Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari tapi namja manis itu tak jua mampu menutup mata. Seakan tenaganya masih utuh padahal tidak sama sekali. Ia lelah namun entah mengapa ia tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Namja cantik itu hanya menatap lurus langit-langit kamarnya tapi pikirannya entah berada di mana. Kosong.

"Boo, kau sudah tidur?" sebuah suara bass sedikit menyentaknya. Namja cantik itu mengerjabkan matanya pelan, meraih kesadarannya.

"Aniyo. Aku tidak bisa tidur, Yun…" bisik namja cantik yang tak lain adalah Kim Jaejoong. Namja cantik itu mengusap wajahnya kasar. Ia tak bisa berpikir jernih sekarang.

"Tidurlah. Kita pikirkan masalah ini besok. Aku tahu, kita sama-sama lelah dan tidak ada gunanya memikirkannya sekarang." Namja tampan ─Jung Yunho─ menngubah posisi tidurnya. Menyamping menghadap Jaejoong. Diraihnya kepala namja cantik itu lalu disandarkan ke dada bidangnya. Sekedar memberi kenyamanan untuk namja terkasihnya.

Jaejoong menghela nafas pelan. Ia sadar bahwa ia hanya bisa tenang jika sudah diperlakukan seperti ini. Ia tak bisa marah pada Yunho sekalipun hati kecilnya sedikit banyak menyalahkan namja Jung itu. "Yunnie….apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Sssstttt!" Yunho mengusap helaian rambut namja di pelukannya itu. "Kita akan membahas itu besok, Boo…"

Jaejoong menggeleng samar dalam pelukan Yunho. "Aniyo, Yun. Aku tidak akan bisa tidur jika aku belum menemukan jalan cerah untuk masalah ini, Yun."

Yunho menghela nafas kasar. Ia membenarkan perkataan Jaejoong karena sejujurnya ia merasakan hal yang sama. Namja tampan itu hanya tidak ingin membuat namja cantiknya itu terbebani. "Entahlah, Boo… aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Ini benar-benar menguras pikiranku."

Jaejoong bergerak sedikit. Mengubah posisi tidurnya sehingga ia bisa melihat wajah tampan Yunho. "Yunn, kau harus bertanggungjawab."

"Aku harus bertanggungjawab bagaimana? Aku sudah menikahinya, Boo?" pertanyaan balik Yunho justru menjadi belati bagi Jaejoong.

Namja cantik itu menyembunyikan wajahnya. Ia merasa bahwa ialah salah karena tetap mempertahankan hubungannya dengan Yunho padahal istri Yunho-lah yang menghendakinya. Tapi Jaejoong bukanlah manusia tanpa hati, jadi sedikit banyak ia merasa bersalah juga. "Mianhae…" lirihnya.

Yunho mulai panik, ia merasa bersalah karena menyinggung perasaan kekasihnya itu. Yunho merasa menjadi orang egois sekarang. "Aniyo, Boo. Ini salahku." Yunho mengeratkan pelukannya pada Jaejoong.

Dan malam itu, keduanya hanya mampu membagi kehangatan lewat pelukan. Meresapi aroma yang menyejukkan dan menenangkan bagi keduanya. Setidaknya, mereka harus bisa menjernihkan pikiran mereka sebelum memikirkan jalan keluar untuk badai satu ini.

Between You and Him

-Chang Min Sa-

2014

YunJae and YunJae shipper

++CHAPTER 8++

Ketika ia membuka mata, ia tak bisa mengenali tempatnya berada. Lagi-lagi ia lupa di manakah ia berpijak. Setelah beberapa minggu tinggal bersama namja jangkung yang menyayanginya, kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa ujian itu semakin besar. Seperti pohon semakin tinggi semakin besar hembusan angin yang menerpanya.

Tak!

Bunyi gelas yang diletakkan di atas meja seakan membangunkan Hyena dari lamunannya. Dilihatnya namja jangkung itu tengah menggeser kursi di samping tempat tidur lalu duduk di sana. Namja jangkung itu membantu Hyena bersandar di kepala ranjang lalu menyodorkan segelas susu coklat pada yeoja itu.

"Jja! Minumlah sebelum dingin." Titahnya sambil meraih susu coklat miliknya sendiri lalu meneguknya. Seolah memberi contoh pada sang yeoja agar mengikutinya.

Yeoja manis itu menatap Changmin dan segelas susu di depannya bergantian. Ia sadar bahwa susu di depannya bukanlah susu yang biasa dinikmati, itu adalah susu khusus ibu hamil dan ia benci mengakui kalau ia tengah berbadan dua. Rasanya ia ingin menangis.

Tersentak ia saat sebuah tangan besar menyentuh rambutnya dan mengusapnya pelan. Ditolehkannya kepalanya menatap namja jangkung yang tengah menatapnya sambil tersenyum. "Gwenchana?"

Dan yeoja itu hanya bisa menggeleng, berusaha menahan air mata yang hendak keluar dari mata beningnya. Ia benci menangis. "A-aniya, Oppa… J-jangan begini… Seharusnya..hiks..seharusnya..Oppa membenciku..hiks…bukannya malah menolongku..hiks…" Yeoja itu menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Menutupi air mata yang keluar tanpa bisa ia bendung.

Segera Changmin meraih kedua bahu yeoja itu dan mulai menggumamkan kata-kata penyemangat. "Sssstttt, Hyena… jangan bicara seperti itu. Aku tidak bisa membencimu…Kau terlalu berharga bagiku… jangan meminta hal yang tidak mugkin, ne?"

Hyena ─yeoja itu─ hanya mampu meredakan tangisannya sedikit demi sedikit. Ia tak mau membuat orang yang sudah menolongnya menjadi semakin susah. Biarlah semuanya berlalu yang terpenting ia harus bisa menjaga diri dan bayi yang tengah tumbuh di rahimnya. Meski ia ragu, untuk siapa ia mempertahankan janin yang bahkan tidak diinginkannya itu?

"Waeyo, Chagi?" tanya Changmin menyadarkan Hyena yang ternyata tengah mengelus perutnya pelan. Changmin menatap Hyena penuh tanya, menunggu jawaban yeoja manis itu.

"Oppa… sesungguhnya aku tidak tahu… untuk siapa aku mempertahankan janin ini? Padahal sekalipun aku tidak pernah menginginkan keberadaannya, Oppa…" keluh Hyena sambil menatap Changmin sendu.

Changmin terkejut. Tenggorokannya tercekat. Ia bingung akan menjawab seperti apa. Ia juga tak tahu mengapa ia juga berusaha membantu Hyena agar tetap mempertahankan janin yeoja itu. Dan namja jangkung itu hanya mampu mengeratkan pelukannya.

Hening beberapa saat membuat Hyena putus asa. Yeoja itu hampir saja mengeluarkan suaranya kalau saja ia tak kalah cepat dari pernyataan Changmin.

"Aku bersedia menjadi appa-nya jika Yunho Hyung tidak menerima bayimu. Aku berjanji."

"Oppa!" Hyena melepaskan pelukan Changmin dan menatap namja jangkung di sampingnya serius. "Kau bercanda kan?"

Bukannya menjawab, Changmin justru tersenyum lalu mencubit hidung merah Hyena. "Menurutmu aku bercanda? Aku serius, Chagi-ya…"

Hyena mengerjabkan matanya tak percaya. Ia menatap mata Changmin mencari kebohongan di sana tapi ia tak bisa.

Menyadari ketidak percayaan Hyena, Changmin berinisiatif memeluk yeoja manis itu lalu berkata, "Dengarkan, Oppa ne? Aku bersedia menjadi appa dari bayimu, itu pun jika Yunho hyung tidak mau menerimanya. Karena bagaimana pun juga bayi ini mempunyai ayah kandung. Jika ayah kandungnya menerima, aku akan mengalah. Tapi jika tidak, aku bersedia membantu. Arrachi?"

Meski masih ragu dan tak mengerti maksud namja jangkung itu, Hyena tetap mengiyakan.

.

.

.

Hari itu Hyena sedang sendirian di rumah karena Changmin sedang pergi entah ke mana. Hyena yang bosan tingkat akut pun berinisiatif untuk keluar rumah. Selama ini, Changmin melarangnya keluar kecuali namja jangkung itu mengajaknya. Tapi untuk kali ini Hyena ingin memanfaatkan kesempatan langka itu.

Berbekal uang tabungannya dan peta di ponselnya, Hyena menuju halte terdekat dan menumpanginya dengan tujuan mall sekitar kawasan itu. Hyena yakin, setidaknya ia bisa membunuh rasa bosannya di sana sekalipun ia tak begitu menyukai tempat luas seperti mall.

Beberapa jam berputar-putar di mall, Hyena merasa puas dengan hasil belanjaannya di tangan kanan dan kirinya. Yeoja itu merasa mulai lelah. Ia memutuskan untuk istirahat di cefetaria di mall itu. Tapi karena kurang berhati-hati, Hyena sempat menabrak seseorang dan terjatuh di depan pintu cafeteria yang ditujunya. Beruntung orang itu bersedia membantunya mengambil barang-barang belanjaan yang tercecer.

"Gamsahamnida… gamsa_"

Dan seolah Hyena ingin memutar waktu. Yeoja itu menyesal telah melanggar perintah Changmin yang melarangnya untuk keluar rumah.

Segera Hyena berdiri dan berbalik namun belum sempat yeoja itu melangkahkan kakinya, ia merasakan tangannya tengah dicekal oleh namja penolongnya.

"Kita harus bicara, Hyena-ah!" tegas orang itu yang tak lain adalah Kim Jaejoong.

Hyena menghembuskan nafasnya kasar. Mau tak mau ia harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Dan yeoja itu hanya mampu pasrah saat Jaejoong membawanya memasuki café itu.

Tanpa tahu ada sepasang mata yang menatap keduanya heran dan penasaran.

.

.

.

Selama beberapa saat, keheningan menyelimuti keduanya. Meski makanan dan minuman yang telah mereka pesan sudah hampir habis, tapi tak ada satu pun yang bersuara. Seolah mengabaikan kecanggungan yang menyesakkan itu.

"Apa kabarmu sekarang?" tanya Jaejoong memecah keheningan.

"Baik." Jawab Hyena singkat. Sungguh ia masih belum berani mengeluarkan isi otaknya pada Jaejoong sekarang. Ia belum siap.

Hening lagi beberapa saat hingga Jaejoong bertanya, "Jadi, sekarang kau tinggal di mana? Apakah masih satu atap dengan Changmin?"

Hyena mendongakkan kepalanya, menatap namja yang masih berstatus sebagai kekasih suaminya, itu pun atas permintaannya sendiri. Setelah bersusah payah meyakinkan keduanya kalau ia tak akan mengganggu hubungan Yunho dan Jaejoong, ia justru mengkhianati kepercayaan mereka. Ia menyesal telah menjadi orang ketiga dalam hubungan itu.

"Hye_"

"Kami tinggal di dekat sini." Potong Hyena sebelum namja di depannya mengatakan hal lain.

"Ohh… baguslah." Jaejoong menjawab canggung pula. "Hmm, bagaimana dengan…emm…" Jaejoong tampak ragu mengatakan sesuatu.

Tanpa sepengetahuan Jaejoong, Hyena mengelus pelan perutnya yang mulai membesar. "Bayiku? Dia sehat."

Jaejoong terkejut. Ia tak menyangka bahwa yeoja di hadapannya mampu membaca pikirannya. Ia takut jika ia bertanya yeoja itu akan tersinggung, tapi ternyata yeoja itu terlihat baik-baik saja.

"Mianhae…"

Jaejoong terpaksa mendongakkan wajahnya yang sempat menunduk beberapa saat. Ia sungguh tak bermaksud membuat yeoja manis itu sakit hati. Entah mengapa meski ia merasa dikhianati, Jaejoong tidak bisa membenci yeoja itu begitu saja. Bahkan setelah apa yang terjadi diantara mereka.

"Hyena…"

"Aku sadar. Tidak seharusnya aku berada di posisi ini. Seharusnya aku menolak untuk menjadi orang ketiga diantara kalian. Seharusnya aku tidak sok pahlawan seperti ini. Inilah karmaku dan kini aku sungguh telah menyesal dengan keputusanku. Jebal, Jaejoong Oppa, mianhae… tolong maafkan aku." Hyena menundukkan kepalanya semakin dalam.

Jaejoong yang tidak mau keadaan semakin diluar kendali memutuskan untuk berkata, "Ne, aku sudah memaafkanmu. Jadi jangan bersikap seperti orang asing lagi, ne?"

"Jeongmal?" tanya Hyena dengan sinar harapan dalam mata beningnya.

Jaejoong tersenyum simpul lalu meraih kedua tangan Hyena yang berada di atas meja. "Ne. Aku benar-benar sudah memaafkanmu. Toh, ini sudah terjadi. Mungkin memang benar kata Yunho kalau hidup itu terkadang tidak sesuai dengan harapan kita. Manusia hanya mampu berusaha dalam rencana yang ingin digapainya. Dan Tuhan-lah yang akan memberikan kejutan-kejutan di dalamnya. Yang terpenting sekarang adalah jagalah apa yang kamu punya, Hyena.. Ne?" tutur Jaejoong sambil menatap Hyena ramah.

Mau tak mau hal itu cukup membuat Hyena terharu. Bahkan matanya sudah mulai mengeluarkan bulir-bulir air mata. Sensitif eoh?

"Gumawo, Oppa… Jeongmal gumawo…" pekik Hyena girang, tidak bisa menutupi kesenangannya. Setidaknya ia bisa sedikit tenang dengan pernyataan Jaejoong. "Aku benar-benar tidak tahu harus membalas seperti apa kebaikan Oppa."

Jaejoong tersenyum mencurigakan lalu mendekatkan wajahnya pada Hyena yang masih mengeluarkan air mata. "Bagaimana kalau memberitahuku di mana tempat sekarang kalian tinggal?"

"M-mwo? W-wae?" tanya Hyena gugup karena ia dilarang Changmin untuk memberitahukan alamat mereka sekarang pada siapapun.

"Hahahaha…. Sudahlah, kajja! Aku antar kau pulang sekarang, ne? Aku yakin kau pasti tidak bawa kendaraan." Ajak Jaejoong sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Hyena.

Hyena tersenyum senang, "Well, sebenarnya aku tadi naik bis ke sini." Jawabnya sambil berdiri.

"Mwo? Kau ke sini sendirian, eoh?" bentak Jaejoong tanpa sadar. Untung tidak terlalu keras. "Aish! Tiang listrik itu kenapa membiarkanmu berkeliaran sendiri sih?"

"Oppa… Aku ke sini karena keinginanku dan Changmin Oppa sedang pergi. Jadi daripada aku bosan di rumah lebih baik aku keluar. Dan…aku bukan hewan. Kenapa aku disebut berkeliaran, huh?"

"Hahaha…. Kau itu lucu sekali…" ejek Jaejoong sambil mencubit pipi tambun Hyena yang berhasil membuat yeoja manis itu mengerucutkan bibirnya, walau tidak mampu menandingi keimutan Jaejoong saat sedang merajuk.

Tak tahukah mereka, sedari tadi sepasang mata tengah mengawasi mereka dengan berbagai emosi yang campur aduk.

.

.

.

Semenjak kejadian itu, hubungan mereka berempat kembali seperti semula. Bahkan lebih dekat mengingat kini ada satu nyawa yang sedang ditunggu mereka. Jaejoong dan Hyena sering keluar bersama saat yeoja berbadan dua itu merasa bosan di rumah. Apalagi saat Changmin tidak ada di rumah. Jaejoong akan menemani Hyena jalan-jalan atau bahkan check up ke dokter. Rupanya Jaejoong benar-benar memaafkan yeoja itu.

Seperti sekarang ini, Hyena dan Jaejoong tengah menikmati akhir pekan dengan berbelanja di mall. Lagi-lagi di mall yang sama saat pertemuan pertama mereka karena Changmin tentu saja melarang Hyena untuk pergi jauh dari kediaman mereka sekarang. Terlebih mengingat kandungan Hyena sudah cukup tua dan Changmin pernah marah pada Hyena karena ketahuan keluar rumah. Akibatnya yeoja manis itu menjadi tahanan rumah selama beberapa minggu. Beruntung saat Jaejoong sedang free, namja cantik itu mengajak Hyena untuk keluar rumah. Tentu saja setelah perdebatan yang cukup alot dengan magnae-nya, Jaejoong berhasil membawa Hyena keluar dari sarangnya.

"Oppa… Aku mau ke toilet sebentar, ne?" pamit Hyena sambil menyerahkan barang-barangnya pada Jaejoong setelah keluar dari café di dalam mall itu.

"Eh, apa perlu kuantar?" tawar Jaejoong sedikit cemas mengingat usia kandungan Hyena yang sudah tua dan rawan.

Namun yeoja itu menggeleng cepat. "Aniyo. Aku masih bisa kok. Tunggulah di sini, ne?" tanpa menunggu jawaban dari Jaejoong, Hyena buru-buru pergi ke toilet.

"Huufftt, yeoja itu…."

.

.

.

Setelah dari toilet, Hyena buru-buru keluar karena ia tak enak hati membiarkan Jaejoong menunggu. Apalagi tadi setahunya ia merasa ada yang sedang mengikuti mereka. Takutnya, itu adalah seorang fans yang akan mengganggu Jaejoong. Bergegas Hyena menuju parkir karena Jaejoong baru saja mengiriminya pesan bahwa ia sedang menunggu di mobil. Hyena mempercepat langkahnya karena parkir ada di lantai dasar sedangkan ia berada di toilet yang selantai dengan café.

Tapi sepertinya takdir mengatakan lain, saat Hyena tengah menuruni tangga, seseorang tanpa sengaja menabrak bahunya. Hyena yang saat itu tak siap, otomatis terjatuh hingga ke lantai dasar.

Darah segar mengucur dari kepala dan bagian bawah tubuhnya.

Hyena hanya mampu mendengar beberapa riuh orang-orang di sekitarnya selama beberapa waktu lalu apapun yang dilihatnya adalah kegelapan.

TBC

Boring ya? Thank you karena udah baca ff membosankan ini.

Tenang aja, habis ini end kok.. trus epilog deh…

Kebetulan Minsa juga lagi persiapan UN jadi musti nyelesein ni ff secepatnya daripada ganggu pas UN?

Oh, ya… aku sih nggak berharap lebih dengan review readerdeul…

Aku sangat menghargai aspirasi kalian, entah itu baik atau buruk. Kalian sudah meluangkan waktu untuk baca ff ini aja aku udah berterimakasih, ne?

Sekedar kasih tahu aja kalo di part ini emang alurnya cepet pake banget…

Soalnya Minsa juga nggak tahu mau nulis apa? Daripada nggak jalan, mending aku tulis apa adanya aja, ne?

Udah, ne?

.

Berkenan?

.

Tinggalkan review?