Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasoDei
Warning: OOC, AU, typo(s), shonen-ai, gaje, aneh, dll.
Ada-ada saja ulah para fans untuk menyatukan Sasori dan Deidara, seniman dan artis terkenal yang sedang naik daun. Mereka bahkan membuat sebuah perkumpulan dan menamai diri mereka sebagai 'Reloves'. Apakah 'misi' mereka akan berhasil?
~SasoDei FansClub: Reloves~
'jepret'
Mereka sama-sama tersentak kaget kemudian saling menjauhkan diri dengan wajah sama-sama memerah karena terkejut dan juga malu. Deidara segera mengusap bibirnya dengan tangannya sendiri sedangkan Sasori terdiam, masih dengan raut wajah datarnya.
"Kyaaaaaaa!"
Sasori dan Deidara serentak menoleh ke arah asalnya teriakan tersebut.
Seorang gadis terlihat keluar dari balik pohon seraya melompat-lompat girang. Ia menatap layar kameranya sekali lagi lalu kembali berteriak.
"KYAAAAA SASODEIIII!"
Saso—apa?
Mendengar teriakan, Itachi terkejut dan segera menghampiri artisnya takut sesuatu terjadi kepada Deidara.
"Ada apa?" tanyanya kepada Deidara yang hanya diam menatap gadis di hadapannya. Itachi segera menoleh ke arah gadis yang membuat Sasori dan Deidara seolah tak bisa bicara apa-apa.
"SasoDei~~" perempuan berambut biru keunguan dengan hiasan bunga besar di kepalanya memeluk erat kameranya dengan wajah berseri.
"Saso...Dei?" tanya Itachi bingung.
Gadis itu mengangguk antusias kemudian menunjuk Sasori dan Deidara secara bergantian.
Barulah Itachi mengerti apa yang dimaksud dengan 'SasoDei'. Mungkin -ia hanya menebak- SasoDei berasal dari 'Sasori dan Deidara'. Lalu apa maksudnya?
"Ada apa dengan Sasori dan Deidara?" tanya Itachi kemudian ia menambah pertanyaannya, "Dan siapa kau?"
Gadis itu tertawa pelan. "Aku Konan."
"Baiklah Konan, apa yang kau lakukan disini?"
"Yah awalnya aku hanya mengikuti Deidara, aku penggemar beratnya. Kebetulan juga aku salah satu penggemar Sasori –lukisannya benar-benar luar biasa. Mm...Menurutku menarik jika kedua idolaku bertemu, lalu secara tidak sengaja aku mendapatkan ini," ujarnya kemudian menunjukkan sebuah foto di layar kameranya kepada Itachi.
Itachi tersentak.
Wajah Deidara memerah.
Sasori, ia hanya diam.
"Hehehe~ Mereka berciuman!" ujar Konan bersemangat.
Itachi menoleh ke arah Deidara, menatapnya dengan tatapan apakah-itu-benar
Deidara segera menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali un! Itu hanya kecelakaan—maksudku... aku tidak sengaja menoleh ke arahnya dan kebetulan wajahnya memang dekat dengan wajahku. Jadi ya... jadi itu tidak sengaja un!"
Itachi mengangguk pelan. Ia tahu itu pasti sebuah ketidaksengajaan karena Sasori dan Deidara baru saja saling mengenal jadi tidak mungkin mereka melakukan hal seperti itu. Tapi walaupun tidak sengaja, tetap saja ini bisa menjadi masalah besar.
"Tunggu sebentar," bisik Itachi pada deidara. Deidara hanya mengangguk.
"Bisa kita bicara?" tanya Itachi kepada Konan. Konan mengangguk kemudian mengikuti Itachi untuk menjauh dari Sasori dan Deidara.
Saat merasa lokasi mereka sudah cukup jauh dari kedua orang yang terlihat masih shock itu, Itachi mulai bicara dengan Konan.
"Aku tidak mengerti kenapa kau bisa masuk ke taman yang hari ini ditutup dan– lupakan tentang itu. Bolehkan aku membeli foto itu? Aku akan membayar dengan harga besar."
Tidak. Tentu saja Itachi bukan penggemar yaoi atau apalah itu. Ia ingin membeli foto itu agar foto itu tidak tersebar luas apalagi sampai tercium oleh media. Karier Deidara bisa hancur begitu saja jika sampai masyarakat tau.
Konan menggelengkan kepalanya. "Ah maaf tuan. Aku tidak akan menjual foto ini kepada siapapun. Tidak. Akan. Pernah."
Oh, Itachi lupa ia sedang berhadapan dengan seorang fangirl.
"Aku akan membayar mahal."
Konan menyeringai. "Mm... aku mengerti. Kau pasti tidak ingin foto ini sampai ke media kan? Tidak. Aku tidak akan menyebarkannya. Yah mungkin hanya kepada sesama reloves. Tapi ada syaratnya."
Perasaan Itachi tidak enak namun akhirnya ia mengangguk pelan, "Apa itu?"
"Kau harus bisa membuat agar Sasori dan Deidara sering bertemu."
"Tapi Deidara sangat sibuk dan_"
"Jadi?" tanya Konan dengan seringaian yang semakin lebar.
Itachi menghela napas. "Baiklah."
"Dan beri tahu aku kapan mereka akan bertemu dan dimana tempatnya," ujar Konan, "catat nomorku."
Dengan pasrah Itachi mengeluarkan ponselnya dan mencatat nomor ponsel gadis bernama Konan tersebut.
Sedangkan Sasori dan Deidara, mereka duduk di bangku taman. Terdiam. Canggung. Tidak nyaman.
Tadi bibir mereka bersentuhan.
Walaupun hanya beberapa detik, tetap saja bibir mereka bersentuhan.
Deidara mengigit bibir bawahnya. Itu ciuman pertamanya seumur hidupnya. Didapatkan oleh seorang seniman asing yang baru dikenalkan, terlebih lagi... ia seorang laki-laki.
Demi Tuhan, pikiran mereka benar-benar kacau karenanya. Atau mungkin lebih tepatnya, pikiran Deidara.
"Maaf." Suara dingin Sasori memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
Deidara menoleh untuk menatap wajah Sasori. Awalnya ia berpikir bahwa raut wajah Sasori akan menunjukan penyesalan atau raut wajah bersalah. Tapi ia salah, raut wajah Sasori ternyata datar dan biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Deidara kembali teringat betapa menyebalkannya laki-laki yang duduk di sampingnya itu.
"Ya, ya, bukan salahmu un," sahut Deidara.
"Lalu itu salahmu," ucap Sasori tanpa menatap ke mata Deidara.
Deidara mengernyitkan dahinya. "Aku mengatakan itu bukan salahmu bukan berarti itu salahku, un."
"Tapi pasti ada yang salah."
Darah Deidara mendidih karena emosi. "Harus ada yang salah un? Baiklah! Salahmu un!"
Sasori menatap mata Deidara sesaat, kemudian ia berkata dengan nada datar, "baiklah aku minta maaf."
Deidara menepuk dahinya cukup keras dengan telapak tangannya sendiri. Ia tak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran laki-laki berambut merah di hadapannya yang entah mengapa begitu menyebalkan. Selain menyebalkan, ia juga aneh menurut Deidara.
"Dei."
Deidara menoleh saat mendengar managernya memanggil namanya. Ia melihat Itachi tengah berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak, ditemani oleh gadis bernama Konan yang raut wajahnya berseri dan bahagia bukan main.
"Apa yang kalian bicarakan un?"
"Bukan hal penting," sahut Itachi. "Kau perlu istirahat. Kita pulang sekarang."
Deidara mengangguk. Itulah yang ia perlukan sekarang. Pulang ke rumahnya, tidur siang, dan melupakan kejadian 'kecil' yang menimpanya tadi.
Itachi melirik Sasori yang tengah merapikan peralatan lukisnya.
"Sepertinya kalian perlu mencari pelukis lain," ujarnya.
Itachi tersenyum, "Baiklah. Maaf atas apa yang terjadi."
Deidara menaikkan sebelah alisnya.
Sepertinya ini salah Itachi dan otousan, bisiknya dalam hati. Menemukan jawaban dari perdebatannya dengan Sasori tadi.
Setelah memasukan semua peralatannya –kecuali kanvasnya- ke dalam tas, Sasori menatap Deidara dan berkata, "Kuharap kita tidak akan bertemu lagi."
Deidara menyeringai, "Tentu saja kita TIDAK AKAN bertemu lagi."
Mendengar hal itu, Konan tersenyum lebar karena tentu saja ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Sedangkan Itachi hanya bisa menghela napas.
Kemudian ia tersentak saat mengingat kalimat Konan. 'Yah mungkin hanya kepada sesama reloves.' Jadi masih banyak 'Konan' lainnya di luar sana? Astaga ini tidak akan berjalan dengan mudah.
.
.
"Kyaaa Konan! Kirimkan foto itu padaku!"
"Aku juga, aku juga!"
"...Tidak."
"Oh ayolah~ Kau jahat sekali pada temanmu~"
Konan menghela napas, "Ino, Matsuri, Sakura, bukannya aku tidak ingin mengirimkan foto ini pada kalian. Aku sudah berjanji pada manager Deidara untuk tidak menyebarluaskan foto ini kepada siapapun."
"Bahkan kepada kami?" tanya gadis berambut merah muda dengan mata hijau emerald.
"Bahkan kepada kalian," sahut Konan tegas.
Terdengar desahan kecewa dari tiga orang gadis yang sedari tadi merengek meminta kepada Konan untuk mengirimkan foto yang oh-sangat-luar biasa-langka itu ke ponsel mereka masing-masing. Tapi karena Konan adalah gadis yang loyal dan bisa menepati janji, jadi ia memutuskan untuk tidak menyebarluaskan foto tersebut kepada siapapun.
"Tapi aku bisa menunjukannya kepada kalian," ujarnya kemudian berdiri dan berkeliling untuk memperlihatkan foto di kameranya kepada teman-temannya. Ia tetap memegang erat kameranya saat memperlihatkan foto tersebut karena takut salah satu dari temannya tiba-tiba merampas kamera itu lalu pergi dan tidak akan kembali. Oh, jangan pikir itu mustahil. Itu sama sekali bukan hal yang mustahil dan Konan tahu itu.
"Aw~ Ini Sasori? Tampan sekali!" Sakura memekik pelan.
Konan memutar bola matanya. "Tidak ada satupun yang boleh merebutnya dari Deidara."
Sakura mengangguk mengerti dan setuju dengan peringatan yang Konan buat.
"Astaga! Ini ketidaksengajaan yang paling indah!" pekik Ino –gadis berambut pirang panjang, saat melihat foto di kamera Konan.
Konan menyeringai. "Ini takdir."
Lalu terdengar teriakan-teriakan ala fangirls mengiringi dua kata yang Konan katakan tadi.
"Eh kudengar Sasori sering mengadakan pameran lukisan."
Pendengaran Konan yang tajam menangkap pembicaraan salah satu dari temannya yang duduk lumayan jauh darinya.
"Benarkah? Seberapa sering?"
"Dua kali setahun, mungkin."
Tiba-tiba sebuah ide melintas di pikiran Konan.
"Reloves, saatnya beraksi."
.
.
Artis muda itu menatap nanar langit-langit kamarnya. Sudah sejak sejam yang lalu ia berbaring di atas tempat tidurnya namun hingga saat ini ia belum bisa memejamkan matanya. Kejadian tadi siang berputar-putar di kepalanya seperti sebuah video. Ia menghela napas, mengubah posisi tidurnya untuk menatap jam dinding.
01.15
Sial. Sudah selarut ini. Sedangkan besok ia harus bangun pagi untuk urusan pekerjaan. Ia menghela napas.
"Sasori," gumamnya pelan.
Ajaib, rasa kantuk mulai menyerangnya dan ia mulai memejamkan matanya. Sesaat ia berpikir kenapa ia menyebut nama laki-laki yang sudah merebut ciuman pertamanya itu. Tapi belum sempat ia memikirkannya lebih jauh, rasa kantuk yang menyerangnya telah membawanya ke alam mimpi.
.
"Dei. Deidara, bangun."
Deidara menggumamkan kata-kata yang tidak jelas saat tidurnya terusik. Ia membalikkan tubuhnya, memunggungi siapapun yang tengah mencoba membangunkannya.
Terdengar helaan napas pelan. "Deidara, ada hal penting yang ingin kukatakan."
Saat itulah Deidara menyadari bahwa itu adalah suara Itachi.
"Katakan saja, Itachi," ujar Deidara seraya merapatkan selimutnya.
Itachi duduk di tepi tempat tidur Deidara. "Begini. Sasuke sakit dan sepertinya aku harus merawatnya. Kau tau kan dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri?. Jadi ya... maafkan aku Dei. Hari ini aku tidak bisa mengurus pekerjaanmu."
Deidara membuka matanya perlahan, mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali, "Lalu bagaimana un?"
"Jangan khawatir. Aku sudah meminta bantuan temanku untuk menggantikanku hari ini. Ia akan menjadi manager-mu hari ini."
Deidara hanya mengangguk kemudian memejamkan matanya lagi.
"Ini sudah jam tujuh, Dei. Cepatlah bersiap-siap. Dia akan datang setengah jam lagi," ujar Itachi kemudian berdiri. "Baiklah aku pergi dulu."
"Hmm," sahut Dedara dengan malasnya.
Setelah tidur dua puluh lima menit lebih lama, Deidara bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Waspada jika manager sementaranya adalah seseorang yang tidak bersahabat, jadi ia memutuskan untuk tidak membuatnya kesal karena menunggu dirinya. Begitu selesai membersihkan diri, ia mengenakan pakaian kemudian bergegas turun ke lantai bawah.
Deidara sedikit gugup saat seseorang sudah duduk di sofa ruang tamu, memunggunginya. Satu hal yang Deidara tahu, laki-laki itu berambut merah.
Tunggu. Sepertinya tidak asing.
"Maaf membuatmu menung–"
Ucapan Deidara terpotong saat laki-laki yang duduk di sofa itu menoleh ke arahnya. Menunjukan wajahnya kepada Deidara.
Itachi pasti bercanda, gumam Deidara dalam hati.
"ITACHIII!"
Laki-laki berambut merah itu mengembalikan perhatiannya kepada Televisi di hadapannya. "Dia sudah pergi," ucapnya.
"Kau–" Deidara menggeram "Apa yang kau lakukan disini un?"
"Menggantikan Itachi untuk hari ini," sahut Sasori tanpa menoleh.
"Oh kau mengatakan dirimu adalah seniman lalu sekarang kau beralih profesi menjadi manager artis, begitu un?"
Sasori menatap Deidara, memberikan tatapan tidak suka. "Ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku sebagai seniman. Aku disini untuk menolong temanku, mengerti?"
Deidara memutar bola matanya, "Ya ya, tapi kurasa aku bisa mengurus diriku sendiri. Jadi, kau boleh pergi dari sini un."
Sasori mengerutkan dahinya, "Kau mengusirku?"
Deidara menyeringai. "Bisa dibilang begitu un."
"Tapi maaf," Sasori berdiri dan merapikan bagian bawah kemejanya, "Aku datang kesini karena Itachi, jadi satu-satunya orang yang bisa mengusirku adalah Itachi."
"Tapi ini rumahku un!"
"Ya aku tahu. Sekarang cepat berangkat jika tidak ingin terlambat," ujar Sasori yang segera menarik tangan Deidara.
Jantung Deidara berhenti berdetak selama sepersekian detik lalu kemudian jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia juga merasakan pipinya memanas.
Apa-apaan ini? bisiknya dalam hati.
Mereka berjalan menuju mobil hitam milik Sasori. Segera Sasori membuka pintu depan dan sedikit mendorong Deidara untuk masuk ke dalam.
"Hey!" Deidara tidak melanjutkan protesnya karena Sasori segera menutup pintu dan berjalan menuju pintu yang lain. Begitu Sasori masuk ke dalam mobil, Deidara menatap ke luar jendela, sama sekali tak ada keinginannya untuk menoleh ke arah Sasori.
Begitu mobil mulai melaju di jalan raya pun, Deidara masih menatap ke luar jendela. Ia membenci fakta bahwa dirinya sesekali melirik Sasori dari ekor matanya. Dan ia pun mulai memberontak dalam hati.
Deidara tersentak saat mobil yang dikendarai oleh Sasori berhenti di pinggir jalan.
"Kenapa berhenti un?" tanya Deidara.
"Kau belum sarapan kan?" ujar Sasori seraya turun dari mobilnya.
Deidara tersentak. Sasori memperhatikannya?
"Aku tidak ingin Itachi memarahiku," ujar Sasori saat ia membukakan pintu untuk Deidara.
Deidara mengerutkan dahinya, menatap Sasori dengan tatapan tidak suka.
"Apa?" tanya Sasori. "Kau tidak suka aku membukakan pintu untukmu hm?"
"Kenapa kau selalu membawa nama Itachi un?"
"Kenapa memangnya?"
Deidara terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Entah mengapa ia tidak suka Sasori menyebut-nyebut nama Itachi.
"Kau tidak suka aku menyebut namanya karena kau merindukannya hm?" tanya Sasori lagi.
Deidara tak menjawab. Tentu saja yang diucapkan oleh Sasori itu tidak benar, namun Deidara merasa ia tak perlu menjawab. Ia hanya turun dari mobil Sasori dan melangkah masuk ke dalam sebuah restoran.
Sasori menutup pintu mobilnya, raut wajahnya berubah seketika. Kenapa tadi Deidara tak menjawab pertanyaannya? Apa itu berarti Deidara benar-benar merindukan Itachi? Dan lagi... Kenapa Sasori memikirkan hal itu?
Sasori menghela napas kemudian segera menyusul Deidara masuk ke dalam restoran. Begitu ia masuk, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, mencari sosok seorang laki-laki berambut pirang. Saat menemukan Deidara duduk di salah satu meja, ia segera menghampiri Deidara.
Tak menunggu berapa lama, seorang waitress datang menghampiri mereka dan menanyakan makanan apa yang ingin mereka pesan.
Deidara memilih makanan dan minuman di dalam menu kemudian menatap Sasori. "Kau pesan apa un?"
"Tidak. Aku sudah sarapan."
"Oh?" Deidara mengerjapkan matanya. Sedikit tidak percaya Sasori membawanya ke restoran ini hanya untuk kepentingan Deidara. Kemudian ia menoleh kearah waitress yang menunggu jawaban. "Itu saja un," ucapnya.
Waitress tersebut tersenyum kemudian melangkah ke dapur.
Deidara berdiri dari posisi duduknya, dan berhasil menyita perhatian Sasori.
"Tunggu sebentar un, aku ingin ke toilet," ucapnya yang hanya mendapatkan anggukan kepala dari Sasori.
Deidara melangkah meninggalkan Sasori.
Namun tiba-tiba...
'bruk'
"Ah gomenasai~"
Deidara tidak tahu apa yang terjadi, namun tiba-tiba ia sudah terjatuh dalam posisi duduk di lantai restoran. Kemudian ia mendongak ke atas, menatap seorang gadis berambut merah muda yang menatapnya dengan tatapan bersalah. Tunggu, kenapa hanya Deidara yang jatuh? Padahal tabrakan tadi cukup keras.
"Deidara!"
Deidara mendengar seseorang memanggil namanya dengan nada panik. Kemudian beberapa detik berikutnya, ia menyadari Sasori sudah berjongkok di sebelahnya. Berarti yang tadi memanggil namanya itu Sasori kan? Kenapa nadanya terdengar begitu panik?
"Kau tidak apa-apa, Dei?" tanya Sasori. Raut khawatir tersirat jelas di wajahnya.
Deidara menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa un."
"Apa kau terluka?" satu lagi pertanyaan penuh nada khawatir terlontar dari bibir Sasori.
"Tidak, aku ti–" ucapan Deidara terpotong saat ia menyadari betapa dekatnya wajah Sasori dengan wajahnya.
'jepret'
Sasori dan Deidara tersentak.
Suara apa itu?
_TBC_
Hehe~
Gimana? Aneh ya?
Oke, balesan review saya rangkum ya biar saya gak bales satu-persatu.
Hmm masalah anggota fansclub itu, sepertinya saya gak akan menambah OC. Saya gunakan para chara perempuan di Naruto, kan lumayan banyak tuh. Anggota Akatsuki? Ada kok, tenang aja. Hm untuk yang mau request fanfic, bisa PM saya atau kalau belum punya account FFn, bisa hubungi saya di twitter atau facebook (bisa lihat di bio). Tapi saya hanya menerima request fanfic yang pairingnya SasoDei loh ._.v *ditendang*
Yup~ Sekian.
Review?
