan mata, air mata itu akan tumpah.

"Hei, ini pagi yang cerah… Jangan awali hari ini dengan tangisan, ne?" tutur namja jangkung itu sambil mengusap pipi lembut Hyena.

Hyena memejamkan mata, mencoba menikmati sentuhan di wajahnya. "M-mianhae…"

Changmin menggeleng. "Aniya. Ini bukan kesalahanmu. Ini adalah kehendak Tuhan, jadi kau tidak boleh menyesalinya. Ne?"

Hyena mengangguk pelan, meski ia tak yakin bahwa semuanya akan kembali seperti semula. Ia terlalu takut.

"Jja! Sekarang makanlah… yakinlah jika semuanya akan baik-baik saja."

Hyena tersenyum untuk pertama kalinya semenjak kepulangannya dari Gwangju. "Ne. Gumawo, Oppa…"

.

.

.

Setelah pertengkaran tempo hari di apartemen Yunho, Hyena benar-benar pergi dari tempat itu. Ia tak sanggup jika harus berada di satu rumah dengan namja yang telah merenggut keperawanannya, sekalipun namja itu adalah suaminya sendiri. Ia tidak menyalahkan Yunho karena ia sadar kalau ia juga salah karena tak mampu mengendalikan diri saat itu. Meski kejadian itu adalah kecelakaan yang dibuat keluarga mertuanya, ia tak marah. Tak seharusnya marah setelah ia sadar apa yang telah ia lakukan dibalik keluarga sang suami.

Awalnya Hyena hendak kembali ke apartemen lamanya namun Changmin dengan keras memaksanya untuk tinggal dengan namja jangkung itu. Changmin mengkhawatirkan Hyena yang sewaktu-waktu hilang kendali dan malah bisa membahayakan dirinya sendiri. Lagipula namja jangkung itu juga ingin menghabiskan waktu senggangnya dengan sang pacar. Yah, meski ia tak yakin apakah bisa disebut begitu.

Sementara itu hubungan Yunho dan Jaejoong sudah mulai kembali seperti semula. Jaejoong lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen Yunho daripada di rumahnya, mungkin karena masih trauma. Jaejoong tak tahu, apakah ia bisa memaafkan Yunho dan Hyena sekalipun mulutnya berkata 'iya'.

.

.

.

Pagi di akhir pekan, lagi-lagi Changmin terbangun karena mendengar suara orang muntah. Beberapa malam terkahir ia tidur dengan Hyena karena khawatir dengan kesehatan Hyena yang menurun dari hari ke hari. Namja jangkung itu tentu tak mau jika yeoja manisnya itu sakit. Berkali-kali diajak ke rumah sakit pun tak mau dan ia hanya berharap semoga yeoja itu hanya sakit ringan.

"Uhuk! Uhuk! Hueekk!"

Changmin memaksakan diri untuk duduk, mengucek matanya dan mencoba meraih nyawanya yang masih melayang. Perlahan namja jangkung itu berdiri dan menyeret kakinya ke kamar mandi. Mulai mengetuk pintu kaca di depannya.

Tok! Tok! Tok!

"Baby~ gwenchana?" tanya Changmin cemas.

Selang beberapa detik tak ada jawaban dari dalam dan Changmin mulai mengkhawatirkan Hyena. Namja jangkung itu memegang engsel pintu dan memutarnya dan Gotcha! Pintu tidak terkunci seperti biasanya. Changmin segera berhambur masuk dan menemukan Hyena sedang meringkuk memegangi perutnya di depan wastafel.

"Hyena-ah! Gwenchana?" tanya Changmin khawatir sambil menegakkan tubuh Hyena di depannya. Dilihatnya wajah manis itu kian pucat.

"Oppa… dari mana Oppa masuk?" tanya Hyena keluar dari pembicaraan.

Changmin menggeleng tak habis pikir, "Itu tak penting sekarang. Jja! Kita ke rumah sakit sekarang!"

Hyena menggelengkan kepala dengan keras. Matanya mengeluarkan air mata tanpa sebab. "Andwae, Oppa! Andwae!"

Changmin tetap memaksa sambil menggendong Hyena di punggungnya, "Kali ini tidak ada penolakan. Kita akan tetap ke rumah sakit."

"Andwae, Oppa! Andwae! Hikss…"

.

.

.

hospital …

Rumah sakit itu masih tampak sunyi. Hanya ada beberapa perawat dan pasien yang berjalan-jalan di lorong. Pasangan itu tampak cemas menunggu hasil tes kesehatan yang dilakukan beberapa waktu lalu. Salah satunya tampak meremas-remas jemarinya, gugup atau takut. Hingga sebuah suara membuyarkan keheningan diantara mereka.

"Nona Cho Hyena!"

Hyena tersentak kaget, mungkin karena pikirannya sempat melayang entah ke mana.

"Ah, ne!" teriak Changmin menyahut panggilan sang suster. Namja jangkung itu segera meraih bahu dan lengan kanan Hyena dan mengajaknya berdiri, "Jja! Kita masuk ke dalam. Dokter sudah menunggu kita."

Dengan langkah lesu, Hyena beranjak dari tempatnya. Rasanya, ia ingin menghilang dari bumi sebelum semuanya terlambat. Ia tak yakin apakah ia bisa mendengar penjelasan dokter sampai akhir. Ia tak yakin.

Begitu sampai di ruangan serba putih itu, Changmin mengajak Hyena duduk di depan sebuah meja di hadapan sang dokter. Menunggu sang dokter untuk mengatakan hasil tes kesehatan Hyena. Setelah merasa nyaman di posisinya, Changmin bertanya pada dokter.

"Jadi, Dok, apa sakit Hyena?" tak lupa Changmin menunjukkan raut khawairnya pada sang dokter yang kini tengah tersenyum tak jelas.

"Nona Cho tidak mengalami sakit yang serius tapi…."

"Tapi apa, Dok?" tanya Changmin tak sabaran. Ia bahkan tak sadar bahwa ia tengah meremas jemari Hyena yang sedang digenggamnya. Dan Changmin semakin bingung kala namja berusia sekitar empat puluhan itu mengulurkan tangannya. Dengan ragu Changmin menyamut uluran tangan itu.

"Selamat Tuan Shim, Nona Cho positif hamil dan kini usia kandungannya memasuki tiga minggu."

DEG!

Hyena makin menundukkan wajahnya. Inilah yang ia takutkan jika ia dibawa ke rumah sakit. Ia tak ingin mendengar satu kata yang bisa menghancurkannya kapan saja. Sebagai seorang yeoja, tentu ia tahu kapan ia berada di masa subur dan sialnya ia berhubungan di masa itu. itu sebabnya Hyena sangat terpukul dengan kejadian sebulan yang lalu. Ia merasa gagal menjadi seorang teman bagi idola dan tentu saja ia merasa mejadi seorang pengkhianat sekarang.

Tak jauh berbeda dengan Hyena, Changmin merasa dunianya runtuh. Ia tak percaya dengan pendengarannya. Ia merasa tak ingin ada di sana, ia menyesal membawa Hyena ke sana. Tapi apa boleh buat?

"Nah, Tuan Shim. Jagalah istri Anda baik-baik. Karena ini adalah kehamilan pertamanya, rawatlah dia dengan baik. Jangan biarkan istri Anda terlalu stress dan kecapekan. Itu bisa membahayakan janinnya." Tutur dokter itu setelah melepaskan tautan tangannya dengan Changmin. Namja paruh baya itu tampak menuliskan sesuatu di secarik kertas lalu memberikannya pada Changmin. "Ini adalah daftar makanan yang harus dikonsumsi Nona Cho dan jangan lupa berikan susu khusus ibu hamil, Tuan Shim."

Namja jangkung itu mengangguk lesu. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menyeret Hyena keluar dari ruangan itu.

"That's why I don't wanna let you bring me to this place, Oppa…" katanya letih. Yeoja itu makin menundukkan wajahnya. Menahan isakannya dan kembali bersuara, "Jeongmal mianhae…"

.

.

.

Mobil Audi hitam itu baru saja sampai di parkiran sebuah café pinggir kota. Seorang namja tampan turun dan disusul seorang namja lain yang berparas cantik. Keduanya berjalan beriringan ke arah café dan begitu masuk, mereka mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang telah mengundang mereka untukmengobrol di tempat yang tidak biasa merka kunjungi.

Salah satu dari mereka menemukan sang pengundang dan segera menarik temannya untuk beranjak. Begitu sampai di hadapan namja jangkung yang mengundangnya, namja cantik itu bertanya. "Changmin-ah, ada apa? Kenapa mengundang kami di sini? Bukankah jika ada yng ingin kau bicarakan, kau bisa berkunjung ke apartemen Yunho, huh?"

Changmin, namja jangkung yang mengundang mereka, tampak acuh dan justru mengalihkan pembicaraan. "Duduklah dulu, Jaejoong hyung, Yunho hyung…"

Kedua namja itu ─yang tak lain adalah Yunho dan Jaejoong ─ segera mendudukkan diri di depan Changmin. Baru saja Yunho hendak bertanya, Changmin sudah mengangkat tangannya dan memanggil seorang pelayan.

"Pesanlah makanan dulu, jangan terlalu serius." Kata Changmin begitu menyadari raut tanya di wajah kedua hyungnya.

Setelah menyebutkan beberapa pesanan, keadaan menjadi hening dan canggung. Tak ada satu pun yang berusaha untuk mencairkan suasana. Changmin tampak sibuk dengan pikirannya sedangkan Yunho dan Jaejoong hanya menatap magnae mereka tanpa clue. Sulit menebak apa yang sedang dipikirkan namja jangkung itu.

Hingga pesanan tiba, Changmin tak kunjung membuka suara. Bahkan namja jangkung itu seakan terlalu larut dengan makanannya. Mau tak mau Yunho dan Jaejoong mulai menyantap makan malamnya. Jarang-jarang mereka keluar untuk makan bersama.

"Hyena hamil."

DEG!

Hanya dua kata yang mampu meruntuhkan dunia dua sejoli yang tengah menikmati makan malamnya. Diliriknya Changmin yang sudah selesai dengan makan malamnya dan kini sedang mengelap sudut bibirnya yang terkena saos. Lalu namja jangkung itu menatap namja tampan di hadapannya penuh amarah.

"Tiga minggu. Janinnya berusia tiga minggu." Kata Changmin santai. Namja jangkung itu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan masih menatap lurus Yunho yang tampak seperti patung. "Belum terlalu tua untuk meminta menggugurkan janinnya."

Brak!

"Changmin-ah! Apa maksudmu!" bentak Jaejoong setelah menggebrak meja di depannya. Beruntung café itu sedang sepi pengunjung mengingat waktu sudah cukup larut.

Changmin tersenyum mengejek. "Tapi aku tidak akan membiarkan kalian melakukan hal itu."

"Siapa yang memintanya melakukan hal keji itu Changmin? Kami bahkan baru saja mengetahuinya." Teriak Jaejoong lagi. Ia sungguh tak habis pikir dengan magnae-nya yang tega menuduhnya melakukan hal yang tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya.

Kini Changmin beralih menatap hyung tertuanya dengan tatapan tajam, "Sebelum kalian sempat memikirkannya aku akan mencegahnya terlebih dahulu."

Baik Yunho maupun Jaejoong hanya diam.

Changmin menghela nafas sebentar lalu mengeluarkan dompetnya dan meletakkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya. "Kurasa perbincangan kita cukup sampai di sini, Hyung. Aku harus cepat pulang agar Hyena tidak kesepian. Aku takut dia melakukan hal-hal yang buruk untuknya dan janinnya."

Changmin menggeser kursinya dan berdiri di hadapan kedua hyungnya. Berbalik untuk pergi tapi tertahan saat ia mengingat sesuatu. "Oh, ya. Aku sudah bilang pada manajer hyung untuk mengambil cuti untuk beberapa bulan ke depan. Yah, setidaknya sampai bayi Hyena lahir. Kami akan pergi ke suatu tempat yang tidak bisa kalian jangkau," Changmin menolehkan kepalanya melirik Yunho dan Jaejoong yang masih membeku di tempatnya. "dan jangan sekalipun berharap kalian bisa mengambil Hyena dariku."

Dan langkah Changmin yang mejauhi meja itu terasa membawa kesadaran mereka semakin jauh. Sulit diduga. Dunia ini…memang penuh kejutan.

TBC

Ada yang dendam sama aku?

Hahahahaha…. Gapapa wajar kok.

Btw, ada yang sebel sama aku karena ngotot nyelesaiin ff ini ya?

Yah, beginilah aku.

Sebenernya ide awal ff ini adalah saat aku ingat pertanyaan temenku,

"Gimana kalo ternyata YunJae itu nggak nyata dan ternyata mereka sudah punya pasangan masing-masing?"

Nah, aku mulai mikir…

Nggak semua hal itu sama dengan kelihatannya. Bisa aja kan YunJae Cuma pura-pura.

But, well… YunJae is so damn real!

Tapi siapa juga yang tahu dengan kenyataan terburuknya?

Aku sih siap-siap aja kalo kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi, walaupun aku nggak pingin itu terjadi.

Dan kalo ada yang marah dan bash aku karena ff ini terkesan nyata, aku berterimakasih coz itu menunjukkan kalo ff ini berhasil membawa reader-deul masuk ke dalam ceritanya.

.

.

.

Last word, what's your answer if I ask,

"What will you do if YunJae is not real?"